larger smaller reset

basmalah

Shalatdan Panggilan Arafah

Bagian Kedua

Oleh: KH Bahaudin Mudhary

TIDUR DALAM SADAR

Allah swt berfirman:

"Sebutlah Tuhanmu dalam hatimu. dengan merendahkan diri dan rasa takut, dengan tidak mengeraskan suara diwaktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai. " (Al A'raf: 205)

Dalam melakukan shalat khusyu, badan jasmani seolah-olah tidur, sedangkan ruhani tetap sadar dan bebas dari pengaruh jasmani atau dengan lain perkataan, "tidur di dalam sadar" Di saat gerakan-gerakan atau perbuatan-perbuatan jasmani yang dipimpin oleh ruhani yang tengah melakukan perbuatan di alam Tuhan, kenal-mengenal, mohon ampun, mohon rizki, mohon petunjuk dan seterusnya sebagaimana yang biasa menjadi ucapan-ucapan atau bacaan-bacaan shalat yang berarti berdialog dengan Tuhan. Sema ucapan dan bacaan itu dilakukan menurut aturan dan cara yang sesuai dengan keadaan alam yang mempunyai tujuh ukuran yang tidak dapat dimengerti oleh ilmu pengetahuan eksak (exact wetenschap). Pengetahuan eksak hanva dapat meraba-raba atau mempunyai anggapan bahwa perbuatan-perbuatan ruhani di alam Tuhan itu berlangsung dalam peristiwa getar-menggetar (resonansi).

Di dalam ruhani menyimpan bion-bion dan ion-ion yang mempunyai angka getaran sendiri-sendiri. Disaat melakukan shalat khusyu getaran-getaran ruhani yang melepaskan itu menjumpai kumpulan bion-bion yang menjelmakan ucapan-ucapan misalnya: Allah Yang Maha Agung, maka masing-masing bion yang dipancarkan oleh ruhani itu mempunyai angka-angka getaran (trilling sgetal) seimbang dengan yang ditangkapnya. Selanjutnya apablia diucapkan: "wahai Tuhan, ampunilah kami ", maka bion-bion itu mempunyai angka getaran yang sesuai dengan gelombang Allahu Akbar dan begitu juga mengenai semua ucapan dan bacaan dalam shalat khusyu itu, baik mengenai suaranya maupun perasaannya di waktu itu. Peristiwa ini disebut Ketuhanan Yang Maha Esa yang ada pada mannsia (hot Goddelijkein den Mensch), yakni ruhani sedang menerima sinar Allah, mengisi kekuatan dari alam Tuhan yang memperoleh peristiwa-peristiwa gaib. Ibarat besi magnet dan kawat yang mengandung aliran listrik, disekitarnya daerah tenaga atau medan daya magnet (magnetisch krachtveld), sebagai akibat dari, getaran bion-bion yang ada di dalamnya. Medan tenaga ruhani di dalarn ilmu metafisika disebut badan halus (fluidic lichaam) dapat bertindak dalam peristiwa-peristiwa gaib yang tiga ukuran, sedang ruhani dapat bertindak di alam empat ukuran hingga tujuh ukuran, inilah perbedaan tindakan-tindakannya. Justru sesuatu yang telah diketahui jasmani, ruhani telah lebih dahulu mengetahuinya, akan tetapi sesuatu yang telah diketahui ruhani, bagi jasmani masih gelap keadaannya.

Dalam melakukan shalat khusyu itu niscaya ilmu pengetahuan modern akan mengakui dengan jalan induksi, bahwa banyak peristiwa ajaib dan gaib yang tidak dapat diterangkan dengan ilmu alam, akan tetapi peristiwa-peristiwa tersebut sanggup membuka jalan untuk menjelajah alam abstrak, yang lebih luas dari ilmu pengetahuan eksak. Dernikian pula bagi ilmu pengetahuan kebatinan (mystic), akan rnengakui pula bahwa di dalam shalat khusyu menyimpan tenaga yang mendorong buat memperdalam ilmu pengetahuan eksak di samping yang mystic (abstrak).

Apabila pengetahuan eksak menyelami yang abstrak yang abstrak menyelami yang eksak, maka yang pertama dapat disebut intelek ulama dan yang kedua ulama intelek, Manusia yang demikian inilah sanggup membina keselamatan yang batin di samping yang lahir, kebutuhan moral dan materil. Paduan keduanya akan melenyapkan tuduhan-tuduhan dan tengarai, intelek yang jauh dari tuntunan agarna, terlalu modern, juga sindiran, kolot, tahayul, tak masuk akal dan tak terbayang pada pikiran.

Timbulnya ketegangan disebabkan adanya persimpangan jalan, ada satu golongan ingin mengantarkan ke arah kebangkitan material tanpa spiritual dan yang lain ingin mengantarkan ke arah spiritual dengan mengabaikan kepentingan material. Inilah salah satu sebab timbulnya perselisihan dan pertentangan serta kesukaran-kesukaran hidup yang dihadapi beberapa bangsa di dunia ini.

Peristiwa terus menerus dan berlangsung apabila sebagian umat manusia dalam hidupnya dikuasai mekanisasi dan teknokrasi saja, telah merasa menjadi intelek sejati. Dan sebagian lagi dikuasai kebatinan, tetapi mengabaikan tuntunan agamanya, sehingga menyebabkan timbulnva aliran-aliran kebatinan yang tidak lagi disandarkan kepada Al-Qur'an dan hadits Nabi Muhammad saw, bahkan banyak yang dipengaruhi dengan kitab-kitab kebatinan yang isi keseluruhannya belurn tentu dapat dipertanggung-jawabkan kebenarannya oleh ajaran-ajaran Islam seperti; Tajusalatin, Insan Kamil, Bayan Alif, samarkandi, Sukmojati, Menak Gandrung dan lain-lain. Lantaran itu pulalah tidak mengherankan kalau ramalan-ramalan Joyoboyo lebih diyakini kebenarannya daripada hikmah makna gaib yang dikanclung dalam Al-Qur'an dan hadits Nabi Muhammad saw. Menurut ajaran Islam Al-Qur'an adalah amanah Tuhan yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw, manusia suci yang memiliki antene tertinggi yang tidak mungkin menerima suara campuran atau feeding yang beliau terima dari Allah swt bertujuan ke arah kebangkitan material dan spiritual, kebahagiaan dunia dan akhirat.

Para sarjana dan pemimpin umat serta bapak rakyat para kiai dan mubaligh yang punya tujuan untuk membangun masyarakat adil dan makmur dan punya rasa tanggungjawab bagi melenyapkan bahaya yang ditimbulkan energi material, hendaknya menyelami juga nilai-nilai energi spiritual yakni di samping intelektual stoffelijk functie dibutuhkan juga intelektual geestelijk functie.

Yang pertama dapat diperoleh dengan ilmu pengetahuan eksak (teknik) dan yang kedua dengan ilmu pengetalman abstrak. Keduanya akan menjelmakan fungsi kebudian atau causa rationalis (rasa Ketuhanan Yang Malia Esa) di dalarn pribadinya.

Nabi Muhammad saw bersabda.

"Aku diutus oleh Tuhan untuk menyempurnakan budi yang mulia". Maksud hadist tersebut adalah orang yang memiliki rasa Ketuhanan Yang Maha Esa, pasti bermoral, yakni memiliki budi yang tinggi, dalam naluri akal pikir, penalaran, dan amalan-amalannya,

Tetapi sebaliknya, kadangkala shalat dilakukan ala kadarnya, normatif atau terburu-buru, bahkan hatinya melanglang ke alam lain, bukan menuju Tuhan.

Diriwavatkan oleh Hasan al Basri: "Setiap shalat yang dilakukan tanpa kehadiran hati (konsentrasi - khusyu) lebih dekat kepada hukuman (siksaan - berat untuk dilakukan - pent). "

SHALAT TEORI TANPA ALAM TUHAN

Dalarn "Encyclopaedie der Philosophischen Wissenchaffen", Hegel berkata: "Pikiran yang pasti benarnya ialah pikiran yang dipanjatkan ke arah budi, dan terus langsung menuju Tuhan." Manusia mempunyai kesanggupan mencipta dan menjelmakan rasa pengakuan adanya Maha Pencipta dan lenyaplah rasa ingkar terhadap perintah-perintahNya. Nabi Muhammad saw besabda:

"Perebedaan antara kita dan mereka (yang ingkar itu) ialah meninggalkan shalatnya." (H.R. Ahmad dan Muslim)

Selanjutnya perlu diuraikan juga dengan singkat mengenai shalat yang dilakukan tanpa kekhusyuan. Shalat yang dilakukan tanpa kekhusyuan ialah asal bershalat saja, dengan mengabaikan hikmah-hikmah yang terkandung dan tersembunyi di dalamnya. Shalat yang demikian ini merupakan shalat teori dan pasti tidak akan menernui alam Ketuhanan Yang Maha Esa. Oleh karena itu tidak sedikit orang melakukan shalat akan tetapi perbuatan-perbuatan dan tindakannya sama saja dengan mereka yang tidak melakukan shalat, bahkan mereka lebih merugikan bagi sesarna hidup. Sebab mereka memiliki antene yang rendah sekali, tentu saja tak dapat menerima suara dari alam Tuhan (gestord atau feeding). Sebagaimana juga tidak mungkin alat radio menerima siaran-siaran dari penyiarnya dengan suara yang sama, tetapi ada juga yang dapat menerima suara yang samar-samar yang rendah, terang, bersih feeding dan ada pula yang tinggi.

Demikian juga dalarn melakukan shalatnya tergantung tinggi rendahnya angka getaran dari bion-bion ruhaninya, kalau rendah tentu tidak mungkin shalatnya itu memperoleh ke khusyuan. Yang demikian itu disebabkan getaran bion-bion ruhaninya masih terikat kepada alam kebendaan (stoffcllijk gebeid), ruhaninya masih terbelenggu dengan badan jasmaninya, sehingga ingatannya tidak dapat langsung berhubungan dengan alam Tuhan, masih meraba-raba mencari Tuhan akan menimbulkan keragu-raguan yang menyebabkan pula timbuInya bermacam-macam aliran di dalam agarna, sehingga sukar sekali memiliki kesadaran yang sempurna

Firman Allah SWT:

"Celakalah mereka yang meelakukan shalatnya den gan kelalaian (tanpa kekhusyuan)." (QS. 107:4

Dalain uraian ini sudah dapat dibayangkan, betapa jauh perbedaan antara shalat teori dengan shalat praktek, shalat khusyu dan yang tidak khusyu. Dalarn kitab "De Bhagawad Gita" oleb Ir. J.A. Blok hai.9 disebutkan "Het is de weg van opgeven en daardoor overstijgen van eigen benepen gaal en doardoor zich wezenlijker terugvindenin den onbegrensden iniverseelen aether. " (Satu jalan untuk mengabaikan diri sendiri yang sempit itu dan meninggalkan dirinya menuju kerajaan yang dahsyat, berisikan hakikat dan keabadian, rnelalaikan jasmani menjumpai diri yang sejati dalam alam semesta yang tak terbatas dan tak bertepi).

Maknanya seolah-olah menguatkan bahwa dengan shalat yang khusvu akan menemukan alam hakikat, bakal menimbulkan keyakinan bahwa semuanya ini dalam keadaan nisbi atau relatif. Jika semuanya dalam relatif, tentu wajib adanya het absolut, Yang Maha Mutlak, yaitu Allah swt, atau dengan perkataan lain adanva kenyataan-kenyataan yang lahir bergantung kepada Yang Maha Mutlak, sesuatu yang bersifat relatif hanya merupakan bagian (fragment) dari Yang Maha Mutlak. Menurut teori tentang kenisbian (relativitet) yang dikemukakan Einstein, dinyatakan bahwa semua kenyataan yang dapat disaksikan adalah relatif sernata-mata, masIh bergantung kepada adanya yang lain, Yang Maha Mutlak, tidak akan berhasil apabila hanya mengenal fragmentnya saja. Berhubungan dengan itu intelektual sejati pasti tidak akan puas dengan kenyataan-kenyataan yang lahir saja. Di samping yang lahir rnempergunakan juga alat berpikirnya ke arah di luar rasio (hot abstarhorend verstand).

Tak ubahnya shalat yang tanpa kekhusyuan dapat diibaratkan shalat yang nisbi, bukan yang hakiki, yang tindakan-tindakan atau perbuatan-perbuatannya terhadap rnasyarakat, negara dan bangsa tentu hanya dapat dipertanggung-jawabkan kepada yang insbi pula bukan kepada Yang Maha Mutlak, Allah swt. Pertanggung-jawaban yang demikian bukan yang hakiki, Meski perbuatan-perbuatan dan tindak-tanduknya diakui oleh masyarakat tidak berarti sudah dianggap benar dihadapan Yang Maha Mutlak, Allah swt. Tetapi dengan membiasakan shalat khusyu yang dihadapkan secara langsung dan di bawah pengoreksian Yang Maha Mutlak, pasti menebarkan amalan yang luhur dan mulia yang dapat dipertanggung-jawabkan kepada Yang Maha Mutlak dan pasti benar dan baik adanya. Mewujudkan kebahagiaan kepada Urnmat manusia dan negaranya.

Begitu pula shalat yang benar. Bermula dari percikan wudlu, rnenyucikan niat hati, bentangan sajadah, satu persatu menguraikan makna, berkhidmat dialog munajat menguak tirai antara ma'bud dengan al-Khaliq, akhirnya rneraih keselamatan dan rahmat. Shalat tersebut dilakukan dengan tatanan yang tertib, tumaninah, meredah diri penuh tawadu di hadapan kebesaran Rabbi, kemudian biasnya tercermin dalam pola pikir, perangai dan perilaku sehari-hiari.

Dalam buku Asrar as Shalah oleh Imam Al-Ghazali disebutkan bahwa untuk mencapai tingkatan shalat yang benar dan khusyu antara lain dengan hudhurul qalb, kehadiran hati menemui Tuhannya, Tafahhum, pemahaman yang dalam, satu-satu makna kalam- kalamNya, Ta'zhim, penghormatan dan penghambaan yang dalam, Haibah, takut yang disertai pengagungan serta Roja', sebagai tak puas-puas bergantung harap dan Haya', rasa malu yang tak terhingga. Tatkala kita rukuk misalnya, adalah pertanda tunduk merendah dan tawaddu' kepadaNya, sebab hanya Dia yang teragung di antara semua yang agung. Begitupula di kala sujud, seolah sebagai realita ketundukkan dan kepasrahan, melebihi segalanya, hanya kepada Allah swt seraya berucap:

"Suhhaana rabbiyal 'ala " "Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi, "

Sebenarnva makna-makna yang diserap bertautan dengan daya pemahaman dan tingkatannya sesuai pula dengan kadar ilmu dan kejernihan hatinya.

KHUSYU DIIKUTI PENGURBANAN

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kenikmatan yang berlimpah. Maka kerjakanlah shalat demi Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnva orang yang membencimu dialah orang yang terputus dari rahmat Allah. (QS. 108 : 13)

Firman ini sangat jelas sekali, betapa kenikmatan yang kita raup dalam makna kehidupan ini sangat berlimpah, tak mampu dihitung dengan jemari, mulai dari nafas yang kita hirup, kesehatan, rezeki, serta beragarn nilai keselamatan lainnya, begitu juga nikmat kesabaran dan lapang dada. Karena itu dalam firmanNya yang lain disebutkan.

"Nikmat Allah yang manakah yang kamu ragukan?"

Penegasan ini dimaksudkan agar manusli pandai-pandai bersyukur tidak mudah mengeluh dan meningkatkan intensitas kerja menuntut iImu sebanyak-banyaknya untuk berfastabiquI khairat. Sehingga ada keseimbangan, paduan antara ukhrawi dan duniawi yang maslahat. Shalat yang semata-mata ditujukan kepada Allah swt merupakan perwujudan ampun yang paling dalam. Lalu dikaitkan dengan perintah berkurban yang juga memiliki nilai spritual, sebagai kadar ketaqwaan kepada Rabbi, menimbukan bias pendidikan yang tulus ikhlas paling tinggi.

Barangkali tidak ada kemudahan tanpa melalui proses pengurbanan. Sebab apa yang kita raih, seperti kesenangan, kebahagiaan tak gampang menggapainya begitu saja, tanpa mengarungi jalan yang penuh tantangan dan pengurbanan. Hal ini sangat relevan bagi pembangunan bangsa, negara dan agarna. Bertumpu dari rilai shalat dan berkurban, kita dituntut agar menjadi manusia yang berkualitas sebagai aspek beragam amalan kebajikan dan buah fatwa yang muttaqin. Lantaran pangkat, kedudukan, kekayaan atau kehormatan dunia.

Justru itu, hari kurban di bulan Dzulhijjah, kita jadikan tonggak avval untuk mengisi hati manusia dengan kecintaan sesama. Berangkat dari keluhuran akhlak, akal yang jernih manusia bakal menemukan dirinya, baik sebagai insan hamba Allah dan manusia yang senantiasa cenderung kepeduliannya bagi solidaritas dan ukhuwah Islamvah. Dari rangkaian ritual haji misalnya, sebagai dituturkan M. Natsir Arsyad dalain Buku Seri pintarnya menyebutkan: "beragam Fadilah hikmah dan tujuan ibadah haji antara lain, merupakan amalan yang paling utama, berfungsi mengosongkan hati dari sifat congkak, sikap materialistis, mental budak dan segala sesuatu yang dapat menyeret ketergantungan kepada selain Allah dan RasuINva. "Tak ubahnva sebagai penghapus dosa bagi mereka yang benar-benar bertaubat, bahkan diganjar syurgawi bagi yang mabrur hajinya. Ikrar menyatakan perang dari segala cobaan dan godaan syeitan, baik yang samar tersembunyi ataupun yang terang-terangan, juga menggalang solidaritas umat sebagai puncak persatuan, persaudaraan, kesucian dan kebersamaan yang islami. Haji boleh dibilang tanda bahwa seseorang itu benar-benar kaffah islamnya, yang wajib dilakukan sekali seumur hidup.

Dari dua materi yang menjladi pokok bahasan shalat dan berqurban ini , memang memicu pencerahan kesadaran menyikapi kehidupan. Sebab cinta kepada Allah tentu akan melebihi segalanya yang pada gilirannya akan merupakan sendi kehidupan ruhani bagi bagi seorang yang larut dalam pendalaman metafisis. Sementara penyakit yang paling berbahaya dalam alam modern ini adalah nafsu mengejar kemegahan dunia dan kesenangan yang berIebihan dan tak acuh kepada kehidupan spiritual yang sebenarnya merupakan bekal terpenting untuk hari akhirat kelak. Pandangan yang sekularis inilah yang mencabut sendi-sendi dasar yang sangat berharga bagi kehidupan umat manusia. Penvakit rasionalis sekularis nampak menjamah beragam di semua lini kehidupan. Gejala tersebut dengan sangat jelas dapat dilihat dalam kehidupan modern dengan merajalelanya korupsi, kolusi dan nepotisme atau tindakan kejahatan dan kekerasan yang terus meracuninya. Inilah yang rnenjadl beban tertutupnya mata hati kita, yang enggan untuk bersinar, apalagi menggapai nurullah, karena hal tersebut mustahil selagi masih mendominasi dalarn jiwa kita. Tepatlah apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadits yang artinya:" "Bahwa engkau menyembah Allah seolah-olah enqkau melihatNja. Jika engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Allah swt melihatmu.

Kalau mernang sudah rnenunaikan shalat dengan khusyu dengan melakukan pelbagai pengurbanan yang marnpu melepaskan diri dari lilitan hawa nafsu, syahwat, junub, kelaialan, lalu dengan bersungguh-sungguh bertaubat kepada Rabbi, maka resonansi ke alam Malaikat insya Allah akan rnernberikan kedamaian dihati. Sehingga rnendapatkan ilmu yang halus dalam keagamaan dan ke Tuhanan sebagaimana dijanjikan Allah swt dalam surat al Baqarah ayat 282:

'Dan bertakwalah kamu kepada Allah, dan Allah akan memberikan ilmu pengetahuan kepadamu."

Ilmu Allah itu, adalah Nurullah.

ARAFAH NAFAS RITUAL YANG DIYAKINI

Berawal dari niat menunaikan ibadah haji, tentu dibekali rasa ikhlas dan penuh kesabaran, berupaya meningkatkan kualitas ibadahnya, ingin membersihkan dar noda dan perbuatan tercela, dan bersegera memohon arnpunan. Kernudian merenungkan makna simbol-simbol ibadah yang memiliki beragarn hikrnah, mulai dari pakaian ihram, thawaf, sa'i, tahallul, wukuf, dan jumrah. Dan kitapun harus mernpelajari serta menguasai masalah manasik haji dengan penuh kesungguhan.

Pada hakikatnya, ibadah haji itu sebagal titik tolak nuansa pengalaman panjang hidup insani. Seseorang tak bakal bisa menghayatinya apabila mereka tidak memahami perjuangan agung Nabiullah lbrahim dan putranya Ismail alaihiwassalam. Sebab eksistensi manusia tidak ada artinya kecuali tujuan hidupnya hanyalah untuk mendekatkan diri dan menghambakan diri kepada Allah swt. Kesadaran sebagai hamba Allah itu hendaklah kita jadikan tumpuan untuk membebaskan dari segala galaunya kebutuhan dan ketamakan yang menyebabkan lupa dirl kepada Rabbi.

Itulah sebabnya, untuk meringankan beban dalarn melaksanakan ibadah yang satu ini, banyak membekali diri, menghilangkan rasa benci, dendam kesurnat, marah kepada sanak keluarga, famili dan handai taulan. Malah harus menyelesaikan hutang-piutang dan ragam persoalan hidupnya. Sudah pasti tujuan utarna bukan untuk Allah, melainkan untuk berkunjung ke rumah Allah. Melakukan ibadah haji, untuk menziarahi Allah - yakni berkunuung ke Bait Allah (Rumah Allah).

Nabi lbrahim as dikenal sebagai pemula pencetus tauhid yang menyeru keEsaan Tuhan. Sepertl tersirat dalarn al-Qur'an 16: 120 yang artinya:

"Sesungguhnya Ibrahim tunduk kepada Allah dan ia adalah manusia lurus yang tidak menyembah berhala".

Karena itu rnemperhatikan napas-napas ritual harus benar-benar didalarni dan diyakini, sehingga dalam setiap mengikuti napak tilas, para jamaah haji, tak ubahnya ia berada di tempat dimana saja Allah selalu hadir. Sesungguhnva Allah lebih dekat dengan kita, daripada kita dengan diri sendiri. Sebagaimana firmanNya yang berbunyi:

"Kami lebih dekat kepadanya daripada urat dan tenggorokanya." ( AI-Qur'an 50:16 )

Nabi lbrahim pula yang menghapus tradisi sesaji kepada para dewa, kemudian diganti dengan ajaran kemanuiaan. Dalam sejarah, lantaran keikhlasan sernata-mata karena Allah, maka perintah seberat apa pun beliau laksanakan dengan tulus. Seperti ketika akan menyembelih putranya, Ismail, Allah dengan sifiat rahman dan rahimNya mengggantinya dengan seekor domba yang besar dan gemuk. Rasa kasih sayang Allah itu terus bergulir, sehingga ibadah yang dilakukan oleh Ibrahim itu diwajibkan kepada umat Muhammad saw untuk melaksanakan qurban. Perintah Allah ini sungguh ringan sekali, karena bukan lagi manusia yang menjadi ajang kurban tetapi hewan ternak.

Al-Qur'an menyebutkan Nabi lbrahim as adalah satu-satunya nabi yang memohon kepada Ilahi rabbi, untuk diperlihatkan bagaimana Tuhan mernbangkitkan makhluk yang telah mati. Dalarn ajaran Nabiullah Ibrahim as ada kehidupan dan ada kebangkitan. Sebagai aplikasi, kita bisa menyaksikan seperti kewajiban berpakaian ihram, pakaian kebenaran dan kesuian, selembar kain putih tanpa jahit, sebagai pengandaian bahwa kita nanti akan dibungkus kain kafan, ketika kita menghadap Rabbi. Kita meninggalkan seluruh atribut keduniawian, segala kernegahan dan kebesarannya. Dr. Ali Syariati menyebutkan, menggunakan pakaian ihram kelewat sederhana dan sama, barangkali tak nampak lagi perbedaan diantara kita. Tak ubahnya pakaian hanya menutup diri dari watak manusia, dengan kata lain seorang individu tidak mengenakan pakaian, tetapi pakaianlah yang menutupi dirinya. Manusia perlu menyadari kefanaannya atau menyadari bahwa dirinya itu hanvalah seorang manusia fana yang harus mengetahui eksistensinya. Dengan kerendahan hati dan rasa takut, mengenakan pakalan haji, menjauhkan diri dari segala sesuatu yang dapat menghalangi mengingat Allah,

Cobalah terangi hati dengan sinar hakiki. Sebab, selama ini kita sadari pelbagai kealpaan, kelengahan dan kebodohan, bahkan boleh jadi menjadi budak dan bekerja lantaran kebiasaan atau keterpaksaan. Tinggalkan semua itu untuk rnenuju kesadaran prima tentang Zat Allah Yang Maha Besar dan diri sendiri. Berpeganglah erat-erat untuk meyakininya. Tak berhenti memuji, seperti para Malaikat yang memuji "Arsy".

DI Padang Arafah, diperlihatkan majelis persidangan Allah dan rnembangkitkan kesadaran, bahwa sebenarnya kita akan menuju panggilanNya. Manusia bertekad untuk kembali kepadaNya, segala keakuan yang cenderung mementingkan diri sendirl sirna pula. la menyikapi tujuan hidup yang sebenar-benarnya. Di Padang Arafah inilah semua bangsa dan beragam suku dan adat istiadat, kultur berlebur menjadi satu kaum. Hati yang terbenam dalam munajat memohon ampun, rnenyimak satu persatu kesalahan dan kesemberonoan, mengikat diri pada perjanjian dengan Allah dalarn keEsaanNya. Sempurnakanlah persatuan jiwa tertinggi tatkala bermunajat di bukit Arafah.

Thawaf atau mengelilingi Ka'bah memang tampak sederhana sekali. Dilambangkan dengan rurnah Allah dimana di semuaa segi, segala sudut dan dimanapun juga ternyata terdapat Allah. Kita shalat menghadap Allah. Suasana yang kian dekat dengan Ka'bah terasa penuh hening tafakkur dan cinta meskipun gemuruh doa-doa munajat bergaung.

"Dan kepunyaan Allah lah timur dan barat, kemanapun kamu menghadap (disitulah wajah Allah. Sesunguhnya Allah Maha Luas (rahmatNya) lagi Maha Mengetahui." (Qui'an 2:115)

Bertamu kerumahNya dan berthawaf adalah untuk memuliakan pemilikNya, keagunganNya, kebijaksanaanNya serta kekuasaanNya, Safa berarti kesucian sedangkan Marwah adalah kepuasan, itu adalah lambang rangkaian hidup manusia yang dilahirkan suci hingga dewasa tua-bangka yang menggapai kepuasan semata-mata karena Allah. Karena itu, sucikan jiwa dan batin ma'bud untuk bertemu PenciptaNya.

Melontar Jumrah, merupakan perlambang membasmi keburukan dan serba kejahatan dari laknat setan terkutuk. Tak terpuruk lagi ke lembah hina, menghapus rasa benci dan permusuhan. Lemparkanlah seluruh hasrat dan perbuatan tingkah pola yang keliru tatkala melempar batu di pilar Aqabah. Menghayati ini akan menghantarkan kesempurnaan ibadah haji. Yang lebih arif lagi, mengenal diri sebagai harnba yang lemah dan meyakini Allah Yang Maha Agung.

Sebutlah "Labbaikallahumma labbaik" dan seterusnya. Allah telah memanggil engkau. Engkaupun datang untuk memenuhi ajakanNya dan mematuhi segala perintahNya.

KURBAN UNTUK MERAIH MANISNYA TAKWA

Pengertian "qurban " adalah berasal darl kata "qurban" berkaitan dengan "qarib" (dekat) dan "qarabah". Qurban adalah tindakan orang beriman untuk menghasilkan kedekatan dengan ridha Allah. Dalam surat as-Shaffat ayat 108 Allah menjelaskan:

"Langkah-langkah Nabi Ibrahim itu, oleh Allah ditugaskan juga untuk dilaksanakan oleh umat manusia."

Jika setiap shalat, selalu mernbaca do'a:

"Allaahumma shalli ala Muhammad wa ala ali Muhammad kamaa shallaita ala Ibrahim wa ala ali Ibrahim "

"Wahai Allah curahkan karunia atas Nabi Muhammad dan pengikut Nabi Muhammad sebogaimana Tuhan telah mencurahkan karuniaNya atas Nabi Ibrahim dan pengikut Nabi Ibrahim.

Selanjutnya kita pun berdo'a:

"Wa barik alaa Muhammad wa ala ali Muhammad kamaa baarakta alaa Ibrahim wa ala ali Ibrahim. "

"Dan semoga Allah mencurahkan berkahNya atas Nabi Muhammad dan pengikutnya sebagaimana Allah mencurahkan berkahNya atas Nabi Ibrahim dan pengikutnya "

Sebelum Allah rnencurahkan karunia dan berkahNya kepada Nabiullah Ibrahim as, Allah memerintahkan kepadanya untuk berkurban dengan rasa tulus-ikhlas, khusyu, dan tawadhu. Lalu Allah pun mengabulkan do'anya berupa berkah, daerah yang tadinya gersang menjadi tanah yang belimpah rezeki. Sedangkan yang berwujud karunia adalah keturunan yang shalih sebagat Nabi-nabi dan Rasul. Termasuk Nabi Muhammad saw adalah keturunan Nabi lbrahim as.

Karena itu pula, dalam hati kecil kita ada petanyaan yang sederhana, adakah setiap kita munajat berdo'a pada setiap tahiyat akhir shalat, lalu di bulan haji kita ikhlas rnemenuhi pengorbanan yang diperintahkan oleh Allah swt, sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Sesungguhnya dalam berkurban rtu, yang utama adalah sikap batin, meski sikap atau tindakan lahiriyah juga perlu. Aktualisasinya melalalui pengorbanan fisik dan material berupa penyembelihan binatang ternak qurban. Ekspresi sikap batin dan tindakan lahiriyah mernberikan makna refleksi filosofis ibadah qurban, yang berakhir dengan ketakwaan semata.

Qurban adalah perbuatan tanpa pamrih, rela dan ikhlas beramal. Sebab ikhlas timbul dari "budi" lantaran kesadaran lahir batin yang mumpuni. Sementara budi yang merupakan bion-bion ruhaniyah suci, membentuk badan halus atau tubuh ruhani dengan kadar yang abstrak yang "impoderable" (tak dapat diraba, diukur dan ditimbang dengan dimensi panca indera lahir). Manuia yang berbudi, tak ubahnya mereka yang senantiasa menggunakan tubuh halusnya untuk berbuat dan bertindak dengan jalan tatanan yang ada sebagaimana yang telah ditetapkan dalarn al-Qur'an: syari'ah, thariqah, shirath, sabil, mansak dan rninhaj, jalan unuk mendekat kepada Allah dengan serba kesucian.

Budi yang memiliki kemampuan daya kreatifitas tinggi mengurai, memilah-milah relung hubungan daya-daya nalar pikir yang materialistis sesuai dengan fungsinya untuk meraup "mutmainnah" sebagai tenaga batin (Inwindiglight), penghantar untuk melakukan getaran gelombang dengan pusat sekalian jagat alam (alam wahdaniyah), dan sebagai naluri daya batin yang berabstraksi dengan proses resonansi secara berkesinambungan.

Jika gelombang ruhaniyah mempunyai frekwensi getaran yang sama, maka akan memancarkan sinar Allah atau nurullah. Sudah pasti insan yang beruntung inilah yang bakal menikmati manisnya taqwa yang muttaqin, rasa ketuhanan yang paling dalam bagi dirinya. Ruhaniyah selalu mendorong untuk berbuat kebajikan, keadilan, perikemanusiaan, kesusilaan, ikhlas berqurban dan berta'awun untuk kepentingan umat.

LEBIH AFDOL MENYEMBELIH SENDIRI TERNAK KURBAN

Mereka yang melakukan qurban dengan niat kuat yang sebelumnya berpuasa sunnah, mensucikan dirinya, tak putus-putusnya menyebut asma Allah, Takbir, tahlil, tahmid, lalu melaksanakan Shalat led dan segera menyembelih ternak qurban. Dengan membaca Bismillah Allahu Akbar, dengan ucapan yang paling dalam, satu niat yang dipancarkan kehadiratNya, lalu menelusiri relung budi menembus ke tubuh ternak qurban alhasil daging dan tulang-belulangnya terkena biasnya. Karena itu mereka yang berqurban diisyaratkan untuk menyembelih ternaknya sendiri, sehingga ia akan meneima sinar Allah tadi. AlIah swt berfirman di dalam surat al-Hajj ayat 29 yang bunyinya:

"Hendaknya mereka menyingkirkan perbuatan-perbuatan kotor dan hendaklah mereka menyempurnakan nazarnya (qurbannya).

Pengertian kalimat "menjauhkan perbuatan kotor" dalam ayat ini dimakuddkan sebagai ikhlas berqurban hanya karena Allah saja, tidak dipengaruhi oleh nafsu-nafsu tercela seperti riya, ingin dipuji dan lain sebagainya.

Dalam ilmu Mentale sugesti, dapat dibuktikan tentang upaya memasukkan kemauan seseorang pada pikiran orang lain, berlangsung dengan pengaruh induksi, seperti arus listrik dapat mengalir ke kawat lain. C. Flammarion dalam buku "Het redsel van den dead" mengatakan bahwa peristiwa orang yang memasukkan kehendaknya kepada orang lain memang nyata kebenarannya, namun sulit diterangkan. Malah ia menyebutkan bahwa pancaran daya tersebut lebih canggih dari daya-daya mekanika, fisika atau kimia, lantaran tersusun dari daya hidup yang gaib.

Pada buku seri metafisika "Menjelajah ke angkasa luar jilid I dan II (terbitan Pustaka Progressif, Surabaya) telah saya jelaskan bahwa pikiran yang bebas dari beragam pengaruh ajakan nafsu yang dipancarkan dari pangkal otak, lalu mengalir ke budhis licham, berubah menjadi pikiran dinamis kreatif, normatif dan religius. Sedang daya pikiran yang cuma dialirkan ke otak yang dipengaruhi nafsu, menjelma pada pikiran yang materialistis dengan bermacam-macam alirannya. Fimnan Allah swt dalarn surat al-Hajj ayat ... menjelaskan sebagai berikut:

"Dan menyembelih qurban itu Allah jadikan untukmu sebagian dari syiar-syiar agama Allah. Melakukan qurban itu berguna untukmu. Oleh karenanyaa hendaklah kamu sebut nama Allah talkala menyembelihnya. Dan apabila hewan itu telah mati hendaklah kamu makan dan bagi-bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan maupun kepada fakir yang menjaga kehormatan. Demikian Aku serahkan kepadamu semoga kamu bersyukur."

Dalam ayat ini Allah swt menegaskan bahwa melakukan qurban itu sebagian dari syiar agama Allah dengan menunjukkan rasa taqwanya yang menimbulkan kemaslahatan.

Jadi dengan alat budi manusia dapat melakukan hubungan langsung dengan Allah Azza Wa Jalla. Dengan kata lain, Sinar Allah yang turun atas badan budi orang yang berqurban dan menyembelihnya sendirl terjadi process of relay. Sinar tersebut segera menembus ke dalam tubuh hewan qurban, sekaligus merubah sifat hewan itu, serta mengandung energi sinar Allah yang sangat berguna dan sangat besar sekali manfatnya.

Dr. Fritz Khian menyebutkan bahwa sinar kosmis dari semesta alam mempunyai kemampuan untuk mengubah setiap jenis makhluk. Kiranya sesuai pula pendapat Piroviano bahwa beban listrik sanggup melakukan mutasi atas setiap jenis makhluk .

Sebagaimana yang kami uraikan di atas, tubuh hewan/ternak qurban segera menerima arus sinar kosmis (nurullah) dari orang yang berkurban dan menyembelihnya, yang diterima dari alam wahdaniyah, lantaran bertafakkur, bermunajat kehadiratNva.

Sinar Allah yang merasuk ke dalam tubuh budi yang melakukan qurban itu, tentu dibawa oleh zat yang lebih halus dari sinar tersebut. Sinar Allah itu turun dari Allah Yang Maha Hidup dan Maha menghidupkan. Maka zat pembawa itupun tersusun dari makhluk hidup suci dan gaib yaitu Malaikat. Sinar yang memiliki energi tadi berubah menjadi energi yang hidup yang bisa menyembuhkan yang hidup, sebagaimana peristiwa Nabi lbrahim sewaktu akan menyembelih putranya, Ismal. Di saat itulah Malaikat selaku zat pembawa sinar menggantikannya dengan seekor domba yang gemuk, sementara Nabi Ismal masih segar bugar.

Tubuh hewan/ternak qurban yang menerima sinar batin itu mengandung daya gaib yang serba ruhaniyah atau anima suubtraktif, sehingga menimbulkan tenaga gaib yang dapat mengubah zat-zat, sebagaimana karbon dan elektron sinar kosmis yang berasal dari dunia lain dapat mengubah sifat zat-zat yang berasal dari tanah. Sebagai contoh yang paling sederhana, seorang medium yang menggunakan aku batinnya, maka bion-bion ruhaninya memancar dan bisa dialirkan kepada orang lain. Sehingga orang lain tadi menjadi "kesurupan" dan berubah sifatnya, berkekuatan luar biasa, dapat berpencak silat atau bertingkah sesuai dengan kendali sang medium, padahal sebelumniya ia tidak pernah mempelajarinya. F. Grundwald dalarn Psycho Student, memberikan gambaran bahwa tangan sang medium yang menggerakkan jemarinya, sebenarnya di seputar tangan terionisasi dari unsur atom di udara, diikuti asap bersinar, sehingga bion-bion ruhaninya yang diperoleh dari sebuah hasil nalar pikir yang khusyu bisa menemibus apa yang menjadi kehendaknya. Contoh kecil ini tidak mustahil juga berlaku bagi orang yang berkurban.

Kita cermati pula seorang "maginitisir atau hipnotisir," melalui bion-bion ruhaninya, mampu merasuk kesadaran dan mengisap kesadaran orang yang dijadikan obyek dan arus tersebut mengalir ke urat syarafnya. Yang terjadi kemudian, dia bisa pula menggerakkan benda-benda mati lainnya. Ia pun bisa mengobati penyakit jasmani dan ruhani atau penyakit jiwa, asalkan mereka yang menjadi obyek itu kadar derajatnya dan nilai ruhaninya lebih rendah.

Jadi kalau Allah berkehendak, dengan sinar yang serba ruhaniyah, yang berkuasa membenntuk zat-zat lain dalam tubuh binatang kurban itu, mungkin berguna untuk kesehatan jasmani dan ruhani. Menurut Ilmu Metafisika, setiap benda baik berupa batu azimat, pusaka tombak keris, dan semacamnya, bisa dibuat dengan daya cipta "meditasi abstraksi" berpuasa dan menjauhi perbuatan tercela. Ketika sedang membuat pusaka itu, ia memancarkan daya anima abstraksinya, yakni daya-daya yang terlepas hubungannya dengan daya pikiran yang serba materialistis. Daya-daya gaib yang memiliki tenaga gaib itu menggempur benda-benda yang sedang dicipta, sehingga benda itupun dipenuhi daya gaib pula, yang disebut "khasiat".

Apabila hewan qurban disembelih sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw dan persyaratan yang memadai, pasti mengandung khasiat, utarnanya untuk mengobati penyakit ruhanlyah, gangguan iblis, dan lain sebagainya.

Umumnya penyakit jasmani berawal dari gangguan batin, karena. pribadinya tidak seirnbang dengan kondisi atau keadaan yang dialamnya. Tak marnpu berlaku sabar dalam ketenangan jiwa, sehingga emosinya lebih mendominasi dan stress pun terjadi.

Orang yang sulit mengendalikan sabar, kerja alat-alat tubuhnya akan terpacu, tak ada harmonisasi antara kemampuan alat-alat tubuh jasmani dengan ruhani. Kalau keadaan seperti ini belarut-larut, penyakit ini dinamai psychosomatik. Tak garnpang disembuhkan dengan obat-obat konvensional, tetapi harus dianalisa secara totalitas antara psycho dan sorna si penderita. Kesabaran yang prima mernang dibutuhkan. Tak mampu menahan sabar, lantaran menghambur hawa nafsunya, mengakibatkan sinar hidup atau nurul hayat atau "viz vitalis" menjadi redup, bahkan sulit menerima Nurullah.

Sebenarnya timbuluya penyakit ruhani ltu dikarenakan membiarkan daya-daya nafsunya bebas beresonansi dengan sinar iblis yang senantiasa mengintimidasi nurul hayat. Apabila timbunan arus sinar iblis mengalir ke badan bud, maka akan terjadi gangguan dan goncangan jiwa. Sinar iblis dengan setan terdirl dari blon-bion memiliki energi berlipat ganda dibanding energi atom, daya tembusnya yang hebat menembus nurul hayat manusia melalui pembuluh darah, langsung mengalir bersama dengan darah menuju ke pangkal otak, akhirnya ruh berpikir secara "anima concientalis". Daya-dava iblis selalu menghembus ajakan berbuat jahat seperti yang diterangkan dalam al-Qur'an, Surat Yusuf 53 yang artinya:

"Sungguh nafsu manusia menyuruh melakukan kejahatan. Kecuali yang diberi rahmat oleh Tuhanku."

Nabi Muhammad saw bersabda:

"Sesungguhnya daya-daya syetan itu merasuk ke anak Adam lewat pembuluh darah." (H.R Bukhari-Muslim)

Dalarn al-Qur'anul Karim diterangkan bahwa setan atau iblis dibuat darl api. Tentunya bukan api sembarang api, yang kita gunakan sehari-hari melainkan suatu makhluk gaib, yang berenergi tinggi. Oleh karena itu, manusia yang mencari misteri kehidupannya, sering tergelincir, menuruti daya pukau yang sangat halus, membiarkan badan budinya beresonansi dengan daya setan, dan menerima intuisi dari alam syetan, Hal ini disebabkan ia belum zuhud, padahal seharusnya ia rnenyikapi kehidupan dengan penuh pencerahan kesadaran, menelusuri satu-persatu pengalaman ritualnya yang marnpu membuka tirai hijab yang menutupi dekatnya hamba dengan hadiratNya.

Jadi, dari hebatnya energi iblis, tak mungkin bisa ditundukkan dengan energi lain, kecuali dibasmi dengan Sinar ilahi. Di dalam agama Islam, kita diajarkan untuk berta'awudz:

"Aku memohon perlindungan Allah dari gangguan syetan yang dilaknat. "

Firman Allah ini memberi kesadaran manusia, bahwa sebenarnya syetan dan iblis tidak takut kepada siapa pun, melainkan hanya kepada Allah. Manusia harus memohon perlindunganNya, sebab sinar Allah diatas segalanya.

Dalam surat an-Nur ayat 35 Allah menjelaskan sebagal berikut:

"Sinar Allah meliputi segala langit dan bumi.

Sebagairnana pada atom benda mati tak gampang dipecah-pecah, melainkan dengan tenaga yang lebih besar, dengan sinar kosmis, yang terdiri dari proton di dalarn lapisan udara. Pasti tidak mungkin sinar syetan mempengaruhi sinar Allah, karena anasir yang menyusun sinar Allah memiliki frekwensi gelombang maha tinggi.

Dari serangkalan perjalanan ritual haji yang sekaligus memenuhi undangan Ibrahim as layaknya memberi makna hidup yang hakiki, terbebas sudah dari warna-warna lingkaran syetan. Mestinya setelah kembali kepada kehidupan dunia yang semula, ada upaya untuk menyernpurnakan dan menumbuh-suburkan rasa tauhid seperti yang dimiliki sifat-sifat Nabi lbrahim as. Dari hati kecil yang paling dalarn hendaklah berjanji kepada Allah, agar selalu memelihara "hajinya" dan berbuat lebih baik dan maslahat sesamanya. Seharusnya dunia ini menjadi "masjid AIlah" yang membuat segala perbuatan dan niat kita hanyalah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.


KONSENTRASI NALAR BUDI KETIKA WUKUF

Ibadah haji sebagai ibadah mahdah atau ritual yang melibatkan peranan perasaan khudhu dan khusyu penuh khidmat serta perenungan yang dalam dimana sistem meditasi terasa sangat dominan. Selama mencermati pelaksanaan haji seakan semakin dekat denganNva, hubungan dengan Allah lebih khusyu. Perjalanan ruhani di tanah suci ini memiliki makna yang tinggi. Barangkali lantaran situasi dan kondisi yang sedernikian rupa mernbuat setiap pribadi jamaah selalu ingin dekat dan semakin dekat dengan Yang Maha Agung. Mereka semua terbuai dalam gelombang ruh Islami, membahana suara takbir, tahlil dan tahmid serta serernpak membaca talbiyah.

"Labbaika Allaahumma labbaik..." (Kami disini wahai Allah, di hadapan Engkau untuk memenuhi undanganMu).

Ribuan umat Islam bahkan jutaan bertemu di Baitullah, atau di padang Arafah, dengan tujuan yang sama yakni rnendekatkan diri ke hadiratNva, meningkatkan iman dan taqwa dalam rangka mencapai kualitas hidup insan yang hakiki. Al-Qur'an rnenyebutkan tentang orang-orang yang diwajibkan menunaikan ibadah haji sebagai berikut:

"Mereka memperoleh man/bat dan mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang difentukan.

Dari ayat ini Allah menjanjikan beragam manfaat baik yang ritual maupun yang non-ritual, meliputi berbagai aspek kehidupan-manusia. Pengalaman ruhani setiap jamaah bergantung pada latar belakang pengalaman hidup dan amalannya. Oleh karena itu, di ternpat-tempat yang mustajabah, yang benar-benar merupakan ternpat dikabulkannya doa, hendaknya menyatukan nalar budi dengan konsentrasi penuh, yang sebelumnya dengan penyucian batin kita, kalau perlu meneteskan air rnata, mengadukan segala persoalan hidup dan kehidupan yang sekarang rnaupun yang akan datang. Memang tiada kekuatan yang paling hebat kecuali Allah swt, (La haula wala quwwata illa lillah). Sebab tempat suci seperti Raudha, Baitullah, Arafah dan tempat-tempat lain di sekitar haramain atau kawasan muqaddasah, disitulah banyak cerita dan pengalaman ruhani yang menakjubkan. Apalagi kita dapat membaca makna firasat atau simbol-simbol isyarat dari Ilahi dengan tuntas, meskipun dalarn keadaan setengah tidur,

Namun sebaliknya, banyak juga peristiwa yang tidak menyenangkan, mengganggu emosi kita, sebagal pertanda agar kita selalu beristighfar, berdzikir serta membaca salawat kepada junjungan kita nabi Muhammad saw. Dengan demikian, mudah-mudahan kita mendapatkan ampunan dan birnbingan Allah swt.

Kadangkala ada peristiwa kecil yang pernah penyunting saksikan , seorang jamaah haji berbuat yang aneh-aneh di luar nalarnva ketika melaksanakan wukuf di Arafah. Di saat para jamaah tenggelam dalam kekhusyuan, dia lari terbirit-birit menenteng kopor besar tanpa tujuan yang pasti. Padahal seharusnya dia cukup berpakaian ihrarn tanpa rnembawa barang bawaan. Setelah saya mendekatinya dan menanyakan tujuannya, orang itu hanya bengong. Kernudian dia saya ajak ke dalam tenda dan kubuka kopornya, ternyata kopor besar yang dibawanya kosong tanpa isi apapun. Lantas setelah menjelang berangkat ke Mina, orang itu normal kernbali seperti semula. Mengapa hal itu bisa terjadi? Setelah saya teIusuri latar belakang kehidupannya sehari-hari sebagaimana yang diceritakan oleh teman sekampungnya dia adalah orang yang suka menumpuk harta dengan cara menjadi rentenir.

Ada pula contoh lain, dalam menunaikan wukuf seorang jarnaah menderita gatal kemerahan di seluruh tubuhnya. Padahal ketika berangkat dari Makkah, dia dalam keadaan normal, Di tenda, dia kegerahan, berguling-guling, dan badannya digaruk keras-keras. Tetapi anehnya, setelah wukuf selesai diapun normal kembali. Subhanallah.

Pengalaman ruhani yang indah ini mengajak kita untuk kembali ke jalan Allah dengan sepenuh jiwa dan raga. Sehingga setelah menunaikan ibadah haji dengan rasa ikhlas, akan mendapatkan kemuliaan dan ampunan dari Allah, serta balasan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat nanti. Rasulullah saw telah bersabda:

"Satu ibadah umrah dengan umrah yang lain dapat menghapus dosa antara keduanya. Dan haji yanq mabrur tidak ada balasannya kecuali syurga." (HR Bukhari dan Muslim)

Untuk mendapatkan derajat yang tertinggi ini perlu pemusatan dan aktifitas tersendiri yang tidak ringan. "Mabrur" berasal dari kata "al-Birru " yang bermakna "kebaikan, ketaatan, kebaikan dan kesempurnaan". Haji mabrur adalah karunia yang paling nikmat diantara kenikmatan yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita. Atribut ini diberikan kepada mereka yang mampu rnenunaikan ibadah haji dengan sempurna tanpa cela. Rasulullah saw bersabda sebagai berikut:

"Siapa yang herhaji ke Baitullah, kemudian dia tidak berkata kotor tidak berbuat dosa dan tidak fasik maka dia akan terlepas dari dosa-dosa. Bagaikan bayi yang baru lahir dari rahim ibunya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Sungguh sangat indah apabila kita bisa meraih predikat sebagai haji mabrur. Sebab kita hidup dalam keridhaan Allah, segala dosa terkikis-habis, dan suci kembali bagaikan bayi yang baru lahir, ikhlas, jujur dan tidak serakah.

Salah satu tanda memperoleh predikat haji mabrur ialah orang itu memiliki perangai dan amal perbuatan seperti lebah yang lebih baik dibanding sebelurn dia berangkat haji. Yang pasti, dia berakhlak mulia dan bertaqwa kepada Allah, selalu ramah terhadap sesamanya, memberi maslahat untuk pembangunan bangsa, negara dan agama, sabar dan lapang dada dalarn menghadapi alur kehidupan ini, tetapi dia bersikap tegas terhadap musuh-musuh Islarn.

Menurut jumhur ularna atau kitab-kitab rujukan haji telah disebutkan, diantara tanda haji mabrur adalah semakin meningkatnya arnal kebajikan seseorang setelah pulang darl haji . Ulama sufi, Hasan al-Basri, mengatakan bahwa setelah menunaikan ibadah haji, mereka bersikap zahid dalam rnenatap kehidupan dunia ini, sederhana meskipun kaya, dan sangat mencintai kehidupan akhirat. (an-Nawawi, Syah al-ldhafi manasik al-Hajj, halaman 15).

Di samping itu ada juga haji yang tidak mabrur atau disebut haji mardud, yakni rnelaksanakan haji bukan karena memenuhi panggilan Allah. la juga mernpunyai tanda-tanda seperti perbuatannya tidak bertambah baik, bahkan semakin tercela, selalu meredupkan cahaya agarna Allah, tidak mau berjuang untuk kemaslahatan dan kesejahteraan umat, agarna diperjualbelikan, mengkhianati hukum Allah, melalaikan shalat, selalu mengeluh, dan keberatan untuk melakukan puasa. Di dalam kehidupan bermasyarakat, kiranya sangat jelas, kita dapat menilai secara lahirlah kadar predikat haji ini. Haji mardud ini disebutkan juga dengan haji yang gagal.

Insya Allah, haji yang ditengarai sebagai kategori kedua ini tidak menimpa pada diri kita semua. Tentunya kita berharap agar perbuatan yang kurang terpuji itu sekedar khilaf dan lupa. Semoga Allah swt membukakan pintu hatinya agar dia kembali kejalan keridhaanNya. Karena sebenarnya dia telah menunaikan ibadah haji, tetapi masih belum mabrur. Mudah-mudahan dia bertaubat dan berniat untuk menjadi haji mabrur. Amin!

BIBLIOGRAFI

1.Menjelajah Angkasa Luar Jilid I & II oleh KH. Bahaudin Mudhary
2.Encyclopedia Brittanica
3.Encyclopedia of Religion
4.Uber das Wassen und Ursprung das Menschen olell Ghoseki Kaneko
5.What is Logisch oleh Ir. W.F. Stargard
6.Cosmisch Bewustzij oleh Dr. Med. Richard Maurice
7.Asrar as Shalah oleh al Ghazali
8.Encyclopedia der Philosophischen oleh Hegel
9.De Bhagawad gita oleh Ir. J.A. Blok
10. Al Haj oleh Dr. Ali Shariati
11. He readsel van den dead oleh C. Flammarion
12. Psycho Student oleh F. Grundwald
13. Kliping Majalah Varlasi no. 266

Dari: Shalat dan Panggilan Arafah - Oleh: KH Bahaudin Mudhary

Comments (0)add comment

Write comment

busy