larger smaller reset

basmalah

Kaum Wahabi Adalah Syi’ah Sejati?

cingkrang


Ada ajaran dari para imam maksum yang malah dipegang erat oleh kaum Wahabi. Ajaran itu malah ditinggalkan oleh Syi’ah. Bukan hanya meninggalkan, Syi’ah selalu mengolok-olok dan mencaci mereka. Apa ajaran itu?

Dari hari ke hari, kita makin sering melihat dengan mata kita, orang-orang yang mengenakan celana dan sarung di atas mata kaki. Orang awam menyebutnya dengan sebutan Cingkrang. Sementara sebagian lagi mentertawakan mereka, saat bertemu kawan yang mengenakan celana Cingkrang, mereka bertanya, ada banjir ya? Ditanya tentang banjir karena celananya dinaikkan ke atas mata kaki. Biasanya orang bercelana cingkrang karena takut terkena air saat banjir.

Ketika ditanya tentang alasan mereka, mereka menjawab bahwa Nabi-lah yang menyuruh mereka. Jadi bukan karena banjir atau apa. Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyuruh mereka melakukan itu, menyuruh mereka memendekkan pakaian ke atas mata kaki. Karena ingin mengikuti perintah Nabi, mereka rela dicaci maki. Memang, melakukan perintah Nabi membuat banyak orang sinis dan benci. Ini berlaku dari awal jaman Nabi diutus, hingga saat ini, sampai hari ini.

Kawan-kawan Syi’ah memiliki pandangan berbeda. Bagi mereka, pakaian yang tidak menjulur ke bawah mata kaki adalah salah satu ciri kaum Wahabi. Kaum Wahabi yang membenci Nabi dan keluarganya. Karena mereka tidak mengikuti mazhab Syi’ah, mereka dianggap membenci Nabi dan keluarganya.

Maka kita lihat Syi’ah tidak ada yang memendekkan pakaiannya hingga ke atas mata kaki. Mereka tidak ingin meniru kaum Wahabi. Mereka malu dianggap kaum Wahabi, karena yang terbiasa melakukan ajaran Nabi itu adalah kaum Wahabi.

Ternyata apa yang menjadi ajaran kaum Wahabi itu tercantum dalam kitab Syi’ah sendiri. Para imam Syi’ah yang maksum memerintahkan pengikutnya untuk memendekkan pakaian ke atas mata kaki.

Dari Abdullah bin Sinan, dari Abu Abdillah Alaihissalam, mengenai firman Allah: dan bajumu bersihkanlah, Abu Abdillah berkata: pendekkanlah.

Al Kafi jilid 5, bab memendekkan pakaian

Memendekkan celana atau sarung adalah perbuatan membersihkan. Yang dimaksud bukan membersihkan fisik pakaian agar tidak kotor dan nyaman dipandang. Yang dimaksud adalah membersihkan pakaian dari noda kesombongan.

Dari Ma’la bin Khunais, dari Abu Abdillah berkata: Ali Alaihissalam ada di tempat ini, dia mendatangi bani Diwan, lalu membeli tiga buah baju seharga 1 dinar, sebuah baju sepanjang di atas maka kaki, dan sarung sampai setengah betis, dan sebuah sorban yang mencapai dada di depannya, sementara belakangnya sampai bawah punggung, lalu mengangkat tangannya ke langit, memuji Allah atas baju pemberian Allah, kemudian di masuk ke rumahnya dan mengaakan, inilah pakaian yang harus dikenakan oleh kaum muslimin, Abu Abdillah berkata: tetapi mereka tidak bisa mengenakannya hari ini, jika kami hari ini mengenakan pakaian itu, orang akan mengatakan: dia orang gila, dia adalah seorang yang riya’, Allah berfirman : dan bajumu bersihkanlah, Abu Abdullah berkata : pendekkanlah bajumu jangan engkau julurkan, jika imam Mahdi muncul, inilah pakaian yang akan dikenakannya.

Al Kafi jilid 5, bab memendekkan pakaian

Imam Mahdi sejati adalah imam Mahdi yang mengikuti perintah Nabi. Maka tidak heran jika imam Mahdi mengenakan pakaian seperti yang diperintahkan oleh  Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Dari Abdullah bin Hilal berkata: Abu Abdillah menyuruh saya untuk membeli sarung, aku berkata: saya hanya memakai sarung yang longgar, potonglah dan jahit ujungnya, lalu berkata: sesungguhnya ayahku berkata : apa yang lebih panjang dari dua mata kaki maka tempatnya di neraka.

Al Kafi jilid 5, bab memendekkan pakaian

Membersihkan pakaian dengan memendekkan, membersihkan pakaian dan diri kita sendiri, agar tidak terkena azab neraka di hari akhir nanti.

Dari Abul Hasan mengatakan: Allah berfirman pada NabiNya: dan pakaianmu bersihkanlah, sedangkan pakaian Nabi adalah bersih, maksudnya diperintahkan untuk memendekkan.

Al Kafi jilid 5, bab memendekkan pakaian

Dari Abu Bashir dari Abu Ja’far Alaihissalam, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  berwasiat pada seorang laki-laki dari Bani Tamim,: hindarilah  isbal dalam sarung dan gamis, karena isbal adalah termasuk kesombongan, sedangkan Allah tidak menyukai kesombongan.

Al Kafi jilid 5, bab memendekkan pakaian

Sering orang berkilah, bahwa yang dilarang adalah menjulurkan pakaian karena kesombongan. Padahal, perbuatan menjulurkan pakaian itu sendiri adalah bagian dari kesombongan.  Maka kita lihat ulama Syi’ah di Iran, ustadz Syi’ah yang belajar pada mereka, serta orang awam Syi’ah, seluruhnya menjulurkan pakaian ke bawah mata kaki. Mereka menghiasi diri mereka dengan kesombongan. Bagaimana kesombongan yang ada dalam hati bisa nampak? Jelas nampak, karena apa yang ada di hati akan nampak terlihat orang dari anggota badan. Sedangkan para imam maksum jelas memberi tanda kesombongan dengan pakaian yang menjulur ke bawah mata kaki.

Dalam kitab Biharul Anwar, ji.id 2 hal 143, terdapat sebuah hadits dari Nabi:

Tidak akan masuk sorga, orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebiji sawi.

Di akhir hadits, Nabi menggariskan definisi sombong:

Sombong adalah menolak kebenaran dan menganggap rendah orang lain.

Biharul Anwar menmambah penjelasan tentang sombong: enggan mengikuti kebenaran.

Kepada teman-teman Syi’ah, pendekkan celana kalian, jangan sampai kain celana kalian menjulur sampai bawah mata kaki, karena itu adalah bagian dari kesombongan, bagai menyemi bibit kesombongan dalam hati. Jika bibit yang disemi sudah tumbuh, maka ia akan berakar di dada. Akibatnya, kita akan menolak kebenaran. Semua ini diawali dari celana yang menjulur ke bawah mata kaki.

Dari Abu Hamzah, : Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib memandang pada seorang pemuda yang memanjangkan sarungnya, lalu berkata: wahai anakku, pendekkan sarungmu, karena itu membuat awet pakaianmu, dan membuat hatimu lebih bertaqwa.

Al Kafi jilid 5, bab memendekkan pakaian

Jauh sebelumnya, Umar bin Khattab telah mengatakan ucapan yang sama, saat menjelang wafatnya, ada seorang pemuda yang menjenguknya, lalu Umar melihat pakaian pemuda itu menjulur ke bawah mata kaki, lalu Umar berkata: wahai anak saudaraku, angkatlah  pakaianmu, sesungguhnya itu lebih bersih untuk bajumu, dan lebih bertakwa pada RabbMu. Riwayat Bukhari.

Imam Ali mengucapkan hal yang sama, jauh setelah Umar bin Khattab wafat.

Pakaian yang menjulur adalah bagaian dari sombong, sebaliknya, pakaian yang terangkat melambangkan takwa. Ini bukti bahwa pakaian menunjukkan kondisi hati seseorang. Seolah para imam meberitahu kita, bahwa isi hati seseorang bisa diketahui dari pakaiannya.

Dari Salamah, dia berkata: saya bersama Abu Ja’far, lalu Abu Abdullah masuk menemuinya, lalu Abu Ja’far berkata: wahai anakku, mengapa kamu tidak membersihkan pakaianmu? Lalu dia pergi, kami mengira bahwa bajunya terkena kotoran, lalu kembali dan berkata: memang sudah bersih seperti ini, lalu kami berkata: semoga kami dijadikan Allah sebagai tebusanmu, ada apa dengan bajunya? Abu Ja’far menjawab: gamisnya adalah panjang, dan saya memerintahkan untuk memendekkannya, Allah berfirman: dan bajumu bersihkanlah.

Dari Muhammad bin Musllim berkata: Abu Abdullah memandang ke arah seseeroang yang mengenakan gamis sampai mengenai tanah, lalu berkata: ini bukanlah baju yang bersih.

Dari Sama’ah bin Mahran, dari Abu Abdillah Alaihissalam  berkata tentang orang yang memanjangkan gamisnya: saya tidak senang dia menyerupai wanita.

Al Kafi, jilid 5, bab memendekkan pakaian.

Dari Abdullah bin Hilal, dari Abu Abdillah berkata: ayahku berkata: setiap yang melewati dua mata kaki maka tempatnya di neraka.

Wasa’il Syi’ah jilid 5 hal 25-49.

Kawan-kawan Syi’ah yang menganggap para imam adalah maksum, sudah semestinya meniru kaum Wahabi yang memendekkan celana di atas mata kaki. Tetapi yang melaksanakan sabda para imam adalah kaum Wahabi. Kita dilanda bingung, jangan-jangan kaum Wahabi adalah pengikut ahlulbait sejati.

http://www.hakekat.com/

Comments (15)add comment

Wahhabi-Syiah said:

Ayo ngakuu!!!!
Heeey,

Ini website bikinan orang non-Muslim yah? Ayo ngaku!!!!
 
May 07, 2012
Votes: +0

Muslim said:

teliti sebelum menilai
Assalaamu alaikum wr wb. Saya dari kalangan Tarbiyah Islamiyah, saya telah meneliti tentang Wahabi untuk Tesis saya. Ternyata tidak benar Wahabi mengkafirkan sesama Muslim, apalagi ulama. Ternyata banyak lagi fitnahan terhadap wahabi. Yang namanya fitnahan sudah pasti adalah dengan tujuan untuk "membunuh" wahapi. Dalam masalah khilafiyah wahabi ternyata toleran. Untk itu saya sarankan. SESAMA MUSLIM JANGAN SALING MEMFITNAH. Karena akan ada yang akan ambil kesempatan untuk menghancurkan Kita. Wassalaam wr wb
 
January 19, 2012
Votes: +3

Hamba Allah said:

...
Terkutuklah hai engkau kaum-kaum pendusta yang telah mengingkari Tuhan itu Maha Esa yaitu Allah SWT..kaum Yahudi telah berhasil memecah belah islam melalui propagandanya,,kalian bisa mencaci semaunya dan tertawa di dunia fana ini..tapi ingatlah kelak kalian semua akan dibakar dalam api neraka untuk selama-lamanya,siksaan itu sangatlah pedih dan tak bisa dibayangkan..hanya Allah yang dapat menyelamatkan kamu semuanya..
Semoga Allah SWT membuka hati kaum-kaum musyrikin
Allaaahu Akbar,,Allah maha Besar,,Tiada Tuhan Selain Allah…!!!!!!!!!!!!!
 
August 20, 2010
Votes: +3

muslimpaladin said:

...
kaum muslimin bersatu. apa sih susahnya??? apakah julukan syiah, salafy, IM, HT, JT, FPI, Muhamadiyah, NU, dll lebih kalian sukai dariada julukan yang Allah cintai yaitu muslim yang bertaqwa???
 
August 02, 2010
Votes: +3

Ali Reza said:

http://ejajufri.wordpress.com
Orang syiah juga tau kalo pake celana enggak boleh nyentuh tanah. Penulisnya aja yang telat nyadarnya... Makanya, jangan generalisir mulu.
 
July 02, 2010
Votes: +0

bocahe said:

haq dan batil
jalan kebenaran dan jihad, agar mendapat pertolongan Alloh
tidak boleh tercampur haq dan batil
 
June 25, 2010
Votes: +0

islam said:

...
Mau Syah ataupun sunni .. kita tetap harus bersatu melawan zionis ..
karena masalah ini lebih besar, wahai kawanku
 
June 25, 2010
Votes: +0

admin said:

Bahan Renungan, Isbal
to: Ayah Raka,

Tentang hadits isbal,

Betul haditsnya tergolong shahih menurut sebagian para ulama hadits, walaupun tidak berada dalam kitab shahih Bukhari Muslim. Namun dalam memahami sebuah hadits, kiranya seseorang perlu memahami juga "teori naqd hadits" atau kritik hadits. Yakni sebuah teori yang menyebutkan perlunya kritik terhadap hadits nabi dari sisi sanad dan matan sebuah hadits dinyatakan valid jika telah memenuhi sahih fil sanad dan shahih fil matan. Hadits yang shahih fil sanad belum tentu valid (ma'mulun bih) jika secara matan belum shahih.

Jadi persoalan dalam mengamalkan suatu hadits bagi orang yang faham masalah ini bukan semata-mata "suka atau benci" terhadap orang yang mengamalkannya, namun persoalan validitas haditsnya, seperti masalah hadits isbal, masuk pada katagori "ikhtilaf fi fahmil hadits". Hadits tersebut secara teks memang demikian, namun jika dirunut dengan teori tawarikh mutun yang lebih menitik beratkan pada pemahaman situasi dan kondisi hadits tersebut diturunkan jelas memungkinkan hadits tersebut memiliki pemahan yang bersebrangan dengan teksnya.

Pada saat itu kaum muslimin dalam kondisi kekurangan, kemiskinan sehingga utuk menunjang kebutuhan hidup pada saat itu Allah Azza wa Jalla memberikan ghanimah (harta rampasan perang) sebagai bagian yang boleh dimanfaatkan.

Misalnya dalam masalah pakaian pada saat itu merupakan suatu kebutuhan yang vital, sehingga jika mendapat harta ghanimah, pembagiannya betul-betul diawasi kalau-kalau tidak adil (dikorup), salah satu contohnya saat Umar dikritik oleh sahabat lainnya karena beliau seolah-olah mendapat bagian lebih, Umar yang berbadan besar dan tinggi mendapat kain yang bisa digunakan untuk bagian atas dan bawah, sedangkan sahabat yang lain hanya sebagain saja. Ternyata Umar ibn Khatab itu mendapat satu bagian lagi jatah putranya yaitu bagian Abdulah. Jadi situasi pada saat itu melebihkan (menjulurkan) pakain atau isbal adalah suatu perbuatan yang dianggap buruk karena termasuk perkara sombong disaat kaum muslim sangat membutuhkan pakaian, sedangkan ada orang yang sangat mencolok mata melebihkan kainnya, jadi secara konteks.

Hadits isbal ini akan berlaku untuk segala sesuatu, dimana pada suatu saat kaum muslim membutuhkan sesuatu, kemudian sekonyong-konyong ada orang yang menghamburkannya maka tergolong isbal juga.

Allahu’alam
 
June 17, 2010
Votes: -1

islam boy said:

...
kok seneng banget ya sama yang namanya mengelompokkan sesama muslim dan menghina sesama sodara seiman
 
June 15, 2010
Votes: +0

Ayah Raka said:

Bahan Renungan
Teman-teman sebaiknya kita mendudukkan masalah cara bercelana atau apapun itu sesuai dengan perkataan & perbuatan Nabi SAW, tidak peduli siapapun yang berbuat atau menyelisihinya.

Kalo kita menyelisihi apapun perbuatan suatu golongan karena karena golongan itu kita benci, masa kita akan menolak hadits2 Nabi hanya karena itu diikuti orang yang kita benci. Bisa jadi kita akan menolak al-Quran karena kelompok2 dalam Islam semuanya berdalih dengan ayat-ayat al-Quran. Jadi ikutilah kebenaran yang datang dari Nabi SAW tidak peduli sedikit atau banyaknya orang yang mengikuti atau yang menyelisihinya.

Supaya tidak terlalu panjang, saya akan kemukakan satu saja hadits shohih tentang cara bercelana:

Dari Abu Sa'id al-Khudri, bahwa Rosululloh SAW bersabda: "Sarung seorang mukmin sebatas pertengahan kedua betisnya. Tidak mengapa ia menurunkan di bawah itu selama tidak menutupi kedua mata kaki. Dan yang berada di bawah mata kaki tempatnya di neraka." (HR Malik dalam al-Muwaththo dan Abu Dawud dengan sanad shohih)
 
June 06, 2010
Votes: +0

admin said:

Syi'ah
to: salafy_boy,

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ الْوَرَكَانِيُّ فِي سَنَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَمِائَتَيْنِ حَدَّثَنَا أَبُو عَقِيلٍ يَحْيَى بْنُ الْمُتَوَكِّلِ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ لُوَيْنٌ فِي سَنَةِ أَرْبَعِينَ وَمِائَتَيْنِ حَدَّثَنَا أَبُو عَقِيلٍ يَحْيَى بْنُ الْمُتَوَكِّلِ عَنْ كَثِيرٍ النَّوَّاءِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ حَسَنِ بْنِ حَسَنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَظْهَرُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ يُسَمَّوْنَ الرَّافِضَةَ يَرْفُضُونَ الْإِسْلَامَ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja'far Al Warakani pada tahun ke dua ratus dua puluh tujuh, Telah menceritakan kepada kami Abu 'Aqil yaitu Yahya Bin Al Mutawakkil. Dan Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Sulaiman Luwain pada tahun ke dua ratus empat puluh, Telah menceritakan kepada kami Abu 'Aqil yaitu Yahya Bin Al Mutawakkil dari Katsir An Nawwa' dari Ibrahim Bin Hasan Bin Hasan Bin Ali Bin Abu Thalib dari bapaknya dari kakeknya dia berkata; Ali Bin Abu Thalib berkata; Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Di akhir zaman nanti akan muncul suatu kaum yang dinamakan Rafidlah mereka menolak Islam." (HR Ahmad 767)

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ عَبِيدَةَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ اقْضُوا كَمَا كُنْتُمْ تَقْضُونَ فَإِنِّي أَكْرَهُ الِاخْتِلَافَ حَتَّى يَكُونَ لِلنَّاسِ جَمَاعَةٌ أَوْ أَمُوتَ كَمَا مَاتَ أَصْحَابِي فَكَانَ ابْنُ سِيرِينَ يَرَى أَنَّ عَامَّةَ مَا يُرْوَى عَنْ عَلِيٍّ الْكَذِبُ

Telah bercerita kepada kami 'Ali bin Al Ja'di telah mengabarkan kepada kami Syu'bah dari Ayyub dari Ibnu Sirin dari 'Abidah dari 'Ali radliallahu 'anhuma berkata; "Putuskanlah sebagaimana biasa kalian memutuskan perkara, karena aku tidak suka perbedaan pendapat sehingga semua manusia berada dalam kesepakatan, atau aku mati (diatas prinsip persatuan) sebagaimana para sahabatku mati". Adalah Ibnu Sirin berpendapat bahwa pada umumnya apa yang diriwayatkan tentang 'Ali (yang berselisih dengan dua orang pendahulunya, Abu Bakr dan 'Umar bin Al Khaththab, seperti pendapat kaum ar-Rafidlah) adalah dusta". (HR Bukhari 3431)
 
June 03, 2010
Votes: +0

admin said:

Wahhabi
to: samawi,

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا أَزْهَرُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ ابْنِ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي نَجْدِنَا قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي نَجْدِنَا فَأَظُنُّهُ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin 'Abdullah telah menceritakan kepada kami Azhar bin Sa'd dari Ibnu 'Aun dari Nafi' dari Ibnu Umar mengatakan, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah memanjatkan doa; "Ya Allah, berilah kami barakah dalam Syam kami, ya Allah, berilah kami barakah dalam Yaman kami." Para sahabat berkata; 'ya Rasulullah, dan juga dalam Nejed kami! ' Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam membaca doa: "Ya Allah, berilah kami barakah dalam Syam kami, ya Allah, berilah kami barakah dalam Yaman kami." Para sahabat berkata; 'Ya Rasulullah, juga dalam Nejed kami! ' dan seingatku, pada kali ketiga, beliau bersabda; "Disanalah muncul keguncangan dan fitnah, dan disanalah tanduk setan muncul." (HR Bukahri 6565)


حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنِي عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍ عَنْ سَالِمٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ بَيْتِ عَائِشَةَ فَقَالَ رَأْسُ الْكُفْرِ مِنْ هَاهُنَا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepadaku Ikrimah bin Ammar dari Salim dari Ibnu Umar ia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam keluar dari rumah Aisyah seraya bersabda: "Sumber kekufuran adalah dari sini, dari arah munculnya tanduk setan." (HR Ahmad 4521)
 
June 03, 2010
Votes: +1

samawi said:

...
Oooh Wahabi Saudi rupanya penulisnya...
 
June 01, 2010
Votes: +0

admin said:

Say No to Firqah
to: salafy_boy

Fenomena Islam, Yahudi, Nashrani, Syi'ah, Wahabi, Ahmadiyah dan sekte-sekte lain, semuanya termasuk dialektika internal yang terjadi dalam agama samawi yang semuanya bersifat saling menghancurkan. Oleh karenanya Islam bisa hancur dan berganti dengan milah-milah yang telah menyeleweng dari sifat dasar agama samawi. Dengan dasar inilah keberadaan orang yang beragama Yahudi dan dan orang yang beragama Nashrani dan sempalan-sempalan yang menyeleweng dari Islam (pelaku bid'ah), harus dan patut lebih diwaspadai oleh seorang muslim dari pada keberadaan orang-orang kafir. Dan dengan dasar teori dielektika Al-Qur'an ini, maka tidak ada istilah bangsa Yahudi atau bangsa Nashrani sebab secara dialektis tidak ada bangsa Islam. Hal ini jelas sebagaimana ditegaskan dalam surat al-Baqarah 2:120

وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ

Orang-orang yang beragama Yahudi dan orang-orang yang beragama Nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu (orang yang beragama Islam) mengikuti millah mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (Al-Baqarah 2:120)
 
June 01, 2010
Votes: +1

salafy_boy said:

...
pantes, orang syiah tho yg nulis. wkkwkwkw
 
May 31, 2010
Votes: +0

Write comment

busy