larger smaller reset

Sejarah Wahhabi


Oleh: David Servetus

Menanggapi banyaknya permintaan pembaca tentang sejarah berdirinya Wahabi maka kami berusaha memenuhi permintaan itu sesuai dengan asal usul dan sejarah perkembangannya semaksimal mungkin berdasarkan berbagai sumber dan rujukan kitab-kitab yang dapat dipertanggung-jawabkan, diantaranya, Fitnatul Wahabiyah karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, I’tirofatul Jasus AI-Injizy pengakuan Mr. Hempher, Daulah Utsmaniyah dan Khulashatul Kalam karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dan lain-lain. Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H / 1699 M). Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi adalah Baghdad, Iran, India dan Syam. Kemudian pada tahun 1125 H / 1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah. Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya. Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha’i. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan alirannya Wahabi.

Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun sejak semula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata tidak berselang lama firasat itu benar. Setelah hal itu terbukti ayahnya pun menentang dan memberi peringatan khusus padanya. Bahkan kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-Sawa’iqul Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah. Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi’i, menulis surat berisi nasehat: “Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A’zham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin.”

Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunah sampai hari ini adalah kelompok terbesar. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS: An-Nisa 4:115).

Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah wal jama’ah berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri.

Pada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul Wahab, “Berapa banyak Allah membebaskan orang dari neraka pada bulan Ramadhan?” Dengan segera dia menjawab, “Setiap malam Allah membebaskan 100 ribu orang, dan di akhir malam Ramadhan Allah membebaskan sebanyak hitungan orang yang telah dibebaskan dari awal sampai akhir Ramadhan” Lelaki itu bertanya lagi “Kalau begitu pengikutmu tidak mencapai satu persen pun dari jumlah tersebut, lalu siapakah kaum muslimin yang dibebaskan Allah tersebut? Dari manakah jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya pengikutmu saja yang muslim.” Mendengar jawaban itu Ibn Abdil Wahab pun terdiam seribu bahasa. Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak menggubris nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu.

Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dar’iyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H / 1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya. Dia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin surga.

Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijuluki Al-Muhajirin. Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mau mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh. Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata : “Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali. Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid dan sebagainya. Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah. Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka’bah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma’la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut. Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa’ud bangkit kembali mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafi’i yang sudah mapan.

Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang berada di Ma’la (Mekkah), di Baqi’ dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, namun karena gencarnya desakan kaum Muslimin International maka dibangun perpustakaan. Kaum Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam.  Semula AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dimakamkan juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman International maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan mengurungkan niatnya. Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak yang menentangnya maka diurungkan.

Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal.

Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan Wahabisme paling punya andil dalam pemusnahan ini. Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru. Pada bulan Juli yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah tersebut mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.

“Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir,” katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994. Dalam maklumat tersebut tertulis, “Pelestarian bangunan bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala.” (Mirip Masonic bukan?)

Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata. Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari.

Gerakan wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka menebarkan kebencian permusuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahli bid’ah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini mereka menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini.

Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 90 % penduduk negeri ini. Mampukah wahabi-wahabi itu meng-Islam-kan yang 10% sisanya? Mempertahankan yang 90 % dari terkaman orang kafir saja tak bakal mampu, apalagi mau menambah 10 % sisanya. Justru mereka dengan mudahnya mengkafirkan orang-orang yang dengan nyata bertauhid kepada Allah SWT. Jika bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali Songo untuk berdakwah ke negeri kita ini, tentu orang-orang yang menjadi corong kaum wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme, penyembah berhala atau masih kafir. (Naudzu billah min dzalik).

Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-aku sebagai faham yang hanya berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka berdalih mengikuti keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai golongan yang selamat dan sebagainya, itu semua omong kosong belaka. Mereka telah menorehkan catatan hitam dalam sejarah dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang dinamakan Saudi). Tidakkah anda ketahui bahwa yang terbantai waktu itu terdiri dari para ulama yang sholeh dan alim, bahkan anak-anak serta balita pun mereka bantai di hadapan ibunya. Tragedi berdarah ini terjadi sekitar tahun 1805. Semua itu mereka lakukan dengan dalih memberantas bid’ah, padahal bukankah nama Saudi sendiri adalah suatu nama bid’ah” Karena nama negeri Rasulullah SAW diganti dengan nama satu keluarga kerajaan pendukung faham wahabi yaitu As-Sa’ud.

Sungguh Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: “Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana,” sambil menunjuk ke arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan).

“Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul).” (HR Bukho-ri no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban.

Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  pernah berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” dan pada yang ketiga kalinya beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: “Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk syaitan.” Dalam riwayat lain dua tanduk syaitan.

Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya. Seperti yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: “Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid’ah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian.” Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah AI-Haddad menyebutkan dalam kitabnya Jala’uzh Zholam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam: “Akan keluar di abad kedua belas (setelah hijrah) nanti di lembah BANY HANIFAH seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin” AI-Hadits.

BANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid AIwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun mengenai sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang mengisyaratkan bahwa akan ada keguncangan dari arah timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahab. Pendiri ajaran Wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H / 1792 M.

Diambil dari rubrik Bayan, majalah bulanan Cahaya Nabawiy No. 33 Th. III Sya’ban 1426 H / September 2005 M

http://manhaj-salaf.net46.net/sejarah-wahhabi/

Share/Save/Bookmark
Dibaca :52869 kali  

Komentar-Komentar  

Quote
 
0
kok yg buat sejarah namanya david??siapa dia???
Quote
 
0
KENAPA MENYAMBUT MAULID NABI??? INILAH HUJJAH-HUJJAHNYA.
KENAPA KITA MENYAMBUT MAULID NABI??? INILAH HUJJAH-HUJJAHNY A.KENAPA KITA MENYAMBUT MAULID NABI??? INILAH HUJJAH-HUJJAHNY A…oleh Al-Asyairah Al-Syafii pada pada 07hb Februari 2011 pukul 4.22 ptg
SEJARAH PERINGATAN MAULID NABI
Siapakah orang yang pertama menyambut maulid Nabi???
Peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh raja Irbil (wilayah Iraq sekarang), bernama Muzhaffaruddin al-Kaukabri, pada awal abad ke 7 hijriyah. Ibn Katsir dalam kitab Tarikh berkata:
“Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awwal. Beliau merayakannya secara besar-besaran. Beliau adalah seorang yang berani, pahlawan,` alim dan seorang yang adil -semoga Allah merahmatinya-”.
Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn al-Jauzi bahawa dalam peringatan tersebut Sultan al-Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh para ulama’ dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama’ dalam bidang ilmu fiqh, ulama’ hadits, ulama’ dalam bidang ilmu kalam, ulama’ usul, para ahli tasawwuf dan lainnya. Sejak tiga hari, sebelum hari pelaksanaan mawlid Nabi beliau telah melakukan berbagai persiapan. Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para hadirin yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut. Segenap para ulama’ saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua berpandang dan menganggap baik perayaan maulid Nabi yang dibuat untuk pertama kalinya itu.
Ibn Khallikan dalam kitab Wafayat al-A`yan menceritakan bahawa al-Imam al-Hafizh Ibn Dihyah datang dari Moroco menuju Syam dan seterusnya ke menuju Iraq, ketika melintasi daerah Irbil pada tahun 604 Hijrah, beliau mendapati Sultan al-Muzhaffar, raja Irbil tersebut sangat besar perhatiannya terhadap perayaan Maulid Nabi. Oleh kerana itu, al-Hafzih Ibn Dihyah kemudian menulis sebuah buku tentang Maulid Nabi yang diberi judul “al-Tanwir Fi Maulid al-Basyir an-Nadzir”. Karya ini kemudian beliau hadiahkan kepada Sultan al-Muzhaffar.
Para ulama’, semenjak zaman Sultan al-Muzhaffar dan zaman selepasnya hingga sampai sekarang ini menganggap bahawa perayaan maulid Nabi adalah sesuatu yang baik. Para ulama terkemuka dan Huffazh al-Hadits telah menyatakan demikian. Di antara mereka seperti al-Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H), al-Hafizh al-’Iraqi (W. 806 H), Al-Hafizh Ibn Hajar al-`Asqalani (W. 852 H), al-Hafizh as-Suyuthi (W. 911 H), al-Hafizh aL-Sakhawi (W. 902 H), SyeIkh Ibn Hajar al-Haitami (W. 974 H), al-Imam al-Nawawi (W. 676 H), al-Imam al-`Izz ibn `Abd al-Salam (W. 660 H), mantan mufti Mesir iaitu Syeikh Muhammad Bakhit al-Muthi’i (W. 1354 H), Mantan Mufti Beirut Lubnan iaitu Syeikh Mushthafa Naja (W. 1351 H) dan terdapat banyak lagi para ulama’ besar yang lainnya. Bahkan al-Imam al-Suyuthi menulis karya khusus tentang maulid yang berjudul “Husn al-Maqsid Fi ‘Amal al-Maulid”. Karena itu perayaan maulid Nabi, yang biasa dirayakan di bulan Rabi’ul Awwal menjadi tradisi ummat Islam di seluruh dunia, dari masa ke masa dan dalam setiap generasi ke generasi.
Hukum Peringatan Maulid Nabi
Peringatan Maulid Nabi Muhammad sallallahu`alai hi wasallam yang dirayakan dengan membaca sebagian ayat-ayat al-Qur’an dan menyebutkan sebagian sifat-sifat nabi yang mulia, ini adalah perkara yang penuh dengan berkah dan kebaikan kebaikan yang agung. Tentu jika perayaan tersebut terhindar dari bid`ah-bid`ah sayyi-ah yang dicela oleh syara’. Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa perayaan Maulid Nabi mulai dilakukan pada permulaan abad ke 7 Hijrah. Ini bererti perbuatan ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam, para sahabat dan generasi Salaf. Namun demikian tidak bererti hukum perayaan Maulid Nabi dilarang atau sesuatu yang haram. Kerana segala sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam atau tidak pernah dilakukan oleh para sahabatnya belum tentu bertentangan dengan ajaran Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam sendiri. Para ulama’ menyatakan bahawa perayaan Maulid Nabi adalah sebahagian daripada bid`ah hasanah (yang baik). Ertinya bahawa perayaan Maulid Nabi ini merupakan perkara baru tetapi ia selari dengan al-Qur’an dan hadith-hadith Nabi dan sama sekali tidak bertentangan dengan keduanya.
Dalil-Dalil mengenai Peringatan Maulid Nabi
Peringatan Maulid Nabi masuk dalam anjuran hadith nabi untuk membuat sesuatu yang baru yang baik dan tidak menyalahi syari`at Islam. Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam bersabda:
“مَنْ سَنَّ فيِ اْلإِسْـلاَمِ سُنَّةً حَسَنـَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ”. (رواه مسلم في صحيحه)”.
Ertinya:
“Barang siapa yang melakukan (merintis) dalam Islam sesuatu perkara yang baik maka ia akan mendapatkan pahala daripada perbuatan baiknya tersebut, dan ia juga mendapatkan pahala dari orang yang mengikutinya selepasnya, tanpa dikurangkan pahala mereka sedikitpun”.
(Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya).
Faedah daripada Hadith tersebut:
Hadith ini memberikan kelonggaran kepada ulama’ ummat Nabi Muhammad sallallahu`alai hi wasallam untuk melakukan perkara-perkara baru yang baik dan tidak bertentangan dengan al-Qur’an, al-Sunnah, Athar (peninggalan) mahupun Ijma` ulama’. Peringatan maulid Nabi adalah perkara baru yang baik dan sama sekali tidak menyalahi satu-pun di antara dalil-dalil tersebut. Dengan demikian bererti hukumnya boleh, bahkan salah satu jalan untuk mendapatkan pahala. Jika ada orang yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi, bererti ia telah mempersempit kelonggaran yang telah Allah berikan kepada hamba-Nya untuk melakukan perbuatan-perbu atan baik yang belum pernah ada pada zaman Nabi.
2. Dalil-dalil tentang adanya Bid`ah Hasanah yang telah disebutkan dalam pembahasan mengenai Bid`ah.
3. Hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim di dalam kitab Shahih mereka. Diriwayatkan bahawa ketika Rasulullah tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram). Rasulullah bertanya kepada mereka: “Untuk apa mereka berpuasa?” Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari ditenggelamkan Fir’aun dan diselamatkan Nabi Musa, dan kami berpuasa di hari ini adalah karena bersyukur kepada Allah”. Kemudian Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam bersabda:
“أَنَا أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ”.
Ertinya:
“Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (orang-orang Yahudi)”.
Lalu Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam berpuasa dan memerintahkan para sahabat baginda untuk berpuasa.
Faedah daripada Hadith tersebut:
Pengajaran penting yang dapat diambil daripada hadith ini ialah bahawa sangat dianjurkan untuk melakukan perbuatan bersyukur kepada Allah pada hari-hari tertentu atas nikmat yang Allah berikan pada hari-hari tersebut. Sama ada melakukan perbuatan bersyukur kerana memperoleh nikmat atau kerana diselamatkan dari bahaya. Kemudian perbuatan syukur tersebut diulang pada hari yang sama di setiap tahunnya. Bersyukur kepada Allah dapat dilakukan dengan melaksanakan berbagai bentuk ibadah, seperti sujud syukur, berpuasa, sedekah, membaca al-Qur’an dan sebagainya. Bukankah kelahiran Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam adalah nikmat yang paling besar bagi umat ini?!
Adakah nikmat yang lebih agung daripada dilahirkannya Rasulullah pada bulan Rabi’ul Awwal ini?! Adakah nikmat dan kurniaan yang lebih agung daripada pada kelahiran Rasulullah yang menyelamatkan kita dari jalan kesesatan?! Demikian inilah yang telah dijelaskan oleh al-Hafizh Ibn Hajar al-`Asqalani.
4. Hadits riwayat al-Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya. Bahawa Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam ketika ditanya mengapa beliau puasa pada hari Isnin, beliau menjawab:
“ذلِكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ”.
Ertinya:
“Hari itu adalah hari dimana aku dilahirkan”.
(Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim)
Faedah daripada Hadith tersebut:
Hadith ini menunjukkan bahawa Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam melakukan puasa pada hari Isnin kerana bersyukur kepada Allah, bahawa pada hari itu baginda dilahirkan. Ini adalah isyarat daripada Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam, ertinya jika baginda berpuasa pada hari isnin kerana bersyukur kepada Allah atas kelahiran baginda sendiri pada hari itu, maka demikian pula bagi kita sudah selayaknya pada tanggal kelahiran Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam tersebut untuk kita melakukan perbuatan syukur, misalkan dengan membaca al-Qur’an, membaca kisah kelahiran baginda, bersedekah, atau melakukan perbuatan baik dan lainnya. Kemudian, oleh kerana puasa pada hari isnin diulangi setiap minggunya, maka bererti peringatan maulid juga diulangi setiap tahunnya. Dan kerana hari kelahiran Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam masih diperselisihkan oleh para ulama’ mengenai tanggalnya, -bukan pada harinya-, maka boleh sahaja jika dilakukan pada tanggal 12, 2, 8, atau 10 Rabi’ul Awwal atau pada tanggal lainnya. Bahkan tidak menjadi masalah bila perayaan ini dilaksanakan dalam sebulan penuh sekalipun, sebagaimana yang telah ditegaskan oleh al-Hafizh al-Sakhawi seperti yang akan dinyatakan di bawah ini.
Fatwa Beberapa Ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah:
1. Fatwa al-Syaikh al-Islam Khatimah al-Huffazh Amir al-Mu’minin Fi al-Hadith al-Imam Ahmad Ibn Hajar al-`Asqalani. Beliau menyatakan seperti berikut:
“أَصْلُ عَمَلِ الْمَوْلِدِ بِدْعَةٌ لَمْ تُنْقَلْ عَنِ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنَ الْقُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ، وَلكِنَّهَا مَعَ ذلِكَ قَدْ اشْتَمَلَتْ عَلَى مَحَاسِنَ وَضِدِّهَا، فَمَنْ تَحَرَّى فِيْ عَمَلِهَا الْمَحَاسِنَ وَتَجَنَّبَ ضِدَّهَا كَانَتْ بِدْعَةً حَسَنَةً”. وَقَالَ: “وَقَدْ ظَهَرَ لِيْ تَخْرِيْجُهَا عَلَى أَصْلٍ ثَابِتٍ”.
Ertinya:
“Asal peringatan maulid adalah bid`ah yang belum pernah dinukikanl daripada (ulama’) al-Salaf al-Saleh yang hidup pada tiga abad pertama, tetapi demikian peringatan maulid mengandungi kebaikan dan lawannya (keburukan), jadi barangsiapa dalam peringatan maulid berusaha melakukan hal-hal yang baik sahaja dan menjauhi lawannya (hal-hal yang buruk), maka itu adalah bid`ah hasanah”. Al-Hafizh Ibn Hajar juga mengatakan: “Dan telah nyata bagiku dasar pengambilan peringatan Maulid di atas dalil yang thabit (Sahih)”.
2. Fatwa al-Imam al-Hafizh al-Suyuthi. Beliau mengatakan di dalam risalahnya “Husn al-Maqshid Fi ‘Amal al-Maulid”. Beliau menyatakan seperti berikut:
“عِنْدِيْ أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ الْمَوِلِدِ الَّذِيْ هُوَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ القُرْءَانِ وَرِوَايَةُ الأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِيْ مَبْدَإِ أَمْرِ النَّبِيِّ وَمَا وَقَعَ فِيْ مَوْلِدِهِ مِنَ الآيَاتِ، ثُمَّ يُمَدُّ لَهُمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْن َ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذلِكَ هُوَ مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيِّ وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالاسْتِبْشَار ِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ. وَأَوَّلُ مَنْ أَحْدَثَ ذلِكَ صَاحِبُ إِرْبِل الْمَلِكُ الْمُظَفَّرُ أَبُوْ سَعِيْدٍ كَوْكَبْرِيْ بْنُ زَيْنِ الدِّيْنِ ابْنِ بُكْتُكِيْن أَحَدُ الْمُلُوْكِ الأَمْجَادِ وَالْكُبَرَاءِ وَالأَجْوَادِ، وَكَانَ لَهُ آثاَرٌ حَسَنَةٌ وَهُوَ الَّذِيْ عَمَّرَ الْجَامِعَ الْمُظَفَّرِيَّ بِسَفْحِ قَاسِيُوْنَ”.
Ertinya:
“Menurutku: pada dasarnya peringatan maulid, merupakan kumpulan orang-orang beserta bacaan beberapa ayat al-Qur’an, meriwayatkan hadith-hadith tentang permulaan sejarah Rasulullah dan tanda-tanda yang mengiringi kelahirannya, kemudian disajikan hidangan lalu dimakan oleh orang-orang tersebut dan kemudian mereka bubar setelahnya tanpa ada tambahan-tambah an lain, adalah termasuk bid`ah hasanah (bid`ah yang baik) yang melakukannya akan memperolehi pahala. Kerana perkara seperti itu merupakan perbuatan mengagungkan tentang kedudukan Rasulullah dan merupakan penampakkan (menzahirkan) akan rasa gembira dan suka cita dengan kelahirannya (rasulullah) yang mulia. Orang yang pertama kali melakukan peringatan maulid ini adalah pemerintah Irbil, Sultan al-Muzhaffar Abu Sa`id Kaukabri Ibn Zainuddin Ibn Buktukin, salah seorang raja yang mulia, agung dan dermawan. Beliau memiliki peninggalan dan jasa-jasa yang baik, dan dialah yang membangun al-Jami` al-Muzhaffari di lereng gunung Qasiyun”.
3. Fatwa al-Imam al-Hafizh al-Sakhawi seperti disebutkan di dalam “al-Ajwibah al-Mardliyyah”, seperti berikut:
“لَمْ يُنْقَلْ عَنْ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ فِيْ الْقُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ الْفَاضِلَةِ، وَإِنَّمَا حَدَثَ “بَعْدُ، ثُمَّ مَا زَالَ أَهْـلُ الإِسْلاَمِ فِيْ سَائِرِ الأَقْطَارِ وَالْمُـدُنِ الْعِظَامِ يَحْتَفِلُوْنَ فِيْ شَهْرِ مَوْلِدِهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ- يَعْمَلُوْنَ الْوَلاَئِمَ الْبَدِيْعَةَ الْمُشْتَمِلَةَ عَلَى الأُمُوْرِ البَهِجَةِ الرَّفِيْعَةِ، وَيَتَصَدَّقُوْ نَ فِيْ لَيَالِيْهِ بِأَنْوَاعِ الصَّدَقَاتِ، وَيُظْهِرُوْنَ السُّرُوْرَ، وَيَزِيْدُوْنَ فِيْ الْمَبَرَّاتِ، بَلْ يَعْتَنُوْنَ بِقِرَاءَةِ مَوْلِدِهِ الْكَرِيْمِ، وَتَظْهَرُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَرَكَاتِهِ كُلُّ فَضْلٍ عَمِيْمٍ بِحَيْثُ كَانَ مِمَّا جُرِّبَ”. ثُمَّ قَالَ: “قُلْتُ: كَانَ مَوْلِدُهُ الشَّرِيْفُ عَلَى الأَصَحِّ لَيْلَةَ الإِثْنَيْنِ الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْع الأَوَّلِ، وَقِيْلَ: لِلَيْلَتَيْنِ خَلَتَا مِنْهُ، وَقِيْلَ: لِثَمَانٍ، وَقِيْلَ: لِعَشْرٍ وَقِيْلَ غَيْرُ ذَلِكَ، وَحِيْنَئِذٍ فَلاَ بَأْسَ بِفِعْلِ الْخَيْرِ فِيْ هذِهِ الأَيَّامِ وَاللَّيَالِيْ عَلَى حَسَبِ الاسْتِطَاعَةِ بَلْ يَحْسُنُ فِيْ أَيَّامِ الشَّهْرِ كُلِّهَا وَلَيَالِيْهِ”.
Ertinya:
“Peringatan Maulid Nabi belum pernah dilakukan oleh seorangpun daripada kaum al-Salaf al-Saleh yang hidup pada tiga abad pertama yang mulia, melainkan baru ada setelah itu di kemudian. Dan ummat Islam di semua daerah dan kota-kota besar sentiasa mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan kelahiran Rasulullah. Mereka mengadakan jamuan-jamuan makan yang luar biasa dan diisi dengan hal-hal yang menggembirakan dan baik. Pada malam harinya, mereka mengeluarkan berbagai-bagai sedekah, mereka menampakkan kegembiraan dan suka cita. Mereka melakukan kebaikan-kebaik an lebih daripada kebiasaannya. Bahkan mereka berkumpul dengan membaca buku-buku maulid. Dan nampaklah keberkahan Nabi dan Maulid secara menyeluruh. Dan ini semua telah teruji”. Kemudian al-Sakhawi berkata: “Aku Katakan: “Tanggal kelahiran Nabi menurut pendapat yang paling sahih adalah malam Isnin, tanggal 12 bulan Rabi’ul Awwal. Menurut pendapat lain malam tanggal 2, 8, 10 dan masih ada pendapat-pendap at lain. Oleh kerananya tidak mengapa melakukan kebaikan bila pun pada siang hari dan waktu malam ini sesuai dengan kesiapan yang ada, bahkan baik jika dilakukan pada siang hari dan waktu malam bulan Rabi’ul Awwal seluruhnya” .
Jika kita membaca fatwa-fatwa para ulama’ terkemuka ini dan merenungkannya dengan hati yang suci bersih, maka kita akan mengetahui bahawa sebenarnya sikap “BENCI” yang timbul daripada sebahagian golongan yang mengharamkan Maulid Nabi tidak lain hanya didasari kepada hawa nafsu semata-mata. Orang-orang seperti itu sama sekali tidak mempedulikan fatwa-fatwa para ulama’ yang saleh terdahulu. Di antara pernyataan mereka yang sangat menghinakan ialah bahawa mereka seringkali menyamakan peringatan maulid Nabi ini dengan perayaan hari Natal yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani. Bahkan salah seorang dari mereka, kerana sangat benci terhadap perayaan Maulid Nabi ini, dengan tanpa malu dan tanpa segan sama sekali berkata:
“إِنَّ الذَّبِيْحَةَ الَّتِيْ تُذْبَحُ لإِطْعَامِ النَّاسِ فِيْ الْمَوْلِدِ أَحْرَمُ مِنَ الْخِنْزِيْرِ”.
Ertinya:
“Sesungguhnya binatang sembelihan yang disembelih untuk menjamu orang dalam peringatan maulid lebih haram dari daging babi”.
Golongan yang anti maulid seperti WAHHABI menganggap bahawa perbuatan bid`ah seperti menyambut Maulid Nabi ini adalah perbuatan yang mendekati syirik (kekufuran). Dengan demikian, menurut mereka, lebih besar dosanya daripada memakan daging babi yang hanya haram sahaja dan tidak mengandungi unsur syirik (kekufuran).
Jawab:
Na`uzu Billah… Sesungguhnya sangat kotor dan jahat perkataan orang seperti ini. Bagaimana ia berani dan tidak mempunyai rasa malu sama sekali mengatakan peringatan Maulid Nabi, yang telah dipersetujui oleh para ulama’ dan orang-orang saleh dan telah dianggap sebagai perkara baik oleh para ulama’-ulama’ ahli hadith dan lainnya, dengan perkataan buruk seperti itu?!
Orang seperti ini benar-benar tidak mengetahui kejahilan dirinya sendiri. Apakah dia merasakan dia telah mencapai darjat seperti al-Hafizh Ibn Hajar al-`Asqalani, al-Hafizh al-Suyuthi atau al-Hafizh al-Sakhawi atau mereka merasa lebih `alim dari ulama’-ulama’ tersebut?! Bagaimana ia membandingkan makan daging babi yang telah nyata dan tegas hukumnya haram di dalam al-Qur’an, lalu ia samakan dengan peringatan Maulid Nabi yang sama sekali tidak ada unsur pengharamannya dari nas-nas syari’at agama?! Ini bererti, bahawa golongan seperti mereka yang mengharamkan maulid ini tidak mengetahui Maratib al-Ahkam (tingkatan-ting katan hukum). Mereka tidak mengetahui mana yang haram dan mana yang mubah (harus), mana yang haram dengan nas (dalil al-Qur’an) dan mana yang haram dengan istinbath (mengeluarkan hukum). Tentunya orang-orang ”BODOH” seperti ini sama sekali tidak layak untuk diikuti dan dijadikan ikutan dalam mengamalkan agama ISLAM ini.
Pembacaan Kitab-kitab Maulid
Di antara rangkaian acara peringatan Maulid Nabi adalah membaca kisah-kisah tentang kelahiran Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam. Al-Hafizh al-Sakhawi menyatakan seperti berikut:
“وَأَمَّا قِرَاءَةُ الْمَوْلِدِ فَيَنْبَغِيْ أَنْ يُقْتَصَرَ مِنْهُ عَلَى مَا أَوْرَدَهُ أَئِمَّةُ الْحَدِيْثِ فِيْ تَصَانِيْفِهِمْ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ كَالْمَوْرِدِ الْهَنِيِّ لِلْعِرَاقِيِّ– وَقَدْ حَدَّثْتُ بِهِ فِيْ الْمَحَلِّ الْمُشَارِ إِلَيْهِ بِمَكَّةَ-، وَغَيْرِ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ بَلْ ذُكِرَ ضِمْنًا كَدَلاَئِلِ النُّـبُوَّةِ لِلْبَيْهَقِيِّ ، وَقَدْ خُتِمَ عَلَيَّ بِالرَّوْضَةِ النَّـبَوِيَّةِ ، لأَنَّ أَكْثَرَ مَا بِأَيْدِيْ الْوُعَّاظِ مِنْهُ كَذِبٌ وَاخْتِلاَقٌ، بَلْ لَمْ يَزَالُوْا يُوَلِّدُوْنَ فِيْهِ مَا هُوَ أَقْبَحُ وَأَسْمَجُ مِمَّا لاَ تَحِلُّ رِوَايَتُهُ وَلاَ سَمَاعُهُ، بَلْ يَجِبُ عَلَى مَنْ عَلِمَ بُطْلاَنُهُ إِنْكَارُهُ، وَالأَمْرُ بِتَرْكِ قِرَائِتِهِ، عَلَى أَنَّهُ لاَ ضَرُوْرَةَ إِلَى سِيَاقِ ذِكْرِ الْمَوْلِدِ، بَلْ يُكْتَفَى بِالتِّلاَوَةِ وَالإِطْعَامِ وَالصَّدَقَةِ، وَإِنْشَادِ شَىْءٍ مِنَ الْمَدَائِحِ النَّـبَوِيَّةِ وَالزُّهْدِيَّة ِ الْمُحَرِّكَةِ لِلْقُلُوْبِ إِلَى فِعْلِ الْخَيْرِ وَالْعَمَلِ لِلآخِرَةِ وَاللهُ يَهْدِيْ مَنْ يَشَاءُ”.
Ertinya:
“Adapun pembacaan kisah kelahiran Nabi maka sepatutnya yang dibaca itu hanya yang disebutkan oleh para ulama’ ahli hadith di dalam kitab-kitab mereka yang khusus menceritakan tentang kisah kelahiran Nabi, seperti al-Maurid al-Haniyy karangan al-‘Iraqi (Aku juga telah mengajarkan dan membacakannya di Makkah), atau tidak khusus -dengan karya-karya tentang maulid saja- tetapi juga dengan menyebutkan riwayat-riwayat yang mengandungi tentang kelahiran Nabi, seperti kitab Dala-il al-Nubuwwah karangan al-Baihaqi. Kitab ini juga telah dibacakan kepadaku hingga selesai di Raudhah Nabi. Kerana kebanyakan kisah maulid yang ada di tangan para penceramah adalah riwayat-riwayat bohong dan palsu, bahkan hingga kini mereka masih terus mengeluarkan riwayat-riwayat dan kisah-kisah yang lebih buruk dan tidak layak didengar, yang tidak boleh diriwayatkan dan didengarkan, justeru sebaliknya orang yang mengetahui kebatilannya wajib mengingkari dan melarangnya untuk dibaca. Padahal sebenarnya tidak boleh ada pembacaan kisah-kisah maulid dalam peringatan maulid Nabi, melainkan cukup membaca beberapa ayat al-Qur’an, memberi makan dan sedekah, didendangkan bait-bait Mada-ih Nabawiyyah (pujian-pujian terhadap Nabi) dan syair-syair yang mengajak kepada hidup zuhud (tidak loba kepada dunia), mendorong hati untuk berbuat baik dan beramal untuk akhirat. Dan Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki”.
Kesesatan fahaman WAHHABI yang Anti Maulid:
Golongan yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi berkata:
“Peringatan Maulid Nabi tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah, juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabatnya. Seandainya hal itu merupakan perkara baik nescaya mereka telah mendahului kita dalam melakukannya”.
Jawab:
Baik, Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam tidak melakukannya, adakah baginda melarangnya? Perkara yang tidak dilakukan oleh Rasulullah tidak semestinya menjadi sesuatu yang haram. Tetapi sesuatu yang haram itu adalah sesuatu yang telah nyata dilarang dan diharamkan oleh Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam. Disebabkan itu Allah ta`ala berfirman:
“وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا”. (الحشر: 7)
Ertinya:
“Apa yang diberikan oleh Rasulullah kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”.
(Surah al-Hasyr: 7)
Dalam firman Allah ta`ala di atas disebutkan “Apa yang dilarang ole Rasulullah atas kalian, maka tinggalkanlah”, tidak mengatakan “Apa yang ditinggalkan oleh Rasulullah maka tinggalkanlah”. Ini Berertinya bahawa perkara haram adalah sesuatu yang dilarang dan diharamkan oleh Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam tetapi bukan sesuatu yang ditinggalkannya . Sesuatu perkara itu tidak haram hukumnya hanya dengan alasan tidak dilakukan oleh Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam. Melainkan ia menjadi haram ketika ada dalil yang melarang dan mengharamkannya.
Lalu kita katakan kepada mereka:
“Apakah untuk mengetahui bahawa sesuatu itu boleh (harus) atau sunnah, harus ada nas daripada Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam secara langsung yang khusus menjelaskannya?”
Apakah untuk mengetahui boleh (harus) atau sunnahnya perkara maulid harus ada nas khusus daripada Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam yang menyatakan tentang maulid itu sendiri?! Bagaimana mungkin Rasulullah menyatakan atau melakukan segala sesuatu secara khusus dalam umurnya yang sangat singkat?! Bukankah jumlah nas-nas syari`at, baik ayat-ayat al-Qur’an mahupun hadith-hadith nabi, itu semua terbatas, ertinya tidak membicarakan setiap peristiwa, padahal peristiwa-peris tiwa baru akan terus muncul dan selalu bertambah?! Jika setiap perkara harus dibicarakan oleh Rasulullah secara langsung, lalu dimanakah kedudukan ijtihad (hukum yang dikeluarkan oleh mujtahid berpandukan al-Quran dan al-Hadith) dan apakah fungsi ayat-ayat al-Quran atau hadith-hadith yang memberikan pemahaman umum?! Misalnya firman Allah ta`ala:
“وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ”. (الحج: 77)
Ertinya:
“Dan lakukan kebaikan oleh kalian supaya kalian beruntung”.
(Surah al-Hajj: 77)
Adakah setiap bentuk kebaikan harus dikerjakan terlebih dahulu oleh Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam supaya ia dihukumkan bahawa kebaikan tersebut boleh dilakukan?! Tentunya tidak sedemikian. Dalam masalah ini Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam hanya memberikan kaedah-kaedah atau garis panduan sahaja. Kerana itulah dalam setiap pernyataan Rasulullah terdapat apa yang disebutkan dengan Jawami` al-Kalim ertinya bahawa dalam setiap ungkapan Rasulullah terdapat kandungan makna yang sangat luas. Dalam sebuah hadith sahih, Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam bersabda:
“مَنْ سَنَّ فيِ اْلإِسْـلاَمِ سُنَّةً حَسَنـَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ”. (رواه الإمام مسلم في صحيحه)
Ertinya:
“Barangsiapa yang melakukan (merintis perkara baru) dalam Islam sesuatu perkara yang baik maka ia akan mendapatkan pahala dari perbuatannya tersebut dan pahala dari orang-orang yang mengikutinya sesudah dia, tanpa berkurang pahala mereka sedikitpun”.
(Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim di dalam Sahih-nya).
Dan di dalam hadith sahih yang lainnya, Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam bersabda:
“مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ”. (رواه مسلم)
Ertinya:
“Barang siapa merintis sesuatu yang baru dalam agama kita ini yang bukan berasal darinya maka ia tertolak”.
(Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim)
Dalam hadith ini Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam menegaskan bahawa sesuatu yang baru dan tertolak adalah sesuatu yang “bukan daripada sebahagian syari`atnya”. Ertinya, sesuatu yang baru yang tertolak adalah yang menyalahi syari`at Islam itu sendiri. Inilah yang dimaksudkan dengan sabda Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam di dalam hadith di atas: “Ma Laisa Minhu”. Kerana, seandainya semua perkara yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah atau oleh para sahabatnya, maka perkara tersebut pasti haram dan sesat dengan tanpa terkecuali, maka Rasulullah tidak akan mengatakan “Ma Laisa Minhu”, tapi mungkin akan berkata: “Man Ahdatsa Fi Amrina Hadza Syai`an Fa Huwa Mardud” (Siapapun yang merintis perkara baru dalam agama kita ini, maka ia pasti tertolak). Dan bila maknanya seperti ini maka bererti hal ini bertentangan dengan hadith yang driwayatkan oleh al-Imam Muslim di atas sebelumnya. Iaitu hadith: “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan….”.
Padahal hadith yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim ini mengandungi isyarat anjuran bagi kita untuk membuat sesuatu perkara yang baru, yang baik, dan yang selari dengan syari`at Islam. Dengan demikian tidak semua perkara yang baru itu adalah sesat dan ia tertolak. Namun setiap perkara baru harus dicari hukumnya dengan melihat persesuaiannya dengan dalil-dalil dan kaedah-kaedah syara`. Bila sesuai maka boleh dilakukan, dan jika ia menyalahi, maka tentu ia tidak boleh dilakukan. Karena itulah al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani menyatakan seperti berikut:
“وَالتَّحْقِيْقُ أَنَّهَا إِنْ كَانَتْ مِمَّا تَنْدَرِجُ تَحْتَ مُسْتَحْسَنٍ فِيْ الشَّرْعِ فَهِيَ حَسَنَةٌ، وَإِنْ كَانَتْ مِمَّا تَنْدَرِجُ تَحْتَ مُسْتَقْبَحٍ فِيْ الشَّرْعِ فَهِيَ مُسْتَقْبَحَةٌ”.
Ertinya:
“Cara mengetahui bid’ah yang hasanah dan sayyi-ah (yang dicela) menurut tahqiq (penelitian) para ulama’ adalah bahawa jika perkara baru tersebut masuk dan tergolong kepada hal yang baik dalam syara` bererti ia termasuk bid`ah hasanah, dan jika tergolong kepada hal yang buruk dalam syara` maka berarti termasuk bid’ah yang buruk (yang dicela)”.
Bolehkah dengan keagungan Islam dan kelonggaran kaedah-kaedahny a, jika dikatakan bahawa setiap perkara baharu itu adalah sesat?
2. Golongan yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi biasanya berkata: “Peringatan maulid itu sering dimasuki oleh perkara-perkara haram dan maksiat”.
Jawab:
Apakah kerana alasan tersebut lantas peringatan maulid menjadi haram secara mutlak?! Pendekatannya, Apakah seseorang itu haram baginya untuk masuk ke pasar, dengan alasan di pasar banyak yang sering melakukan perbuatan haram, seperti membuka aurat, menggunjingkan orang, menipu dan lain sebagainya?! Tentu tidak demikian. Maka demikian pula dengan peringatan maulid, jika ada kesalahan-kesal ahan atau perkara-perkara haram dalam pelaksanaannya, maka kesalahan-kesal ahan itulah yang harus diperbaiki. Dan memperbaikinya tentu bukan dengan mengharamkan hukum maulid itu sendiri. Kerana itulah al-Hafizh Ibn Hajar al-`Asqalani telah menyatakan bahawa:
“أَصْلُ عَمَلِ الْمَوْلِدِ بِدْعَةٌ لَمْ تُنْقَلْ عَنِ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنَ الْقُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ، وَلكِنَّهَا مَعَ ذلِكَ قَدْ اشْتَمَلَتْ عَلَى مَحَاسِنَ وَضِدِّهَا، فَمَنْ تَحَرَّى فِيْ عَمَلِهَا الْمَحَاسِنَ وَتَجَنَّبَ ضِدَّهَا كَانَتْ بِدْعَةً حَسَنَةً”.
Ertinya:
“Asal peringatan maulid adalah bid`ah yang belum pernah dinukil dari kaum al-Salaf al-Saleh pada tiga abad pertama, tetapi meskipun demikian peringatan maulid mengandungi kebaikan dan lawannya. Barangsiapa dalam memperingati maulid serta berusaha melakukan hal-hal yang baik sahaja dan menjauhi lawannya (hal-hal buruk yang diharamkan), maka itu adalah bid`ah hasanah”.
Kalangan yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi berkata:
“Peringatan Maulid itu seringkali menghabiskan dana yang sangat besar. Hal itu adalah perbuatan membazirkan. Mengapa tidak digunakan sahaja untuk keperluan ummat yang lebih penting?”.
Jawab:
Laa Hawla Walaa Quwwata Illa Billah… Perkara yang telah dianggap baik oleh para ulama’ disebutnya sebagai
membazir?! Orang yang berbuat baik, bersedekah, ia anggap telah melakukan perbuatan haram, yaitu perbuatan membazir?! Mengapa orang-orang seperti ini selalu saja berprasangka buruk (suuzhzhann) terhadap umat Islam?! Mengapa harus mencari-cari dalih untuk mengharamkan perkara yang tidak diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya?! Mengapa mereka selalu sahaja beranggapan bahawa peringatan maulid tidak ada unsur kebaikannya sama sekali untuk ummat ini?! Bukankah peringatan Maulid Nabi mengingatkan kita kepada perjuangan Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam dalam berdakwah sehingga membangkitkan semangat kita untuk berdakwah seperti yang telah dicontohkan baginda?! Bukankah peringatan Maulid Nabi memupuk kecintaan kita kepada Rasulullah sallallahu`alai hi wasallam dan menjadikan kita banyak berselawat kepada baginda?! Sesungguhnya maslahat-maslah at besar seperti ini bagi orang yang beriman tidak boleh diukur dengan harta.
4. Golongan yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi sering berkata:
“Peringatan Maulid itu pertama kali diadakan oleh Sultan Salahuddin al-Ayyubi. Tujuan beliau saat itu adalah membangkitkan semangat ummat untuk berjihad. Bererti orang yang melakukan peringatan maulid bukan dengan tujuan itu, telah menyimpang dari tujuan awal maulid. Oleh kerananya peringatan maulid tidak perlu”.
Jawab:
Kenyataan seperti ini sangat pelik. Ahli sejarah mana yang mengatakan bahawa orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah sultan Salahuddin al-Ayyubi. Para ahli sejarah, seperti Ibn Khallikan, Sibth Ibn al-Jauzi, Ibn Kathir, al-Hafizh al-Sakhawi, al-Hafizh al-Suyuthi dan lainnya telah bersepakat menyatakan bahawa orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah Sultan al-Muzhaffar, bukan sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Orang yang mengatakan bahawa sultan Salahuddin al-Ayyubi yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi telah membuat “fitnah yang jahat” terhadap sejarah. Perkataan mereka bahawa sultan Salahuddin membuat maulid untuk tujuan membangkitkan semangat umat untuk berjihad dalam perang salib, maka jika diadakan bukan untuk tujuan seperti ini bererti telah menyimpang, adalah perkataan yang sesat lagi menyesatkan.
Tujuan mereka yang berkata demikian adalah hendak mengharamkan maulid, atau paling tidak hendak mengatakan tidak perlu menyambutnya. Kita katakan kepada mereka: Apakah jika orang yang hendak berjuang harus bergabung dengan bala tentara sultan Salahuddin? Apakah menurut mereka yang berjuang untuk Islam hanya bala tentara sultan Salahuddin sahaja? Dan apakah di dalam berjuang harus mengikuti cara dan strategi Sultan Salahuddin sahaja, dan jika tidak, ia bererti tidak dipanggil berjuang namanya?! Hal yang sangat menghairankan ialah kenapa bagi sebahagian mereka yang mengharamkan maulid ini, dalam keadaan tertentu, atau untuk kepentingan tertentu, kemudian mereka mengatakan maulid boleh, istighatsah (meminta pertolongan) boleh, bahkan ikut-ikutan tawassul (memohon doa agar didatangkan kebaikan), tetapi kemudiannya terhadap orang lain, mereka mengharamkannya ?! Hasbunallah.
Para ahli sejarah yang telah kita sebutkan di atas, tidak ada seorangpun daripada mereka yang mengisyaratkan bahawa tujuan maulid adalah untuk membangkitkan semangat ummat untuk berjihad di dalam perang di jalan Allah. Lalu dari manakah muncul pemikiran seperti ini?!
Tidak lain dan tidak bukan, pemikiran tersebut hanya muncul daripada hawa nafsu semata-mata. Benar, mereka selalu mencari-cari kesalahan sekecil apapun untuk mengungkapkan “kebencian” dan “sinis” mereka terhadap peringatan Maulid Nabi ini. Apa dasar mereka mengatakan bahawa peringatan maulid baru boleh diadakan jika tujuannya membangkitkan semangat untuk berjihad?! Apa dasar perkataan seperti ini?! Sama sekali tidak ada. Al-Hafizh Ibn Hajar, al-Hafizh al-Suyuthi, al-Hafizh al-Sakhawi dan para ulama’ lainnya yang telah menjelaskan tentang kebolehan peringatan Maulid Nabi, sama sekali tidak mengaitkannya dengan tujuan membangkitkan semangat untuk berjihad. Kemudian dalil-dalil yang mereka kemukakan dalam masalah maulid tidak menyebut perihal jihad sama sekali, bahkan mengisyaratkan saja tidak. Dari sini kita tahu betapa rapuhnya dan tidak didasari perkataan mereka itu apabila berkaitan dengan hukum, istinbath dan istidhal. Semoga Allah merahmati para ulama’ kita. Sesungguhnya mereka adalah cahaya penerang bagi umat ini dan sebagai ikutan bagi kita semua menuju jalan yang diredhai Allah. Amin Ya Rabb.
Quote
 
0
Guru dan Amaliah KH. Ahmad Dahlan (Muhammadiyyah) dan KH. Hasyim Asy’ari (NU) adalah Sama Tiada Perbedaan
Monday, 16 September 2013 21:43
Muslimedianews ~ Tulisan kali ini hendak mempertegas tulisan kami yang telah lalu berjudul “Sejarah Awal Muhammadiyah yang Terlupakan”, dimana banyak dari kita belum tahu atau sengaja melupakan sejarah awal Muhammadiyyah.

Secara ringkas kami katakan bahwa, KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyyah pada 18 November 1912/8 Dzull Hijjah 1330) dengan KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU pada 31 Januari 1926/16 Rajab 1344) adalah satu sumber guru dengan amaliah ubudiyah yang sama. Bahkan keduanya pun sama-sama satu nasab dari Maulana ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri).

Berikut kami kutip kembali ringkasan “Kitab Fiqih Muhammadiyyah”, penerbit Muhammadiyyah Bagian Taman Poestaka Jogjakarta, jilid III, diterbitkan tahun 1343 H/1925 M, dimana hal ini membuktikan bahwa amaliah kedua ulama besar di atas tidak berbeda:
1. Niat shalat memakai bacaan lafadz: “Ushalli Fardha...” (halaman 25).
2. Setelah takbir membaca: “Allahu Akbar Kabiran Walhamdulillahi Katsira...” (halaman 25).
3. Membaca surat al-Fatihah memakai bacaan: “Bismillahirrah manirrahim” (halaman 26).
4. Setiap shalat Shubuh membaca doa Qunut (halaman 27).
5. Membaca shalawat dengan memakai kata: “Sayyidina”, baik di luar maupun dalam shalat (halaman 29).
6. Setelah shalat disunnahkan membaca wiridan: “Istighfar, Allahumma Antassalam, Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, Allahu Akbar 33x” (halaman 40-42).
7. Shalat Tarawih 20 rakaat, tiap 2 rakaat 1 salam (halaman 49-50).
8. Tentang shalat & khutbah Jum’at juga sama dengan amaliah NU (halaman 57-60).
KH. Ahmad Dahlan sebelum menunaikan ibadah haji ke tanah suci bernama Muhammad Darwis. Seusai menunaikan ibadah haji, nama beliau diganti dengan Ahmad Dahlan oleh salah satu gurunya, as-Sayyid Abubakar Syatha ad-Dimyathi, ulama besar yang bermadzhab Syafi’i.

Jauh sebelum menunaikan ibadah haji, dan belajar mendalami ilmu agama, KH. Ahmad Dahlan telah belajar agama kepada asy-Syaikh KH. Shaleh Darat Semarang. KH. Shaleh Darat adalah ulama besar yang telah bertahun-tahun belajar dan mengajar di Masjidil Haram Makkah.
Di pesantren milik KH. Murtadha (sang mertua), KH. Shaleh Darat mengajar santri-santriny a ilmu agama, seperti kitab al-Hikam, al-Munjiyyat karya beliau sendiri, Lathaif ath-Thaharah, serta beragam ilmu agama lainnya. Di pesantren ini, Mohammad Darwis ditemukan dengan Hasyim Asy’ari. Keduanya sama-sama mendalami ilmu agama dari ulama besar Syaikh Shaleh Darat.

Waktu itu, Muhammad Darwis berusia 16 tahun, sementara Hasyim Asy’ari berusia 14 tahun. Keduanya tinggal satu kamar di pesantren yang dipimpin oleh Syaikh Shaleh Darat Semarang tersebut. Sekitar 2 tahunan kedua santri tersebut hidup bersama di kamar yang sama, pesantren yang sama dan guru yang sama.
Dalam keseharian, Muhammad Darwis memanggil Hasyim Asy’ari dengan panggilan “Adik Hasyim”. Sementara Hasyim Asy’ari memanggil Muhammad Darwis dengan panggilan “Mas atau Kang Darwis”.

Selepas nyantri di pesantren Syaikh Shaleh Darat, keduanya mendalami ilmu agama di Makkah, dimana sang guru pernah menimba ilmu bertahun-tahun lamanya di Tanah Suci itu. Tentu saja, sang guru sudah membekali akidah dan ilmu fikih yang cukup. Sekaligus telah memberikan referensi ulama-ulama mana yang harus didatangi dan diserap ilmunya selama di Makkah.

Puluhan ulama-ulama Makkah waktu itu berdarah Nusantara. Praktek ibadah waktu itu seperti wiridan, tahlilan, manaqiban, maulidan dan lainnya sudah menjadi bagian dari kehidupan ulama-ulama Nusantara. Hampir semua karya-karya Syaikh Muhammad Yasin al-Faddani, Syaikh Muhammad Mahfudz at-Turmusi dan Syaikh Khaathib as-Sambasi menuliskan tentang madzhab Syafi’i dan Asy’ariyyah sebagai akidahnya. Tentu saja, itu pula yang diajarkan kepada murid-muridnya, seperti KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, Syaikh Abdul Qadir Mandailing dan selainnya.

Seusai pulang dari Makkah, masing-masing mengamalkan ilmu yang telah diperoleh dari guru-gurunya di Makkah. Muhammad Darwis yang telah diubah namanya menjadi Ahmad Dahlan mendirikan persarikatan Muhammadiyyah. Sedangkan Hasyim Asy’ari mendirikan NU (Nahdlatul Ulama). Begitulah persaudaraan sejati yang dibangun sejak menjadi santri Syaikh Shaleh Darat hingga menjadi santri di Tanah Suci Makkah. Keduanya juga membuktikan, kalau dirinya tidak ada perbedaan di dalam urusan akidah dan madzhabnya.

Saat itu di Makkah memang mayoritas bermadzhab Syafi’i dan berakidahkan Asy’ari. Wajar, jika praktek ibadah sehari-hari KH. Ahmad Dahlan persis dengan guru-gurunya di Tanah Suci. Seperti yang sudah dikutipkan di awal tulisan, semisal shalat Shubuh KH. Ahmad Dahan tetap menggunakan Qunut, dan tidak pernah berpendapat bahwa Qunut sholat subuh Nabi Muhammad Saw adalah Qunut Nazilah. Karena beliau sangat memahami ilmu hadits dan juga memahami ilmu fikih.

Begitupula Tarawihnya, KH. Ahmad Dahlan praktek shalat Tarawihnya 20 rakaat. Penduduk Makkah sejak berabad-abad lamanya, sejak masa Khalifah Umar bin Khattab Ra., telah menjalankan Tarawih 20 rakaat dengan 3 witir, sehingga sekarang. Jumlah ini telah disepakati oleh sahabat-sahabat Nabi Saw. Bagi penduduk Makkah, Tarawih 20 rakaat merupakan ijma’ (konsensus kesepakatan) para sahabat Nabi Saw.

Sedangkan penduduk Madinah melaksanakan Tarawih dengan 36 rakaat. Penduduk Makkah setiap pelaksanaan Tarawih 2 kali salaman, semua beristirahat. Pada waktu istirahat, mereka mengisi dengan thawaf sunnah. Nyaris pelaksanaan shalat Tarawih hingga malam, bahkan menjelang Shubuh. Di sela-sela Tarawih itulah keuntungan penduduk Makkah, karena bisa menambah pahala ibadah dengan thawaf. Maka bagi penduduk Madinah untuk mengimbangi pahala dengan yang di Makkah, mereka melaksanakan Tarawih dengan jumlah lebih banyak.

Jadi, baik KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari tidak pernah ada perbedaan di dalam pelaksanaan ubudiyah. Ketua PP. Muhammdiyah, Yunahar Ilyas pernah menuturkan: “KH. Ahmad Dahlan pada masa hidupnya banyak menganut fiqh madzhab Syafi’i, termasuk mengamalkan Qunut dalam shalat Shubuh dan shalat Tarawih 23 rakaat. Namun, setelah berdirinya Majelis Tarjih pada masa kepemimpinan KH. Mas Manshur, terjadilah revisi-revisi, termasuk keluarnya Putusan Tarjih yang menuntunkan tidak dipraktekkannya doa Qunut di dalam shalat Shubuh dan jumlah rakaat shalat Tarawih yang sebelas rakaat.”

Sedangkan jawaban enteng yang dikemukan oleh dewan tarjih saat ditanyakan: “Kenapa ubudiyyah (praktek ibadah) Muhammadiyyah yang dulu dengan sekarang berbeda?” Alasan mereka adalah karena “Muhammadiyyah bukan Dahlaniyyah”.

Masihkah diantara kita yang gemar mencela dan mengata-ngatai amaliah-amaliah Ahlussunnah wal Jama’ah Nahdlatul Ulama sebagai amalan bid’ah, musyrik dan sesat?. .
Sumber MMN: http://www.muslimedianews.com/2013/09/guru-dan-amaliah-kh-ahmad-dahlan.html#ixzz2oEGZ0RSd
Quote
 
0
Heyyy...teman2 kita sesama manusia itu harus hidup damai,,,,walaup un kita berbeda tapi tujuan kita sama ,,,, inilah kita semua di sisi oleh penebar fitnah agar islam itu terpecah-pecah ,,,,oleh karena itu dalam sisi ini mereka yang mengadu domba kita sudah menang,,,,


OLEh karena itu klo memang pemahaman kalian sudah tidak bisa diterapkan di jaman ini maka bertaubatlah kita semua sesama muslim, harus kembali ke jalan yang benar yaitu menyembah ALLAH dan Muhammad adalah utusannya bukan habib2 atau sapa2

AL-QURAN DAN SUNNAH RASULLAH yang tidak bakalan lenyap sampai akhir ZAMAN.....

OLEH karena itu jngnlah kita mau di adu domba lagi oleh aliran2 ynag sudah tidak berguna dengan majunya jaman
Quote
 
0
Heyyy...teman2 kita sesama manusia itu harus hidup damai,,,,walaup un kita berbeda tapi tujuan kita sama ,,,, inilah kita semua di sisi oleh penebar fitnah agar islam itu terpecah-pecah ,,,,oleh karena itu dalam sisi ini mereka yang mengadu domba kita sudah menang,,,,


OLEh karena itu klo memang pemahaman kalian sudah tidak bisa diterapkan di jaman ini maka bertaubatlah kita semua sesama muslim, harus kembali ke jalan yang benar yaitu menyembah ALLAH dan Muhammad adalah utusannya bukan habib2 atau sapa2

AL-QURAN DAN SUNNAH RASULLAH yang tidak bakalan lenyap sampai akhir ZAMAN.....

OLEH karena itu jngnla kita mau di adu domba lagi oleh aliran2 ynag sudah tidak berguna dengan majunya jaman
Quote
 
+1
David severtus nama orang yahudi tukang adu domba umat muslim
Quote
 
0
Quoting pencari kebenaran:
AKU DULU ORG MUHAMMADIYAH, TIDAK TERIMA DIFITNAH OLEH KAMU DARI ALIRAN APA?
AHMAD DAHLAN ADALAH CUCU MURID MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB
JADI ANDA MENUDUH MUHAMMADIAH JG WAHABI YO... OOO TAK TUNTUT KOE LEWAT MAJELIS MUHAMMADIYAH..... PENCEMARAN NAMA BAIK MUHAMMADIYAH
jati dirimu siapa, alamatmu dmn, tak laporke nang muhammadiyah ben di tuntut nang pengadilan.



Muhammadiyah dahullu tidak sama dengan muhammadiyah sekarang.
dulu disebut Dahlaniyah
Quote
 
0
ehh anjing kafirun bacott lu anjing jaga,,,
tau apa kamu degan agama Islam ini,,,
Lu ga Bersyukur hidup di negara muslim degan damai,,lu mau rusuh luu anjingg
Quote
 
+1
ini adalah Berita Dusta,,,Pendiri Wahabi Itu Bukan Lah Seyh Muhammad bin Abdul Wahab,,tetapi pendiri Wahabi Itu Adalah : Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum lo ngacoo Lu Fitnah Lu Dusta Dasar kaum Syiah Keparat,,Laknattulloh,,
kamu Tau Siapa Muhammad bin Abdul Wahab itu,,,? dia Adalah Manusia Sholeh Tidak Seperti Kamu Syiah Laknatulloh aqidah mu Taqiyyah ( Berdusta ) dasar Pengecutttttttt tttt
Quote
 
-2
hei.... muslim muslimah.......
aku bukan muslim.......bi ngung aku masuk agama kalian..sebab banyak x agama kalian.....mend ingan gak perlu masok islam....
hai kalian yg bukan muslim. islam tu agama sampah...
:-* :lol:
Quote
 
0
woo namamu ki DAVID SERVETUS TO.....
JAN DARI NAMA SAJA SUDAH DI KETAHUI DR MANA ASALNYA
Quote
 
0
AKU DULU ORG MUHAMMADIYAH, TIDAK TERIMA DIFITNAH OLEH KAMU DARI ALIRAN APA?
AHMAD DAHLAN ADALAH CUCU MURID MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB
JADI ANDA MENUDUH MUHAMMADIAH JG WAHABI YO... OOO TAK TUNTUT KOE LEWAT MAJELIS MUHAMMADIYAH... .. PENCEMARAN NAMA BAIK MUHAMMADIYAH
jati dirimu siapa, alamatmu dmn, tak laporke nang muhammadiyah ben di tuntut nang pengadilan.
Quote
 
0
FITNAHMU SAMPAI DIMANA2 LHO...... DOSAMU JO UAAAKEH NYEBAR SAMPAI SAK DONYA......WADU HH2 ... MALANG NASIBMU REK...
FITNAHMU MENYEBAR...... NEK NGANTI KOE SALAH... HOOOOOOOOOO
MATEK KOE....FITNAHMU JO WADUUUUHHHH
JAN.......FITNAH2
DOSAMU JOOOOO..... LIHAT SAJA APA YG AKAN TERJADI DG DIRIMU JIKA TIDAK CEPAT2 BERTOBAT...
Quote
 
0
YG MENTAKDIRKAN UMAT ITU MUSLIM / TIDAK YA ALLAH, BUKAN WALI SONGO' WALI SONGO CUMA LANTARAN, REK2 MULUTMU MANIS SEKALI, AKU BUKAN WAHABI TAPI TAHU KALAU KAMU SALAH. TOBAT YA JO,TOBAT LHO, NEK ORA GELEM TOBAT HATI2 LHO BALASANMU DI HARI PEMBALASAN
Quote
 
+1
KATANYA NGAKU ISLAM BERSAUDARA MALAH MEMFITNAH, SUMBERNYA JUGA TIDAK JELAS FITNAH2 FITNAH FITNAH JO, KALO GITU ANDA JUGA MEMFITNAH PEMERINTAH ARAB DAN NEGERI ARAB YG DALAM DOA NABI IBRAHIM ADALAH NEGERI YG DIRAHMATI. JO JO HATI2 LHO JO MULUT ITU LEBIH TAJAM DARI PEDANG, SETIAP UCAPAN AKAN DIMINTAI PERTANGGUNG JAWABAN. SAYA BUKAN WAHABI TAPI SUDAH TAHU MANA YG TUKANG FITNAH DAN TUKANG ILMU.
Quote
 
0
FITNAH HATI2 FITNAH JGN PERCAYA FITNAH
Quote
 
0
internet disalah gunakan para pemfitnah dengan menuduh dan memfitnah dan tidak berani beradu ilmu agama yg benar. sudah sumbernya salah lantang lagi, setiap mulut yg melepaskan kalimat di dunia akan dipertanggung jawabkan di akhirat. apakah anda yakin fitnah anda itu benar. kalo salah tunggu adzab yg pedih bagi anda.fitnah dari mulutmu akan di balas. apabila anda salah tunggu siksa karena mulut anda.
Quote
 
0
kasihan deh lu pade...ilmu gak ada seujung kuku pada berantem dewek
Quote
 
0
aslamualikum but saudara-saudara muslim,

sebainya muhammad bin abdul wahab sebaiknya kita kaji sejarahnya dari berbagai sumber jangan hanya dari sumber arab (yang pro) dan sumber lain (yang kontra, agar kita dapat tarik benang merahnya,
karena penelitian ilmiah lah tentang sejarah adalah satu-satunya kunci kita memahami perpecahan umat islam saat ini,

islam tidak mengajarkan extrimisme antar mashab, apalagi semama manusia, coba buat studi2 ilmiah mengani tokoh yang satu ini,

pasti kita temukan korelasinya

salam damai
Quote
 
0
Yahudi, Nashrani dan Shabi'in,, barang siapa dari mereka yang beriman kepada Allah SWT., dan Hari Akhir, maka tetap bagi mereka pahala yang besar disisi Allah SWT., dan bagi mereka tidak akan ada ketakutan dan kesedihan.,
Kita sama-sama umat ISLAM yang sama-sama BerTuhan Allah SWT., BerNabi Sayyiduna Muhammad SAW., BerKitab Al-Qur'an Al-Kariim., BerQiblat Ka'bah., Kenapa kita harus saling menjelek-jelekk an ajaran???
Quote
 
0
Quoting arde setiawan:
apakah ente ada bukti bahwa syekh muhammad bin abdul wahab rahimahullah melarang ziarah kubur? kalau ziarah kubur ente itu untuk mendoakan orang yang telah meninggal mah gpp, kalo ente ziarah kubur untuk bertawassul kepada penghuni kubur, atau dengan melontarkan syubhat bahwa ente ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan perantaraan penghuni kubur ini, maka ente belajar lagi Islamnya yang bener. Baca surat Az-Zumar ayat 3 kemudian baca tafsirnya di tafsir Ibnu Katsir, kemudian baca lagi sirah berulang2, sesungguhnya berhala2 yang disembah oleh orang2 kafir quraisy dan kaum sebelum mereka itu dahulunya adalah orang-orang shaleh, persis seperti kalian mengagung-agungkan wali sanga disini. bahkan kalian mengangkat seseorang sampai kepada derajat uluhiyah. Wallahu musta'an.



EH LU KENAL ISLAM ITU BERKAT WALI SONGO. ;-)
Quote
 
-1
Quoting arde setiawan:
apakah ente ada bukti bahwa syekh muhammad bin abdul wahab rahimahullah melarang ziarah kubur? kalau ziarah kubur ente itu untuk mendoakan orang yang telah meninggal mah gpp, kalo ente ziarah kubur untuk bertawassul kepada penghuni kubur, atau dengan melontarkan syubhat bahwa ente ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan perantaraan penghuni kubur ini, maka ente belajar lagi Islamnya yang bener. Baca surat Az-Zumar ayat 3 kemudian baca tafsirnya di tafsir Ibnu Katsir, kemudian baca lagi sirah berulang2, sesungguhnya berhala2 yang disembah oleh orang2 kafir quraisy dan kaum sebelum mereka itu dahulunya adalah orang-orang shaleh, persis seperti kalian mengagung-agungkan wali sanga disini. bahkan kalian mengangkat seseorang sampai kepada derajat uluhiyah. Wallahu musta'an.



EH LU KENAL ISLAM ITU BERKAT WALI SONGO.
Quote
 
+1
eui pikiran mah tuh jalma anu teu daek sholat, kumaha carana bisa daek sholat. lain iyeumah ribut sholat maneh mah bid'ah mun sholat kos urang.
Quote
 
-2
pembahasan terbaru di tv rodja, semoga bisa meluruskan...
http://al-islam-indonesia.blogspot.com/2013/04/apakah-wahabi-sesat.html
Quote
 
-1
Quoting dhimas Zaki:
Ajaran Muhammad bin Abdul Wahab sangat bagus dan sesuai dg Islam, kenapa sampai timbul fitnah seakan ajaran beliau adalah sesat. Naudzubillah


karena banyak pengikutnya yang kebanyakan jadi antisosial dan tidak mau menerima perbedaan, suka merasa benar sendiri, okelah kalau semua tindakanya itu sesuai dengan quran dan hadits, tapi apa iya ada manusia di dunia ini yang tak ada dosa..? tak sadar akan dosa itulah yang bisa di bilang sesat
Quote
 
+1
wahabi dgn muhamadiyah tdk jauh beda . . .
Quote
 
+1
penyakitnya orang muslim adalah membenarkan golonganya masing masing. bukankah islam akan terbagai menjafi 73 golongan dan hanya satu golongan yg akan masuk surga. dalil inilah yg dipakai oleh golongan masing masing. tdkkah terpikir bhwa golongan yg masuk surga adalah 73 golongan yg bersatu. bukankah disebutkan sebelumnya akan terbagi menjadi.... ketika blm terbagi maka itulah golongan terbaik dalam umat islam. masih aja sibuk ama golongan masing masing. mending kelaut aja
Quote
 
0
Bismillah. Bacaan sholawat yg benar adalah:
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
(Allohumma Sholli wa Sallim 'Alaa NABIYYINAA Muhammad)

Dan di sana ada bacaan2 sholawat lain yg sesuai dengan sunnah (tuntunan) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Berikut ini sy cantumkan jawaban pertanyaan sy berkaitan dengan bacaan sholawat ini:

Tanya:
Bagaimanakah cara bersholawat kepada Nabi Muhammad yang benar sehingga kita memperoleh pahala dan keutamaan-keuta maan yang telah disebutkan di atas?

Jawab:
Bismillah. Cara bersholawat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang benar dan sesuai dengan tuntunannya adalah dengan mengucapkan sholawat ibrahimiyyah, yaitu sebagaimana bacaan berikut ini:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

(Allohumma Sholli ‘Alaa Muhammadin Kamaa Shollaita ‘Alaa aali Ibroohiima innaka Hamiidun Majiid. Allohumma Baarik ‘Alaa Muhammadin Kamaa Baarokta ‘Alaa aali Ibroohiima innaka Hamiidun Majiid).

Hal ini berdasarkan hadits shohih berikut ini:

Dari Ka’b bin Ujrah Radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam keluar menuju kami lalu kami pun berkata; "Kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana cara kami bershalawat kepadamu?" Nabi menjawab: “Ucapkanlah:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
(Allohumma Sholli ‘Alaa Muhammadin Kamaa Shollaita ‘Alaa aali Ibroohiima innaka Hamiidun Majiid. Allohumma Baarik ‘Alaa Muhammadin Kamaa Baarokta ‘Alaa aali Ibroohiima innaka Hamiidun Majiid).

(Diriwayatkan oleh imam al-Bukhari no. 3370, dan imam Muslim no. 406).

Atau bisa juga dengan bacaan sholawat yang lebih pendek, yaitu:
صلى الله عليه وسلم .
(Shollallohu ‘alaihi wasallam),

atau dengan membaca:
(Allohumma Sholli wa Sallim ‘Ala Nabiyyina Muhammad),

atau dengan lafazh lain yang maknanya seperti itu.

Demikianlah beberapa lafazh bacaan sholawat kpd Nabi yang benar sebagaimana dijelaskan di dalam hadits-hadits yang shohih. Semoga jawaban yg singkat ini menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi kia semua. Dan semoga kita mendapatkan syafa’at Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam pada hari kiamat dengan sebab memperbanyak sholawat kepada beliau, dan semoga kita semua dikumpulkan Allah bersama beliau dalam satu satu majlis di dalam surga Al-Firdaus yang paling tinggi. Amin ya Robbal Alamiin.
(Ditulis pada hari Jumat, 12 Oktober 2012).

Untuk mengetahui KEUTAMAAN MEMBACA SHOLAWAT KEPADA NABI, dapat dibaca di Blog Dakwah kami dengan Link berikut ini. KLIK:

http://abufawaz.wordpress.com/2012/10/12/keagungan-membaca-sholawat-kepada-nabi-muhammad-berdasarkan-hadits-hadits-shohih/

(Semoga Menjadi ILMU yg Bermanfaat)
Quote
 
-1
"Wahhabi" setiap hari bersholawat ke atas junjungan Nabi Muhammad sallahu 'alaihi wa Sallam, dan Sholawatnya sesuai dengan yang diajarkan Rasululah Saw:Bismillah. Bacaan sholawat yg benar adalah:
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
(Allohumma Sholli wa Sallim 'Alaa NABIYYINAA Muhammad)

Dan di sana ada bacaan2 sholawat lain yg sesuai dengan sunnah (tuntunan) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Berikut ini sy cantumkan jawaban pertanyaan sy berkaitan dengan bacaan sholawat ini:

Tanya:
Bagaimanakah cara bersholawat kepada Nabi Muhammad yang benar sehingga kita memperoleh pahala dan keutamaan-keuta maan yang telah disebutkan di atas?

Jawab:
Bismillah. Cara bersholawat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang benar dan sesuai dengan tuntunannya adalah dengan mengucapkan sholawat ibrahimiyyah, yaitu sebagaimana bacaan berikut ini:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

(Allohumma Sholli ‘Alaa Muhammadin Kamaa Shollaita ‘Alaa aali Ibroohiima innaka Hamiidun Majiid. Allohumma Baarik ‘Alaa Muhammadin Kamaa Baarokta ‘Alaa aali Ibroohiima innaka Hamiidun Majiid).

Hal ini berdasarkan hadits shohih berikut ini:

Dari Ka’b bin Ujrah Radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam keluar menuju kami lalu kami pun berkata; "Kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana cara kami bershalawat kepadamu?" Nabi menjawab: “Ucapkanlah:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
(Allohumma Sholli ‘Alaa Muhammadin Kamaa Shollaita ‘Alaa aali Ibroohiima innaka Hamiidun Majiid. Allohumma Baarik ‘Alaa Muhammadin Kamaa Baarokta ‘Alaa aali Ibroohiima innaka Hamiidun Majiid).

(Diriwayatkan oleh imam al-Bukhari no. 3370, dan imam Muslim no. 406).

Atau bisa juga dengan bacaan sholawat yang lebih pendek, yaitu:
صلى الله عليه وسلم .
(Shollallohu ‘alaihi wasallam),

atau dengan membaca:
(Allohumma Sholli wa Sallim ‘Ala Nabiyyina Muhammad),

atau dengan lafazh lain yang maknanya seperti itu.

Demikianlah beberapa lafazh bacaan sholawat kpd Nabi yang benar sebagaimana dijelaskan di dalam hadits-hadits yang shohih. Semoga jawaban yg singkat ini menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi kia semua. Dan semoga kita mendapatkan syafa’at Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam pada hari kiamat dengan sebab memperbanyak sholawat kepada beliau, dan semoga kita semua dikumpulkan Allah bersama beliau dalam satu satu majlis di dalam surga Al-Firdaus yang paling tinggi. Amin ya Robbal Alamiin.
(Ditulis pada hari Jumat, 12 Oktober 2012).

Untuk mengetahui KEUTAMAAN MEMBACA SHOLAWAT KEPADA NABI, dapat dibaca di Blog Dakwah kami dengan Link berikut ini. KLIK:

http://abufawaz.wordpress.com/2012/10/12/keagungan-membaca-sholawat-kepada-nabi-muhammad-berdasarkan-hadits-hadits-shohih/

(Semoga Menjadi ILMU yg Bermanfaat)
Quote
 
+1
Ajaran Muhammad bin Abdul Wahab sangat bagus dan sesuai dg Islam, kenapa sampai timbul fitnah seakan ajaran beliau adalah sesat. Naudzubillah
Quote
 
+1
Muhammad bin Abdil Wahhab Benci Muhammad bin Abdillah shalallahu ‘alaihi wa sallam ??


Demikianlah tuduhan lain yang sering dilontarkan kepada beliau. Di antara yang menyebabkan terlontarnya tuduhan ini adalah sangkaan mereka bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab telah melarang murid-murid dan pengikutnya untuk bershalawat kepada Rasul dan menziarahi kubur Rasul Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Persangkaan dusta ini telah dijawab oleh beliau sendiri, Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, “Kami yakini bahwa kedudukan Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah kedudukan makhluk yang paling tinggi secara mutlak . Beliau hidup di kuburnya dengan kehidupan Barzakhiyyah (dalam alam barzakh, antara dunia dan akhirat –pent) yang melebihi kehidupan para syuhada yang ditegaskan dalam Al Quran, sebab tidak diragukan lagi bahwa beliau lebih utama dari mereka. Beliau juga dapat mendengar salam orang yang menyampaikan salam kepadanya. Disunnahkan berziarah ke kuburnya dan barang siapa yang menyibukkan diri dengan mengisi waktunya dengan sholawat kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berupa salawat yang dicontohkan, maka dia mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.” (Ad Durar As Saniyyah 1/127-128 sebagaimana disebutkan dalam Meluruskan Sejarah Wahhabi oleh Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi halaman 127 dan 128).
Quote
 
0
Jawaban:


Tuduhan ini sangat mentah, tujuan di balik itu sangat jelas, yaitu melarikan manusia dari dakwah yang disebarkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Aduhai, alangkah beraninya penulis dalam memanipulasi hadits Rosululloh dan menafsirkannya sesuai dengan selera hawa nafsunya semata...!!! Seperti inikah cara Anda dalam beragumentasi wahai hamba Alloh?!!


Syaikh Abdulloh bin Muhammad bin Abdul Wahhab berkata tatkala membantah tuduhan bahwa ulama dakwah mengkafirkan orang yang tidak mencukur rambut kepalanya, “Sesungguhnya ini adalah kedustaan dan kebohongan tentang kami. Seorang yang beriman kepada Alloh dan hari akhir tidak mungkin melakukan hal ini, sebab kekufuran dan kemurtadan tidaklah terealisasikan kecuali dengan mengingkari perkara-perkara agama yang ma’lum bi dhoruroh (diketahui oleh semua). Jenis-jenis kekufuran baik berupa ucapan maupun perbuatan adalah perkara yang maklum bagi para ahli ilmu. Tidak mencukur rambut kepala bukanlah termasuk di antaranya (kekufuran atau kemurtadan), bahkan kami pun tidak berpendapat bahwa mencukur rambut adalah sunnah, apalagi wajib, apalagi kufur keluar dari Islam bila ditinggalkan.”
Quote
 
0
CIRI KHAS WAHABI CUKUR PLONTOS??
Quote
 
-1
jawaban:

Demikian penulis artikel memuntahkan isi hatinya tanpa kendali!! Aduhai alangkah murahnya dia mengobral kebohongan dan melempar tuduhan!! Tidakkah dia sedikit takut akan adzab dan mengingat akibat para pendusta yang akan memikul dosa?! Tidakkah dia menyadari bahwa dusta adalah ciri utama orang-orang yang hina?!!

Tuduhan yang satu ini begitu laris-manis tersebar semenjak dahulu hingga kini, padahal Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri telah menepis tuduhan ini dalam banyak kesempatan. Terlalu panjang kalau saya nukilkan seluruhnya, maka kita cukupkan di sini sebagian saja:

Dalam suratnya kepada penduduk Qoshim, beliau memberikan isyarat terhadap tuduhan musuh bebuyutannya (Ibnu Suhaim), dan berlepas diri dari tuduhan keji yang dilontarkan kepada beliau. Beliau berkata, “Alloh mengetahui bahwa orang tersebut telah menuduhku yang bukan-bukan, bahkan tidak pernah terbetik dalam benakku, di antaranya dia mengatakan bahwasanya aku mengatakan, ‘Manusia sejak 600 tahun silam tidak dalam keislaman, aku mengkafirkan orang yang bertawassul kepada orang-orang sholih, aku mengkafirkan al-Bushiri, aku mengkafirkan orang yang bersumpah dengan selain Alloh….’ Jawabanku terhadap tuduhan ini, ‘Maha Suci Engkau ya Robb kami, sesungguhnya ini kedu¬staan yang amat besar.’”
Demikian juga dalam suratnya kepada Syaikh Abdurrohman as-Suwaidi -salah seorang ulama Irak- mengatakan bahwa semua tuduhan tersebut adalah makar para musuh yang ingin menghalangi dakwah tauhid. Beliau berkata, “Mereka mengerahkan Bala tentaranya yang berkuda dan berjalan kaki untuk memusuhi kami, di antaranya dengan menyebarkan kebohongan yang seharusnya orang berakaI pun malu untuk menceritakannya , apalagi menyebarkannya, salah satunya adalah apa yang Anda sebutkan, yaitu bahwa saya mengkafirkan seluruh manusia kecuali yang mengikuti saya, dan saya menganggap bahwa pernikahan mereka tidak sah. Aduhai, bagaimana bisa haI ini diterima oleh seorang yang berakal sehat? Adakah seorang muslim, kafir, sadar maupun gila sekalipun yang berucap seperti itu?!”
Syaikh Abdulloh bin Muhammad bin Abdul Wahhab membantah tuduhan di atas, “Adapun tuduhan yang didustakan kepada kami dengan tujuan untuk menutupi kebenaran dan menipu manusia bahwa kami mengkafirkan manusia secara umum, manusia yang semasa dengan kami dan orang-orang yang hidup setelah tahun enam ratusan kecuali yang sepaham dengan kami. Berekor dari itu, bahwa kami tidak menerima bai’at seorang kecuali setelah dia mengakui bahwa dirinya dahulu adalah musyrik, demikian pula kedua orang tuanya mati dalam keadaan syirik kepada Alloh … semua ini hanyalah khurofat yang jawaban kami seperti biasanya, ‘Maha Suci Engkau ya Alloh, ini adalah kebohongan yang nyata.’ Barang siapa menceritakan dari kami seperti itu atau menisbatkan kepada kami maka dia telah berdusta dan berbohong tentang kami. Barang siapa menyaksikan keadaan kami dan menghadiri majelis ilmu kami serta bergaul dengan kami, niscaya dia akan mengetahui secara pasti bahwa semua itu adalah tuduhan palsu yang dicetuskan oleh musuh-musuh agama dan saudara-saudara setan untuk melarikan manusia dari ketundukan dan memurnikan tauhid hanya kepada Alloh saja dengan ibadah dan meninggalkan seluruh jenis kesyirikan.”[21]
Syaikh Sulaiman bin Sahman berkata, “Sesungguhnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab meniti jalan yang ditempuh oleh Nabi para sahabat, dan para imam pendahulu. Beliau tidak mengkafirkan kecuali orang yang telah dikafirkan Allah dan Rosul-Nya dan disepakati kekufurannya oleh umat. Beliau mencintai seluruh ahli Islam dan ulama mereka. Beliau beriman dengan setiap kandungan al-Qur’an dan hadits shohih. Beliau juga melarang keras dari menumpahkan darah kaum muslimin, merampas harta dan kehormatan mereka. Barang siapa menisbatkan kepada beliau hal yang berseberangan dengan Ahli Sunnah wal Jama’ah dari kalangan salaf umat ini maka dia telah dusta serta berkata tanpa dasar ilmu.
Quote
 
0
PEMBUNUHAN DAN PENGKAFIRAN ??
Quote
 
0
Termasuk kelompok yang sengit memusuhi dakwah salafiyah adalah Hizbut Tahrir. Mereka menyebarkan tuduhan dusta kepada dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan menyebutkan kitab-kitab yang membantah dan mencela dakwah beliau. Mengapa saya katakan tuduhan mereka dusta, karena isi kitab yang mereka sebutkan sarat dengan kedustaan yang direkayasa. Perlu diketahui, firqah ini sejak didirikannya memang sangat memusuhi dakwah salafiyah. Namun yang sangat disesalkan, mengapa harus dengan kedustaañ. Mengapa tidak menempuh cara yang elegan, dialog secara ilmiah.

Taruhlah mereka tidak mengetahui isi kitab-kitab yang mereka cantumkan, jelas ini adalah musibah. Namun bagaimana mungkin mereka tidak mengetahui sedangkan selebaran itu berjudul “Kitab-Kitab Yang Membantah Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.” Sebenarnya mereka mengetahui kandungan kitab-kitab tersebut hanya saja karena mendukung dakwah mereka maka dijadikan sebagai amunisi untuk menyerang dakwah salafiyah ini. Tepat mengenai sasaran atau tidak itu urusan belakang. Benarlah apa yang dikatakan seorang penyair:

“ Jika kamu tidak mengetahul maka itu adalah musibah Tetapi jika kamu mengetahui maka musibahnya lebih dahsyat.”

Foot Note :

1. “Nama “Wahhabiyyah” itu salah karena nama beliau adalah Muhammad bin Abdul Wahhab. Semestinya nannya adalah “Muhammadiyyah. Dan sini nampak, penyandaran nama itu hanya untuk menakut-nakuti masyarakat dan dakwah tauhid, dakwah salaf, dakwah para nabi, dan membuat mereka benci kepada dakwah haq itu. Lihat kitab Manhaj Firqatin Najiyah, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, hal. 45.

(2) Lihat buku Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdhatul Ulama, hal. 15-56, Chairul Anam, Jatayu, Sala.

(3) Kitab Dahlan ini sudah banyak dibantah para ulama, di antaranya Syaikh Muhammad Basyir as-Sahsawani al-Hindi, ahli hadits India dalam kitab Shiyanatul Insan ‘an Waswastisy Syaikh Dahlan (Penjagaan Manusia dan Bisikan Syaikh Dahlan). Syaikh Shalih bin Muhammad asy-Syitri dalam kitab Ta’yiidul Malikil Mannaan fi Naqdhi Dhalalati Dahlan (Pertolongan Malik dan al-Mannaan (AlIoh Yang Maha Menguasai dan Maha Memberi) untuk membatalkan kesesatan Dahlan), SyaikhAhmad bin Ibrahim dalam kitab ar-Raddu ‘ala Ma Ja’a fi Khulashatil Kalam minat Tha’ni ‘ala! Wahhabiyyah wal iftira ‘I Dahlan. (Lihat Kutubun Hadzdzdara minha al-Ulama, Syaikh Masyhur Hasan Salman, 1/251-252)

(4) Muqaddimah beliau pada kitab Shiyanatul Insan, hal. 1 2.

(5) Periksa MajalahAL FURQON Edisi 3, 4, 10, 11 Tahun II 3,8 Tahun III 5, 8 Tahun IV.

(6) Lihat Durarus Sariyyah 1/28-31 dengan diringkas, seperti termuat dalam Tashhth Khatha’TarikhiH aulal Wahhabiyyah, DR.Muhammad Sad asy-Syuwai’i hal. 107-111.

(7) Lihat Mausu’atuAhijSu nnah, SyaikhAbdur Rahman ad-Dimasyqiyah, hal. 1221.

(8) Seperti dituturkan Sykh Abul Lathif bin Abdur Rahman dalam Mishbahuzh Zhulam hal. 104-108, lihat juga Shiyanatul Insan, mulal hal.461.

(9) Kutubun Hadzdzdara minha al-Ulama, Syaikh Masyhur Hasan Salman, 1/251.
Quote
 
0
Di antara hadits yang disebutkan yaitu:

Ya Alloh berkahilah Syam kami, Ya Alloh berkahilah Yaman kami. Para sahabat berkata, “Wahal Rasulullah, dan Najd kami. “Jawab beiiau, “Ya Alloh berkahilah Syam kami, Ya Alloh berkahilah Yaman kami.” Pada kali yang ketiga beliau bersabda, “Di sana terjadi kegoncangan dan fitnah dan di sana akan muncul tanduk setan.”

Lantas bagaimana penjelasan para ulama tentang hadits-hadits tersebut?

AI-Khathabi berkata, “Najd adalah arah timur, siapa yang ada di Madinah maka najd-nya adalah lembah Iraq dan daerah sekitarnya. ituiah arah timur Madinah. Asal makna kata najd adalah tanah yang meninggi. Berbeda dengan ghaur yaitu tanah yang rendah. Tihamah semuanya termasuk ghaur dan Makkah termasuk Tihamah.” Kata al-. Hafizh, “Semua tempat yang lebih tinggi dan sampingnya disebut najd dan yang rendah disebut ghaur.” Kata ai-Hafizh ibnu Hajar, “Dengan begitu diketahui kesalahan ad-Dawudi yang mengatakan, Najd itu daerah khusus. Tidak demikian, bahkan semua tempat yang Iebih tinggi dan sekitarnya dinamakan najd dan yang rendah dinamakan ghaur.” (Fathul Bari 14/ 546-547)

Pada bab Qatlu Khawarij (pembunuhan terhadap Khawárij).

aI-Hafizh menjelaskan bahwa Khawarij yang menentang Ali dan Mu’awiyah itu menetap di suatu tempat namanya di Harura’ dan di Nahrawan. (Fathul Ban 14/287- 295).

Pada akhir kitab Tauhid, setelah sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam “Akan muncul orang-orang dan arah timur’, alHafizh berkata, “Telah berlalu pada kitab Fitan bahwa mereka adalah Khawarij, penjelasan sebab kemunculan mereka, dan apa yang ada pada mereka. Tempat awal munculnya di Iraq. Dilihat dan Makkah tempat itu berada di wilayah timur.” (Fathul Bari 15/520 cet. Darul Fikr)

Imam Bukhari rohimahullah menuturkan, Basyir bin Umar bertanya kepada Sahi bin Hanif, “Apakah engkau mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan tentang Khawarij?” Jawabnya, “Aku mendengar beliau mengatakannya sambil mengisyaratkan tangannya ke arah Iraq. Dan sana akan muncul suatu kaum yang membaca aI-Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dan agama bagaikan anak panah yang menembus sasaran.” (no. 6934)

Dan keterangan tadi jelas bahwa arah timur dan Najd yang dimaksud adalah Najd Iraq bukan Najd Saudi, seperti dituduhkan Dahlan. Nampak sekali kalau Syaikh Dahlan menafsirkan hadits sesuai selera hawa nafsunya.

Tidak cukup sampai di situ, diajuga berani membawakan suatu hadits walaupun tidak mengetahui siapa mukharrijnya (yang meriwayatkannya ). (hal. 120).
Pengakuan Para Ulama



Banyak sekali ulama yang menyetujui dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan memuji beliau, di antaranya:

1. al-Aliamah Muhammad bin Ismail al-Amir ash-Shan’ani, pengarang kitab Subulus Salam. Beliau memuji Syaikh Muhammad dengan lantunan bait syair. Syair itu diawali dengan:

Salamku kepada orang Najd

dan penduduk Najd

Kendatipun salamku dan jauh tidak berguna

2. Syaikh Muhammad bin Ahmad alHit zhi, dalam bentuk syair.

3. Ai-Allamah Muhammad bin Ali asy-Syaukani, pengarang Nailul Authar, dalam bentuk syair.

4.Syaikh Husain bin Ghanam, ulama Ahsa’ pemilik kitab Raudhatul Afkar wal Atham.

5. Syaikh ‘lmran bin Au bin Ridhwan, dari Persia.

6.Al-Aliamah Sayyid Mahmud Syukri al-Alusi, ulama Iraq. Kata beliau, “Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan keluarga ilmu di Najd. Bapak beliau Syaikh Abdul Wahhab adalah orang alim dan faqih dalam madzhab Imam Ahmad. Kakek beliau juga orang alim dan faqih. Tetapi Syaikh Muhammad tidak mengikuti metode bapak dan kakeknya karena beliau sangat fanatik kepada sunnah dan banyak mengingkari para ulama yang menyelisihi kebenaran. Alhasil, beliau termasuk ulama yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemunkaran.”

7. Amir Syakib Arselan dalam suatu kitabnya Tarikh Najd al-Hadits.

8. Syaikh Muhammad Hamid Fiqi,

ketua Jama’ah Ansharus Sunnah al Muhammadiyah Mesir, ulama alAzhar Mesir, dalam kitab Atsarud Dakwah al-Wahhabiyyah.

9.Sayyid Muhammad Rasyid Ridha.

10. SyaikhAz-Zirkil i dalam kitab al. A’lamjuz 7.

11. dan masih banyak lagi. (Lihat kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Aqidatuhu. as-Salafiyyah wa Da’watuhu al-ishlahiyyah wa Tsana’u Ulama ‘alaihi, Syaikh Ahmad bin Hajar bin MuhammadAlu Abu Buthami, Hakim Mahkamah Syar’iyah di Qathar, Emirat Arab, mulai hal. 80)

Syaikh ibnu Baz Rohimahullah ketika ditanya tentang orang yang membuat kedustaan terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, menjawab, “ini termasuk kejahilan orang yang jahil. Orang-orang yang memusuhi Syaikh ada dua macam.

Pertama, kelompok yang berada dalam kesyirikan. Mereka memusuhi Syaikh kerena ingin kembali ke dalam kesyirikan. Sebab Syaikh menyerukan kepada tauhid sedangkan mereka orang-orang musyrik yang sesat.

Kedua, orang-orang jahil yang tertipu juru dakwah kebatilan. Orang-orang jahil tersebut taqklid kepada orang jahil pula atau orang-orang yang dengki. Orang-orang musyrik memusuhi para rasul dan memerangi dakwah para rasul karena kejahilan dan kesesatan. Sebagian kelompok memusuhi para rasul dan risalah mereka karena kedengkian, keingkaran dan menuruti hawa nafsu. Kita memohon keselamatan kepada Allah dan hal itu. (Fatawa Syaikh ibnu Baz, 9/234).

Kesimpulannya, dalam kitab in Syaikh Dahlan memutarbalikkan fakta. Semua ini didasari kaidah kaidah kejahilan terhadap dakwah Wahhabiyah, bahkan kejahilan terhadap dakwah Sunniyah Salafiyyah.

Dia membolehkan do’a kepada selain Alloh, seperti para nabi dan orang-orang shalih yang telah mati. Boieh beristighatsah kepada mereka, bepergian menuju kubur

mereka dan berdo’a disisinya serta memohon kebutuhan kepada mereka. Kitab ini sarat dengan cerita cerita batil, berupa hikayat, syiar syair dan mimpi. Menggunakan dalil dalil yang shahih bukan pada tempatnya.(9)
Quote
 
0
Jawabku atas semua tuduhan tadi adalah Maha Suci Engkau Ya Alloh, ini adalah kedustaan yang besar. Dulu Muhammad juga dituduh mencela isa bin Mayam dan orang-orang shalih. Hati mereka penuh dengan membuat buat dusta dan ucapan dusta.”6

Tentang bantahan dan saudara Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri, yaitu Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, kita katakan, “Apakah setiap orang yang menentang saudaranya lantas dia berada di atas kebenaran? Lalu sejak kapan Sulaiman ini dikenal sebagai orang yang kredibel Sehingga dijadikan hujjah, bukan Muhammad bin Abdul Wahhab? Kalau begitu, penyeilisihan Abu Jahal dan Abu Lahab terhadap Nabi , merupakan hujjah kebenaran dan beliau yang salah. Hujjah itu adalah bila pemikiran Syaikh Muhammad ini dicocokkan dengan aIQur’an dan Sunnah.”7

Terlebih Syaikh Sulaiman ini menyadari kesalahannya dan kembali kepada kebenaran sebagai nampak pada risalahnya kepada Hamd bin Muhammad atTuwaijiri dan Ahmad bin Muhammad, keduanya anak Utsman bin Syabanah.8

Syaikh Dahlan mengatakan kalau Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab termasuk Khawarij yang telah diperingatkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , dalam hadits haditsnya. Dikarenakan pada hadits-hadits tersebut terdapat kata “Najd”, fitnah muncul dan timur, dan semacamnya.
Quote
 
0
ltulah sumber primer yang dapat dijadikan bukti, apakah tuduhan anda benar? Ternyata tidak ada referensi yang disebutkan. mi menandakan tuduhan anda dusta dan justru kalau disebutkan akan membongkar kedustaan anda yang parah ini. Sejatinya tanpa disebutkan pun sudah jelas sekali bagi orang yang diberi akal sehat dan hati yang bersih, bahwa tuduhan itu dusta. Mustahil Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan itu, karena beliau dikenal luas sebagai da’i bahkan tokoh terdepan pendakwah tauhid di jazirah pada masanya tanpa ada yang memungkiri dan kalangan ulama yang shalih.

Tidakkah Dahlan membaca karya-karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang sudah dikenal? Padahal dia sendiri tinggal di Makkah?! Dan tidak ada satu pun karya beliau yang membenarkan tuduhan anda.

Dengan demikian, untuk membongkar kedustaan mi tidak perlu terlalu bersusah payah. Tanpa dibongkar saja sudah nampak jelas kedustaannya.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri sudah tahu dan memahami benar tuduhan-tuduhan tersebut. Beliau hanya berucap, “ini kedustaan yang sangat besar.” ini dapat diketahui dan tulisan-tulisan beliau kepada para tokoh sezaman nya. OIeh karena Syaikh menjelaskan aqidahnya sekaligus membantah tuduhan dusta tadi.

Inilah risalah beliau kepada penduduk Qashim. Usai membaca basmalah beliau berkata,

“Aku mempersaksikan kepada Allah, para malaikat, dan kalian bahwa aku meyakini apa yang diyakini firqah najiyah (golongan yang selamat) Ahlus Sunnah wal Jama’ah— yaitu beriman kepada AIloh, para malaikat, kitab, para rasul-Nya, hari kebangkitan, dan takdir yang baik ataupun yang buruk. Termasuk iman kepada Alloh adalah mengimani sifat-sifat yang Alloh sifatkan pada Diri-Nya yang terdapat pada kitab-Nya dan yang disabdakan rasul-Nya tanpa mentahrif dan menta’thil. Bahkan aku meyakini kalau AlIoh tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya… Dan aku meyakini, aI-Qur’an adalah kalam AIloh, diturunkan bukan makhluk, dari-Nya berasal dan kepada-Nya akan kembali. Dia benar-benar berbicara dan menu runkan al-Qur’an ini kepada hamba, rasul, orang yang terpercaya mengemban wahyuNya, dan yang menjadi perantara antar-Nya dan para hamba-Nya. Hamba itu adalah nabi kita Muhammad… Aku meyakini semua yang dikhabarkan Nabi sesudah mati. Aku mengimani telaga nabi kita Muhammad… Aku mengimani syafa’at Nabi . Beliau adalah orang yang pertama kali memberi syafa’at dan yang diberi izin untuk memberi syafa’at. Tidak ada yang mengingkari syafa’at ini kecuali ahli bid’ah dan orang yang sesat. Tetapi syafa’at ml harus seizin dan ridha Alloh. Aku mengimani bahwa nabi kita Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir. Tidak sah keimanan seseorang sehingga mengimani risalah dan kenabiannya. Orang yang paling utama setelah Nabi adalah Abu Bakar ash-Shiddiq , lalu Umar al-Faruq , Utsman pemilik dua cahaya, dan Ali bin Abi Thalib * .

Aku tidak mempersaksikañ bagi seseorang masuk surga atau neraka kecuali telah dipersaksikan oleh Rasulullah . Aku tidak mengkafirkan seorang muslim pun karena dosanya dan aku keluarkan dan lingkup Islam… lnilah aqidah ringkas yang kupàparkan, karena pikiranku sedang sibuk, agar kalian dapat mengetahui apa yang ada pada diriku. Dan Alloh adalah saksi atas apa yang aku katakan.

Kemudian tidak samar bagi kalian, aku telah mendengar bahwa risalah Sulaiman bin Suhaim telah sampai kepada kalian. Sebagian orang yang mengaku memiliki ilmu di antara kalian telah membenarkan omongannya. Dan Alloh mengetahui orang tersebut telah banyak membuat-buat kedustaan atasku yang aku tidak mengatakannya dan kebanyakanya tidak terlintas sama sekali di pikiranku.

Di antara kedustaan itu, Aku dikatakan membuang kitab-kitab madzhab empat, aku mengatakan, manusia sejak enam ratus tahun tidak berada dalam suatu agama, aku mengklaim ijtihad, aku keluar dan taqlid, perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah bencana, aku mengkafirkan orang yang bertawassul dengan orang-orang shalih, aku mengkafirkan Bushiri karena mengucapkan, ‘Wahai makhluk paling mulia…’, aku mengatakan, kalau aku mampu menghancurkan kubah yang ada di atas kubur Rasulullah niscaya aku hancurkan, andaikan aku memiliki kekuatan tentu tiang-tiang Ka’bah aku ganti dengan kayu, aku haramkan ziarah kubur Nabi, aku ingkari ziarah kubur orang tua, aku kafirkan orang bersumpah dengan selain Alloh, aku kafirkan lbnul Faridh dan lbnu Arabi, aku bakar kitab Dala’il Khairat dan Raudhu Riyahiin, dan aku ganti nàmañya menjadi Raudhusy Syayathiin.
Quote
 
0
2. Membuat Kedustaan atas Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

a. Dahlan mengatakan, “Yang nampak dan keadaan Muhammad bin Abdul Wahhab bahwasanya dia mengaku sebagai nabi.” (hal. 50).

b. Katanya pula, “Dia juga menyuruh wanita untuk mencukur rambut para wanita pengikutnya.” (hal. 54, lihat Hadzihi Mafahimuna, Syaikh Shalih Alu Syaikh, hal. 6)

c. Katanya pula, “Dia (Muhammad bin Abdul Wahhab) berkhutbah di masjid-masjid dan berkata dalam setiap khutbahnya, ‘Barangsiapa bertawassul dengan Nabi saw dia adalah kafir.” (hal 96, terjemah).

d. Katanya, “Sulaiman bin Abdul ; Wahhab yang berilmu banyak, saudara Muhammad bin Abdul Wahhab adalah orang yang selalu mengingkari dengan ingkar yang sangat terhadap apa yang dia kerjakan dan perintahkan…. Pada suatu hari Sulaiman bertanya kepadanya, “Wahai Muhammad bin Abdul Wahhab, berapakah rukun Islam itu?” Dia menjawab, “Lima.” Lalu Sulaiman berkata kepadanya, “Akan tetapi kamu menjadikannya enam, rukun Islam yang keenam itu menurutmu ialah barangsiapa yang tidak menganutmu maka dia bukan orang Islam.” (hal. 96, terjemah)

e.Katanya lagi, “Ada orang bertanya, ‘Wahai Muhammad bin Abdul Wahhab, apakah agama yang didatangkan ini muttashil (tersambung) atau muntashil (terputus)?’ Dia menjawab, ‘Bahkan para guruku dan guru-guru mereka hingga enam ratus tahun sebelumnya, semuanya adalah musyrik.’ Laki-laki tadi bertanya, ‘Lalu dari siapakah kamu mengambilnya?’ Dia menjawab, ‘Dan wahyu ilham seperti Khidhir.” (hal. 97, terjemah).

f. Ada seorang muadzin buta yang bersuara bagus mengucapkan shalawat di atas menara padahal telah dilarang, maka Iangsung diperintahkan untuk dibunuh. Kata Muhammad bin Abdul Wahhab, “Perempuan perempuan yang berzina di rumah pelacuran adalah lebih sedikit dosanya daripada para muadzin yang melakukan adzan di menara-menara dengan membaca shalawat atas nabi.” (hal. 99)

g. Guru-gurunya memiliki firasat bahwa pada din Muhammad bin Abdul Wahhab ada tanda-tanda menjadi seorang pencela agama dan penyesat. (hal. 102) .

h. Menggolongkan Wahabi ke dalam kelompok Khawarij dengan memanipulasi hadits-hadits tentang Khawarij, dan masih banyak lagi.
Membongkar Kedustaan

Betapa murahnya kedustaan itu sehingga Dahlan sangat berani mengobralnya. Tidak takutkah dia akan siksa neraka?! Alloh berfirman:

“ Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. al-Ahzab: 58)

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , bersabda:

“ Bagi orang yang mengklaim sesuatu harus mendatangkan bukti. (Shahih, HR. Baihaqi 10/252, dan asalnya terdapat pada Shahihain, dihasankan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari)

Sekarang kita tanyakan kepada si penuduh ini, di kitab mana Syaikh mengatakan semua itu tadi, atau kapan ceramah itu terjadi dan siapa saksi anda?
Quote
 
0
Ulasan berikut ini Iebih banyak menyoroti kedustaan kitab tersebut, karena apabila suatu kitab sarat dengan kedustaan otomatis jatuhlah nilai ilmiah dan kredibilitasnya dan serta merta tidak layak bahkan haram dijadikan referensi (3) Oleh karena itu pulalah Syaikh Muhammad Rasyid Ridha berkomentar, “Kitab (Dahlan) ini hanya berputar pada dua hal: kedustaan terhadap SyaikhMuhammad bin Abdul Wahhab dan kejahilan dengan menyalahkan Syaikh padahal beliau benar.”4

1) Menggunakan HaditsHadits Dhaif dan Palsu untuk Melegalkan Pendapatnva.

Kitab ini membahas banyak hal seperti ziarah kubur Rasulullah , tawassul dengan beliau, meminta syafa’at kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan mencari berkah dengan orang-orang shalih. Permasalahan tersebut pernah dimuat beserta bantahan syubhatnya, jadi tidak perlu diulas lagi.(5) Namun sebagai bukti saya sebutkan beberapa hadits yang dipakai dan dinyatakan shahih oleh Dahlan.

“Siapa yang menziarahi kuburku maka wajib mendapatkan syafa’atku “.

“ Siapa yang menziarahiku setelah matiku seakan-akan dia menziarahiku pada masa hidupku.

Siapa yang berhaji ke Baitullah namun tidak menziarahiku maka sungguh di telah menyepelekanku”.

Hadits pertama dan kedua munkar sedangkan yang ketiga palsu. (Periksa Talkhis Habir 3/902- 903 al-Hafizh lbnu Hajar, ash Sharimu Muhki fir Raddi ‘alas Subki mulai hal. 20 al-Hafizh Muhammad bin Abdul Hadi Nailul Authar 5/107 108 Imam Syaukani Irwa ul GhaIil 4/333-341 no. 1127 dan Silsilah 3 Ahaditsi Dha’ifah no. 47, keduanya oleh Syaikh al-Albani, Shiyanatul lnsan mulai hal. 49 Syaikh Muhammad Basyir as-Sahsawani).

Selain itu membolehkan berdo’a dan istighatsah kepada selain Alloh, seperti kepada para nabi dan orang-orang shalih yang telah meninggal. Memuat cerita cerita batil dan menyeret dalil sesuai selera nafsunya.
Quote
 
0
Di antara para da’i tauhid, bahkan merupakan tokohnya adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab . Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orangorang yang berkumpul dalam satu gerbong penentang dakwah tauhid, dakwah para nabi. Lantaran itu beliau mendapat rintangan dan permusuhan bahkan tuduhan dusta seperti yang dialami para nabi, terutama nabi kita Muhammad Shalallallahu alihi wa sallam .

Salah satu tokoh musuh dakwah ,tauhid ini adalah Ahmad Zaini Dahlan, penulis kitab di muka. Sejatinya, kesesatan dan kedustaan kitab ini sudah sangat jelas, bagaikan matahari di siang bolong. Masalahnya, kitab tersebut dijadikan rujukan dan disebarkan, sehingga masyarakat tertipu. Mungkin setali tiga uang dengan penyesatan yang dilakukan Amerika dan Barat dengan propaganda Islam identik dengan terorisme. Ambil contoh buku l’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah karya K.H. Siradjuddin Abbas, mulai hal. 309. Kyai ini menjadikan kitab diatas sebagai rujukan. Juga, buku Konsep Dasar Pengertian Ahlus Sunnah walJama’ah, Drs. K.H. Ach. Masduqi menjiplak tuduhan Siradjuddin Abbas. Terakhir, sebuah majalah Cahaya Nabawiy terbitan Ma’had Sunniyah Salafiyah Pasuruan, membuat judul yang hebat “Membongkar Kedok Wahabi”. Lagi-lagi rujukan yang dipakai adalah karya Dahlan seperti Fitnatul Wahhabiyyah, Daulah Utsmaniyyah, dan Khulashatul Kalam.

Kitab Dahlan tersebut telah diterjemahkan dengan judul Mutiara Bercahaya dalam Menolak Paham Wahabiterbitan PT. Garoeda Buana Indah Pasuruan.

Nampaknya terdapat benang merah antara para penentang itu yaitu mereka berada dalam satu grup yakni “NU / Tasawuf” . Dalam sejarahnya memang dikatakan, di antara motif yang melatari berdirinya organisasi NU/Tasawuf tersebut adalah untuk menghadang gerakan Wahabi.
Quote
 
0
Tinjauan kritis dari Kitab Mutiara Cahaya Dalam Menolak paham Wahabi ( Durarus Saniyah Fir Raddi Alal Wahabiyyah karangan Ahmad Zaini Dahlan

Sudah menjadi sunnatullah bila dakwah tauhid dan para da’inya akan dimusuhi oleh para penentang. Alloh sudah tegaskan hal itu dalam firman-Nya:

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perka taan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS. al-An’am: 112). Lihat juga surat al-Furqan ayat 31.
Quote
 
0
KEDUSTAAN TERHADAP SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB Rahimahullah
Quote
 
0
MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB GEMAR MEMBACA KITAB NABI PALSU ??
Quote
 
0
MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB GEMAR MEMBACA KITAB NABI PALSU??
Quote
 
0
MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB GEMAR MEMBACA KITAB NABI PALSU?
Quote
 
0
MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB GEMAR MEMBACA KITAB NABI PALSU??

Jawaban:

Syaikh Sulaiman bin Sahman berkata membantah tuduhan ini: “lni juga termasuk kebohongan dan kedustaan. Yang benar, beliau gemar membaca kitab-kitab tafsir dan hadits sebagaimana beliau katakan sendiri dalam sebagian jawabannya, ‘Dalam memahami Kitabulloh, kita dibantu dengan membaca kitab-kitab tafsir populer yang banyak beredar, yang paling bagus menurut kami adalah tafsir Muhammad bin Jarir ath-Thobari dan ringkasannya karya Ibnu Katsir asy-Syafi’i, demikian pula al-Baidhowi, aI-Baghowi, Al-Khozin, al-Jalalain, dan sebagainya. Adapun tentang hadits, kita dibantu dengan membaca syarah-syarah hadits seperti syarah al-Qostholani dan al-Asqolani terhadap Shohih al-Bukhori, an-Nawawi terhadap (Shohih) Muslim, al-Munawi terhadap al-jami’ ash-Shoghir, dan kitab-kitab hadits lainnya, khususnya kutub sittah (enam kitab induk hadits) beserta syarahnya, kita juga gemar menelaah seluruh kitab dalam berbagai bidang, ushul dan kaidah, siroh, shorof, nahwu, dan semua ilmu umat’.”
Quote
 
0
ini jelas2x tulisan provokator yang ingin memecah belah umat Islam, David sivetrus tidak jelas apakah dia muslim ato non muslim yg memancing di air keruh..membawa FITNAH yang keji..semoga ALLAH memberikan Hidayah buat mu DAVID
Quote
 
+3
Kenapa ya orang2 kafir suka mencapuri urusan orang islam yang satu dgn orang islam yang lainnya, padahal orang islam tidak pernah mencampuri urusan agama mereka, mungkin itu emang ajaran petinggi mereka kali ya....semoga petinggi mereka banyak yg masuk islam dan membawa jemaatnya..sepe rti pastur Nababan yg telah mengislamkan lebih dr 200 orang jemaatnya..Amii n..
Quote
 
0
Quoting Ananda Raden Pramud:
Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijuluki Al-Muhajirin. Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama besar sebelumnya telah mati kafir.

Kalau mau mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh. Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi SAW dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata : "Tongkatku ini masih lebih baikdari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali."

iNi bukti dr KESEMENAHAN PETiNGGi WAHABie


kalo mau fitnah belajar dulu mas jangan mengada2 soalnya ada pertangung jawabanya diakhirat...!!
Quote
 
0
Quoting rani:
:D wahabi itu adalah sekelompok orang2 yang bodoh dan tidak tau dengan islam , mereka itu lh orang2 yang kafir :cry: WAHABI ADALAH PENGHANCUR ISLAM :-)


Wahabi yang mana nih? Abdul Wahab bin Rustu yg dikenal sbg penganut khawarij,
atau orang yg difitnah wahabi yaitu Syehk Muhammad bin Abdul Wahab orang yg telah mengembalikan sunnah dan jauh dari bid'ah?
Pelajari buku2nya.
janganlah kita mengikuti sesuatu yg kita sendiri tidak tau. pentingnya cari tau!
Quote
 
0
Quoting muhammad yusuf:
Setahu saya sebagai umat Muslim dan tahu persis mengenai siapa yang paling berhak mengatakan itu bid'ah atau bukan haram atau halal hanya ALLAH SWT. Sebagai umat manusia biasa yang berdirinya masih diatas bumi dan numpang hidup di buminya ALLAH SWT tidak ada satu kewenangan pun untuk kaum manapun mengatakan sesuatu hal sesat kecuali ALLAH SWT.

Kalau saya berfikir secara logika dan akal sehat yang Insya Allah saya memohon selalu dalam perlindungan ALLAH SWT, kenapa untuk kegiatan Maulid atau apapun (Contoh memperingati kelahiran baginda Rasulullah SAW) dikatakan bid'ah sedangkan memperingati ulang tahun kita yang manusia biasa dikatakan tidak bid'ah. Sedangkan jelas dalam kitab ALLAH SWT yang sempurna yaitu AL-QUR'AN dijelaskan Nabi Muhammad adalah Nabi yang dimuliakan ALLAH Nabi akhir zaman, hanya untuk memperingati hari kelahiran manusia yang tinggi derajatnya dikatakan bid'ah.

Sungguh sesuatu hal yang aneh. Dalam sholat saja kita diwajibkan untuk membaca attahiyatul akhir yang salah satunya berisi sholawat kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Dalam Syahadat saja baginda Rasulullah MUHAMMAD SAW lah yang menjadi utusan ALLAH SWT. Lalu bagaimana bid'ah nya jika kita menyerukan dan meninggikan kalimah ALLAH SWT beserta utusannya.

Jika Maulid yang isinya menyerukan nama ALLAH SWT dan utusannya Nabi MUHAMMAD SAW di katakan bid'ah lalu kenapa orang yang bernyanyi diatas panggung sambil membuka paha yang entah apa yang dinyayikan tidak pernah dibubarkan seperti yang dilakukan kaum Wahabi di suatu daerah di pulau Jawa.

Allaahumma Shalli 'Alaa Muhammad, Allaahumma Shalli Wasallim 'Alaa Nabiyyinaa Muhammad


Kalaulah kesesatan itu hanya Allah yang berhak mengatakanya dan bid'ah itu tidak sesat, lalu untuk apa Nabi itu ada, bukan kah Nabi itu ada karna adanya kesesatan yg kemudian ia ditugaskan untuk menjelaskan mana yang sesat dan mana yg tidak?

apakah ucapan itu Nabi itu terputus karna Nabi sdh wafat?
Lalu untuk apa ada ulama? bukankah ulama itu adalah pengulang ucapan Nabi (ulama yg benar bukan ulama odong2, pentingnya mengenal siapa pembicaranya).

Rasululloh bersabda: "tidak sedikitpun dari apa apa yang bisa memasukan kedalam syurga dan menjauhi dari api neraka kecuali semuanya sudah dijelaskan."

dan Allah berfirman dlm surat Al Maidah ayat 3 yg artinya :"...Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu ni'matKu dan telah ku ridhoi islam itu jadi agama bagimu"
itu artinya islam sudah sempurna tidak perlu ditambah juga jangan dikurangi.
Allah menurunkan Al qur'an beserta sunah2nya sebagai penjelas.
dan Rasululloh berkata kalian sesekali tidak akan tersesat jika kalian memegang keduanya yaitu Al qur'an dan sunnah.
lalu apakah Allah jg menurunkan bid'ah?

3 generasi Allah jamin syurga dan pujian sebagai umat terbaik dalam Al-quran kepada sahabat Rasul dan para pengikut setelahnya.
apa mereka melakukan bid'ah?

Riwayat mengatakan bahwa Rasululloh bersabda :" siapa yg menyelisihi sunnah ku maka dia bukan umatku"
Riwayat lain mengatakan "siapa yang benci sunnah ku maka dia bukan umat ku"
karna menghidupkan bid'ah akan mematikan sunnah, percaya atau tidak?
orang yang menghidupkan sunnah adalah termasuk kedalam 11 katagori orang yg dido'akan ampun oleh Malaikat dan sebaliknya Malaikat melaknat orang yg melakukan ibadah yg tidak sesuai sunnah.
saudaraku kita beribadah harus sesuai dgn kemauan Allah yg sudah dijelaskan,
beribadahlah sesuai selera Allah dan jangan selera kita spt orang2 kufar.
kalau menurut kita ibadah bid'ah itu baik, belum tentu menurut Allah, walaupun yg dibaca adalah ayat2 Allah.

Intinya siapapun yg memegang teguh Al-qur'an dan sunnah dan beribadah sesuai tuntunan Nabi tentunya, apapun kelompoknya dia benar.
Quote
 
-1
Quoting asepsow:
Quoting damdararam:
sebetulnya saya senang dengan adanya tulisan ini...

membuka mata hati...... :)

terlalu naif bila "anak baru kemaren sore" mengkafirkan para Ulama besar.....

toh Bid'ah itu tidak sesat........

kenapa mengkafirkan sesama ummat Islam, tidak mengkafirkan yang sudah semestinya kafir????

annnnneeeehhhhh....... yang jelas, membuat para kaum muda muslimin n muslimah berfikir picik "terkurung" sebatas pemahaman ibadah dasar......., percaya atau tidak, senjata paling ampuh adalah "PEMIKIRAN", tak usah berperang, tak usah dialog (toh, kalo dialog, kebanyakan ditanya malah gak bisa jawab / ngawur / cenderung memaki), cukup dengan merasuki pemikiran / faham, maka massa akan saling menghancurkan dirinya sendiri..... :)

Semoga, Allah Azza wa Jalla akan selalu melimpahkan Rahmat dan Hidayahnya kepada semua ahlul bid'ah (seperti kata Wahabiyah)

ko bid'ah tidak sesat antum.. antum kajilagi yang bener masa bid'ah tidak sesat.


kalo bid'ah tidak sesat lalu bagaimana dengan sabda Nabi yg artinya: "dan seburuk-burukny a perbuatan adalah perkara yg diada adakan, dan katakalah setiap hal baru adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat dan setiap kesesatan adalah neraka tempatnya"
apa kalimat yg Nabi sabdakan itu tdk faham ataukah kaum tertentu yg mengatakan yg berarti sebelumnya Nabi tidak pernah mengucapkan?
Quote
 
-1
Kalo ga tau Wahabi itu apa, siapa orang pertama yang mengajarkannya, kemudian setelah zamannya di nisbatkan kepada siapa, sehingga adanya fitnah kepada orang yg justru tidak melakukan ajaran tsbt karna sebaliknya, ga usah ngomong, dasar BODOH!! saudaraku kalo mau tau tetang syehk Muhammad bin Abdul Wahab, saya kasih tau nama bukunya "ADA APA DENGAN WAHABI" karangan syehk Zamil Zenu.
saya harap pembaca tidak cuma mengetahui dr sumber orang yg ga jelas apalagi mengulang ucapannya tanpa kalian tahu cerita sebenarnya.

Pendiri Wahabi itu adalah Abdul Wahab bin Rustu lahir sekitar th 300H
Faham sesat Wahabi itu baru dikatakan oleh seorang syehk jg sekitar th 900H
Sedang Syehk Muhammad bin Abdul Wahab Lahir sekitar tahun 1100H

Bagaimana mungkin negara Arab membiarkan kalo yg disebut Wahabi itu adalah syehk Muhammad bin Abdul Wahab yg menjadi pengikut ajaran terbesar dinegaranya?

Rasulluloh berkata Allah melindungi 2 negeri yang tdk bs dimasuki oleh Dajal yaitu Mekkah dan Madinah.

Lalu apakah Allah akan membiarkannya kalo ajaran sesat itu menjadi ajaran terbesar disana?
Quote
 
0
apa bedanya penulis artikel ini dengan wahabi...

wong sama-sama tukang hujat...

trus apa bedanya pengikut wahabi dengan yang menganggap artikel ini benar...

sama-sama saling mengkafirkan toh... wkwkwkwkw

kalau anda-anda tidak saling mengkafirkan itu baru muslim sejati...
Quote
 
0
:D wahabi itu adalah sekelompok orang2 yang bodoh dan tidak tau dengan islam , mereka itu lh orang2 yang kafir :cry: WAHABI ADALAH PENGHANCUR ISLAM :-)
Quote
 
-1
intinya sejarah yang anda tulis itu tidak benar dan berbeda dengan sejarah aslinya. abdul wahab itu bukan kawarij dan kawarij bukan abdul wahab jadi jangan salah menilai..
Quote
 
+1
Quoting damdararam:
sebetulnya saya senang dengan adanya tulisan ini...

membuka mata hati...... :)

terlalu naif bila "anak baru kemaren sore" mengkafirkan para Ulama besar.....

toh Bid'ah itu tidak sesat........

kenapa mengkafirkan sesama ummat Islam, tidak mengkafirkan yang sudah semestinya kafir????

annnnneeeehhhhh....... yang jelas, membuat para kaum muda muslimin n muslimah berfikir picik "terkurung" sebatas pemahaman ibadah dasar......., percaya atau tidak, senjata paling ampuh adalah "PEMIKIRAN", tak usah berperang, tak usah dialog (toh, kalo dialog, kebanyakan ditanya malah gak bisa jawab / ngawur / cenderung memaki), cukup dengan merasuki pemikiran / faham, maka massa akan saling menghancurkan dirinya sendiri..... :)

Semoga, Allah Azza wa Jalla akan selalu melimpahkan Rahmat dan Hidayahnya kepada semua ahlul bid'ah (seperti kata Wahabiyah)

ko bid'ah tidak sesat antum.. antum kajilagi yang bener masa bid'ah tidak sesat.
Quote
 
0
hati2 wahai ikhwah, ini sdh pasti blog orang kafir yang ingin memecah belah umat islam. terlihat dari berbagai tulisan2 di blog ini yang saling kontradiktif. contoh tulisan yang berjudul : "Walisongo Penyebar Ajaran Setan Perusak Islam dan Nusantara". dalam tulisan tersebut walisongo habis dihujat, dihina, dan difitnah. tapi dalam tulisan ini walisongo dibela habis-habisan. Ini tidak lain adalah upaya provokatif yang dilakukan oleh para musuh2 Islam. Sabar wahai ikhwah! jangan terpancing dan mudah terprovokasi. Persatuan islam jauh lebih penting untuk diperjuangkan, daripada hanya mengurusi masalah2 dalam ranah khilafiyah furu'iyah. kuatkan iman kalian, tingkatkan kualitas takwa kepada Allah, dan rapatkan barisan untuk melawan musuh-musuh Islam. Hasbunallah wa ni'mal wakiil, ni'mal maula wa ni'man nashiir.
Quote
 
0
ALLAH SWT..mengutus Rasulullah sebagai penyempurna Akhlaq...Tebark anlah senyum...suarak an kebaikan...Luru skan perbuatan...Jad ikanlah diri kita menjadi tauladan dan contoh yang penuh kebaikan...BAIK KAN SIKAP DAN DIRI KITA UNTUK KEBAIKAN DIKEHIDUPAN KITA..dan LINGKUNGAN KITA...
Quote
 
+1
Pernahkah MAW mengajak meninggalkan shalat? zakat? puasa? haji?.. pernahkah MAW mengajak menyekutukan Allah? meninggalkan Sunah Nabi? atau mencaci para Sahabat? jika belum pernah tahu sebaiknya DIAM. Ingat? anda membicarakan, anda memberitakan, anda menghujat... semua akan ada pertanggungjawa ban di sisi Allah.
Quote
 
+1
Wikipedia Saja Jujur dalam Menyampaikan Sejarah Wahhabi
28 Sep
Muhammad bin ʿAbd al-Wahhāb (1115 – 1206 H/1701 – 1793 M) (bahasa Arab:محمد بن عبد الوهاب التميمى) adalah seorang ahli teologi agama Islam dan seorang tokoh pemimpin gerakan keagamaan yang pernah menjabat sebagai mufti Daulah Su’udiyyah, yang kemudian berubah menjadi Kerajaan Arab Saudi.
Para pendukung pergerakan ini sering disebut Wahabbi, namun mereka lebih memilih untuk menyebut diri mereka sebagai Salafis atau Muwahhidun, yang berarti “satu Tuhan”.

Muhammad bin ʿAbd al-Wahhāb, yang memiliki nama lengkap Muhammad bin ʿAbd al-Wahhāb bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin Muhammad bin al-Masyarif at-Tamimi al-Hambali an-Najdi.
Muhammad bin ʿAbd al-Wahhāb, adalah seorang ulama berusaha membangkitkan kembali pergerakan perjuangan Islam secara murni. Para pendukung pergerakan ini sesungguhnya menolak disebut Wahabbi, karena pada dasarnya ajaran Ibnu Wahhab menurut mereka adalah ajaran Nabi Muhammad, bukan ajaran tersendiri. Karenanya mereka lebih memilih untuk menyebut diri mereka sebagai Salafis atau Muwahhidun, yang berarti “satu Tuhan”.
Istilah Wahhabi sering menimbulkan kontroversi berhubung dengan asal-usul dan kemunculannya dalam dunia Islam. Umat Islam umumnya terkeliru dengan mereka kerana mereka mendakwa mazhab mereka menuruti pemikiran Ahmad ibn Hanbal dan alirannya, al-Hanbaliyyah atau al-Hanabilah yang merupakan salah sebuah mazhab dalam Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah.
Nama Wahhabi atau al-Wahhabiyyah kelihatan dihubungkan kepada nama ‘Abd al-Wahhab iaitu bapa kepada pengasasnya, al-Syaikh Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab al-Najdi. Bagaimanapun, nama Wahhabi dikatakan ditolak oleh para penganut Wahhabi sendiri dan mereka menggelarkan diri mereka sebagai golongan al-Muwahhidun(3 ) (unitarians) kerana mereka mendakwa ingin mengembalikan ajaran-ajaran tawhid ke dalam Islam dan kehidupan murni menurut sunnah Rasulullah. Dia mengikat perjanjian dengan Muhammad bin Saud, seorang pemimpin suku di wilayah Najd. Sesuai kesepakatan, Ibnu Saud ditunjuk sebagai pengurus administrasi politik sementara Ibnu Abdul Wahhab menjadi pemimpin spiritual. Sampai saat ini, gelar “keluarga kerajaan” negara Arab Saudi dipegang oleh keluarga Saud. Namun mufti umum tidak selalu dari keluarga Ibnu abdul wahhab misalnya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz.
Masa Kecil
Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dilahirkan pada tahun 1115 H (1701 M) di kampung Uyainah (Najd), lebih kurang 70 km arah barat laut kota Riyadh, ibukota Arab Saudi sekarang. Ia tumbuh dan dibesarkan dalam kalangan keluarga terpelajar. Ayahnya adalah seorang tokoh agama di lingkungannya. Sedangkan abangnya adalah seorang qadhi (mufti besar), tempat di mana masyarakat Najd menanyakan segala sesuatu masalah yang bersangkutan dengan agama.
Sebagaimana lazimnya keluarga ulama, maka Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab sejak masih kanak-kanak telah dididik dengan pendidikan agama, yang diajar sendiri oleh ayahnya, Syeikh Abdul Wahhab. Berkat bimbingan kedua orangtuanya, ditambah dengan kecerdasan otak dan kerajinannya, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab berhasil menghafal 30 juz al-Quran sebelum ia berusia sepuluh tahun. Setelah itu, beliau diserahkan oleh orangtuanya kepada para ulama setempat sebelum akhirnya mereka mengirimnya untuk belajar ke luar daerah
Saudara kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, menceritakan betapa bangganya Syeikh Abdul Wahab, ayah mereka, terhadap kecerdasan Muhammad. Ia pernah berkata, “Sungguh aku telah banyak mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan anakku Muhammad, terutama di bidang ilmu Fiqh”.
Setelah mencapai usia dewasa, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab diajak oleh ayahnya untuk bersama-sama pergi ke tanah suci Mekkah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima – mengerjakan haji di Baitullah. Ketika telah selesai menunaikan ibadah haji, ayahnya kembali ke Uyainah sementara Muhammad tetap tinggal di Mekah selama beberapa waktu dan menimba ilmu di sana. Setelah itu, ia pergi ke Madinah untuk berguru kepada ulama disana. Di Madinah, ia berguru pada dua orang ulama besar yaitu Syeikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif an-Najdi dan Syeikh Muhammad Hayah al-Sindi.
Kehidupannya di Madinah
Ketika berada di kota Madinah, ia melihat banyak umat Islam di sana yang tidak menjalankan syariat dan berbuat syirik, seperti mengunjungi makam Nabi atau makam seorang tokoh agama, kemudian memohon sesuatu kepada kuburan dan penguhuninya. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang mengajarkan manusia untuk tidak meminta selain kepada Allah.
Hal ini membuat Syeikh Muhammad semakin terdorong untuk memperdalam ilmu ketauhidan yang murni (Aqidah Salafiyah). Ia pun berjanji pada dirinya sendiri, ia akan berjuang dan bertekad untuk mengembalikan aqidah umat Islam di sana kepada akidah Islam yang murni (tauhid), jauh dari sifat khurafat, tahayul, atau bidah.
Belajar dan berdakwah di Basrah
Setelah beberapa lama menetap di Mekah dan Madinah, ia kemudian pindah ke Basrah. Di sini beliau bermukim lebih lama, sehingga banyak ilmu-ilmu yang diperolehinya, terutaman di bidang hadits dan musthalahnya, fiqih dan usul fiqhnya, serta ilmu gramatika (ilmu qawaid). Selain belajar, ia sempat juga berdakwah di kota ini.
Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab memulai dakwahnya di Basrah, tempat di mana beliau bermukim untuk menuntut ilmu ketika itu. Akan tetapi dakwahnya di sana kurang bersinar, karena menemui banyak rintangan dan halangan dari kalangan para ulama setempat.
Di antara pendukung dakwahnya di kota Basrah ialah seorang ulama yang bernama Syeikh Muhammad al-Majmu’i. Tetapi Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab bersama pendukungnya mendapat tekanan dan ancaman dari sebagian ulama yang dituduhnya sesat. Akhirnya beliau meninggalkan Basrah dan mengembara ke beberapa negeri Islam untuk menyebarkan ilmu dan pengalamannya.
Setelah beberapa lama, beliau lalu kembali ke al-Ahsa menemui gurunya Syeikh Abdullah bin `Abd Latif al-Ahsai untuk mendalami beberapa bidang pengajian tertentu yang selama ini belum sempat dipelajarinya. Di sana beliau bermukim untuk beberapa waktu, dan kemudian ia kembali ke kampung asalnya Uyainah.
Pada tahun 1139H/1726M, bapanya berpindah dari ‘Uyainah ke Huraymilah dan dia ikut serta dengan bapanya dan belajar kepada bapanya. Tetapi beliau masih meneruskan tentangannya yang kuat terhadap amalan-amalan agama di Najd. Hal ini yang menyebabkan adanya pertentangan dan perselisihan yang hebat antara beliau dengan bapanya yang Ahlussunnah wal jama’ah (serta penduduk-pendud uk Najd). Keadaan tersebut terus berlanjut hingga ke tahun 1153H/1740M, saat bapanya meninggal dunia.
Perjuangan memurnikan aqidah Islam
Sejak dari itu, Syeikh Muhammad tidak lagi terikat. Dia bebas mengemukakan akidah-akidahny a sekehendak hatinya, menolak dan mengesampingkan amalan-amalan agama yang dilakukan umat islam saat itu dengan sikap toleransi dan saling menghargai perbedaan pendapat .
Melihat keadaan umat islam yang sudah melanggar akidah, ia mulai merencanakan untuk menyusun sebuah barisan ahli tauhid (muwahhidin) yang diyakininya sebagai gerakan memurnikan dan mengembalikan akidah Islam. Oleh lawan-lawannya, gerakan ini kemudian disebut dengan nama gerakan Wahabiyah.
Muhammad bin Abdul Wahab memulai pergerakan di kampungnya sendiri, Uyainah. Ketika itu, Uyainah diperintah oleh seorang Amir (penguasa) bernama Usman bin Muammar. Amir Usman menyambut baik ide dan gagasan Syeikh Muhammad, bahkan beliau berjanji akan menolong dan mendukung perjuangan tersebut.
Suatu ketika, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab meminta izin pada Amir Uthman untuk menghancurkan sebuah bangunan yang dibina di atas maqam Zaid bin al-Khattab. Zaid bin al-Khattab adalah saudara kandung Umar bin al-Khattab, Khalifah Rasulullah yang kedua. Membuat bangunan di atas kubur menurut pendapatnya dapat menjurus kepada kemusyrikan.
Amir menjawab “Silakan… tidak ada seorang pun yang boleh menghalang rancangan yang mulia ini.” Tetapi Sbeliau khuatir masalah itu kelak akan dihalang-halang i oleh penduduk yang tinggal berdekatan maqam tersebut. Lalu Amir menyediakan 600 orang tentara untuk tujuan tersebut bersama-sama Syeikh Muhammad merobohkan maqam yang dikeramatkan itu.
Sebenarnya apa yang mereka sebut sebagai makam Zaid bin al-Khattab ra. yang gugur sebagai syuhada’ Yamamah ketika menumpaskan gerakan Nabi Palsu (Musailamah al-Kazzab) di negeri Yamamah suatu waktu dulu, hanyalah berdasarkan prasangka belaka. Karena di sana terdapat puluhan syuhada’ (pahlawan) Yamamah yang dikebumikan tanpa jelas lagi pengenalan mereka.
Bisa saja yang mereka anggap makam Zaid bin al-Khattab itu adalah makam orang lain. Tetapi oleh karena masyarakat setempat di situ telah terlanjur beranggapan bahwa itulah makam beliau, mereka pun mengkeramatkann ya dan membina sebuah masjid di dekatnya. Makam itu kemudian dihancurkan oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab atas bantuan Amir Uyainah, Uthman bin Muammar.
Pergerakan Syeikh Muhammad tidak berhenti sampai disitu, ia kemudian menghancurkan beberapa makam yang dipandangnya berbahaya bagi ketauhidan. Hal ini menurutnya adalah untuk mencegah agar makam tersebut tidak dijadikan objek peribadatan oleh masyarakat Islam setempat.
Berita tentang pergerakan ini akhirnya tersebar luas di kalangan masyarakat Uyainah mahupun di luar Uyainah.
Ketika pemerintah al-Ahsa’ mendapat berita bahwa Muhammad bin’Abd al-Wahhab mendakwahkan pendapat, dan pemerintah ‘Uyainah pula menyokongnya, maka kemudian memberikan peringatan dan ancaman kepada pemerintah’Uyai nah. Hal ini rupanya berhasil mengubah pikiran Amir Uyainah. Ia kemudian memanggil Syeikh Muhammad untuk membicarakan tentang cara tekanan yang diberikan oleh Amir al-Ahsa’. Amir Uyainah berada dalam posisi serba salah saat itu, di satu sisi dia ingin mendukung perjuangan syeikh tapi di sisi lain ia tak berdaya menghadapi tekanan Amir al-Ihsa. Akhirnya, setelah terjadi perdebatan antara syeikh dengan Amir Uyainah, di capailah suatu keputusan: Syeikh Muhammad harus meninggalkan daerah Uyainah dan mengungsi ke daerah lain.
Dalam bukunya yang berjudul Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab,Da’watuhu Wasiratuhu, Syeikh Muhammad bin `Abdul `Aziz bin `Abdullah bin Baz, beliau berkata: “Demi menghindari pertumpahan darah, dan karena tidak ada lagi pilihan lain, di samping beberapa pertimbangan lainnya maka terpaksalah Syeikh meninggalkan negeri Uyainah menuju negeri Dariyah dengan menempuh perjalanan secara berjalan kaki seorang diri tanpa ditemani oleh seorangpun. Ia meninggalkan negeri Uyainah pada waktu dini hari, dan sampai ke negeri Dariyah pada waktu malam hari.” (Ibnu Baz, Syeikh `Abdul `Aziz bin `Abdullah, m.s 22)
Tetapi ada juga tulisan lainnya yang mengatakan bahwa: Pada mulanya Syeikh Muhammad mendapat dukungan penuh dari pemerintah negeri Uyainah Amir Uthman bin Mu’ammar, namun setelah api pergerakan dinyalakan, pemerintah setempat mengundurkan diri dari percaturan pergerakan karena alasan politik (besar kemungkinan takut dipecat dari kedudukannya sebagai Amir Uyainah oleh pihak atasannya). Dengan demikian, tinggallah Syeikh Muhammad dengan beberapa orang sahabatnya yang setia untuk meneruskan dakwahnya. Dan beberapa hari kemudian, Syeikh Muhammad diusir keluar dari negeri itu oleh pemerintahnya.
Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab kemudian pergi ke wilayah Dir’iyyah.
Kehidupannya di Dir’iyyah
Sesampainya Syeikh Muhammad di sebuah kampung wilayah Dir’iyyah, yang tidak berapa jauh dari tempat kediaman Amir Muhammad bin Saud (pemerintah wilayah Dir’iyyah), Syeikh menemui seorang penduduk di kampung itu, orang tersebut bernama Muhammad bin Suwailim al-`Uraini. Bin Suwailim ini adalah seorang yang dikenal soleh oleh masyarakat setempat. Syeikh kemudian meminta izin untuk tinggal bermalam di rumahnya sebelum ia meneruskan perjalanannya ke tempat lain. Pada awalnya ia ragu-ragu menerima Syeikh di rumahnya, karena suasana Dir’iyyah dan sekelilingnya pada waktu itu tidak aman. Namun, setelah Syeikh memperkenalkan dirinya serta menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke negeri Dir’iyyah, yaitu hendak menyebarkan dakwah Islamiyah dan membenteras kemusyrikan, barulah Muhammad bin Suwailim ingin menerimanya sebagai tamu di rumahnya.
Peraturan di Dir’iyyah ketika itu mengharuskan setiap pendatang melaporkan diri kepada penguasa setempat, maka pergilah Muhammad bin Suwailim menemui Amir Muhammad untuk melaporkan kedatangan Syeikh Abdul Wahab yang baru tiba dari Uyainah serta menjelaskan maksud dan tujuannya kepada beliau. Namun mereka gagal menemui Amir Muhammad yang saat itu tidak ada di rumah, mereka pun menyampaikan pesan kepada amir melalui istrinya.
Istri Ibnu Saud ini adalah seorang wanita yang soleh. Maka, tatkala Ibnu Saud mendapat giliran ke rumah isterinya ini, sang istri menyampaikan semua pesan-pesan itu kepada suaminya. Selanjutnya ia berkata kepada suaminya: “Bergembiralah kakanda dengan keuntungan besar ini, keuntungan di mana Allah telah mengirimkan ke negeri kita seorang ulama, juru dakwah yang mengajak masyarakat kita kepada agama Allah, berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah RasulNya. Inilah suatu keuntungan yang sangat besar, janganlah ragu-ragu untuk menerima dan membantu perjuangan ulama ini, mari sekarang juga kakanda menjemputnya kemari.”
Namun baginda bimbang sejenak, ia bingung apakah sebaiknya Syeikh itu dipanggil datang menghadapnya, atau dia sendiri yang harus datang menjemput Syeikh untuk dibawa ke tempat kediamannya? Baginda pun kemudian meminta pandangan dari beberapa penasihatnya tentang masalah ini. Isterinya dan para penasihatnya yang lain sepakat bahwa sebaiknya baginda sendiri yang datang menemui Syeikh Muhammad di rumah Muhammad bin Sulaim. Baginda pun menyetujui nasihat tersebut. Maka pergilah baginda bersama beberapa orang pentingnya ke rumah Muhammad bin Suwailim, di mana Syeikh Muhammad bermalam.
Sesampainya baginda di rumah Muhammad bin Suwailim, amir Ibnu Saud memberi salam dan dibalas dengan salam dari Syeikh dan bin Suwalim. Amir Ibnu Saud berkata: “Ya Syeikh! Bergembiralah anda di negeri kami, kami menerima dan menyambut kedatangan anda di negeri ini dengan penuh gembira. Dan kami berjanji untuk menjamin keselamatan dan keamanan anda di negeri ini dalam menyampaikan dakwah kepada masyarakat Dir’iyyah. Demi kejayaan dakwah Islamiyah yang anda rencanakan, kami dan seluruh keluarga besar Ibnu Saud akan mempertaruhkan nyawa dan harta untuk berjuang bersama-sama anda demi meninggikan agama Allah dan menghidupkan sunnah RasulNya, sehingga Allah memenangkan perjuangan ini, Insya Allah!”
Kemudian Syeikh menjawab: “Alhamdulillah, anda juga patut gembira, dan Insya Allah negeri ini akan diberkati Allah Subhanahu wa Taala. Kami ingin mengajak umat ini kepada agama Allah. Siapa yang menolong agama ini, Allah akan menolongnya. Dan siapa yang mendukung agama ini, nescaya Allah akan mendukungnya. Dan Insya Allah kita akan melihat kenyataan ini dalam waktu yang tidak begitu lama.” Demikianlah seorang Amir (penguasa) tunggal negeri Dir’iyyah, yang bukan hanya sekadar membela dakwahnya saja, tetapi juga sekaligus melindungi darahnya bagaikan saudara kandung sendiri, yang berarti di antara Amir dan Syeikh sudah bersumpah setia sehidup-semati, dan senasib-sepenan ggungan, dalam menegakkan hukum Allah dan RasulNya di bumi Dir’iyyah. Ternyata apa yang diikrarkan oleh Amir Ibnu Saud itu benar-benar ditepatinya. Ia bersama Syeikh seiring sejalan, bahu-membahu dalam menegakkan kalimah Allah, dan berjuang di jalanNya.
Nama Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dengan ajaran-ajaranny a itu sudah begitu terdengar di kalangan masyarakat, baik di dalam negeri Dir’iyyah maupun di negeri-negeri tetangga. Masyarakat luar Dir’iyyah pun berduyun-duyun datang ke Dir’iyyah untuk menetap dan tinggal di negeri ini, sehingga negeri Dir’iyyah penuh sesak dengan kaum muhajirin dari seluruh pelosok tanah Arab. Ia pun mulai membuka madrasah dengan menggunakan kurikulum yang menjadi modal utama bagi perjuangan beliau, yang meliputi disiplin ilmu Aqidah al-Qur’an, tafsir, fiqh, usul fiqh, hadith, musthalah hadith, gramatikanya (nahwu-shorof) dan lain-lain.
Dalam waktu yang singkat , Dir’iyyah telah menjadi kiblat ilmu dan tujuan mereka yang hendak mempelajari Islam. Para penuntut ilmu, tua dan muda, berduyun-duyun datang ke negeri ini. Di samping pendidikan formal (madrasah), diadakan juga dakwah yang bersifat terbuka untuk semua lapisan masyarakat. Gema dakwah beliau begitu membahana di seluruh pelosok Dir’iyyah dan negeri-negeri jiran yang lain. Kemudian, Syeikh mulai menegakkan jihad, menulis surat-surat dakwahnya kepada tokoh-tokoh tertentu untuk bergabung dengan barisan Muwahhidin yang dipimpin oleh beliau sendiri. Hal ini dalam rangka pergerakan pembaharuan tauhid demi membasmi syirik, bidah dan khurafat di negeri mereka masing-masing. Untuk langkah awal pergerakan itu, beliau memulai di negeri Najd. Ia pun mula mengirimkan surat-suratnya kepada ulama-ulama dan penguasa-pengua sa di sana.
Berdakwah Melalui Surat-menyurat
Syeikh menempuh pelbagai macam dan cara, dalam menyampaikan dakwahnya, sesuai dengan keadaan masyarakat yang dihadapinya. Di samping berdakwah melalui lisan, beliau juga tidak mengabaikan dakwah secara pena dan pada saatnya juga jika perlu beliau berdakwah dengan besi (pedang).
Maka Syeikh mengirimkan suratnya kepada ulama-ulama Riyadh dan para umaranya, salah satunya adalah Dahham bin Dawwas. Surat-surat itu dikirimkannya juga kepada para ulama dan penguasa-pengua sa. Ia terus mengirimkan surat-surat dakwahnya itu ke seluruh penjuru Arab, baik yang dekat ataupun jauh. Di dalam surat-surat itu, beliau menjelaskan tentang bahaya syirik yang mengancam negeri-negeri Islam di seluruh dunia, juga bahaya bid’ah, khurafat dan tahyul.
Berkat hubungan surat menyurat Syeikh terhadap para ulama dan umara dalam dan luar negeri, telah menambahkan kemasyhuran nama Syeikh sehingga beliau disegani di antara kawan dan lawannya, hingga jangkauan dakwahnya semakin jauh berkumandang di luar negeri, dan tidak kecil pengaruhnya di kalangan para ulama dan pemikir Islam di seluruh dunia, seperti di Hindia, Indonesia, Pakistan, Afganistan, Afrika Utara, Maghribi, Mesir, Syria, Iraq dan lain-lain lagi.
Memang cukup banyak para da’i dan ulama di negeri-negeri tersebut, tetapi pada waktu itu kebanyakan dari mereka tidak fokus untuk membasmi syirik dalam dakwahnya, meskipun mereka memiliki ilmu-ilmu yang cukup memadai.
Demikian banyaknya surat-menyurat di antara Syeikh dengan para ulama baik di dalam dan luar Jazirah Arab, sehingga menjadi dokumen yang amat berharga sekali. Akhir-akhir ini semua tulisan beliau, yang berupa risalah, maupun kitab-kitabnya, sedang dihimpun untuk dicetak dan sebagian sudah dicetak dan disebarkan ke seluruh pelosok dunia Islam, baik melalui Rabithah al-`Alam Islami, maupun dari pihak kerajaan Saudi sendiri (di masa mendatang). Begitu juga dengan tulisan-tulisan dari putera-putera dan cucu-cucu beliau serta tulisan-tulisan para murid-muridnya dan pendukung-pendu kungnya yang telah mewarisi ilmu-ilmu beliau. Di masa kini, tulisan-tulisan beliau sudah tersebar luas ke seluruh pelosok dunia Islam.
Dengan demikian, jadilah Dir’iyyah sebagai pusat penyebaran dakwah kaum Muwahhidin (gerakan pemurnian tauhid) oleh Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab yang didukung oleh penguasa Amir Ibnu Saud. Kemudian murid-murid keluaran Dir’iyyah juga menyebarkan ajaran-ajaran tauhid murni ini ke seluruh penjuru dunia dengan membuka madrasah atau kajian umum di daerah mereka masing-masing.
Sejarah pembaharuan yang digerakkan oleh Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab ini tercatat dalam sejarah dunia sebagai yang paling hebat dari jenisnya dan amat cemerlang.
Di samping itu, hal ini merupakan suatu pergerakan perubahan besar yang banyak memakan korban manusia maupun harta benda. Hal ini terjadi karena banyaknya perlawanan dari luar maupun dari dalam. Perlawanan dari dalam terutama dari tokoh-tokoh agama Islam sendiri yang takut akan kehilangan pangkat, kedudukan, pengaruh dan jamaahnya. Maupun dari Penguasa Turki Utsmani yang khawatir terhadap pengaruh dakwah Ibnu Abdil Wahhab yang telah merambah dua kota suci umat Islam, Mekkah dan Madinah. Karenanya, demi mempertahankan kekuasaan mereka, mereka mengirim pasukan besar di bawah komando Muhammad Ali Basya (Gubernur Mesir) untuk menaklukkan Dir’iyyah beberapa kali, hingga akhirnya jatuh pada tahun 1233 H.
Banyak di antara tokoh Al Saud dan Al Syaikh (anak-cucu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) yang ditangkap dan diasingkan ke Mesir pasca jatuhnya ibukota Dir’iyyah, bahkan sebagiannya dieksekusi oleh musuh, contohnya adalah Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab yang merupakan pakar hadits di zamannya. Beliau dibunuh dengan cara sangat keji oleh Ibrahim Basya. Demikian pula imam Daulah Su’udiyyah kala itu, yaitu Imam Abdullah bin Su’ud bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud (cicit Muhammad bin Saud). Beliau dieksekusi di Istanbul, Turki.
Inilah periode Daulah Su’udiyyah I (1151-1233 H). Kemudian berdiri Daulah Su’udiyyah II (1240-1309 H), dan yang terakhir ialah Daulah Su’udiyyah III yang kemudian berganti nama menjadi Al Mamlakah Al ‘Arabiyyah As Su’udiyyah (Kerajaan Arab Saudi), yang didirikan oleh Abdul Aziz bin Abdurrahman Al Saud (Bapak Raja-raja Saudi sekarang) pada tahun 1319 H hingga kini.
Selain mendapat perlawanan sengit dari Pihak Turki Utsmani, mereka juga sangat dimusuhi oleh kaum Syi’ah Bathiniyyah, baik dari Najran (selatan Saudi) maupun yang lainnya. Salah satu pertempuran besar pernah terjadi antara kaum muwahhidin dengan pasukan Hasan bin Hibatullah Al Makrami dari Najran yang berakidah Syi’ah Bathiniyyah, dan peperangan ini memakan korban jiwa cukup besar di pihak muwahhidin. Bahkan Imam Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud konon terbunuh di tangan salah seorang syi’ah yang menyusup ke tengah-tengah kaum muwahhidin, beliau ditikam dari belakang ketika sedang mengimami salat berjama’ah.
Selain perlawanan sengit dari mereka yang mengatasnamakan Islam, para pengikut dakwah Syaikh Ibnu Abdil Wahhab juga dimusuhi oleh pihak kafir. Imperialis Inggris yang menjajah banyak negeri kaum muslimin kala itu pun khawatir terhadap dampak buruk penyebaran dakwah Syaikh Ibnu Abdil Wahhab bagi eksistensi mereka. Sebab beliau menghidupkan kembali ajaran tauhid dan berjihad melawan berbagai bentuk syirik dan bid’ah, sedangkan Inggris justeru mempertahankan hal tersebut karena di situlah titik kelemahan kaum muslimin. Artinya, bila kaum muslimin kembali kepada tauhid dan meninggalkan semua bentuk syrik dan bid’ah, niscaya mereka akan angkat senjata melawan para penjajah. Karenanya, Inggris memunculkan istilah ‘Wahhabi’ dan merekayasa berbagai kedustaan dan kejahatan yang mereka lekatkan pada pengikut dakwah Syaikh Ibn Abdil Wahhab, sehingga banyak dari kaum muslimin di negeri-negeri jajahan Inggris yang termakan hasutan tersebut dan serta merta membenci mereka.
Alhamdulillah, masa-masa tersebut telah berlalu. Umat Islam kini lebih faham tentang apa dan siapa kaum pengikut dakwah Rasulullah yang diteruskan Muhammad bin Abdul Wahhab (yang dijuluki Wahabi) tersebut. Satu persatu kejahatan dan kebusukan kaum orientalis yang sengaja mengadu domba antara sesama umat Islam semenjak awal, begitu juga dari kaum penjajah Barat, semuanya kini terungkap.
Meskipun usaha musuh-musuh dakwahnya begitu hebat, baik dari luar maupun dalam, yang dilancarkan melalui pena atau ucapan demi membendung dakwah tauhid ini, namun usaha mereka sia-sia belaka, karena ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memenangkan perjuangan dakwah tauhid yang dipelopori oleh Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab yang telah mendapat sambutan bukan hanya oleh penduduk negeri Najd saja, akan tetapi juga sudah menggema ke seluruh dunia Islam dari Ujung barat benua Afrika sampai ke Merauke, bahkan mulai menjamah Eropa dan Amerika.
Untuk mencapai tujuan pemurnian ajaran agama Islam, Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab telah menempuh pelbagai macam cara. Kadangkala lembut dan kadangkala kasar, sesuai dengan sifat orang yang dihadapinya. Ia mendapat pertentangan dan perlawanan dari kelompok yang tidak menyenanginya karena sikapnya yang tegas dan tanpa kompromi, sehingga lawan-lawannya membuat tuduhan-tuduhan ataupun pelbagai fitnah terhadap dirinya dan pengikut-pengik utnya.
Musuh-musuhnya pernah menuduh bahwa Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab telah melarang para pengikutnya membaca kitab fiqh, tafsir dan hadith. Malahan ada yang lebih keji, yaitu menuduh Syeikh Muhammad telah membakar beberapa kitab tersebut, serta menafsirkan Al Qur’an menurut kehendak hawa nafsu sendiri.
Apa yang dituduh dan difitnah terhadap Syeikh Ibnu `Abdul Wahab itu, telah dijawab dengan tegas oleh seorang pengarang terkenal, yaitu al-Allamah Syeikh Muhammad Basyir as-Sahsawani, dalam bukunya yang berjudul Shiyanah al-Insan di halaman 473 seperti berikut:
“Sebenarnya tuduhan tersebut telah dijawab sendiri oleh Syeikh Ibnu `Abdul Wahab sendiri dalam suatu risalah yang ditulisnya dan dialamatkan kepada `Abdullah bin Suhaim dalam pelbagai masalah yang diperselisihkan itu. Diantaranya beliau menulis bahwa semua itu adalah bohong dan kata-kata dusta belaka, seperti dia dituduh membatalkan kitab-kitab mazhab, dan dia mendakwakan dirinya sebagai mujtahid, bukan muqallid.”
Kemudian dalam sebuah risalah yang dikirimnya kepada `Abdurrahman bin `Abdullah, Muhammad bin `Abdul Wahab berkata: “Aqidah dan agama yang aku anut, ialah mazhab Ahli Sunnah wal Jamaah, sebagai tuntunan yang dipegang oleh para Imam Muslimin, seperti Imam-imam Mazhab empat dan pengikut-pengik utnya sampai hari kiamat. Aku hanyalah suka menjelaskan kepada orang-orang tentang pemurnian agama dan aku larang mereka berdoa (mohon syafaat) pada orang yang hidup atau orang mati daripada orang-orang soleh dan lainnya.”
`Abdullah bin Muhammad bin `Abdul Wahab, menulis dalam risalahnya sebagai ringkasan dari beberapa hasil karya ayahnya, Syeikh Ibnu `Abdul Wahab, seperti berikut: “Bahwa mazhab kami dalam Ushuluddin (Tauhid) adalah mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan cara (sistem) pemahaman kami adalah mengikuti cara Ulama Salaf. Sedangkan dalam hal masalah furu’ (fiqh) kami cenderung mengikuti mazhab Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Kami tidak pernah mengingkari (melarang) seseorang bermazhab dengan salah satu daripada mazhab yang empat. Dan kami tidak mempersetujui seseorang bermazhab kepada mazhab yang luar dari mazhab empat, seprti mazhab Rafidhah, Zaidiyah, Imamiyah dan lain-lain lagi. Kami tidak membenarkan mereka mengikuti mazhab-mazhab yang batil. Malah kami memaksa mereka supaya bertaqlid (ikut) kepada salah satu dari mazhab empat tersebut. Kami tidak pernah sama sekali mengaku bahwa kami sudah sampai ke tingkat mujtahid mutlaq, juga tidak seorang pun di antara para pengikut kami yang berani mendakwakan dirinya dengan demikian. Hanya ada beberapa masalah yang kalau kami lihat di sana ada nash yang jelas, baik dari Qur’an mahupun Sunnah, dan setelah kami periksa dengan teliti tidak ada yang menasakhkannya, atau yang mentaskhsiskann ya atau yang menentangnya, lebih kuat daripadanya, serta dipegangi pula oleh salah seorang Imam empat, maka kami mengambilnya dan kami meninggalkan mazhab yang kami anut, seperti dalam masalah warisan yang menyangkut dengan kakek dan saudara lelaki; Dalam hal ini kami berpendirian mendahulukan kakek, meskipun menyalahi mazhab kami (Hambali).”
Demikianlah bunyi isi tulisan kitab Shiyanah al-Insan, hal. 474. Seterusnya beliau berkata: “Adapun yang mereka fitnah kepada kami, sudah tentu dengan maksud untuk menutup-nutupi dan menghalang-hala ngi yang hak, dan mereka membohongi orang banyak dengan berkata: `Bahwa kami suka mentafsirkan Qur’an dengan selera kami, tanpa mengindahkan kitab-kitab tafsirnya. Dan kami tidak percaya kepada ulama, menghina Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam’ dan dengan perkataan `bahwa jasad Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam itu buruk di dalam kuburnya. Dan bahwa tongkat kami ini lebih bermanfaat daripada Nabi, dan Nabi itu tidak mempunyai syafaat.
Dan ziarah kepada kubur Nabi itu tidak sunat, dan Nabi tidak mengerti makna “La ilaha illallah” sehingga perlu diturunkan kepadanya ayat yang berbunyi: “Fa’lam annahu La ilaha illallah,” dan ayat ini diturunkan di Madinah. Dituduhnya kami lagi, bahwa kami tidak percaya kepada pendapat para ulama. Kami telah menghancurkan kitab-kitab karangan para ulama mazhab, karena didalamnya bercampur antara yang hak dan batil. Malah kami dianggap mujassimah (menjasmanikan Allah), serta kami mengkufurkan orang-orang yang hidup sesudah abad keenam, kecuali yang mengikuti kami. Selain itu kami juga dituduh tidak mahu menerima bai’ah seseorang sehingga kami menetapkan atasnya `bahwa dia itu bukan musyrik begitu juga ibu-bapaknya juga bukan musyrik.’
Dikatakan lagi bahwa kami telah melarang manusia membaca selawat ke atas Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan mengharamkan berziarah ke kubur-kubur. Kemudian dikatakannya pula, jika seseorang yang mengikuti ajaran agama sesuai dengan kami, maka orang itu akan diberikan kelonggaran dan kebebasan dari segala beban dan tanggungan atau hutang sekalipun.
Kami dituduh tidak mahu mengakui kebenaran para ahlul Bait Radiyallahu ‘anhum. Dan kami memaksa menikahkan seseorang yang tidak kufu serta memaksa seseorang yang tua umurnya dan ia mempunyai isteri yang muda untuk diceraikannya, karena akan dinikahkan dengan pemuda lainnya untuk mengangkat derajat golongan kami.
Maka semua tuduhan yang diada-adakan dalam hal ini sungguh kami tidak mengerti apa yang harus kami katakan sebagai jawaban, kecuali yang dapat kami katakan hanya “Subhanaka – Maha suci Engkau ya Allah” ini adalah kebohongan yang besar. Oleh karena itu, maka barangsiapa menuduh kami dengan hal-hal yang tersebut di atas tadi, mereka telah melakukan kebohongan yang amat besar terhadap kami. Barangsiapa mengaku dan menyaksikan bahwa apa yang dituduhkan tadi adalah perbuatan kami, maka ketahuilah: bahwa kesemuanya itu adalah suatu penghinaan terhadap kami, yang dicipta oleh musuh-musuh agama ataupun teman-teman syaithan dari menjauhkan manusia untuk mengikuti ajaran sebersih-bersih tauhid kepada Allah dan keikhlasan beribadah kepadaNya.
Kami beri’tiqad bahwa seseorang yang mengerjakan dosa besar, seperti melakukan pembunuhan terhadap seseorang Muslim tanpa alasan yang wajar, begitu juga seperti berzina, riba’ dan minum arak, meskipun berulang-ulang, maka orang itu hukumnya tidaklah keluar dari Islam (murtad), dan tidak kekal dalam neraka, apabila ia tetap bertauhid kepada Allah dalam semua ibadahnya.” (Shiyanah al-Insan, m.s 475)
Khusus tentang Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam, Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab berkata: “Dan apapun yang kami yakini terhadap martabat Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam bahwa martabat beliau itu adalah setinggi-tinggi martabat makhluk secara mutlak. Dan Beliau itu hidup di dalam kuburnya dalam keadaan yang lebih daripada kehidupan para syuhada yang telah digariskan dalam Al-Qur’an. Karena Beliau itu lebih utama dari mereka, dengan tidak diragukan lagi. Bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam mendengar salam orang yang mengucapkan kepadanya. Dan adalah sunnah berziarah kepada kuburnya, kecuali jika semata-mata dari jauh hanya datang untuk berziarah ke maqamnya. Namun Sunat juga berziarah ke masjid Nabi dan melakukan salat di dalamnya, kemudian berziarah ke maqamnya. Dan barangsiapa yang menggunakan waktunya yang berharga untuk membaca selawat ke atas Nabi, selawat yang datang daripada beliau sendiri, maka ia akan mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.”
Tantangan Dakwah dan Pemecahannya
Sebagaimana lazimnya, seorang pemimpin besar dalam suatu gerakan perubahan , maka Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab pun tidak lepas dari sasaran permusuhan dari pihak-pihak tertentu, baik dari dalam maupun dari luar Islam, terutama setelah Syeikh menyebarkah dakwahnya dengan tegas melalui tulisan-tulisan nya, berupa buku-buku mahupun surat-surat yang tidak terkira banyaknya. Surat-surat itu dikirim ke segenap penjuru negeri Arab dan juga negeri-negeri Ajam (bukan Arab).
Surat-suratnya itu dibalas oleh pihak yang menerimanya, sehingga menjadi beratus-ratus banyaknya. Mungkin kalau dibukukan niscaya akan menjadi puluhan jilid tebalnya.
Sebagian dari surat-surat ini sudah dihimpun, diedit serta diberi ta’liq dan sudah diterbitkan, sebagian lainnya sedang dalam proses penyusunan. Ini tidak termasuk buku-buku yang sangat berharga yang sempat ditulis sendiri oleh Syeikh di celah-celah kesibukannya yang luarbiasa itu. Adapun buku-buku yang sempat ditulisnya itu berupa buku-buku pegangan dan rujukan kurikulum yang dipakai di madrasah-madras ah ketika beliau memimpin gerakan tauhidnya.
Tentangan maupun permusuhan yang menghalang dakwahnya, muncul dalam dua bentuk:

* Permusuhan atau tentangan atas nama ilmiyah dan agama,
* Atas nama politik yang berselubung agama.

Bagi yang terakhir, mereka memperalatkan golongan ulama tertentu, demi mendukung kumpulan mereka untuk memusuhi dakwah Wahabiyah.
Mereka menuduh dan memfitnah Syeikh sebagai orang yang sesat lagi menyesatkan, sebagai kaum Khawarij, sebagai orang yang ingkar terhadap ijma’ ulama dan pelbagai macam tuduhan buruk lainnya.
Namun Syeikh menghadapi semuanya itu dengan semangat tinggi, dengan tenang, sabar dan beliau tetap melancarkan dakwah bil lisan dan bil hal, tanpa memedulikan celaan orang yang mencelanya.
Pada hakikatnya ada tiga golongan musuh-musuh dakwah beliau:

* Golongan ulama khurafat, yang mana mereka melihat yang haq (benar) itu batil dan yang batil itu haq. Mereka menganggap bahwa mendirikan bangunan di atas kuburan lalu dijadikan sebagai masjid untuk bersembahyang dan berdoa di sana dan mempersekutukan Allah dengan penghuni kubur, meminta bantuan dan meminta syafaat padanya, semua itu adalah agama dan ibadah. Dan jika ada orang-orang yang melarang mereka dari perbuatan jahiliyah yang telah menjadi adat tradisi nenek moyangnya, mereka menganggap bahwa orang itu membenci auliya’ dan orang-orang soleh, yang bererti musuh mereka yang harus segera diperangi.

* Golongan ulama taashub, yang mana mereka tidak banyak tahu tentang hakikat Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab dan hakikat ajarannya. Mereka hanya taqlid belaka dan percaya saja terhadap berita-berita negatif mengenai Syeikh yang disampaikan oleh kumpulan pertama di atas sehingga mereka terjebak dalam perangkap Ashabiyah (kebanggaan dengan golongannya) yang sempit tanpa mendapat kesempatan untuk melepaskan diri dari belitan ketaashubannya. Lalu menganggap Syeikh dan para pengikutnya seperti yang diberitakan, yaitu; anti Auliya’ dan memusuhi orang-orang shaleh serta mengingkari karamah mereka. Mereka mencaci-maki Syeikh habis-habisan dan beliau dituduh sebagai murtad.

* Golongan yang takut kehilangan pangkat dan jawatan, pengaruh dan kedudukan. Maka golongan ini memusuhi beliau supaya dakwah Islamiyah yang dilancarkan oleh Syeikh yang berpandukan kepada aqidah Salafiyah murni gagal karena ditelan oleh suasana hingar-bingarny a penentang beliau.

Demikianlah tiga jenis musuh yang lahir di tengah-tengah nyalanya api gerakan yang digerakkan oleh Syeikh dari Najd ini, yang mana akhirnya terjadilah perang perdebatan dan polemik yang berkepanjangan di antara Syeikh di satu pihak dan lawannya di pihak yang lain. Syeikh menulis surat-surat dakwahnya kepada mereka, dan mereka menjawabnya. Demikianlah seterusnya.
Perang pena yang terus menerus berlangsung itu, bukan hanya terjadi di masa hayat Syeikh sendiri, akan tetapi berterusan sampai kepada anak cucunya. Di mana anak cucunya ini juga ditakdirkan Allah menjadi ulama.
Merekalah yang meneruskan perjuangan al-maghfurlah Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab, yang dibantu oleh para muridnya dan pendukung-pendu kung ajarannya. Demikianlah perjuangan Syeikh yang berawal dengan lisan, lalu dengan pena dan seterusnya dengan senjata, telah didukung sepenuhnya oleh Amir Muhammad bin Saud, penguasa Dar’iyah.
Beliau pertama kali yang mengumandangkan jihadnya dengan pedang pada tahun 1158 H. Sebagaimana kita ketahui bahwa seorang da’i ilallah, apabila tidak didukung oleh kekuatan yang mantap, pasti dakwahnya akan surut, meskipun pada tahap pertama mengalami kemajuan. Namun pada akhirnya orang akan jemu dan secara beransur-ansur dakwah itu akan ditinggalkan oleh para pendukungnya.
Oleh karena itu, maka kekuatan yang paling ampuh untuk mempertahankan dakwah dan pendukungnya, tidak lain harus didukung oleh senjata. Karena masyarakat yang dijadikan sebagai objek daripada dakwah kadangkala tidak mampan dengan lisan mahupun tulisan, akan tetapi mereka harus diiring dengan senjata, maka waktu itulah perlunya memainkan peranan senjata.
Alangkah benarnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ” Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami, dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan Mizan/neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan pelbagai manfaat bagi umat manusia, dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan RasulNya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa.” (al-Hadid:25)
Ayat di atas menerangkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para RasulNya dengan disertai bukti-bukti yang nyata untuk menumpaskan kebatilan dan menegakkan kebenaran. Di samping itu pula, mereka dibekalkan dengan Kitab yang di dalamnya terdapat pelbagai macam hukum dan undang-undang, keterangan dan penjelasan. Juga Allah menciptakan neraca (mizan) keadilan, baik dan buruk serta haq dan batil, demi tertegaknya kebenaran dan keadilan di tengah-tengah umat manusia.
Namun semua itu tidak mungkin berjalan dengan lancar dan stabil tanpa ditunjang oleh kekuatan besi (senjata) yang menurut keterangan al-Qur’an al-Hadid fihi basun syadid yaitu, besi baja yang mempunyai kekuatan dahsyat. yaitu berupa senjata tajam, senjata api, peluru, senapan, meriam, kapal perang, nuklir dan lain-lain lagi, yang pembuatannya mesti menggunakan unsur besi.
Sungguh besi itu amat besar manfaatnya bagi kepentingan umat manusia yang mana al-Qur’an menyatakan dengan Wamanafiu linnasi yaitu dan banyak manfaatnya bagi umat manusia. Apatah lagi jika dipergunakan bagi kepentingan dakwah dan menegakkan keadilan dan kebenaran seperti yang telah dimanfaatkan oleh Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab semasa gerakan tauhidnya tiga abad yang lalu.
Orang yang mempunyai akal yang sehat dan fikiran yang bersih akan mudah menerima ajaran-ajaran agama, sama ada yang dibawa oleh Nabi, mahupun oleh para ulama. Akan tetapi bagi orang zalim dan suka melakukan kejahatan, yang diperhambakan oleh hawa nafsunya, mereka tidak akan tunduk dan tidak akan mau menerimanya, melainkan jika mereka diiring dengan senjata.
Demikianlah Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab dalam dakwah dan jihadnya telah memanfaatkan lisan, pena serta pedangnya seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sendiri, di waktu baginda mengajak kaum Quraisy kepada agama Islam pada waktu dahulu. Yang demikian itu telah dilakukan terus menerus oleh Syeikh Muhammad selama lebih kurang 48 tahun tanpa berhenti, yaitu dari tahun 1158 Hinggalah akhir hayatnya pada tahun 1206 H.
Wafat
Muhammad bin `Abdul Wahab telah menghabiskan waktunya selama 48 tahun lebih di Dar’iyah. Keseluruhan hidupnya diisi dengan kegiatan menulis, mengajar, berdakwah dan berjihad serta mengabdi sebagai menteri penerangan Kerajaan Saudi di Tanah Arab. Muhammad bin Abdulwahab berdakwah sampai usia 92 tahun, beliau wafat pada tanggal 29 Syawal 1206 H, bersamaan dengan tahun 1793 M, dalam usia 92 tahun. Jenazahnya dikebumikan di Dar’iyah (Najd). Innalillah
Referensi

* (Audio Biographi Syaikhul Islam Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab -rahimahulloh) Audio Salaf
* (Inggris)Imaam Muhammad Ibn Abdul Wahhab His Life and Mission
* (Inggris)Biogra phy of Imam Muhammad bin Abdul-Wahhab
* (Inggris)Muḥamm ad ibn ʿAbd al-Wahhāb di Britannica.com

Sumber ini dicopas oleh Anwar Baru Belajar dari Wikipedia pada hari Rabu tanggal 3 Agustus 2011, tanpa merubah sedikitpun isi yang tertulis dalam Wikipedia dan di-upload kembali pada hari dan tanggal yang sama.
Sumber aslinya:
http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_bin_Abdul_Wahhab
Quote
 
0
tulisan ini benar2 hebat. dusta yang tak ada duanya, tulisan yang dibuat hanya dengan emosi untuk menutupi kesesatannya.

btw, setahu saya david severtus itu adalah nama nasrani
Quote
 
+3
saudara2 ku semua tidak ada artinya membahas itu karena hati mereka sudah ditutp, ingat mati yang sudah pasti akan menjemput dan disitulah semua akan terbukti mana yang haq dan mana yang bathil......... .. semoga Allah mengizinkan saya mati dengan husnul khatimah

Aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain ALLAH dan Nabi MUHAMMAD adalah utussannya...!
Quote
 
0
yang jelas sekarang ini pemerintahan saud bersahabat dengan israel menghapus yahudi sebagai musuh menyediakan kemudahan untuk membantai umat muslim non wahabi didunia memberi bantuan fasilitas militer perang / pangkalan militer di saudi utk membantai muslim di afghanistan , pakistan apakah tindakan tersebut tidak menyimpang ? dan melarang islam berjihad ke suriah dan palestina dan yang harus kita pegang diakhir zaman ini adalah al qur'an dan hadist
Quote
 
-4
INI TULISAN BERDASARKAN BUALAN SAJA!!! WAHABI=GERAKAN SALAFI!!, BELAJAR LAGI YANG BENAR DAN AMBIL DATA-DATA YANG JUJUR
Quote
 
0
sebetulnya saya senang dengan adanya tulisan ini...

membuka mata hati...... :)

terlalu naif bila "anak baru kemaren sore" mengkafirkan para Ulama besar.....

toh Bid'ah itu tidak sesat........

kenapa mengkafirkan sesama ummat Islam, tidak mengkafirkan yang sudah semestinya kafir????

annnnneeeehhhhh....... yang jelas, membuat para kaum muda muslimin n muslimah berfikir picik "terkurung" sebatas pemahaman ibadah dasar......., percaya atau tidak, senjata paling ampuh adalah "PEMIKIRAN", tak usah berperang, tak usah dialog (toh, kalo dialog, kebanyakan ditanya malah gak bisa jawab / ngawur / cenderung memaki), cukup dengan merasuki pemikiran / faham, maka massa akan saling menghancurkan dirinya sendiri..... :)

Semoga, Allah Azza wa Jalla akan selalu melimpahkan Rahmat dan Hidayahnya kepada semua ahlul bid'ah (seperti kata Wahabiyah)
Quote
 
+2
mudah mudahan allah memberikan hidayah pada para pendukung wahabi di atas sebelum darah mereka di halalkan umat muslim sedunia.. aamiin !
Quote
 
+1
mudah mudahan allah memberikan hidayah pada para pendukung wahabi di atas sebelum umat islam sedunia menghalalkan darah kalian.. aamiin !
Quote
 
+1
Setahu saya sebagai umat Muslim dan tahu persis mengenai siapa yang paling berhak mengatakan itu bid'ah atau bukan haram atau halal hanya ALLAH SWT. Sebagai umat manusia biasa yang berdirinya masih diatas bumi dan numpang hidup di buminya ALLAH SWT tidak ada satu kewenangan pun untuk kaum manapun mengatakan sesuatu hal sesat kecuali ALLAH SWT.

Kalau saya berfikir secara logika dan akal sehat yang Insya Allah saya memohon selalu dalam perlindungan ALLAH SWT, kenapa untuk kegiatan Maulid atau apapun (Contoh memperingati kelahiran baginda Rasulullah SAW) dikatakan bid'ah sedangkan memperingati ulang tahun kita yang manusia biasa dikatakan tidak bid'ah. Sedangkan jelas dalam kitab ALLAH SWT yang sempurna yaitu AL-QUR'AN dijelaskan Nabi Muhammad adalah Nabi yang dimuliakan ALLAH Nabi akhir zaman, hanya untuk memperingati hari kelahiran manusia yang tinggi derajatnya dikatakan bid'ah.

Sungguh sesuatu hal yang aneh. Dalam sholat saja kita diwajibkan untuk membaca attahiyatul akhir yang salah satunya berisi sholawat kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Dalam Syahadat saja baginda Rasulullah MUHAMMAD SAW lah yang menjadi utusan ALLAH SWT. Lalu bagaimana bid'ah nya jika kita menyerukan dan meninggikan kalimah ALLAH SWT beserta utusannya.

Jika Maulid yang isinya menyerukan nama ALLAH SWT dan utusannya Nabi MUHAMMAD SAW di katakan bid'ah lalu kenapa orang yang bernyanyi diatas panggung sambil membuka paha yang entah apa yang dinyayikan tidak pernah dibubarkan seperti yang dilakukan kaum Wahabi di suatu daerah di pulau Jawa.

Allaahumma Shalli 'Alaa Muhammad, Allaahumma Shalli Wasallim 'Alaa Nabiyyinaa Muhammad
Quote
 
0
Aku hamba-Mu, buatlah aku mengerti, supaya aku memahami perintah-Mu.
Quote
 
+1
habis baca artikel + coment"nya , malah jadi kepingin cepet" segera datang HARI KIAMAT, pengen tau siapa yang "beneer", siapa yang "salaah", dan pengen tau "siapa orang yang bikin islam jadi kyak gini ???"
maka "CELAKALAH DIA" dia
Quote
 
+1
sudah "SUCI"kah kita untuk saling meng"KAFIR"kan satu sama lain ???
tunggu di hari perhitungan
Allah akan menerangkan tentang apa yang selalu kita perselisihkan !!!
jangan hanya karena hal ini islam hancur , semakin islam hancur, semakin cepat akan datangnya hari pembalasan !!!
sudah sucikah kita ??
Quote
 
-1
100% ga pernah baca sejarah dengan bukti tapi patokannya cuma kitab dan bukti KATANYA dan KATANYA ,.baca kitab2 Syeikh Muhammad (namanya) abdul wahhab (nama bapaknya),.jadi menuliskan saja sudah salah ,.Baca kitabnya dan buktikan dimana kesalannya ? tapi kalo memang pemikiran liberalisme dan syiah sudah masuk ya susah anak umur 3 tahun pun dipercaya untuk jadi imam yang penting isinya benci sunnah rasul,.yo buktikan dengan membaca
Quote
 
0
setelah membaca comment saya yakin tak ada yang membaca sejarah kecuali membaca dari kitab KATANYA ciptaan mata2 inggris dan dongeng dari persia,.dan negara atau pemerintah penjajah paling senang mengatakan wahhabi adalah inggris (india) rusia ,iran,perancis, italia (libia) belanda (indonesia),.se mentara wahhab bin rustum luput dari itu semua yang merusak dalam islam,.jadi saya sarankan bicara dengan ILMU jangan dari KATANYA KATANYA dan donegeng persia (syiah) yang paling benci dengan SAUDI dan setiap manusia yang mnegikuti alquran dan sunnah rasul dan untuk membuktikan liat bagaimana kebencian mereka kepada ahlul sunnah..sementa ra kitab Muhammad abdul wahhab tidak pernah dibaca biar tahu apa bedanya wahhabi dengan khawariz (wahhab ibn Rustum yang dimaksud 2 tanduk setan)
Quote
 
+1
wahai kaum muslimin....kal au klian berperang hingga meretakkan hubungan sesama islam maka ketahuilah bahwa musuh-musuh islam termasuk kaum bara telah berhasil memecah belah umat ini...nauzubill ah...demi Allah hendaklah segla perbedaan dibijaksanai dg sikap akhlakul Qorimah sebagaimana yag dicontohkan para sahabat termasuk khulafarosidin walaupun berbeda dlm hal ibadah2 sunnah naum belum tetap kokoh dlm satu tali agama Allah.......... .
Quote
 
0
nggak papa di bilang ahli bid'ah..
ahlussunnah wal jama'ah wa bid'ah. lakin dakholal jannah.. IHHIIIIR
Quote
 
0
Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijuluki Al-Muhajirin. Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama besar sebelumnya telah mati kafir.

Kalau mau mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh. Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi SAW dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata : "Tongkatku ini masih lebih baikdari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali."

iNi bukti dr KESEMENAHAN PETiNGGi WAHABie
Quote
 
-1
maaf, kok nabi membicarakan orang khawarij? padahal julukan khawarij muncul sepeninggal Nabi saw wafat. kaum yang disebut khawarij muncul setelah perang siffin pada masa Khalifah Ali Bin Abi Tahlib, salah tulis atau gimana tu?
Quote
 
+1
Astagaaa... ternyata seperti itukah profil tokoh yang dijadikan rujukan kaum Wahabi. Kalau betul seperti itu adanya rasanya agak berlebihan kalo masih berpegang pada manhaj ini. Banyak kaum muslimin asal saja mengikuti faham ini akibat karena kekurangan referensi. Mewakili mereka yang sangat terbatas membuka/membaca literatur klasik bantahan ats syekh wahabi ini kami berharap lebih banyak lagi ulasan mengenai tokoh wahabi ini. Pilihan tentunya sangat tergantung seberapa banyak ulasan apa adanya disertai rujukan yang shahih. Mohon beri pencerahan lebih lagi. Salam
Quote
 
+1
Quoting abu ridwan:
selektiflah dalam mengambil fakta sejarah karna sejarah perlu bukti yg kuat klu tidak maka ia bagaikan pasir yg tertiup topan tidak bisa dijadikan hujjah... celakalah orang2 yg berbohong hanya untuk memenuhi hawa nafsunya.. klu syaikh abdul wahhab sesat maka pemerintah saudi sesat.. klu sesat kenapa masih banyak kaum muslimin haji kesana.. ( bagiku beliau adalah lampu di tengah gelap gulita ) terlalu banyak kebaikan yg telah beliau berikan kepada umat ini.. cukuplah bukti bahwa ulama2 pengajar di arab saudi, di mesjid nabawi dan masjid al-haram sepakat mendakwahkan pemikiran beliau yg sesuai qur'an dan hadist

kenapa masih banyak kaum muslim berhaji ke sana?
jawabannya kan jelas bang, ada di rukun Islam.
coba pahami kembali deh ...
Quote
 
+2
Quoting arde setiawan:
apakah ente ada bukti bahwa syekh muhammad bin abdul wahab rahimahullah melarang ziarah kubur? kalau ziarah kubur ente itu untuk mendoakan orang yang telah meninggal mah gpp, kalo ente ziarah kubur untuk bertawassul kepada penghuni kubur, atau dengan melontarkan syubhat bahwa ente ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan perantaraan penghuni kubur ini, maka ente belajar lagi Islamnya yang bener. Baca surat Az-Zumar ayat 3 kemudian baca tafsirnya di tafsir Ibnu Katsir, kemudian baca lagi sirah berulang2, sesungguhnya berhala2 yang disembah oleh orang2 kafir quraisy dan kaum sebelum mereka itu dahulunya adalah orang-orang shaleh, persis seperti kalian mengagung-agung kan wali sanga disini. bahkan kalian mengangkat seseorang sampai kepada derajat uluhiyah. Wallahu musta'an.


maaf nih afwan, afwan sudah salah sangka sama masyarakat yang memperlakukan para wali, kamu harus tau, mayarakat awam itu tak mengagung-agung kan mereka selayaknya yang kamu pikirkan, terlalu picik kalau kamu berfikir sebagai masyarakat sampai mengkultuskan para wali tersebut, kita hanya menghormati jasa-jasa mereka, selayaknya kita menghargai apa yang telah di ajarkan guru-guru kita, karena mereka telah berjuang banyak buat islam dan masyarakat kebanyakan, sudah sepantasnyalah kita sesama muslim memberikan penghormatan bagi mereka, sesama muslim itu juga harus saling mendoakan, bukan mengkultuskan seperti yang afwan kira, salah....! jangan mempersempit pemikiran sendiri sehingga menfatwakan hal-hal aneh, padahal yang terjadi tidaklah seperti itu
Quote
 
+2
Quoting arde setiawan:
apakah ente ada bukti bahwa syekh muhammad bin abdul wahab rahimahullah melarang ziarah kubur? kalau ziarah kubur ente itu untuk mendoakan orang yang telah meninggal mah gpp, kalo ente ziarah kubur untuk bertawassul kepada penghuni kubur, atau dengan melontarkan syubhat bahwa ente ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan perantaraan penghuni kubur ini, maka ente belajar lagi Islamnya yang bener. Baca surat Az-Zumar ayat 3 kemudian baca tafsirnya di tafsir Ibnu Katsir, kemudian baca lagi sirah berulang2, sesungguhnya berhala2 yang disembah oleh orang2 kafir quraisy dan kaum sebelum mereka itu dahulunya adalah orang-orang shaleh, persis seperti kalian mengagung-agungkan wali sanga disini. bahkan kalian mengangkat seseorang sampai kepada derajat uluhiyah. Wallahu musta'an.


maaf nih afwan, saya koreksi, di sini kita bukan mengagung- ng>agungkan walisongo, saya cukup yakin masyarakat awam itu memperlakukan mereka selayaknya sama dengan kita memperlakukan guru-guru kita, menghormati jasa-jasanya, perjuanganya, kilas baliknya, jadi tak ada pengkultusan kepada para wali itu, hanya sekedar menghormati pejuangan mereka, kamu pandai-pandaila h memilah milah pemikiran, jangan ekstrim begitu, kamu harus belajar menghormati jerih payah seseorang, apalagi sesama muslim harus saling mendoakan, maaf afwan udah salah sangka, kita hanya menghormati jasa-jasa mereka, catat itu!
Quote
 
0
Kebenaran hanyalah milik Allah SWT..
Hal yang Pasti hanyalah milik Allah semata..

jadi janganlah ada perdebatan yang nantinya menjurus kepermusuhan antara sesama Islam. Jika ada saudara kita yang kurang paham maka ajarkanlah ia, jangan saling mencela dan saling tidak menghargai.
Semua orang ingin mencari ilmu yang benar, jika ada perbedaan anatara 1 dengan yang lain maka musyawarahkanla h dengan tertib, diskusikan dengan baik, jaga emosi dan keegoisan diri masing-masing.

Jika ada orang yang membangkitkan bara api mungkin orang tersebutlah yang menjadi profokatornya, orang yang ingin melihat Islam itu hancur orang yang tidak pernah mendengarkan pendapat orang lain dan langsung menyalahkannya, orang yang selalu membuatkeributa n, orang yang selalu berfikir dengan tidak kepala dingin...........

*sekedar masukkan jika ada salah kata mohon maaf.
Salam ukhwah. :-)
Quote
 
0
GERAKAN WAHABI = GERAKAN SALAFI (asal usul salafi wahabi dan bantahan atas kesesatan serta penyimpangan wahabi salafi dari ajaran islam)
Posted on August 29, 2009 by Situs islam: www.almanhaj.or.id , www.alsofwah.or.id , www.muslim.or.id

GERAKAN WAHABI = GERAKAN SALAFI (asal usul salafi wahabi dan bantahan atas kesesatan serta penyimpangan wahabi salafi dari ajaran islam)

SIAPAKAH WAHHABIY?

Oleh:

Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaiman, Lc.

Selubung Makar di Balik Julukan Wahhabi

Di negeri kita bahkan hampir di seluruh dunia Islam, ada sebuah fenomena ‘timpang’ dan penilaian ‘miring’ terhadap dakwah tauhid yang dilakukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi An-Najdi rahimahullahu[1 ]. Julukan Wahhabi pun dimunculkan, tak lain tujuannya adalah untuk menjauhkan umat darinya. Dari manakah julukan itu? Siapa pelopornya? Dan apa rahasia di balik itu semua …?

Para pembaca, dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan dakwah pembaharuan terhadap agama umat manusia. Pembaharuan, dari syirik menuju tauhid dan dari bid’ah menuju As-Sunnah. Demikianlah misi para pembaharu sejati dari masa ke masa, yang menapak titian jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Fenomena ini membuat gelisah musuh-musuh Islam, sehingga berbagai macam cara pun ditempuh demi hancurnya dakwah tauhid yang diemban Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya.

Musuh-musuh tersebut dapat diklasifikasika n sebagai berikut:

1. Di Najd dan sekitarnya:
-Para ulama suu` yang memandang al-haq sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai al-haq.
-Orang-orang yang dikenal sebagai ulama namun tidak mengerti tentang hakekat Asy- Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya.
- Orang-orang yang takut kehilangan kedudukan dan jabatannya. (Lihat Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, karya Dr. Muhammad bin Sa’ad Asy-Syuwai’ir hal.90-91, ringkasan keterangan Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz)

2. Di dunia secara umum: Mereka adalah kaum kafir Eropa; Inggris, Prancis dan lain-lain, Daulah Utsmaniyyah, kaum Shufi, Syi’ah Rafidhah, Hizbiyyun dan pergerakan Islam; Al-Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Al-Qaeda, dan para kaki tangannya. (Untuk lebih rincinya lihat kajian utama edisi ini/ Musuh-Musuh Dakwah Tauhid) Bentuk permusuhan mereka beragam. Terkadang dengan fisik (senjata) dan terkadang dengan fitnah, tuduhan dusta, isu negatif dan sejenisnya. Adapun fisik (senjata), maka banyak diperankan oleh Dinasti Utsmani yang bersekongkol dengan barat (baca: kafir Eropa) –sebelum keruntuhannya–. Demikian pula Syi’ah Rafidhah dan para hizbiyyun. Sedangkan fitnah, tuduhan dusta, isu negatif dan sejenisnya, banyak dimainkan oleh kafir Eropa melalui para missionarisnya, kaum shufi, dan tak ketinggalan pula Syi’ah Rafidhah dan hizbiyyun.[2] Dan ternyata, memunculkan istilah ‘Wahhabi’ sebagai julukan bagi pengikut dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, merupakan trik sukses mereka untuk menghempaskan kepercayaan umat kepada dakwah tauhid tersebut. Padahal, istilah ‘Wahhabi’ itu sendiri merupakan penisbatan yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz berkata: “Penisbatan (Wahhabi -pen) tersebut tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Semestinya bentuk penisbatannya adalah ‘Muhammadiyyah’ , karena sang pengemban dan pelaku dakwah tersebut adalah Muhammad, bukan ayahnya yang bernama Abdul Wahhab.” (Lihat Imam wa Amir wa Da’watun Likullil ‘Ushur, hal. 162) Tak cukup sampai di situ. Fitnah, tuduhan dusta, isu negatif dan sejenisnya menjadi sejoli bagi julukan keji tersebut. Tak ayal, yang lahir adalah ‘potret’ buruk dan keji tentang dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang tak sesuai dengan realitanya. Sehingga istilah Wahhabi nyaris menjadi momok dan monster yang mengerikan bagi umat. Fenomena timpang ini, menuntut kita untuk jeli dalam menerima informasi. Terlebih ketika narasumbernya adalah orang kafir, munafik, atau ahlul bid’ah. Agar kita tidak dijadikan bulan-bulanan oleh kejamnya informasi orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu. Meluruskan Tuduhan Miring tentang Wahhabi [1].

SYUBUHAT DAN BANTAHANNYA

1.Tuduhan:Asy- Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang yang mengaku sebagai Nabi[3], ingkar terhadap Hadits nabi[4], merendahkan posisi Nabi, dan tidak mempercayai syafaat beliau.

Bantahan:Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang yang sangat mencintai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini terbukti dengan adanya karya tulis beliau tentang sirah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik Mukhtashar Siratir Rasul, Mukhtashar Zadil Ma’ad Fi Hadyi Khairil ‘Ibad atau pun yang terkandung dalam kitab beliau Al-Ushul Ats-Tsalatsah.

Beliau berkata: “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat –semoga shalawat dan salam-Nya selalu tercurahkan kepada beliau–, namun agamanya tetap kekal. Dan inilah agamanya; yang tidaklah ada kebaikan kecuali pasti beliau tunjukkan kepada umatnya, dan tidak ada kejelekan kecuali pasti beliau peringatkan. Kebaikan yang telah beliau sampaikan itu adalah tauhid dan segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan kejelekan yang beliau peringatkan adalah kesyirikan dan segala sesuatu yang dibenci dan dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus beliau kepada seluruh umat manusia, dan mewajibkan atas tsaqalain; jin dan manusia untuk menaatinya.” (Al- Ushul Ats-Tsalatsah)

Beliau juga berkata: “Dan jika kebahagiaan umat terdahulu dan yang akan datang karena mengikuti para Rasul, maka dapatlah diketahui bahwa orang yang paling berbahagia adalah yang paling berilmu tentang ajaran para Rasul dan paling mengikutinya. Maka dari itu, orang yang paling mengerti tentang sabda para Rasul dan amalan-amalan mereka serta benar-benar mengikutinya, mereka itulah sesungguhnya orang yang paling berbahagia di setiap masa dan tempat. Dan merekalah golongan yang selamat dalam setiap agama. Dan dari umat ini adalah Ahlus Sunnah wal Hadits.” (Ad-Durar As-Saniyyah, 2/21)

Adapun tentang syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau berkata –dalam suratnya kepada penduduk Qashim: “Aku beriman dengan syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliaulah orang pertama yang bisa memberi syafaat dan juga orang pertama yang diberi syafaat. Tidaklah mengingkari syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini kecuali ahlul bid’ah lagi sesat.” (Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, hal. 118).

2. Tuduhan: Melecehkan Ahlul Bait

Bantahan:Beliau (syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) berkata dalam Mukhtashar Minhajis Sunnah: “Ahlul Bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai hak atas umat ini yang tidak dimiliki oleh selain mereka. Mereka berhak mendapatkan kecintaan dan loyalitas yang lebih besar dari seluruh kaum Quraisy…” (Lihat ‘Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab As-Salafiyyah, 1/446)

Di antara bukti kecintaan beliau kepada Ahlul Bait adalah dinamainya putra-putra beliau dengan nama-nama Ahlul Bait: ‘Ali, Hasan, Husain, Ibrahim dan Abdullah.

3. Tuduhan: Bahwa beliau (syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) sebagai Khawarij, karena telah memberontak terhadap Daulah ‘Utsmaniyyah. Al-Imam Al-Lakhmi telah berfatwa bahwa Al-Wahhabiyyah adalah salah satu dari kelompok sesat Khawarij ‘Ibadhiyyah, sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mu’rib Fi Fatawa Ahlil Maghrib, karya Ahmad bin Muhammad Al-Wansyarisi, juz 11.

Bantahan:Adapun pernyataan bahwa Asy-Syaikh telah memberontak terhadap Daulah Utsmaniyyah, maka ini sangat keliru. Karena Najd kala itu tidak termasuk wilayah teritorial kekuasaan Daulah Utsmaniyyah[5]. Demikian pula sejarah mencatat bahwa kerajaan Dir’iyyah belum pernah melakukan upaya pemberontakan terhadap Daulah ‘Utsmaniyyah. Justru merekalah yang berulang kali diserang oleh pasukan Dinasti Utsmani.

Lebih dari itu Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan –dalam kitabnya Al- Ushulus Sittah: “Prinsip ketiga: Sesungguhnya di antara (faktor penyebab) sempurnanya persatuan umat adalah mendengar lagi taat kepada pemimpin (pemerintah), walaupun pemimpin tersebut seorang budak dari negeri Habasyah.”

Dari sini nampak jelas, bahwa sikap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap waliyyul amri (penguasa) sesuai dengan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bukan ajaran Khawarij.

Mengenai fatwa Al-Lakhmi, maka yang dia maksudkan adalah Abdul Wahhab bin Abdurrahman bin Rustum dan kelompoknya, bukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya. Hal ini karena tahun wafatnya Al-Lakhmi adalah 478 H, sedangkan Asy- Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab wafat pada tahun 1206 H /Juni atau Juli 1792 M. Amatlah janggal bila ada orang yang telah wafat, namun berfatwa tentang seseorang yang hidup berabad- abad setelahnya. Adapun Abdul Wahhab bin Abdurrahman bin Rustum, maka dia meninggal pada tahun 211 H. Sehingga amatlah tepat bila fatwa Al-Lakhmi tertuju kepadanya. Berikutnya, Al-Lakhmi merupakan mufti Andalusia dan Afrika Utara, dan fitnah Wahhabiyyah Rustumiyyah ini terjadi di Afrika Utara. Sementara di masa Al-Lakhmi, hubungan antara Najd dengan Andalusia dan Afrika Utara amatlah jauh. Sehingga bukti sejarah ini semakin menguatkan bahwa Wahhabiyyah Khawarij yang diperingatkan Al-Lakhmi adalah Wahhabiyyah Rustumiyyah, bukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya[6].

Lebih dari itu, sikap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap kelompok Khawarij sangatlah tegas. Beliau berkata –dalam suratnya untuk penduduk Qashim: “Golongan yang selamat itu adalah kelompok pertengahan antara Qadariyyah dan Jabriyyah dalam perkara taqdir, pertengahan antara Murji`ah dan Wa’idiyyah (Khawarij) dalam perkara ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala, pertengahan antara Haruriyyah (Khawarij) dan Mu’tazilah serta antara Murji`ah dan Jahmiyyah dalam perkara iman dan agama, dan pertengahan antara Syi’ah Rafidhah dan Khawarij dalam menyikapi para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat Tash- hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, hal 117). Dan masih banyak lagi pernyataan tegas beliau tentang kelompok sesat Khawarij ini.

4. Tuduhan: Mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah mereka.[7]

Bantahan: Ini merupakan tuduhan dusta terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, karena beliau pernah mengatakan: “Kalau kami tidak (berani) mengkafirkan orang yang beribadah kepada berhala yang ada di kubah (kuburan/ makam) Abdul Qadir Jaelani dan yang ada di kuburan Ahmad Al-Badawi dan sejenisnya, dikarenakan kejahilan mereka dan tidak adanya orang yang mengingatkannya . Bagaimana mungkin kami berani mengkafirkan orang yang tidak melakukan kesyirikan atau seorang muslim yang tidak berhijrah ke tempat kami…?! Maha suci Engkau ya Allah, sungguh ini merupakan kedustaan yang besar.” (Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlihun Mazhlumun Wa Muftara ‘Alaihi, hal. 203)

5. Tuduhan: Wahhabiyyah adalah madzhab baru dan tidak mau menggunakan kitab-kitab empat madzhab besar dalam Islam.[8]

Bantahan: Hal ini sangat tidak realistis. Karena beliau mengatakan –dalam suratnya kepada Abdurrahman As-Suwaidi–: “Aku kabarkan kepadamu bahwa aku –alhamdulillah– adalah seorang yang berupaya mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pembawa aqidah baru. Dan agama yang aku peluk adalah madzhab Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang dianut para ulama kaum muslimin semacam imam yang empat dan para pengikutnya.” (Lihat Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, hal. 75)

Beliau (syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab)juga berkata dalam suratnya kepada Al-Imam Ash-Shan’ani: “Perhatikanlah –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatimu– apa yang ada pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat sepeninggal beliau dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Serta apa yang diyakini para imam panutan dari kalangan ahli hadits dan fiqh, seperti Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai mereka–, supaya engkau bisa mengikuti jalan/ ajaran mereka.” (Ad-Durar As- Saniyyah 1/136)

Beliau juga berkata: “Menghormati ulama dan memuliakan mereka meskipun terkadang (ulama tersebut) mengalami kekeliruan, dengan tidak menjadikan mereka sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, merupakan jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun mencemooh perkataan mereka dan tidak memuliakannya, maka ini merupakan jalan orang-orang yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala (Yahudi).” (Majmu’ah Ar-Rasa`il An- Najdiyyah, 1/11-12. Dinukil dari Al-Iqna’, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkhali, hal.132-133)

6. Tuduhan: Keras dalam berdakwah (inkarul munkar)
Bantahan:Tuduhan ini sangat tidak beralasan. Karena justru beliaulah orang yang sangat perhatian dalam masalah ini. Sebagaimana nasehat beliau (syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) kepada para pengikutnya dari penduduk daerah Sudair yang melakukan dakwah (inkarul munkar) dengan cara keras. Beliau berkata: “Sesungguhnya sebagian orang yang mengerti agama terkadang jatuh dalam kesalahan (teknis) dalam mengingkari kemungkaran, padahal posisinya di atas kebenaran. Yaitu mengingkari kemungkaran dengan sikap keras, sehingga menimbulkan perpecahan di antara ikhwan… Ahlul ilmi berkata: ‘Seorang yang beramar ma’ruf dan nahi mungkar membutuhkan tiga hal: berilmu tentang apa yang akan dia sampaikan, bersifat belas kasihan ketika beramar ma’ruf dan nahi mungkar, serta bersabar terhadap segala gangguan yang menimpanya.’ Maka kalian harus memahami hal ini dan merealisasikann ya. Sesungguhnya kelemahan akan selalu ada pada orang yang mengerti agama, ketika tidak merealisasikann ya atau tidak memahaminya. Para ulama juga menyebutkan bahwasanya jika inkarul munkar akan menyebabkan perpecahan, maka tidak boleh dilakukan. Aku mewanti-wanti kalian agar melaksanakan apa yang telah kusebutkan dan memahaminya dengan sebaik-baiknya. Karena, jika kalian tidak melaksanakannya niscaya perbuatan inkarul munkar kalian akan merusak citra agama. Dan seorang muslim tidaklah berbuat kecuali apa yang membuat baik agama dan dunianya.”(Liha t Muhammad bin Abdul Wahhab, hal. 176)

7. Tuduhan: Muhammad bin Abdul Wahhab itu bukanlah seorang yang berilmu. Dia belum pernah belajar dari para syaikh, dan mungkin saja ilmunya dari setan![9]
Bantahan: Pernyataan ini menunjukkan butanya tentang biografi Asy-Syaikh, atau pura-pura buta dalam rangka penipuan intelektual terhadap umat.
Bila ditengok sejarahnya, ternyata beliau sudah hafal Al-Qur`an sebelum berusia 10 tahun. Belum genap 12 tahun dari usianya, sudah ditunjuk sebagai imam shalat berjamaah. Dan pada usia 20 tahun sudah dikenal mempunyai banyak ilmu. Setelah itu rihlah (pergi) menuntut ilmu ke Makkah, Madinah, Bashrah, Ahsa`, Bashrah (yang kedua kalinya), Zubair, kemudian kembali ke Makkah dan Madinah. Gurunya pun banyak,[10 ]di antaranya adalah:

Di Najd: Asy-Syaikh Abdul Wahhab bin Sulaiman[11] dan Asy-Syaikh Ibrahim bin Sulaiman.[12]

Di Makkah: Asy-Syaikh Abdullah bin Salim bin Muhammad Al-Bashri Al-Makki Asy-Syafi’i.[13]

Di Madinah: Asy-Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif.[14] Asy-Syaikh Muhammad Hayat bin Ibrahim As-Sindi Al-Madani,[15 ]Asy-Syaikh Isma’il bin Muhammad Al-Ajluni Asy-Syafi’i,[16 ] Asy- Syaikh ‘Ali Afandi bin Shadiq Al-Hanafi Ad-Daghistani,[ 17] Asy-Syaikh Abdul Karim Afandi, Asy- Syaikh Muhammad Al Burhani, dan Asy-Syaikh ‘Utsman Ad-Diyarbakri.

Di Bashrah: Asy-Syaikh Muhammad Al-Majmu’i.[18]
Di Ahsa`: Asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Lathif Asy-Syafi’i.

8. Tuduhan: Tidak menghormati para wali Allah, dan hobinya menghancurkan kubah/ bangunan yang dibangun di atas makam mereka.
Bantahan:Pernyataan bahwa Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak menghormati para wali Allah Subhanahu wa Ta’ala, merupakan tuduhan dusta. Beliau berkata –dalam suratnya kepada penduduk Qashim–: “Aku menetapkan (meyakini) adanya karamah dan keluarbiasaan yang ada pada para wali Allah Subhanahu wa Ta’ala, hanya saja mereka tidak berhak diibadahi dan tidak berhak pula untuk diminta dari mereka sesuatu yang tidak dimampu kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.”[19]

Adapun penghancuran kubah/bangunan yang dibangun di atas makam mereka, maka beliau mengakuinya –sebagaimana dalam suratnya kepada para ulama Makkah–.[20] Namun hal itu sangat beralasan sekali, karena kubah/ bangunan tersebut telah dijadikan sebagai tempat berdoa, berkurban dan bernadzar kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara Asy- Syaikh sudah mendakwahi mereka dengan segala cara, dan beliau punya kekuatan (bersama waliyyul amri) untuk melakukannya, baik ketika masih di ‘Uyainah ataupun di Dir’iyyah.

Hal ini pun telah difatwakan oleh para ulama dari empat madzhab. Sebagaimana telah difatwakan oleh sekelompok ulama madzhab Syafi’i seperti Ibnul Jummaizi, Azh-Zhahir At- Tazmanti dll, seputar penghancuran bangunan yang ada di pekuburan Al-Qarrafah Mesir. Al- Imam Asy-Syafi’i sendiri berkata: “Aku tidak menyukai (yakni mengharamkan) pengagungan terhadap makhluk, sampai pada tingkatan makamnya dijadikan sebagai masjid.” Al-Imam An- Nawawi dalam Syarhul Muhadzdzab dan Syarh Muslim mengharamkam secara mutlak segala bentuk bangunan di atas makam. Adapun Al-Imam Malik, maka beliau juga mengharamkannya , sebagaimana yang dinukilkan oleh Ibnu Rusyd. Sedangkan Al-Imam Az-Zaila’i (madzhab Hanafi) dalam Syarh Al-Kanz mengatakan: “Diharamkan mendirikan bangunan di atas makam.” Dan juga Al-Imam Ibnul Qayyim (madzhab Hanbali) mengatakan: “Penghancuran kubah/ bangunan yang dibangun di atas kubur hukumnya wajib, karena ia dibangun di atas kemaksiatan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat Fathul Majid Syarh Kitabit Tauhid karya Asy- Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy-Syaikh, hal.284-286)

Para pembaca, demikianlah bantahan ringkas terhadap beberapa tuduhan miring yang ditujukan kepada Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Untuk mengetahui bantahan atas tuduhan- tuduhan miring lainnya, silahkan baca karya-karya tulis Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, kemudian buku-buku para ulama lainnya seperti:

Ad-Durar As-Saniyyah fil Ajwibah An-Najdiyyah, disusun oleh Abdurrahman bin Qasim An-Najdi

Shiyanatul Insan ‘An Waswasah Asy-Syaikh Dahlan, karya Al-’Allamah Muhammad Basyir As- Sahsawani Al-Hindi.

Raddu Auham Abi Zahrah, karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, demikian pula buku bantahan beliau terhadap Abdul Karim Al-Khathib.

Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlihun Mazhlumun Wa Muftara ‘Alaihi, karya Al-Ustadz Mas’ud An-Nadwi.

’Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab As Salafiyyah, karya Dr. Shalih bin Abdullah Al-’Ubud.

Da’watu Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Bainal Mu’aridhin wal Munshifin wal Mu`ayyidin, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, dsb.

Barakah Dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan dakwah yang penuh barakah. Buahnya pun bisa dirasakan hampir di setiap penjuru dunia Islam, bahkan di dunia secara keseluruhan.

Di Jazirah Arabia[21]

Di Jazirah Arabia sendiri, pengaruhnya luar biasa. Berkat dakwah tauhid ini mereka bersatu yang sebelumnya berpecah belah. Mereka mengenal tauhid, ilmu dan ibadah yang sebelumnya tenggelam dalam penyimpangan, kebodohan dan kemaksiatan. Dakwah tauhid juga mempunyai peran besar dalam perbaikan akhlak dan muamalah yang membawa dampak positif bagi Islam itu sendiri dan bagi kaum muslimin, baik dalam urusan agama ataupun urusan dunia mereka. Berkat dakwah tauhid pula tegaklah Daulah Islamiyyah (di Jazirah Arabia) yang cukup kuat dan disegani musuh, serta mampu menyatukan negeri-negeri yang selama ini berseteru di bawah satu bendera. Kekuasaan Daulah ini membentang dari Laut Merah (barat) hingga Teluk Arab (timur), dan dari Syam (utara) hingga Yaman (selatan), daulah ini dikenal dalam sejarah dengan sebutan Daulah Su’udiyyah I. Pada tahun 1233 H/1818 M daulah ini diporak-poranda kan oleh pasukan Dinasti Utsmani yang dipimpin Muhammad ‘Ali Basya. Pada tahun 1238 H/1823 M berdiri kembali Daulah Su’udiyyah II yang diprakarsai oleh Al-Imam Al-Mujahid Turki bin Abdullah bin Muhammad bin Su’ud, dan runtuh pada tahun 1309 H/1891 M. Kemudian pada tahun 1319 H/1901 M berdiri kembali Daulah Su’udiyyah III yang diprakarsai oleh Al-Imam Al-Mujahid Abdul ‘Aziz bin Abdurrahman bin Faishal bin Turki Alu Su’ud. Daulah Su’udiyyah III ini kemudian dikenal dengan nama Al-Mamlakah Al-’Arabiyyah As-Su’udiyyah, yang dalam bahasa kita biasa disebut Kerajaan Saudi Arabia. Ketiga daulah ini merupakan daulah percontohan di masa ini dalam hal tauhid, penerapan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syariat Islam, keamanan, kesejahteraan dan perhatian terhadap urusan kaum muslimin dunia (terkhusus Daulah Su’udiyyah III). Untuk mengetahui lebih jauh tentang perannya, lihatlah kajian utama edisi ini/Barakah Dakwah Tauhid.

Di Dunia Islam [22]

Dakwah tauhid Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab merambah dunia Islam, yang terwakili pada Benua Asia dan Afrika, barakah Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menyelimutinya. Di Benua Asia dakwah tersebar di Yaman, Qatar, Bahrain, beberapa wilayah Oman, India, Pakistan dan sekitarnya, Indonesia, Turkistan, dan Cina. Adapun di Benua Afrika, dakwah Tauhid tersebar di Mesir, Libya, Al-Jazair, Sudan, dan Afrika Barat. Dan hingga saat ini dakwah terus berkembang ke penjuru dunia, bahkan merambah pusat kekafiran Amerika dan Eropa.

Pujian Ulama Dunia terhadap
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Dakwah Beliau
Pujian ulama dunia terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya amatlah banyak. Namun karena terbatasnya ruang rubrik, cukuplah disebutkan sebagiannya saja.[23]

1. Al-Imam Ash-Shan’ani (Yaman).
Beliau kirimkan dari Shan’a bait-bait pujian untuk Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya. Bait syair yang diawali dengan:
Salamku untuk Najd dan siapa saja yang tinggal sana
Walaupun salamku dari kejauhan belum mencukupinya

2. Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullahu (Yaman). Ketika mendengar wafatnya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, beliau layangkan bait-bait pujian terhadap Asy-Syaikh dan dakwahnya. Di antaranya:
Telah wafat tonggak ilmu dan pusat kemuliaan
Referensi utama para pahlawan dan orang-orang mulia
Dengan wafatnya, nyaris wafat pula ilmu-ilmu agama
Wajah kebenaran pun nyaris lenyap ditelan derasnya arus sungai

3. Muhammad Hamid Al-Fiqi (Mesir) . Beliau berkata: “Sesungguhnya amalan dan usaha yang beliau lakukan adalah untuk menghidupkan kembali semangat beramal dengan agama yang benar dan mengembalikan umat manusia kepada apa yang telah ditetapkan dalam Al-Qur`an…. dan apa yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta apa yang diyakini para shahabat, para tabi’in dan para imam yang terbimbing.”

4. Dr. Taqiyuddin Al-Hilali (Irak). Beliau berkata: “Tidak asing lagi bahwa Al-Imam Ar-Rabbani Al- Awwab Muhammad bin Abdul Wahhab, benar-benar telah menegakkan dakwah tauhid yang lurus. Memperbaharui (kehidupan umat manusia) seperti di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Dan mendirikan daulah yang mengingatkan umat manusia kepada daulah di masa Al-Khulafa` Ar-Rasyidin.”

5. Asy-Syaikh Mulla ‘Umran bin ‘Ali Ridhwan (Linjah, Iran). Beliau –ketika dicap sebagai Wahhabi– berkata:
Jikalau mengikuti Ahmad dicap sebagai Wahhabi
Maka kutegaskan bahwa aku adalah Wahhabi
Kubasmi segala kesyirikan dan tiadalah ada bagiku
Rabb selain Allah Dzat Yang Maha Tunggal lagi Maha Pemberi


6. Asy-Syaikh Ahmad bin Hajar Al-Buthami (Qatar). Beliau berkata: “Sesungguhnya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najdi adalah seorang da’i tauhid, yang tergolong sebagai pembaharu yang adil dan pembenah yang ikhlas bagi agama umat.”

7. Al ‘Allamah Muhammad Basyir As-Sahsawani (India). Kitab beliau Shiyanatul Insan ‘An Waswasah Asy-Syaikh Dahlan, sarat akan pujian dan pembelaan terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya.

8. Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani (Syam). Beliau berkata: “Dari apa yang telah lalu, nampaklah kedengkian yang sangat, kebencian durjana, dan tuduhan keji dari para penjahat (intelektual) terhadap Al-Imam Al Mujaddid Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya dan mengaruniainya pahala–, yang telah mengeluarkan manusia dari gelapnya kesyirikan menuju cahaya tauhid yang murni…”

9. Ulama Saudi Arabia. Tak terhitung banyaknya pujian mereka terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya, turun-temurun sejak Asy-Syaikh masih hidup hingga hari ini.

Penutup
Akhir kata, demikianlah sajian kami seputar Wahhabi yang menjadi momok di Indonesia pada khususnya dan di dunia Islam pada umumnya. Semoga sajian ini dapat menjadi penerang di tengah gelapnya permasalahan, dan pembuka cakrawala berfikir untuk tidak berbicara dan menilai kecuali di atas pijakan ilmu.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:
1 Biografi beliau bisa dilihat pada Majalah Asy Syari’ah, edisi 21, hal. 71.
2 Untuk lebih rincinya lihat kajian utama edisi ini/Musuh-musuh Dakwah Tauhid.
3 Sebagaimana yang dinyatakan Ahmad Abdullah Al-Haddad Baa ‘Alwi dalam kitabnya Mishbahul Anam, hal. 5-6 dan Ahmad Zaini Dahlan dalam dua kitabnya Ad-Durar As-Saniyyah Firraddi ‘alal Wahhabiyyah, hal. 46 dan Khulashatul Kalam, hal. 228-261.
4 Sebagaimana dalam Mishbahul Anam.
5 Sebagaimana yang diterangkan pada kajian utama edisi ini/Hubungan Najd dengan Daulah Utsmaniyyah .(lihat Majalah Asy Syariah Vol.II/No.22/14 27H/2007M – red)
6 Untuk lebih rincinya bacalah kitab Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, karya Dr. Muhammad bin Sa’ad Asy-Syuwai’ir.
7 Sebagaimana yang dinyatakan Ibnu ‘Abidin Asy-Syami dalam kitabnya Raddul Muhtar, 3/3009.
8 Termaktub dalam risalah Sulaiman bin Suhaim.
9 Tuduhan Sulaiman bin Muhammad bin Suhaim, Qadhi Manfuhah.
10 Lihat ‘Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab As-Salafiyyah, 1/143-171.
11 Ayah beliau, dan seorang ulama Najd yang terpandang di masanya dan hakim di ‘Uyainah.
12 Paman beliau, dan sebagai hakim negeri Usyaiqir.
13 Hafizh negeri Hijaz di masanya.
14 Seorang faqih terpandang, murid para ulama Madinah sekaligus murid Abul Mawahib (ulama besar negeri Syam). Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mendapatkan ijazah dari guru beliau ini untuk meriwayatkan, mempelajari dan mengajarkan Shahih Al-Bukhari dengan sanadnya sampai kepada Al-Imam Al-Bukhari serta syarah-syarahny a, Shahih Muslim serta syarah-syarahny a, Sunan At-Tirmidzi dengan sanadnya, Sunan Abi Dawud dengan sanadnya, Sunan Ibnu Majah dengan sanadnya, Sunan An-Nasa’i Al-Kubra dengan sanadnya, Sunan Ad- Darimi dan semua karya tulis Al-Imam Ad-Darimi dengan sanadnya, Silsilah Al-’Arabiyyah dengan sanadnya dari Abul Aswad dari ‘Ali bin Abi Thalib, semua buku Al-Imam An-Nawawi, Alfiyah Al- ‘Iraqi, At-Targhib Wat Tarhib, Al-Khulashah karya Ibnu Malik, Sirah Ibnu Hisyam dan seluruh karya tulis Ibnu Hisyam, semua karya tulis Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani, buku-buku Al-Qadhi ‘Iyadh, buku-buku qira’at, kitab Al-Qamus dengan sanadnya, Musnad Al-Imam Asy-Syafi’i, Muwaththa’ Al-Imam Malik, Musnad Al-Imam Ahmad, Mu’jam Ath-Thabrani, buku-buku As- Suyuthi dsb.
15 Ulama besar Madinah di masanya.
16 Penulis kitab Kasyful Khafa’ Wa Muzilul Ilbas ‘Amma Isytahara ‘Ala Alsinatin Nas.
17 Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab bertemu dengannya di kota Madinah dan mendapatkan ijazah darinya seperti yang didapat dari Asy-Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif.
18 Ulama terkemuka daerah Majmu’ah, Bashrah.
19 Lihat Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al Wahhabiyyah, hal. 119
20 Ibid, hal. 76.(lihat Majalah Asy Syariah vol.II/no.22/
21 Diringkas dari Haqiqatu Da’wah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab wa Atsaruha Fil ‘Alamil Islami, karya Dr. Muhammad bin Abdullah As-Salman, yang dimuat dalam Majallah Al- Buhuts Al-Islamiyyah edisi. 21, hal. 140-145.
22 Diringkas dari Haqiqatu Da’wah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab wa Atsaruha Fil ‘Alamil Islami, karya Dr. Muhammad bin Abdullah As Salman, yang dimuat dalam Majallah Al- Buhuts Al-Islamiyyah edisi. 21, hal.146-149.
[23] Untuk mengetahui lebih luas, lihatlah kitab Da’watu Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab Bainal Mu’aridhin wal Munshifin wal Mu`ayyidin, hal. 82-90, dan ‘Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab As-Salafiyyah, 2/371-474.
================
sumber;
http://abdurrahman.wordpress.com/2007/09/14/siapakah-wahabbiy/

Ingin mengetahui kajian Muhammad bin Abdul Wahab
http://us.kajian.net/ceramah-islam-mp3/13-download-kajian-ceramah-agama-islam-mp3-terbaru
Quote
 
+2
assalamu'alaiku m wr.wb
kaum SAWAH (salafi wahabi) semuanya di bid'ahkan sedangkan kalau kita fikirkan badan nya itu bid'ah karena badannya itu tidak ada pada zaman rasulullah saw.dan juga kenapa al.Qur'an di bid'ahkan, karena al.Qur'an di kumpulkan pada Khalifah Usman Bin Affan...
wahai kaum muslim jangan di pengaruh oleh ajaran kaum sawah(salafi wahabi) karena kaum sawh adalah sasat.
Quote
 
-1
kenapa gak sekalian kuburan Rasulullah dibongkar di ratakan dengan tanah mas brow... katanya ziarah kubur bid'ah...???!!! dari pada nanti orang muslim pada musyrik... kalo minta ke Allah kan...? kalo minta ke kuburan Rasulullah berarti musyirik donk...
Rasulullah manusia biasakan cuma bedanya Beliau mendapat wahyu
trs kita disuruh klo minta segala sesuatu ya ke Allah bukan ke Rasul..
udah bongkar aja kuburan Rasulullah kagok dari pada ntr org muslim jadi musyirik

karena orang2 salafy wahabi tidak hidup di zaman Rasulullah jadi bid'ah donk... berarti kafir orang2 tsb.

saya udah ikut pengajian salafy wahabi (sawah)... bagus saya orangnya cermat... akhirnya keluar :lol: Alhamdulillah...
dan yg saya perhatiin jamaah2nya ya bener orang2 gampang di boongin
Quote
 
+2
Assalamu Alaikum Ketahuilah sahabat kaum muslimin sesungguhnya Nabi dan rosull dan kita hanya pemberi kabar gembira dan peringatan dan sesungguhnya Hidayah Milik Allah Walaupun Sejarah telah Membenarkan Dalil Hadist Tersirat Tp Kalau nur Hidayah Tidak turUn Maka orang2 tersebuk keras Bagaikan Batu...Rosullul oh adalah seorang hamba yang lemah lembut dari siapapun bahkan dengan Yahudi buta dipasar. rosul tidak pernah mencela maka kembali kepada kita sudah kah kita demikian terhadap sesama muslim kalo belum koreksi ibadah diri kita kembalikan diri kita untuk mempelajari Islam Secara Kaffah Tetapi kita tidak boleh Lepas dari sejarah Islam...Ahlu sunnah Waljamaah Para wali Di indoneia adalah contoh sejarah Islam Jangan Malu Kalo mengakui Mereka Adalah Pahlawan Kita karena perjuangan beliau ini sangat mulia dan Allah SWT mengangkat derajat mereka sesuai janji Allah dalam Al Qur'an Kalau kita menganggap mereka salah SeAlim apa kita pantaskah disejajarkan dengan merekaaa Renungkanlah di Lihat dari Fakta Saudi tidak bergeming ketika sesama muslim mereka menderita..mere ka malah bersekutu kalau mereka benar Ahlu Sunnah mereka akan Bangkit tidak berdiam diri seperti saat ini...Wassalam
Quote
 
-3
hari gini masih rebutan pemebenaran.... mendingan makan baso dan bagi2 baso....bahahag iakan diri dan bagi2kn kebahagiaan
Quote
 
+2
wallahu alam ,kembalikanlah semua kepada Allah,smoga Allah melaknat para pembohong yang menyelewengkan Islam
Quote
 
0
selektiflah dalam mengambil fakta sejarah karna sejarah perlu bukti yg kuat klu tidak maka ia bagaikan pasir yg tertiup topan tidak bisa dijadikan hujjah... celakalah orang2 yg berbohong hanya untuk memenuhi hawa nafsunya.. klu syaikh abdul wahhab sesat maka pemerintah saudi sesat.. klu sesat kenapa masih banyak kaum muslimin haji kesana.. ( bagiku beliau adalah lampu di tengah gelap gulita ) terlalu banyak kebaikan yg telah beliau berikan kepada umat ini.. cukuplah bukti bahwa ulama2 pengajar di arab saudi, di mesjid nabawi dan masjid al-haram sepakat mendakwahkan pemikiran beliau yg sesuai qur'an dan hadist
Quote
 
+2
" telah aku tinggalkan 2 perkara kepada kalian,dimana kalian tidak akan tersesat jika berpegang teguh pada dua perkara tersebut,yaitu kitabillah wasunnatinnabi (Al quran dan Alhadist) "

jika kalian menemukan perselisihan,ma ka kembalikanlah kepada Alquran dan Alhadist,jgnlah saling berdebat,
Quote
 
0
like this..
Quote
 
0
as.....Kaum Muslimin
Data otentik mrnyebutkan bahwa: timbulnya golongan sesat adalah dari emosi pemikiran yang mendobrag Qur'an_Hadist dan terlalu kultus terhadap orang yg d dambakan dan wahaby tuh di antaranya.
Quote
 
0
mari kita satukan ummat, kalau yg tidak mau,perangi aja...
Quote
 
+1
Wahhabi tergolong Ahlus Sunnah wal Jamaah kalau syi'ah jelas diluar Islam
Quote
 
+3
حدثنا عبد الله حدثني أبي حدثنا ابن نمير حدثنا حنظلة عن سالم بن عبد الله بن عمر عن ابن عمر قال رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يشير بيده يؤم العراق ها إن الفتنة ههنا إن الفتنة ههنا ثلاث مرات من حيث يطلع قرن الشيطان.
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah : Telah menceritakan kepadaku ayahku (Ahmad bin Hanbal) : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair : Telah menceritakan kepada kami Handhalah, dari Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Aku pernah melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan tangannya menunjuk ke arah ‘Iraaq. (Beliau bersabda) : “Di sinilah, fitnah akan muncul, fitnah akan muncul dari sini”. Beliau mengatakannya tiga kali. “Yaitu, tempat munculnya tanduk setan" [Diriwayatkan oleh Ahmad, 2/143].
Shahih sesuai syarat Al-Bukhaariy dan Muslim.
Dalam lafadh lain disebutkan :
عن ابْن عُمَرَ، يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُشِيرُ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ، وَيَقُولُ: " هَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَاهُنَا هَا، إِنَّ الْفِتْنَةَ هَاهُنَا ثَلَاثًا حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنَا الشَّيْطَانِ "
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan tangannya ke arah timur dan bersabda : “Di sinilah, fitnah akan muncul, fitnah akan muncul dari sini”. Beliau mengatakannya tiga kali. “Yaitu, tempat munculnya tanduk setan” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2905].
Ini satu petunjuk yang jelas bahwa arah timur yang dimaksudkan sebagai kemunculan tanduk setan adalah ‘Iraaq. Dan itulah Najd.
Quote
 
+2
bukan kebenaran yang membuat kita bisa masuk surga, akan tetapi hanya semata rahmat Allah. dan tiada yang tahu siapa yang akan Allah pilih mendapat rahmat-Nya. jadi untuk apa kita berdebat, bahkan saling menghina? kalau yakin benar, lakukan saja sambil mengharap rahmat Allah. ada orang yang berbeda, (biasa saja) itu pun atas kehendak Allah.
namun berhati-hatilah , dalam perdebatan biasanya muncul kesombongan di dalam hati, sedangkan KESOMBONGAN sudah pasti membawa siapapun ke neraka, meski hanya seberat dzarroh
Quote
 
0
assalamu'alaikum..
Ikhwah, saya yakin semua ingin mengembalikan segala sesuatu kepada Allah..

Banyak sekali perdebatan antara kita..
Mari kita kaji setiap permasalahan dg hati-hati.
bukan membela suatu pihak..
Tapi kalau mau jujur, tanpa megutamakan perasaan dan emosi.. hanya kita kembalikan kpd Allah dan RasulNya.. maka akan kita dapat salah satu pihak, mengambil informasi yang salah atau salah memahami sumber.. Coba kita cek lagi..
Afwan sampai hari ini ana mengikuti kajian seperti yang dikenal orang salafi.. dan ana juga pernah ikut kajian yang dikenal orang jama'ah tabligh.. dan ana juga lama berkumpul dengan kawan-kawan di PKS.. dan ana selalu ingin Allah memberi petunjuk.. agar diberikan ilmu agar bisa selamat menempuh jalan menujuNya..
seiring jalan ana belajar dan memahami dg ilmu yang terbatas.. bahwa ketiga kelompok ini mempunyai dasar masing-masing yang mereka kembalikan kepada Allah dan Rasulullah.. meskipun ada beberapa hal yang menurut ana masih perlu diluruskan dan saling didiskusikan.. ana cenderung kepada yang dikenal orang dengan salfy.. meskipun sebenarnya ada hal yang perlu diketahui bahwa "corak" salafy itu beragam.. tetapi semua berusaha mengembalikanny a kepada Allah dan RasulNya.. kalau ada yang tidak sepaham.. mungkin hanya salah paham.. ana siap berdiskusi dengan siapa saja.. tentu dibangun atas tujuan mencari ridha Allah.. kadang kalau dengan tulisan banyak yang belum terwakilkan.. ana sekarang di Banda Aceh.. bagi yang di Banda Aceh, bolehlah kita sambil ngopi berdiskusi apalagi ditambah dengan goreng pisang.. ana yakin dengan perasaan kita "bersaudara" perbedaan akan bisa dibenahi..

wassalam
Quote
 
0
nulis sejarah kok fiktif..ANEH... ..
Quote
 
+2
Saya sangat tdk percaya ajaran Muhammad Abdul Wahab seperti itu, Tulisan Saudara David Severtus sangat tendensius, mengadu domba umat Islam
Quote
 
0
...semua hanya berputar pada 2 hal.Tuduhan dan kebohongan.Coba baca:'salafi antara tuduhan dan kenyataan' dan tulisan2 lain teramat banyak.
Apalagi tulisannya Ahmad Zaini Dahlan...
Quote
 
+1
JADI ORANG JANGAN DIKIT2 MENGKAFIRKAN. MEMBIDAH. MENSIRIQ
jangan mengkafirkan orang. Orang suni (nu) tak boleh mengkafirkan orang wahabi. biyar wahabi/MTA/LDI pecahan wahabi lain megkafirkan kita. Kata HABIB SEYCH BIN ABDUL QADIR SEGAF. YA ALLOH JIKA AKU SALAH MAKA AMPUNI AKU, JIKA AKU BENAR MAKA BERIKAN TUNJUKAN JALAN YG BENAR DAN AMPUNI DOSANYA, beliau jg berkata biyar kita kafir kita yasinan dineraka solawatan di neraka tahlilan di neraka Kita gaksah mikir. Wong wahabi itu bukan termasuk salah satu dari 73 golongan. Dia lahir di abad ke 16
Quote
 
0
Telah bersabda Rasulullah SAW:
“Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.” (HR abu Dawud 9435)

Al-Mahdi berasal dari umatku, berkening lebar, berhidung panjang dan mancung. Ia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kemakmuran, sebagaimana ia (bumi ini) sebelum itu dipenuhi oleh kezhaliman dan kesemena-menaan , dan ia (umur kekhalifahan) berumur tujuh tahun. (HR. Abu Dawud dan al-Hakim)

Al-Mahdi berasal dari umatku, dari keturunan anak cucuku. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim)
Quote
 
0
Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kalian, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya.

Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya.

Selanjutnya masa kerajaan yang menggigit (Mulkan ’Adhan), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya.

Setelah itu, masa kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyyan), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya.

Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam.” [HR Ahmad dan Baihaqi dari Nuâman bin Basyir dari Hudzaifah]
Quote
 
+1
Dalam hadits shohih Muslim, Rasulullah Sholallaahu 'Alaihi Wa Alihi Wassalam bersabda:

تَغْزُونَ جَزِيرَةَ الْعَرَبِ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ فَارِسَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ
ثُمَّ تَغْزُونَ الرُّومَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ تَغْزُونَ الدَّجَّالَ فَيَفْتَحُهُ اللَّهُ

“Kalian akan perangi jazirah Arab sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian (kalian perangi) Persia sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Ruum sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Dajjal sehingga Allah menangkan kalian atasnya.” (HR Muslim 5161)

Dalam hadits tersebut, Rasulullah Sholallaahu 'Alaihi Wa Alihi Wassalam menerangkan bahwasanya imam Mahdi memiliki 4 misi untuk mencapai manhaj nubuwwah di babak ke-5 masa umat islam. Yang pertama mememerangi Arab, yakni mengambil alih jazirah Arab dari bani Su'ud yang merampas jazirah Arab dari khilafah islamiah yang bersekutu dengan Yahudi/Inggris (yang merupakan strategi Yahudi untuk menjatuhkan kekhalifahan islami demi mendapatkan tanah Israel-Jerussal em-Palestina/ho lly-land) dan membersihkan/me merangi fitnah Najd yang diramalkan Rasulullah Sholallaahu 'Alaihi Wa Alihi Wassalam, sehingga yang ada hanyalah manhaj nubuwwah yang dibawa Imam Mahdi AS. Yang kedua memerangi persia/iran, yakni mengambil alih Iran yang akan menjadi tempat munculnya dajjal disaat masa 1 harinya dajjal = 1 hari manusia dan memerangi/membe rsihkan paham syi'ah, sehingga yang ada hanyalah manhaj nubuwwah yang dibawa Imam Mahdi AS. Ketiga memerangi Ruum/Romawi/Ero pa/Nasrani, mengambil alih kekuasaan Ruum/Romawi/Ero pa dan memerangi/membe rsihkan paham nasrani, sehingga yang ada hanyalah manhaj nubuwwah yang dibawa Imam Mahdi AS. Keempat Memerangi Dajjal (juga Yahudi) yang akan muncul di Isfahan-Khurasa n-Iran-Arah Timur dengan wujud sebagai manusia (disaat masa 1 harinya dajjal = 1 hari manusia), dalam perjuangannya ini Imam Mahdi akan dibantu oleh Nabi Isa AS (karena hanya Nabi Isa AS-lah yang mampu melawan dajjal sesuai dengan takdir Allah SWT yang disabdakan oleh Rasulullah Sholallaahu 'Alaihi Wa Alihi Wassalam.

Dalam istilah injil pada kaum nasrani, keempat perang itu dinamakan perang ARMAGEDDON (perang yang maha dahsyat atau paling besar sepanjang sejarah kehidupan manusia)

Kapan hal itu akan terjadi?

Dalam sebuah hadits shohih muslim, Rasulullah Sholallaahu 'Alaihi Wa Alihi Wassalam bersabda:
“…Ia (laki laki besar yang terikat itu) berkata: Beritakanlah kepada saya tentang pohon-pohon korma yang ada di daerah Baisan. Kami bertanya: Tentang apa yang ingin kamu tanya darinya? Ia berkata: Saya menanyakan apakah pohon-pohon korma itu tetap berbuah? Kami menjawab: Ya. Ia berkata: Adapun pohon-pohon korma itu, maka ia hampir saja tidak akan berbuah lagi. Kemudian ia berkata lagi: Beritakanlah kepadaku tentang danau Tiberia. Mereka berkata: Tentang apakah yang ingin kamu tanyakan perihalnya? Ia bertanya: Apakah ia tetap berair? Kami
menjawab: Ya. Ia berkata: Adapun airnya, maka ia hampir saja akan habis. Kemudian ia berkata lagi: Beritakanlah kepada saya tentang mata air Zugar. Mereka bertanya: Tentang apa yang kamu ingin tanyakan perihalnya? Ia bertanya: Apakah disana masih ada air dari mata air Zugar itu? Kami katakan kepadanya: Benar, ia berair banyak dan penduduknya bertani dari mata air tersebut. …”
(HR. Muslim dari Fathimah binti Qais, Ahmad dari Abi Hurairah dan ‘Aisyah, Ibn Majah dari Fathimah, Abu Dawud dari Jabir)

Salah satu indikator sudah dekatnya trio manusia tanda akhir zaman muncul (Imam Mahdi AS – Nabi Isa AS – Al Masih Dajjal) yakni nyaris keringnya danau Thabariyah/ Tiberia/Galilee di kota Tiberia, Israel. Sekarang kedalaman danau tersebut maksimal 43 m (141 kaki), cekidot di wikipedia dan di link berikut :
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=kedalaman laut galilee kini&source=web&cd=7&ved=0CE0QFjAG&url=http://www.kaskus.us/showthread.php?t=8388221&ei=i9CYT5L0BcG4rAfDlpXZAQ&usg=AFQjCNG0QVLgwdIgbW7jXRpyP1Vh8IL88w&cad=rja
Dan berangsur-angsu r permukaan air pada danau tersebut semakin surut (tidak pernah bertambah lagi).
Maka diprediksikan dengan perhitungan secara ilmiah bila penyusutan permukaan danau Thabariyah/ Tiberia/Galilee terus terjadi, maka danau Thabariyah/ Tiberia/Galilee akan mengering dalam kurun waktu kurang dari 50 tahun lagi.

Maka bersiap-siaplah , memasuki masa umat islam babak ke-5.

Wallahu'alam bishhowab
Quote
 
0
Kaum yg pertama bercukur gundul adalah wahabi...? masa' sih, bagaimana dengan kaum shaolin yg mengharuskan gundul bahkan sejak sebelum Nabi Muhammad lahir, dan juga kaum khawarij yg ada pada saat Nabi hidup...? Tolong jangan campur adukkan khawarij dan wahabi, karena kemunculan keduanya mempunyai rentang waktu sangat jauh, sekitar 11 abad....
Quote
 
0
Nih ane mau bilang ... dari hati dah terbukti siapa yang membawa fitnah siapa yang membawa rohmat ... !!! Kalau ente ada kebencian dan suudlon kpd sama2 semuslim apalagi melihat diri dengan penuh ujub dan ta'ssub ... dan menolak nasehat kebenaran dari siapapun dan berani menghukumi terhadap sesama muslim berdasar cuma dari kulitnya ... dan tak memiliki kelembutan terhadap saudara semuslim ... aku sangsikan kamu ini muslim apa bukan!!!
Quote
 
-1
Artikel Ɣğ ngawur bin ngacau niy...lebih baik baca
http://buletin.muslim.or.id/manhaj/salah-paham-tentang-salafi
Quote
 
+2
Marilah kita saling menghargai perbedaan pendapat, jangan perbedaan pendapat menjadi kendaraan bagi musuh islam untuk memecah belah islam.
Marilah kita saling menjaga kalimat-kalimat yang keluar dari lisan maupun tulisan, jangan sampai hal tersebut menjadi senjata bagi musuh islam untuk menghancurkan islam.
Karena inti dari ummat rasulullah itu 3 yakni :
1. Iman yaitu percaya kepada Allah, Malaikat Allah, Kitab Allah (Al Qur'an), Rasul Allah, Kiamat, Qadha Qadhar.
2. Islam yaitu Shahadatain, Shalat, Puasa, Zakat dan haji bagi yang mampu.
3. Ihsan yaitu dia beribadah/beram aliah semata karena Allah SWT.

Selajutnya apapun pendapat, paham, mazhab, i,tikad selama ia masih berada dalam koredor 3 diatas maka ia adalah ummat Rasulullah SAW. Karena Muamalat memiliki lingkup yang amat luas yang tidak bisa di bakukan dia akan terus berkembang sesuai perkembangan jaman.
Quote
 
0
david non muslim kan?? Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (Q.S 49:6)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim (Q.S. 49:11)
Quote
 
0
Assalaamu `Alaikum
Tulisan Imam Al-Ghazali, buat saudara kita,
Dalam Ihya (terjemah indo), dan di Minhajul Abidin (terjemah indo)
juga ada saya temukan, berikut ini:

-----::::::::::::::-----

Rosulullah saw pernah berkata kepada sahabat tentang Khawarij yang rajin shalat dan membaca al-Qur'an: "Membaca Al-Quran lebih rajin dari kamu (para sahabat)
dan solatnya lebih rajin daripada kamu; sampai masing-masing jidadnya(dahiny a) hitam , tapi mereka membaca Al-Quran tidak sampai ke lubuk hatinya dan solatnya tidak diterima oleh Allah swt."

Jadi bida'ah (yg bertentangan dengan syariah, pengirim tulisan) adalah sangat berbahaya, karena dapat menyesatkan keyakinan seseorang, bahwa MENYERUPAKAN ALLAH DENGAN MAHLUK.
Misalnya : betul-betul duduk dalam Arash, padahal Allah itu Laisakamislihi
syai'un.
Apabila nanti pintu hijab telah terbuka maka akan didapati bahwa
Allah tidak seperti yang telah dibayangkan. Dan ia mengingkari Allah. Nah,
dikala itu ia akan mati dalam Suul Khotimah. Kelak kalau orang sudah
sakaratulmaut dan terbuka hijab, baru menyadari bahwa kenyataannya tidak
sesuai dengan apa yang menjadi bayanganya. Dia mati dalam keadaan suul
khatimah, walaupun amalannya sangat baik. Na'udzubillah, maka dalam
ibadah kita harus iktikad.

Apabila kita salah dalam iktikad karena pemikiran sendiri atau
krn ikut-ikutan pada orang lain, ia akan terkena mara bahaya. Kesalehan
dan kezuhudan serta tingkah laku yang baik, tidak mampu menolongnya.
Bahkan tidak ada yang akan menyelamatlkan dirinya melainkan iktikad yang
benar. Karena itu perhatikan dan contohlah hal-hal yang telah diajarkan oleh
Rasulullah SAW yang semua didasarkan pada iktikad yang baik

------:::::::::::------
mengenai nukilan itu isinya kesemuanya benar dasn tsiqah, sesuai dengan akidah ahlussunnah waljamaah,

beda dengan orang orang wahabi, mereka tak punya sanad guru, namun bisanya cuma menukil dan memerangi orang muslim.

mereka memerangi kebenaran dan memerangi ahlussunnah waljamaah, memaksakan akidah sesatnya kepada muslimin dan memusyrikkan orang orang yg shalat.

saya menghimbau pada para wahabi yg mengunjungi website ini agar segera bertobat, kembalilah pada ahlussunnah waljamaah,
dalam madzahibul arba'ah,
Jumhur Muhadditsin
dan ratusan para Imam dan Huffadh,
padanya pula Muqarrabien, dan shiddiqin,

mereka mencintai Nabi saw, mereka berziarah pada nabi saw, mereka berdoa agar tercurahnya hidayah pada para pezina, agar terlimpah hidayah pada para kuffar, mereka berdakwah dg kasih sayang, mereka mengenalkan akhlak nabi saw,

mereka tak berani mengatakan musyrik pada orang yg shalat, bibir mereka suci dari mencaci maki muslimin,

lalu apalagi yg kalian tunggu?


Demikian,

Wassalaamu `Alaikum
Quote
 
0
saya sudah baca ini, coba anda baca juga http://salafytobat.wordpress.com/
Quote
 
0
Saya sudah baca ini coba juga anda baca2 http://salafytobat.wordpress.com/
Quote
 
0
Ane udah baca ini...coba baca juga ini http://salfytobat.wordpress.com
Quote
 
0
wahai saudaraku sekalian..
apa yg membuat hati antum percaya dg apa yg di tulis oleh David Servetus,apakah antum tahu siapa david servetus.....?
banyak kesalahan dan penyimpangan dr sejarah dalam artikel yg ia tulis..
dia seorang kafir yg halal darahnya untuk ditumpahkan.
syekh abdul wahab adl seorang alim yg mendakwahkan dakwah tauhid,bahkan Alhamdulillah dakwah beliau telah menyebar ke seluruh dunia,ini bukti bahwa beliau bukan seseorang yg di tuduhkan oleh david,
dan tdk ada seorang pun yg membenci kpd beliau melainkan ahlul bid'ah dan ahlul sirik.
Quote
 
0
HR. Abu Daud
"Akan tiba masa ketika kalian tidak akan dapat menemukan seorang pun di dunia ini yang tidak makan riba. Dan bahkan ketika seseorang menyatakan bahwa dia tidak makan riba, maka pastilah debu riba sampai kepadanya."

http://www.akhirzaman.info/islam/ekonomi-syariah/1997-perampokan-bangsa-bangsa-dan-jalan-lempang-dinar-emas.html
Quote
 
0
The mortgage loans are important for guys, which are willing to start their own company. In fact, it's not hard to get a auto loan.
Quote
 
0
apakah ente ada bukti bahwa syekh muhammad bin abdul wahab rahimahullah melarang ziarah kubur? kalau ziarah kubur ente itu untuk mendoakan orang yang telah meninggal mah gpp, kalo ente ziarah kubur untuk bertawassul kepada penghuni kubur, atau dengan melontarkan syubhat bahwa ente ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan perantaraan penghuni kubur ini, maka ente belajar lagi Islamnya yang bener. Baca surat Az-Zumar ayat 3 kemudian baca tafsirnya di tafsir Ibnu Katsir, kemudian baca lagi sirah berulang2, sesungguhnya berhala2 yang disembah oleh orang2 kafir quraisy dan kaum sebelum mereka itu dahulunya adalah orang-orang shaleh, persis seperti kalian mengagung-agung kan wali sanga disini. bahkan kalian mengangkat seseorang sampai kepada derajat uluhiyah. Wallahu musta'an.
Quote
 
0
blog apa ini?isinya tidak konsisten, pada saat membahas tentang ikhwanul muslimin, ente menyebut syekh muhammad bin abdul wahab dengan rahimahullah, pada catatan saudi dan wahabbi, ente menjelek-jelekk an beliau rahimahullah. ada apa ini?

sungguh jauh kehidupan beliau dari apa yang kalian sebut2kan itu.
wassalam
Quote
 
+2
yang bodoh gak usah komen
Quote
 
0
Sesungguhnya telah mereka buta akan pikiran kotor dirinya sendiri. Mereka mendikte bahwa hanya golongannya yang benar, yang akan diangkat ke surga. Sugguh, Api Islam tidak masuk kedalam ke dalam dirinya. Mereka tenggelam dalam ilmu-ilmu fiqh tak ada ilmu hakiki yang meneranginya. Semua dianggapnya sebagai bid'ah, bid'ah, dan bid'ah. Mengharamkan segala sesuatu yang tidak diharamkan oleh Allah. Mereka yang mukanya angker, berjuba besar, tasbihnya berputar adalah Islam. Masya Allah! Sunggu kolot Islamku ini.
Quote
 
+1
uyee

ALLAHU AKBAR

HIDUP AHLI SUNAH
HTTP://MAULTIPS99.BLOGSPOT.COM
Quote
 
+2
sungguh telah tampak tanda2 hari kiamat, termasuk diantaranya adalah banyaknya aliran yang berjumlah 73 namun yang akan selamat adalah Ahlu Sunnah Wal Jamaah. apakah wahabi termasuk kriteria ASWJA, dengan membunuh sdranya sendri sesama Muslim? dengan memberangus makam2 sahabat?dengan mengharamkan ziarah kubur? padahal Rasul juga pernah menziarahi makam ibunya Aminah di Ma'la. dengan mengkafirkan kaum selain golongannya?Mas ya Allah.. apakah Islam mengajarkan spti itu! Islam adalah agama yang Rohmatan Lil Alamin.. wallahul a'lam.
Quote
 
+1
Penulisnya aja "David Servetus" mirip komandan jendral NATO di afganistan "David Patreus"..hahah a...jadi tulisan ini adalah FITNAH yang nyata....setela h mencari2 sumber yang menjelaskan masalah ini..(Wahabi) menjadi jelas bahwa...aliran wahabi itu sebenarnya tidak ada...ini hanya diciptakan oleh oleh para "salibis" untuk memecah belah umat Islam....Sheik Muhammad bin Abdul Wahab...bukan pembawa akidah baru...sebagai mana pidato Raja Abdul Aziz yang terkenal.....ja di hati2lah pada fitnah2...semac am ini...:sad:
Quote
 
+2
Mohon pencerahannya donk....soalnya akhi baca diartikel2 lain justru membantah bahwa wahabi sesat....contoh nya di link yg ini

http://ainuamri.wordpress.com/2009/03/30/bantahan-atas-kesesatan-wahabi-penyimpangan-wahabi-dari-ajaran-islam-keanehan-wahabi-hakekat-wahabi-definisi-wahabi-perkembangan-wahabi-kekejaman-wahabi-penyebaran-wahabi-ajaran-wahabi/
Quote
 
+4
Bid'ah, khurafat,tasawu f maupun mengkeramatkan kuburan itu sesat. Akan tetapi membunuh kaum muslimin itu kesesatan yang lebih dahsyat.
Quote
 
-1
Bagi kalian yang tidak memegang pembawanya..... jangan sentuh apa yang dibawanya..! Shalawat dan salam bagi mu ya Muhammad kekasih Allah yang maha perkasa.


Kode keamanan
Segarkan