The Satanic Roots of RockBagian Pertama Oleh: Donald Phau
"Kami datang dengan tiba-tiba melalui badan anda
Perkosa jiwa tanpa daya Anda Rubah diri Anda menjadi sesosok makhluk Tidak kenal ampun dan dingin Kami memaksa Anda untuk membunuh saudaramu Minum darahnya dan makan otaknya Iris-iris dagingnya dan hisap tulangnya Hingga semua orang gila Kami penyebab kematian dan penoda Legion Setan tersebar luas - menang "DEMONS" oleh Rigor Mortis Dewasa ini orangtua yang mencintai anak-anaknya akan dikejutkan ketika mengetahui bahwa anak-anak mereka dengan penuh hasrat mendengarkan lagu-lagu aliran Setan. Mungkin, beberapa orang berpikir secara pribadi, "Seandainya kita bisa kembali kepada 'kenangan masa lalu,' dengan musik the Beatles." Sedikit saja orang yang mencurigai, padahal the Beatles yang dianggap tak bersalah itu, mereka merupakan pelaku pembuat masalah paling awal.
Musik modern elektronic-rock, yang dimulai pada awal tahun 60-an, penyelenggaraannya selalu gabungan perusahaan antara dinas intelijen militer Inggris dengan para pemuja Setan. Dipihak lain, para pengikut Setan mengendalikan kelompok musik rock utama melalui narkoba, seks, ancaman kekerasan dan bahkan pembunuhan. Di sisi lain, publisitas, tour dan rekaman dibiayai oleh perusahaan rekaman yang terhubung dengan lingkaran dinas intelijen militer Inggris. Kedua-duanya dengan intimnya menjalin bisnis terbesar di dunia, yaitu perdagangan narkotik internasional. Apa yang disebut sebagai "bintang rock" sebenarnya adalah boneka-boneka yang menyedihkan yang dinaikkan dalam sebuah skema yang jauh lebih besar. Dari saat pertama mereka menerima royalti rekaman perdananya, kelompok pemusik ini terbenam jauh ke dalam narkoba. Sebagai contoh, "bintang-bintang" yang mendapat banyak piagam seperti John Lennon dari the Beatles dan Keith Richard dari the Rolling Stones, adalah pecandu heroin. Ketika Keith Richard mengajukan permohonan visa Amerika, ia diharuskan melakukan transfusi darah untuk mengganti keseluruhan suplai darahnya yang sudah terikat dengan heroin. (Tony Sanchez, Up and Down with the Rolling Stones, p.319) Para "bintang rock" juga sepenuhnya kreasi media. Citra publik mengenai mereka, demikian pula dengan musiknya, direkayasa dari balik layar oleh para pengendalinya. Sebagai contoh, ketika the Beatles pertama kali tiba di Amerika Serikat pada tahun 1964, di bandara mereka dikerubutin oleh ratusan anak-anak perempuan belasan tahun sambil menjerit-jerit. Pers nasional dengan segera mengumumkan berita itu bahwa "Beatlemania" telah menyerbu Amerika Serikat. Tetapi sebenarnya semua anak wanita belasan tahun itu dijemput dari sebuah sekolah wanita di Bronx, dan dibayar oleh penyelenggara the Beatles sebagai upah jeritannya. Uang milik kelompok rock tahun 1960-an yang dalam beberapa kasus jumlahnya mencapai ratusan juta dolar, juga sepenuhnya di bawah kendali dari sekumpulan penyelenggara yang terhubungkan satu dengan yang lainnya. Dari tahun 1963 sampai dengan tahun 1970, the Rolling Stones mengantongi lebih dari 200 juta dolar, namun semua anggotanya hampir bankrut. Tidak satupun dari mereka mengetahui kemana uang mereka perginya. Dari tahun 1963 dan 1964 the Beatles dan the Rolling Stones mengadakan tour di Eropa Barat dan Amerika dalam rangka menyerang kultur di kedua wilayah tersebut. Invasi kultur dari Inggris sudah direncanakan dengan matang dan dalam waktu yang sesuai. Orang-orang Amerika baru saja mengalami goncangan atas terjadinya pembunuhan terhadap Presiden John F. Kennedy, sementara dijalanan Washington D.C. massa yang jumlahnya 500.000-an orang baru saja mengadakan pawai dalam rangka menuntut kebebasan sipil, dipimpin oleh Martin Luther King. Musik rock digunakan sebagai alat counterculture, senjata untuk menghancurkan gerakan politik seperti itu. Kemudian pada tahun 1968 dan 1969, tahun-tahun yang merupakan serangan massal terhadap mahasiwa dan buruh di Amerika Serikat dan Eropa, dimana konser terbuka musik rock digelar secara besar-besaran yang digunakan untuk menghadang meningkatnya rasa tidak puas rakyat. Konser rock diupayakan sebagai alat untuk melibatkan massa kedalam narkoba dan seks bebas yang bertentangan dengan kultur. Bagi jutaan orang yang menghadiri konser ini, disediakan dengan bebas ribuan tablet obat yang merangsang halusinasi termasuk LSD. Obat-obatan ini dimasukkan kedalam minuman dengan diam-diam seperti kedalam Coca-Cola, yang membuat beribu-ribu korban yang tidak pernah menaruh curiga, mengoceh diluar kesadarannya. Banyak juga yang melakukan bunuh diri. Kurang dari setengah abad lalu, anak-anak muda kita mempelajari biola dan piano, belajar tentang komposer klasik besar seperti Bach, Mozart, dan Beethoven. Seperti yang akan kita lihat, perusahaan rekaman yang sama yang dewasa ini mempromosikan jenis musik aliran Setan, "heavy metal" rock, telah menjalankannya secara rahasia dengan maksud untuk menghancurkan warisan budaya musik dari komposer musik klasik yang besar ini .Selama masa tigapuluh tahunan yang lalu, Masyarakat Barat berada di bawah todongan senjata berupa perang terhadap budaya yang sudah direncanakan secara hati-hati, dengan tujuan untuk mengeliminasi peradaban Judeo-Christian seperti yang kita kenal. Rencana ini tidak akan berhasil. Oleh karena itu, para pembaca sebaiknya memerangi Setan ini, marilah kita tengok ke masa tiga puluh tahunan silam, ketika empat orang anak laki-laki tidak bersalah dari Liverpool, Inggris, the Beatles, yang baru saja memulai tugasnya. Membentuk the Beatles The Beatles pertamakali tampil pada akhir tahun 1950-an di klub musik jazz di Inggris serta Jerman Barat. Klub-klub seperti ini letaknya selalu dibagian kota yang "merah", berfungsi sebagai sebuah daerah pelacuran dan sirkulasi obat-obatan. Penulis biografi the Beatles, Philip Norman menulis: "Satu-satunya keterikatan mereka secara reguler adalah dengan sebuah klub strip. Pemilik klub membayar mereka sepuluh shilling setiap memainkan gitarnya, sementara seorang stripper bernama Janice melemparkan bajunya kehadapan pelaut dan pebisnis serta pengunjung tetap dengan jas hujan yang menutupinya." (Philip Norman, Shout! The Beatles in Their Their Generation, p. 81)The Beatles dapat terobosan besar pertama di Jerman pada bulan Agustus 1960, ketika mereka mendapatkan tawaran bermain di sebuah klub jazz di daerah Reeperbahn, sebuah tempat terkenal karena nama buruknya di Hamburg. Menggambarkan daerah tersebut Norman menuliskan, "jendela dengan nyala lampu merah berisi wanita pelacur dari tiap jenis, dengan pakaian pesta, topeng, semua umur dari nymphet - (PSK 14-19 tahun) sampai kepada nenek-nenek ... Segalanya bebas. Segalanya mudah. Seks juga mudah ... Ini disediakan untuk Anda." (Philip Norman, Shout! The Beatles in Their Generation, p. 91) Jauh dari gambaran tidak bersalah, the Beatles, bahkan dalam penampilan pertama mereka sudah mabok obat-obatan yang disebut Preludin, "mulut John (Lennon) membusa, dia juga masih mempunyai banyak di dalam kantung saku celananya ... John, menjadi mata gelap di atas pentas, berjingkrak-jingkrak dan bergulingan ... Namun faktanya pendengar tidak bisa memahami kata apa yang diucapkannya, John memprovokasi meneriakkan 'Sieg Heil!' dan 'F____ing Nazi' dimana pendengarnya merespon secara berbeda, ada yang mentertawakan dan aga juga yang bertepuk tangan." (Philip Norman, Shout! The Beatles in Their Generation, pp. 152,91) Diluar panggung, the Beatles seperti Setan. Norman melanjutkan, "sewaktu di Hamburg, John, setiap hari Minggu akan berdiri di balkon, mengejek orang yang rajin ke gereja yang berjalan menuju ke gereja St. Joseph's. Dia menuangkan air yang sudah dicampur dengan kontrasepsi ke atas patung Jesus dan menggantungkannya agar dilihat oleh orang-orang yang rajin pergi ke gereja. Sekali waktu ia buang air kecil ke atas kepala tiga orang biarawati yang lewat di bawah balkon."(Philip Norman, Shout! The Beatles in Their Generation, p. 152) Sewaktu berada di Hamburg pada bulan Juni 1962, the Beatles menerima sebuah telegram dari manajer mereka, seorang homoseks bernama Brian Epstein, yang sudah kembali ke Inggris. "Selamat," Pesan Epstein kepada the Beatles. "EMI meminta sebuah sesi rekaman." EMI adalah sebuah perusahaan rekaman terbesar di Eropa, dan peran mereka merupakan kunci dalam mempromosikan the Beatles di kemudian hari. Di bawah panduan ketat direktur rekaman EMI, George Martin dan managernya Brian Epstein, the Beatles didandani dan diberikan gaya rambut yang menajdi khas the Beatles. EMI Martin menciptakan the Beatles di dalam studio rekamannya. Martin adalah seorang guru musik klasik dan telah mempelajari oboe (sejenis seruling) serta piano di London School of Music. The Beatles tidak bisa membaca musik maupun memainkan instrumen apapun selain dari pada gitar. Untuk Martin, the Beatles musicianship adalah satu lelucon yang tidak baik. Pada album rekaman pertamanya yang menjadi hit, "Love Me Do," Martin menggantikan Ringo pada drum dengan sebuah studio musik. Martin mengatakan bahwa Ringo "tidak bisa memainkan drum, menggantikannya untuk menyelamatkan hidupnya." Sejak saat itu, Martin akan menangani dengan gampang untuk menyesuaikan the Beatles yang akan bersamanya serta menjadikan rekaman-rekaman mereka hit. Diterjemahkan oleh: akhirzaman.info Terkait: http://www.jesus-is-savior.com/Evils%20in%20America/devils_music.htm Lanjut: The Satanic Roots of Rock 2
Set as favorite
Bookmark
Hits: 2618 Comments (14)
![]()
ashura
said:
|
|
my music just KERONCONG, duduk manggut2 ama nyruput kopi... no goyang erotic, no satan. |
|
ashura
said:
|
music just KERONCONG... no goyang, no setan, klo mo nikmatin, tinggal duduk, manggut2 ama minum kopi... |
|
Pencari Jati Diri
said:
|
Seandainya.... kalau saja Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wasallam masih hidup, tentu kita tidak sedang dalam perdebatan yang panjang dan justru membuat kita saling membenci atau menghujat lalu menjerumuskan kita dalam kemaksiatan. Wallahu'alam |
|
_JC_GUEST_NAME
said:
|
... gimana kalo musik sama setan berkolaborasi, hhhmm jadinya kaya band2 macem Behemoth, Cradle of Filth, & dan sejenisnya... |
|
doni
said:
|
... Musik ya musik setan ya setan gitu ja kok repot...jgn mengkambing hitamkan musik sbg setan...yang setan itu adalah org yg slalu berfikir negatif ttg sgala sesuatu....ya itulah setannya coy |
|
ehud omlet
said:
|
SITU METAL??? ini bukan tentang ketakutan atau apa, ini adalah cara kita mengkritisi sesuatu, masa lo pd bodoh bgt sih mau2 aja suka sama musik tanpa mencermati & mengkritisi terlebih dahulu isi dari musiknya... daripada musik metal enakan musik jazz, lebih enak lagi metaljazz gak pake ketan, eh sorry setan.. |
|
shan
said:
|
metal bukan jalan hidup MUSIK METAL SATANIC KY GT UDAH GAK JAMAN, PADA BANGGA BGT LOE NYANYI2 LAGU SETAN, GUA JG SUKA SM MUSIK METAL, TP GWA MILIH2 YG SEKIRANYA LIRIKNYA NYELENEH YA GUA TINGGALIN CARI LG YG LAEN, MUSIK METAL BUKAN CUMA BLACK SABBATH,SLAYER, DKK. SEKARANG UDAH ADA KOK MUSIK METAL YG LIRIKNYA POSITIF & RATA2 BAND INDEPENDEN MW TW? BROWING AJA SANA!!..MUSIK CUMA HIBURAN & PENGALIHAN KEGIATAN AJA DARI HAL2 NEGATIF, BUKANNYA PEMACU BWT MELAKUKAN HAL2 BODOH!!! MUSIK BUKAN SEGALA-GALANYA GAK PERLU DIJADIIN ATTITUDE KITA MASIH PUNYA ATTITUDE YG PALING DASAR&KUAT, AGAMA, NGAPAIN MUSIK BEGITUAN DIJADIIN SIKAP KITA BWT HIDUP DI DUNIA YG CUMA SEBENTAR..SXE,METALHEAD,HEADBANGERS DAN BLA BLA BLA APALAH ITU GAK PENTING, BIARPUN ADA BEBERAPA YG POSITIF,MASIH ADA KOK YG LEBIH POSITIF & NGAJARIN NGEJALANIN HIDUP YG LEBIH BAIK DUNIA DAN AKHIRAT, YAITU ISLAM.... |
|
adriel
said:
|
konyol hahahahahahahaha. yg nge buat artikel ada2 aj. Jujur, saya tuh pecinta lagu metal, rock, dll dan umur saya baru 15 tahun. Justru musik tuh membuat otak bergerak secara optimal dan membuat org2 mencoba berkreasi. tapi walaupun saya masih suka dengerin musik metal, saya tetep sholat kok. gk ada sangkut pautnya antara musik dan agama. |
|
ManusiaBiasa
said:
|
Sekedarnya saja Saya pernah denger Death Metal yg membawakan musik Religi, malah bagus ko jd pencerahaan bgi yg satanic2(walo cm ikut2an satanicnya...) |
|
Muhammad Yusuf
said:
|
Santrimurtad ikut berkomentar saya anak underground dengan nama alias santrimurtad. musik adalah belahan jiwa saya tapi musik juga yang menghancurkan hidup saya. musik adalah setan dan setan dalam musik adalah "medium" komunikasi jarak jauh antar setanis kelas atas. bagi yang ingin menmbaca penjelasan gimana cara musik merusak otak manusia, silahkan berkunjung ke blog saya. :evil: juga bagi yang sedang mencari informasi penanggulangan bahaya narkoba, HIV/AIDS, dan gangguan Jiwa berbasis ajaran Islam, silahkan mengunjungi blog saya, http://benderahitam.wordpress.com |
|
goyim
said:
|
... kalau melihat comment2 di atas saya melihat bahwa program ILLUMINATI telah berhasil merusak otak manusia dengan musik. |
|
Adrian Pratama
said:
|
Musik Setan Atau Ketakutan Berlebihan ? Terkadang artikel yg selalu menyangkut pautkan musik dgn "setan" merupakan manusi-manusia paranoid dan phobia. musik itukan universal baik atau buruk tergantung pada pribadi masing-masing. musik untuk dinikmati bukan untuk membuat paranoid berlebihan. |
|
yani afrianto
said:
|
Musik Setan? Ha ha ha .... anda lucu banget. Mau musik setan atau musik malaikat, aku gak peduli. Yang penting aku suka. |
|






The Beatles pertamakali tampil pada akhir tahun 1950-an di klub musik jazz di Inggris serta Jerman Barat. Klub-klub seperti ini letaknya selalu dibagian kota yang "merah", berfungsi sebagai sebuah daerah pelacuran dan sirkulasi obat-obatan. Penulis biografi the Beatles, Philip Norman menulis: "Satu-satunya keterikatan mereka secara reguler adalah dengan sebuah klub strip. Pemilik klub membayar mereka sepuluh shilling setiap memainkan gitarnya, sementara seorang stripper bernama Janice melemparkan bajunya kehadapan pelaut dan pebisnis serta pengunjung tetap dengan jas hujan yang menutupinya." (Philip Norman, Shout! The Beatles in Their Their Generation, p. 81)
