larger smaller reset

Imperial Anatomi Al-Qaeda. Teroris CIA, Peredaran Narkoba, dan the “Arc of Crisis”

 (The Imperial Anatomy of Al-Qaeda. The CIA’s Drug-Running Terrorists and the “Arc of Crisis”)

Bagian Pertama

Oleh: Andrew Gavin Marshall

 

 Pengantar

 119Dengan semakin mendekatnya peringatan kesembilan serangan teroris atas gedung WTC New York pada tanggal 11 September 2001, sementara itu perang melawan teror terus dilancarkan dengan semakin ganas dan teratur, tampak dari semuamya itu yang lebih penting adalah kembali kepada peristiwa yang menentukan di pagi hari itu dalam bulan September 2001 serta membahas kembali alasan dilakukannya perang melawan teror  serta mengetahui  sifat dari pelaku yang dutuduh melakukannya, yaitu Al-Qaeda.

 Peristiwa 11 September 2001 menusuk bangsa Amerika dan tentu saja menjadi imajinasi dunia sebagai mitos sejarah. Kejadian hari itu dan yang mendahuluinya sebagian besar tetap tidak diketahui dan kurang dipahami oleh masyarakat umum, selain dari gambar yang mengganggu yang memuakkan karena diulang-ulang ditayangkan media. Fakta-fakta dan persoalan kebenaran dari peristiwa yang hilang dalam cerita rakyat dari mitos 11 September 2001: bahwa serangan terbesar di wilayah Amerika dilakukan dan diatur oleh 19 orang Muslim bersenjata dengan box cutters yang didorong oleh fundamentalisme agama, semua di bawah arahan Osama bin Laden, pemimpin jaringan teroris global yang disebut al-Qaeda, berbasis di gua di Afghanistan.

jfk
John F. Kennedy
Mitos mengesampingkan fakta-fakta dan kompleksitas sifat teror, al-Qaeda, empirium  Amerika yang benar-benar menentang hukum alam. Sebagaimana John F. Kennedy pernah berkata, "Musuh terbesar dari kebenaran bukanlah kebohongan - yang disengaja, yang direncanakan, dan tidak jujur - akan tetapi mitos – yang terus-menerus, menyeluruh, dan tidak realistis."

 Rangkaian tulisan yang terdiri dari tiga-bagian ini meneliti dengan cermat mengenai "Imperial Anatomi Al-Qaeda" menguji asal-usul sejarah geopolitik dan sifat dari apa yang sekarang kita kenal sebagai Al-Qaeda, yang sebenarnya merupakan jaringan intelijen Anglo-Amerika sebagai aset teroris yang digunakan untuk memajukan tujuan empirium Amerika dan NATO di berbagai daerah di seluruh dunia.

 Bagian I membahas asal-usul jaringan intelijen yang dikenal sebagai Club Safari, yang dibiayai dan diorganisir teroris konglomerat internasional, peran CIA dalam perdagangan Narkoba global, serta munculnya Taliban dan asal-usul al-Qaeda.

 Club Safari

gerald-ford
Gerald Ford
Setelah pengunduran diri Nixon sebagai Presiden, Gerald Ford menjadi Presiden Amerika Serikat yang baru pada tahun 1974. Henry Kissinger tetap sebagai Menteri Luar Negeri dan ke dalam pemerintahan Ford ditunjuk dua orang yang dikemudian hari memainkan peran penting dalam menentukan masa depan Imperium Amerika: Mereka adalah Donald Rumsfeld sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata, dan Dick Cheney, sebagai Deputi Asisten Presiden. Sedangkan Wakil Presiden adalah Nelson Rockefeller, saudara David Rockefeller. Ketika Donald Rumsfeld diangkat menjadi Menteri Pertahanan, Dick Cheney dipromosikan menjadi Kepala Staf Angkatan Bersenjata. Ford juga menunjuk seorang pria bernama George H.W. Bush sebagai Direktur CIA.
henry-kissinger
Henry Kissinger

Pada tahun 1976, sebuah koalisi lembaga intelijen dibentuk, yang disebut Club Safari. Hal ini menanndai kebijakan serta koordinasi yang sangat rahasia di antara berbagai lembaga intelijen, yang kemudian berlangsung selama beberapa dekade. Club ini dibentuk pada saat CIA terlibat dalam pengawasan domestik atas skandal Watergate dan penyelidikan Kongres terhadap kegiatan rahasia CIA, sehingga memaksa CIA menjadi lebih rahasia lagi dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya.

Turki-bin-Faisal
Turki bin Faisal
Pada tahun 2002, Kepala Dinas Intelijen Saudi, Pangeran Turki bin Faisal menyampaikan pidato di mana ia menyatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan yang lebih leluasa bagi CIA, adalah dengan "punya kelompok negara-negara yang secara bersama-sama harapanmya adalah melawan komunisme dan mendirikan apa yang disebut dengan Club  Safari. Negara-negara anggota Club Safari termasuk Perancis, Mesir, Arab Saudi, Maroko, dan Iran [di bawah] Syah "[1] Namun.," untuk Club Safari diperlukan jaringan bank untuk membiayai operasi intelijen. Dengan restu George H.W. Bush yang waktu itu menjabat sebagai Direktur  CIA, "Kepala Dinas Intelijen Saudi, Kamal Adham," mengubah sebuah bank dagang kecil Pakistan menjadi Bank Kredit dan Perdagangan Internasional (BCCI), yang kemudian menjadi mesin pencucian uang di seluruh dunia, membeli bank-bank di seluruh dunia untuk membuat jaringan aktivitas kegiatan pencucian uang terbesar dalam sejarah "[2].
Alexandre-de-Marenches
Alexandre de Marenches
Sebagai direktur CIA, George H.W. Bush "mempererat hubungan yang kuat, baik dengan intelijen Arab Saudi maupun Syah Iran. Dia bekerja sama dengan Kamal Adham, Kepala Intelijen Saudi, adik ipar Raja Faisal dan orang awal dalam BCCI "Adham sebelumnya bertindak sebagai “penghubung antara [Henry] Kissinger dengan [Presiden Mesir] Anwar Sadat." Dalam 1972. Pada 1976, Iran, Mesir, dan Arab Saudi membentuk Club Safari "untuk secara langsung melakukan operasi intelijen mereka sendiri yang sekarang sulit bagi CIA," yang kegiatannya sebagian besar diselenggarakan oleh kepala intelijen Prancis, Alexandre de Marenches. [3]

 The “Arc of Crisis” dan Revolusi Iran

jimmy-carter
Jimmy Carter
Ketika Jimmy Carter menjadi Presiden pada tahun 1977, ia mengangkat lebih dari dua lusin anggota Komisi Trilateral (TC) menduduki berbagai jabatan dalam pemerintahannya, TC merupakan think tank internasional yang dibentuk oleh Zbigniew Brzezinski dan David Rockefeller pada tahun 1973. Brzezinski mengundang Carter untuk bergabung dengan Komisi Trilateral, dan ketika Carter menjadi Presiden, Brzezinski diangkat menjadi Penasihat Keamanan Nasional; Cyrus Vance, juga anggota Komisi Trilateral diangkat menjadi Menteri Luar Negeri; dan Samuel Huntington, seorang anggota Komisi Trilateral, ditunjuk menjadi Koordinator Keamanan Nasional dan Deputi Brzezinski. Penulis dan peneliti Peter Dale Scott yang pantas mendapatkan banyak penghargaan untuk analisia yang komprehensif tentang peristiwa menjelang dan selama Revolusi Iran dalam bukunya, "The Road to 9/11",* yang menyediakan banyak informasi di bawah ini.
Samuel-Huntington
Samuel Huntington

  Samuel Huntington dan Zbigniew Brzezinski adalah dua orang yang menentukan posisi kebijakan Amerika Serikat dalam Perang Dingin, dan kebijakan Amerika Serikat-Sovyet yang mereka ciptakan disebut dengan, "Kerjasama dan Persaingan (“Cooperation and Competition,”)," di mana Brzezinski akan menekankan untuk "Kerjasama" ketika berbicara kepada pers, namun secara pribadi mendorong untuk melakukan "kompetisi" Jadi, sementara Menteri Luar Negeri Cyrus Vance mengikuti detente dengan Uni Sovyet, Brzezinski mendorong supremasi Amerika atas Uni Sovyet. Brzezinski dan Vance akan bersikap tidak setuju pada hampir setiap masalah. [4]

Zbigniew-Brzezinski
Zbigniew Brzezinski
Pada tahun 1978, Zbigniew Brzezinski menyampaikan pidato di mana ia menyatakan, "Sebuah busur krisis (The Arc of Crisis ) membentang di sepanjang pesisir Samudra Hindia, dengan struktur sosial dan politik yang rapuh di wilayah yang sangat penting untuk kita terancam dengan fragmentasi. Kekacauan politik yang dihasilkan juga bisa diisi oleh elemen-elemen yang bermusuhan nilai-nilai dan yang bersimpati kepada musuh kita. "The Arc of Crisis membentang dari Indocina ke Afrika Selatan, meskipun, lebih khusus, wilayah khusus terfokus pada " bangsa-bangsa yang tinggal membentang di seluruh sisi Selatan Uni Sovyet dari anak Benua India sampai ke Turki, dan lebih lanjut dari selatan melalui Semenanjung Arab ke Tanduk Afrika, "pusat" gravitasi dari wilayah busur ini adalah Iran, negara keempat terbesar produsen minyak di dunia dan yang selama lebih dari dua dekade merupakan sebuah benteng kekuatan militer dan ekonomi Amerika Serikat di Timur Tengah. Setelah selama 37 tahun pemerintahan Shah Mohammed Reza Pahlevi sudah hampir berakhir, karena saat ini selama berbulan-bulan muncul kerusuhan sipil yang terus meningkat dan revolusi "[5]
Cyrus-Vance
Cyrus Vance

  Dengan meningkatnya ketidakpuasan di kawasan itu, "Terdapat gagasan bahwa pasukan Islam dapat digunakan untuk melawan Uni Sovyet. Ini adalah teori the Arc of Crisis, dan busur Islam dapat dimobilisasi untuk menahan Sovyet. Ini adalah konsep Brzezinski "[6] Sebulan sebelum pidato Brzezinski pada bulan November 1978.," Presiden Carter menunjuk George Ball, kelompok Bilderberg yang juga anggota Komisi Trilateral, yang mengepalai gugus tugas khusus Iran Gedung Putih di bawah Dewan Keamanan Nasional Brzezinski. "Lebih lanjut.," Ball merekomendasikan Washington untuk menarik dukungan kepada Shah Iran dan mendukung oposisi fundamentalis Islam pimpinan Ayatollah Khomeini. George Ball "[mengunjungi 7] Iran dengan misi rahasia. [8]

syah-reza-pahlevi
Syah Reza Pahlevi
Sepanjang 1978, Shah berada dalam pengaruh bahwa "pemerintahan Carter sedang merencanakan untuk menggulingkan rezimnya" Pada 1978, Ratu dan istri Shah, mengatakan Manouchehr Ganji, seorang menteri dalam pemerintahan Shah, mengatakan "Saya ingin memberitahu Anda, bahwa Amerika sedang melakukan manuver untuk menurunkan Shah, "dan ia terus mengatakan bahwa ia percaya hal itu" bahkan mereka ingin menggulingkan rezim. "[9] Duta Besar Amerika Serikat untuk Iran, William Sullivan, berpikir bahwa revolusi akan berhasil, dan mengatakan hal ini kepada Ramsey Clark, mantan Jaksa Agung Amerika Serikat di bawah administrasi Johnson, serta kepada profesor Richard Falk, ketika mereka mengunjungi Sullivan di Iran pada tahun 1978. Clark dan Falk kemudian pergi dari Iran ke Paris untuk mengunjungi Khomeini yang ada di pengasingan. James Bill, seorang penasihat Carter, merasa bahwa, "gerakan keagamaan yang lahir dengan bantuan Amerika Serikat akan menjadi teman alami dari Amerika Serikat" [10].
ayatullah-khomeini
Ayatullah Khomeini

Juga menarik adalah fakta bahwa BBC Inggris sehari-hari di Iran menyiarkan program bahasa Persia-pro-Khomeini, sebagai bentuk halus dari propaganda, yang "memberi kredibilitas atas persepsi bahwa Amerika Serikat dan Inggris mendukung Khomeini" [11] BBC menolak untuk memberikan waktu kepada Syah untuk merespon, dan Syah secara berulang-kali meminta kepada BBC namun tidak berhasil " [12].

 Dalam pertemuan Grup Bilderberg bulan Mei 1979, Bernard Lewis, seorang sejarawan Inggris yang berpengaruh (anggota Bilderberg), menyajikan strategi Inggris-Amerika yang "mendukung gerakan radikal Ikhwanul Muslimin berada di belakang Khomeini, dalam rangka untuk mempromosikan Balkanisasi seluruh wilayah Muslim di Timur Dekat yang berhubungan dengan garis kesukuan dan agama. Lewis berpendapat bahwa Barat harus mendorong otonomi kelompok-kelompok seperti Kurdi, Armenia, Maronit Lebanon, Koptik Ethiopia, Azerbaijan Turki, dan sebagainya. Kekacauan itu akan tersebar dengan apa yang disebut sebagai 'the Arc of Crisis,' yang akan jatuh ke wilayah Muslim Uni Sovyet "[13] Selanjutnya hal itu akan mencegah pengaruh Sovyet masuk ke Timur Tengah, karena Uni Sovyet dilihat sebagai imperium ateisme dan jahat: utamanya adalah sebagai sebuah imperium sekuler yang tidak bermoral, yang akan berusaha untuk memaksakan sekularisme di negara-negara Muslim. Jadi dengan mendukung kelompok-kelompok Islam radikal akan berarti bahwa Uni Sovyet akan cenderung memiliki sedikit pengaruh atau hubungan dengan negara-negara Timur Tengah, yang membuat Amerika Serikat lebih diterima sebagai negara untuk mengembangkan hubungan.

 Sebuah artikel tahun 1979 dalam Foreign Affairs, sebuah jurnal Dewan Hubungan Luar Negeri, menggambarkan the Arc of Crisis dengan mengatakan bahwa, "Timur Tengah merupakan inti sentral. Posisi strategisnya yang tiada bandingnya: dan merupakan daerah besar terakhir Dunia Bebas yang berbatasan langsung dengan Uni Sovyet yang diperkirakan terbukti menyediakan tiga-perempat cadangan minyak dunia, dan merupakan tempat dari salah satu konflik yang paling keras di abad kedua puluh: yaitu konflik antara Zionisme versus nasionalisme Arab. "Hal ini menjelaskan bahwa pasca-perang Amerika Serikat di wilayah itu difokuskan pada kebijakan “containment” terhadap Uni Sovyet serta akses ke daerah minyak. [14] Selanjutnya artikel tersebut melanjutkan dan menjelaskan bahwa “pembagian yang paling jelas" di Timur Tengah, "memisahkan  antara Kelompok Utara (Turki, Iran, Afghanistan) dari Arab inti, "dan bahwa," Setelah Perang Dunia II, Turki dan Iran merupakan dua negara yang paling terancam oleh subversi politik dan ekspansi teritorial Sovyet. "[15] Akhirnya," Kelompok Utara diyakinkan oleh keseriusan dan berkelanjutannya komitmen Amerika untuk menyelamatkan dari bernasib serupa dengan negara-negara Eropa Timur. "[16]

Mehdi-Bazargan
Mehdi Bazargan
 Sebelum terjadi Revolusi Khomeini berada di Paris, dimana seorang utusan Presiden Perancis mengorganisir pertemuan antara Khomeini dan "kekuatan dunia saat ini," di mana Khomeini meminta tuntutan-tuntutan tertentu, seperti, "melengserkan Syah dari Iran dan membantu mencegah dilakukannya kudeta oleh Angkatan Darat Iran.  Namun kekuatan Barat "khawatir tentang menguatnya Uni Sovyet dan penetrasi serta gangguan pasokan minyak dari Iran ke Barat. Khomeini memberikan jaminan yang diperlukan. Pertemuan-pertemuan dan kontak berlangsung pada bulan Januari 1979, menjelang beberapa hari sebelum terjadinya Revolusi Islam pada bulan Februari 1979 "[.17] Pada bulan Februari 1979, Khomeini diterbangkan dari Paris dengan Air France untuk kembali ke Iran, "dengan restu dari Jimmy Carter." [18] Ayatollah Khomeini menunjuk Mehdi Bazargan sebagai Perdana Menteri dalam Pemerintahan Revolusioner Sementara pada tanggal 4 Februari 1979. Seperti yang dituntut Khomeini sewaktu pertemuan Paris pada Januari 1979, bahwa kekuatan barat harus membantu untuk mencegah dilakukannya kudeta oleh Angkatan Darat Iran. Namun pada bulan yang sama, pemerintahan Carter, di bawah arahan Brzezinski, mulai merencanakan sebuah kudeta militer. [19 ]

 Mungkinkah ini telah direncanakan bilamana Khomeini digulingkan, Amerika Serikat  dengan cepat akan memulihkan ketertiban, bahkan mungkin mendudukan kembali Khomeini berkuasa? Menariknya, pada bulan Januari 1979, "ketika Shah akan meninggalkan negara ini, Deputi Panglima Amerika pada NATO, Jenderal Huyser, tiba di Iran dan selama sebulan terus berunding dengan para pemimpin militer Iran. Pengaruhnya mungkin substansial dalam keputusan militer sehingga tidak melakukan kudeta dan pada akhirnya menyerah kepada kekuatan Khomeini, terutama jika laporan pers yang akurat menyatakan bahwa dia atau orang lain mengancam untuk menahan suplai perlengkapan militer jika ada usaha kudeta "[20] Tidak ada kudeta kemudian yang dilakukan, dan Khomeini kemudian berkuasa sebagai Ayatollah Republik Islam Iran.

 Dengan semakin meningkatnya ketegangan di kalangan rakyat Iran, Amerika Serikat mengirimkan “penasihat keamanan" ke Iran untuk menekan SAVAK (polisi rahasia) Shah melaksanakan "kebijakan penindasan yang semakin brutal, dengan pertimbangan untuk mengetahui batas maksimal antipati rakyat kepada Syah. "Pemerintahan Carter juga mulai secara terbuka mengkritik pelanggaran hak azasi manusia yang dilakukan rezim Syah [21] Pada tanggal 6 September 1978, Syah melarang rakyatnya melakukan demonstrasi, dan hari berikutnya, antara 700 sampai dengan 2000 orang demonstran ditembak mati, hal tersebut dilakukan mengikuti" nasihat dari Brzezinski supaya bertindak tegas "[. 22]

 Duta Besar Amerika Serikat  untuk PBB, Andrew Young, seorang anggota Komisi Trilateral, mengatakan bahwa, "Khomeini akhirnya akan dipuji sebagai orang suci," dan Duta Besar Amerika Serikat  untuk Iran, William Sullivan, mengatakan, "Khomeini adalah tokoh seperti Gandhi, "sementara penasihat Carter, James Bill mengatakan bahwa Khomeini adalah orang yang" tanpa cela integritas dan kejujurannya. "[23]

Nelson-Rockefeller
Nelson Rockefeller
 Syah sangat sakit Pada akhir tahun 1978 dan awal 1979. Shah Iran melarikan diri pada bulan Januari 1979 ke Bahama, yang memungkinkan revolusi berlangsung di Iran. Dalam hal ini terutama menarik untuk memahami hubungan antara David Rockefeller dan Syah Iran. Asisten pribadi David Rockefeller, Joseph V. Reed, yang "ditugaskan untuk menangani keuangan Syah dan kebutuhan pribadinya; "Robert Armao, yang bekerja untuk Wakil Presiden Nelson Rockefeller, dikirim untuk "bertindak sebagai pelobi dan agen public relations Syah;" dan Benyamin H. Kean," rekan lama ketua Chase Manhattan Bank, David Rockefeller," dan "dokter pribadi David Rockefeller, "yang dikirim ke Meksiko ketika Syah berada di sana, dan memberitahukan bahwa ia "akan dirawat di sebuah rumah sakit Amerika."[24]

 Penting untuk dicatat bahwa kepentingan Rockefeller adalah "mengarahkan kebijakan Amerika Serikat di Iran sejak kudeta CIA tahun 1953" [25] Setelah penerbangan Shah dari Iran. Ada peningkatan tekanan di Amerika Serikat oleh segelintir orang kuat untuk mengakui  Shah ke Amerika Serikat. Orang-orang tersebut adalah Zbigniew Brzezinski, mantan Menteri Luar Negeri Henry Kissinger, John J. McCloy, mantan negarawan dan anggota senior Grup Bilderberg, Komisi Trilateral dan Dewan Hubungan Luar Negeri, yang juga seorang pengacara untuk Chase Manhattan, dan tentu saja, David Rockefeller. [26]

 Chase Manhattan Bank banyak kepentingannya di Iran dibandingkan dengan bank Amerika Serikat  lainnya. Bahkan, Syah pada waktu itu "memerintahkan semua account operasional penting pemerintahnya disimpan di Chase dan surat-surat kredit untuk pembelian minyak harus ditangani secara eksklusif melalui Chase. Bank juga menjadi agen dan banyak yang menjadi lead manager untuk bantuan pinjaman kepada Iran. Singkatnya, Iran menjadi permata mahkota portofolio perbankan internasional Chase "[27].

 Pemerintahan sementara Iran, dipimpin oleh Perdana Menteri Bazargan, jatuh pada bulan November tahun 1979, ketika penyandera Iran merebut Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran. Namun, ada banyak hal lagi kejadian daripada sekedar yang terlihat. Selama masa pemerintahan sementara (Februari, 1979 November, 1979), beberapa tindakan dilakukan yang mengancam beberapa kepentingan yang sangat kuat yang telah membantu Ayatollah ke dalam kekuasaan.

 Chase Manhattan Bank menghadapi krisis likuiditas yang sudah miliaran pinjaman yang bermasalah ke Iran disalurkan melalui Chase [28] Beberapa pinjaman yang diperoleh dari Chase "mungkin ilegal menurut konstitusi Iran." [29] Selanjutnya, pada bulan Pebruari 1979, setelah Pemerintah interim berkuasa, maka Iran mulai mengambil "langkah-langkah secara independen dari pasar minyak utama Barat". Juga pemerintah interim "ingin agar Chase Manhattan mengembalikan aset Iran, yang pada tahun 1978 disediakan Rockefeller sebesar lebih dari US$ 1 miliar, meskipun beberapa perkiraan angkanya jauh lebih tinggi, "yang bisa" menciptakan krisis likuiditas untuk bank yang sedang mengatasi masalah keuangan. "[30]

 Dengan adanya serangan terhadap Kedutaan Besar Amerika di Iran, Presiden Carter mengambil langkah-langkah  untuk membekukan aset keuangan Iran. Seperti David Rockefeller menulis dalam bukunya, "Carter membekukan aset resmi pemerintah Iran melindungi kami" [Chase Manhattan), akan tetapi tidak seorang pun dari Chase berperan dalam meyakinkan pemerintah untuk melakukan hal tersebut"[31].

 Pada bulan Pebruari 1979, Iran mengambil "langkah-langkah secara independen untuk pasar minyaknya dari pasar  minyak Barat. Pada tahun 1979, seperti pada tahun 1953, pembekuan aset Iran membuat tindakan ini menjadi lebih sulit."[32] Ini merupakan temuan penting untuk Chase Manhattan bukan hanya karena kedekatan dewan pengurus dengan para perusahaan minyak, belum lagi Rockefeller sendiri, yang adalah bapak dari keluarga yang namanya identik dengan minyak, tetapi juga karena secara eksklusif Chase menangani semua surat kredit untuk pembelian minyak Iran. [33]

 Syah diterima ke Amerika Serikat, di bawah tekanan publik dari Henry Kissinger, Zbigniew Brzezinski dan David Rockefeller, mengendapkan krisis sandera yang terjadi pada 4 November. Sepuluh hari kemudian, Carter membekukan semua aset Iran di bank-bank Amerika Serikat, atas saran Menteri Keuangan, William Miller. Miller kebetulan memiliki hubungan dengan Chase Manhattan Bank. [34]

 Meskipun Chase Manhattan langsung mendapatkan manfaat dari penyitaan aset Iran, alasan di balik penyitaan serta peristiwa yang menuju ke sana, seperti peran tersembunyi Anglo-Amerika di belakang Revolusi Iran, membawa Shah ke Amerika yang mengendapkan krisis sandera, tidak bisa hanya dilimpahkan keatas keuntungan pribadi Chase saja. Ada rancangan  besar di balik krisis ini. Jadi, tahun 1979 krisis di Iran sama sekali tidak menjadi pemicu resiko terjadinya revolusi, melainkan harus dilihat sebagai tindakan cepat yang diambil pada kesempatan yang tepat. Namun peluang ini merupakan  meningkatnya ketidak puasan di Iran kepada pihak Shah; tindakan cepat ini secara diam-diam mendorong terjadinya  Revolusi di negara Iran.

Paul-Volcker
Paul Volcker

Pada tahun 1979, "secara efektif membatasi akses Iran ke pasar minyak global, pembekukan aset Iran menjadi faktor utama dalam kenaikan harga minyak yang sangat besar tahun 1979 dan 1981"[35]. Selain itu, tahun 1979, British Petroleum membatalkan kontrak minyak utama untuk pasokan minyak, yang bersamaan dengan pembatalan yang dilakukan oleh Royal Shell Belanda, mendorong harga minyak naik lebih tinggi. [36] Dengan kenaikan harga minyak besar pertama dalam 1973 (didorong oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Henry Kissinger), Dunia Ketiga terpaksa meminjam dari bank Amerika Serikat dan Eropa untuk membiayai pembangunannya. Dengan guncangan harga minyak kedua 1979, US Federal Reserve, dengan Paul Volcker sebagai Ketua baru, (berkarir di bawah David Rockefeller di Chase Manhattan), secara dramatis menaikkan suku bunga dari 2% pada akhir 70-an sampai 18% di awal tahun 80-an. Negara-negara berkembang tidak mampu membayar bunga pinjaman tersebut kepada mereka, dan dengan demikian krisis utang tahun 1980-an tersebar di seluruh Dunia Ketiga, dengan IMF dan Bank Dunia datang untuk “menyelamatkan" dengan Program Penyesuaian Struktural mereka (Sap), yang menjamin kontrol Barat di negara-negara berkembang[37.]

saddam-husein
Saddam Husein

 Diam-diam, Amerika Serikat membantu pemerintahan Islam radikal berkuasa di Iran, "pusat daripada the Arc of Crisis," dan kemudian segera menimbulkan konflik dan perang di kawasan itu. Lima bulan sebelum Irak menyerbu Iran, pada bulan April 1980, Zbigniew Brzezinski secara terbuka menyatakan kesediaan Amerika Serikat untuk bekerja sama dengan Irak. Dua bulan sebelum perang, Brzezinski bertemu dengan Saddam Hussein di Yordania, di mana ia memberikan dukungan untuk destabilisasi di Iran. [38] Sementara Saddam di Yordania, ia juga bertemu dengan tiga agen CIA senior yang dikoordinir oleh Raja Hussein dari Yordania. Dia kemudian pergi untuk bertemu dengan Raja Fahd di Arab Saudi, memberitahukan rencananya untuk menyerang Iran, dan kemudian bertemu dengan Raja Kuwait untuk memberitahukan kepadanya tentang hal yang sama. Dia mendapat dukungan dari Amerika, dan keuangan dan dukungan senjata dari negara produsen minyak Arab. Senjata ke Irak disalurkan melalui Yordania, Arab Saudi dan Kuwait.[39] Perang berlangsung sampai 1988 dan mengakibatkan lebih dari satu juta mati.

Raja-Hussein
Raja Hussein
Hal tersebut di atas merupakan munculnya “strategi ketegangan" dalam "the Arc of Crisis," khususnya, dan dukungan rahasia (baik dalam mempersenjatai, pelatihan, atau pembiayaan) unsur Islam radikal untuk memicu kekerasan dan konflik di suatu wilayah. Itu adalah taktik kekaisaran lama 'pecah belah dan kuasai': adu-domba orang-orang satu sama lain sehingga mereka tidak dapat bergabung dengan pasukannya melawan kekuasaan kekaisaran. Ini adalah kekerasan dan Islam radikal lebih lanjut akan memberikan alasan untuk kekaisaran Amerika Serikat dan sekutunya yang kemudian bisa terlibat dalam perang dan pendudukan di kawasan itu, sambil mengamankan kepentingan ekonomi yang luas dan strategis.

 The “Arc of Crisis” di Afghanistan: Club Safari Beraksi

Nur-Mohammad-Taraki
Nur Mohammad Taraki
Pada tahun 1978, pemerintah progresif Taraki di Afghanistan berhasil membuat kemarahan Amerika Serikat karena "kebijakan egaliter dan kolektivis ekonomi" [40] Pemerintah Afghanistan. Digambarkan secara luas di Barat sebagai "Komunis" dan dengan demikian merupakan ancaman untuk keamanan nasional Amerika Serikat. Memang Pemerintah bagaimanapun juga melakukan kebijakan bersahabat dan keterikatan dengan Uni Sovyet, tetapi bukan pemerintahan komunis.

 Pada tahun 1978, sewaktu pemerintah yang baru berkuasa, segera Amerika Serikat diam-diam mulai memberikan dana kepada kelompok pemberontak melalui CIA. [41] Pada tahun 1979, Zbigniew Brzezinski bekerja sama dengan bantuan Robert Gates dari CIA, (yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan), mengeser kebijakan Islam Presiden Carter. Seperti Brzezinski mengatakan dalam sebuah wawancara pada tahun 1998 dengan penerbitan Perancis:

 Menurut ceritera versi resmi, bantuan CIA kepada Mujahidin dimulai pada tahun 1980, demikian dikatakan, setelah pasukan Sovyet menyerbu Afganistan, 24 Desember 1979. Tapi kenyataan sebenarnya dirahasiakan sampai sekarang, sama-sekali sebaliknya: Memang hari itu tanggal 3 Juli 1979 saat Presiden Carter menandatangani pedoman pertama bantuan rahasia untuk para penentang rezim pro-Sovyet di Kabul. Dan hari itu saya menulis surat kepada presiden di mana saya menjelaskan kepadanya bahwa menurut pendapat saya bantuan ini akan menyebabkan sebuah intervensi militer Sovyet.[42]

 Brzezinski menguraikan dan mengatakan bahwa dia "Dengan sadar meningkatkan kemungkinan bahwa [Sovyet] akan menyerbu," dan ia teringat menulis kepada Carter pada hari invasi Soviet itu, "Kami sekarang memiliki kesempatan untuk memberikan Uni Sovyet perang Vietnam. Memang, selama hampir 10 tahun, Moskow harus melanjutkan perang yang tidak mendapat dukungan pemerintah, konflik yang membawa demoralisasi dan akhirnya pecahnya imperium Sovyet". Ketika ditanya tentang dampak dukungan dalam mendorong kebangkitan fundamentalisme Islam, Brzezinski menjawab, "Apa yang paling penting dengan sejarah dunia? Taliban atau runtuhnya imperium Sovyet? Beberapa orang Islam yang ekstrim atau pembebasan Eropa Tengah dan berakhirnya perang dingin?"[43]

 Sebagaimana penulis Peter Dale Scott menunjukkan dalam bukunya, The Road to 9/11:*

Selama bergenerasi di Afghanistan dan Republik Muslim Sovyet bentuk dominan dari Islam telah bersifat lokal dan sangat sufi. Keputusan untuk bekerja dengan dinas rahasia Saudi dan Pakistan berarti bahwa miliaran dolar CIA dan Saudi akhirnya akan dihabiskan dalam program-program yang akan membantu meningkatkan jihadisme dan globalisme Wahhabi yang kini berkaitan dengan al Qaeda. [44]

Hafizullah-Amin
Hafizullah Amin
Hafizullah Amin, seorang pejabat tinggi dalam pemerintahan Taraki, banyak yang percaya dia adalah aset CIA, mengatur kudeta pada September 1979, dan "mengeksekusi Taraki, menghentikan reformasi, dan membunuh, memenjara, atau mengasingkan ribuan pendukung Taraki yang saat itu ia sedang bergerak ke arah pembentukan sebuah negara Islam fundamentalis. Tapi dalam waktu dua bulan, ia digulingkan oleh sisa-sisa PDP termasuk elemen dalam militer "[45] Sovyet juga melakukan intervensi untuk menggantikan Amin, yang dipandang sebagai orang "tidak dapat diduga dan ekstremis" dengan " Barbak Karmal yang lebih moderat".[46]
Babrak-Kamal
Babrak Kamal
 Invasi Sovyet meprovokasi keamanan nasional Amerika Serikat untuk melakukan operasi rahasia terbesar dalam sejarah. Ketika Ronald Reagan menggantikan Jimmy Carter pada tahun 1981, bantuan rahasia ke Mujahidin Afghanistan tidak hanya dilanjutkan sesuai arah  yang ditetapkan oleh Brzezinski tapi dengan cepat berkembang, begitu pula strategi keseluruhan dalam "the Arc of Crisis". Ketika Reagan menjadi Presiden, yang menjadi Wakil Presiden adalah George HW Bush, yang menjabat direktur CIA selama pemerintahan Ford, telah membantu membangun jaringan intelijen Club Safari dan Bank of Credit and Commerce International (BCCI) di Pakistan. Dalam "kampanye membantu para pemberontak Afghanistan ... BCCI jelas muncul sebagai aset intelijen Amerika Serikat" dan Direktur CIA "Casey mulai menggunakan negara lain - Saudi, Pakistan, BCCI - untuk menjalankan apa yang mereka tidak bisa melalui di Kongres. [Presiden BCCI] Abedi punya uang untuk membantu", dan direktur CIA telah "bertemu berulang-kali" dengan presiden BCCI. [47]

 Dengan demikian, pada tahun 1981, Direktur CIA Casey bekerjasama dengan Pangeran Saudi Turki bin Faisal yang menjalankan Badan Intelijen Saudi GID, dan ISI Pakistan "untuk menciptakan legiun asing jihad Muslim atau yang disebut Arab Afghan". Ide ini "berasal dari elit Club Safari yang telah dibuat oleh Kepala Intelijen Perancis, Alexandre de Marenches". [48]

 Pada tahun 1986, CIA mendukung rencana ISI Pakistan "untuk merekrut orang-orang dari seluruh dunia untuk bergabung dengan jihad Afghanistan." Selanjutnya:

 Lebih dari 100.000 militan Islam dilatih di Pakistan antara tahun 1986 dan 1992, di kamp-kamp yang diawasi oleh CIA dan MI6, dengan SAS [Pasukan Khusus Inggris] melatih pejuang masa depan al-Qaida dan Taliban dalam pembuatan bom dan seni hitam lainnya. Para pemimpin mereka dilatih di sebuah kamp CIA di Virginia. Ini disebut Operation Cyclone dan berlangsung lama setelah Sovyet menarik mundur pasukannya pada tahun 1989. [49]

 Dana CIA untuk operasi "disalurkan melalui Jenderal Zia dan ISI di Pakistan". [50] Yang  menarik adalah Robert Gates, yang sebelumnya menjabat sebagai asisten Brzezinski dalam Dewan Keamanan Nasional, ybs dalam pemerintahan Reagan-Bush menjabat sebagai Asisten Eksekutif untuk direktur CIA, Casey, dan saat ini menjabat sebagai Menteri Pertahanan.

 Perdagangan Global Narkoba dan CIA

 cultivating-poppiesYang menjadi sentral dari faset pembiayaan rahasia dan pelatihan Mujahidin Afghanistan, peran perdagangan Narkoba yang menjadi tak terhingga nilainya. Perdagangan global Narkoba telah lama digunakan oleh imperium untuk mendorong dan membiayai konflik dengan tujuan untuk memfasilitasi berlangsungnya dominasi kekaisaran.

 Pada tahun 1773, Gubernur Koloni Inggris di Bengal "mendirikan monopoli kolonial dalam  penjualan opium" Seperti yang dijelaskan Alfred W. McCoy dalam buku maha karyanya, The Politics of Heroin:

 Ketika East India Company memperluas produksi, opium menjadi ekspor utama India. [. . . ] Selama 130 tahun berikutnya, Inggris secara aktif mempromosikan ekspor opium India ke Cina, menentang hukum obat Cina dan melakukan  dua peperangan untuk membuka pasar opium di Cina untuk para pedagangnya. Dengan menggunakan kekuatan militer dan kekuasaan pedagangnya, Inggris memainkan peran sentral dalam membuat Cina sebagai pasar Narkoba  yang luas dan dalam mempercepat tanaman opium di seluruh China. Pada 1900 Cina memiliki pecandu sebanyak 13.500.000 yang mengkonsumsi 39.000 ton opium. [51]

 Di Indocina pada tahun 1940-an dan 50-an, Badan Intelijen Perancis "karena melakukan  perdagangan opium memungkinkan untuk mempertahankan upaya-upaya penindasan yang dilakukan pemerintah," dan kemudian, "kegiatan CIA di Burma membantu mengubah negara bagian Shan dari daerah penanaman bunga candu (poppy-cultivating) yang relatif kecil tumbuh menjadi wilayah opium terbesar di dunia." [52] CIA melakukan ini dengan mendukung Kuomintang (KMT) militer di Birma untuk invasi Cina, dan memfasilitasi monopoli dan perluasan perdagangan opiumnya, membiarkan KMT untuk tetap di Birma sampai kudeta tahun 1961, ketika mereka terpaksa masuk ke Birma, Laos dan Thailand.[53] CIA kemudian memainkan peran yang sangat besar dalam memfasilitasi perdagangan Narkoba di Laos dan Vietnam sepanjang tahun 1960-an sampai tahun 1970-an. [54]

 Selama tahun 1980-an "perang rahasia CIA di Afghanistan mengubah Asia Tengah dari zona opium mandiri menjadi pemasok utama heroin untuk pasar dunia," seperti dikatakan:

 Sampai akhir 1970-an, petani suku di dataran tinggi Afghanistan dan Pakistan menanam opium dengan jumlah terbatas dan menjualnya kepada pedagang kafilah yang menuju barat ke Iran dan timur ke India. Pada dekade perang rahasia melawan pendudukan Sovyet di Afghanistan, operasi CIA memberikan perlindungan politik dan jalur logistik yang menghubungkan  ladang opium Afghanistan ke pasar heroin di Eropa dan Amerika. [55]

Zia-ul-Haq
Zia-ul Haq
 Di Pakistan pada tahun 1977, Jenderal Zia Ul Haq melakukan kudeta militer, "menerapkan hukum darurat militer yang keras," dan mengeksekusi mantan Presiden Zulfikar Ali Bhutto (ayah Benazir Bhutto). Ketika Zia berkuasa, ISI Pakistan adalah "unit intelijen militer kecil," tapi di bawah "saran dan bantuan CIA," Jenderal Zia mengubah ISI "menjadi unit rahasia kuat dan membuatnya menjadi kekuatan bersenjata rezim hukum darurat perang Zia ul-Haq.” [56]

 Uang CIA dan Saudi disalurkan tidak hanya untuk senjata dan pelatihan bagi Mujahidin, akan tetapi juga ke dalam perdagangan Narkoba. Presiden Pakistan Zia-ul-Haq mengangkat Jenderal Fazle Haq sebagai Gubernur Militer Pakistan di Provinsi North-West Frontier (NWFP), dengan tugas a.l. melakukan "konsultasi dengan Brzezinski dalam mengembangkan program perlawanan Afghanistan," dia juga merupakan aset CIA. Ketika Direktur CIA,  Casey atau Wakil Presiden George HW Bush meninjau operasi CIA di Afganistan, mereka menemui Haq, yang pada tahun 1982 yang dianggap oleh Interpol sebagai pedagang narkotika internasional. Haq memindahkan uang narkotika yang banyak jumlahnya melalui BCCI. [57]

 Gulbuddin-HikmatyarPada bulan Mei tahun 1979, sebelum invasi Uni Sovyet ke Afghanistan pada bulan Desember, seorang utusan CIA bertemu dengan pemimpin perlawanan Afghanistan di sebuah pertemuan yang diselenggarakan oleh ISI. ISI "menawarkan kepada CIA seorang yang mewakili aliansi Afghanistan yaitu Gulbuddin Hekmatyar," ia memimpin kelompok gerilya kecil. CIA menerimanya, dan selama dekade berikutnya dimana setengah bantuan dari CIA diberikan kepada gerilyawan Hekmatyar. [58] Hekmatyar menjadi bandar narkoba mujahidin Afghanistan terkemuka, dan mengembangkan "enam buah kompleks laboratorium heroin di daerah yang dikendalikan ISI, yaitu Baluchistan (Pakistan)." [59]

 Selama tahun 1980-an, kemudian Amerika Serikat bersama-sama dengan Arab Saudi, memberikan Hekmatyar lebih dari $1 miliar dalam bentuk senjata. Segera setelah itu, heroin mulai mengalir dari Afghanistan ke Amerika. Pada tahun 1980, jumlah kematian sebagai akibat narkoba di New York City meningkat 77% dibanding tahun 1979. [60] Pada tahun 1981, bandar narkoba di Pakistan dan Afghanistan menyediakan 60% heroin yang beredar di Amerika. Dari Pakistan mobil truck pergi ke Afghanistan dengan senjata CIA akan kembali dengan heroin dan "dilindungi dokumen ISI untuk  menghindari lacakan polisi". [61]

 Haq, aset CIA di Pakistan, "juga menjalankan perdagangan Narkoba, dimana "bank BCCI "benar-benar terlibat" Pada 1980-an, CIA mendesak ISI membuat "sel khusus digunakan untuk heroin dalam rangka melaksanakan operasi rahasia". Diuraikan sbb:

 Jaringan ini memajukan penanaman opium dan ekstrak heroin di wilayah Pakistan maupun di wilayah Afghanistan di bawah kontrol Mujahidin untuk diselundupkan ke daerah-daerah yang dikuasai Sovyet agar pasukan Sovyet menjadi pecandu heroin. [62]

 Rencana ini rupanya berasal dari saran kepala intelijen Perancis dan pendiri Club Safari, Alexandre de Marenches, yang merekomendasikan hal tersebut kepada Direktur CIA, Casey. [63]

 Pada tahun 1980-an sebuah program yang dilaksanakan oleh Amerika Serikat adalah untuk membiayai propaganda mujahidin dalam bentuk buku pelajaran bagi sekolah-sekolah Afghanistan. Amerika Serikat memberikan kepada Mujahidin sebesar U$43.000.000 dalam bentuk bantuan "non-lethal" untuk proyek buku pelajaran, yang diberikan oleh US-AID: "The US Agency for International Development [US-AID] bekerja sama dengan CIA, yang menjalankan program senjata," dan" Pemerintah Amerika Serikat mengatakan kepada US-AID untuk membiarkan pemimpin perang Afghanistan memutuskan kurikulum sekolah dan isi buku pelajarannya." [64]

 Dalam buku pelajaran "dimuat ilustrasi dengan gambar kekerasan dan ajaran Islam militan," serta  "dipenuhi dengan uraian tentang jihad dan menampilkan gambar-gambar senjata, peluru, tentara dan ranjau". Bahkan sejak perang rahasia tahun 1980-an, “buku pelajaran sejak itu telah menjadi kurikulum inti sistem sekolah Afghanistan. Bahkan Taliban menggunakan buku produksi Amerika". Buku-buku tersebut dikembangkan melalui hibah US-AID kepada "University of Nebraska-Omaha termasuk Center for Afghanistan Studies," dan ketika buku-buku itu diselundupkan ke Afghanistan melalui para pemimpin militer daerah, "Anak-anak diajari untuk menghitung dengan ilustrasi menunjukkan tank, rudal dan ranjau darat". US-AID menghentikan pendanaan ini pada tahun 1994.[65]

 Munculnya Taliban

Taliban
Taliban
Ketika Sovyet mundur dari Afghanistan pada tahun 1989, pertempuran lanjutan antara pemerintah Afghanistan yang didukung oleh Uni Sovyet dengan Mujahidin yang didukung oleh Amerika Serikat, Arab Saudi, dan Pakistan. Ketika Uni Sovyet runtuh pada 1991, demikian pula bantuan kepada pemerintah Afghanistan, yang kemudin pemerintah Afghanistan digulingkan tahun 1992. Namun, hampir pecah pertempuran antara faksi yang bersaing berebut kekuasaan, termasuk Hekmatyar.

 Pada awal 1990-an, sebuah kelompok yang tidak dikenal "rakyat dari dusun Pashtun" menjadi kekuatan militer dan politik yang kuat di Afghanistan, yang kemudian dikenal sebagai Taliban. [66] Taliban "muncul sebagai kekuatan milisi kecil yang beroperasi di dekat kota Kandahar selama musim semi dan musim panas tahun 1994, melakukan serangan dan main hakim sendiri terhadap panglima perang kecil". Ketika tumbuh ketidakpuasan terhadap para panglima perang, reputasi Taliban naik [67]

 Taliban menjalin aliansi dengan ISI pada tahun 1994, dan sepanjang 1995, hubungan antara Taliban dan ISI berjalan lancar  dan "kian lama menjadi aliansi militer langsung. "Taliban akhirnya menjadi "aset dari ISI" dan "klien tentara Pakistan." [68] Selanjutnya, "Antara tahun 1994 dan 1996, Amerika Serikat mendukung Taliban secara politik melalui sekutu-sekutunya Pakistan dan Arab Saudi, pada dasarnya karena Washington memandang Taliban sebagai anti-Iran, anti-Syiah, dan pro-Barat." [69]

 

Osama-bin-Laden
Osama-bin-Laden
 Selig Harrison, seorang sarjana dari Woodrow Wilson International Centre for Scholars dan "seorang ahli Asia Selatan terkemuka dari Amerika Serikat," berkata pada sebuah konferensi di India bahwa CIA bekerja dengan Pakistan untuk menciptakan Taliban. Harrison memiki "kontak ekstensif" dengan CIA, "ia juga mengadakan pertemuan dengan para pemimpin CIA pada saat pasukan Islam diperkuat di Afghanistan," ia adalah seorang rekan senior dari Carnegie Endowment for International Peace. Ia lebih lanjut mengungkapkan pada tahun 2001, "CIA masih memiliki hubungan erat dengan ISI." : justify;" Osama dan Al-Qaeda

 

Antara 1980 dan 1989, sekitar US$ 600.000.000 telah disalurkan melalui organisasi amal samaran  Osama bin Laden, khususnya Maktab al-Khidamat (MAK), juga dikenal sebagai Al-Kifah. Uang itu sebagian besar berasal dari donatur kaya di Arab Saudi dan wilayah lainnya di Teluk Persia, dan disalurkan melalui badan amal samaran tersebut untuk persenjataan dan mendanai mujahidin di Afghanistan. [71]

 Pada 1980-an, Pasukan Khusus Inggris the British Special Forces (SAS) melatih mujahidin di Afghanistan, serta di kamp-kamp rahasia di Skotlandia, dan SAS sebagian besar menerima perintah dari CIA. CIA juga secara tidak langsung mulai mempersenjatai Osama bin Laden. [72] organisasi samaran amal Osama bin Laden, MAK, "dipelihara" oleh ISI Pakistan. [73]

George-W-Bush
George W. Bush
 Osama bin Laden dilaporkan telah direkrut secara pribadi oleh CIA pada tahun 1979 di Istanbul. Dia mendapat dukungan dari Pangeran Turki bin Faisal, temannya dan Kepala Intelijen Saudi, dan juga memambangun hubungan dengan Hekmatyar di Afghanistan, [74] keduanya merupakan tokoh-tokoh penting dalam jaringan CIA-Safari Club. Jenderal Akhtar Abdul Rahman, Kepala ISI Pakistan 1980-1987, bertemu secara teratur dengan Osama bin Laden di Pakistan, dan mereka membentuk kemitraan dalam menuntut pajak atas perdagangan opium dari panglima perang sehingga pada tahun 1985, Bin Laden dan ISI berbagi keuntungan lebih dari $100 juta per tahun. [75] Pada tahun 1985, saudara Osama bin Laden, Salem, menyatakan bahwa Osama adalah "penghubung antara Amerika Serikat, pemerintah Saudi, dan pemberontak Afghan" [76]

 Pada tahun 1988, Bin Laden membahas "pembentukan sebuah kelompok militer baru," yang kemudian dikenal sebagai Al-Qaeda [77] Badan amal samaran Osama bin Laden, MAK, (akhirnya membentuk Al-Qaeda) mendirikan al -Kifah Center di Brooklyn, New York, untuk merekrut umat Islam untuk berjihad melawan Sovyet. Al-Kifah Center didirikan pada akhir 1980-an dengan dukungan pemerintah Amerika Serikat, yang memberikan visa bagi para teroris yang dikenal terkait dengan organisasi, termasuk Ali Mohamed, "syekh buta" Omar Abdel Rahman dan kemungkinan pemimpin pembajak 11 September, Mohamed Atta. [78]

William-Casey
William Casey
Bertepatan dengan penciptaan Al-Qaeda, dimana al-Kifah Center merupakan sebuah front perekrutan. Prajurit Al-Qaeda "dikirim ke Amerika Serikat untuk pelatihan di bawah visa program khusus". FBI mengawasi pelatihan teroris, namun "FBI menghentikan pengawasan ini pada musim gugur tahun 1989". Pada tahun 1990, CIA memberikan Sheikh Omar Abdel Rahman visa untuk datang ke Amerika Serikat untuk mengelola Al-Kifah Center, yang dianggap sebagai "tak tersentuh" karena ia "dilindungi oleh tidak kurang dari tiga lembaga," termasuk Departemen Luar Negeri, National Security Agency (NSA) dan CIA. [79]

 Robin Cook, mantan British MP dan Menteri Luar Negeri menulis bahwa Al-Qaeda, "secara harfiah artinya 'the database', awalnya file komputer dari ribuan mujahidin yang direkrut dan dilatih dengan bantuan dari CIA untuk mengalahkan Rusia." [80] Jadi, "Al-Qaeda" didirikan sebagai alat dari badan intelijen Barat. Laporan al-Qaeda ini semakin dikuatkan oleh mantan agen intelijen militer Perancis, yang menyatakan bahwa, "Pada pertengahan 1980-an, Al Qaeda adalah sebuah database," dan bahwa hal itu tetap seperti itu hingga tahun 1990-an. Dia berpendapat bahwa, "Al Qaeda bukanlah kelompok teroris maupun properti pribadi Osama bin Laden," dan ia selanjutnya mengatakan:

 Sebenarnya, tidak ada tentara Islam atau kelompok teroris yang disebut Al Qaeda. Dan petugas intelijen manapun tahu hal ini. Tapi ada kampanye propaganda untuk membuat publik percaya pada keberadaan entitas yang diidentifikasi mewakili 'setan' hanya untuk membuat 'penonton TV' menerima kepemimpinan internasional bersatu untuk perang melawan terorisme. Negara di belakang propaganda ini adalah Amerika Serikat dan para pelobi Amerika Serikat untuk perang melawan terorisme hanya tertarik dalam membuat uang. [81]

 Penciptaan Al-Qaeda difasilitasi oleh CIA dan jaringan intelijen sekutu, tujuannya adalah untuk menjaga "database " ini dari Mujahidin yang akan digunakan sebagai aset intelijen untuk mencapai tujuan kebijakan luar negeri Amerika Serikat, sepanjang Perang Dingin, dan ke era pasca Perang Dingin dari 'Tatanan Dunia Baru'.

 Bagian 2 dari "Anatomi Imperial al-Qaeda" membawa pembaca melalui pengujian dari strategi kekaisaran baru yang ditentukan oleh strategi geopolitik Amerika pada akhir Perang Dingin, yang dirancang bagi Amerika untuk mempertahankan kontrol atas sumber daya alam dunia dan mencegah munculnya kekuatan kompetitif. Diam-diam, "database" (al-Qaeda) menjadi penting bagi proses ini, digunakan untuk memajukan tujuan kekaisaran di berbagai wilayah, seperti untuk memecahbelah Yugoslavia. Bagian 2 meneliti lebih lanjut sifat yang sebenarnya dari 'Al-Qaeda', asal-usulnya, istilah, pelatihan, persenjataan, pembiayaan, dan ekspansi. Secara khusus, peran badan intelijen Barat dalam evolusi dan perluasan al-Qaeda adalah fokus sentral. Akhirnya, analisis persiapan untuk perang di Afghanistan dilakukan untuk menjelaskan ambisi-ambisi geopolitik di balik konflik yang sekarang telah dilaksanakan selama hampir sembilan tahun.

 * [Catatan tentang penelitian: Untuk analisis sejarah yang komprehensif, asal-usul dan sifat al-Qaeda, lihat: Peter Dale Scott, The Road to 9/11: Wealth, Empire and the Future of America, yang memberikan banyak penelitian dari artikel di atas.]

 Andrew Gavin Marshall is a Research Associate with the Centre for Research on Globalization (CRG).  He is co-editor, with Michel Chossudovsky, of the recent book, "The Global Economic Crisis: The Great Depression of the XXI Century," available to order at Globalresearch.ca.

 Notes

[1]        Peter Dale Scott, The Road to 9/11: Wealth, Empire, and the Future of America. University of California Press: 2007: page 62
[2]        Ibid, page 63.
[3]        Ibid, page 62.
[4]        Ibid, pages 66-67.
[5]        HP-Time, The Crescent of Crisis. Time Magazine: January 15, 1979:
http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,919995-1,00.html
[6]        Peter Dale Scott, op. cit., page 67.
[7]        F. William Engdahl, A Century of War: Anglo-American Oil Politics and the New  World Order. London: Pluto Press, 2004: page 171
[8]        Manouchehr Ganji, Defying the Iranian Revolution: From a Minister to the Shah to a Leader of Resistance. Greenwood Publishing Group, 2002: page 41
[9]        Ibid, page 39.
[10]      Ibid, page 41.
[11]      Ibid.
[12]      F. William Engdahl, A Century of War: Anglo-American Oil Politics and the New  World Order. London: Pluto Press, 2004: page 172
[13]      Ibid, page 171.
[14]      George Lenczowski, The Arc of Crisis: It’s Central Sector. Foreign Affairs: Summer, 1979: page 796
[15]      Ibid, page 797.
[16]      Ibid, page 798.
[17]      IPS, Q&A:  Iran's Islamic Revolution Had Western Blessing. Inter-Press Service: July 26, 2008:
http://www.ipsnews.net/news.asp?idnews=43328
[18]      Michael D. Evans, Father of the Iranian revolution. The Jerusalem Post: June 20, 2007:
http://www.jpost.com/servlet/Satellite?cid=1181813077590&pagename=JPost/JPArticle/ShowFull
[19]      Peter Dale Scott, op cit., page 89.
[20]      George Lenczowski, The Arc of Crisis: It’s Central Sector. Foreign Affairs: Summer, 1979: page 810
[21]      F. William Engdahl, op cit., page 172.
[22]      Peter Dale Scott, op cit., page 81.
[23]      Michael D. Evans, Father of the Iranian revolution. The Jerusalem Post: June 20, 2007:
http://www.jpost.com/servlet/Satellite?cid=1181813077590&pagename=JPost/JPArticle/ShowFull
[24]      Peter Dale Scott, op cit., page 83.
[25]      Ibid, page 84.
[26]      Ibid, page 81.
[27]      Ibid, pages 85-86.
[28]      Ibid.
[29]      Ibid, page 87.
[30]      Ibid, pages 88-89.
[31]      Ibid.
[32]      Ibid, pages 87-88.
[33]      Ibid, page 85.
[34]      Ibid, page 86.
[35]      Ibid, page 88.
[36]      F. William Engdahl, A Century of War: Anglo-American Oil Politics and the New  World Order. London: Pluto Press, 2004: page 173
[37]      Andrew Gavin Marshall, Controlling the Global Economy: Bilderberg, the Trilateral Commission and the Federal Reserve. Global Research: August 3, 2009:
http://www.globalresearch.ca/index.php?context=va&aid=14614
[38]      Peter Dale Scott, The Road to 9/11: Wealth, Empire, and the Future of America. University of California Press: 2007: page 89
[39]      PBS, Secrets of His Life and Leadership: An Interview with Said K. Aburish. PBS Frontline:
http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/saddam/interviews/aburish.html
[40]      Michael Parenti, Afghanistan, Another Untold Story. Global Research: December 4, 2008:
http://www.globalresearch.ca/index.php?context=va&aid=11279
[41]      Oleg Kalugin, How We Invaded Afghanistan. Foreign Policy: December 11, 2009:
http://www.foreignpolicy.com/articles/2009/12/11/how_we_invaded_afghanistan
[42]      ‘'Le Nouvel Observateur' (France), Jan 15-21, 1998, p. 76:
http://www.ucc.ie/acad/appsoc/tmp_store/mia/Library/history/afghanistan/archive/brzezinski/1998/interview.htm
[43]      Ibid.
[44]      Peter Dale Scott, The Road to 9/11: Wealth, Empire, and the Future of America. University of California Press: 2007: page 73
[45]      Michael Parenti, Afghanistan, Another Untold Story. Global Research: December 4, 2008:
http://www.globalresearch.ca/index.php?context=va&aid=11279
[46]      Peter Dale Scott, op cit., page 78.
[47]      Ibid, page 116.
[48]      Ibid, page 122.
[49]      Ibid, page 123.
[50]      Ibid,.
[51]      Alfred W. McCoy, The Politics of Heroin: CIA Complicity in the Global Drug Trade. (Lawrence Hill Books: Chicago, 2003), page 80
[52]      Ibid, page 162.
[53]      Ibid.
[54]      Ibid, pages 283-386.
[55]      Ibid, page 466.
[56]      Ibid, page 474.
[57]      Peter Dale Scott, The Road to 9/11: Wealth, Empire, and the Future of America. University of California Press: 2007: page 73
[58]      Alfred W. McCoy, op cit., page 475.
[59]      Peter Dale Scott, op cit., page 74.
[60]      Ibid, pages 75-76.
[61]      Ibid, page 124.
[62]      Ibid, pages 75-76.
[63]      Ibid, page 124.
[64]      Carol Off, Back to school in Afghanistan. CBC: May 6, 2002:
http://www.cbc.ca/news/background/afghanistan/schools.html
[65]      Joe Stephens and David B. Ottaway, From U.S., the ABC's of Jihad. The Washington Post: March 23, 2002:
http://www.washingtonpost.com/ac2/wp-dyn/A5339-2002Mar22?language=printer
[66]      Steve Coll, Ghost Wars: The Secret History of the CIA, Afghanistan, and Bin Laden, From the Soviet Invasion to September 10, 2001. Penguin Books, New York, 2004: Page 328
[67]      Steve Coll, Ghost Wars: The Secret History of the CIA, Afghanistan, and Bin Laden, From the Soviet Invasion to September 11, 2001. (London: Penguin, 2005), page 285
[68]      Steve Coll, “Steve Coll” Interview with PBS Frontline. PBS Frontline: October 3, 2006:
http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/taliban/interviews/coll.html
[69]      Robert Dreyfuss, Devil’s Game: How the United States Helped Unleash Fundamentalist Islam. (New York: Metropolitan Books, 2005), page 326
[70]      ToI, “CIA worked in tandem with Pak to create Taliban”. The Times of India: March 7, 2001:
http://www.multiline.com.au/~johnm/taliban.htm
[71]      Robert Dreyfuss, Devil’s Game: How the United States Helped Unleash Fundamentalist Islam. (New York: Metropolitan Books, 2005), pages 279-280
[72]      Simon Reeve, The New Jackals: Ramzi Yousef, Osama bin Laden, and the Future of Terrorism. (London: André Deutsch Ltd, 1999), page 168
[73]      Michael Moran, Bin Laden comes home to roost. MSNBC: August 24, 1998:
http://www.msnbc.msn.com/id/3340101/
[74]      Veronique Maurus and Marc Rock, The Most Dreaded Man of the United States, Controlled a Long Time by the CIA. Le Monde Diplomatique: September 14, 2001: http://www.wanttoknow.info/010914lemonde
[75]      Gerald Posner, Why America Slept: The Failure to Prevent 9/11. (New York: Random House, 2003), page 29
[76]      Steve Coll, The Bin Ladens. (New York: Penguin, 2008), pages 7-9
[77]      AP, Al Qaeda Financing Documents Turn Up in Bosnia Raid. Fox News: February 19, 2003:
http://www.foxnews.com/story/0,2933,78937,00.html
[78]      Peter Dale Scott, The Road to 9/11: Wealth, Empire, and the Future of America. University of California Press: 2007: pages 140-141
[79]      Ibid, page 141.
[80]      Robin Cook, The struggle against terrorism cannot be won by military means. The Guardian: July 8, 2005:
http://www.guardian.co.uk/uk/2005/jul/08/july7.development
[81]      Pierre-Henri Bunel, Al Qaeda -- the Database. Global Research: November 20, 2005:
http://www.globalresearch.ca/index.php?context=viewArticle&code=BUN20051120&articleId=1291

 Diterjemahkan oleh: akhirzaman.info

Terkait:

  1. Kekaisaran, Energi dan Al-Qaeda: Jejaring Teror Anglo-Amerika (The Imperial Anatomy of al-Qaeda, Part II)
  2. Analisis 9/11: 11 September 2001 dan Kampanye Teror Rahasia Amerika (The Imperial Anatomy of Al-Qaeda, Part III)

Sumber: www.globalresearch.ca/index.php?context=va&aid=20907

The Imperial Anatomy of al-Qaeda, Part II

Share/Save/Bookmark
Dibaca :3068 kali  

Komentar-Komentar  

Quote
 
0
Sebetulnya, masalahnya bukanlah masalah AlQaeda yg berhasil di diskreditkan oleh Amerika dan Sekutunya sebagai gerakan teorris. Yang menakutkan bagi Amerika dan sekutunya, adalah munculnya kekuatan baru, setelah runtuhnya komunis, yaitu khalifah Islam yang membawakan syariat Islam. Suvey yg dilakukan oleh CIA di negara yg mayoritas penduduknya muslim seperti Mesir, Sudah, Lybia, Tunisia dlnnya, kecendrungan rakyatnya untuk mendirikan khalifah terus meningkat dari tahun 2006, sampai survey terakhir sebelum Arab Springs, menyatakan 85% rakyat di Afrika Utara menginginkan Khalifa dan Syariat Islam. Munculnya superpower baru inilah yg ditakuti oleh Amerika & sekutunya. Yang lebih menakutkan lagi, pasukan berani mati yg dikirim ke Irak, berasal dari negara2 di Afrika Utara.Yang membingungkan Amerika, adalah peristiwa pembunuhan Duta Besar Amerika di Lybia yg dilakukan oleh orang2 yg telah dididik oleh Amerika, dan diharapkan jadi sekutunya.

Ditambah lagi peristiwa, pemberontakan di salah satu tahanan Amerika di Afganistan, dimana terlibat bule asli Amerika, muslim berjihad melawan pasukan Amerika. Jadi Amerika, betul2 takut dengan semangat jihad. Dalam pikiran Amerika, kalau Israel hancur, maka target selanjutnya jihad adalah Eropa.

Sebetulnya, masalah ini adalah masalah communication gap, dalam memahami Islam. Islam dipandang sebagai ajaran yg totaliter, tidak memberi kekebasan terhadap ummat manusia. Sebetulnya Islam garis keras ini, minoritas di negara2 muslim. Mereka (US & sekutunya) kurang melihat Islam yg sebenarnya, penuh dengan kedamaian, penuh toleransi.

Dengan komunikasi yang intensif, soal kekeliruan dalam memahami Islam ini, mudah2an bisa mengujudkan perdamaian abadi, sehingga ribuan trilliun yg dihabiskan, saling membunuh, dimanfaatkan untuk kesejahteraan ummat manusia dimuka bumi.
Quote
 
0
al qaeda sebuah bentuk demonisasi Islam,
bukan menjadi cara yang ampuh untuk melawan demokrasi
hati2 pada dua hal antitesis yang sintetis
Quote
 
0
g papa al qaeda bentukan cia, dibentuk > jadi > dipakai tuk ngelawan orang2 kafir dan mengadakn perlawanan modus kekafiran terbesar abad ini (demokrasi)
Quote
 
0
Al Qaeda is not guilty.
It's just false flag ops, they try to blame all of kinds of evil on mujahideen!
:P
Quote
 
0
kasihan org2 yg taklid buta pada bin laden itu.
Quote
 
0
kalau demikian, indonesia benar membantu musuh memasukkan racun ke mulut kita.
sama narkoba hobi
sama isu terorisme, parno tanpa klarifikasi..


Kode keamanan
Segarkan