|
Telah Datang Zamannya Da'i-da'i Berda'wah Tanpa Ilmu
oleh: Ibnu Isma'il Al-Muhajirin Da’wah harus didahului dengan ilmu, karena siapa yang berda’wah tanpa ilmu maka ia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Oleh karena itu, sebelum berda’wah seorang da’i harus memiliki ilmu yang mapan. Dan tidaklah seseorang itu berkata tanpa didasari oleh ilmu, melainkan dia telah menggunakan ra’yunya dan nafs (perasaan)nya didalam berda’wah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Ayat diatas menjelaskan bahwa:
Seperti yang telah diketahui, bahwa pada zaman sekarang ini telah banyak bermunculan para khutoba’ dan semakin sedikitnya ahli ilmu. Dan yang paling banyak adalah khutobaa’ yang mengeluarkan fatwa dan jawaban yang sesat dan menyesatkan. Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam pernah mengabarkan tentang hal ini:
Seorang yang berbicara tanpa ilmu, maka sesungguhnya dia telah sesat dan menyesatkan orang lain. Dan apabila seseorang yang tidak memiliki ilmu kemudian memberi fatwa kepada orang lain, maka dia berdosa dan dia juga akan menanggung dosa orang yang diberi fatwa, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam:
Hadits diatas merupakan peringatan dan ancaman yang sangat keras yang mengeluarkan fatwa padahal dia bukan seorang ahli ilmu atau ahli fatwa. Maka dia akan menanggung dosa sebanyak orang yang mengikuti fatwanya yang salah bahkan sesat dan menyesatkan. Hadits ini juga memberi pelajaran agar seorang muslim meminta fatwa kepada orang-orang yang ahlinya, yaitu para ahli ilmu dan ahli fatwa, bukan orang-orang jahil meskipun mereka sangat terkenal dengan ceramah-ceramahnya. Allah Ta’ala juga memerintahkan agar orang yang tidak mengetahui bertanya kepada orang yang mengetahui dalam firman-Nya:
Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam pun telah memperingatkan kaum muslimin atas munculnya da’i-da’i yang berada di pintu-pintu Neraka dan menyeru kaum muslimin dengan da’wahnya [3]:
Syaikh Salim bin ’Ied al-Hilali mensyarah hadits diatas, sebagai berikut:[16] 1. Mengenal jalan orang-orang yang tersesat merupakan kewajiban dalam syariat. Sesungguhnya metode ar-Rabbani (Islam) yang tertuang dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam ketika menampilkan generasi pertama yaitu Shahabat dan para tabi’in sesungguhnya bertujuan untuk menjelaskan jalan kebenaran dan agar diikuti. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Akan tetapi, metode Islam ini tidak cukup hanya menjelaskan jalan kebenaran saja bahkan menyingkap kebathilan dan mengungkap kepalsuannya agar jelas dan terang jalan orang-orang yang tersesat (lalu dijauhi dan ditinggalkan,-pent). Allah Ta’ala berfirman:
Seorang penyair berkata: “Aku mengenal keburukan bukan untuk keburukan akan tetapi untuk menjauhinya.” “Dan barangsiapa yang tidak mengenal kebaikan dari keburukan dia akan terjerumus kedalam keburukan itu.” 2. Islam terancam dari dalam Sesungguhnya musuh-musuh Allah terus mengintai Islam hingga ketika mereka telah melihat penyakit whan (cinta dunia dan takut mati) telah menjalar dalam tubuh kaum muslimin dan penyakit-penyakit yang lain sudah menyebar mereka langsung menyerang dan menyumbat nafas kaum muslimin. Sesungguhnya racun-racun berbisa yang membinasakan dan menghancurkan kekuatan kaum muslimin serta melemahkan gerak mereka bukanlah pedang-pedang orang-orang kafir yang berkumpul untuk membuat makar terhadap Islam. Akan tetapi kuman-kuman yang busuk yang menyelinap didalam tubuh kaum muslimin yang lambat tapi pasti (itulah yang menyebabkan kebinasaan). Itulah asap yang dikatakan oleh Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam dalam hadits Hudzaifah diatas: “Suatu kaum yang membuat Sunnah bukan dari Sunnahku dan memberikan petunjuk bukan dari petunjukku...” Didalam ucapan beliau ini ada hal-hal penting diantaranya:
Oleh karena inilah umat Islam menjadi terbelakang dan menjadi santapan bagi setiap musuh serta menyebarnya kebathilan. Dan dengan sebab inilah setiap munafik berbicara dengan mengatas namakan Islam. Dari sini kita mengetahui bahwa bahaya bid’ah lebih besar daripada musuh-musuh yang lainnya (orang-orang kafir), karena bid’ah merusak hati dan badan tapi musuh-musuh tersebut hanya merusak badan. Para salaf telah bersepakat akan kewajiban memerangi ahli bid’ah dan menghajar (memboikot) mereka. Imam adz-Dzahabi mengatakan: “Para salaf sering mentahdzir ahli bid’ah, mereka mengatakan: Sesungguhnya hati-hati ini lemah sedangkan syubhat (dari ahli bid’ah itu) cepat mencengkram.” 3. Hati-Hati antek-antek Yahudi!!!
Sesungguhnya para gembong-gembong kekafiran telah memproduksi antek-anteknya dalam negeri kaum muslimin dua cara, yaitu:
Di dalam hadits Hudzaifah ini Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam menyebutkan ciri mereka, beliau bersabda:
Mereka menampakkan kesungguhan dalam memberi solusi, dan maslahat bagi ummat. Tapi mereka menipu ummat dengan gaya bahasa mereka, dan hati-hati mereka menginginkan untuk menjalankan misi-misi tuan-tuan mereka dari kalangan Kristen dan Yahudi. Allah berfirman:
4. Siapa jama’ah kaum muslimin? Setelah melihat kenyataan yang pahit dan getir ini, mulailah sebagian kaum muslimin bangkit, setiap kelompok dari kaum muslimin melihat realita ini dari kaca mata tersendiri, kelompok yang lain juga demikian. Oleh karena itulah bisa dikatakan bahwa kelompok-kelompok yang ada sekarang ini yang katanya berjuang atau berda’wah, mereka itu saling berselisih dalam metode dan cara berda’wah. Dan perselisihan yang paling parah yang menghalangi persatuan mereka adalah dua hal:
Sesungguhnya jama’ah kaum muslimin adalah (Negara Islam) yang bersatu atau berkumpul didalamnya seluruh kaum muslimin. Mereka hanya punya satu imam/pemimpin yang menerapkan hukum-hukum Allah dan wajib untuk di taati serta diba’iat. 5. Tinggalkan kelompok-kelompok sempalan Hadits Hudzaifah diatas memerintahkan kepada kita untuk meninggalkan semua kelompok-kelompok sesat ketika terjadi fitnah dan kejelekan serta disaat tidak ada jama’ah kaum muslimin dan imam mereka. Kelompok-kelompok sempalan ini yang menyeru manusia kepada kesesatan, bersatu diatas kemungkaran dan diatas hawa nafsu atau berkumpul diatas pemikiran-pemikiran kufur seperti sosialisme, komunisme, kapitalisme, demokrasi atau bersatu berdasarkan fanatik golongan dan lain sebagainya. Inilah kelompok-kelompok sesat yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits Hudzaifah untuk ditinggalkan dan dijauhi karena menjerumuskan manusia ke dalam neraka jahanam dengan sebab ajaran mereka yang bukan dari Islam.\ Adapun kelompok yang menyeru kepada Islam yang benar, memerintahkan kepada yang baik dan melarang dari yang munkar maka inilah yang diperintahkan oleh Allah untuk diikuti dan ditolong. Allah Ta’ala berfirman:
6. Jalan keluar dari problematika ummat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan Hudzaifah untuk meninggalkan semua kelompok sempalan yang menyeru ke neraka jahannam meskipun sampai menggigit akar pohon hingga ajal menjemput. Adapun penjelasannya, maka sebagai berikut: [1]. Ini adalah perintah untuk berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunnah serta pemahaman Salafush Shalih. Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu:
Didalam hadits Hudzaifah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk menggigit akar pohon ketika terjadi perpecahan sambil menjauhi semua kelompok sesat. Dan didalam hadits al-Irbadh beliau memerintahkan untuk berpegang teguh dengan Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih radhiyallahu anhum, ketika munculnya kelompok-kelompok sesat dan ketika tidak adanya jama’ah kaum muslimin serta imam mereka. [2]. Sesungguhnya perintah untuk menggigit akar pohon dalam hadits Hudzaifah maknanya adalah istiqamah atau tetap dalam shabar dalam memegang kebenaran dan dalam meninggalkan semua kelompok sesat yang menyelisihi kebenaran. Atau maknanya bahwa pohon Islam akan diguncang dengan angin kencang hingga merontokkan semua ranting dan cabangnya, tidak ada yang tersisa melainkan akarnya yang masih tegar. Karena itulah wajib bagi setiap muslim untuk memegang erat akar tersebut dan mengorbankan semua yang berharga dalam dirinya karena akar tersebut akan tumbuh dan tegar kembali. [3]. Ketika itu juga wajib bagi setiap muslim untuk menolong dan membantu kelompok (yang berpegang teguh dengan sunnah tersebut, -pent) dari setiap fitnah yang mengancam. Karena kelompok ini yang selalu tampak diatas kebenaran hingga akhirnya mereka membunuh Dajjal. ______________ Catatan kaki: [1] Riwayat Ahmad dalam Musnadnya (5/155) dan al-Harawiy di kitabnya Dzammul Kalaam (1/14-15 dan ini lafadznya) dari jalan Abu Dzar. Lihat pula Silsilah ash-Shahiihah karya Syaikh al-Albani (no 2510). [2] Dikeluarkan oleh Abu Dawud (no. 3657 dan ini lafadznya), Ibnu Majah (no. 53), Ahmad (2/321), ad-Daarimiy (1/57) dan Hakim (1/126), semuanya dari beberapa jalan yaitu Muslim bin Yasar Abi Utsman dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhuma. Dalam lafadz Ibnu Majah, Ahmad, dan ad-Daarimiy: Artinya: “Barang siapa yang diberi fatwa dengan satu fatwa yang tidak tsabit (yang tidak kuat karena tidak berdasarkan ilmu), sesungguhnya dosanya ditanggung oleh orang yang memfatwakannya.” [3] Lihat Telah Datang Zamannya karya al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, hal 8-15. [4] Allah Jalla wa ‘Ala telah memberikan hidayah kepada para Shahabat radhiyallahu ‘anhuma untuk bertanya kepada Nabi yang mulia Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang kebaikan dan kejahatan. Dan ini adalah salah satu dari sekian banyak dalil bahwa mereka adalah orang-orang yang paling ‘alim tentang kebaikan dan kejahatan. Dan menunjukkan juga bahwa mereka sangat takut terhadap kejahatan yang mungkin akan mengenai mereka. Oleh karena itu kaum muslimin diperintahkan untuk mengikuti manhaj mereka. Dan hadits ini juga menunjukkan tentang keutamaan Hudzaifah sebagai seorang Shahabat besar yang banyak mengetahui berbagai macam rahasia sehingga beliau diberi gelar shaahibussir. [5] Yakni sebelum Islam datang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Masa itu secara umum dan merata dinamakan zaman jahiliyyah. Tetapi setelah diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak ada lagi zaman jahiliyyah yang merata pada seluruh manusia, tempat dan waktu. Namun demikian, sifat dan perbuatan orang-orang di zaman jahiliyyah ada yang diulangi oleh orang-orang pada zaman sekarang, seperti meratapi kematian, tahlilan, mencela keturunan, dan sebagainya. [6] Yakni dengan keimanan dan keislaman yang membawa kepada keamanan, keselamatan, kemaslahatan, dan kebahagiaan. Sebelum mereka masuk Islam, kehidupan pada zaman jahiliyyah dipenuhi dengan kejahatan. Tidak ada rasa aman, penuh dengan kesengsaraan dan marabahaya. Dan setelah para Shahabat radhiyallahu ’anhuma masuk Islam, kehidupan mereka berubah drastis, dari syirik kepada tauhid, dari bid’ah kepada Sunnah, dan dari kejahatan kepada kebaikan, dari rasa takut kepada rasa aman, dari kesengsaraan kepada kebahagiaan, dan seterusnya. [7] Yakni kekotoran, yang menunjukkan bahwa kebaikan itu sudah tidak sempurna lagi, tidak murni lagi, karena telah tercampur dengan keburukan dan kejahatan sehingga kebaikan itu menjadi keruh dan kotor. [8] Inilah yang dimaksud dengan kekeruhan dan kekotoran di atas, yaitu bid’ah. Karena lawan dari Sunnah adalah bid’ah. Kaum ini dikatakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah beramal dengan cara atau Sunnahnya sendiri bukan dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan tidak mengikuti petunjuk beliau, padahal sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau. Dan dari hadits yang mulia ini dapat diketahui bahaya dan kerusakan bid’ah dan ahlinya yang dapat mengotori Islam dan amal kaum muslimin sehingga menjadi tidak bersih lagi. [9] Yakni diantara amal-amal mereka ada yang engkau ketahui dan engkau kenali karena sesuai dengan Sunnah, dan ada juga yang engkau ingkari karena menyalahi Sunnah dan mereka telah beramal dengan amal-amal bid’ah. [10] Du’aatun bentuk jamak dari daa’i. Yang artinya bahwa mereka ini adalah orang-orang yang menyeru, menyampaikan atau berda’wah. Hal ini menunjukkan bahwa mereka berjuang dengan perjuangan yang besar untuk mengajak kaum muslimin kepada madzhab mereka dengan berbagai macam cara dan sarana yang dapat dipergunakan untuk menawan hati kaum muslimin agar mengamini da’wah mereka. [11] Ini menunjukkan bahwa da’wah mereka adalah sesat dan menyesatkan. Karena itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan bahwa mereka berada di pintu-pintu jahannam. Ulama mengatakan bahwa mereka ini adalah ahli-ahli bid’ah dari berbagai macam firqah-forqah sesat – bahkan sebagiannya telah keluar dari Islam seperti kaum zindiq yang tergabung dalam madzhab baatiniyyah – yang menda’wahkan bid’ah mereka seperti Raafidhah atau Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah, Jahmiyyah, kaum Falasifah, madzhab Sekulerisme, seruan Demokrasi, dan lain-lain. Mereka semua ini adalah da’i-da’i yang berada di pintu-pintu jahannam. [12] Ini merupakan nasihat dan peringatan bagi kaum muslimin agar tidak mengijabah da’wah mereka yang memanggil ke pintu-pintu jahannam. Tidak ada jalan bagi kaum muslimin untuk menghindarinya kecuali dengan berpegang teguh dengan Sunnah Nabi yang mulia Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan manhaj para Shahabat radhiyallahu ’anhum. [13] Sifat mereka menunjukkan bahwa mereka dari Arab, baik nasab (keturunan) atau lughoh (bahasa). Dan ini menunjukkan bahwa mereka dari kalangan kaum muslimin, karena mereka berbicara dengan bahasa kita, yaitu bahasa Islam. Tetapi mereka dari rombongan ahli bid’ah, baik orang perorangnya atau dari kelompok-kelompok sesat dengan da’wah bid’ahnya yang sangat menyesatkan kaum muslimin. Sebagian dari mereka telah keluar dari Islam walaupun lahiriyahnya mengatasnamakan Islam. [14] Jama’ah kaum muslimin semuanya yang dipimpin oleh seorang khalifah atau imam. Hadits yang mulia ini menjadi hujjah bagi Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk tidak keluar memisahkan diri dari imam kaum muslimin meskipun mereka fasiq. Ini adalah perbuatan bid’ah dari firqah-firqah sesat seperti Khawarij, Mu’tazilah dan sebagainya. Adapun ’aqidah Ahlus Sunnah mewajibkan taat kepada ulil amri selama tidak diperintah untuk bermaksiat kepada Allah atau menyalahi Sunnah, maka tidak boleh taat. Tetapi juga tidak boleh keluar memisahkan diri dengan mengkudeta atau memberontak. [15] Riwayat Bukhari (no. 3606, 3607, dan 7084) dan Muslim (no. 1847). Baca syarah hadits ini di Syarah Muslim (juz 12 hal 236) an-Nawawi. Fathul Baari’ Syarah Bukhari (no 7084). Dan Limadza Ikhtartu Manhaj as Salafiy oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali. [16] Diringkas dari al-Qaulul Mubin fii Jama’atil Muslimin. Disalin dari majalah adz-Dzkhiirah al-Islamiyah Edisi 13 Th. III Shafar 1426H/ April 2005M, hal. 22-26. Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad. Jl. Sultan Iskandar Muda No. 45 Surabaya. [17] Hadits riwayat Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud nomor 4607 dan at-Tirmidzi nomor 2676, ad-Darimy (I/44), al-Baghawy (I/205), al-Hakim (I/95), dishahihkan oleh Syaikh al-Albany dalam Irwaa-ul Ghaliil (no. 2455) Sumber: IbnuIsmailbinIbrahim
Set as favorite
Bookmark
Hits: 995 Comments (1)
![]()
dasilan
said:
|
|
Istiqomah dalam syariat Assalam, saudaraku kaum muslim. Peganglah dan ketahuilah bhw syariat Islam sesungguhnya adalah yang diwariskan dan disyariatkan oleh para sahabat khulafaurrasyidin dan tabiin salafus salih dari Rasulullah SAW. |
|







