larger smaller reset

Sejarah Agama Syi’ah

  revolusi-iran-1979

Abu Umar Abdul Aziz

Revolusi Iran telah menyilaukan banyak kaum muslimin di dunia. Sebab banyak  generasi Islam yang tidak memahami inti dan tujuan dari revolusi ini. Agama Syi’ah adalah satu-satunya agama di dunia yang mewajibkan pengikutnya agar merahasiakan keyakinan mereka, mengikuti para Imam Syi’ah, dan menasehatkan agar inti ajaran ini disembunyikan.

 Telah banyak diantara kita yang tertipu, ketika melihat mereka shalat, mengucapkan dua kalimat syahadat, melawan Amerika, dan lain-lain. Tanpa pernah meneliti sumber-sumber ajaran mereka. Disaat kaum muslimin memberikan simpati kepada Syi’ah ini. Di negeri mereka (Iran dan Irak) para ulama mereka menfatwakan kewajiban untuk membunuh kaum muslimin ahlus sunnah.

 Disaat kaum muslimin mendemo Amerika untuk mendukung Iran, wanita Muslimah di Irak mereka bunuh di tengah perkampungan, dan mesjid kaum sunni mereka robohkan.  Inikah balasan dari simpati yang kita berikan, kaum seperti inikah yang akan kita jadikan saudara? Dan agama seperti inikah yang akan kita bela? Seperti apakah agama ini sebenarnya? Insya Allah kami akan membagi tulisan ini dalam dua kali terbit.

 Yang pertama adalah sejarah awal berdirinya agama Syi’ah dan yang kedua adalah prinsip-prinsip dasar yang membedakan antara ahlisunnah dan Syi’ah.

 Semenjak hari pertama Rasulullah berdakwah kepada Allah, kaum musyrikin menentang agama Islam memfitnah dan membunuh para pengikutnya. Permusuhan ini telah berlangsung dan akan berlangsung sepanjang sejarah, sampai hari kiamat.

 Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

 “Mereka akan tetap memerangi kamu, sehingga mereka menarik kembali kamu dari agama kamu, seandainya mereka dapat melakukan.” (Qs. Al-Baqarah 2: 217)

Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam meninggal, agama Islam telah tersebar luas di semenanjung Arab. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar radiyallahu ‘anhum, berkali-kali terjadi perluasan daerah. Dan umat Islam dapat mengalahkan dua negara adikuasa pada saat itu yaitu kerajaan Persia dan Romawi.  Masih pada jaman pemerintahan Umar bin Khatab, satu demi satu benteng-benteng di Persia jatuh. Dimulai dari “Hurmuzan” (salah seorang pembesar Persia) yang pura-pura masuk Islam setelah kekalahan Persia, lalu diikuti oleh orang-orang Iran lainnya. Mereka pura-pura masuk Islam tetapi menyimpan tipu daya dan rencana jahat mereka. Tindakan balas dendam pertama mereka adalah membunuh Umar bin Khatab radiyallahu ‘anhu. Mengapa? Karena Umar radiyallahu ‘anhu lah khalifah yang pertama kali mematikan api agama Majusi, menghapus agama mereka dan menghilangkan kebanggaan mereka. Tentu saja bersama Orang Persia Ikut pula orang-

orang Yahudi dan Nasrani karena Umar radiyallahu ‘anhu lah manusia yang telah mengusir oang Yahudi terakhir dari Arabia dan ia pula yang telah membebaskan negeri Syria dari kezaliman orang-orang Romawi yang Nashrani.

Dan pada hari Umar radiyallahu ‘anhu terbunuh, Abdurrahman bin Abu Bakar melihat Abu Lu’lu’ah, Hurmuzan dan Jufainah saling berbisik-bisik. Ketika mereka melihat Abdurrahman, jatuhlah sebilah senjata tajam bermata dua dari balik jubah salah seorang mereka. Dan telah tertulis dalam sejarah kalau yang membunuh Umar adalah Abu Lu’lu'ah.

Rasa permusuhan orang Iran kepada Umar radiyallahu ‘anhu tetap hidup walaupun beliau sudah meninggal, mereka menjadikan cacian dan makian terhadap Umar radiyallahu ‘anhu  sebagai ibadah terbesar kepada Allah, bahkan menganggap hari terbunuhnya Umar sebagai hari raya, hari kebanggaan, hari penghormatan, hari zakat. Bahkan mereka memanggil pembunuh Umar radiyallahu ‘anhu dengan panggilan Baba Syuja'uddin (Bapak Pembela Agama).

Dan ketika umat Islam menaklukkan Iran, mereka mengawinkan Husein bin Ali dengan putri raja Iran yang bernama Jazdajrij yang datang bersama tawanan-tawanan. Perkawinan tersebut menjadi sebab mengapa orang Iran bersikap fanatik terhadap Husein, tetapi tidak terhadap Hasan, yakni karena anak Husein dari Syahbanu berdarah Iran dari dinasti Sasanid yang dianggap keramat oleh mereka.

Ketika terjadinya kesalah pahaman antara Ali dan Muawiyah radiyallahu ‘anhum, orang-orang Yahudi dan Majusi memakai kesempatan tersebut untuk memecah belah umat I slam dan menimbulkan permusuhan di antara mereka. Dengan memakai intrik kotor ala Yahudi seperti yang dilakukan oleh Abdullah bin Saba'.

Abdullah bin Saba'

Abdullah bin Saba' asalnya seorang Yahudi dari San'a (ibu kota Yaman), ibunya seorang wanita kulit hitam. Ia masuk Islam pada masa kekhalifahan Ustman radiyallahu ‘anhu.  Orang ini menaruh dendam terhadap Islam karena berhasil melenyapkan kekuasaan dan mengusir bangsa Yahudi dari Tanah Arab. Ia hidup berpindah-pindah tempat dari Hijaz, kemudian ke Basra, lalu ke Kufah, lalu ke Syam. Di setiap tempat yang ia kunjungi ia selalu berusaha menyesatkan manusia dari jalan yang benar. Namun karena tidak mendapat tanggapan dari kaum muslimin disana. Lalu ia pergi ke Mesir. Disana beliau banyak mendapatkan pengikut dan mengajarkan ajaran “inkarnasi”beliau mengatakan kepada masyarakat; ” Saya sungguh heran dengan orang yang mengatakan bahwa kelak Isa akan kembali lagi, sedang mereka tidak percaya akan kembalinya Ali dikemudian hari.... Ali lah yang lebih patut untuk kembali ke dunia ini dari pada Isa...”

Pengikut-pengikut Abdullah bin Saba' mengatakan bahwa inkarnasinya Ali adalah bagian dari ketuhanan Ali radiyallahu ‘anhu. Mereka percaya bahwa Ali radiyallahu ‘anhu tidak mati karena mengandung ketuhanan. Ali radiyallahu ‘anhu lah yang membawa awan, petir adalah suara Ali radiyallahu ‘anhu, dan kilat adalah alamatnya...

Adullah bin Saba' juga menyiarkan fitnah bahwa ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam meninggal, para shahabat kembali menjadi kafir kecuali tiga orang, kaum muslimin sepakat untuk menyingkirkan Ali radiyallahu ‘anhu dengan mengangkat Abu Bakar, kemudian Umar, Kemudian Ustman sebagai khalifah. Dia menuduh para shahabat telah merebut kekuasaan dari tangan Ali radiyallahu ‘anhu dan anak-anaknya.

BAGAIMANAKAH SIKAP ALI TERHADAP PENGIKUT SABA'IYAH INI

Amirul Mukminin Ali radiyallahu ‘anhu ketika mendengar perkataan Abdullah bin Saba' ini tentang dirinya sangat marah, lalu ia memanggil Abdullah bin Saba'. Abdullah bin Saba' mengaku dengan mengatakan; ”Benar, engkau adalah Allah.” Amirul Mukminin berkata, “Kamu sudah dikuasai syetan. Tinggalkanlah ajaranmu dan bertaubatlah wahai orang yang celaka.”

Setelah itu Ali radiyallahu ‘anhu memerintahkan agar Abdullah bin Saba' untuk dibakar, namun kaum Rafidhah (Syi'ah) bersatu dalam menolak keputusan Ali dan mengatakan agar Abdullah bin Saba' dibuang saja. Karena suhu politik pada masa itu masih kacau, Abdullah bin Saba' diasingkan ke Mada'in dan diperintahkan untuk tidak menyiarkan ajarannya. Setelah itu Amirul Mukminin Ali radiyallahu ‘anhu mengambil tindakan keras terhadap orang yang masih menyiarkan ajaran Saba'iyah ini. Sebagian dari mereka ada yang diusir, sebagian lagi ada yang dibunuh dengan pedang atau dengan dibakar hidup-hidup.

Dihadapan pengikutnya Amirul Mukminin Ali radiyallahu ‘anhu menerangkan bahwa ia hanyalah seorang hamba Allah yang taat kepada Tuhannya.

Maka barangsiapa yang diketahui mereka adalah pengikut Saba'iyah maka mereka akan dijatuhi dengan hukuman bakar.  Dalam khotbahnya Imam Ali berkata, “Mengapa ada orang-orang yang memperkatakan terhadap dua orang pemuka Quraisy dan bapak kaum Muslimin, hal-hal yang saya sendiri jauh dari pandangan serta berlepas diri dari

apa yang mereka katakan, dan aku akan menghukum orang yang memperkatakannya. Demi Allah yang menumbuhkan biji dan menciptakan jiwa, tidak mencintai mereka kecuali orang mukmin yang takwa, dan tidak membenci mereka kecuali orang durhaka dan rendah moral ...”

Berhubung dengan sikap Ali radiyallahu ‘anhu yang keras terhadapgolongan Saba'iyah ini, maka para pengikut Saba'iyah terpaksa menyembunyikan keyakinan mereka, dan mulailah mereka menyiarkan ajaran mereka dengan cara sembunyi-sembunyi dengan memakai kedok “At-Taqiyah”

Namun setelah Ali radiyallahu ‘anhu terbunuh oleh Abdurrahman Al Muljam, maka Abdullah bin saba' keluar dari Madain dan mulai menyebarkan ajarannya bahkan mereka menambah kesesatannya dengan mengatakan bahwa Ali tidak mati dan tidak dibunuh. Ia tidak akan mati sehingga ia menggiring bangsa Arab dengan tongkatnya dan memenuhi bumi dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya penuh dengan kezaliman.”

Syi’ah Sekarang

Revolusi Iran adalah revolusi Syi'ah. Dan kefanatikan kepada Imam mereka tidak dapat dilukiskan, mereka telah menuliskannya dalam buku-buku mereka dan menyiarkannya ke seluruh dunia tanpa tedeng aling. Khomeini mengatakan ke seluruh dunia bahwa imam-imam Syi'ah adalah sederajat dengan Allah yang Maha Pencipta. Dalam bukunya “Al-Hukumah Islamiyah”, ia menulis: Ajaran-ajaran Imam Itu seperti ajaran Al-Qur'an, harus kita ikuti dan kita jalankan... Imam itu mempunyai derajat yang tinggi, kedudukan yang terpuji, kekuasaan alamiyah yang kepadanya semua atom dunia ini tunduk... Imam-imam Syi'ah adalah tuhan-tuhan yang memiliki sifat-sifat Tuhan, yang tidak ngantuk dan tidak tidur”

Lebih dari seribu ulama telah menjatuhkan hukuman murtad dan kafir kepada kepada Khomaini ini pada Muktamar Islam ke Tiga yang diadakan oleh Rabithah Alam Islami di Mekkah Tanggal 18–22 Safar 1408 H. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga sependapat dengan Ijma' tersebut, karena Khomeini telah menentang nash-nash Al-Qur'an yang jelas.

Abu Umar Abdul Aziz

Maraji’:

  1. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Gerakan Syi'ah Oleh Dr. Ihsan Ilahi Zhahir
  2. Tikaman Syi'ah Terhadap Para Shahabat Nabi Oleh Dr. Ihsan Ilahi Zhahir
  3. Virus Syi'ah Oleh Dr. Ihsan Ilahi Zhahir
  4. Pengkhianatan-Pengkhianatan Syi'ah dan Pengaruhnya Terhadap kekalahan Umat Islam Oleh Dr. Imad Ali Abdus Sami'
  5. Hakikat Akidah Syi'ah Oleh Dr. Muhammad kamil al-Hasyimi
  6. Mengapa saya keluar dari Syi'ah? Oleh Dr. Sayid Husein Al-Musawi

Terkait:

  1. Sekilas Sejarah Hitam Kaum Rafidhah Sepanjang Zaman
  2. Syi'ah dan Zionisme
  3. Akibat Praktek Nikah Mut'ah

Sumber: Buletin Dar el-Iman Vol.22/Th:1/2007

Share/Save/Bookmark
Dibaca :111302 kali  

Komentar-Komentar  

Quote
 
0
Quoting DAFAH:
KALAU BERLOGIKA JGN KRN FULUS, AKIBATNYA SEPERTI ARTIKEL DI ATAS. DI BUMI INI HANYA DI ARAB SAUDI YG MELARANG RAKYATNYA JD PEGAWAI PEMERINTAH JK TERNYATA NASABNYA DR NABI , LOOOO KAN ADA RASIALIS DI ARAB SAUDI ATAU PEMERINTAHNYA KETAKUTAN DENGAN KETURUNAN NABI ??? MEREKA TAHU SEBAGIAN BESAR SAYYID,SYARIEF DAN HABIB ADALAH SYIAH YANG TAAT. LIHATLAH IRAN SBG SATU2NYA NEGARA ISLAM YANG PEMIMPINNYA KETURUNAN NABI , MEREKA BERDIRI TEGAK DAN BANGGA KRN BERANI MELAWAN SETAN BESAR AMRIK, ISRAEL DAN INGGRIS SERTA ANTEK2NYA NEGARA2 ARAB YG LEMAH BERTEKUK LUTUT. IRAN SIAP PERANG DUNIA DENGAN SIAPAPUN DENGAN NEGARA MANAPUN, BAHKAN TERORIS SEKELAS MUJAHIDDIN PUN TIDAK BERANI MENGINJAKKAN KAKI DI BUMI IRAN APALAGI TERORIS KELAS2 TERI SEPERTI DI INDONESIA BAKALAN LARI TERKENCING2 OLEH AHMADINEJAD. ITULAH IRAN BENTENG TERAKHIR KEHORMATAN ISLAM,,,,, DAN INGAT CUCU NABI HUSSEIN ADALAH PAHLAWAN SAHID TERHEBAT SEPANJANG MASA YANG DIAKUI JG OLEH SEMUA BANGSA RAS DAN AGAMA. DARAH HUSSEIN INILAH YANG MENGALIR KEPADA PEMIMPIN DAN RAKYAT IRAN, BERANI MELAWAN SIAPA SAJA YANG MENGHADANG ISLAM. SEMENTARA ARAB SAUDI YANG PEMIMPINNYA KETURUNAN MORDEKHAI KABILAH YAHUDI MENGKERUT MJD NEGARA ISLAM YANG PENGECUT, BISANYA HANYA MENGHAMBA KEPADA SETAN BESAR AMRIK,ISRAEL DAN INGGRIS. ITULAH PERBANDINGAN. DARI BUAHNYA KITA AKAN TAHU POHONNYA.

Quoting DAFAH:
KALAU BERLOGIKA JGN KRN FULUS, AKIBATNYA SEPERTI ARTIKEL DI ATAS. DI BUMI INI HANYA DI ARAB SAUDI YG MELARANG RAKYATNYA JD PEGAWAI PEMERINTAH JK TERNYATA NASABNYA DR NABI , LOOOO KAN ADA RASIALIS DI ARAB SAUDI ATAU PEMERINTAHNYA KETAKUTAN DENGAN KETURUNAN NABI ??? MEREKA TAHU SEBAGIAN BESAR SAYYID,SYARIEF DAN HABIB ADALAH SYIAH YANG TAAT. LIHATLAH IRAN SBG SATU2NYA NEGARA ISLAM YANG PEMIMPINNYA KETURUNAN NABI , MEREKA BERDIRI TEGAK DAN BANGGA KRN BERANI MELAWAN SETAN BESAR AMRIK, ISRAEL DAN INGGRIS SERTA ANTEK2NYA NEGARA2 ARAB YG LEMAH BERTEKUK LUTUT. IRAN SIAP PERANG DUNIA DENGAN SIAPAPUN DENGAN NEGARA MANAPUN, BAHKAN TERORIS SEKELAS MUJAHIDDIN PUN TIDAK BERANI MENGINJAKKAN KAKI DI BUMI IRAN APALAGI TERORIS KELAS2 TERI SEPERTI DI INDONESIA BAKALAN LARI TERKENCING2 OLEH AHMADINEJAD. ITULAH IRAN BENTENG TERAKHIR KEHORMATAN ISLAM,,,,, DAN INGAT CUCU NABI HUSSEIN ADALAH PAHLAWAN SAHID TERHEBAT SEPANJANG MASA YANG DIAKUI JG OLEH SEMUA BANGSA RAS DAN AGAMA. DARAH HUSSEIN INILAH YANG MENGALIR KEPADA PEMIMPIN DAN RAKYAT IRAN, BERANI MELAWAN SIAPA SAJA YANG MENGHADANG ISLAM. SEMENTARA ARAB SAUDI YANG PEMIMPINNYA KETURUNAN MORDEKHAI KABILAH YAHUDI MENGKERUT MJD NEGARA ISLAM YANG PENGECUT, BISANYA HANYA MENGHAMBA KEPADA SETAN BESAR AMRIK,ISRAEL DAN INGGRIS. ITULAH PERBANDINGAN. DARI BUAHNYA KITA AKAN TAHU POHONNYA.

Mimpi kali yee mana ada Nabi/Rasull setelah Muhamad Saw
Quote
 
0
Stop perdebatan karena masing masing punya argumen ujung ujungnya saling serang saling cela sederhana sj solusinya kembali ke Al Qur an dan Sunah Rassul klu diluar itu kita bisa menilai sejauh mana keislaman kita ini bukan untuk diperdebatan tp diamalkan
.
Quote
 
+1
artikel diatas justru kebalikan dari ralitas yang ada, justru senjata yang dipakai oleh pejuang palestna adalah suplay dari Iran.....sebaga i negara islam syi'ah yang melawan Yahudi dan ini adalah realitas....jus tru di irak pembunuhan paling banyak dilakukan oleh orang Sunni.......... tapi saling klaim tidak ada gunanya
Quote
 
0
Sudah dijawab akhi a. silahkan baca koment ana disini tgl 02 agustus 2014

http://www.akhirzaman.info/islam/syiah/2341-kesesatan-kesesatan-syiah-dan-kejahatan-kejahatannya-dalam-sejarah.html#comments

1. DAFTAR NAMA PERIWAYAT SYIAH RAFIDHAH (SESAT/KAFIR MENURUT SALAFI-WAHABI) YANG HADISTNYA DIAMBIL PERAWI HADIS KUTUBUS SITTAH [bukhari, muslim, abu dawud, tirmidzi, nasa’i, ibnu majah] (BAG-1) (silahkan baca bag-1 s/d 9 dari atas kebawah membaca normal)

2. Tidak boleh mencela, mengecam dan merendahkan para sahabat sekalipun mereka dilaknat, murtad, bahkan dicampakan dalam neraka kata ulama suni!!! Doktrin sesat dan menyesatkan ( BAG-1) SILAHKAN BACA BAG-1 S/D 8 DARI ATAS KEBAWAH

Silahkan dibantah ditunggu
Quote
 
0
woi..kalian tinggal di indonesia bukan di arab,.salam 3 jari persatuan indonesia yang paling penting. piss..
Quote
 
+1
http://www.gensyiah.com/kesalahan-jalaluddin-rakhmat-terbongkar-dalam-dialog-syiah-di-makassar.html#more-4070
Quote
 
0
(Rasullullah berdakwah kepada allah tolong dikoreksi)
Kita tidak hidup di zaman rasulullah jadi dari syi'ah ataupun salafi dan sunny hanya memandang semuanya dari sudut pandang sejarah yang merujuk ke hadits yang dianggap sahih dan imam yang diyakini kebenerannya dari masing2..syiah menganggap kitab imam bukhori banyak kepalsuan sedangkan dari salafi dan sunny pun sebaliknya terhadap kitab dan imamnya syiah.. sekarang kita tidak hidup di iran, irak, arab saudi. jadi kita tidak berani memvonis kebenaran dari komentar" dan website ini 100%.
saya orang yang awam terhadap agama tapi saya tidak mau menjelek-jelekk an sesama muslim dan hanya tau "MENJAUHI LARANGAN DAN MENJALAKAN APA YANG DIPERINTAHKAN oleh ALLAH DENGAN MENGHARAP RIDHO ALLAH" TANPA menjadi hamba yang SOK TAU, SOK PINTAR SOK BENAR SEPERTI YANG PUNYA WEBSITE INI DAN YANG KOMENTAR-KOMENT AR PAHIT DISINI.
SESAMA MUSLIM BERDAMAILAH DEMI KEUTUHAN ISLAM YANG KITA CINTAI. JANGAN MEMERANGI SAUDARA SENDIRI. SESUNGGUHNYA SEMUA MUSLIM ITU BERSAUDARA.
JANGAN BIARKAN YAHUDI DAN NASRANI TERTAWA,MARI PERANGI MEREKA JANGAN MEMERANGI SAUDARA SESAMA MUSLIM.
Quote
 
0
Pendapat Tentang Kafirnya Sekte Syiah

Kami tidak menghakimi. Tugas kami hanya
menyampaikan keterangan dan menunjukkan
bukti. Dan ternyata didapati, yang berpendapat
bahwa Syi’ah itu kafir adalah para Imam-Imam
Besar Islam, seperti: Imam Malik, Imam Ahmad,
Imam Bukhari dan lain-lain. Berikut ini beberapa
pendapat dan fatwa para ulama Islam mengenai
golongan Syi’ah Rafidhah yang disebut dengan
Itsna Asy’ariyah dan Ja’fariyah.

Pertama: Imam Malik
Al-Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar al
Marwadzi, ia berkata: “Saya mendengar Abu
Abdullah berkata, bahwa Imam Malik berkata:
ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺸﺘﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻴﺲ ﻟﻬﻢ ﺍﺳﻢ ﺃﻭ ﻗﺎﻝ :
ﻧﺼﻴﺐ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ
“Orang yang mencela shahabat-shahab at Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka ia tidak
termasuk dalam golongan Islam.”
(As Sunnah, milik al-Khalal: 2/557)
Ibnu katsir berkata saat menafsirkan firman
Allah Ta’ala:
ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣَﻌَﻪُ ﺃَﺷِﺪَّﺍﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭِ ﺭُﺣَﻤَﺎﺀُ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺗَﺮَﺍﻫُﻢْ
ﺭُﻛَّﻌًﺎ ﺳُﺠَّﺪًﺍ ﻳَﺒْﺘَﻐُﻮﻥَ ﻓَﻀْﻠًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭِﺿْﻮَﺍﻧًﺎ ﺳِﻴﻤَﺎﻫُﻢْ ﻓِﻲ ﻭُﺟُﻮﻫِﻬِﻢْ ﻣِﻦْ ﺃَﺛَﺮِ
ﺍﻟﺴُّﺠُﻮﺩِ ﺫَﻟِﻚَ ﻣَﺜَﻠُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺘَّﻮْﺭَﺍﺓِ ﻭَﻣَﺜَﻠُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﻧْﺠِﻴﻞِ ﻛَﺰَﺭْﻉٍ ﺃَﺧْﺮَﺝَ ﺷَﻄْﺄَﻩُ
ﻓَﺂَﺯَﺭَﻩُ ﻓَﺎﺳْﺘَﻐْﻠَﻆَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻮَﻯ ﻋَﻠَﻰ ﺳُﻮﻗِﻪِ ﻳُﻌْﺠِﺐُ ﺍﻟﺰُّﺭَّﺍﻉَ ﻟِﻴَﻐِﻴﻆَ ﺑِﻬِﻢُ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭَ
ﻭَﻋَﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻣَﻐْﻔِﺮَﺓً ﻭَﺃَﺟْﺮًﺍ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ
‏[ﺍﻟﻔﺘﺢ29/ ]
“ Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-
orang yang bersama dengan Dia adalah keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih
sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka
ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan
keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak
pada muka mereka dari bekas sujud.
Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan
sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti
tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka
tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu
menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas
pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati
penanam-penanamnya karena Allah hendak
menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan
kekuatan orang-orang mukmin). Allah
menjanjikan kepada orang-orang yang beriman
dan mengerjakan amal yang saleh di antara
mereka ampunan dan pahala yang besar.”
Beliau berkata: “Dari ayat ini, dalam satu riwayat
dari Imam Malik –rahmat Allah terlimpah
kepadanya-, beliau mengambil kesimpulan
tentang kekafiran Rafidhah yang membenci para
shahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Beliau berkata:
“Karena mereka ini membenci para shahabat,
dan barangsiapa membenci para shahabat, maka
ia telah kafir berdasarkan ayat ini.” Pendapat ini
disepakati oleh segolongan ulama radhiyallahu
‘anhum.” (Tafsir Ibnu Katsir: 4/219)
Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata:
ﻟﻘﺪ ﺃﺣﺴﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻓﻲ ﻣﻘﺎﻟﺘﻪ ﻭﺃﺻﺎﺏ ﻓﻲ ﺗﺄﻭﻳﻠﻪ ﻓﻤﻦ ﻧﻘﺺ ﻭﺍﺣﺪﺍً ﻣﻨﻬﻢ
ﺃﻭ ﻃﻌﻦ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺘﻪ ﻓﻘﺪ ﺭﺩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﻭﺃﺑﻄﻞ ﺷﺮﺍﺋﻊ
ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ
“Sungguh sangat bagus ucapan Imam Malik itu
dan benar penafsirannya. Siapa pun yang
menghina seorang dari mereka (sahabat Nabi)
atau mencela periwayatannya, maka ia telah
menentang Allah, Tuhan alam semesta dan
membatalkan syari’at kaum Muslimin.” (Tafsir
al-Qurthubi: 16/297)

Kedua: Imam Ahmad
Banyak riwayat telah datang darinya dalam
mengafirkan golongan Syi’ah Rafidhah. Di
antaranya: Al-Khalal meriwayatkan dari Abu
Bakar al Marwadzi, ia berkata: “Aku bertanya
kepada Abu Abdillah tentang orang yang mencela
Abu Bakar, Umar, dan ‘Aisyah?” Beliau
menjawab,
ﻣﺎ ﺃﺭﺍﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ
“Aku tidak melihatnya di atas Islam.”
Al-Khalal berkata lagi: Abdul Malik bin Abdul
Hamid memberitakan kepadaku, ia berkata: Aku
mendengar Abu Abdillah berkata:
ﻣﻦ ﺷﺘﻢ ﺃﺧﺎﻑ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﻣﺜﻞ ﺍﻟﺮﻭﺍﻓﺾ
“Barang siapa mencela (sahabat Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam) maka aku khawatir ia menjadi
kafir seperti halnya orang-orang Rafidhah.”
Kemudian beliau berkata:
ﻣﻦ ﺷﺘﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻻ ﻧﺄﻣﻦ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻗﺪ ﻣﺮﻕ
ﻋﻦ ﺍﻟﺪﻳﻦ
“Barangsiapa mencela Shahabat Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam maka kami khawatir ia telah
keluar dari Islam (tanpa disadari).” (Al-Sunnah,
Al-Khalal: 2/557-558)
Al-Khalal berkata: Abdullah bin Ahmad bin
Hambal menyampaikan kepadaku, katanya:
“Saya bertanya kepada ayahku perihal seseorang
yang mencela salah seorang dari Shahabat Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Maka beliau
menjawab:
ﻣﺎ ﺃﺭﺍﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ
“Aku tidak melihatnya di atas Islam”.” (Al-
Sunnah, Al-Khalal: 2/558. Bacalah: Manaakib al
Imam Ahmad, oleh Ibnu Al-Jauzi, hal. 214)
Tersebut dalam kitab As Sunnah karya Imam
Ahmad, mengenai pendapat beliau tentang
golongan Rafidhah:
ﻫﻢ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺘﺒﺮﺃﻭﻥ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻳﺴﺒﻮﻧﻬﻢ
ﻭﻳﻨﺘﻘﺼﻮﻧﻬﻢ ﻭﻳﻜﻔﺮﻭﻥ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺇﻻ ﺃﺭﺑﻌﺔ : ﻋﻠﻲ ﻭﻋﻤﺎﺭ ﻭﺍﻟﻤﻘﺪﺍﺩ ﻭﺳﻠﻤﺎﻥ
ﻭﻟﻴﺴﺖ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﻣﻦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻓﻲ ﺷﻲﺀ
“Mereka itu adalah golongan yang menjauhkan
diri dari shahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam dan mencelanya, menghinanya serta
mengkafirkannya kecuali hanya empat orang saja
yang tiada mereka kafirkan, yaitu: Ali, Ammar,
Miqdad dan Salman. Golongan Rafidhah ini
sama sekali bukan Islam.” (Al-Sunnah, milik
Imam Ahmad: 82)
Ibnu Abdil Qawiy berkata: “Adalah imam Ahmad
mengafirkan orang yang berlepas diri dari mereka
(yakni para sahabat) dan orang yang mencela
‘Aisyah Ummul Mukminin serta menuduhnya
dengan sesuatu yang Allah telah membebaskan
darinya, seraya beliau membaca:
ﻳَﻌِﻈُﻜُﻢَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﺗَﻌُﻮﺩُﻭﺍ ﻟِﻤِﺜْﻠِﻪِ ﺃَﺑَﺪًﺍ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻣُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ
“Allah menasehati kamu, agar kamu jangan
mengulang hal seperti itu untuk selama-
lamanya, jika kamu benar-benar beriman.” (QS.
Al-Nuur: 17. Dinukil dari Kitab Maa Dhahaba
Ilaihi al-Imam Ahmad: 21)

Ketiga: Imam Al Bukhari (wafat tahun 256 H)
Beliau berkata:
ﻣﺎ ﺃﺑﺎﻟﻲ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﺠﻬﻤﻲ ﻭﺍﻟﺮﺍﻓﻀﻲ ، ﺃﻡ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ
ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻭﻻ ﻳﺴﻠﻢ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﻻ ﻳﻌﺎﺩﻭﻥ ﻭﻻ ﻳﻨﺎﻛﺤﻮﻥ ﻭﻻ ﻳﺸﻬﺪﻭﻥ ﻭﻻ
ﺗﺆﻛﻞ ﺫﺑﺎﺋﺤﻬﻢ
“Bagi saya sama saja, apakah aku shalat di
belakang seorang Jahmi (beraliran Jahmiyah)
atau seorang Rafidzi (beraliran Syi’ah Rafidhah),
atau aku shalat dibelakang Imam Yahudi atau
Nashrani. Dan (seorang muslim) tidak boleh
memberi salam kepada mereka, mengunjungi
mereka ketika sakit, kawin dengan mereka,
menjadikan mereka sebagai saksi dan memakan
sembelihan mereka.” (Khalqu Af’al al-Ibad: 125)

Keempat: Abdurrahman bin Mahdi
Imam al-Bukhari berkata: Abdurrahman bin
Mahdi berkata: “Keduanya adalah agama
tersendiri, yakni Jahmiyah dan Rafidhah
(Syi’ah).” (Khalqu Af’al al-Ibad: 125)
Kelima: Al-Faryabi
Al-Khalal meriwayatkan, ia berkata: “Telah
menceritakan kepadaku Harb bin Ismail al-
Kirmani, ia berkata: “Musa bin Harun bin Zayyad
menceritakan kepada kami, ia berkata: “Saya
mendengar al-Faryabi dan seseorang yang
bertanya kepadanya tentang orang yang mencela
Abu Bakar. Jawabnya: “Dia Kafir.” Lalu ia
berkata: “Apakah orang semacam itu boleh
dishalatkan jenazahnya?” Jawabnya: “Tidak.”
Dan aku bertanya pula kepadanya: “Apa yang
dilakukan terhadapnya, padahal orang itu juga
telah mengucapkan Laa Ilaaha Illallah?”
Jawabnya: “Jangan kamu sentuh (Jenazahnya)
dengan tangan kamu, tetapi kamu angkat
dengan kayu sampai kamu menurunkan ke liang
lahatnya.” (al-Sunnah, milik al-Khalal: 2/566)

Keenam: Ahmad bin Yunus
Kunyahnya adalah Ibnu Abdillah. Ia dinisbatan
kepada datuknya, yaitu salah seorang Imam
(tokoh) As-Sunnah. Beliau termasuk penduduk
Kufah, tempat tumbuhnya golongan Rafidhah.
Beliau menceritakan perihal Rafidhah dengan
berbagai macam alirannya. Ahmad bin Hambal
telah berkata kepada seseorang: “Pergilah anda
kepada Ahmad bin Yunus, karena dialah seorang
Syeikhul Islam.”
Para ahli Kutubus Sittah telah meriwayatkan
Hadits dari beliau. Abu Hatim berkata: “Beliau
adalah orang kepercayaan lagi kuat hafalannya”.
Al-Nasaai berkata: “Dia adalah orang
kepercayaan.” Ibnu Sa’ad berkata: “Dia adalah
seorang kepercayaan lagi jujur, seorang Ahli
Sunnah wal Jama’ah.” Ibnu Hajar menjelaskan,
bahwa Ibnu Yunus telah berkata: “Saya pernah
datang kepada Hammad bin Zaid, saya minta
kepada beliau supaya mendiktekan kepadaku
sesuatu hal tentang kelebihan Utsman.
Jawabnya: “Anda ini siapa?” Saya jawab:
“Seseorang dari negeri Kufah.” Lalu ia berkata:
“Seorang Kufah menanyakan tentang kelebihan-
kelebihan Utsman. Demi Allah, aku tidak akan
menyampaikannya kepada Anda, kalau Anda
tidak mau duduk sedangkan aku tetap berdiri!”
Beliau wafat tahun 227 H. (Tahdzibut Tahdzib,
1:50, Taqribut Tahdzib, 1:29).
Beliau (Ahmad bin Yunus) rahimahullah berkata,
ﻟﻮ ﺃﻥ ﻳﻬﻮﺩﻳﺎً ﺫﺑﺢ ﺷﺎﺓ ، ﻭﺫﺑﺢ ﺭﺍﻓﻀﻲ ﻷﻛﻠﺖ ﺫﺑﻴﺤﺔ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩﻱ ، ﻭﻟﻢ ﺁﻛﻞ
ﺫﺑﻴﺤﺔ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﻲ ﻷﻧﻪ ﻣﺮﺗﺪ ﻋﻦ ﺍﻹﺳﻼﻡ
“Seandainya saja seorang Yahudi menyembelih
seekor kambing dan seorang Rafidhi (Syi’i) juga
menyembelih seekor kambing, niscaya saya
hanya memakan sembelihan si Yahudi, dan aku
tidak mau makan sembelihan si Rafidhi. Karena
dia telah murtad dari Islam.” (Al-Sharim al-
Maslul, Ibnu Taimiyah: 57)

Ketujuh: Al-Qadhi Abu Ya’la
Beliau berkata, “Adapun Rafidhah, maka hukum
terhadap mereka . . . sesungguhnya mengafirkan
para sahabat atau menganggapnya fasik, yang
berarti mesti masuk neraka, maka orang
semacam ini adalah kafir.” (Al Mu’tamad, hal.
267)
. . sesungguhnya mengafirkan para sahabat atau
menganggapnya fasik, yang berarti mesti masuk
neraka, maka orang semacam ini adalah kafir. . .
Sementara Rafidhah (Syi’ah) sebagaimana
terbukti di dalam pokok-pokok ajaran mereka
adalah orang-orang yang mengkafirkan sebagian
besar Shahabat Nabi. Silahkan baca kembali
tulisan yang telah kami posthing:
Kitab Syi’ah Melaknat dan Mengafirkan Abu
Bakar, Umar dan ‘Aisyah

Kedelapan: Ibnu Hazam al-Zahiri
Beliau berkata: “Pendapat mereka (Yakni
Nashrani) yang menuduh bahwa golongan
Rafidhah (Syi’ah) merubah Al-Qur’an, maka
sesungguhnya golongan Syi’ah Rafidhah bukan
termasuk bagian kaum muslimin. Karena
golongan ini muncul pertama kalinya setelah dua
puluh lima tahun dari wafatnya Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Syi’ah Rafidhah
adalah golongan yang mengikuti langkah-
langkah Yahudi dan Nashrani dalam melakukan
kebohongan dan kekafiran.” (Al-fashl fi al-Milal
wa al-Nihal: 2/213)[ii]
Beliau berkata: “Salah satu pendapat golongan
Syi’ah Imamiyah, baik yang dahulu maupun
sekarang ialah Al-Qur’an itu sesungguhnya telah
diubah.”
Kemudian beliau berkata: “Orang yang
berpendapat, bahwa Al Qur’an ini telah diubah
adalah benar-benar kafir dan men-dustakan
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.(Al
Fashl: 5/40)
Beliau berkata: “Tidak ada perbedaan pendapat
di kalangan semua kelompok umat Islam Ahlus
Sunnah, Mu’tazilah, Murji’ah, Zaidiyah, bahwa
adalah wajib berpegang kepada Al Qur’an yang
biasa kita baca ini ” Dan hanya golongan Syi’ah
ekstrim sajalah yang menyalahi sikap ini. Dengan
sikapnya itu mereka menjadi kafir lagi musyrik,
menurut pendapat semua penganut Islam. Dan
pendapat kita sama sekali tidak sama dengan
mereka (Syi’ah). Pendapat kita hanyalah sejalan
dengan sesama pemeluk agama kita.” (Al Ihkam
Fii Ushuuli Ahkaam: 1/96)
Beliau berkata pula: “Ketahuilah, sesungguhnya
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak
pernah menyembunyikan satu kata pun atau
satu huruf pun dari syariat Ilahi. Saya tidak
melihat adanya keistimewaan pada manusia
tertentu, baik anak perempuannya atau
keponakan laki-lakinya atau istrinya atau
shahabatnya, untuk mengetahui sesuatu syariat
yang disembunyikan oleh Nabi terhadap bangsa
kulit putih, atau bangsa kulit hitam atau
penggembala kambing. Tidak ada sesuatu pun
rahasia, perlambang ataupun kata sandi di luar
apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah
kepada umat manusia. Sekiranya Nabi
menyembunyikan sesuatu yang harus
disampaikan kepada manusia, berarti beliau
tidak menjalankan tugasnya. Barang siapa
beranggapan semacam ini, berarti ia kafir. (Al
Fashl, 2:274-275)
Orang yang berkeyakinan semacam ini dikafirkan
oleh Ibnu Hazm. Dan keyakinan semacam ini
dipegang oleh Syi’ah Itsna Asy’ariyah. Pendapat
ini dikuatkan oleh guru-guru beliau pada
masanya dan para ulama sebelumnya.



4 IMAM MADZHAB
sikap Abu Hanifah terhadap sekte ini:
ﻭﺫﻛﺮ ﺍﻟﺴﺒﻜﻲ ﺃﻥ ﻣﺬﻫﺐ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭﺃﺣﺪ ﺍﻟﻮﺟﻬﻴﻦ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ
ﻭﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻄﺤﺎﻭﻱ ﻓﻲ ﻋﻘﻴﺪﺗﻪ ﻛﻔﺮ ﺳﺎﺏ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ، ﻓﺘﺎﻭﻯ
ﺍﻟﺴﺒﻜﻲ 2/590 ‏) . ﻭﻗﺪ ﺫﻛﺮ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻔﺘﺎﻭﻯ ﺃﻥ ﺳﺐ ﺍﻟﺸﻴﺨﻴﻦ
ﻛﻔﺮ ﻭﻛﺬﺍ ﺇﻧﻜﺎﺭ ﺇﻣﺎﻣﺘﻬﻤﺎ ." ﻭﻛﺎﻥ ﺃﺑﻮ ﻳﻮﺳﻒ ﺻﺎﺣﺐ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻳﻘﻮﻝ :
" ﻻ ﺃﺻﻠﻲ ﺧﻠﻒ ﺟﻬﻨﻤﻲ ﻭﻻ ﺭﺍﻓﻀﻲ ﻭﻻ ﻗﺪﺭﻱ . ﺍﻧﻈﺮ ﺷﺮﺡ ﺃﺻﻮﻝ
ﺍﻋﺘﻘﺎﺩ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻟﻺﻣﺎﻡ ﺍﻟﻼﻟﻜﺎﺋﻲ 4 / 733
Imam As-Subki menyebutkan bahwa madzhab
Abu Hanifah dan salah satu pendapat syafi’I
dan yang lahir dari Ath-Thahawi dalam
akidahnya adalah kekufuran orang yang
mencela Abu Bakar. (Fatawa As-Subki 2/590)
Dan Imam As-Subki juga menyebutkan bahwa
mencela asy-syaikhani (Abu Bakar dan
Umar)adalah kekufuran, demikian pula jika
mengingkari kepemimpinan mereka berdua. “
Dan Abu Yusuf, sahabat Abu Hanifah berkata,
“Aku tidak shalat di belakang penganut
jahmiyyah dan tidak pula syiah rafidhah dan
juga qadariyyah (pengingkar takdir). “ lihat
Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah
karya Imam Al-Lalika’i.

Pernyataan Imam Abu Hanifah rahimahullah

ﺃَﺻْﻞُ ﻋَﻘِﻴﺪَﺓِ ﺍﻟﺸِّﻴﻌَﺔِ : ﺗَﻀْﻠِﻴﻞُ ﺍﻟﺼَّﺤَﺎﺑَﺔِ، ﺭِﺿْﻮَﺍﻥُ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢِ
Landasan akidah Syi’ah adalah menyesatkan para
sahabat ridhwanullah ‘alaihim.
Pernyataan ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari
Abu Hanifah rahimahullah .


Pernyataan Imam Malik bin Anas rahimahullah

Kemudian al-Imam Malik berkata: “Barang siapa
yang ada pada hatinya kedengkian (benci
ataupun marah-pen) terhadap para sahabat
Muhammad ‘ alaihissalam maka ayat ini (surat al-
fath ayat 29-pen) telah mengenainya.” (as-
Sunnah karya al-Khallal no. 765 versi al-
Maktabah asy-Syamilah)

Pernyataan Imam asy-Syafi’i rahimahullah

ﻟَﻢْ ﺃَﺭَ ﺃَﺣَﺪﺍً ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟْﺄَﻫْﻮَﺍﺀِ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺑِﺎﻟﺰُّﻭﺭِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﺍﻓِﻀَﺔِ
Aku belum pernah melihat suatu kaum yang
paling berani bersaksi dengan kedustaan melebihi
Rafidhah.
Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul
Auliya’.

Pernyataan Imam Ahmad rahimahullah

Siapakah Rafidhah itu?
Al-Imam Ahmad menjawab:
ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺸْﺘُﻢُ ﻭَﻳَﺴُﺐُّ ﺃَﺑَﺎ ﺑَﻜْﺮٍ ﻭَﻋُﻤَﺮَ ﺭَﺣِﻤَﻬُﻤَﺎ ﺍﻟﻠﻪ
Orang yang mencela Abu Bakar dan Umar
rahimahumallah. (as-Sunnah karya al-khallal:
787)
ﻣَﻦْ ﺷَﺘَﻢَ ﺃَﺧَﺎﻑُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻜُﻔْﺮَ ﻣِﺜْﻞُ ﺍﻟﺮَّﻭَﺍﻓِﺾِ ، ﺛﻢ ﻗﺎﻝ : ﻣَﻦْ ﺷَﺘَﻢَ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏَ
ﺍﻟﻨَّﺒِﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟَﺎ ﻧَﺄْﻣَﻦُ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻗَﺪْ ﻣَﺮَﻕَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ
Barang siapa yang mencela (sahabat Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka aku aku
mengkhawatirkan kekafiran padanya seperti
kalangan Rafidhah. Kemudian berkata lagi:
Barang siapa yang mencela sahabat Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam maka kita
khawatirkan ia telah keluar dari agama. (as-
Sunnah karya al-Khallal: 790)
Pernah disampaikan kepada al-Imam Ahmad
tentang orang yang mencela Utsman bin ‘Affan
radhiyallahu ‘anhu , maka beliau menjawab:
ﻫﺬﻩ ﺯَﻧْﺪَﻗَﺔ
Ini adalah zindiq. (as-Sunnah karya al-Khallal:
791)
Kemudian al-Khallal mendengar langsung dari
Abdullah bin Ahmad bin Hambal:
“Aku bertanya kepada ayahku tentang orang yang
mencela salah seorang sahabat Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau (al-Imam
Ahmad) menjawab:
ﻣَﺎ ﺃَﺭَﺍﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ
Aku memandangnya tidak di atas Islam. (as-
Sunnah karya al-Khallal: 792)
Al-Imam Ahmad mengatakan:
ﻣَﻦْ ﺗﻨﻘﺺ ﺃَﺣَﺪًﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓَﻠَﺎ ﻳَﻨْﻄَﻮِﻱ
ﺇِﻟَّﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻠِﻴَّﺔ ، ﻭَﻟَﻪُ ﺧَﺒِﻴﺌَﺔُ ﺳُﻮﺀٍ ، ﺇِﺫَﺍ ﻗَﺼَﺪَ ﺇِﻟَﻰ ﺧَﻴْﺮِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ، ﻭَﻫُﻢْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏُ
ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
Barang siapa yang merendahkan salah seorang
sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
maka tidaklah ia akan terguling kecuali di atas
musibah (kesulitan dan kesempitan). Dan ada
padanya sesuatu keburukan yang tersembunyi,
yaitu ketika yang ia tuju (dengan celaanya itu-
pen) adalah orang-orang terbaik, yaitu mereka
adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam. (as-Sunnah karya al-Khallal: 763)



PARA ULAMA’ AHLUSSUNNAH
termasuk ke 4 imam mazhab Islam yang diakui ummat Islam
di dunia .

INILAH Sikap Ulama Islam terhadap Agama
Syi’ah :

1.) Imam ‘Alqamah bin Qais An-Nakha’iy
rahimahulllâh (W. 62 H)
Beliau berkata,
ﻟﻘﺪ ﻏﻠﺖ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺸﻴﻌﺔ ﻓﻲ ﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻛﻤﺎ ﻏﻠﺖ ﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻓﻲ
ﻋﻴﺴﻰ ﺑﻦ ﻣﺮﻳﻢ
“Sungguh kaum Syi’ah ini telah berlaku ekstrem
terhadap ‘Ali radhiyallâhu ‘anhû sebagaimana
kaum Nashara berlaku ekstrem terhadap Isa bin
Maryam.”
–. [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad
dalam As-Sunnah 2/548]

2.) Imam ‘Amr bin Syarâhîl Asy-Sya’by Al-Kûfy
rahimahulllâh (W. 105 H)
Beliau bertutur,
ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﻗﻮﻣﺎً ﺃﺣﻤﻖ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻌﺔ
“Saya tidak pernah melihat suatu kaum yang
lebih dungu daripada kaum Syi’ah.”
–. [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad
dalam As-Sunnah 2/549, Al-Khallâl dalam As-
Sunnah 1/497, dan Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh
Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jam’âh
7/1461]
Beliau juga bertutur,
ﻧﻈﺮﺕ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻫﻮﺍﺀ ﻭﻛﻠﻤﺖ ﺃﻫﻠﻬﺎ ﻓﻠﻢ ﺃﺭ ﻗﻮﻣﺎً ﺃﻗﻞ ﻋﻘﻮﻻً ﻣﻦ
ﺍﻟﺨﺸﺒﻴﺔ
“Saya melihat kepada pemikiran-pemik iran sesat
ini, dan Saya telah berbicara dengan
penganutnya. Saya tidak melihat bahwa ada
suatu kaum yang akalnya lebih pendek daripada
kaum (Syi’ah) Al-Khasyabiyah.”
–. [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad
dalam As-Sunnah 2/548]

3.) Imam Thalhah bin Musharrif rahimahulllâh
(W. 112 H)
Beliau berkata,
ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﻻ ﺗﻨﻜﺢ ﻧﺴﺎﺅﻫﻢ، ﻭﻻ ﺗﺆﻛﻞ ﺫﺑﺎﺋﺤﻬﻢ، ﻷﻧﻬﻢ ﺃﻫﻞ ﺭﺩﺓ
“(Kaum Syi’ah) Rafidhah tidak boleh menikahi
kaum perempuan mereka dan tidak boleh
memakan daging-daging sembelihannya karena
mereka adalah kaum murtad.”
–. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-
Ibânah Ash-Shughrâ` hal. 161]

4.) Imam Abu Hanîfah Muhammad bin An-
Nu’mân rahimahulllâh (W. 150 H)
Beliau berucap,
ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺃﻥ ﺗﻔﻀﻞ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﻭﻋﻤﺮ ﻭﻋﻠﻴﺎً ﻭﻋﺜﻤﺎﻥ ﻭﻻ ﺗﻨﺘﻘﺺ ﺃﺣﺪﺍً ﻣﻦ
ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
“Al-Jamâ’ah adalah (berarti) engkau
mengutamakan Abu Bakar, Umar, Ali, dan
Ustman, serta janganlah engkau mencela
seorang pun shahabat Rasulullah shallallâhu
‘alaihi wa sallam.
–. [Al-Intiqâ` Fî Fadhâ`il Ats-Tsalâtsah Al-
A`immah Al-Fuqahâ` hal. 163]

5.) Imam Mis’ar bin Kidâm rahimahulllâh (W.
155 H)
Imam Al-Lâlakâ`iy meriwayatkan bahwa Mis’ar
bin Kidâm dijumpai seorang lelaki dari kaum
Rafidhah, kemudian orang tersebut
membicarakan sesuatu dengannya, tetapi
kemudian Mis’ar berkata,
ﺗﻨﺢ ﻋﻨﻲ ﻓﺈﻧﻚ ﺷﻴﻄﺎﻥ
“Menyingkirlah dariku. Sesungguhnya engkau
adalah syaithan.”
–. [Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wal
Jamâ’ah 8/1457]

6.) Imam Sufyân bin Abdillah Ats-Tsaury
rahimahulllâh (W. 161 H)
Muhammad bin Yusuf Al-Firyâby menyebut
bahwa beliau mendengar Sufyân ditanya oleh
seorang lelaki tentang pencela Abu Bakr dan
Umar, Sufyân pun menjawab,
ﻛﺎﻓﺮ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ
“(Pencela itu) adalah kafir kepada Allah Yang
Maha Agung.”
Orang tersebut bertanya, “(Bolehkah) Kami
menshalatinya?”
(Sufyân) menjawab,
ﻻ، ﻭﻻ ﻛﺮﺍﻣﺔ
“Tidak. Tiada kemuliaan baginya.”
Kemudian beliau ditanya, “Lâ Ilâha Illallâh.
Bagaimana kami berbuat terhadap jenazahnya ?”
Beliau menjawab,
ﻻ ﺗﻤﺴﻮﻩ ﺑﺄﻳﺪﻳﻜﻢ، ﺍﺭﻓﻌﻮﻩ ﺑﺎﻟﺨﺸﺐ ﺣﺘﻰ ﺗﻮﺍﺭﻭﻩ ﻓﻲ ﻗﺒﺮﻩ
“Janganlah kalian menyentuhnya dengan
tangan-tangan kalian. Angkatlah (jenazah itu)
dengan kayu hingga kalian menutup kuburnya.”
–. [Disebutkan oleh Adz-Dzahaby dalam Siyar
A’lâm An-Nubalâ` 7/253]

7.) Imam Malik bin Anas rahimahulllâh (W. 179
H)
Beliau bertutur,
ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺸﺘﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﻟﻴﺲ ﻟﻬﻢ ﺳﻬﻢ،
ﺃﻭﻗﺎﻝ ﻧﺼﻴﺐ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ
“Orang yang mencela shahabat Nabi shallallâhu
‘alaihi wa sallam tidaklah memiliki saham atau
bagian apapun dalam keislaman.”
–. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah hal. 162
dan Al-Khatsûl dalam As-Sunnah 1/493]
Asyhab bin Abdul Aziz menyebutkan bahwa
Imam Malik ditanya tentang Syi’ah Rafidhah
maka Imam Malik menjawab,
ﻻ ﺗﻜﻠﻤﻬﻢ ﻭﻻ ﺗﺮﻭ ﻋﻨﻬﻢ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻳﻜﺬﺑﻮﻥ
“Janganlah kalian meriwayatkan hadits dari
mereka. Sesungguhnya mereka itu sering
berdusta.”
–. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-
Ibânah Al-Kubrâ` sebagaimana dalam Minhâj
As-Sunnah karya Ibnu Taimiyah 1/61]

8.) Imam Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim
rahimahulllâh (W.182 H)
Beliau berkata,
ﻻ ﺃﺻﻠﻲ ﺧﻠﻒ ﺟﻬﻤﻲ، ﻭﻻ ﺭﺍﻓﻀﻲ، ﻭﻻ ﻗﺪﺭﻱ
“Saya tidak mengerjakan shalat di belakang
seorang Jahmy (penganut Jahmiyah), Râfidhy
(penganut paham Syi’ah Rafidhah), dan Qadary
(penganut paham Qadariyah).”
–. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh
Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah
4/733]

9.) Imam Abdurrahman bin Mahdi rahimahulllâh
(W. 198 H)
Beliau berucap,
ﻫﻤﺎ ﻣﻠﺘﺎﻥ : ﺍﻟﺠﻬﻤﻴﺔ، ﻭﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ
“Ada dua agama (yang bukan Islam, -pent.),
yaitu Jahmiyah dan Rafidhah.”
–. [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dalam Khalq
Af’âl Al-‘Ibâd hal.125]

10.) Imam Muhammad bin Idris Asy-Syâfi’iy
rahimahulllâh (W. 204 H)
Beliau berkata,
ﻟﻢ ﺃﺭ ﺃﺣﺪﺍً ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻷﻫﻮﺍﺀ، ﺃﻛﺬﺏ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻋﻮﻯ، ﻭﻻ ﺃﺷﻬﺪ ﺑﺎﻟﺰﻭﺭ ﻣﻦ
ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ
“Saya tidak pernah melihat seorang pun
penganut hawa nafsu yang lebih dusta dalam
pengakuan dan lebih banyak bersaksi palsu
melebihi Kaum Rafidhah.”
–. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-
Ibânah Al-Kubrâ` 2/545 dan Al-Lâlakâ`iy dalam
Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah
8/1457]

11.) Imam Yazîd bin Harun rahimahulllâh (W.
206 H)
Beliau berkata,
ﻳﻜﺘﺐ ﻋﻦ ﻛﻞ ﺻﺎﺣﺐ ﺑﺪﻋﺔ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺩﺍﻋﻴﺔ ﺇﻻ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻳﻜﺬﺑﻮﻥ
“Boleh mencatat (hadits) dari setiap penganut
bid’ah yang menyeru kepada bid’ahnya, kecuali
(Syi’ah) Rafidhah karena mereka sering
berdusta.”
–. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-
Ibânah Al-Kubrâ` sebagaimana dalam Minhâj
As-Sunnah 1/60 karya Ibnu Taimiyah]

12.) Imam Muhammad bin Yusuf Al-Firyaby
rahimahulllâh (W. 212 H)
Beliau berkata,
ﻣﺎ ﺃﺭﻯ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﻭﺍﻟﺠﻬﻤﻴﺔ ﺇﻻ ﺯﻧﺎﺩﻗﺔ
“Saya tidak memandang kaum Rafidhah dan
kaum Jahmiyah, kecuali sebagai orang-orang
zindiq.”
–. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh
Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah
8/1457]

13.) Imam Al-Humaidy, Abdullah bin Az-Zubair
rahimahulllâh (W. 219 H)
Setelah menyebutkan kewajiban mendoakan
rahmat bagi para shahabat, beliau berkata,
ﻓﻠﻢ ﻧﺆﻣﺮ ﺇﻻ ﺑﺎﻻﺳﺘﻐﻔﺎﺭ ﻟﻬﻢ، ﻓﻤﻦ ﻳﺴﺒﻬﻢ، ﺃﻭ ﻳﻨﺘﻘﺼﻬﻢ ﺃﻭ ﺃﺣﺪﺍً ﻣﻨﻬﻢ،
ﻓﻠﻴﺲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺴﻨﺔ، ﻭﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺊ ﺣﻖ
“Kita tidaklah diperintah, kecuali memohonkan
ampunan bagi (para shahabat). Siapa saja yang
mencerca mereka atau merendahkan mereka
atau salah seorang di antara mereka, dia
tidaklah berada di atas sunnah dan tidak ada
hak apapun baginya dalam fâ`i.”
–. [Ushûl As-Sunnah hal.43]

14.) Imam Al-Qâsim bin As-Sallam rahimahulllâh
(W. 224 H)
Beliau berkata,
ﻋﺎﺷﺮﺕ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻭﻛﻠﻤﺖ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻜﻼﻡ، ﻭﻛﺬﺍ، ﻓﻤﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﺃﻭﺳﺦ ﻭﺳﺨﺎً، ﻭﻻ
ﺃﻗﺬﺭ ﻗﺬﺭﺍً، ﻭﻻ ﺃﺿﻌﻒ ﺣﺠﺔ، ﻭﻻ ﺃﺣﻤﻖ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ …
“Saya telah hidup dengan seluruh manusia. Saya
telah berbicara dengan ahli kalam dan …
demikian. Saya tidak melihat ada yang lebih
kotor, lebih menjijikkan, argumennya lebih lemah,
dan lebih dungu daripada kaum Rafidhah ….”
–. [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-
Sunnah 1/499]

15.) Imam Ahmad bin Yunus rahimahulllâh (W.
227 H)
Beliau berkata,
ﺇﻧﺎ ﻻ ﻧﺄﻛﻞ ﺫﺑﻴﺤﺔ ﺭﺟﻞ ﺭﺍﻓﻀﻲ، ﻓﺈﻧﻪ ﻋﻨﺪﻱ ﻣﺮﺗﺪ
“Sesungguhnya kami tidaklah memakan
sembelihan seorang Syi’ah Rafidhah karena dia,
menurut Saya, adalah murtad.”
–. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh
Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah
8/459]

16.) Imam Ahmad bin Hanbal rahimahulllâh (W.
241 H)
Banyak riwayat dari beliau tentang celaan
terhadap kaum Rafidhah. Di antaranya adalah :
Beliau ditanya tentang seorang lelaki yang
mencela seorang shahabat Nabi shallallâhu
‘alaihi wa sallam maka beliau menjawab,
ﻣﺎ ﺃﺭﺍﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ
“Saya tidak memandang bahwa dia di atas
(agama) Islam.” [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl
dalam As-Sunnah 1/493]
Beliau juga ditanya tentang pencela Abu Bakr,
Umar, dan Aisyah maka beliau menjawab, “Saya
tidak memandang bahwa dia di atas (agama)
Islam.”
–. [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-
Sunnah 1/493]
Beliau ditanya pula tentang orang yang
bertetangga dengan (Syi’ah) Rafidhah yang
memberi salam kepada orang itu. Beliau
menjawab.
ﻻ، ﻭﺇﺫﺍ ﺳﻠﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻻ ﻳﺮﺩ ﻋﻠﻴﻪ
“Tidak (dijawab). Bila (orang Syi’ah) itu memberi
salam kepada (orang) itu, janganlah dia
menjawab (salam) tersebut.”
–. [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-
Sunnah 1/494]

17.) Imam Al-Bukhâry, Muhammad bin Ismail
rahimahulllâh (W. 256 H)
Beliau berkata,
ﻣﺎ ﺃﺑﺎﻟﻲ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﺠﻬﻤﻲ ﻭﺍﻟﺮﺍﻓﻀﻲ، ﺃﻡ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ
ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ، ﻭﻻ ﻳﺴﻠﻢ ﻋﻠﻴﻬﻢ، ﻭﻻ ﻳﻌﺎﺩﻭﻥ، ﻭﻻ ﻳﻨﺎﻛﺤﻮﻥ، ﻭﻻ ﻳﺸﻬﺪﻭﻥ،
ﻭﻻ ﺗﺆﻛﻞ ﺫﺑﺎﺋﺤﻬﻢ
“Saya tidak peduli. Baik Saya melaksanakan
shalat di belakang Jahmy dan Rafidhy maupun
Saya mengerjakan shalat di belakang orang-
orang Yahudi dan Nashara, (ketidakbolehannya
sama saja). (Seseorang) tidak boleh menjenguk
mereka, menikahi mereka, dan bersaksi untuk
mereka.”
–. [Khalq Af’âl Al-‘Ibâd hal. 125]

18.) Imam Abu Zur’ah Ar-Râzy, Ubaidullah bin
Abdil Karim rahimahulllâh (W. 264 H)
Beliau berkata, “Apabila engkau melihat seorang
lelaki yang merendahkan seorang shahabat
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam,
ketahuilah bahwa dia adalah zindiq. Hal itu
karena, di sisi Kami, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi
wa sallam adalah benar dan Al-Qur`an adalah
benar. Sesungguhnya, penyampai Al-Qur`an ini
dan hadits-hadits adalah para shahabat
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Orang
Syi’ah yang mencela shahabat) hanya ingin
mempercacat saksi-saksi Kita untuk
menghasilkan Al-Kitab dan Sunnah, Celaan
terhadap (kaum pencela itu) adalah lebih pantas
dan mereka adalah para zindiq.”
–. [Diriwayatkan oleh Al-Khâtib dalam Al-
Kifâyah hal. 49]

19.) Imam Abu Hâtim Ar-Râzy, Muhammad bin
Idris rahimahulllâh (W. 277 H)
Ibnu Abi Hâtim bertanya kepada ayahnya, Abu
Hâtim, dan kepada Abu Zur’ah tentang madzhab
dan aqidah Ahlus Sunnah maka Abu Hâtim dan
Abu Zur’ah menyebut pendapat yang disepakati
oleh para ulama itu di berbagai negeri. Di antara
perkataan mereka berdua adalah bahwa kaum
Jahmiyah adalah kafir, sedang kaum Rafidhah
telah menolak keislaman.
–. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh
Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jam’âh 1/178]

20.) Imam Al-Hasan bin Ali bin Khalaf Al-
Barbahary rahimahulllâh (W. 329 H)
Beliau berkata,
ﻭﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻷﻫﻮﺍﺀ ﻛﻠﻬﺎ ﺭﺩﻳﺔ، ﺗﺪﻋﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻴﻒ، ﻭﺃﺭﺩﺅﻫﺎ ﻭﺃﻛﻔﺮﻫﺎ
ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ، ﻭﺍﻟﻤﻌﺘﺰﻟﺔ، ﻭﺍﻟﺠﻬﻤﻴﺔ، ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻳﺮﻳﺪﻭﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﻌﻄﻴﻞ
ﻭﺍﻟﺰﻧﺪﻗﺔ
“Ketahuilah bahwa seluruh pemikiran sesat
adalah menghancurkan, mengajak kepada
kudeta. Yang paling hancur dan paling kafir di
antara mereka adalah kaum Rafidhah,
Mu’tazilah, Jahmiyah. Sesungguhnya mereka
menghendaki manusia untuk melakukan ta’thîl
dan kezindiqan.”
–. [Syarh As-Sunnah hal. 54]

21.) Imam Umar bin Syâhin rahimahulllâh (W.
385 H)
Beliau berkata, “Sesungguhnya, sebaik-baik
manusia setelah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa
sallam adalah Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali
‘alaihimus salâm, serta sesungguhnya seluruh
shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam
adalah orang-orang pilihan lagi baik.
Sesungguhnya Saya beragama kepada Allah
dengan mencintai mereka semua, dan
sesungguhnya Saya berlepas diri dari siapa saja
yang mencela, melaknat, dan menyesatkan
mereka, menganggap mereka berkhianat, serta
mengafirkan mereka …, dan sesungguhnya Saya
berlepas diri dari semua bid’ah berupa
Qadariyah, Murji’ah, Rafidhah, Nawâshib, dan
Mu’tazilah.”
–. [Al-Lathîf Li Syarh Madzâhib Ahlis Sunnah
hal. 251-252]

22.) Imam Ibnu Baththah rahimahulllâh (W. 387
H)
Beliau bertutur, “Adapun (Syi’ah) Rafidhah,
mereka adalah manusia yang paling banyak
berselisih, berbeda, dan saling mencela. Setiap di
antara mereka memilih madzhab tersendiri untuk
dirinya, melaknat penyelisihnya, dan mengafirkan
orang yang tidak mengikutinya. Seluruh dari
mereka menyatakan bahwa tidak (sah)
melaksanakan shalat, puasa, jihad, Jum’at, dua
Id, nikah, talak, tidak pula jual-beli, kecuali
dengan imam, sedang barangsiapa yang tidak
memiliki imam, tiada agamanya baginya, dan
barangsiapa yang tidak mengetahui imamnya,
tiada agama baginya …. Andaikata bukan karena
pengutamaan penjagaan ilmu, yang perkaranya
telah Allah tinggikan dan kedudukannya telah
Allah muliakan, dan penyucian ilmu terhadap
percampuran najis-najis penganut kesesatan
serta keburukan pendapat-pendap at dan
madzhab mereka, yang kulit-kulit merinding
menyebutkannya, jiwa merintih
mendengarkannya, dan orang-orang yang berakal
membersihkan ucapan dan pendengaran mereka
dari ucapan-ucapan bid’ah tersebut, tentulah
Saya akan menyebutkan (kesesatan Rafidhah)
yang akan menjadi pelajaran bagi orang-orang
yang ingin mengambil pelajaran.”
–. [Al-Ibânah Al-Kubrâ` hal. 556]

23.) Imam Al-Qahthâny rahimahulllâh (W. 387
H)
Beliau menuturkan kesesatan Rafidhah dalam
Nûniyah-nya,
ﺇﻥ ﺍﻟﺮﻭﺍﻓﺾَ ﺷﺮُّﻣﻦ ﻭﻃﻲﺀَ ﺍﻟﺤَﺼَﻰ … ﻣﻦ ﻛﻞِّ ﺇﻧﺲٍ ﻧﺎﻃﻖٍ ﺃﻭ ﺟﺎﻥِ
ﻣﺪﺣﻮﺍ ﺍﻟﻨّﺒﻲَ ﻭﺧﻮﻧﻮﺍ ﺃﺻﺤﺎﺑﻪ … ﻭﺭﻣﻮُﻫﻢُ ﺑﺎﻟﻈﻠﻢِ ﻭﺍﻟﻌﺪﻭﺍﻥِ
ﺣﺒّﻮﺍ ﻗﺮﺍﺑﺘﻪَ ﻭﺳﺒَّﻮﺍ ﺻﺤﺒﻪ … ﺟﺪﻻﻥ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻨﺘﻘﻀﺎﻥِ
Sesungguhnya orang-orang Rafidhah adalah
sejelek-jelek makhluk yang pernah menapak
bebatuan Dari seluruh manusia yang berbicara
dan seluruh jin Mereka memuji Nabi, tetapi
menganggap para shahabatnya berkhianat Dan
mereka menuduh para shahabat dengan
kezhaliman dan permusuhan Mereka (mengaku)
mencintai kerabat Nabi, tetapi mencela para
shahabat beliau Dua perdebatan yang
bertentangan di sisi Allah
–. [Nûniyah Al-Qahthâny hal. 21]

24.) Imam Abul Qâsim Ismail bin Muhammad Al-
Ashbahâny rahimahulllâh (W. 535 H)
Beliau berucap, “Orang-orang Khawarij dan
Rafidhah, madzhabnya telah mencapai
pengafiran shahabat dan orang-orang Qadariyah
yang mengafirkan kaum muslimin yang
menyelisihi mereka. Kami tidak berpendapat
bahwa boleh melaksanakan shalat di belakang
mereka, dan kami tidak berpendapat akan
kebolehan hukum para qadhi dan pengadilan
mereka. Juga bahwa, siapa saja di antara
mereka yang membolehkan kudeta dan
menghalalkan darah, tidak diterima persaksian
dari mereka.”
–. [Al-Hujjah Fî Bayân Al-Mahajjah 2/551]

25.) Imam Abu Bakr bin Al-‘Araby rahimahulllâh
(W. 543 H)
Beliau bertutur, “Tidaklah keridhaan orang-orang
Yahudi dan Nashara kepada pengikut Musa dan
Isa sama seperti keridhaan orang-orang
Rafidhah kepada para shahabat Muhammad
shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Yakni, (kaum
Rafidhah) menghukumi (para shahahabat
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam) bahwa
para (shahabat) bersepakat di atas kekafiran dan
kebatilan.”
–. [Al-‘Awâshim Min Al-Qawâshim hal. 192]

26.) Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahulllâh (W. 728 H)
Beliau menyatakan, “… dan cukuplah Allah
sebagai Yang Maha Mengetahui bahwa, dalam
seluruh kelompok yang bernisbah kepada Islam,
tiada yang (membawa) bid’ah dan kesesatan
yang lebih jelek daripada (kaum Rafidhah)
tersebut, serta tiada yang lebih jahil, lebih
pendusta, lebih zhalim, dan lebih dekat kepada
kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan, juga tiada
yang lebih jauh dari hakikat keimanan daripada
(kaum Rafidhah) itu.”
–. [Minhâj As-Sunnah 1/160]
Beliau berkata pula, “(Kaum Rafidhah) membantu
orang-orang Yahudi, orang-orang Nashara, dan
kaum musyrikin terhadap ahlul bait Nabi
shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan umat beliau
yang beriman sebagaimana mereka telah
membantu kaum musyrikin dari kalangan At-
Turk dan Tartar akan perbuatan mereka di
Baghdad dan sela