larger smaller reset

basmalah

KEDUDUKAN DAN FUNGSI HADITS DALAM TASYRI' SERTA PENGAMALANNYA*

Tela'ah terhadap fenomena penggunaan hadits oleh masyarakat awam

Clip_2

Oleh : Agus Junaedi, M.Ag**


Pendahuluan

Sebuah hadits bersumber dari Ali a.s tentang akhir jaman berbunyi;

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْرٌ لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda: "Akan muncul di akhir zaman nanti, suatu kaum yang terdiri dari orang-orang muda yang masih mentah fikirannya (cetek faham agamanya). Mereka banyak mengucapkan perkataan Khairil Bariyah (firman Allah dan hadits Rasul), tetapi iman mereka masih lemah. Pada hakikatnya mereka telah keluar agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Di mana sahaja kamu dapat menemuinya, maka bunuhlahlah (bantahlah) mereka itu, siapa yang dapat membunuh (membantah) mereka, kelak akan mendapat pahala di hari kiamat. ";-(Riwayat Abu Daud, Ahmad, Tirmidzi)

Hadits diatas adalah sebuah gambaran tentang awal rusaknya agama Allah (islam), dan mungkin gambaran saat sekarang, tatkala dunia teknologi bergerak cepat yang memudahkan setiap orang mudah mengakses segala sesuatu termasuk yang berhubungan dengan perkara-perkara agama. Ditemukannya format dan system pustaka digital yang memuat ribuan kitab-kitab keagamaan yang lebih praktis (diterjemahkan ke berbagai bahasa) dan mudah dalam mengakses keberbagai format menjadikan "anak-anak muda"dalam hal ini tidak berarti "usia yang muda" tetapi yang dimaksud adalah orang yang dangkalnya ilmu agama pada diri mereka mudah untuk mengambil dan mempublikasikan ibarat menciduk air dari samudra.

Dengan berbagai fasilitas pendukung terutama media internet, dengan serta merta temuan-temuan mereka dipublikasikan tanpa ada upaya cros chek atau tashih kepada kelompok tafaquh fiddin. Belum lagi kelompok-kelompok diluar islam yang sangat dangkal bahkan tidak memahami islam ditambah kedengkian mereka terhadap Islam, melengkapi tahriful islam (pengrusakan islam). Lihat saja situs-situs yang menamakan diri sebagai kelompok murtadin Indonesia menjadikan hadits-hadits sebagai senjata untuk menjatuhkan Islam. Oleh karenanya kita (kaum muslimin) perlu hati-hati dalam menerima terlebih dalam mengamalkan apa-apa yang bersumber dari Al-Qur'an dan hadits.

Alih-alih kita ingin mengamalkan agama, malah kita sebetulnya keluar dari agama sebagaimana digambarkan oleh hadits diatas. Memahami konsepsi hadits dan bagaimana cara mengunakannya salah satu upaya yang niscaya kita lakukan dalam upaya membentengi diri supaya tetap berada pada track yang benar dalam islam. Berikut sekilas gambaran bagaimana kita memahami hadits sebagai dasar tasyri (ajaran Islam) dan bagaimana mengamalkannya.

Kedudukan (Rule) Hadits Sebagai Dasar Tasyri

Dasar tasyri (syari'at Islam) tidaklah asing bagi kaum muslimin dan tidak diragukan lagi bahwa As-Sunnah merupakan salah satu sumber hukum Islam disamping Al-Qur'an dan dia mempunyai cabang-cabang yang sangat luas, hal ini disebabkan karena Al-Qur'an kebanyakan hanya mencantumkan kaidah-kaidah yang bersifat umum serta hukum-hukum yang sifatnya global yang mana penjelasannya didapatkan dalam As-Sunnah An-Nabawiyah.

Oleh karena itu As-Sunnah mesti dijadikan landasan dan rujukan serta diberikan inayah (perhatian) yang sepantasnya untuk digali hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Dan pembahasan tentang sunnah Nabi Shallallhu ‘alaihi wa sallam merupakan hal yang sangat penting dalam pembentukan fikrah islamiyah serta upaya untuk mengenal salah satu mashdar syari'at Islam, apalagi As-Sunnah sejak dulu selalu menjadi sasaran dari serangan-serangan firqah yang menyimpang dari manhaj yang haq, yang bertujuan untuk memalingkan ummat Islam dari manhaj Nabawi dan menjadikan mereka ragu terhadap As-Sunnah.

Dalil yang menetapkan tentang kedudukan hadits sebagai dasar tasyri sangat banyak baik berdasarkan Al-Qur'an, hadits itu sendiri maupun ijma (kesepakatan) para sahabat diantaranya;

وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَاب

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah Ta'ala. Sesungguhnya Allah Ta'ala sangat keras hukuman-Nya". (QS.Al Hasyr:7)

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

"Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah Ta'ala. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka."(QS.An Nisaa;80)


كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى [ رواه البخاري ومسلم

" Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang enggan. (Para sahabat) bertanya, "Siapa mereka itu yang enggan wahai Rasulullah"? Beliau bersabda : "Barangsiapa yang mentaatiku maka dia akan masuk surga dan siapa yang mendurhakaiku maka dialah yang enggan masuk surga " (H.R. Bukhari - Muslim)

Umumnya kaum muslimin menerima kedudukan hadits sebagai dasar tasyri itu dan hanya sebaigian kecil yang menolaknya (inkarusunnah) namun demikian persoalan yang terpenting adalah bagaimana dalam pelaksanaannya, sebab ayat-ayat dan hadits yang menetapkan kedudukan hadits itu umumnya bersifat teologis sedangkan cara dalam melaksanaannya tidak disebutkan secara eksplisit. Pelaksanaan atau bagaimana hadits diamalkan dikaji dari sudut ilmu hadits atau musthalahul hadits yang niscaya dipelajari bagi setiap muslim yang menginginkan hanifan lidinihi (benar dan lurus dalam agamanya)

Fungsi (Function) hadits dalam tasyri

Ada empat fungsi hadits dalam tasyri' (ajaran Islam) yakni sebagai;
1. Hujjah atau dalil agama islam yakni sebagai argumentasi yang bersifat aqliyah (pemikiran) disamping al-Qur'an.
2. Bayan yakni yang menjelaskan kandungan Al-Qur'an yang masih global dan umum yang belum rinci.
3. Taqyid yakni memperkuat sesuatu yang telah ditetapkan oleh Al-Qur'an.
4. Manhaj yakni pedoman amaliyah bagi kaum muslimin.

Empat fungsi ini yang jarang diperhatikan bagi umumnya kaum muslimin terlebih aturan main dalam menggunakan ke-empat fungsi tersebut. Untuk bisa mengamalkan 4 fungsi hadits diatas, seseorang mesti mengetahui dan memahami konsepsi dasar yang berkenaan dengan hadits sekurang-kurangnya berikut ini;

1. Mengetahui maksud hadits dalam tataran praktis
2. Mengetahui perbedaan hadits dengan al-Qur'an
3. Ragam dan istilah yang berkenaan dengan hadits (musthalahul hadits)
4. Kualifikasi hadits
5. Pengamalan hadits
6. Problematika hadits

A. Maksud Hadits

Dalam tataran sederhana yang dimaksud hadits adalah;

1. Segala sesuatu yang diriwayatkan (ternukil) dalam kitab-kitab hadits pokok (mashadirul hadits) yang berjumlah 24 kitab hadits pokok yakni;

a. Jami' al- shahih Bukhari (256 H.)
b. Jami' al- shahih Muslim (261 H.)
c. Shahih Ibnu Huzaimah (311 H.)
d. Shahih Abu ‘Awanah (316 H.)
e. Al-Muntaqa, Ibnu al-Jarud (307 H.)
f. Al-Taqsim wal anwa, Ibn Hibban (354 H.)
g. Mustadrak, Al-hakim (405 H.)
h. Al-Sunan, Abu Daud (275 H.)
i. Al-Sunan, Al-Turmudzi (278 H.)
j. Al-Sunan, Al-Nasa'I (303 H.)
k. Al-Sunan, Ibn Majah (273 H.)
l. Al-Sunan, al-Darimi
m. Al-Sunan, al-Dailami
n. Al-Sunan, Daruqutni (358 H.)
o. Al-Sunan al-Kubra, al-Baihaqi (458)
p. Al-Musnad, al-Syafi'I (204 H.)
q. Al-Musnad, Abu Hanifah (150 H.)
r. Al-Musnad, Ahmad ibn Hanbal (241 H.)
s. Al-Musnad, Abu Daud al-Thayalisi (201 H.)
t. Al-Muwatha, Malik bin Anas (179)
u. Al-Ilzamat, Al-Daruqutni (385 H.)
v. Al-Mushannaf, Abdul Razaq (211 H.)
w. Al-Mushaonaf, Abu Abi Syaibah

2. Segala sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baik perkataan, perbuatan dan ketetapan sukuti (takrir) dengan petunjuk lafadz ;

a. Qaala Nabiyyu ( telah berkata Nabi )
b. Qaala Rasulullah (telah berkata Rasulullah)
c. Akhbarna Rasulullah (telah bercerita Rasulullah)
d. Kana Rasulullah ( Rasulullah pernah )
e. Raaitu Rasulullah (Saya melihat Rasulullah)
f. Raaitu Nabiyya (saya melihat Nabi)
g. Sami'tu/na Rasulullah (saya/ mendengar Rasulullah)
h. Kunna ma'a Nabiyyi (kami pernah bersama Nabi )
i. Lafadz-lafadz lain yang menunjukan penisbatan kepada Rasulullah)

3. Suatu berita dari Rasulullah yang memenuhi 3 syarat periwayatan yakni:

a. Adanya sanad (jalan-jalan yang menghubungkan antara pembawa berita kepada sumber berita)
b. Rawi (orang yang membawa berita terahir kali)
c. Matan (isi berita yang bersumber dari Rasulullah)

Jika ketiga syarat ini tidak dipenuhi maka gugurlah hadits tersebut, contoh

قال البخاري حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سِنَانٍ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ حَدَّثَنَا هِلَالُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Keterangan:

a. Hadits tersebut dinukil dari kitab jami'us Shahih Al-Bukhari dalam kitab ‘itisam bil kitabi wasunnah, bab iqtida'I bisunnatirrasul no hadits 6737 dalam CD hadits Kutubutis'ah. Maka Bukhari disebut rawi (pembawa berita)
b. Bukhari menyebutkan jalan-jalan yang sampainya berita itu pada Nabi (sumber berita) yakni dari guru-gurunya : Muhammad ibn Sinan, Fulaih, Hilal ibn ‘Ali, ‘Atha ibn Yasir sampai jalan terahir Abu Hurairah yang mendapat langsung dari Rasulullah dengan petunjuk lafadz أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ inilah yang disebut sanad
c. Isi berita adalah

 كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Inilah yang disebut hadits secara utuh, diperbolehkan membuang sanad dalam sebuah hadits jika sudah diyakini kedudukan hadits tersebut, asal dengan menyebutkan rawinya diahir matannya, misalnya HR. Al-Bukhari

B. Perbedaan Al-Qur'an dengan hadits

Sekalipun al-Qur'an dan as-Sunnah /al-Hadits sama-sama sebagai sumber hukum Islam, namun diantara keduanya terdapat perbedaan-perbedaan yang cukup prinsipil. Perbedaan-perbedaan tersebut antara lain ialah :

1. Al-Qur'an nilai kebenarannya adalah qath'I (absolut ), sedangkan al-Hadits adalah zhanni ( kecuali hadits mutawatir ).
2. Seluruh ayat al-Qur'an mesti dijadikan sebagai pedoman hidup. Tetapi tidak semua hadits mesti kita jadikan sebagai pedoman hidup. Sebab disamping ada sunnah yang tasyri' ada juga sunnah yang ghairu tasyri . Disamping ada hadits yang shahih adapula hadits yang dha,if dan seterusnya.
3. Al-Qur'an sudah pasti otentik lafazh dan maknanya sedangkan hadits tidak.
4. Apabila Al-Qur'an berbicara tentang masalah-masalah aqidah atau hal-hal yang ghaib, maka setiap muslim wajib mengimaninya. Tetapi tidak harus demikian apabila masalah-masalah tersebut diungkapkan oleh hadits.

C. Ragam dan istilah hadits

Salah satu kelebihan disiplin ilmu hadits yakni disebut ilmu musthalah atau ilmu yang banyak mengandung istilah-istilah yang satu sama lain saling berkaitan. Salah satunya istilah-istilah yang berkenaan dengan jenis-jenis hadits berikut ini;

1. Dari Segi Jumlah Periwayatnya

Hadits ditinjau dari segi jumlah rawi atau banyak sedikitnya perawi yang menjadi sumber berita, maka dalam hal ini pada garis besarnya hadits dibagi menjadi dua macam, yakni:

a. Hadits mutawatir, dan
b. Hadits Ahad.

Hadits Mutawatir menurut lughat ialah mutatabi yang berarti beriring-iringan atau berturut-turut antara satu dengan yang lain Sedangkan menurut istilah ialah Suatu hasil hadits tanggapan pancaindera, yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi, yang menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk dusta.
Hadits ahad adalah hadits yang tidak sampai derajatnya mutawatir.

Pembagian hadits mutawatir dua macam yakni hadits mutawatir lafdzi dan hadits mutawatir ma'nawi

Sedangkan pembagian hadits ahad ada tiga yaitu; Hadits masyhur, hadits aziz dan hadits gharib.

2. Dari Segi Kualitas Sanad Dan Matannya

Para ulama membagi hadits ahad dalam tiga tingkatan, yaitu hadits sahih, hadits hasan, dan hadits daif. Pada umumnya para ulama tidak mengemukakan, jumlah rawi, keadaan rawi, dan keadaan matan dalam menentukan pembagian hadits-hadits tersebut menjadi hadits sahih, hasan, dan daif.

Hadits Sahih adalah hadits yang dinukil (diriwayatkan) oleh rawi yang adil, sempurna ingatan, sanadnya bersambung-sambung, tidak berillat dan tidak janggal

Hadits Hasan adalah hadits yang dinukilkan oleh orang yang yang adil yang kurang sedikit kedhabitannya, bersambung-sambung sanadnya sampai kepada nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan tidak mempunyai ‘Illat serta syadz

Hadits daif adalah hadits yang tidak menghimpun sifat-sifat hadits sahih, dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadits hasan

D. Kualifikasi hadits dalam hujjah

Secara kualifikasi, hadits yang dapat dijadikan hujjah terbagi dua macam, yaitu;

1. Hadits mutawatir secara ittifaq (sepakat) dapat dijadikan hujjah secara qath'I (mutlak) sama dengan al-Qur'an. Hadits mutawatir ini jumlahnya sedikit tidak lebih dari seratus hadits
2. Hadits ahad ditinjau dari segi dapat diterima atau tidaknya sebagai hujjah terbagi menjadi 2 (dua) macam yaitu hadits maqbul dan hadits mardud. Dan inilah menjadi bagian terbesar dalam kajian ilmu hadits karena jumlahnya sangat banyak yakni ratusan ribu hadits atau jutaan.

Maka secara kualifakasi, hadits ahad itu ada yang maqbul (diterima sebagai hujjah adapula yang mardud (ditolak sebagai hujjah).

a. Hadits Maqbul

Maqbul menurut bahasa berarti yang diambil, yang diterima, yang dibenarkan. Sedangkan menurut urf Muhaditsin hadits Maqbul ialah Hadits yang menunjuki suatu keterangan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyabdakannya.

Jumhur ulama berpendapat bahwa hadits maqbul ini wajib diterima. Sedangkan yang temasuk dalam kategori hadits maqbul adalah:

a.1 Hadits sahih, baik yang lizatihi maupun yang ligairihi
a.2 Hadits hasan baik yang lizatihi maupun yang ligairihi.

b. Hadits Mardud

Mardud menurut bahasa berarti yang ditolak; yang tidak diterima. Sedangkan menurut urf Muhaddisin, hadits mardud ialah Hadits yang tidak menunjuki keterangan yang kuat akan adanya dan tidak menunjuki keterangan yang kuat atas ketidakadaannya, tetapi adanya dengan ketidakadaannya bersamaan. Jadi, hadits mardud adalah semua hadits yang telah dihukumi daif.

Jenis hadits do'if inilah yang paling banyak dalam istilah hadits yakni;

1) hadits Maudhu (palsu)
2) hadits Mathruk (tertuduh dusta)
3) hadits Munkar (banyak salah)
4) hadits Mu'allal (cacat karena banyak sangkaan)
5) hadits Mudraj (adanya sisipan)
6) hadits Maqlub (memutarbalikan)
7) hadits Mudtarib (menukar rawi)
8) hadits Muharraf (merubah syakal)
9) hadits Majhul (tidak diketahui identitasnya)
10) hadits Mardud (pelaku bid'ah)
11) hadits Syadz (menyalahi riwayat yang tajih)
12) hadits Mukhtalif (buruk hafalan)
13) hadits Mu'allaq (gugur sanad pertama)
14) hadits Mursal (gugur sanad terahir)
15) hadits Mu'dhal (gugur dua rawi berturut-turut)
16) hadits Munqathi (gugur dua rawi tidak berturut-turut)
17) Hadits Mauquf (nisbatnya sampai sahabat)
18) Hadits Maqthu (nisbatnya sampai tabi'in)

E. Pengamalan Hadits

Yang dimaksud pengamalan hadits adalah mengunakan hadits sebagai fungsinya yakni sebagai hujjah, bayanul Al-Qur'an, ta'qidul-Qur'an dan manhajul ‘amaliyah . Adalah hadits yang berkatagori hadits maqbul (yang diterima) yaitu; Hadits sahih, baik yang lizatihi maupun yang ligairihi dan Hadits hasan baik yang lizatihi maupun yang ligairihi. Jadi Hadits yang berkatagori hadits mardud (hadits da'if) tidak dapat diamalkan.

Namun demikian, menurut mayoritas ulama hadits (muhaditsin) tidak semua hadits maqbul tidak dapat diamalkan semuanya. Hal ini bukan karena kurang kemaqbulannya namun karena sebab yang lain. Oleh sebab itu, hadits maqbul itu dibagi dua bagian yaitu:

1. Hadits Maqbul wama'mulun bih (hadits yang diterima dan dapat diamalkan)
2. Hadits Maqbul waghairu ma'mulun bih (hadits yang diterima tetapi tidak dapat diamalkan)

a. Hadits Maqbul wama'mulun bih (hadits yang diterima dan dapat diamalkan) adalah :

1) Hadits Muhkam

Al-Muhkam menurut bahasa artinya yang dikokohkan, atau yang diteguhkan. Yaitu hadits-hadits yang tidak mempunyai saingan dengan hadits yang lain, yang dapat mempengaruhi artinya. Dengan kata lain tidak ada hadits lain yang melawannya. Dikatakan muhkam ialah karena dapat dipakai sebagai hukum lantara dapat diamalkan secara pasti, tanpa syubhat sedikitpun.

Kebanyakan hadits tergolong kepada jenis ini, sedangkan yang bertentangan jumlahnya sedikit.

2) Hadits Mukhtalif.

Mukhtalif artinya adalah yang bertentangan atau yang berselisih. Sedangkan secara istilah ialah hadits yang diterima namun pada dhahirnya kelihatan bertentangan dengan hadits maqbul lainnya dalam maknanya, akan tetapi memungkinkan untuk dikompromikan antara keduanya. Kedua buah hadits yang berlawanan ini kalau bisa dikompromikan, diamalkan kedua-kaduanya.

3) Hadits Rajih

Yaitu sebuah hadits yang terkuat diantara dua buah hadits yang berlawanan maksudnya.

4) Hadits Nasikh

Yakni hadits yang datang lebih akhir, yang menghapuskan ketentuan hukum yang terkandung dalam hadits yang datang mandahuluinya.

Contoh dari hadits Maqbul ma'mulul bih banyak sekali. Secara garis besar pembagiannya ialah hadits yang tidak ada perlawanannya dengan hadits lain dan hadits yang terjadi perlawanan dengan hadits lain. Sebagai contoh akan dikemukakan tentang hadits yang tidak memiliki perlawanan dengan hadits lain (Hadits Muhkam) berikut ini.

"janganlah kamu larang isterimu untuk pergi ke mesjid (untuk bersembahyang), tetapi sembahyang dirumah lebih baik bagi mereka" (H.R Abu Daud dari Ibnu Umar)

Contoh Hadits yang memiliki perlawanan dari hadits lain tetapi salah satu dari hadits tersebut telah menghapus ketentuan hukum yang terkandung dari hadits yang turun sesudahnya (hadits nasikh). Yakni sebagai berikut :

Barra berkata : "sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah sembahyang menghadap Baitul Maqdis selama enam belas bulan". (Riwayat Bukhari)

Hukum menghadap kiblat ke Baitul Maqdis itu telah dinasikhkah oleh Allah pada firmanNya :

"hendaklah kamu menghadapkan mukamu kearah Masjidil Haram (Ka'bah). (QS. Albaqarah :144)

b. Hadits Maqbul Ghairu Ma'mul bih

1) Hadits Mutasyabih

yakni hadits yang sukar dipahami maksudnya lantaran tidak dapat diketahui takwilnya. Ketentuan hadits mutasyabih ini ialah harus diimankan adanya, tetapi tidak boleh diamalkan.

2) Hadits Mutawaqqaf fihi

Yakni dua buah hadits maqbul yang saling berlawanan yang tidak dapat di kompromikan, ditarjihkan dan dinasakhkan. Kedua hadits ini hendaklah dibekukan sementara.

3) Hadits Marjuh

Yakni sebuah hadits maqbul yang ditenggang oleh oleh hadits Maqbul lain yang lebih kuat. Kalau yang ditenggang itu bukan hadits maqbul, bukan disebut hadits marjuh,

4) Hadits Mansukh

Secara bahasa mansukh artinya yang dihapus, Yakni maqbul yang telah dihapuskan (nasakh) oleh hadits maqbul yang datang kemudian.

5) Hadits Maqbul yang maknanya berlawanan dengan alQur'an, Mutawatir, akal yang sehat dan ijma' ulama.

Contoh dari hadits Maqbul ghairu ma'mul bih ini salah satunya ialah tentang hadits yang bertentangan dengan akal sehat yakni berikut ini :

"Konon termasuk yang diturunkan kepada nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Wahyu yang diturunkan di malam hari dan nabi melupakannya disiang hari" (HR. Ibnu Abi Hatim dari Riwayat Ibnu Abbas r.a)

Hadits tersebut secara akal sehat, sebab menerima anggapan bahwa nabi pernah lupa sedangkan menurut akal sehat dan putusan ijma' nabi ialah terpelihara dari dosa dan kelupaan (ma'shum) dalam menyampaikan syariat dan wahyu.

Apa yang Harus Dilakukan untuk Mendudukkan Dua Hadits Maqbul yang Mukhtalaf Ini ?

Para ulama menggunakan dua jalan :

1. Thariqatul-Jam'I, yaitu bila memungkinkan untuk menggabungkan dan mengkompromikan antara keduanya, maka keduanya dikompromikan dan wajib diamalkan.

2. Thariqatut-Tarjih, yaitu bila tidak memungkinkan untuk dikompromikan, maka :

b. Jika diketahui salah satunya nasikh dan yang lain mansukh, maka kita dahulukan yang nasikh lalu kita amalkan, dan kita tingalkan yang mansukh.
c. Jika tidak diketahui nasikh dan mansukhnya, maka kita cari mana yang lebih kuat di antara keduanya lalu kita amalkan, dan kita tinggalkan yang lemah.
d. Jika tidak memungkinkan untuk ditarjih, maka tidak boleh diamalkan keduanya sampai jelas dalil yang lebih kuat.

F. Problematika Hadits

Dalam ranah studi hadits dikenal istilah probelamtika hadits, sebuah kajian yang tidak terdapat dalam studi Al-Qur'an. Kajian ini menyangkut hal-hal yang berkembang sekitar hadits antara lain ;

1. Hadits berada pada dua dimensi, Pertama: dimensi ilahi, hal ini dikarenakan oleh sunnah yang tetap berlandaskan kepada wahyu Samawi1. Kedua: dimensi insani, karena sosok yang perkataan, perbuatan, dan bahkan diamnya yang harus dipedomani itu adalah seorang manusia biasa. Kedua dimensi diatas terangkum dalam firman Allah "katakanlah sesungguhnya saya adalah manusia biasa yang mendapatkan wahyu , sesungguhnya tuhanmu adalah satu"2, oleh sebab keistimewaan itulah studi terhadap sunnah atau hadits Rasul menjaditema yang sangat menarik.

2. Salah satu dari problem besar dalam studi hadits adalah otentisitas materi hadits itu sendiri, hal itu dikarenakan oleh banyaknya materi hadits yang diriwayatkan dengan lafal-lafal yang berbeda sehingga dengan perbedaan itu bisa menimbulkan penambahan makna. Bisa saja hal itu terjadi dikarenakan oleh banyaknya perawi yang melakukan riwayat bilma'na atau memang Rasul sendiri yang mengungkapkan dengan lafal yang berbeda itu pada waktu yang tidak bersamaan. Disini pertanyaan yang muncul adalah manakah yang benar benar datang dari Rasul?, jika ternyata semuanya terbukti datang dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka perlu dilakukan studi tematik terhadap riwayat-riwayat itu sebelum ditarik kesimpulan hukum, tetapi kalau otentisitasnya hanya terbukti pada sebahagian saja maka hanya itulah yang dipakai sedangkan yang lainnya tidak bisa dijadikan hujjah. Dalam kaitannya dengan otentisitas hadits yang paling berperan adalah ilmu al jarh wa al ta'dil atau apa yang sering disebut dengan metodologi kritik hadits yang meliputi dua hal, yaitu kritik sanad dan kritik matan, maka menguasai ilmu tersebut adalah sebuah keharusan bagi siapa saja yang berminat menjadi peneliti dalam bidang hadits. Contoh tentang hadits terbaginya umat Islam menjadi beberapa golongan ada yang 70,71,72 sampai 73 semuanya masuk neraka kecuali satu.

3. Sikap dan tindakan yang muncul dari Rasul secara umum baik perkataan maupun perbuatan, tidaklah berstatus sama karena fungsi dan kedudukan beliau yang memang bukan satu, melainkan banyak. Antara lain beliau sebagai Rasul, mufti, hakim, pemimpin masyarakat, atau sebagai manusia biasa. Kalau kita ingin memahami sebuah hadits maka harus membedakan apakah hadits itu muncul disaat beliau memposisikan dirinya sebagai Rasul, sehingga ia berdimensi universal yang berlaku bagi seluruh umat Islam pada semua waktu dan tempat atau bukan, sebab status sikap dan tindakan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan berbeda-beda nilai syari'atnya seiring dengan perbedaan fungsi dan posisi beliau. Sebagai contoh, kebijaksanaan Rasul dalam membagi tanah rampasan perang adalah kebijakan beliau sebagai seorang peminpin, bukan sebagai Rasul. Oleh sebab itu Umar bin Khattab ketika menaklukan Iraq tidak mau membagikan tanah Iraq kepada para sahabat yang ikut berperang karena kemashlahatan yang dulu ada sudah terkalahkan, meskipun Rasul pernah membagi bagikannya

4. Mengetahui situasi dan kondisi munculnya sebuah hadits akan sangat membantu kita dalam memahami hadits tersebut karena dengannya kita akan bisa memahami maksud hadits yang sebenarnya apakah ia berlaku umum atau untuk situasi dan kondisi tertentu saja. ketika Rasul membolehkan Abdurrahman bin auf untuk memakai kain sutra maka hukumnya tidaklah berlaku umum karna kebolehannya disebabkan oleh situasi tertentu.

5. Sebagian besar dari teks hadits mengandung lebih dari satu hukum hal ini mungkin disebabkan oleh tabi'at lafadz itu sendiri seperti lafadz musytarok, atau tabi'at shigat kalimat atau munkin saja disebabkan oleh adanya peluang analogi hukum. disisi lain dalam memahami sunnah atau hadits haruslah selalu memperhatikan dua konsekwensi hukum yaitu hukum umum (al iqtidha' al ashly) atau hukum asal yang berlaku secara universal dan hukum khusus ( al iqtidha' attaba'i) yang berbeda dengan hukum asal yang penerapannya hanya pada hal-hal tertentu yang memiliki legelitas secara syar'I pemberlakuan hukum jenis yang kedua ini hanyalah bersifat temporal dan kondisional. ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan "Nikah itu adalah sunnahku siapa yang tidak mau menikah berati ia tidak termasuk golonganku (HR Bukhari muslim), hukum umum yang terkandung didalam hadits ini adalah keharusan menikah bagi siapa saja yang merasa mampu agar tidak dikatakan sebagai orang benci sunnah, namun penerapannya kepada berbagai individu bisa saja berbeda dengan ketentuan umum tersebut, bahkan ada diantara ulama ulama besar yang memilih untuk tidak menikah seperti Ibn Taimiyah ,Imam Nawawi dan orang orang besar lainnya yang sangat sulit bagi kita untuk mengatakan mereka sebagai kelompok yang benci sunnah, oleh karena itulah para ulama - dan mereka sedang menerapkan metode interaksi ini- mengatakan nikah itu hukumnya ada lima

6. Bahasa rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memiliki keistimewaan tersendiri. Salah satunya adalah apa yang disebut dengan Jawami' Al kalim, bahasa yang mencakup, terkadang beliau mengungkapkan kalimat-kalimat yang begitu pendek, tapi ternyata maknanya sangat luas dan mencakup. keistimewaan lain yang dimiliki oleh bahasa rasul adalah Rabbaniyatul Mashdar (sumbernya dari Allah) khususnya yang berkaitan dengan masalah hukum. Ketika beliau ditanya tentang pakaian yang boleh dipakai bagi yang sedang berihram, beliau justru menjelaskan pakaian-pakaian yang dilarang untuk dipakai selama berihram, itu menandakan bahwa jenis pakaian yang dilarang jumlahnya terbatas, sedangkan yang dibolehkan jumlahnya tidak terbatas. Inilah salah satu bentuk kecerdasan yang dimiliki Rasulullah.

7. Terjadinya silang pendapat dikalangan para ulama tentang kedudukan hadits dha'if. Sebagian ulama sangat ketat tidak boleh mengunakan hadits do'if, sebagaian membatasi hanya pada keutamaan amal dan akhlak (fadhail amal wal akhlaq) dan sebagian sangat longgar sehingga dalam masyarakat terdapat pandangan yang kontras terhadap pengamalan suatu hadits.

* Disarikan dari berbagai sumber

** Penulis adalah Alumunus S2 Pasca Sarjana UIN SGD Prodi Al-Qur'ah Hadits,

Agus Junaedi M.Ag.bisa dihubungi via e-mail Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

Share/Save/Bookmark
Dibaca :24513 kali  

Komentar-Komentar  

Taufiq Rahmat. H, ST
Quote
 
0
salam...

mohon maaf pak... kami ada selisih tentang hadits yg menerangkan bahwa,.. "hewan yang bertaring dan berkuku tajam itu haram"...
apakah hadits tersebut termasuk dalam hadits maqbul apa mardud?

mohon penjelasannya pak...

terimakasih

Yalia,S.Ag
Quote
 
0
pak tolong kirimkan dasar penetapan hadits/sunnah ghaiyr (non) tashri'yyah


Kode keamanan
Segarkan