
Wudlu
Hadits Ketigabelas

Dari Abu Malik al-Asy'ari, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallambersabda, "Bersuci adalah sebagian dari iman."
Di dalam riwayat lain disebutkan, "Wudu adalah sebagian dari iman. Ucapan al-hamdulillah memenuhi timbangan. Ucapan subhana Allah wa al-hamdulillah memenuhi apa yang ada di antara langit dan bumi. Shalat adalah nur, sedekah adalah penjelasan, sabar adalah cahaya, dan Al-Qur'an adalah hujjah baik dan buruk bagimu. Setiap manusia pergi di waktu pagi, lalu menggadaikan dirinya. Maka ada yang membebaskannya dan ada pula yang mernbinasakannya".1).
Penyingkapan Rahasia dan Penjelasan Maknanya
Ketahuilah, iman itu memiliki bentuk dan roh. Masing-masing dari keduanya memiliki dua sifat. Masing-masing sifat itu memiliki dua hukum. Dua sifat dari bentuk iman itu dijelaskan di dalam perkataan para ulama, iman itu adalah pernyataan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota tubuh." Iman memiliki dua syarat maknawi. Pada dua syarat inilah bergantung kebenaran pernyataan dan pengamalan. Dua syarat itu adalah niat dan keikhlasan karena Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dengan niat, ditegaskan ketundukan yang sebenarnya, dan dibedakan antara orang mukmin dan orang munaflk. Kedua syarat ini memiliki hukum, yang satu berkenaan dengan waktu dan yang lain berkenaan dengan tempat.
Syarat yang berkenaan dengan waktu adalah seperti waktu-waktu shalat, puasa, musim haji, dan sebagainya. Sementara syarat yang berkenaan dengan tempat adalah seperti menghadap kiblat, kewajiban menghindari shalat di tempat-tempat peribadatan orang Kristen atau Yahudi yang bergambar, tempat-tempat bernajis, dan sebagainya. Di dalam haji tergabung hukum-hukum waktu dan tempat ini.
Kemudian kita kembali pada perincian hukum-hukum pembenaran lain yang merupakan roh keimanan dan aspek-aspeknya.
Maka saya katakan: Pembenaran keimanan terbagi ke dalam dua bagian. Pertama, pembenaran dari pemberi kabar yang benar secara universal, baik hal itu melalui sesuatu yang didapat pada dirinya tanpa ada sebab dari luar maupun melalui ayat atau mukjizat. Kedua, pembenaran terperinci yang menarik hukum terhadap bagian-bagian pengabaran dari pemberi kabar yang benar, serta yang terkandung di dalam hal-hal yang telah diputuskan pemberlakuannya. Hal itu mengikuti raghbah dan rahbah sebagai dua motif yang menghadirkan sesuatu yang berkaitan dengan pemberi kabar yang benar melalui pengabaran-pengabarannya berupa perincian janji dan ancaman.
Penghadiran ini memiliki beberapa derajat. Yang paling tinggi adalah maqam keirnanan al-hijabi (ketertabiran), seperti kisah Harits2) bersarna Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang dimuat di dalam sebuah hadis. Itu adalah maqam hakikat keimanan yang di belakang dan di atasnya terdapat maqam al-'iyan (visi berhadap-hadapan) yang berbeda tingkatan dan derajatnya. Terdapat raghbah dan rahbah yang motifnya adalah ilmu yang teguh dan persekutuan dengan pemberi kabar yang benar dalam mengawasi apa yang dikabarkannya dan tata cara menghasilkan motif-motif raghbah dan rahbah itu. Di dalam hal ini, raghbah bukan lagi menjadi raghbah pengharapan. Semata-mata ia merupakan usaha dalam memperoleh kemenangan melalui perintah yang teguh yang wajib diraih. Rahbah-nya pun menjadi khayyah, bukan khawf. Sebab, khawf mcrupakan sifat orang yang menjaga diri terhadap kemungkinan terjadinya apa yang disebutkan, seperti keadaan orang sakit yang tidak mengenal pengobatan, terhadap dokter yang diyakini kompetensi dan pengalamannya dalam pengobatan. Sementara khasyyah merupakan sifat dokter yang mengetahui bahaya makanan dan minuman, mengetahui manfaatnya, dan sebagainya. Hal ini ditunjukkan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah ulama. (QS. Fathir: 28)
Apabila engkau perhatikan dengan saksama apa yang telah saya jelaskan, niscaya engkau tahu bahwa al-khawf dan at-taqwa mempunyai derajat yang berbeda-beda pada orang yang memilikinya berdasarkan kekuatan menghadirkan rincian-rincian pengabaran dari Nabi dan yang berhubungan dengan itu berupa janji dan ancaman. Orang yang berani melakukan penyimpangan berarti hanya memiliki pembenaran secara garis besar, bukan pembenaran yang terperinci. Hal itu ditunjukkan dengan sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Pezina, ketika dia berzina, tidak mungkin ia orang yang beriman"3). Yakni, iman yang sempurna. Maksudnya, seumpamanya pembenaran bergantung pada gabungan antara pembenaran secara garis besar dan pembenaran yang terperinci. Kalau orang yang hendak menyimpang menghadirkan hukuman yang berhubungan dengan setiap perbuatan dan meyakini berlakunya hukuman itu, maka dia tidak akan melakukan penyimpangan itu; seperti dokter yang berpengalaman yang tidak akan berani memakan racun serta makanan dan minuman yang sangat berbahaya. Orang yang menyimpang hanya melakukan penyimpangan karena cacat yang ada pada kesempurnaan pembenaran atau penghadiran harapan pada ampunan, tobat, dan perbaikan diri.
Adapun isyarat pada bagian lain yang khusus berkenaan dengan roh keimanan adalah yang disebutkan oleh Haritsah4) ketika ditanya oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Bagaimana engkau memasuki waktu pagi, wahai Haritsah?" Dia menjawab, "Saya memasuki waktu pagi dalam keadaan sebagai orang mukmin yang sebenarnya." Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallambersabda, "Sesungguhnya setiap kebenaran memiliki hakikat. Lalu apa hakikat keimananmu?" Makna iman, yang merupakan rohnya, terbagi ke dalam hak dan hakikat. Ketika itu Haritsah berkata, "Diriku mengetahui dunia, maka sama saja bagiku emas, batu, dan lumpurnya. Seakan-akan aku memandang 'Arsy Tuhanku yang muncul, melihat ahli surga di dalam surga yang mendapat kenikmatan dan ahli neraka di dalam neraka yang mendapat siksaan." Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallamberkata kepadanya, "Engkau telah mengetahui, maka lazirnkanlah hal itu"5) Yakni, engkau tahu bahwa syarat sempurnanya kepercayaan itu adalah menghadirkan apa yang dikabarkan oleh Tuhan dan oleh Nabi secara khusus.
Jika engkau telah memahami apa yang saya ingatkan dalam hadis ini dan penjelasannya, niscaya engkau tahu bahwa sesudah "...seakan-akan aku melihat 'Arsy Tuhan ku..." hanyalah sesuatu yang berada di atas tingkatan keimanan. Karena itu merupakan ilmu vang sempurna dan kesaksian yang nyata. Hal itu ditunjukkan Amirul Mu'minin, Ali ra dengan ucapannya, "Kalau tersingkap tabir, maka bertambahlah keyakinanku." Yakni, kalau terangkat hijab yang menutupi mata dan nurani kebanyakan orang, maka bertambahlah keyakinan, karena hijab tersebut kini telah terangkat dariku. Maka maqam "... seakan-akan aku" adalah barzakh (pemisah) antara kepercayaan secara garis besar dengan penyingkapan 'iyani, dan ilmu syuhudi. Karena, hal itu, seperti yang telah kami katakan, merupakan ungkapan menghadirkan rincian-rincian pengabaran yang membenarkan perkataan pemberi khabar yang dipercayai dan perumpamaan segala yang berhubungan dengannya berupa janji dan ancaman serta bagian-bagian dari keduanya yang telah disebutkan di atas.
Jika hal ini telah jelas, maka saya katakan bahwa pada sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Wudu adalah bagian dari keimanan," maka maksud bagian dari iman adalah dalam hal bentuknya yang telah saya tunjukkan. Karena, hal itu dari satu sisi merupakan amalan, dan dari sisi lain merupakan syarat hukum. Dan pada sabdanya "al-Hamdulillah memenuhi timbangan," yang dirnaksud dengan timbangan (al-mizan) adalah keseimbangan pengawasan. Sebab, jenis-jenis pujian kepada al-Haqq terbatas pada dua pokok, yaitu as-salb (negatif) dan al-itsbat (positif). Penyucian hanya menghasilkan penafian, karena hal itu bukan merupakan hal-hal yang bersifat eksistensial. Maka penyucian memenuhi sesuatu berbeda dengan sifat-sifat substantif. Al-Hamd, pujian dengan sifat substantif, memenuhi timbangan akal, serta dengannya sempurna burhan (bukti) dan ta'rif (pemberian pengetahuan). Sabdanya"Subhana Allah wa al-hamdulillah memenuhi apa yang ada di antara langit dan bumi," karena kedua kalimat ini mencakup kesempurnaan pujian dan pengenalan terhadap sifat-sifat dztiyyah dan aqliyyah yang pengaruh-pengaruhnya tampak di langit dan bumi, serta di antara keduanya.
Rahasia dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam"Shalat adalah nur," adalah bahwa orang yang menegakkan salat menghadap dan bermunajat kepada TuhanNya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallambersabda, "Apabila hamba menegakkan shalat, maka Allah menghadapkan wajah-Nya kepadanya." Allah adalah nur dan hakikat hamba adalah kegelapan. Maka jika zat gelap dihadapkan pada zat yang bercahaya dengan arah yang benar, maka ia memperoleh cahaya zat yang bercahaya itu. Tidakkah engkau lihat bulan yang zatnya merupakan benda hitam yang gelap dan licin, bagaimana ia memperoleh cahaya dari matahari dengan menghadap padanya? Bagaimana ia berbeda-beda dalam memperoleh cahaya matahari itu, berdasarkan perbedaan dalam menghadapnva. Apabila menghadapnya itu sempurna dan benar, sempurnalah perolehan cahayanya.
Apabila engkau memikirkan apa yang saya ingatkan, niscaya engkau tahu perbedaan langkah-langkah orang-orang yang menegakkan shalat di dalam shalat mereka. Selain itu, engkau akan tahu satu sisi dari rahasia sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Dijadikan penyejuk mataku di dalam shalat"6). Engkau pun akan tahu rahasia yang terkandung di dalam sabdanya ketika beliau memerintahkan sahabatnya untuk meluruskan barisan (shalat berjamaah), "Saya melihatmu dari belakang punggungku seperti saya melihat di hadapanku. 7). Hal ini khusus di dalam shalat.
Tidak disebutkan bahwa hal ini terjadi di dalam segala keadaan. Melainkan hal itu hanya disebutIcan ketika shalat. Maka perhatikanlah. Hal itu merupakan berkah dari kesahihan penghadapan yang sempurna yang diperoleh karena cahaya al-Haqq meratai seluruh arahnya. Jika engkau dikarunia apa yang saya sebutkan itu dan diberikan pemahaman sebagai penyingkapan yang nyata, niscaya engkau tahu rahasia firman-Nya, Allah adalah cahaya langit dan bumi. " (QS. an-Nur: 35) Dan bagiNyalah keagungan di langit dan di bumi. Dialah yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. (QS. Jatsiyah: 37)
Maka pahamilah. Sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Sedekah adalah burhan," rahasianya adalah bahwa sedekah merupakan bukti atas keteguhan orang yang bersedekah terhadap, keberadaan akhirat dan balasan-balasan yang dicakupnya. Karena, harta itu disukai oleh jiwa yang tercelup oleh kekhususan-kekhususan tabiat. Seseorang tidak akan mendermakan hartanya selama ia tidak percaya akan memperoleh manfaatnya setelah itu berupa buah dari apa yang telah didermakannya dan memperoleh penggantian. Atau, dia mendapat keselamatan dari bahaya yang mengancamnya disebabkan perbuatan yang berhubungan dengan hukuman. Dikabarkan bahwa sedekah dapat menolak kejahatan perbuatan tersebut, karena sabdanya, "Sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dapat memadamkan murka Tuhan." Di dalam hadis lain beliau. bersabda, "Takutlah pada api neraka walaupun dengan [mensedekahkan] sebiji kurma.8). Dan hadis-hadis lainnya yang telah disebutkan berulang~ulang.
Sabdanya "Kesabaran adalah pancaran cahaya," rahasianya adalah bahwa kesabaran itu menahan diri dari keluhan. Tidak diragukan bahwa menahan diri dari keluhan adalah menyakitkan jiwa. Tidak ada keraguan bagi para muhaqiq, melalui pengalaman yang berulang-ulang dan ilmu yang teguh, bahwa penderitaan-penderitaan jiwa dapat memadamkan nyala kekuatan tabiat dan menghidupkan kekuatan rohani vang menyebabkan pencerahan batin. Karena itu, kesabaran dijadikan sesuatu yang menghasilkan pancaran yang merupakan campuran cahaya dengan kegelapan, sebagaimana telah saya jelaskan di dalam Tafsir Sirah al-Fatihah, an-Nafhat al-Ilahiyyah, dan Fakh Khutum al-Fushush (karya penulis). Berbeda dengan shalat yang dikatakan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Salat adalah cahaya," karena yang saya ingatkan kepadamu adalah tentang rahasia penghadapan, peresapan, serta memberikan perumpamaan dengan matahari dan bulan. Sebab, esensi bulan bukan campuran dengan matahari, sehingga yang dihasilkan dari keduanya dinamakan pancaran. Karena itu, al-Haqq menamai bulan sebagai cahaya; tidak demikian dengan matahari, karena matahari menyerupai lampu besar bagi segenap karena keberadaannya sebagai suatu pancaran dari pohon yang penuh berkah yang dinafikan dari segala arah. Ia menghimpun segala nama dan sifat. Sedangkan yang disebutkan dalam ihwal kesabaran adalah pencerahan yang dihasilkan dari percampuran antara kekuatan tabiat dengan kekuatan dan sifat rohani. Menang dan kalah terjadi di antara kedua campuran itu.
Adapun sabdanya "Al-Qur'an adalah hujjah baik dan buruk bagimu," maka yang dimaksud hujjah adalah dalil dan bukti keabsahan dakwaan. Oleh karena itu, orang yang beriman meyakini bahwa Al-Qur'an adalah kalam Allah, diturunkan dari sisi-Nya, dan manifestasi ilmu-Nya yang mencakup berbagai penjelasan mengenai ihwal makhluk dalam hal kedudukan mereka di sisi-Nya, mengenai bentuk-bentuk hubungan-Nya terhadap mereka, dan mengenai ihwal sebagian mereka terhadap sebagian yang lain. Ia juga mengembalikan penakwilan rahasia-rahasia yang tidak diketahuinya kepada-Nya. Ia juga mematuhi perintah dan larangan yang ada dalam Al-Qur'an disertai beradab dengan adabNya dan berakhlak dengan akhlak-Nya tanpa syak dan keraguan. Barangsiapa yang ihwalnya demikian, maka Al-Qur'an menjadi hujjah dan saksi yang baik baginya. Tetapi jika ihwalnya tidak demikian, maka Al-Qur'an menjadi hujjah yang buruk baginya.
Adapun sabdanya, "Setiap manusia pergi pagi, lalu menggadaikan dirinya. Maka dia membebaskan atau membinasakannya," di dalamnya terdapat rahasia-rahasia yang mulia. Beliau mengingatkan suatu rahasia sebagai penafsiran terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, 'Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya. " (QS. al-Baqarah: 148) Karena itu, beliau bersabda, "Setiap manusia pergi pagi." Beliau benar karena pengkajan yang teliti memahamkan kepada kita bahwa di dalam eksistensi seseorang tidak ada perhentian. Melainkan setiap orang berjalan menuju tingkatan yang ditakdirkan al-Haqq sebagai tujuannya. Tingkatannya itu bisa berupa kekurangan dan penderitaan, bisa juga berupa kebahagiaan yang merupakan kesempumaan relatif atau kesempurnaan hakiki, dan memperoleh pengungkapan-ciri yang abadi yang tidak ada hijab sesudahnya. Tidak ada yang menetap bagi orang-orang yang sempurna selain-Nya. Itulah yang ditunjukkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dengan sabdanya, "Sekelompok ahli surga tidak tertabir dan tidak terhijab dari Tuhan." Beliau pun menyebutkan di dalam doanya, "Dan aku memohon kepadaMu kelezatan memandang wajah-Mu yang mulia selalu dan selamanya tanpa ada kesengsaraan yang membahayakan dan tidak ada fitnah yang menyesatkan."10)
Kesengsaraan yang membahayakan adalah memperoleh hijab setelah tampak, atau tampak dengan sifat yang menyebabkan terlepasnya hijab. Sementara fitnah yang menyesatkan adalah setiap keraguan yang menyebabkan cacat dan kekurangan dalam ilmu dan syuhud (kesaksian). Sabdanya "maka dia menggadaikan dirinya" adalah yang ditimbulkan di dalam perjalanannya ke tujuan yang merupakan hasil kekuatan roh dan akibat zamannya, serta ihwaInya, sifat-sifatnya, perbuatan-perbuatannya, dan perkembangan di dalam penciptaannya. Kalau diperoleh keutamaan dan sampai pada kesernpurnaan relatif dalam beberapa derajat kebahagiaan atau sampai pada kesempurnaan hakiki tersebut, maka dia telah membebaskan dirinya dari jurang kebinasaan, dari penjara belenggu imkaniyyah, dan dari hijab kegelapan. Maka dia dicerahkan dengan ilmu yang teguh dan amal saleh yang menghasilkan kebaikan yang didamba. Kalau tercegah apa yang saya sebutkan, maka dia membinasakan dirinya. Dia menyia-nyiakan umur dan ilmunya. Maka dia gagal dan merugi. Kita memohon kepada Allah perlindungan dan kesehatan bagi kita dan bagi semua-saudara kita. Amin.
Inilah makna hadis yang kornprehensif ini. Maka kajilah dan teruslah memperhatikannya sehingga engkau dapat mernandang selintas apa yang dikandungnya berupa ilmu, rahasia, dan nasihat. Niscaya engkau memperoleh ilmu yang lain, insya Allah.
-
1. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam bab ath-Thaharah, hal. 1; at-Turmudzi di dalam bab ad-Da'wat, hal. 86; ad-Darimi di dalam bab al-wudlu , hal. 2, dan Ibn Hanbal, IV/260, V/342-344 dan 370.
-
2. Haritsah bin Malik al-Anshari.
-
3. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah di adalam bab al-Fitan, hal 3.
-
4. Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan Abu Na'im.Lihat Kanz al 'Ummal karya al-Hindi, jilid XII, hal. 351.
-
5. Diriwayatkan oleh at-Turmudzi dengan berbagai redaksi di dalam bab al-Adab, hal. 78.
-
6. Diriwayatkan oleh an-Nasa'i di dalam bab an-Nisd', hal. 1 dan Ibn Hanbal, III/128, 199 dan 285.
-
7. Diriwayatkan oleh Ibn Hanbal, II/309 dan 505.
-
8. Diriwayatkaii oleh al-Bukhari di dalam bab az-Zakah dan bab-babnya yang lain; Muslim di dalam bab az-Zakah, hal. 68; an-NasS'i di dalam bab az-Zakah, hal. 63; ad-Darimi di dalam bab az-Zakah, hal. 23; dan Ibn Hanbal, IV/256, 258 dan 259.
-
9. Saya tidak menemukannya di dalam sumber-sumber rujukan.
-
10.Diriwayatkan oleh an-Nasa'i di dalam bab as-Sahw, hal. 62 dan Ibn Hanbal, V/191
11/03/95
 |