MALAIKAT SEBAGAI PENGHUBUNG SINAR ALLAH

Menurut ilmu Fisika aether menjadi zat pembawa atau perantara18) daya elektromagnetik. Aether adalah udara yang ringan sekali, lebih ringan dari udara yang dihirup oleh manusia (02). Dalam bahasa Arab disebut dengan "Itsir". Kalau aether bergetar, niscaya membutuhkan pula zat pembawa yang lebih halus lagi dari aether itu sendiri, agar supaya getaran aether itu bisa tersebar kemana-mana.
Sedangkan menurut ilmu Metafisika, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam naik ke ruang angkasa Isra' dan Mi'raj, membutuhkan zat pembawa yang lebih halus dari jiwa atau rohani beliau. Oleh karena beliau makhluk hidup yang memiliki dua jasad, jasmani dan rohani, maka diperlukan zat pembawa yang lebih halus dari rohani itu yang mampu mengangkat sekaligus jasmani dan rohani Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menuju ruang angkasa. Makhluk atau jasad yang sangat halus itu adalah Malaikat yang diberi nama Jibril.
Sebagaimana diketahui dalam pelajaran agama Islam, Malaikat Jibril mempunyai tugas selaku zat pembawa wahyu Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Kecepatan bergerak jasad halus atau Malaikat ini jauh melebihi semua kecepatan gerak yang ada di Alam Benda ini. Malaikat juga disebut dengan nur, yang berarti sinar, dan sinar malaikat ini dapat dimisalkan dengan "sinar kosmis" yang mempunyai gelombang paling pendek. Karena pendeknya gelombang, maka sinar kosmis ini dapat menembus angkasa luar yang bertingkat?tingkat. Akibat dari energi kosmis ini atau energi Malaikat sampai sekarang belum dapat diketahui oleh ilmu pengetahuan eksakta. Akan tetapi sudah dapat dipastikan bahwa sinar kosmis itu memang ada, namun asal dan pangkalnya bukan dari alam semesta ini, tentulah dari Penciptanya Allah Rabbul Alamin. Naiknya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ke angkasa dinamakan Isra' dan Mi'raj itu menggunakan zat pembawa atau pengantar yang bernama Malaikat, ke titik sumbu sekalian alam, menuju kepada Khaliknya, Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Malaikat, menurut ajaran Islam, berasal atau ?tersusun dari nur atau cahaya sebagaimana yang dinyatakan oleh sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam :
"Malaikat dijadikan dari cahaya sedangkan Jin dijadikan dari api yang menyala-nyala dan Adam dijadikan dari apa yang disifatkan kepadamu" (Hadits Riwayat Muslim)
Sebagai makhluk yang suci, Malaikat selalu mentaati perintah?perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala tanpa mencari?cari alasan untuk menolaknya, yang memang sudah disifatkan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada makhluk?Nya yang bernama Malaikat itu, sebagaimana firmanNya:
مَلئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لاَّيَعْصُوْنَ اللهَ مَآاَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَايُؤْمَرُوْنَ، (التحريم 6)
"Mereka (Malaikat) itu tiada durhaka atas perintah?perintah Allah, yang selalu menunaikan tugas yang dibebankan atas mereka. " - (QS At-Tahrim 66: 6)
يَخَافُوْنَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْ مَرُوْنَ (النحل 50)
"Mereka (Malaikat) itu takut kepada Tuhannya yang di atas mereka dan mereka selalu mentaati perintah TuhanNya." (QS An-Nahl 16:60)
Yang dimaksud kata nur atau cahaya dalam hadits di atas, adalah bahwa Malaikat tersusun atas elektron?elektron hidup atau bio?elektron yang mempunyai kecepatan tembus yang luar biasa. Sebagai makhluk rohaniah sudah tentu Malaikat tidak dapat dilihat dan diraba oleh pancaindera lahir, karena asal kejadiannya dan wujudnya tidaklah tersusun dari benda?benda materi. Malaikat hanya dapat dilihat dan diraba oleh pancaindera rohani saja. Semua makhluk gaib hanya dapat dilihat dan diraba oleh alat rohaniah yang gaib pula. Susunan tubuh malaikat atau makhluk gaib lainnya tak dapat dirumuskan ataupun dianalisa dengan menggunakan ilmu pengetahuan eksakta, dengan ilmu anatomi atau ilmu urai biasa saja, melainkan harus dianalisa dengan alat ilmu yang serba meta, yaitu ilmu pengetahuan yang serba abstrak.
Kemampuan tembus Sinar Malaikat yang sangat dahsyat itu dapat digunakan untuk menembus rohani manusia sebagaimana dilakukan Malaikat Jibril terhadap rohani Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sesaat sebelum beliau berangkat menembus angkasa luar (Isra' dan Mi'raj). Inilah peristiwa Operasi Jiwa. Masalah ini dapat diambil contohnya pada kehidupan sehari?hari yang sering kita saksikan. Seorang ahli magnetisme atau hipnotisme melalui daya?daya atau kekuatan batinnya (sinar rohani) sanggup menembus tubuh/jasmani manusia bahkan dapat menyembuhkan penyakit?penyakit jamani manusia dari jarak tertentu dekat maupun jauh. Bahkan sanggup pula melenyapkan penyakit-penyakit dalam19) tanpa menggunakan alat?alat pembedahan. Wanita yang akan melahirkanpun, jika memperoleh bantuan seorang ahli magnetisme, tidak akan merasakan sakit sedikitpun. Cara pengobatan semacam ini mungkin dapat mengherankan sebagian dokter, oleh karena cara pengobatan tersebut tidak tercantum dalam ilmu kedokteran.
Pengobatan yang dilakukan dengan daya?daya sinar rohani yang mengandung arus listrik hidup ini, pada hakekatnya sama dengan cara pengobatan yang menggunakan sinar rontgen atau arus listrik diatermik. Sinar rontgen dapat digunakan untuk mengobati penyakit rematik, penyakit paru?paru (TBC), penyakit tumor (kanker), penyakit kulit; sedangkan arus listrik diatermik dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh kuman?kuman (infeksi). Demikian pula seorang ahli magnetisme dapat mengubah sinar rohaninya menjadi semacam sinar rontgen atau arus listrik diatermik. Namun antara sinar rontgen dan arus listrik diatermik kalau dibandingkan dengan sinar rohani akan berbeda juga. Sinar rontgen dan arus listrik diatermik adalah sinar yang dipancarkan benda-benda mati, sedangkan sinar rohani berasal dari pancaran sesuatu yang hidup (rohani). Sinar rohani mempunyai gelombang yang sangat pendek dan mempunyai daya tembus yang berlipat ganda dibandingkan dengan sinar rontgen atau sejenisnya.
Sehingga wajar sekali kalau terdapat perbedaan antara dokter biasa dengan tabib occultis atau wonder?doctor dalam cara memberikan pengobatan terhadap orang yang sedang menderita suatu penyakit. Dokter biasa menggunakan ilmu pengetahuan yang dihasilkan kecerdasan otak lahir dengan perincian yang sempurna, sedangkan tabib occultis mempergunakan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari kecakapan otak batinnya.
Kecakapan seorang tabib occultis mudah menjadi lemah kalau tenaga rohaninya digunakan terus menerus. Hal ini disebabkan kekuatan rohani yang digunakan tadi tidak mudah kembali menjadi bion-bion seperti semula sehingga menyebabkan kekuatan rohaninya makin lama makin berkurang. Untuk mengembalikan tenaga rohaninya itu diperlukan kekuatan baru melalui meditasi sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan dalam pelajaran ilmu magnetisme ataupun hipnotisme itu sendiri.
Bagi mereka yang beragama Islam dan memiliki ilmu pengobatan secara metafisis, jika ingin menambah tenaga rohaninya (meta energi) diwajibkan memperbanyak shalat sunnah di samping shalat wajib, seperti shalat sunnah rawatib, dluha, witir, sunnah malam, bertafakkur20), berdo'a, berwirid dan membaca ayat?ayat Al?Qur'an serta amalan lain yang diridlai Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Munajat kepada Allah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam di Gua Hira setelah sekian lama mencapai puncaknya saat beliau mendapat perintah melakukan Isra' dan Mi'raj. Persiapan sebelum melakukan perjalanan yang paling dahsyat, yang pernah terjadi sepanjang sejarah manusia sejak Nabi Adam as sampai akhir zaman nanti, dilakukan dengan dilaksanakannya operasi jiwa oleh Malaikat Jibril atas diri Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Sinar Malaikat yang amat halus dengan mudah menembus tubuh rohani beliau. Sinar?sinar itu ditangkap dan terus diserap, untuk kemudian dialirkan melalui bermacam?macam process of relays, langsung melalui bagian?bagian tubuh rohani beliau. Sinar?sinar itu menuju ke pusat ingatan, pusat kesadaran22), pusat akal23), pusat kemauan24) pusat susunan syaraf simpatis, yaitu pusat yang mengatur jalannya pernafasan, jantung, usus-usus, pembuluh darah25). Setelah sinar?sinar Malaikat itu masuk ke seluruh bagian tubuh sehingga tubuh rohani beliau menjadi bertambah suci, gelombang rohaninya bertambah pendek, daya tembus rohani itupun semakin kuat dan tajam yang dipastikan akan mampu menembus alam angkasa luar.
Makhluk yang bernama Malaikat sangat banyak jumlah dan jenisnya, masing?masing mempunyai tugas sendiri?sendiri. Sinar para Malaikat inipun mengandung faedah yang sangat besar bagi seisi alam dunia maupun angkasa luar. Sebagai contoh, Malaikat Mikail yang bertugas mengatur perjalanan falak atau aflak, mengatur peredaran siang dan malam, peredaran bulan, matahari, bintang?bintang dan seluruh. planet?planet, lalu-lintas di angkasa luar, perubahan musim dan sebagainya. Sinar Malaikat Mikail itu dapat dimisalkan dengan sinar yang terdiri dari proton?proton dan neutron?neutron yang tidak saja dapat memecah-belahkan atom?atom benda mati akan tetapi dapat pula memecahkan atom nitrogen yang berada di atmosfir atau alam angkasa luar. Pecahnya atom nitrogen ini dapat menjelmakan atom karbonium dan atom hidrogenium. Atom karbonium ini mempunyai sifat radio aktif; intinya terdiri dari 6 (enam) proton dan 8 (delapan) elektron yang disebut C14. Persenyawaan antara C14 dengan oksigenium akan menghasilkan zat asam arang (C02) yang kemudian dihisap oleh seluruh tumbuhan di bumi ini. Nyatalah sekali bahwa unsur C14 itu merupakan dasar proses hayati yang penting sekali bagi ilmu Hayat (Biologi). Juga, peristiwa ini menunjukkan bahwa Malaikat Mikail memegang peranan yang sangat penting atas kehidupan makhluk dan kesejahteraan alam.
Malaikat, sebagai makhluk yang selalu mentaati perintah Allah, juga bertindak sebagai zat pembawa sinar26). Dalam hal ini sinar yang dibawanya adalah Sinar Allah. Demikian juga manusia yang selalu mentaati perintah?perintah Allah akan menerima dan membawa Sinar Allah dari Malaikat pembawa sinar. Pada Al?Qur'an disebutkan:
الَّذِيْنَ يَحْمِلُوْنَ اْلعرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُوْنَ بِحَمْدِرَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُوْنَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُوْنَ لِلَّذِيْنَ اَمَنُوْع رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَئٍْ رَّحْمَةًوَّعِلْمًا فَغْفِرْ لِلَّذِيْنَ تَابُواوَاتَّبَعُوْا سَبِيْلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيْمِ (المؤ من 7)
"Semua Malaikat bertasbih dan memuji Tuhan mereka dan beriman kepadaNya, mereka juga memohonkan ampunan untuk orang?orang yang beriman (dengan doanya): Wahai Tuhan kami, Maha Luas Rahmat dan Ilmu?Nya, karena itu berilah ampunan orang?orang yang bertaubat dan mengikuti perintah-perintah?Mu serta selamatkanlah mereka dari siksa api neraka". - (QS Al-Mu'min 40: 7)
Pada ayat di atas jelaslah bahwa Malaikat selalu mendampingi orang?orang yang beriman serta senantiasa mendo'akan mereka. Manusia yang demikian ini disebut sebagai orang yang memperoleh intuisi Malaikat atau intuisi infra intelektual, dalam Al?Qur'an disebut Ulul Al-baab,
Firman Allah Azza wa Jalla:
Apakah sama halnya mereka yang berilmu pengetahuan dengan mereka yang tidak berilmu pengetahuan? Sungguh hanya mereka yang menggunakan asas kemauannya, itulah mereka yang memiliki akal sempurna (Ulul Al-baab) atau akal syarafi". - (QS Az-Zumar 39: 9)
Apabila seseorang menerima intuisi Malaikat Mikail (yang bertugas mengurus semua peredaran alam dan pertukaran musim dan lain-ainnya), ia akan memperoleh kekuatan atau tenaga gaib dan memiliki kecakapan dalam bidang Ilmu Hayat, Perbintangan, Pertukaran Musim, mengetahui suatu peristiwa yang akan terjadi dan senantiasa mendapatkan teori?teori yang genial, menemukan pemikiran-pemikiran baru28) membangun rona29) dunia modern, menghasilkan kegiatan dalam lapangan mistik30) dan giat mengembangkan31) agama.
Firman Allah:
"Allah memberikan rahmat kepadamu beserta Malaikat?Nya supaya dikeluarkannya kamu dari kegelapan menuju sinar yang terang benderang, Tuhan Maha Pengasih atas mereka yang beriman" (QS Al-Ahzab 33: 43)
Kalau manusia biasa dengan usahanya mampu memiliki Sinar Allah yang dihembuskan Malaikat sebagai penghubung32) sehingga manusia itu dapat memiliki bermacam?macam ilmu pengetahuan tanpa banyak belajar serta memiliki ilmu pengetahuan gaib yang mengagumkan, dengan jalan menggunakan aku batin serta kepribadian ? sejatinya33), tentu lah tak perlu diherankan jika seorang Nabi yang menerima hembusan dari Malaikat Jibril sehingga terbukalah panca indera batin untuk kemudian pergi memanjat ruang angkasa melakukan Isra' dan Mi'raj kepada Tuhannya.
Dari: Shalat dan Panggilan Arafah oleh KH Bahaudin Mudhary
 |