
SEJELEK-JELEKNYA MAKAR MANUSIA DAN BALASANNYA
(Tela'ah surat Yusuf 106-107)

Oleh Agus Junaedi
وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللّهِ إِلاَّ وَهُم مُّشْرِكُونَ {106} أَفَأَمِنُواْ أَن تَأْتِيَهُمْ غَاشِيَةٌ مِّنْ عَذَابِ اللّهِ أَوْ تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً وَهُمْ لاَ يَشْعُرُونَ {107}
.Analisis terjemahan
Ayat diatas menurut terjemahan versi DEPAG adalah sebagai berikut;
"Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya? " (Yusuf :106-107).
Terjemahan lain dari ayat diatas dilihat dari struktur kalimatnya sebagai berikut;
"Sebagian besar dari mereka (muslim quraisy ) [1] beriman kepada Allah disertai dengan kemusyrikan [2]. Apakah mereka (muslim Quraisy) berasa aman dengan keimanannya itu padahal akan datang kepada mereka bencana besar [3] dari Allah yang datang yang meliputi mereka, atau datang kepada mereka sa'ah diluar dugaan, ketika mereka tidak sadar [4]"
B.Analisis Frasa kalimat
[1] Mereka umumnya adalah orang-orang kafir quraisy yang masuk islam saat futuh makah (pembebasan kota makah), keislaman mereka jauh berbeda dengan keislaman para shahabat yang kaffah. Mereka masuk islam setelah mendapat amnesty dari Rasulullah . Sehingga keimanan mereka masih bercampur baur dengan kemusyrikan yakni penyembahan kepada berhala. Kelomp0k ini adalah kelompok bangsa Arab yang memiliki karakter keras dalam kekafiran dan kemunafikan. Keadaan mereka itu disebut dalam surat al-Taubah :90 dan 97;
"Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan `udzur, yaitu orang-orang Arab Badui agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak pergi berjihad), sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, duduk berdiam diri saja. Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa adzab yang pedih. (9:90)
Orang-orang Arab Badui itu, lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya, dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (9:97).
[2] perbuatan syirik mereka umumnya adalah dengan penyembahan berhala. Menurut pengakuan mereka, bahwa pada dasarnya penyembahan mereka pada berhala terutama pada 3 oknum (latta, uzza dan manath) tiada lain hanyalah sebagai mediator saja (wasilah) untuk lebih dekat dengan Allah, sehingga mereka merasa bahwa perbuatan syirik tersebut justru akan menjadikan mereka lebih baik dalam keimanan mereka kepada Allah.
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya".. (al-Zumar :3)
[3] bencana atau siksa baik berbentuk jasmani maupun rohani seperti timbulnya kematian, mewabahnya penyakit, timbulnya permusuhan, pembunuhan, peperangan. Begitu pula siksaan itu dapat menimpa individu maupun masyarakat. Karena mencampurkan dua perkara yang esensinya berbeda yakni al-haq (tauhid) dan al-Bathil (syirik) adalah perbuatan yang sangat beresiko besar.
[4] keasadaran akan keadaan mereka yang mencampuradukan al-haq dan al-bathil sangat rendah. Pada dasarnya mereka telah terperangkap oleh tipu daya setan yakni Brainwashing atau "Cuci otak" yaitu upaya yang dilakukan setan dalam rangka merubah pikiran dan keyakinan manusia yang bertentangan dengan keinginannya." Sebagaimana disebut dalam surat Muhammad: 14,
Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?
sehingga kesadaran mereka sangat sulit untuk diharapkan. Kecuali dorongan yang kuat untuk mengembalikan kesadaran itu.
C. Analisis Tarikh
Menurut Ibnu Abbas, mereka adalah penduduk Makkah yang beriman disertai kemusyrikan. Didalam do'a talbiyah (saat haji) mereka mengatakan, Kusambut panggilan-Mu ya Allah, kusambut panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, kecuali satu sekutu yang ia menjadi milik-Mu. Engkau memilikinya dan apa yang dia miliki". Inilah syirik yang paling besar, karena Allah disembah bersama-sama selainnya. Terhadap prilaku mereka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang mereka menambah do'a dengan menyebutkan kata-kata kemusyrikan. Dalam shahih muslim disebutkan, bahwa ketika mereka mengatakan "kusambut panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu", Rasulullah mengatakan "cukup-cukup, jangan kalian tambah lagi. Sahabat ibnu Mas'ud pernah bertanya rasul tentang prilaku tersebut,
سَأَلْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم: أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ قَالَ: أَنْ تَجْعَلَ للهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ
Saya bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dosa apakah yang paling besar? beliau menjawab, Kamu menjadikan tandingan bagi Allah, sedang Dia menciptakanmu (mutafaqun ‘alaih).
Orang yang mengkaji sejarah umat dahulu dan sekarang akan mengetahui bagaimana syirik secara tiba-tiba memasuki umat dan membaur dalam ibadah mereka bagai membaurnya racun dalam lemak.
D. Analisis munasabat surat dan ayat,
Imam al-Maraghi dalam tafsirnya menyebutkan munasabat surat dan ayat yang berhubungan dengan Yusuf ayat 106-107 yakni dengan surat Al-Nahal ayat 45-47.
فَأَمِنَ الَّذِينَ مَكَرُواْ السَّيِّئَاتِ أَن يَخْسِفَ اللّهُ بِهِمُ الأَرْضَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَشْعُرُونَ {45} أَوْ يَأْخُذَهُمْ فِي تَقَلُّبِهِمْ فَمَا هُم بِمُعْجِزِينَ {46} أَوْ يَأْخُذَهُمْ عَلَى تَخَوُّفٍ فَإِنَّ رَبَّكُمْ لَرؤُوفٌ رَّحِيمٌ {47}
"maka apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya adzab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari, atau Allah mengadzab mereka di waktu mereka dalam perjalanan, maka sekali-kali mereka tidak dapat menolak (adzab itu), atau Allah mengadzab mereka dengan berangsur-angsur (sampai binasa). Maka sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (al-Nahl:45-47)
Munasabat kedua surat ini dibangunatas kesamaan pada frasa kalimat "yang tidak mereka sadari" dimana keduanya dalam konteks kedatangan siksa,
Pada surat yusuf disebutkan (أَوْ تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً وَهُمْ لاَ يَشْعُرُونَ) sedangkan pada surat al-Nahl disebutkan (أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَشْعُرُونَ) . dari kedua ayat tersebut dapat ditarik kesimpulan antara lain;
1. Prilaku seorang muslim yang mencampuradukan keimanan dan syirik khususnya dalam ibadah termasuk kedalam katagori MAKAR AL-SAYYIAH (makar yang jahat) dibandingkan prilaku makar kaum kafirin terhadap umat islam.
2. Prilaku MAKAR AL-SAYYIAH berlaku hukum kausalitas dengan kedatangan adab Allah dan ini akan dan telah terjadi bagi setiap generasi umat yang telah diturunkan ajaran samawi (Yahudi, Nasrani serta Islam)
3. Azab Allah sebagai akibat dari Makar Sayyiah adalah bentuk makar Allah yang diberikan pelaku kejahatan besar, baik secara langsung atau dengan perantaraan perbuatan manusia sendiri.
4. Bentuk-bentuk adzab Allah sangat spesifik, yakni datang dalam saat-saat manusia sangat lengah antara lain; lokasi-lokasi yang dianggap aman, saat manusia diperjalanan, radikal dan gradual, waktu malam saat istirahat, pagi-pagi saat manusia bangun tidur (bermain). Hal ini dipertegas dalam surat Al-‘Araf :97-99,
"Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi."
E.Analisis Makar/konspirasi
Prilaku makar sayyiah (keimanan yang dicampur kemusyrikan) adalah agenda iblis dan balatentaranya, dan umumnya perkara ini kurang disadari karena bersifat laten. Keberhasilan iblis dalam mencuci otak (Brainwashing) manusia terutama dilakukan kepada manusia yang telah mengaku dirinya beriman, sehingga banyak kaum muslimin khususnya telah terperangkap kepada talbis iblis ini. Berikut adalah gambaran dari talbis iblis dalam menjerat mangsanya,
Setan/iblis/jin kafir/manusia kafir senantiasa membisikan kepada para penyembah kuburan bahwa berdo'a disitu akan dikabulkan. Dari sisni setan akan membisikan supaya berdo'a untuk kuburan dan bersumpah dengan Allah dengan kuburan itu. Padahal Allah lebih Agung untuk bersumpah kepadanya untuk dimohon melalui perantaraan salah satu dari mahluk-Nya. Setelah mereka yakin akan demikian itu, lalu setan membisik mereka untuk berdo'a, menyembah dan memohon safa'at padanya tanpa Allah serta menjadikan kuburannya, banguan patung diatasnya digantungkan lentera dan sekelilingnya ditutup tabir. Lalu disitu orang bertawaf, berserah diri, dan menciumnya dan sekaligus berkurban. Sesudah itu setan membisikan untuk mengajak orang-orang beribadah kepadanya dan menjadikannya sebagai tempat ibadah. Dan ahirnya manusia menggagap bahwa hal demikian bermanfaat bagi mereka didunia dan di akhirat. Maka berhasillah setan menjadikan manusia keluar dari jalan yang benar (tauhid).
Inilah salah satu fenomena kemusyrikan yang melekat pada kaum muslimin umumnya, dari beberapa fenomena-fenomena kemusrikan dalam bentuk dan ragam yang senantiasa bermetamorfosis. Sangat jelas sekali bahwa dalam upaya menghancurkan hubungan manusia beriman (muslim) dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala, cara yang paling efektif tidak dengan menghalangi mereka untuk beribadah. Akan tetapi ibadahnya yang diruksak denga prilaku -prilaku bid'ah sehingga manusia kehilangan esensi dari ibadah tersebut.
Bukankah menurut sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa pelaku bid'ah itu adalah akan senantiasa ditemani dengan setan/jin dalam melaksanakan ibadahnya ?
من عمل ببدعة خلاه الشيطان فى العبادة وألقى عليه الخشوع والبكاء (الديلمى عن أنس)
Barang siapa yang mengerjakan perbuatan bid'ah baka dia akan ditemani setan (jin jahat) dalam beribadah dan dia tidak akan mencapai kekhusyuan dan kesayhduan dalam salatnya (Hr. Dailami dari Anas)
Bukankah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengancam kepada pelaku bid'ah dengan ancaman yang berat yakni neraka ?
و شر الأمور محدثاتها و كل محدثة بدعة و كل بدعة ضلالة و كل ضلالة في النار
"sejelek-jeleknya urusan (dalam agama) adalah perkara yang dibuat-buat. Setiap perkara yang dibuat dalam agama adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat dan setiap yang sesat adalah neraka (balasannya) (H.R Ibnu Huzaimah dari Jabir)
Jadi sebagai simpulan, dalam bentuk yang nyata pelaku makar sayyiah atau makar yang jahat itu adalah para pelaku bid'ah dalam beragam bentuk !
Wallahu'alam
 |