larger smaller reset

 

Kisah Takhayul Dibalik Munculnya Shalawat Nariyah

shalawat-nariyah

Oleh: Yusuf Supriadi

Pembahasan Pertama: Asal usul Shalawat Nariyah

 Siapa yang tak kenal dengan shalawat Nariyah? Mayoritas kita mungkin mengenalnya, atau bahkan telah menghafalnya, atau setidaknya pernah mendengar nama tersebut. Tepat sekali, nama ini begitu masyhur di kalangan masyarakat kita sehingga banyak orang yang mengetahuinya. Bahkan saya sendiri dulu pernah menghafal dan sering membacanya dalam kehidupan sehari-hari. Namun sekarang saya meninggalkannya. Alhamdulillah.

 Konon kabarnya shalawat Nariyah ini adalah gubahan shalawat dari seorang sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Begitulah cerita yang saya dengar dari kaum Nahdhiyin. Untuk mengetahui kisah itu selengkapnya, bacalah nukilan artikel yang saya dapatkan dari sebuah website berikut ini:

 Shalawat Nariyah adalah sebuah shalawat yang disusun oleh Syaikh Nariyah. Syaikh yang satu ini hidup pada zaman Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam sehingga termasuk salah satu sahabat nabi. Beliau lebih menekuni bidang ketauhidan. Syaikh Nariyah selalu melihat kerja keras Nabi dalam menyampaikan wahyu Allah, mengajarkan tentang Islam, amal saleh dan akhlaqul karimah sehingga Syaikh selalu berdoa kepada Allah memohon keselamatan dan kesejahteraan untuk nabi. Doa-doa yang menyertakan nabi biasa disebut shalawat dan Syaikh Nariyah adalah salah satu penyusun shalawat Nabi yang disebut shalawat Nariyah.

 Suatu malam Syaikh Nariyah membaca shalawatnya sebanyak 4444 kali. Setelah membacanya, beliau mendapat karomah dari Allah. Maka dalam suatu majelis beliau mendekati Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam dan minta dimasukan surga pertama kali bersama nabi. Dan Nabi pun mengiyakan. Ada seseorang sahabat yang cemburu dan lantas minta didoakan yang sama seperti Syaikh Nariyah. Namun Nabi mengatakan tidak bisa karena Syaikh Nariyah sudah minta terlebih dahulu.

 Mengapa sahabat itu ditolak Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam? dan justru Syaikh Nariyah yang bisa? Para sahabat itu tidak mengetahui mengenai amalan yang setiap malam diamalkan oleh Syaikh Nariyah yaitu mendoakan keselamatan dan kesejahteraan nabinya. Orang yang mendoakan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam pada hakekatnya adalah mendoakan untuk dirinya sendiri karena Allah sudah menjamin nabi-nabiNya sehingga doa itu akan berbalik kepada si pengamalnya dengan keberkahan yang sangat kuat.

 Jadi Nabi berperan sebagai wasilah yang bisa melancarkan doa umat yang bershalawat kepadanya. Inilah salah satu rahasia doa/shalawat yang tidak banyak orang tahu sehingga banyak yang bertanya kenapa nabi malah didoakan umatnya? untuk itulah jika kita berdoa kepada Allah jangan lupa terlebih dahulu bershalawat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam karena doa kita akan lebih terkabul daripada tidak berwasilah melalui bershalawat.

 Inilah riwayat singkat shalawat Nariyah. Hingga kini banyak orang yang mengamalkan shalawat ini, tak lain karena meniru yang dilakukan Syaikh Nariyah. Dan ada baiknya shalawat ini dibaca 4444 kali karena Syaikh Nariyah memperoleh karomah setelah membaca 4444 kali. Jadi jumlah amalan itu tak lebih dari itba’ (mengikuti) ajaran Syaikh.

 Agar bermanfaat, membacanya harus disertai keyakinan yang kuat, sebab Allah itu berada dalam prasangka hambanya. Inilah pentingnya punya pemikiran yang positif agar doa kita pun terkabul. Meski kita berdoa tapi tidak yakin (pikiran negatif) maka bisa dipastikan doanya tertolak. (http://www.indospiritual.com)

 Dari tulisan dalam website itu, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa pengarang shalawat Nariyah adalah Syaikh Nariyah yang merupakan sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang telah dijamin oleh Allah dengan surga-Nya. Bagaimana tindakan kita dalam menyikapi cerita ini dan yang semisalnya? Apakah kita langsung mempercayainya tanpa melakukan tabayyun?

 Seorang muslim hendaknya tidak langsung percaya begitu saja dengan cerita atau kisah yang disampaikan kepadanya tanpa meneliti terlebih dahulu kebenaran cerita atau kisah yang disampaikan kepadanya tersebut. Inilah tabayyun, yakni meneliti kebenaran sebuah cerita yang didisampaikan kepada kita sebelum kita menentukan benar tidaknya cerita tersebut. Terlebih lagi hal ini merupakan permasalahan agama, maka hendaknya kita lebih waspada lagi dalam menerima cerita yang disampaikan kepada kita.

 Janggal dan Tidak Lazim

Dari cerita tersebut di atas, ada beberapa hal yang hendaknya kita perhatikan dengan seksama, yang pertama yakni: Benarkah ada sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang bernama Syaikh Nariyah?

 Para sahabat Nabi adalah orang-orang yang telah dimuliakan oleh Allah dan dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya dengan pujian Khairun Naas (Manusia Terbaik). Oleh karena itu, banyak diantara kalangan para ulama yang menaruh perhatian yang sangat besar tentang biografi dan perjalanan hidup para sahabat Nabi. Oleh karena itu begitu banyak kitab yang ditulis yang mengumpulkan biografi dan perjalanan hidup generasi terbaik ini dan beberapa generasi yang hidup di zaman kemuliaan Islam tersebut. Sebut saja Hilyatul Awliyaa` yang ditulis oleh Al-Hafizh Abu Nu’aim Al-Asfahani. Ada lagi kitab Tahdzibul Kamal karya al-Hafizh Al-Mizzi, Shifatush Shafwah karya Imam Ibnul Jauzi, Al-Ishabatu fi Tamyizish Shahabah karya al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani dan berbagai kitab sejarah lainnya yang intinya adalah para ulama memberikan perhatian yang sangat besar terhadap biografi dan perjalanan hidup para sahabat Nabi.

 Para dewan redaktur majalah As-Sunnah mengatakan, “Setelah meneliti berbagai kitab di atas dan juga referensi biografi lainnya, yang biasa diistilahkan para Ulama dengan kutubut tarajim wa ath-thabaqat, ternyata tidak dijumpai seorang pun di antara Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bernama Nariyah. Bahkan sepengetahuan kami, tidak ada seorang pun Ulama klasik yang memiliki nama tersebut. Lalu, dari manakah orang tersebut berasal ??”

 Sebenarnya ada sebuah kejanggalan pada nama orang yang disangka sebagai sahabat Nabi tersebut, yakni: jika kita terbiasa berinteraksi dengan hadits-hadits Nabi dan biografi para sahabat, belum pernah kita jumpai adanya nama sahabat Nabi yang mendapat ‘gelar’ “SYAIKH”. Perhatikanlah nama di atas, “Syaikh Nariyah”. Ini adalah sesuatu hal yang sangat tidak lazim terjadi di kalangan para ulama salaf, terlebih lagi para sahabat Nabi. Cobalah seandainya seseorang sedikit saja membaca kitab para ulama yang menuliskan biografi para sahabat, ketika mendengar atau membaca nama Syaikh Nariyah yang disangka sebagai sahabat Nabi, maka ia akan merasakan sesuatu yang aneh, ganjil dan tidak lazim. Mungkin –Allahua’lam- orang yang membuat kisah ini adalah orang yang tidak terbiasa berinteraksi dengan nama para sahabat Nabi, sehingga ia melakukan tindakan yang cukup fatal dan dianggap ganjil oleh orang-orang yang terbiasa dengan biografi para sahabat Nabi. Dari sini saja kita sudah sangsi tentang keshahihan kisah tersebut sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa tidak ada sahabat Nabi yang bernama Syaikh Nariyah. Jadi, penyandaran shalawat ini kepada sahabat Nabi yang bernama Syaikh Nariyah sangat diragukan kebenarannya.

 Kemudian yang kedua, kisah tersebut di atas dinukil dengan tanpa sanad sehingga bagi orang-orang yang memahami betul pentingnya sanad dalam sebuah riwayat, mereka akan sangat sulit melacak keotentikan cerita di atas. Jangankan sanad, artikel tersebut juga tidak mencantumkan referensi dari mana kisah itu dinukil. Sepertinya, -Allahua’alam- orang yang membuat kisah di atas bukanlah orang yang memiliki amanah ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan karena gelapnya asal-usul dan periwayatan kisah tersebut di atas.

Imam ‘Abdullah bin al-Mubarak pernah berkata, “Isnad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada isnad, seseorang akan bebas mengatakan apa yang dikehendakinya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah dalam muqaddimah Shahihnya)

 Fenomena Yang Sangat Memprihatinkan

Tersebarnya berbagai kisah yang gelap asal-usulnya di masyarakat luas merupakan sebuah fenomena yang sangat memprihatinkan. Apalagi jika kisah tersebut membawa-bawa nama Rasulullah shallalaahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Sungguh kita mengkhawatirkan mereka karena bisa terjatuh ke dalam kedustaan yang diatasnamakan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

 Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari, Muslim dan lainnya)

 Berdusta atas nama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidaklah sama dengan berdusta atas nama selain nama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Jika berdusta kepada selain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam saja merupakan sebuah dosa, tentu berdusta atas nama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dosanya jauh lebih besar ketimbang berdusta atas nama selain beliau dikarenakan kedudukan Rasulullah yang mulia, dan dikarenakan kedustaan atas nama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam akan memunculkan suatu hukum tertentu dalam agama yang mana hukum tersebut tidak pernah ada yang pada akhirnya menimbulkan kerusakan yang sangat besar.

 Kita ambil saja contohnya dari kisah shalawat Nariyah di atas. Berapa banyak orang yang meyakini bahwa shalawat tersebut berasal dari Syaikh Nariyah yang ‘disangka’ sebagai sahabat Nabi? Berapa banyak orang yang salah kaprah dalam amaliah mereka? Semua itu adalah akibat dari adanya kisah dusta di atas yang diatasnamakan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Inilah salah satu sebab beredarnya hadits-hadits palsu di tengah umat, yakni adanya tukang-tukang cerita yang mengarang-ngarang cerita, kemudian disandarkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

 Jika kisah asal usul dari shalawat Nariyah ini tidaklah shahih, merupakan kedustaan atas nama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan merupakan kisah yang gelap asal-usulnya, maka masihkah kita meyakininya dan mengamalkan shalawat ini? Kita katakan tidak. Hendaklah kita meninggalkan perkara-perkara yang tidak jelas asal-usulnya, terlebih lagi menyangkut persoalan agama dan ibadah. Tentu hal ini akan menjadi suatu keharusan untuk meninggalkannya dan beralih kepada amaliah yang shahih yang datangnya dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.

 Bukan berarti orang yang meninggalkan shalawat Nariyah dan tidak mau mengamalkannya adalah orang-orang yang tidak cinta kepada shalawat dan tidak mau bershalawat. Tidak demikian adanya. Hanya saja yang kita kehendaki adalah hendaknya kita bershalawat sesuai dengan apa yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melalui hadits-hadits yang shahih.

 Shalawat merupakan sebuah ibadah yang agung. Oleh karena itu, mustahil kalau Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak mengajarkan kepada kita tatacara bershalawat yang benar. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan kepada kita dengan jelas tentang bagaimana kita bershalawat. Beliau juga mengajarkan kepada kita lafazh-lafazh atau bacaan-bacaan shalawat yang benar. Semua itu telah beliau ajarkan sehingga tidak perlu lagi menggubah atau mengarang-ngarang tatacara dan bacaan shalawat sendiri. Bahkan parahnya lagi adalah jika kita mengiringinya dengan kisah dan cerita yang kita pun mengarangnya sendiri kemudian kita sandarkan kisah dan cerita kita atasnama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sebagai upaya pembenaran terhadap sesuatu yang batil.

 Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Barangsiapa yang membuat-buat sesuatu yang baru yang tidak kami perintahkan, maka hal tersebut tertolak (di sisi Allah)” (HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa)

 Dalam riwayat lain disebutkan, “Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak pernah kami contohkan atas amalan tersebut, maka amalan tersebut tertolak (di sisi Allah)”.

Pembahasan Kedua: Letak Kesyirikan Shalawat Nariyah

Shalawat nariyah telah dikenal oleh banyak orang. Mereka beranggapan, barangsiapa membacanya sebanyak 4444 kali dengan niat agar kesusahan dihilangkan, atau hajat dikabulkan, niscaya akan ter-penuhi.

 Ini adalah anggapan batil yang tidak berdasar sama sekali. Apalagi jika kita mengetahui lafazh bacaannya, serta kandungan syirik yang ada di dalamnya. Secara lengkap, lafazh shalawat nariyah itu adalah sebagai berikut,

 “Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna, dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna untuk penghulu kami Muhammad, yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, dan semoga pula dilimpahkan untuk segenap keluarga, dan sahabat-nya sebanyak hitungan setiap yang Engkau ketahui.”

 Aqidah tauhid yang kepadanya Al-Quranul Karim menyeru, dan yang dengannya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam mengajarkan kita, menegaskan kepada setiap muslim agar meyakini bahwa hanya Allah semata yang kuasa menguraikan segala ikatan. Yang menghilangkan segala kesedihan. Yang memenuhi segala kebutuhan dan memberi apa yang diminta oleh manusia ketika ia berdo’a.Setiap muslim tidak boleh berdo’a dan memohon kepada selain Allah untuk menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakit-nya, bahkan meski yang dimintanya adalah seorang malaikat yang diutus atau nabi yang dekat (kepada Allah).

 Al-Qur’an mengingkari berdo’a kepada selain Allah, baik kepada para rasul atau wali. Allah berfirman,

 “Katakanlah, ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmatNya dan takut akan siksaNya; sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” (Al-lsra’17:56-57)

 Para ahli tafsir mengatakan, ayat di atas turun sehubungan dengan sekelompok orang yang berdo’a dan meminta kepada Isa Al-Masih, malaikat dan hamba-hamba Allah yang shalih dan jenis makhluk jin.

 Bagaimana mungkin Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam akan rela, jika dikatakan bahwa beliau kuasa menguraikan segala ikatan dan menghilangkan segala kesedihan. Padahal Al-Qur’an menyeru kepada beliau untuk memaklumkan,”Katakanlah, ‘Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Al-A’raaf 7:188)

 “Seorang laki-laki datang kepada Rasululllah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam lalu ia berkata kepada beliau, ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu.” Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam bersabda, ‘Apakah engkau menjadikan aku sebagai sekutu (tandingan) bagi Allah? Katakanlah, “Hanya atas kehendak Allah semata.” (HR. Nasaa’i, dengan sanad shahih)

 Di samping itu, di akhir lafazh shalawat nariyah tersebut, terdapat pembatasan dalam masalah ilmu-ilmu Allah. Ini adalah suatu kesalahan besar.

Seandainya kita membuang kata “Bihi” (dengan Muhammad), lalu kita ganti dengan kata “BiHaa” (dengan shalawat untuk Nabi), niscaya makna lafazh shalawat itu akan menjadi benar. Sehingga bacaannya akan menjadi seperti berikut ini:

“Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna, dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna untuk Muhammad, yang dengan shalawat itu diuraikan segala ikatan …”Hal itu dibenarkan, karena shalawat untuk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Salam adalah ibadah, sehingga kita boleh ber-tawassul dengannya, agar dihilangkan segala kesedihan dan kesusahan.

Kenapa kita membaca shalawat-shalawat bid’ah yang meru-pakan perkataan manusia, kemudian kita meninggalkan shalawat lbrahimiyah yang merupakan ajaran AI-Ma’sum ? sumber: http://ibnujafar86.wordpress.com/2009/02/25/seputar-shalawat-nariyah/

 Pembahasan Ketiga: Seputar Permasalahan Shalawat Nariyah

 Salah Seorang kiyai Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta menulis sebuah artikel tentang sholawat Nariyah, yang mana jika seorang muslim tidak memiliki pemahaman Ilmu yang benar, maka bisa jadi ia akan terpengaruh oleh syubhat yang dilontarkannya, dimana ia mengatakan bahwa “shalawat Nariyah”, adalah salah satu bacaan yang sangat popular di kalangan kaum muslimin, baik di desa maupun di kota, Khususnya bila menghadapi problem hidup yang sulit dipecahkan, maka tidak ada jalan lain selain mengembalikan persoalan pelik itu kepada Allah. Dan Shalawat Nariyah adalah salah satu jalan mengadu kepada-Nya.

Berikut ini adalah bacaan shalawat Nariyah:

اللهم صل صلاة كاملة، وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذى تنحل به العقد، وتنفرج به الكرب، وتقضى به الحوائج، وتنال به الرغائب، وحسن الخواتم وسيتشقى الغمام بوجهه الكريم، وعلى أله وصحبه فى كل لمحة ونفس بعدد كل معلوم لك

yang artinya adalah, Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat dirinya yang mulia hujanpun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau.

 Dalam kitab Khozinatul Asror halaman 179 dijelaskan, bahwa “Salah satu shalawat yang mustajab ialah Shalawat Tafrijiyah Qurthubiyah, yang disebut orang Maroko dengan Shalawat Nariyah, karena jika umat Islam mengharapkan apa yang dicita-citakan, atau ingin menolak yang tidak disukai, maka mereka berkumpul dalam satu majelis untuk membaca shalawat Nariyah ini sebanyak 4444 kali, kemudian tercapailah apa yang dikehendaki dengan cepat bi idznillah.”

Selain itu, imam Dainuri mengatakan bahwa : Siapa membaca shalawat ini sehabis shalat Fardhu sebanyak 11 kali, serta digunakan sebagai wiridan maka rizekinya tidak akan putus, di samping itu, ia akan mendapatkan pangkat kedudukan dan tingkatan orang kaya.”

 Demikianlah apa yang difahami oleh sebagian besar kaum muslimin di negri ini, dan mungkin diantara kita pun ada yang pernah membaca shoalwat ini. Dan sebenarnya membaca sholawat adalah hal yang sangat disunnahkan oleh Rasulullah, akan tetapi kita sebagai kaum muslimin hendaknya tidak begitu saja seta merta meyakini apa yang diucapkan oleh seseorang, sekalipun yang berkata adalah seorang Kiyai. Kita harus mencari tahu mengenai kebenaran perkataan tersebut.

 Nah untuk mengetahui apakah benar Shalawat Nariyah yang dibaca sebanyak 4444 kali itu dapat mendatangkan rizki dan solusi atas problem hidup yang sulit dipecahkan?
Berikut ini akan kami ulas secara tuntas.

 Menurut Kiyai Mahrus Ali, ternyata sumber dan asal-usul shalawat Nariyah ini tidak diketahui, padahal beliau telah menelaah buku dan kitab hadits, fiqih, dan tasawuf. Dengan demikian maka jelaslah bahwa sholawat Nariyah adalah sholawat bid’ah yang jika dilakukan maka pelakunya akan diancam dengan Nar alias neraka.

Selain itu, jika kita perhatikan Dari segi isi shalawat, maka akan kita temukan banyak sekali kekeliruannya, terutama pada lafadz-lafadz yang artinya: “.. Yang dengannya, maksudnya dengan (Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam) maka segala ikatan menjadi lepas, dengannya segala kesulitan akan lenyap, dan dengannya segala keinginan akan tercapai, dengannya pula segala kebutuhan akan terpenuhi.”.

 Dengan demikian jelaslah bahwa Menurut shalawat tersebut, yang melepaskan ikatan, kesulitan dan mengabulkan segala keinginan adalah Rasulullah, bukan Allah.

 Hal ini jelas mengandung kesyirikan dan bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Dimana Allah subhanahu Wata’ala berfirman dalam surat Yunus ayat 31, yang artinya: “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Maka katakanlah ‘Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?”

 Kemudian dalam ayat yang lainnya, Allah subhanahu Wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat14, yang artinya:

 “Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.”

 Demikianlah ayat-ayat yang sangat jelas, bahwasanya hanya Allah subhanahu Wata’ala lah yang berhak dan mampu melepaskan berbagai kesulitan dan mengabulkan permohonan, bukan Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam, sebab beliau shalallahu’alaihi wa sallam hanyalah manusia biasa yang diberi kelebihan oleh Allah subhanahu Wata’ala dibanding manusia lainnya.

 Namun bukan berarti kita anti-shalawat. Kita tetap harus bershalawat pada Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam, hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 56, yang artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”

 Selain itu, di dalam sebuah hadits riwayat Tirmidzi dan Nasa’i, Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

 “Orang yang paling bakhil adalah seseorang yang jika namaku disebut ia tidak bersholawat untukku.”

Inilah dalil-dalil yang sangat kuat, yang menunjukan bahwa kita diperintahkan untuk bersholawat kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam, Akan tetapi hendaknya kitapun mengilmui bagaimana Cara ber-shalawat yang benar kepada Rasulullah, yakni harus sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah kepada para sahabatnya. Dan salah satu bentuk bacaan sholawat yang paling singkat adalah dengan mengucapkan “Shalallahu ‘Alaihi Wassalam”.

Referensi tulisan:

  1. http://www.indospiritual.com
  2. As-Sunnah edisi 06/Thn. XIV/Dzulqa’dah 1431H/Oktober 2010
  3. http://almadinahpekanbaru.wordpress.com/2011/05/26/menyoal-asal-usul-shalawat-nariyah/
  4. http://muza36.wordpress.com/2008/09/10/shalawat-nariyah/
  5. http://majelismunajat.com/2009/10/amalan-sholawat-nariyah/
  6. http://yusuf-istiqomah.blogspot.com/2010/01/bolehkan-mengamalkan-sholawat-nariyah.html

Sumber: Shalawat Nariyah

Share/Save/Bookmark
Dibaca :16707 kali  

Komentar-Komentar  

Quote
 
0
Ahlisunnah wall jammaah ayo kita bersatu basmi paham islam modern yg sudah di campuri ilmu akal atau filsafah yang ingin menghancurkan ajaran ulama2 salaf sholihin karena di akhir jaman akan muncul aliran yang akan memperbaharui ajaran islam yaitu wahabi dan aliran islam modern baru yg tidak jelas sanad gurunya dan banyak belajar dari buku2 tanpa adanya guru ......
Quote
 
0
Sholawat nariyah, badar adalah sholawat yang diajarka oleh ulama2 shalaf sholihin yg sudah jelas sanad guru2 nya yg sudah jelas coba tanya semua pesantren tua diseluruh indonesia pasti kiai nya mengajarkan sholawat badar atau nariyah dan kini dirusak oleh islam2 modern yg berdalilkan akal dan dikarang 2 agar sholawat nariyah di bilang bidah, kalau kamu mau tau jelas sejarah sholawat nariyah datanglah ke cianjur di ponpes gentur disinilah sholawat nariyah setiap hari dilantunkan dan sudah mendarah daging di cianjur ahli sunnah wal jamaah .....jadi musuh kita adalah islam modern yg membidah kan ajaran ulama yg sudah jelas maqom nya beda kaya islam modern yg sudah di racuni faham wahabi dan filsafah ilmu kalam
Quote
 
0
berbicara masalah ibadah kita tidak bisa seenak, harus ada contoh nya dari nabi,, bukan ulama yg lain, tapi nabi muhammad SAW, maka dari itu tridak sepantas nya kita mengamalkan sesuatu yang tidak ada contohnya,, nah inilah yang termasuk bid'ah, dan sesat, dan masuk neraka, meskipun amalan itu baik,, (menurut kita)
Quote
 
0
berbicara masalah ibadah kita tidak bisa seenak, harus ada contoh nya dari nabi,, bukan ulama yg lain, tapi nabi muhammad SAW, maka dari itu tridak sepantas nya kita mengamalkan sesuatu yang tidak ada contohnya,, nah inilah yang termasuk bid'ah, dan sesat, dan masuk neraka, meskipun amalan itu baik,, (menurut kita)
Quote
 
0
Aku jamin rumah di dasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar,

aku jamin rumah di tengah surga bagi yang menghindari dusta sekalipun dalam bercanda,

dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaknya.

~*~

HR. Abu Daud
Quote
 
-1
Semua salawat bagus. memang salawat diciptakan untuk memberi safaat bagi umat muhammad itulah perbedaan umat muhamad dengan umat lain. kalau mau lihat dari maknanya, ya repot semua solawat juga maknanya aneh bukan cuma solawat nariyah, karena mendoakan nabi adalah suatu tindakan yang konyol secara akal. tetapi lagi-lagi agama memang tidak sebatas akal. kalu mau pake akal terus ya jadi orang atheis aja sekalian 100% pake akal. Kuncinya kalau ingin beragama siapkan diri anda untuk menajdi orang beriman, yang tidak sebatas akal. Karena Allah tidak akan dapat dipahami sebatas akal, temasuk kekuasaannya dan janji janjinya juga harus diimani tidak sebatas akal. kalau kita hanya mempersoalkan makna dari solawat nariyah itu artinya kita hanya menerima islam sebatas akal saja. Kita belum teremasuk orang beriman kalau kita baru sebatas akal mau menerima ajaran islam.
Quote
 
0
Bo ya ditnya dlu pda para ahli ulama dan sjrh islam, mereka jg blm prnh beragumen dan menganalisa smpe sejauh anda jika memang solawat nariyah tdk benar psti para ahli agama pun angkat bicara tp mereka tdk bgtu saja mngluarkan prnytaan tnpa ada kebenaran yg pasti. Hati2 jika analisa anda dlm artikel ini slh maka anda trmsuk org yg musrik tlah memberikan informasi yg slh pda para kaum muslim, lbh baik mmprbaiki diri sndri sja dri pd mmbwt prnytaan yg blm jelas asal usulnya jika ilmu anda setara dgn para wali baru boleh mmbwt prnytaan sprti ini
Quote
 
0
Ajengan dan para ulama aja blm prnh beragumen sprti ini bhkn ahli kitab dan sjrh islam pun tdk mngluarkn analisa sprti anda, bo ya ditnya dlu kpd ahli nya dan jg kpd para orang yg paham mngenai hukum syariah dan asal usul solawat jika sdh bnr dan trbukti baru bisa dibuat artikelnya. Jika analisa anda trnyta slh mka anda slh satu golongan musrik dan itu akan merugikan anda dan jg para pmbca yg prcya pda anda na uzubillah jgn smpe trjdi
Quote
 
0
aku menggagunggkan nabi muhammad dan kalian anggap berlebihan tetapi aku tidak pernah anggap nabi sebanding dengan Tuhan. kalau tidak suka shalawat nariyah mbok ngritik yang santun, gg usah njelek2 ke orang,, kita semua punya salah dan lupa kan.
Quote
 
0
Quoting YANU:
TERNYATA
KETIKA HATI TELAH ADA CELAH KEMUNAFIKAN
SHOLAWAT KEPADA NABI PUN DI ANGGAP HARAM
PADAHAL YANG ALLAH AZA BERSHOLAWAT KEPADA NABI.


Emang siapa yang melarang bershalawat kpd nabi mas? Yng tdk boleh itu adalah bershalawat yg tdk ada tuntunannya dari nabi...Syuikron .
Quote
 
-1
Lha...Mahrus Ali wong sidoarjo...bok gawe Agul2...lha Wong edan...Mahrus ali iku ra nggenah...nek ra percoyo Budalo dewe ng sidoarjo...
Quote
 
0
TERNYATA
KETIKA HATI TELAH ADA CELAH KEMUNAFIKAN
SHOLAWAT KEPADA NABI PUN DI ANGGAP HARAM
PADAHAL YANG ALLAH AZA BERSHOLAWAT KEPADA NABI.
Quote
 
0
1)Antum pasti paham sekali tata urutan hukum dalam Islam,dimana menempatkan Al Quran pada urutan tertinggi.Jadi hadist yg antum maksud seharusnya harus sejalan konsep pemahaman dasarnya dengan Al Quran seperti yg penulis telah nukil.Ayat tersebut jelas pemahamannya bahkanoleh orang awam sekalipun
2)Beberapa hujjah/dalil hadis yg TIDAK LEBIH TIDAK KURANG merupakan dalil yg digunakan untuk memperkuat tawassul kepada rasulullah.Tamp aknya antum kebingungan/ tidak dapat membedakan mana mana hal
yg termasuk tawassul dan mana mana yg sudah termasuk berlebihan (kalau tidak ingin disebut syir
3)Taruhlah kata kita tidak usah berdebat terlalu banyak tentang hadist.Ana hanya ingin mempertanyakan "khasiat shalawat nariyah" yg konon katanya dapat membuat terkabulnya segala hajat baik itu kekayaan,pangka t dsb.Sudahkah masyarakat /golongan antum (golongan penggemar sholawat nariyah) terdiri dari masyarakat yang makmur????.APAK AH BILL GATES adalah seseorang yg mengamalkan sholawat tersebut???
4)Satu sisi point penting sejarah bangsa yg banyak dilupa adalah fase dumana kita mulai membuka diri terhadap ilmu pengetahuan
Quote
 
+1
Do’a yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menghilangkan kesusahan dan kesedihan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسْلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil serta dari tidak mampu membayar utang dan dari penguasaan orang lain." (HR. Bukhari no. 2679 ; Fathul Baari no. 2893).
Quote
 
+1
اَللَّهُمَّ اِنِّيْ اَسْأَلُكَ بِكَ اَنْ تُصَلِّيَ وَتُسَلِّمَ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ سَائِرِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْ نَ وَعَلىَ آلِهِمْ وَصَحْبِهِمْ اَجْمَعِيْنَ وَاَنْ تَغْفِرَ لِيْ مَا مَضَى وَتَحْفَظَنِيْ فِيْمَا بَقَى يَا اَرْحَمَ الرَاحِمِين
Quote
 
0
Tolong di check... Apakah ada Sholawat Nariyah di Negeri Asalnya? Negara Arab... mohon informasinya...
Quote
 
+1
bismillahirrohm anirrohim, Alhamdulillahi robbil 'alamin Allahumma sholli wasallim 'ala Muhammad

saudaraku kaum muslimin, coba kita bertafakkur kembali sebelum kita membicarakan tentang isi dan inti dari artikel ini. tujuan kita membicarakan isi dan inti dari pembahasan ini adalah untuk BERDISKUSI demi mencari jalan yang benar ataukah hanya BERDEBAT demi membela dan membenarkan sebuah argument yang kita punya masing - masing???
saya sama sekali tidak bermaksut untuk menghakimi salah atau benarnya dari kedua belah pihak, baik yang pro ataupun yang kontra dengan sholawat nariyah. hanya saja saya menekankan tujuan dari membicarakan permasalahan sholawat nariyah ini, untuk BERDISKUSI atau untuk BERDEBAT???
kalau kita sudah merasa benar dengan argument yang kita punya, untuk apa kita berdebat? kalaupun hanya untuk mengutamakan ego kita masing - masing, merasa paling benar, apalagi berujung pada timbulnya kecurigaan pada sesama muslim yang nantinya bisa berbuah menjadi fitnah. na'udzubillah min dzalik
alangkah baiknya pembicaraan ini kita jadikan sebagai sarana untuk silaturrahim dan sharing untuk bertukar wawasan, berdiskusi untuk mencari kebenaran. bukan untuk membenarkan pendapat.
tak hanya pada sholawat nariyah saja, sebenarnya pada masalah - masalah di dalam islampun kita sering menjumpai perbedaan pendapat. tetapi, bukankah perbedaan itu adalah rahmat??? dengan adanya perbedaan kita bisa saling melengkapi, saling mengisi satu sama lain, saling bertukar wawasan.
kita hanya manusia biasa, tempatnya salah dan lupa, dan kita masih perlu banyak belajar. seberapapun banyak ilmu yang telah kita pelajari dan sepintar apun kita, INGAT!!! kebenaran adalah milik Allah dan Allah lah yang maha tahu segalanya. Wallahu a'lam

MARI KITA BERSATU WAHAI UMMAT MUSLIM!!! mari kita bertafakkur bersama - sama!!!
ma'af dengan adanya tulisan saya ini bukan berarti saya adalah orang yang pintar dan benar. saya hanya manusia yang masih sangat banyak sekali kekurangan dan kesalahan, yang masih perlu banyak belajar.
mari kita sama - sama beristighfar!!! Astaghfirullah al-'adzim
Quote
 
+1
Di antara amaliyah Ummat Islam khususnya kalangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah membaca sholawat atas Nabi –shollallohu ‘alaihi wasallam- dengan bermacam redaksi. Dan diantara redaksi sholawat yang paling masyhur di kalangan ASWAJA khusunya Nahdliyyin di Indonesia adalah Shalawat Nariyah.
Namun belakangan ini para pengamal sholawat tersebut (juga sholawat yang lain) mendapat tuduhan dan stigma negative oleh sebagian kelompok yang kami anggap kurang atau bahkan sama sekali tidak memahami persoalan. Dan yang terbaru adalah apa yang menjadi konten tayangan Trans 7 yang bertajuk Khazanah. Bid’ah dan Syirik adalah label yang mereka sematkan kepada beberapa redaksi sholawat. Sungguh berbagai upaya Tabayyun telah diusahakan oleh para ahlinya, namun telinga dan mata hati mereka seakan telah tertutup tebalnya tembok doktrin yang tidak berdasar.
Namun demikian, kami berharap tulisan sederhana dari al faqir yang mencintai kedamian ini menjadi sumbangsih kami demi terciptanya ukhuwah dan perdamian… Semoga Alloh berkenan memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua…
 ألّلهُمَّ
صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدِنِالَّذِى تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى
بِهِ
الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى
الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ فِي كُلِّ لَمْحَةٍ
وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

“ Ya Alloh.. Curahkanlah limpahan shalawat (rahmat) dan salam yang sempurna atas junjungan kami Muhammad, yang dengannya terlepas banyak ikatan, terbuka banyak kesulitan, terpenuhi banyak hajat, tercapai banyak keinginan, tergapai Husnul Khotimah, dan berkat wajahnya nan mulia hujan diturunkan, juga atas keluarga dan para sahabatnya, disetiap kedipan mata dan hembusan nafas, sebanyak segala yang diketahui oleh-Mu “
Demikian kurang lebih redaksi Shalawat Nariyah yang sering dituduh sebagai Sholawat “Syirik”. Tulisan kami kali ini tidak menjelaskan sholawat Nariyah dari sudut pandang Bid’ah, mengingat sudah banyak yang menjelaskan tentang redaksi sholawat Ghoiru Ma’tsur semisal redaksi sholawatnya Sayyidina Ali, Ibn Mas’ud, Imam Hasan Al Bishri, Al Ghozali dan yang lain.
Disini kami ingin membuktikan bahwa shalawat Nariyah sama sekali tidak mengandung unsur “Syirik”.
Pertama: Sholawat, apapun redaksinya selama substansi dan nilai dasar dari sholawat tersebut adalah Memohon Rohmat dan Salam kepada Alloh untuk Nabi Muhammad – shollallohu ‘alaihi wasallam- , tidak akan mengandung syirik.
Coba anda perhatikan redaksi sholawat berikut :
ألّلهُمَّ
صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ

“ Ya Alloh.. Curahkanlah limpahan sholawat (rahmat) dan salam yang sempurna atas junjungan kami Muhammad”.
Dalam redaksi shalawat tersebut (juga sholawat-sholaw at yang lain) kita dapati setidaknya empat rukun :
1. Alloh Al Quddus : Dzat Yang
dimohon untuk memberikan rahmat dan salam
2. Sholawat (Rahmat) dan Salam : Obyek perkara yang dimohon
3. Nabi Muhammad : Yang dimohonkan untuknya
4. Musholli ‘alan Nabi : Orang yang memohon rahmat dan salam
Dengan demikian, apapun redaksi sholawat akan dengan proporsional menempatkan Alloh sebagai Dzat yang dimohon dan menempatkan Rosululloh sebagai makhluk yang dimohonkan rohmat dan salam untuknya. Sehingga orang yang bersholawat tidak akan pernah menyamakan Rosululloh dengan Robbnya yakni Alloh –subhanahu wa ta’ala-, inilah salah satu dari hikmah perintah membaca sholawat dan salam atas Rosululloh, yakni menghindarkan ummat Islam terjatuh dalam kesalahan ummat Nabi Isa –‘alaihis salam-.
Kedua : Tentang pujian-pujian kepada Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- yang mengiringi sholawat Nariyah, adakah pujian-pujian tersebut yang mengandung unsur “syirik” ?
Mari kita buktikan bersama :
a. Redaksi yang berbunyi :
الَّذِى
تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ

“yang dengannya terlepas banyak ikatan, terbuka banyak kesulitan”.  Adalah Imam Al Hakim dalam Al Mustadroknya dan Imam At Tirmidzi dalam As Sunan-nya meriwayatkan sebuah hadits tentang lelaki buta yang mengadu kepada Rosululloh :
يَا
رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ
لَيْسَ لِي قَائِدٌ وَقَدْ شَقَّ عليَّ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ
:اِئْتِ الْمِيْضأةَ فَتَوَضَّأْ ثُمَّ صَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ
إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا
مُحَمَّدُ إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ فَيُجْلِي لِي عَنْ بَصَرِي ،
اللَّهُمَّ شَفِّعْهُ فِيَّ وَشَفِّعْنِي فِي نَفْسِي ، قَالَ عُثْمَانُ :
فَوَاللهِ مَا تَفَرَّقْنَا وَلَا طَالَ بِنَا الْحَدِيْثُ حَتَّى
دَخَلَ الرَّجُلُ وَكَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بِهِ ضَرَرٌ

“Ya Rosulalloh, sungguh saya tidak memiliki penuntun dan saya merasa berat,” kata laki-laki buta tersebut. Kemudian Rosululloh memerintahkan : “Pergilah ke tempat wudhu dan berwu-dhulah, kemudian sholatlah dua roakaat.”
Selanjutnya laki-laki tersebut berdo’a : “Ya Alloh, sungguh saya memohon kepada-Mu dan bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu Muhammad, Nabi rohmat. Wahai Muhammad saya bertawassul denganmu kepada Tuhanmu agar Dia menyembuhkan pandanganku. Ya Alloh, terimalah syafa’atnya untukku dan terimalah syafaatku untuk diriku.”
Utsman (yang meriwayatkan hadits) berkata : “Maka demi Alloh, kami belum bubar dan belum lama obrolan selesai, sampai lelaki buta itu masuk seolah ia belum pernah mengalami kebutaan.” Imam Al Hakim meriwayatkan hadits diatas dalam Al Mustadrok, dan beliau berkata bahwa hadits tersebut shohih, sedang Imam At Tirmidzi menilai hadits diatas sebagai hadits hasan shohih yang ghorib.
Abu Ya’la dalam Al Musnad-nya meriwayatkan sebuah hadits tentang Qotadah :
أَنَّ قَتَادَةَ بْنَ النُّعْمَانِ أُصِيْبَتْ
عَيْنُهُ يَوْمَ
بَدْرٍ فَسَالَتْ حَدْقَتُهُ عَلَى وَجْنَتِهِ فَأَرَادُوْا أَنْ يَقْطَعُوْهَا
فَسَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : لَا : فَدَعَا بِهِ
فَغَمَزَ حَدْقَتَهُ بِرَاحَتِهِ فَكَانَ لَا يُدْرَى أَيُّ عَيْنِهِ أُصِيْبَتْ

Bahwa Qotadah ibnu an Nu’man mengalami kecelakakaan pada matanya sewaktu perang badar hingga kornea matannya keluar ke pipinya. Para sahabat hendak memutus kornea mata tersebut. Lalu Qotadah bertanya kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam. “Jangan !“ kata Rosululloh. Kemudian Rosululloh meletakkan telapak tangan beliau pada kornea mata Qotadah, lalu menekan masuk. Selanjutnya tidak diketahui mata yang mana yang pernah mengalami kecelakaan. (HR, Abu Ya’la)
Adakah redaksi sholawat tersebut mengandung unsur syirik, sedang faktanya sebagaimana yang anda saksikan dalam hadits-hadits diatas yang tentunya masih banyak fakta-fakta lain ? Terlebih Rosululloh sendiri mencanangkan dalam sabdanya yang mulia :
وَمَنْ
فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ
يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Dan barangsiapa membebaskan saudaranya muslim dari kesulitan, maka Alloh akan membebaskan kesulitannya dari kesulitan-kesul itan hari kiamat”. (Muttafaq ‘Alaih)
Maka pertanyaannya adalah : Musyrik-kah kami dan orang-orang yang memuji Nabi sebagai makhluk “yang dengannya dilepaskan segala ikatan dan dibebaskan segala kesulitan…? ”
b. Redaksi selanjutnya berbunyi :
وَتُقْضَى
بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ

terpenuhi banyak hajat, tercapai banyak keinginan, Imam Al Bukhori meriwayatkan sebuah hadits tentang Rosululloh yang mengabulkan keinginan Abu Huroiroh :
يَا
رَسُولَ اللهِ إِنِّي أَسْمَعُ مِنْكَ حَدِيثًا كَثِيرًا أَنْسَاهُ قَالَ
ابْسُطْ رِدَاءَكَ فَبَسَطْتُهُ قَالَ فَغَرَفَ بِيَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ ضُمَّهُ
فَضَمَمْتُهُ فَمَا نَسِيتُ شَيْئًا بَعْدَهُ

“Wahai Rosululloh, saya mendengar banyak hadits darimu namun saya lupa. Saya ingin lupa ini hilang,” Abu Huroiroh mengadu. “Bentangkan selendangmu,” perintah beliau.
Lalu Abu Huroiroh membentangkan selendangnya dan Nabi mengambil udara dengan tangannya dan meletakkannya pada selendang tersebut kemudian bersabda, “Lipatlah selendangmu!”
Lalu Abu Huroiroh melipat selendangnya. “Sesudah peristiwa itu saya tidak pernah
mengalami lupa,” ucap Abu Huroiroh. (HR. Al Bukhori)
Perhatikan fakta bahwa Rosululloh mengabulkan keinginan Abu Huroiroh, dan tentunya masih banyak fakta-fakta lain yang menunjukkan bahwa Rosululloh sering mengabulkan keinginan para sahabatnya, terlebih jika kita memperhatikan hadits-hadits berikut :
وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ

“Barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya maka Alloh akan memenuhi kebutuhannya.”( HR. Al Bukhori / Muslim.)
وَاللهُ فِي عَوْنِ
الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Alloh senantiasa membantu seorang hamba sepanjang ia selalu membantu saudaranya.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan yang lain.)
Maka di manakah redaksi sholawat yang memuji Nabi sebagai makhluk “yang dengannya terpenuhi banyak hajat, tercapai banyak keinginan,” dianggap syirik …?
c. Redaksi selanjutnya berbunyi :
وَحُسْنُ
الْخَوَاتِمِ

‘tergapai Husnul Khotimah”, adakah yang salah dari redaksi sholawat tersebut ? Sedang faktanya adalah Bahwa Umar Ibn Khotthob –rodhiyallohu ‘anhu- yang sebelumnya sangat membenci Islam kemudian masuk islam berkat do’a Nabi ? juga Tsumamah serta para sahabat yang lain yang masuk Islam berkat akhlak mulia Rosululloh ?
d. Redaksi selanjutnya berbunyi :
وَيُسْتَسْقَى
الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ فِي كُلِّ لَمْحَةٍ
وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

“dan berkat wajahnya nan mulia hujan diturunkan, juga atas keluarga dan para sahabatnya, disetiap kedipan mata dan hembusan nafas, sebanyak segala yang diketahui oleh-Mu,” kepada semua yang menganggap syirik redaksi sholawat tersebut, perhatikanlah fakta berikut :
فَهَذَا
أَعْرَاِبّي يُنَادِيْهِ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ
يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَقُوْلُ : يَا رَسُولَ اللهِ هَلَكَتْ
الْأَمْوَالُ وَانْقَطَعْتِ السُّبُلُ فَادْعُ اللهَ أَنْ يُغِيثَنَا فَدَعَا
اللهَ وَجَاءَ الْمَطَرُ إِلَى الْجُمْعَةِ الثَّانِيَةِ ، فَجَاءَ وَقَالَ : يَا
رَسُوْلَ اللهِ تَهَدَّمَتِ الْبُيُوْتُ وَتَقَطَّعَتِ السُّبُلُ وَهَلَكَتِ
الْمَوَاشِي
.. يَعْنِي مِنْ كَثْرَةِ الْمَطَرِ فَدَعَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَانْجَابَ
السَّحَابُ وَصَارَ الْمَطَرُ حَوْلَ الْمَدِيْنَةِ

Seorang A’rabi memanggil Rosululloh saat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam berkhutbah pada hari Jum’at ; “Wahai Rosululloh, harta benda rusak parah dan jalan-jalan terputus. Berdo’alah engkau kepada Allah agar Dia menurunkan hujan.”Beliau kemudian berdo’a dan turunlah hujan hingga jum’ah kedua. Berikutnya A’robi tadi datang lagi kepada beliau. “Wahai Rosululloh, rumah-rumah roboh, jalan-jalan terputus, dan binatang-binata ng ternak mati…” yakni karena derasnya hujan. Akhirnya beliau shollallohu ‘alaihi wasallam berdo’a dan mendung pun hilang. Hujan terjadi di sekitar Madinah.” (HR. Bukhori, Muslim, dan yang lain).
Selanjutnya Imam Al Bukhori juga meriwayatkan hadits dalam shohihnya dengan sanad bersambung hingga Abdulloh Ibn Umar :
وَقَالَ عُمَرُ بْنُ
حَمْزَةَ حَدَّثَنَا سَالِمٌ عَنْ أَبِيهِ رُبَّمَا ذَكَرْتُ قَوْلَ الشَّاعِرِ وَأَنَا
أَنْظُرُ إِلَى وَجْهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَسْقِي
فَمَا يَنْزِلُ حَتَّى يَجِيشَ كُلُّ مِيزَابٍ* وَأَبْيَضَ يُسْتَسْقَى الْغَمَامُ
بِوَجْهِهِ* ثِمَالُ الْيَتَامَى عِصْمَةٌ لِلْأَرَامِلِ

Umar bin Hamzah berkata, Salim telah menceritakan padaku dari ayahnya: “Kadang aku mengingat seorang penyair seraya kupandang wajah Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam yang sedang memohon hujan. Maka beliau tidak turun sampai talang mengalir airnya.” Rambut yang memutih (menyaksikan); mendung diminta menurunkan hujan dengan wajahnya…. dialah penyantun anak-anak yatim juga pelindung para janda.... (HR. Bukhori)
Jika pujian yang berbunyi “Wa Yustasqol Ghomaamu Biwajhihil Kariim” (dan berkat wajahnya nan mulia hujan diturunkan) dianggap syirik, maka adakah Abdulloh Ibnu Umar yang menyitir syiir tersebut telah musyrik …?
أَفَنَجْعَلُ
الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِين َ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

“Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Atau adakah kalian (berbuat demikian): bagaimana kalian mengambil keputusan (menghukumi)…?”
Wallohu a’lam….
 jawaban solawat nariyah
Quote
 
0
ciri khas umat muslim di Indonesia itu, jika diberitahu ngeyel.. merasa paling benar.. coba baca kembali pembahasan diatas, apa benar artikel ini melecehkan Allah, Rasulullah, dan agama Islam? coba belajar kritis soal agama, jangan mentah2 memakannya karena tradisi.. jadilah umat muslim yang cerdas, yang selalu berpandangan jika salah itu salah, jika benar itu benar jika hal itu jelas terbukti..

saya salah satu yang mengamalkan dan hafal dengan shalawat satu ini.. karena desas-desusnya mirip sekali dengan keterangan pembahasan diatas.. sampai akhirnya ntah kenapa saya tidak pernah mengamalkan lagi shalawat ini, dan lebih herannya lagi saya malah tidak hafal lagi dengan shalawat ini.. membaca ini saya jadi tersadar, apakah ini jawabannya, saya tak mengamalkannya lagi dan saya lupa ingatan atas hafalan shalawat ini..

yang jelas, bagi saya, dalam membaca sebuah tulisan tidak harus mendebatnya terlebih dahulu.. coba renungkan, pahami.. jika baik, maka jalankan.. jika buruk, maka tinggalkan.. Islam itu gak perlu ditambah-tambah atau dikurang-kurang i..

jadi, berpikirlah positive-positi ve saja tanpa harus menyalah-nyalah kan dan merasa paling benar.. buang ego yang seperti itu, ikuti yang telah diteladani oleh Rasulullah Muhammad SAW.. beliau begitu Agung untuk seorang manusia.. dan beliau sangat penyabar dan mengasihi sesamanya, tanpa terkecuali..
Quote
 
+2
Pelaku Maksiat, Tobat nya lebih gampang sebab tau kalau itu dosa..... Kalau pelaku Bid'ah susah mas, sebab dia pikir apa yang dia buat adalah ibadah..... maaf
Quote
 
+1
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Duhai saudara2ku seaqidah. Berbeda pendapat itu biasa. Mari kita jadikan ruangan ini menjadi wadah silaturahmi dan tukar-menukar informasi. Jika berbeda pendapat, maka kembalikanlah kepada Sang Segala Ilmu, Yang Mahatahu, Allah SWT.

Allah berfirman dalam Surat An-Nisa (4) ayat 59, yang artinya:
".... Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."

Wassalamu 'alaikum wr wb
Quote
 
0
kehidupan berasal dari Allah, petunjuk dari Allah, Berkah dari Allah, Ilmu dari Allah, Ampunan dari Allah... kembali kepada Allah.
“Ya Allah Tuhan Kami, limpahkanlah kesejahteraan dan keselamatan yang sempurna atas junjungan kami Nabi Muhammad SAW. Semoga terurai dengan berkahnya segala macam buhulan/ikatan, dilepaskan/ lenyap dari segala kesusahan, ditunaikan/ dikabulkan segala macam hajat, tercapai segala keinginan dan khusnul khotimah, dicurahkan hujan rahmat dengan berkah pribadinya yang mulia/yang pemurah. Kesejahteraan dan keselamatan yang sempurna itu, semoga Engkau limpahkan juga kepada para keluarga dan sahabatnya setiap kedipan mata dan hembusan nafas, bahkan sebanyak pengetahuan/ ilmu Engkau”
Quote
 
+1
yaudah,,

semisal masih ada yang membaca dan mengamalkan sholawat nariyah ya silahkan, yang penting niatnya hanya semata2 karena Allah,, Allah yang mengabulkan segala hajat dan kepentingan, bukan karena sholawat nariyah itu sendiri,, udah pada ngerti kan kakikat solawat itu gimana??

yang ga setuju karena asal usul yang tidak valid ya jangan di amalkan, dan jangan memaksakan kehendak kalau solawat nariyah itu syirik,, lha wong niat hatinya kan cuman minta kepada Allah kok disebut syirik,,

instropeksi diri saja, diri kita itu bagaimana,, yang penting jangan sampai keyakinan dan keimanan bahwa Allah itu segalanya terkikis dengan hal semacam ini, apalagi sampai menjadi perdebatan yang berujung perdebatan salah dan benar,,

kebenaran sejati itu Allah yang tahu, keyakinan sejati itu Allah yang tahu, hati kita itu Allah yang tahu,,

Salam Damai,,
Quote
 
+1
Sadarlah saudaraku, bahwa apa yang anda uatarakan tentang sholawat nariyah amat sangat memperlihatkan kesombongan diri, sebaiknya anda segera istigfar sejuta kali setiap malam karena anda merasa lebih pintar dan lebih alim dan begitu sombongnya menyalahkan jutaan Ulama yang lidahnya selalu basah karena Zikir dan bersolawat dengan solawat Nariyah. kalau anda mengucapkan alhamdulillah karena sudah tidak pernah bersolawat nariyah artinya anda adalah sombong dan sombong dan ingat kesombongan adalah pakaian Allah siapa berani memakainya berarti musuh Allah. sadarlah kawan,..!!!.
Quote
 
0
anda harusnya paham dengan artikel ini,, yg dimaksud artikel ini bukan larangan bersolawat, tapi lihat solawat nariyah itu sumebernya darimana ??

solawat itu bagus jika caranya sesuai yg diajarkan nabi, jadi lebih baik besolawatlah seperti yg diajarkan nabi muhammad saw. yaitu " allahumma solli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala aali sayyidina muhammad kama sollaita 'ala sayyidina ibrahim....." sperti bacaan solawat pada tahhiyat.

kalo mau bersolawat maka solawatlah yg sudah jelas baik dan benar. jangan solawat yg aneh2 dan belum tentu ada dasar hadisnya
Quote
 
0
Quoting asep gustiawan:
Artikel ini belum tentu benar, Sholawat Nariyah, Sholawat yang menganggungkan Rosulullah Muhammad S.A.W, itu tidak sesat, Malaikat Pun Bersholawat Ke Muhammad, ini sebagai ummatnya harusnya Tau Safaat itu ada di Sholawat, Hati2 skrg bnyk aliran yang tdk suka sama Sholawat Rosullullah Muhammad S.A.W

Allahuma Sholi ala Sayidina,wa habibina, wa syafi'ina, wa maulanaa Muhammaad...SAW .



anda harusnya paham dengan artikel ini,, yg dimaksud artikel ini bukan larangan bersolawat, tapi lihat solawat nariyah itu sumebernya darimana ??

solawat itu bagus jika caranya sesuai yg diajarkan nabi, jadi lebih baik besolawatlah seperti yg diajarkan nabi muhammad saw. yaitu " allahumma solli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala aali sayyidina muhammad kama sollaita 'ala sayyidina ibrahim....." sperti bacaan solawat pada tahhiyat.

kalo mau bersolawat maka solawatlah yg sudah jelas baik dan benar. jangan solawat yg aneh2 dan belum tentu ada dasar hadisnya
Quote
 
+1
parah kalian yang ga mau nerima kebenaran dengan alasan "YG NULIS UDAH BENER" apa belum, pemurnian aqidah itu perlu evaluasi yang ga ada dasar lebih baik di tinggalkan. sama aja kalian sama bangsa quraisy yang jelas2 sudah disindir dalam al-qur'an sendiri klo kalian tetep ikut cara nenek moyang kalian padahal kalian salah..

mudah2an kalian sadar. dan kembali ke islam yang sesungguhnya.
Quote
 
0
Artikel ini belum tentu benar, Sholawat Nariyah, Sholawat yang menganggungkan Rosulullah Muhammad S.A.W, itu tidak sesat, Malaikat Pun Bersholawat Ke Muhammad, ini sebagai ummatnya harusnya Tau Safaat itu ada di Sholawat, Hati2 skrg bnyk aliran yang tdk suka sama Sholawat Rosullullah Muhammad S.A.W

Allahuma Sholi ala Sayidina,wa habibina, wa syafi'ina, wa maulanaa Muhammaad...SAW .
Quote
 
0
yang jelas sih.. apapun yg gak sesuai sama kemauan ato kebiasaan yg selama ini dianggep bener.. pasti umumnya bakal ditentang dgn beribu2 macem alesan; dan mungkin juga plus hujatan.
padahal yg dibelain itu cuma beradasar "anggepan".
jajal deh buat dibedah, pilihannya cuma 2:
(1) kabur (kebanyakan sih sambil ditambah dgn kata2 yg penuh kebencian)
(2) berusaha berdialog namun nyaris 100% dialognya bakal didasarkan kpd perkataan ulamanya masing2; atau ulama lain yg dilihat bisa membantu argumennya.
jarang deh ada yg mau duduk bersama; membahas "hanya" berdasar Al-Qur'an & As-Sunnah sekalipun cuma beberapa dalil aja yg selama ini memang dipahami dgn baik.
sebenernya, logika universalnya gampang aja:
andaikata apa yg dijadikan kebiasaan dlm pengamalan 'ibadah selama ini semuanya sudah benar; lalu kenapa islam gk pernah kembali kpd kejayaannya? padahal cuma dlm waktu 30thn sejak lahirnya; seluruh semenanjung arab sdh dikuasai islam; dan bahkan gk sampe 150thn wilayah islam membentang dari spanyol sampai china? - sementara realitanya kala itu blom ada mazhab; blom ada kitab2 fiqh (krn haditspun blm terkumpul spt skrg ini); blom ada kitab2 ulama yg "dimasyhurkan"; dll.
atau jangan2 bagi org yg ngotot banget gk mau diajak duduk bersama utk mengevaluasi tadi; mrk beranggapan saat ini islam tdk dlm masalah (apalagi dlm masalah besar)????
hal tsb disebabkan krn kebanyakan mrk memikirkan islam cuma dlm scope (cakupan) keluarganya doang, kampungnya doang, propinsinya doang, negaranya doang; walhasil -- itumah bukan Rahmatanlil'ala miin namanya... tapi Rahmatanlilkamp ungiin... :P
Quote
 
-1
Kalaw saya orang awam sholawat nariyyah itu do'a.. sy kalaw gk bisa do'a pake bahasa arab ya bahasa kita tp jelas dalam nariyah itu memohon kpd Allah..
udahlah jangan buat orang lagi pada seneng dzikir jadi berhenti gara-gara nariyah..
Quote
 
-1
hahaha artikel beginian lagi

banyak orang bilang jangan merasa pintar dengan mengamalkan sholawat yang bukan diajarkan RASUL
lah yang nulis ini merasa pintar ga?
siapa yang ngajarin dia itu bilang sholawat itu salah??

menambah ibadah?? cari tau dulu apa arti ibadah itu baru bilang bid'ah

tar dikasih contoh ga pada bisa jawab dan mengeluarkan dalil, seperti yang udah2...

coba dikaji dan diresapi lagi seperti yang dibilang di 2 komentar paling bawah, jangan melihat Islam setengah, jangan mencoba mentafsirkan jika belum menguasai Ilmu Nahwu dan Sorofnya, juga Ilmu Fiqihnya, jangan asal bicara
Quote
 
-1
SHALAT HAJAT ITU BID'AH KARENA TIDAK ADA HADITS SHAHIH YANG MENJELASKAN TENTANG ITU.
KITA HANYA BERPEGANG PADA HADITS SHAHIH SAJA.
INI ADALAH PERBUATAN ORANG2 YANG MENGADAKAN KEBOHONGAN TERHADAP ISLAM YANG HENDAK MENGHANCURKAN KEYAKINAN KAUM MUSLIMIN, BUKAN MENGHANCURKAN ISLAM YANG SEBENARNYA MEREKA HANYA MENGHANCURKAN DIRI MEREKA SENDIRI.
INGAT HATI2 MENGGUNAKAN KATA2 ADA ORANG2 YANG HENDAK MENGHANCURKAN ISLAM. KARENA ISLAM TIDAK AKAN PERNAH HANCUR, YANG BISA HANCUR ADALAH AKIDAH PARA PENGIKUT ISLAM. MAKA KITA HARUS BERUSAHA AGAR AKIDAH DAN KEISLAMAN KITA TIDAK DIHANCURKAN OLEH MEREKA SYETAN DAN PARA PENGIKUT SYETAN DAN DAJJAL LA'NATULLAH 'ALAIH.
Quote
 
-1
JANGAN AMALKAN SHALAWAT NARIYAH YANG MEMUJA NABI BERLEBIHAN PADAHAL NABI TIDAK MENGHENDAKI SEPERTI PARA PENGIKUT KEPERCAYAAN LAIN YANG MENJADIKAN RAHIB-RAHIB DAN PARA PEMIMPIN AGAMA MEREKA SEBAGAI TUHAN (HANYA DAN TETAP MENGIKUT SAJA WALAUPUN ITU SALAH).
SIAPA LAGI KALAU BUKAN PERBUATAN PARA PENGIKUT SYETAN YANG SUDAH JELAS-JELAS INGIN MENGHANCURKAN AKIDAH ORANG2 ISLAM.
SHALAWAT ITU CUKUP ALLAHUMMA SHALLI WA SALLIM 'ALAA MUHAMMAD (LIHAT QUR'AN).
SEMUA KEBENARAN BERSUMBER DARI ALQUR'AN DAN RASUL, SELAIN ITU SESAT.
DAN AQ GAK INGIN BERDEBAT DENGAN ORANG YANG TIDAK PERCAYA TERHADAP QUR'AN!
Quote
 
0
adakah dalil yang meyebutkan tata cara shalawat itu harus shalat hajat terlebih dahulu?
sesudah membaca Al-Fatihah lalu di lanjutkan dengan membaca Al-Ikhlas 10 kali pada rakaat pertama dan 20 kali pada rakaat kedua..
apakah ada dalilnya?
apakah Rasulullah Saw Dan para sahabat pernah melakukan itu?

dan selanjutnya yang ingin saya tanyakan jenis shalawat dan arti shalawat berikut ini.


Allahumma Shalli ala muhammad an nabiyyil Ummi wa ala ali muhammad jazallahu Muhammadan Shallallahu 'alaihi wa sallam anna ma huwa ahluhu.

dan ini.

Allahumma Shalli wasallim 'alaa Sayyidinaa Muhammadin Shalaatan tukhrijunii bihaa min zhulumaatil wahmi, watukrimuni binuuril fahmi, watuwadhdhihu lii maa isykilla hatta yufhama Innaka ta'lamu walaa a'lamu waanta 'allaamul Ghuyuubi.


mohon pencerahannnya...

Wassalamualaikum waramatullahi wabarakatuh...
Quote
 
0
Saya setuju dengan artikel ini....kita muslim wajib memperbanyak sholawat...tp bukan dengan sholawat yang bid'ah....
Melainkan dengan sholawat nabi yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW,
Semua ibadah umat muslim sudah diatur dalam Al-Qur'an dan hadis (yang shahih) barang siapa melakukan ibadan yang tidak jelas tuntunannya maka itu adalah bid'ah dan bid'ah mendapat tempat di neraka...
Dalam Al-Qur'an sendiri Allah telah berfirman bahwa agama islam ini telah sempurna...maka apakah agama yang sempurna ini memerlukan tambahan amalan ibadah yang tidak jelas asal usulnya?? Pasti TIDAK!!!!
Apa bedanya kita dengan nasrani dan yahudi kalau kita masih menambahkan amalan baru yg tidak ada petunjuk dari Al-Qur'an dan Rasulullah????
WALLAHUALAM BISHAWAB....
Quote
 
0
Dalam satu Firman Allah : "Tidak akan aku ciptakan Engkau Muhammad melainkan menjadi rahmat bagi sekalian alam "" .... Allah itu tidak ber awal dan tidak ber akhir, TAPI Rosulallah Sayidina Muhammad adalah yang awal dan yang akhir.
ini kalau di bahas sangat panjang dan dalam. Oke ..kalau dilihat uraian diatas (penulis website), maka dapat disimpulkan bahwa penulis tersebut melihat islam secara makro seperti orang Buta yang meraba-raba seekor gajah...dia pegang kaki oooo islam seperti ini, dia pegang belalali...oo islam seperti ini. TAPI kalau dia tidak BUTA..maka akan jelas kelihatan dan nyata semuanya.
Allah SWT saja memuliakan nabi nya... apalagi kita ummat nya. Perbanyak lah membaca Solawat Nabi,,,,,karena disitu banyak kandungan yang manfaat dunia dan akherat.. Kurnia Allah hanya sampai di liang kubur, TAPI solawat bisa sampai ke pintu sorga.... Allahuma Sholi ala Sayidina, wa maulana Muhammaad...SAW ..
Quote
 
-1
Penulis di website ini sesekali menyanjung ummat islam tetapi tidak sedikit pula melecehkan agama islam (buktinya menukil hadist hasan dengan argumennya sendiri). Saya curiga ada skandal atau keterkaitan penulis dengan Yahudi atau Syi'ah atau yang lainnya. Saya harap seluruh pembaca website ini memiliki filter untuk membaca setiap isi dari laman ini. Kullu kordin jaroman...(ila akhirihi...)
Quote
 
+1
Penulis di website ini sesekali menyanjung ummat islam tetapi tidak sedikit pula melecehkan agama islam (buktinya menukil hadist hasan dengan argumennya sendiri). Saya curiga ada skandal atau keterkaitan penulis dengan Yahudi atau Syi'ah atau yang lainnya. Saya harap seluruh pembaca website ini memiliki filter untuk membaca setiap isi dari laman ini. Kullu kordin jaroman...(ila akhirihi...)


Kode keamanan
Segarkan