
Shalat dan Panggilan Arafah
Bagian Pertama

KH Bahaudin Mudhary
SEKAPUR SIRIH
Segala puji bagi Allah yang senantiasa mencurahkan rahmat, hidayah dan inayahNya, sehingga nur Iman dan Islam rnasih tetap tertanam kokoh dalam kalbu kita, yang melangkahkan kaki untuk mendapatkan keridhaan dari Allah SWT.
Shalawat serta salam semoga terlimpahkan kepada junjungan kita, nabi besar Muhammad saw yang telah mengantarkan kejalan kebenaran, yakni dinul Islam, sebagai satu-satunya jalan hidup yang penuh keselamatan, kesejahteraan, kebahagiaan dan kedamaian baik di dunia maupun diakhirat nanti.
Karena banyaknya permintaan dari para pembaca pencinta buku, terutama yang berminat dalam kajian metaftsika, maka dengan senang hati dan dengan memohon pertolongan Allah, kami menerbitkan buku "Shalat dan Panggilan Arafah" karya KH. Bahaudin Mudhary. Penulis buku ini adalah seorang ulama yang tidak hanya menekuni masalah keagamaan, melainkan juga mengusai bahasa Jerman, Belanda, Inggris dan Arab, juga mendalami ilmu fisika, kimia dan biologi, terutama masalah yang erat kaitannya dengan filsafat.
Diantaranya, beliau menjelaskan bahwa jasmani manusia tersusun dari kumpulan atom-atom (molekul) yang terdiri dari elektron, proton dan neutron. Setiap melakukan aktifitas berpikir dan bergerak, otak sebagai sentral gerakannya akan mengeluarkan gelombang dengan frekwensi tertentu sesuai dengan kadar aktifitasnya. Tetapi yang sering diabaikan, di samping jasmani terdapat pula unsur rohani yang tersusun dari atom rohani juga. Jika melakukan aktifitas, ia akan memancarkan gelombang rohani dengan frekwensi tertentu sesuai dengan kadar aktifitasnya pula.
Adanya interaksi aktifitas antar manusia dan lingkungannya, menimbulkan berbagai problematika kehidupan. Satu masalah bisa diatasi, seribu satu persoalan mendatangi. Agar dapat menyelesaikan setiap masalah dengan cepat, tepat dan benar, manusia membutuhkan kejernihan pikiran dan bimbingan dari sang Penciptanya, melalui shalat dan ibadah ritual lainnya.
Buku karya beliau ini berbicara melalui dimensi rnetafisika yang akan menjelaskan, bahwa shalat dan haji adalah aktifitas jasmani dan rohani yang memadukan dua jenis gelombang tersebut untuk membentuk kekuatan mencapai gelombang hidayah dan Nur Ilahi, agar mendapatkan petunjuk dan bimbingan langsung dari Allah SWT. Bahkan melalui ibadah shalat dan haji ini, manusia dapat mengindera gelombang aktifitas alam duniawi, alam jabarut (Jin) dan alam malakut (Malaikat).
Mudah-mudahan kehadiran buku ini bisa ikut menyemarakkan khazanah ilmu pengetahuan dan mendapatkan ridha dari Allah SWT. Amin.

KATAPENGANTAR
Dalam "azan, setiap muslim diseru dengan: "hayya 'alas shalah, hayya 'alal falah," yang artinya: "Marilah melakukan shalat, marilah menuju kebahagiaan". Dari kalimat itu, jelas tersurat bahwa dengan menegakkan shalat, manusia akan menemukan kebahagiaan. Allah menyatakan, sungguh berbahagialah orang-orang yang menjalankan shalat dengan khusyuk. Dari penjelasan ini bisa ditarik kesimpulan, bahwa shalat yang khusuk akan rnengantarkan seorang hamba Allah kepada kebahagiaan yang sejati.
Kebahagiaan itu berupa kenikmatan abadi yang akan dikaruniakan Allah di akhirat kelak. Di dunia, orang yang shalatnya khusyuk akan merasakan kebahagiaan dan ketentraman hati. Seorang yang telah bersyahadat; bersaksi dengan yakin bahwa tiada zat yang pantas disembah selain Allah, dan bersaksi pula bahwa nabi Muhammad saw adalah utusan Allah yang menyampaikan risalah Islam kepada manusia akhir zaman, wajib membuktikan kesaksiannya itu dengan menunaikan rukun-rukun Islam, sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh "Syara" antara lain, menegakkan shalat, melakukan puasa ramadlan dan seterusnya. Menyaksikan bahwa Allah saja yang pantas disembah, tanpa melakukan shalat yang telah diperintahkan oleh Allah dan dicontohkan oleh nabi Muhammad, akan membuat kesaksian itu nyaris tidak berarti dan mentah.
Dengan melaksanakan shalat lima waktu, maka terbuktilah bahwa seorang muslim telah menyembah (beribadah) kepada Allah, dan tidak menyembah kepada selain Dia. Dengan shalat itu maka syahadat yang ia ucapkan menjadi nyata dan bermakna. Shalat merupakan bentuk "cinta" dan "sayang" Allah kepada makhlukNya yang berakal (manusia) untuk bertemu dan menghadap kepadaNya. Karena itu, siapa yang ingin bertemu rnenghadap sekaligus berdialog dengan Allah, hendaklah melakukan shalat. Perjalanan hidup dalam mengarungi ribuan siang dan malam membutuhkan tonggak-tonggak waktu yang dapat memberi makna yang lebih subtansial terhadap hidup. Maka shalat lima waktu akan mampu memberikan kebutuhan subtansial itu apabila benar-benar dilakukan dengan khusyuk dan ikhlas semata-mata hanya mengharapkan "ridha Allah."
Seorang muslim yang sadar bahwa dirinya adalah hamba Allah, akan menandai terbit fajar sebagai awal pergantian malam dan siang dengan menghadap Allah melalui shalat Subuh. Dengan shalat Subuh, ia membuka lembaran siang yang akan ia isi dengan kerja keras mencari rejeki Allah. Matahari bergeser dari atas ubun-ubun, otak dan hati disejukkan lagi dengan bertemu Allah dalam shalat Zhuhur. Ketika matahari condong ke arah barat, sebagian manusia banyak yang menyudahi pekerjaannya, ada pertemuan lagi dengan Allah dalam shalat Ashar. Matahari terbenam dan siang telah berganti malam, manusia yang beriman menandai hidupnya dengan bersuiud kepada Allah dengan shalat Maghrib. Ketika bintang-bintang bertaburan memenuhi langit yang gelap hitam, dan manusia hendak menikmati istirahat malam, ia menghadap dulu kepada Al-Khaliq sambil bersyukur dalam shalat Isya.
Perjalanan hidup seorang mukmin yang hari demi hari ditandai dengan menghadapkan dirinya kepada Allah dengan shalat seperti itu, akan membuat hidup menjadi penuh arti. Karena setiap pertemuan dengan Allah di dalam shalat akan mempunyai nilai tak terduga dan makna tersendiri. Sehingga hari-hari yang akan datang akan membawa sesuatu yang segar ke dalam diri.
Kalau dalam shalat itu seorang mukmin menghadap Allah, maka akan rugi bila pertemuan itu menjadi hambar, karena hati tidak mengingat Allah. Itulah shalat yang tidak khusyuk. Shalat yang tidak khusyuk, tidak banyak pengaruhnya dalam upaya mencari ketentraman jiwa, juga tidak banyak perannya dalam mengendalikan hawa nafsu. Jadi kalau ada orang yang rajin shalat, tetapi masih suka melakukan maksiat dan mungkar, berarti "shalatnya belum berfungsi " dalam mengendalikan hawa nafsu. Shalat yang dilakukannya tidak berisi "dzikrullah", yakni hati yang ingat kepada Allah.
Betapa pentingnya mengusahakan shalat yang khusyuk itu, kalau kita menyadari bahwa di dalarn shalat khusyuk itu ada ketentraman jiwa yang membuat resah gelisah dalam hati menjadi lenyap atas pertolongan Allah yang Maha Pengasih. Dalam shalat yang khusyuk itu ada kenikmatan-kenikmatan rohani karena seorang hamba menjadi sangat dekat dengan Khaliqnya dengan tersingkapnya hijab.
Dalam upaya meningkatkan peran shalat untuk mencari kebahagiaan hakiki baik di dunia maupun di akhirat, buku "Shalat dan Panggilan Arafah" karya KH. Bahaudin Mudhary ini pantas sekali untuk dijadikan bahan kajian. Telaah yang di lakukan pengarang agaknya lebih dititikberatkan dengan kacamata metafisika, karena beliau memang ahli di bidang ini. Justru itu buku ini akan sangat berbeda dengan buku-buku fiqih yang cenderung membicarakan shalat dari segi ekstrinsik. Mempelajari shalat lewat fiqih memang penting, karena dari situ kita bisa melakukan gerakan shalat sesuai dengan tuntunan syari'ah. Mempelajari dari sisi instrinsik juga penting karena dari situ bisa diperoleh keterangan untuk menenmukan subtansi shalat.
Buku ini menguraikan shalat dari sisi instrinsik dengan bahasa ilmiah populer, sehingga mudah dimengerti. Antara lain yang menarik dari uraian buku ini, ialah bahwa shalat merupakan syarat mutlak untuk membangun spiritualitas. Pada era modern, bahkan pada era post-modern, ketika manusia cenderung tercebak oleh absurditas, nihilisme, sekulerisme, robotisme di tengah merebaknya industrialisasi maka shalat akan tetap relevan untuk mengantarkan manusia kepada subtansi kemanusiaan. Sehingga ia dapat menemukan kebahagiaan yang hakiki, kebebasan berdasarkan fitrah dan kedamaian yang abadi.
Dengan membaca buku ini, semoga Allah membimibing kita ke arah wawasan shalat yang lebih luas, sehingga keislaman kita semakin bernilai dalam pandangan Allah swt. Amin!
Batang-batang, Madura, 1 Muharam 1415 H

KATA PENGANTAR PENYUNTING
"Shalat dan pangglian Arafah", sederhana sekali judul buku ini, lantas menjadi istimewa lantaran dalam kejadian Metafisis" sebagai salah satu buah pena dari seorang ulama yang memang dikenal ditempat kelahirannya sebagai "centre par excellence" dalam ilmu-ilmu ketuhanan dan kerohanian.
Penyunting meramunya dalam rangkuman kuliah Pengajian Yayasan Pesantren Sumenep, di samping secara empirik dalam bentuk implementasi keseharian kehidupan pamandanya K.H. Bahaudin Mudhary, yang juga mertua, mempokokkan urgensi shalat sebagal kunci rahasia kekuatan ruhaninya.
Dalarn mengernbankan ilmunya di bidang kerohanian banyak berkhidmat pada teori Unio Mistica dan Bion-bion rohani, yang bermakna, hakikatnya tubuh manusia terdiri dari jasmani dan rohani. Ruh itu ditiupkan ke dalam tubuh sang bayi oleh Malaikat Jibril atas perkenan Allah, sehingga berkernbang menjadi manusia yang sempurna lahir batin.
Ruh ketuhanan itu tidak bisa hilang walaupun orangnya sudah mati. Jasmani yang menjadi badan wadaq atau pembungkus ruh tersebut bisa hancur dan musnah, tetapi karena ruh itu datang dari Allah maka ia akan kembali kepada Allah jua. Ruh yang keluar darl jasad orang yang meninggal disebut bion-bion ruhani, Astral Ligam atau Astral Matter.
Bahkan bion-bion itu bisa dihubungi asalkan kita dapat menyetelnya. Tentu saja, tidak sembarang orang dapat melakukan hal itu. Jika badan manusia diibaratkan sebagai pesawat radio, maka kalau pesawat penerimanya rusak, lemah atau kekuatan lampu-lampu (tabung) transistornya tidak mencukupi, alhasil pesawat itu tak bakal mampu menerima getaran-getaran gelombang yang dipancarkan. Apalagi jlka antenanya rusak, tentu mustahil terjadi resonansi sebagai syarat untuk berkomunikasi.
Untuk menghubungi ruh-ruh orang yang sudah mati, memang memerlukan konsentrasi penuh dan mengeluarkan energi yang besar, sehingga setelah menghubungkan bion-bion di alam astral, kita harus cepat-cepat memulihkan tenaga dengan jalan istirahat atau sarana hiburan.
Demikian pula dalam menghadapi kasus-kasus kesurupan, yang sebenamya penjajahan atas ruhani dan jasmani manusia oleh bion-bion jahat di alam astral. Untuk mengusir anasir jahat tersebut, harus mampu mengukur kekuatan gelombangnya, lalu kita lawan dengan frekuensi (gelombang) yang lebih pendek, yaitu dengan Sinar Ketuhanan yang diperoleh oleh mereka yang selalu berdialog antara hamba dengan Khaliq dalarn tatanan shalat yang bagus (khusuk). Namun demikian, segalanya bisa terjadi karena hidayah dan ma'unah Allah azza wa jalla,.
Surabaya. 3 Mei 1994
Penyunting,
H. Hizbul Maulana
 BAGIAN I
SHALAT KHUSYU MEMBUKA HIJAB
Ada kiat untuk memahami sedalam-dalamnya hikmah yang tersembunyi di dalam ibadah shalat. Lantaran salah satu ibadah terpenting yang dapat membawa manusia ke alam Hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa. Setiap insan seyogyanya berusaha dengan penuh kesadaran untuk mengetahui Hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa itu, sehingga setiap tindakan dan laku perbuatan serta rencana-rencana kita selalu dipimpin dan diberi petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa, dan berhasillah cita-cita yang ditujukan ke arah keadilan, kemakmuran yang hakiki dan abadi.
Kalau benda-benda mati (materi) dan atom pada zaman ini telah dapat dipecah di dalam beban listrik, dan ilmu urai (anatomi) bagian badan kasar ini telah dapat diselidiki sampai ke atom-atomnya, mengapa badan halus masih belum didekati secara ilmiah? Bukankah telah diakui, bahwa manusia ini tersusun dari pada jasmani (badan kasar) dan ruhani (badan halus) atau metafisis?. Kita menyadari bahwa semua kenyataan yang disaksikan dengan pertolongan panca indera masih tertutup dengan beberapa lapisan dan belum merupakan hakikat kenyataan.
Untuk memenuhi kenyataan yang hakiki, hendaklah ilmu pengetahuan harus merupakan persiapan bagi religi dan dengan alat metafisika, atom akan memungkinkan membuka pintu hijab nuansa kehidupan beserta rahasianya. Ilmu pengetahuan yang semata-mata ke arah Yang Hakiki, Yang Mutlak, inilah ilmu pengetahuan yang sejati. Ilmu ini baru dapat diperoleh dengan syarat di samping memiliki ilmu pengetahuan eksak, harus memiliki pula kegiatan batin yang terlepas dari keinginan mementingkan diri sendiri. Aktifitas akal (rasio) tidak lebih sebatas menguasai tenaga alam yang diperlukan oleh kebutuhan lahir saja. Sedangkan kegiatan atau olah batin merupakan kekuasaan manusia yang tertinggi, lebih kuasa dari pada akal (rasio).
Tegasnya di samping memiliki intelek kebendaan wajib pula memiliki intelek keTuhanan. Memang komunikasi ritual dengan Rabbi, setelah wahyu hanya kepada para Nabi terpilih, lantas ilham diterima hamba tertentu, bahkan tidak semata-rnata kepada manusia, juga kepada lebah misalnya, seperti dalam Surat an-Nahl ayat 68 yang artinya:
"Dan Tuhanmu wahyukan kepada lebah: "Hendaklah engkau jadikan sebagian dari gunung-gunung sebagai rumah dan pohon-pohon serta sebagian dari apa yang mereka (manusia) jadikan atap".
Maka jelaslah, jika Allah melimpahkan hidayah kepada hambanya dengan Nur Allah tanpa perantara, sebagian diantaranya lewat firasat atau mimpi yang benar yang kerap kali terjadi secara berulang-ulang.
Tidak mengherankan kalau sebagian para sarjana yang mengabaikan tentang peristiwa-peristiwa di luar dari pada rasio, justru mereka dalarn hidupnya banyak mengutamakan dasar-dasar lahir (rasionalisme, realisme, materialisme, sekularisme), sehingga menjadi kendala dan perintang untuk mengakui keadaan-keadaan yang tidak dapat diraba, dilihat dengan panca indera. Beragarn peristiwa kasat mata yang tak dapat ditimbang dan diukur, disebut inponderabilia. Dengan ibadah shalat, akan mendorong kita untuk mengetahui peristiwa di luar rasio, menemui Hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa yang harus dimiliki pada setiap batin manusia.
Banyak sekali tirai hijab yang menutup manusia untuk rnenemukan hakikat setiap sesuatu. Hal ini disebabkan manusia selalu terikat oleh dunia lahir dan keadaan maujud yang diciptakan. Ilmu pengetahuan eksak, terutama berupa teknik, sehingga tidak dapat menemukan hakikat yang tersembunyi di balik ilmu pengetahuan eksak sendiri. Upaya menembus tirai menuju hakikat setiap sesuatu itu hendaklah selalu menunaikan kewajiban-kewajiban yang diajarkan agarna. Senantiasa membaguskan ibadah, kadarnya terus ditingkatkan, bahkan boleh jadi memberikan dorongan dzikrullah yang lebih mapan, sehingga iman bertambah kukuh.
Walau hikmah-hikmah besar yang terkandung di dalarn ibadah shalat belum dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan eksak dan belum bisa diterima sepenuhnya oleh rasio, hal ini tidak mengherankan, lantaran buat menemukan hakikat di dalam ibadah shalat dibutuhkan ilmu pengetahuan yang berdiri di atas rasio yaitu ilmu metafisika dan nilai rasa yang tinggi. Hakikat itu bukan suatu kenyataan-kenyataan yang dapat disaksikan lewat panca indera. Tentu mustahil alat panca indera manusia yang tidak sempurna tersebut dapat menemukan Yang Maha Sempurna. Otak lahir hanya dapat menyaksikan kenyataan yang riel. Sedangkan untuk menemukan kenyataan yang hakiki, dibutuhkan alat panca indera batin, yang menyingkap kenyataan metafisis.
Kami berpendapat, bahwa timbulnya ketegangan dan kekacauan di dunia, disebabkan sebagian umat manusia dalam cara berpikirnya mengingkari hal-hal yang abstrak dan menjauhi hubungannya dengan Hakikat Yang Mutlak, bersifat universal meliputi sernua kenyataan. Mereka banyak terpukau kepada ilmu pengetahuan eksak meninggalkan yang abstrak, sehingga memandang dunia lahir ini sebagai hakikat yang sejati dan akhirnya mereka tidak mengetahui batas-batas yang fana dan baqa, antara yang nyata dan yang tersembunyi, antara benda dan ruh, antara yang materill dan spiritual, yang eksak dan yang abstrak. Maka untuk menghalau ketegangan-ketegangan di dunia, sangat dibutuhkan kebangkitan spiritual disamping materi yang sanggup membawa ummat ke alam kehidupan yang tentram dan damai.
Syarat rnutlak membangun spiritual ialah ibadah shalat, selaku zat pembawa (draagstof) menuju Hakikat Yang Maha Suci yang dapat menuntun manusia ke arah berfikir murni, perbuatan suci dan angan-angan suci mempunyai kesanggupan menjelmakan dunia tertib dan teratur, ahlakul karimah.

DEKATKAN RUHANI DENGAN INTI ALAM
Allah swt berfirman:
"Sesungguhnya ibadah shalat itu dapat mencegah timbulnya kekacauan dan keruntuhan ahlak." (QS. 29:45)
Kita menyadari, ibadah shalat merupakan tugas yang langsung disampalkan kepada Rasulullah saw, yakni beliau pribadi berangkat menjelajah angkasa luar (mi'raj) menuju suatu tempat yang telah ditentukan. Berbeda dengan tugas ibadah lain yang biasanya beliau menerimanya dengan perantaraan wahyu atau dengan perantaraan Malaikat Jibril. Yang demikian sudah tegas, ibadah shalat merupakan perternuan langsung antara hamba dengan Tuhan, tanpa perantara. Sesuai dengan sabda Nabi saw: "Ibadah shalat itu adalah mi'raj bagi orang mukmin."
Pada saat melakukan ibadah shalat kita menyebut nama-nama Allah, munajat doa dan puji-pujian dipancarkan gelombang-gelombang ruhani yang dihadapkan secara langsung kehadirat Allah swt. Sedangkan badan jasmani wajib mentaati setiap gerakan yang dikomandokan ruhani. Tepat sekali kalau ibadah shalat menjadi syarat mutlak bagi yang ingin mendekatkan dirinya kepada Allah swt yang disebut bersatu dengan Tuhan (unio mystica).
Apabila manusia membiasakan mendekatkan dirinya pada hetcentrale beginsel (Allah swt), maka pada saat itulah bion-bion dari dalarn ruhaninya berhenti berputar dan kembali menjadi meta aether yang rnenjadi zat pernbawa (draagstof). Untuk dapat menemui Allah swt. Dan pada saat itulah dengan akibat timbulnya getar menggetar (resonansi), dapat menyaksikan dengan langsung hakikat dari semua kenyataan yang menjelmakan ilmu pengetahuan absolut. Sanggup membawa manusia ke alam ketenangan dan rasa damai di dalam batin, dapat melihat jauh ke depan.
Semisal, apabila elektron-elektron yang letaknya jauh dari inti bergerak selalu lambat, sedangkan yang dekat pada inti bergerak sangat cepat dan berubah menjadi gelombang atau sinar. Demikian juga apabila manusia menjauhkan rohaninya kepada intinya, semesta alam ini (Maha Ruh) semua gerakan-gerakannya dan tindakan-tindakannya selalu terlambat dan kandas dan tidak mungkin memberikan kepuasan. Juga sebaliknya mereka yang selalu mendekatkan rohaninya, niscaya gelombang-gelombang rohaninya selalu bergerak cepat dan berubah menjadi sinar yang disebut sinar ruhani (emanasi), yang mampu menemui sinar Allah. Peristiwa ini disebabkan keduanya memiliki gelombang yang sama, rnaka timbullah peristiwa resonansi, menjelmakan intuisi, yakni pikiran membuahkan suatu pimpinan dan bimbingan langsung dari hadirat Allah swt yang disebut "hidayah" atau petunjuk. Pikiran demikan ini pasti benarnya dan dapat membayangkan suatu peristiwa yang akan terjadi. Manusia yang memiliki intuisi ini disebut sinar ilahi (Nurullah).
Jelasnya sebagal berikut, pada saat kita melakukan shalat khusyu, bion-bion rohani bekerja sebagai alat penerima (ontivanger), sedangkan alam Tuhan yang memancarkan sinarnya selaku gelombang aether merupakan alat penyiar (zender), kemudian akan rnewujudkan sabda-sabda dan terus langsung menembus menuju ke arah otak. Pantulan sinar ilahi menjelma cahaya bagi manusia, inilah yang disebut ilham atau intuisi yang tertinggi. Kenyataan ini menjadi azas utama daripada pembentukkan alat-alat radio.
Firman Allah swt:
"Sinar Allah di atas segala sinar. Allah memberikan petunjuk dengan sinar itu bagi hamba-hambaNya yang dikehendaki. (QS. 24:35)
Demikianlah Allah menerangkan bahwa sinar Allah adalah sinar yang tertinggi dari semua sinar. Sudah pasti sinarNya mempunyai gelombang sangat pendek, lebih pendek dari semua gelombang yang ada di alam ini. Begitu juga sinar rohani manusia. Tidaklah mengherankan kalau ilmu pengetahuan eksak akan sukar sekali mengetahui pengaruh sinar tersebut. Bertumpu dari niat yang tulus, lantas dibekali sabar yang hakiki juga amalan yang terpuji dan kadar ibadah yang hebat niscaya secara bertahap bisa membajakan diri menuju titik sumbu. Insya Allah.
Fiman Allah swt:
"Dan tidak akan menemuiNya melainkan mereka yang berhati sabar dan juga tidak akan menemuiNya kecuali mereka yang memiliki keteguhan batin." (QS. 41:35)
Memang sabar dan shalat bagai rangkaian yang kental, lantaran saling menopang. Hatinya senantiasa bergerak menuju Yang Maha Mutlak meski perlu pentahapan penalaran yang teruji. Setiap mushalli selalu hidup tatkala menghadapkan wajahnya ke Kiblat, menghadapkan hatinya kepada Allah lewat shalat, melepaskan pikiran dari hiruk-pikuk galaunya dunia yang menyadari bahwa Allah swt selalu dekat dengan hambanya.
Kalau kita analisa menurut ilmu metafisika terbukti, bahwa ruhani yang tersusun dari bion-bion, ion-ion dan elektron-elektron, adalah anasir-anasir daya listrik. Apabila anasir-anasir bergerak, disekitamya mewujudkan lapang tenaga (medan daya magnet) penarik atau "magnetische krachtveld". Yang segera menumbuhkan rasa Ketuhanan Yang Maha Esa, berdiam di dalam diri manusia, menjelmakan suatu perbuatan sempurna yang tidak mungkin menimbulkan kekacauan, penindasan, pertentangan, pemerasan, penipuan, dan penyelewengan, karena sosok ruhaninya sudah tertanam rasa iman yang mapan, menimbulkan keyakinan Tuhan Yang Maha Esa senantiasa menyertai setiap perbuatan dan tindak-tanduknya, baik ia berada di tempat-tempat yang terang dan gelap, siang dan malam, ditempat ramai maupun sunyi, ataupun di rumah, sebab Allah swt berada di mana-mana. Jelaslah betapa penting kadar rasa Ketuhanan Yang Maha Esa bagi setiap pribadi manusia, teristimewa bagi para pemimpin rakyat, pejabat negara yang diberi amanah tanggungjawab terhadap bangsa dan negaranya. Maka akan bertambah yakin bahwa shalat ‘khusyu', menjadi syarat mutlak untuk mewujudkan manusia susila.

INTUISI BAGI KECERDASAN
Menurut ilmu pengetahuan eksak, bahwa sinar-sinar berasal dari peristiwa-peristiwa mati. Sedangkan menurut ilmu metafisika, sinar-ruhani berasal dari keadaan yang hidup. Walaupun keduanya adalah daya elektromagnetik, akan tetapi melihat fungsi keduanya, sangat berbeda. Karena elektron-elektron benda mati akan hilang lenyap masuk ke udara, sedang bion-bion ruhani yang berasal dari elektron-elektron hidup tidak akan lenyap, sebab mempunyai hubungan dengan Yang Maha Hidup dan Menghidupkan serta yang dapat memberikan kehidupan.
Yang demikian ini mendapatkan pengertian bahwa sesuatu yang mati pasti dalam keadaan pasif, sedang yang hidup, terlebih lagi makhluk yang berpikir, pasti tidak akan menyerah kepada yang mati, bahkan selalu aktif bergerak menentang dan melawan dengan artian tidak mudah tunduk kepada hukum benda-benda mati atau yang nisbi (relatif).
Walaupun kita menyadari bahwa elektron-elektron benda mati, jika terurai dari susunan atomnya mempunyai suatu tenaga yang besar (atorn energi), tetapi kita menyadari bahwa bion-bion yang keluar dari susunan ruhani hidup yang disebut dengan "meta energi", jauh lebih besar tenaganya dari atom energi. Tenaga ruhani atau tenaga gaib yang tidak dapat dirasa oleh panca indera atau alat apapun juga yang masih belurn didekati ilmu pengetahuan eksak.
Para sarjana mengakui adanya automatisme di dalarn inti atom yang sangat mengherankan, sehingga rnenyebabkan timbulnya keyakinan bahwa di dalam susunan dan mekanisme bagian-bagian inti atorn harus ada pengatur dan penciptanya yang tidak rnempunyai awal dan akhir, baik dalam waktu maupun ternpat. (Einstein)
Tentu saja manusia yang dikaruniai otak batin dapat mengadakan abstraksi untuk menjelajah alam abstrak dengan secara langsung (deduktif), dan akan menimbulkan keyakinan, di belakang sesuatu yang hidup ada kekuasaan yang mengatur juga menyusun. (Einstein) Abstraksi atau daya cipta (creatif vermogen), yang dapat mengantarkan secara langsung memanjat ke arah Yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur, adalah ibadah shalat yang khusyu, berupa dialog antara ma'bud dengan Al-Khaliq tanpa batas dan hijab.
Shalat yang dilakukan dengan khusyu, selalu menjelmakan rasa ketenangan batin (zielevrede) yang dapat mencegah bekerjanya atom energi, sehingga lenyaplah rasa takut karena berhasil berhubungan langsung dengan Hakikat Maha Energi, menjamin keselamatan dan kebahagiaan umat manusia.
Firman Allah swt :
"Tak usah kamu merasa rendah gelisah (takut), dikarenakan kamu itu ummat yang menang jika kamu beriman." (QS. 3:139)
Shalat rnerupakan pokok paling intens. Tempat mengembalikan segala urusan dan penyerahan hidup. Seperti sabda Nabi Muhammad saw: "Dan aku jadikan shalat itu sebagai penyejuk hatiku". Beliaupun bersabda:"Hai Bilal, puaskanlah dengan shalat "!
Dengan keterangan ini kita dapat menarik kesimpulan, bahwa shalat yang khusyu selain menumbuhkan keimanan, mewujudkan manusia susila, bahkan rnewujudkan pula manusia pernberani dan pahlawan yang tak pernah mundur, pantang menyerah dan takut. Karena di dalarn ruhaninya telah tertanam rasa Ketuhanan Yang Maha Esa yang selalu rnemberikan perlindungan.
Sejarah negeri Arab (Makkah) telah nyata membuktikan, suatu bangsa yang tak kenal kemanusiaan dan menjadi sarangnya maksiat, rendah sekali dalam pandangan bangsa-bangsa di jaman itu, berbalik menjadi bangsa berjiwa besar, pemberani, dan pahlawan-pahlawan, yang membuat kagum para ahli sejarah. Salah seorang pahlawan bangsa Romawi, pernah berkata: "Ummat Muhammad di siang hari laksana harimau selalu waspada dan siap-siaga, tetapi di malam hari meraka menjadi pendeta". (Yakni melakukan shalat malam, shalat tahajjud, dengan penuh kekhusyuan ke Hadirat Yang Maha Esa.
Untuk menambah keyakinan pengakuan dari para ahli sejarah sebagaimana disebutkan, di dalam Encylopaedi Brittanica, Encylopaedi of Religion dan lain-lain. Antara lain para ahli sejarah berkata: "Under the inspiring of the great prophet who gave them a code and nationality strarted from soldier into schollars. " (di bawah pengaruh pimpinan Nabi Besar yang telah memberikan contoh kepribadian nasional, kepada mereka sejak dari pahlawan sampai orang terpelajar).
Dengan uraian ini mungkin para sarjana dan intelektual yang adil akan mengakui - meski di dalam hati kecilnya - mereka merasa kurang cakap dan kurang lengkap kalau hanya mempergunakan ilmu pengetahuan eksaknya yang diperoleh dari hasil pendidikan akademis saja. Tidak mungkin dengan pengetahuan itu saja akan rnembawa mereka untuk melihat jauh ke depan dan mengetahui peristiwa-peristiwa yang bakal terjadi dan yang akan dihadapi, dan tidak mungkin pula akan memperoleh ide-ide baru untuk rnembentuk wajah dunia (wereld bouwers) dan corak rnasyarakat (social heryomers) selama mereka kosong dari intuisi. Jadi selain mereka, mempergunakan otak lahirnya, hendaklah mempergunakan juga otak bathinnya yang akan mewujudkan intelektual sejati (supra intelectueel), sehingga di samping memiliki intelek tinggi, memliki pula budi yang tinggi, dan memiliki kesadaran jagat raya (het cosmisch bewustzijn) dan hasil kesadaran itu pasti akan membawa kepuasan dan ketenangan batin bagi sesama mahluk hidup.
Dalarn buku "Uber das Wassen und Ursprung das Menschen" oleh Shoseki Kaneko hal. 80 disebutkan: "Die Vollvernunft besthet aus zwei Seiten; namlich erastens aus dem absoluten Wissen vom Grundgesetz des Lebens und zweitens aus dem auf die objecle Welt bezogenen Kenntnissen".
Budi itu laksana akal, yang pertama memperoleh aliran pikiran, menyimpan ilmu pengetahuan dunia lahir (exact wetenschap) dan yang kedua, meyimpan ilmu pengetahuan yang mutlak tentang hukum-hukurn dari dasar hakikat hidup (absolut abstrac wetenschap).
Ada juga yang memperoleh intuisinya bukan dari alarn Tuhan, melainkan dari alam Syetan atau Jin kafir (genien) yang menghasilkan tenung, sihir (zwarte magic) yang dipergunakan untuk melakukan perbuatan-perbuatan keji, terkutuk dan laknat, keruntuhan ahlak dan kekacauan. Disini kadar ibadah yang mumpuni benar-benar mutlak dilakukan setiap insan agar diberi hidayah, maka dengan demikian akan menyadari mana yang hakiki dan yang bukan atau nisbi belaka.
Namun hati ini, lumrahnya selalu dirongrong dan dirasuki belaian nafsu-nafsu yang kadang kala lepas kendali. Manusia selalu berkeluh-kesah jika ditimpa musibah, namun kerap pula menggeluti dunia lebih dari segalanya, sehingga ia mencampakkan ruhaninya. Sebagaimana firman Allah dalarn Surat al-Ma'arij ayat 19-22 :
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat berkeluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan berkeluh kesah dan jika mendapatkan kebaikan ia amat kikir, kecuali orang yang menunaikan shalat.
Dan memang syetan tidak pemah bosan dan letih menggoda manusia dengan bujuk- rayu agar manusia mengabaikan shalat. Mereka mengganggu manusia disesuaikan dengan ragarn tingkatan mutu keimanan seseorang. Rasanya, karena godaan itu begitu tipis dan halus, sehingga manusia menjadi terkecoh atau tertipu. Dikiranya intuisi dari Malaikat, tetapi sebenarnya dari syetan atau jin kafir yang berulah.(Gufran)
Di samping zwarte magie atau Black Magic, kita dapat juga melihat hasil ilmu pengetahuan dari hasil intuisinya jin kafir, setan dan iblis berupa alat-alat teknik, untuk membinasakan ummat dan negara. Kenyataan ini dapat dimengerti walaupun makhluk-makhluk jahat itu (inteiten) dapat memberikan intuisinya (ilham) tetapi ilhamnya itu menimbulkan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan perbuatan setan dan iblis a.l. berupa perlengkapan alat-alat perang untuk membunuh secara besar-besaran dengan tujuan untuk menguasaii bangsa lain dengan berkedok untuk perdamaian, demokrasi, sosialisme, dan lain-lainnya. Nyata-nyata intuisi ini membuat manusia kesasar, sesat dan anti Ketuhanan Yang Maha Esa. Memang syetan-syetan dan iblis bertugas menyesatkan manusia agar tidak rnenuju ke arah Ketuhanan Yang Maha Esa.
Firman Allah swt :
"Dan sesungguhnya di antara manusia ada yang meminta pertolongan kepada jin-jin, lalu mereka itu bertambah sesat (sombong)." (QS. 72:6)
Dalam kitab "Uber das Wassen und Ursprung das Menschen" oleh Shoseki Kaneko hal. 78 disebutkan: "Die Menschen houte sind ganz verchieden von demen. die Gott geschaffen hat. In ihrem Geist und Korper tragen die viel teuflische Unreinhe it". (Urnat manusia dewasa ini berbeda sekali dengan kehendak Tuhan yang menciptakan di dalam in badan jasmani dan ruhaninva penuh dengan aliran setan).
Tetapi ada juga intuisi yang diperoleh dari alam ide (idee wereld). Menghasilkan ide baru yang berfaedah, seperti alat-alat teknik dan mesin. Di dalam kitab "Wat is logisch" oleh Ir. W.F. Stargard hal. 6 disebutkan pula, bahwa Kepler, Newton, v.d. Walls, Pasteur dan beberapa sarjana Iainnya yang menghasilkan pendapat-pendapat baru, sebagian diperoleh dari hasil-hasil intuisinya. Namun boleh jadi hasil intuisinya beIum dapat memberikan kepuasan, terbukti dengan timbuInya revolusi teknik yang menimbulkan pemogokan dimana-mana, mengakibatkan pertentangan-pertentangan dan permusuhan. Dengan uraian tersebut, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa tidak semuanya hasil intuisi merupakan pikiran yang benar, bahkan terkadang sebaliknya.
Walaupun demikian perlu diketahui bahwa betapapun tingginya kedudukan intuisi bagi kecerdasan manusia, dalam jangka waktu pendek dapat menjelmakan suatu pendapat-pendapat baru. Beberapa sarjana telah mengakui, bahwa peristiwa intuisi, termauk tingkatan intelek yang tinggi. Dalarn kitab "Cosmisch Bewustzijn" oleh Dr.Med. Richard Maurice Bucaile hal. 202 menyebutkan, bahwa hasil intuisi dari alam angan-angan itu merupakan ilmu pengetahuan yang dapat diperoleh dalam beberapa detik saja yang melebihi pengetahuan yang mereka peroleh selama beberapa tahun di universitas.
Tentu pada suatu masa para sarjana akan selalu berusaha, dengan abstrasi-abstraksi yang lebih dalarn sehingga menimbulkan keyakinan, di sarnping sernua intuisi rnasih ada tingkatan intuisi yang lebih tinggi. Intuisi terakhir yang hasilnya dapat mengatasi kesulitan-kesulitan hidup dan dapat membuka hijab rahasia alam, ialah intuisi yang diperoleh dari alam Ketuhanan Yang Maha Esa yang akan menghasilkan pengetahuan-pengetahuan mengagumkan, dapat menyelami Hakikat Semesta Alam. Peristiwa intuisi, akibat dari panca indera batin yang berhasil melakukan komunikasi dengan Tuhan Yang Maha Esa, sanggup menjelmakan ilmu pengetahuan yang serba meta ilmu, pengetahuan di luar rasio (para psychologische verschijnselan) ialah ilmu pengetahuan yang halus, di samping alam metafisika yang dapat mengetahui dengan langsung hakikat dari elektron, proton, neutron, dan ion yang bebas dari ikatan inti atom yang juga sangat banyak jumlahnya di alam semesta. Yang akan menjelma sebagai rencana pada setiap kejadian dan peristiwa, serta mempunyai peranan penting bagi proses pertumbuhan makhluk dan kehidupan manusia dan sanggup pula menyelami kecakapan-kecakapan makhluk-makhluk halus dan jasad-jasad angkasa luar, termasuk ruh yang kesemuanya itu tergantung dalam satu kesatuan Yang Maha Mutlak meliptiti seluruh keadaan dan kekuasaanNya.
Peristiwa-peristiwa gaib rnendorong manusia ke arah ilmu pengetahuan yang serba rneta seperti rnetageometri, metakimia dan sebagainya yang sampai pada jaman nuklir ini masih belum didekati sebagian ilmu pengetahuan, sedang kenyataan-kenyataan dan bukti-buktinya selalu bertambah jua.
Peristiwa-peristiwa gaib ialah tindakan-tindakan ruhani atau panca indera batin (sensus interior). Panca indera batin ini baru dapat bekerja sebaik-baiknya apabila ruhani dilepaskan kembali kepada azas pusatnya (Ketuhanan Yang Maha Esa). Syarat mutlak untuk melepaskan tenaga ruhani menuju azas pusatnya, hanya bisa dilakukan melalui ibadah shalat yang khusyu. Shalat yang khusyu berarti melepaskan tenaga ruhaninya dengan diikuti bacaan-bacaan, doa-doa, dan puji-pujian yang sesuai dengan yang disyariatkan Allah swt dan RasulNya, dilakukan dengan sangat teliti dan seksama untuk dihadapkan kehadirat Maha Penyusun dan Maha Pengatur dan sumber dari segala ilmu pengetahuan. Setelah selesai melakukan shalat yang khusyu ruhaninya dilepaskan kembali oleh Allah swt dengan diberi mandat penuh selaku perninipin sejati untuk rnengatur dan menyusun kodratNya di alam dunia dalam melaksanakan kebenaran dan kenyataan-kenyataan yang hakiki, keadilan sosial dan kemakmuran yang hakiki, kemanusiaan yang hakiki dan konstruktif

KHUSYU EVOLUSI TINGKAT KETUJUH
Walaupun sebagian sarjana telah menyelidiki fisika tentang inti atom yang niatnya semula hasil-hasil penyelidikannya di tujukan ke arah vroodzaam, perdamaian sesama manusia akan tetapi hasilnya meleset ke arah yang destruktif. Tentu telah tergambar kesejahteraan negara dan bangsa, apabila para sarjana kita dalarn usahanya terhadap atom materil itu rnemahami pula atom spiritual, atau dengan lain perkataan di samping memiliki pengetahuan keduniaan juga memeiliki ingatan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, dzikrullah. Tegasnya, disamping mereka mencari kewajiban dunia lahir selalu ingat pula akan kewajiban-kewajibannya menunaikan ibadah dan baktinya kehadirat Allah Yang Maha Esa, sanggup melenyapkan ketegangan mencegah timbulnya bahaya yang dahsyat, yang keluar dari energi atom mati,
Dengan tercegahnya atom energi berarti bahaya telah diatasi, menolak bahaya berarti selamat dan menyelamatkan negara dan bangsa dan semua rencana dalam segala bidang akan dapat terlaksana. Keselamatan dan kesejahteraan negara dan bangsa baru dapat dicapal, apabila memperoleh perlindungan Tuhan. Perlindungan Tuhan baru dapat dimiliki apabila bangsa itu memiliki rasa Ketuhanan Yang Maha Esa di dalam dirinya (aku-nya), rasa ketuhanan Yang Maha Esa, akan dapat diketengahkan apabila bangsa tersebut selalu mengadakan hubungan erat dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan atau ikatan yang erat antara bangsa dan Tuhannya hanya akan dapat dilaksanakan dengan melakukan shalat yang khusyu.
Firman Allah swt: :
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah. Apabila berjumpa malapetaka, ia berkeluh kesah akan tetapi apabila ia memperoleh kekayaan enggan bersedekah (amal sosial) kecuali mereka yang melakukan ibadah shalat yang selalu khusyu dalam melakukan shalatnya (berkekalan dalam shalat)." (QS. 70:19)
Ayat tersebut dengan tegas menyatakan bahwa shalat yang khusyu itu, dapat mencegah timbulnya keluh kesah, kesulitan, kesempitan, kemiskinan, dan kemelaratan, menjamin rasa saling mencinta dan saling menghargai, menumbuhkan toleransi.
Di samping itu dengan melakukan shalat khusyu berarti telah mengikat di dalarn evolusi tingkat ke tujuh yang dapat menyaksikan isi alam gaib dan dapat mengetahui dengan langsung hakikat isi seluruh alam sernesta. Tentu saja dengan perantaraan shalat khusyu, ilmu-ilmu gaib yang tertinggi akan dimiliki pula, lebih tinggi mutunya dari pada ilmu magnetisme, hipnotisme, psychometri, telepati, dan segala macarn ilmu gaib. Banyak sekali macarn ragamnya dari ilmu-ilmu gaib, hasil intuisi yang diperoleh dari alam ruhani dan ada pula dari alam jin, setan, iblis dan sebagainya (geestom wereld), yakni alam empat ukuran, sedangkan shalat khusyu itu dapat memperoleh intuisi tertinggi yang datangnya dari alam tujuh ukuran. Oleh karena itu ilmu-ilmu gaib yang rendah derajatnya bila diarahkan kepada orang yang selalu khusyu di dalarn shalatnya, tidak dapat langsung mengenai sasarannya, disebabkan alam ruhaninyahnya jauh lebih tinggi dan selalu bersatu dengan Tuhan (unio mystica). Tidak aneh kalau zwarte magie selalu menemui kegagalan blia dilepaskan ke arah pribadi orang yang selalu khusyu dalam shalatnva.
Dari: Shalat dan Panggilan Arafah - KH Bahaudin Mudhary
 |