|
Analisis 9/11: Dari Ronald Reagan dan Perang Sovyet-Afghan Sampai ke George W. Bush serta Peristiwa 11 September 2001(9/11 ANALYSIS: From Ronald Reagan and the Soviet-Afghan War to George W Bush and September 11, 2001)
Oleh: Michel Chossudovsky
Peristiwa-peristiwa Penting
- Arsitek operasi rahasia dalam mendukung "fundamentalisme Islam" diluncurkan selama kepresidenan Reagan yang memainkan peran kunci dalam meluncurkan "Perang Global Melawan Terorisme" yang di bangun dari serangan 9/11. - Presiden Ronald Reagan bertemu dengan para pemimpin Jihad Islam di Gedung Putih pada tahun 1983 - Di bawah pemerintahan Reagan, salah satu kebijakan luar negeri Amerika Serikat adalah memberikan dukungan dan pembenaran terhadap "pejuang kemerdekaan" Islam yang dikemkembangkan secara bertahap. Pada hari ini, Dunia memberikan label kepada "pejuang kemerdekaan" dengan "teroris Islam". -Dalam bahasa Pashtun, kata "Taliban" berarti "Mahasiswa", atau lulusan dari madrasah (tempat belajar atau sekolah al-Qur’an) didirikan oleh misi Wahhabi Arab Saudi, dengan dukungan dari CIA. -Pendidikan di Afghanistan pada tahun-tahun sebelum terjadinya perang Sovyet-Afganistan sebagian besar materinya bersifat sekuler. Jumlah sekolah agama (madrasah) yang disponsori CIA meningkat dari 2.500 pada tahun 1980 menjadi lebih dari 39.000. Perang Sovyet-Afganistan merupakan bagian dari agenda rahasia CIA dimulai selama pemerintahan Carter, yang unsur utamanya aktif dalam mendukung dan pembiayaan brigade Islam, yang kemudian dikenal sebagai Al-Qaeda. Rezim Militer Pakistan mulai ambil bagian pada akhir tahun 1970, yang merupakan peran kunci dalam militer dan operasi intelijen yang disponsori Amerika Serikat di Afghanistan. Pada era pasca perang dingin, peran sentral Pakistan dalam melaksanakan operasi intelijen Amerika Serikat diperluas ke wilayah Asia Tengah-Timur Tengah. Sejak awal perang Afghanistan-Sovyet pada tahun 1979, Pakistan yang berada di bawah kekuasaan militer aktif mendukung brigade Islam. Dalam hubungan dekatnya dengan CIA, intelijen militer Pakistan, Inter-Services Intelligence (ISI), menjadi sebuah organisasi yang kuat, serupa dengan pemerintah, memegang kekuasaan dan pengaruh yang luar biasa. Perang rahasia Amerika di Afghanistan menggunakan Pakistan sebagai landasan peluncuran, dimulai pada masa pemerintahan Carter sebelum terjadinya "invasi" Sovyet.
Dengan dukungan CIA menyalurkan sejumlah besar bantuan militer Amerika Serikat, ISI Pakistan telah berkembang menjadi sebuah "struktur paralel memegang kekuasaan yang sangat besar terhadap semua aspek pemerintahan". (Dipankar Banerjee, "Possible Connection of ISI With Drug Industry", India Abroad, 2 December 1994). ISI memiliki staf yang terdiri dari perwira militer dan intelijen, birokrat, agen rahasia serta informan, jumlahnya diperkirakan mencapai 150.000. (Ibid) Sementara itu, operasi CIA juga diperkuat oleh rezim militer Pakistan yang dipimpin oleh Jenderal Zia Ul Haq:
Operasi ISI pada hakikatnya merupakan afiliasi dari CIA, memainkan peran sentral dalam menyalurkan dukungan kepada kelompok-kelompok paramiliter Islam di Afghanistan dan kemudian di republik Muslim Uni Sovyet.
Front row, from left: Major Gen. Hamid Gul, director general of Pakistan's Inter-Services Intelligence Directorate (ISI), Director of Central Intelligence Agency (CIA) Willian Webster; Deputy Director for Operations Clair George; an ISI colonel; and senior CIA official, Milt Bearden at a mujahedeen training camp in North-West Frontier Province of Pakistan in 1987. (source RAWA) Bertindak atas nama CIA, ISI juga terlibat dalam perekrutan dan pelatihan Mujahidin. Dalam periode sepuluh tahun 1982-1992, sekitar 35.000 Muslim dari 43 negara-negara yang berpenduduk Islam direkrut untuk berperang dalam jihad di Afghanistan. Madrasah di Pakistan, dibiayai oleh badan amal Saudi, juga dibentuk dengan dukungan Amerika Serikat dengan maksud untuk "menanamkan nilai-nilai Islam". "Kamp-kamp menjadi universitas virtual untuk menenamkan radikalisme Islam masa depan," (Ahmed Rashid, Taliban). Pelatihan gerilya di bawah naungan ISI-CIA termasuk target pembunuhan dan serangan bom mobil.
Osama Bin Laden
Osama bin Laden, seorang bogyman – karakter jahat imajiner Amerika, direkrut oleh CIA pada tahun 1979 pada awal Amerika Serikat mensponsori jihad. Ia berusia 22 tahun dan dilatih di kamp pelatihan gerilya yang disponsori CIA. Selama masa pemerintahan Reagan, Osama, yang berasal dari keluarga kaya, Saudi Bin Laden, ditugaskan mengumpulkan uang untuk brigade Islam. Banyak badan amal dan yayasan diciptakan. Operasi ini dikoordinasikan oleh intelijen Saudi, dipimpin oleh Pangeran Turki al-Faisal yang berhubungan dekat dengan CIA. Uang yang berasal dari berbagai badan amal digunakan untuk membiayai perekrutan relawan Mujahidin. Al Qaeda dalam bahasa Arab yang artinya base dalam bahasa Inggris (basis:Indonesia) adalah bank data sukarelawan yang telah terdaftar untuk perang jihad di Afghanistan. Data-data basis (base) awalnya dimiliki oleh Osama bin Laden. Pemerintahan Reagan mendukung "Fundamentalisme Islam" ISI Pakistan digunakan sebagai "perantara". Dukungan rahasia CIA untuk Mujahidin di Afghanistan dioperasikan secara tidak langsung melalui ISI Pakistan, - dimana CIA tidak menyalurkan bantuannya secara langsung kepada Mujahidin. Dengan kata lain agar operasi rahasia ini berjalan dengan "sukses", Washington berhati-hati untuk tidak mengungkapkan tujuan akhir dari "jihad", yang unsur utamanya untuk menghancurkan Uni Sovyet. Pada bulan Desember 1984, Hukum Syariah (yurisprudensi Islam) diberlakukan di Pakistan menyusul diadakannya referendum yang dimanipulasi oleh Presiden Muhammad Zia-ul-Haq. Baru saja beberapa bulan kemudian, pada bulan Maret 1985, Presiden Ronald Reagan mengeluarkan Directive Keputusan Keamanan Nasional 166 (NSDD 166), yang berwenang "meningkatkan bantuan militer rahasia kepada Mujahidin" juga dukungan dalam indoktrinasi agama. Pemberlakuan Syariah di Pakistan dan pemberian semangat kepada "Islam radikal" adalah merupakan kebijakan Amerika Serikat yang disengaja untuk melayani kepentingan geopolitik Amerika di Asia Selatan, Asia Tengah dan Timur Tengah. Banyak saat ini "organisasi-organisasi fundamentalis Islam" di Timur Tengah dan Asia Tengah, secara langsung atau tidak langsung merupakan hasil dari dukungan rahasia dan bantuan keuangan Amerika Serikat, modusnya sering disalurkan melalui yayasan dari Arab Saudi dan negara-negara Teluk. Misi sekte Wahhabi Islam konservatif Arab Saudi yang diberi bertugas menjalankan madrasah yang disponsori oleh CIA di Pakistan Utara. Di bawah NSDD 166, serangkaian operasi rahasia CIA-ISI dilaksanakan. Amerika Serikat memasok senjata kepada pasukan Islam melalui ISI. Pejabat-pejabat CIA dan ISI bertemu di markas ISI Rawalpindi untuk mengkoordinasikan dukungan Amerika Serikat untuk Mujahidin. Dalam NSDD 166, pengadaan senjata Amerika Serikat untuk para pemberontak Islam meningkat dari 10.000 ton senjata dan amunisi pada tahun 1983 menjadi 65.000 ton per tahun pada tahun 1987. "Selain senjata, pelatihan, peralatan militer yang beragam termasuk peta satelit militer serta alat komunikasi mutakhir " (Universitas Wire, 7 Mei 2002).
Ronald Reagan meets Afghan Mujahideen Commanders at the White House in 1985 (Reagan Archives) Dengan William Casey sebagai direktur CIA, NSDD 166 digambarkan sebagai operasi rahasia terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.
Indoktrinasi Agama Di bawah NSDD 166, bantuan Amerika Serikat untuk brigade Islam disalurkan melalui Pakistan dan tidak hanya terbatas pada bantuan militer yang bonafit. Proses indoktrinasi agama yang dilakukan Washington juga didukung dan dibiayai oleh US Agency for International Development (USAID), terutama untuk mengamankan kematian lembaga sekuler
Peran NeoCons
Beberapa orang Neocons dari Pemerintahan Bush Junior adalah mantan para pejabat tinggi selama masa kepresidenan Reagan. Richard Armitage, adalah mantan Deputi Menteri Luar Negeri selama George W. Bush periode pemerintahan pertama (2001-2004). Ia memainkan peran sentral kunci pasca 9/11 yang melakukan negosiasi dengan Pakistan menjelang invasi ke Afghanistan pada bulan Oktober 2001. Pada era Reagan, ia menjabat sebagai Asisten Menteri Pertahanan untuk Kebijakan Keamanan Internasional. Dalam kapasitas ini, ia memainkan peran penting dalam pelaksanaan NSDD 163 sementara juga memastikan hubungan dengan militer Pakistan dan aparat intelijennya.
Kelompok Wolfowitz juga terlibat dalam peletakkan dasar konseptual dukungan rahasia Amerika Serikat kepada partai-partai dan organisasi Islam di Pakistan dan Afghanistan.
Operasi Iran-Contra Richard Gates, Colin Powell dan Richard Armitage, antara lain, juga terlibat dalam operasi Iran-Contra. Armitage mempunyai hubungan dekat dengan Kolonel Oliver North. Wakilnya dan pejabat kepala anti-teroris Noel Koch adalah bagian dari tim yang dibentuk oleh Oliver North. Signifikansi operasi Iran-Contra juga menghubungkan ke dalam proses penyaluran dukungan rahasia kepada brigade Islam di Afghanistan. Skema Iran-Contra melaksanakan beberapa kebijakan luar negeri terkait, yaitu:
Setelah pengiriman misil anti-tank TOW ke Iran, hasil penjualan tersebut disimpan di rekening bank dan uang itu digunakan untuk membiayai Contras di Nikaragua dan Mujahidin.
Meskipun Letnan Jenderal Colin Powell tidak terlibat secara langsung dalam negosiasi transfer senjata yang telah dipercayakan kepada Oliver North, ia berada di antara "setidaknya lima orang dalam yang mengetahui bahwa senjata Pentagon sedang dipindahkan ke CIA." (The Record, 29 Desember 1986). Dalam hal ini, Powell langsung berperan dalam memberikan "lampu hijau" untuk pejabat tingkat bawah yang terang-terangan melanggar prosedur Kongres. Menurut the New York Times, Colin Powell mengambil keputusan (pada tingkat pengadaan militer), untuk memungkinkan pengiriman senjata ke Iran
Menteri Pertahanan Robert Gates juga terlibat dalam Affair Iran-Contra. Perdagangan Narkoba Bulan Sabit Emas Sejarah perdagangan Narkoba di Asia Tengah sangat erat terkait dengan operasi-operasi rahasia CIA. Sebelum perang Sovyet-Afghan, produksi opium di Afghanistan dan Pakistan diarahkan untuk pasar regional kecil. Tidak ada produksi lokal heroin. (Alfred McCoy, Drug Fallout: the CIA's Forty Year Complicity in the Narcotics Trade. The Progressive, 1 August 1997). Studi Alfred McCoy memastikan bahwa dalam dua tahun sejak serangan operasi CIA di Afghanistan, "perbatasan Pakistan-Afghanistan menjadi produsen heroin terbesar di dunia." (Ibid) Berbagai kelompok paramiliter Islam dan organisasi diciptakan. Hasil dari perdagangan obat bius Afghanistan, yang dilindungi oleh CIA, digunakan untuk membiayai berbagai pemberontakan:
Perdagangan Narkotika Yang Menguntungkan di Era Paska Perang Dingin Perdagangan Narkoba terus berlanjut selama bertahun-tahun pasca perang Dingin. Afghanistan menjadi pemasok utama heroin ke pasar Barat, sebenarnya hampir pemasok tunggal: lebih dari 90 persen heroin yang dijual ke seluruh dunia berasal dari Afghanistan. Penyelundupan yang menguntungkan ini terikat ke dalam politik Pakistan dan militerisasi Negara Pakistan. Ini juga memiliki kaitan langsung kepada struktur ekonomi Pakistan dan perbankan serta lembaga keuangan, yang sejak awal perdagangan Narkoba di Bulan Sabit Emas telah terlibat dalam operasi pencucian uang yang luas, yang dilindungi oleh militer dan aparat intelijen Pakistan Menurut Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Narcotics Control Strategy Report (2006) (dikutip dari Daily Times, 2 March 2006),)
Sistem Hawala dan badan amal hanyalah puncak gunung es. Menurut laporan Departemen Luar Negeri, "Bank Negara Pakistan telah membekukan lebih dari dua puluh tahun sedikitnya berjumlah US$ 10,5 juta "milik 12 perusahaan dan perorangan yang terkait dengan Osama bin Laden, Al Qaeda atau "Taliban. Apa laporan lupa untuk menyebutkan bahwa sebagian besar dari hasil perdagangan obat bius Afghanistan dicuci di institusi perbankan bonafit Barat. Taliban Mencegah Perdagangan Narkoba Sebuah haluan perubahan besar dan tak terduga dalam perdagangan obat CIA yang disponsorinya terjadi pada tahun 2000. Pemerintah Taliban yang berkuasa pada tahun 1996 dengan dukungan Washington, pada tahun 2000-2001 melaksanakan program penting pemberantasan opium dengan dukungan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berfungsi untuk melemahkan perdagangan Narkoba yang bernilai milyaran dolar. (Untuk lebih rinci lihat, Michel Chossudovsky, Amerika Perang Melawan Terorisme, Global Research, 2005). Pada tahun 2001 sebelum invasi yang dipimpinan Amerika, produksi opium di bawah program pemberantasan Taliban menurun lebih dari 90 persen. Sebagai akibat langsung dari invasi yang dipimpin Amerika Serikat, pemerintahan Bush segera memerintahkan agar hasil panen opium tidak dihancurkan dengan alasan palsu bahwa hal ini akan melemahkan pemerintah militer Pervez Musharraf.
Sejak invasi yang dipimpin Amerika Serikat, produksi opium telah meningkat 33 kali lipat dari 185 ton pada tahun 2001 di bawah Taliban menjadi 6100 ton di tahun 2006. Pertumbuhan daerah meningkat menjadi 21 kali lipat sejak invasi pimpinan Amerika Serikat 2001. . (Michel Chossudovsky, Global Research, 6 January 2006) Pada tahun 2007, Afghanistan memasok sekitar 93% pasokan global heroin. Hasil (dalam hal nilai eceran) dari perdagangan Narkoba Afghanistan diperkirakan (2006) menjadi lebih dari 190 miliar dolar per tahun, mewakili fraksi yang signifikan dalam perdagangan global narkotika. (Ibid) Hasil selundupan yang menguntungkan bernilai miliaran dolar ini didepositkan di bank Barat. Hampir secara keseluruhan peningkatan pendapatan hanya untuk kepentingan kelompok dan sindikat kriminal di luar Afghanistan. Pencucian uang Narkoba merupakan aktivitas milyaran dolar, yang terus dilindungi oleh CIA dan ISI. Sebagai hasil dari invasi Amerika Serikat ke Afghanistan pada tahun 2001. Jika diingat kembali, salah satu tujuan utama dari invasi ke Afghanistan pada tahun 2001 adalah untuk mengembalikan perdagangan obat bius. Militerisasi Pakistan melayani kepentingan kekuatan politik, keuangan dan kriminal yang mendasari perdagangan obat bius. Kebijakan luar negeri Amerika Serikat cenderung untuk mendukung kepentingan-kepentingan kekuatan yang berpengaruh. CIA terus melindungi perdagangan narkoba Bulan Sabit Emas. Meskipun komitmennya untuk memberantas perdagangan narkoba, produksi opium di bawah rezim Presiden Afghanistan Hamid Karzai terus meroket. Pembunuhan Jenderal Zia Ul-Haq Pada bulan Agustus 1988, Presiden Zia tewas dalam kecelakaan pesawat udara bersama dengan Duta Besar Amerika Serikat untuk Pakistan Arnold Raphel dan beberapa jenderal Pakistan. Kenyataan terjadinya kecelakaan pesawat udara tersebut tetap diselimuti misteri.*) Setelah kematian Zia, pemilihan parlemen diadakan dan Benazir Bhutto dilantik sebagai Perdana Menteri pada bulan Desember 1988. Dia kemudian diberhentikan oleh pengganti Zia, Presiden Ghulam Ishaq Khan atas dasar dugaan korupsi. Pada tahun 1993, ia terpilih kembali dan kembali diberhentikan dari jabatannya pada tahun 1996 atas perintah Presiden Farooq Leghari. Keberlangsungan tetap dipertahankan sungguh-sungguh. Tidak berapa lama pasca Zia, pemerintahan terpilih Nawaz Sharif dan Benazir Bhutto, peran sentral dari pendirian intelijen-militer dan hubungannya ke Washington tidak pernah dituntut. Baik Benazir Bhutto maupun Nawaz Sharif melayani kepentingan kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ketika berkuasa, pemimpin yang terpilih secara demokratis, tetap mendukung kelangsungan kekuasaan militer. Sebagai Perdana Menteri dari 1993 hingga 1996, Benazir Bhutto "mendukung kebijakan mendamaikan terhadap Islam, khususnya Taliban di Afghanistan" yang didukung oleh ISI Pakistan (See F. William Engdahl, Global Research, January 2008)
Kudeta tahun 1999 dihasut oleh Jenderal Pervez Musharaf yang didukung oleh Kepala Staf Gabungan, Letnan Jenderal Mahmoud Ahmad, yang kemudian diangkat ke posisi kunci, yaitu kepala intelijen militer (ISI). Sejak awal pemerintahan Bush pada tahun 2001, Jenderal Ahmad tidak hanya membina hubungan dekat dengan rekannya direktur CIA Amerika Serikat, George Tenet, tetapi juga dengan anggota penting pemerintah Amerika Serikat termasuk Menteri Luar Negeri, Colin Powell, Wakil Menteri Luar Negeri, Richard Armitage, termasuk Porter Goss, yang pada waktu itu menjadi Ketua Komite House Intelijen. Ironisnya, menurut laporan FBI September 2001, Mahmoud Ahmad juga dikenal sebagai orang yang dicurigai berperan dalam mendukung dan membiayai serangan teroris 9/11 yang tanpa bukti itu, serta hubungannya dengan Al Qaeda dan Taliban. (See Michel Chossudovsky, America's "war on Terrorism, Global Research, Montreal, 2005) Penutup Berbagai organisasi "teroris" ini diciptakan sebagai akibat dukungan CIA. Mereka bukan produk agama. Proyek ini bertujuan untuk mendirikan "sebuah kekhalifahan pan-Islam" yang sebenarnya merupakan bagian dari operasi intelijen yang dirancang secara hati-hati. Dukungan CIA kepada Al Qaeda bagaimanapun tidak berakibat mempersingkat berakhirnya Perang Dingin. Bahkan sebaliknya. Pola dukungan rahasia sebelumnya adalah dengan berusaha untuk mendapat arah/tujuan yang bersifat global dan kemudian meningkat menjadi semakin canggih. "Perang Global Melawan Terorisme" adalah sebuah konsepsi (konstruksi) intelijen yang kompleks dan rumit. Dukungan rahasia yang diberikan kepada "kelompok ekstremis Islam" merupakan bagian dari agenda kekaisaran. Ini dimaksudkan untuk melemahkan dan akhirnya menghancurkan lembaga-lembaga pemerintah sekuler dan sipil, sementara juga memberikan kontribusi untuk menjelekkan dan memfitnah Islam. Ini adalah alat penjajahan yang bertujuan untuk melemahkan negara-negara berdaulat dan mengubah negara-negara menjadi wilayah-wilayah. Untuk keberhasilan operasi intelijen, dengan cara apapun berbagai organisasi-organisasi Islam dibuat dan dilatih oleh CIA harus tetap tidak menyadari peran yang mereka lakukan di atas papan catur geopolitik, atas nama Washington. Selama bertahun-tahun, organisasi-organisasi ini memang memperoleh otonomi dan kemandirian dalam tingkat tertentu dalam hubungannya dengan sponsor mereka yaitu Amerika Serikat-Pakistan. Bahwa wujud "kemerdekaan" bagaimanapun juga penting, namun merupakan bagian integral dari operasi intelijen rahasia. Menurut mantan agen CIA, Milton Beardman, Mujahidin tanpa kecuali tidak menyadari bahwa peran yang mereka lakukan sebenarnya atas nama Washington. Dalam kata-kata bin Laden (dikutip oleh Beardman): "Baik Saya maupun saudara-saudara saya tidak melihat adanya bukti bantuan Amerika". (Weekend Sunday (NPR); Weiner Eric, Ted Clark, 16 Agustus 1998).
Perekayasaan "terorisme" - termasuk dukungan rahasia kepada teroris - diperlukan untuk memberikan legitimasi terhadap "perang melawan terorisme". Berbagai kelompok fundamentalis dan paramiliter yang terlibat dalam kegiatan "teroris" yang disponsori Amerika Serikat adalah merupakan "aset intelijen". Setelah terjadinya serangan 9/11, fungsi mereka ditentukan sebagai "aset intelijen" adalah dalam rangka melakukan peran sebagai "musuh Amerika" yang kredibel. Di bawah pemerintahan Bush, CIA terus mendukung (melalui Pakistan ISI) beberapa kelompok berbasis Islam Pakistan. ISI dikenal mendukung Jamaat al-Islami, yang juga terdapat di Asia Tenggara, Lashkar-e-Tayyaba, Jehad a-Kashmiri, Hizbul-Mujahidin dan Jaish-e-Mohammed. Kelompok-kelompok Islam yang dibuat oleh CIA ini juga dimaksudkan untuk menggalang dukungan publik di negara-negara Muslim. Tujuan mendasar adalah untuk menciptakan perpecahan dalam masyarakat nasional di seluruh Timur Tengah dan Asia Tengah, sementara juga memicu perselisihan sektarian dalam Islam, akhirnya dengan maksud untuk membatasi pengembangan resistensi massa sekuler yang berbasis luas, yang akan menantang ambisi kekaisaran Amerika Serikat. Fungsi musuh dari luar juga merupakan bagian penting dari propaganda perang yang dibutuhkan untuk merangsang opini publik Barat. Tanpa musuh, perang tidak bisa dilakukan. Kebijakan luar negeri Amerika Serikat perlu untuk merekayasa musuh, untuk membenarkan berbagai intervensi militer di Timur Tengah dan Asia Tengah. Sebuah musuh diperlukan untuk membenarkan agenda militer, termasuk "pengejaran terhadap Al Qaeda". Perekayaan musuh dan fitnah dibutuhkan untuk membenarkan tindakan militer. Keberadaan musuh di luar membenarkan ilusi bahwa "perang melawan terorisme" adalah nyata. Ia membenarkan dan menyajikan intervensi militer sebagai operasi kemanusiaan didasarkan pada hak untuk membela diri. Ini membenarkan ilusi "konflik peradaban". Tujuan pokok akhirnya adalah untuk menyembunyikan tujuan ekonomi dan strategis yang sebenarnya di balik perang yang lebih luas di Timur Tengah dan Asia Tengah. Secara historis Pakistan memainkan peran sentral dalam "perang melawan terorisme". Pakistan membenarkan sebuah sudut pandang pusat geopolitik Washington. Perbatasannya atas Afghanistan dan Iran. Hal ini memainkan peran penting dalam pelaksanaan operasi militer Amerika Serikat dan sekutunya di Afghanistan maupun dalam konteks rencana perang Pentagon dalam kaitannya dengan Iran. Diterjemahkan oleh: akhirzaman.info/ Sumber: http://www.globalresearch.ca/index.php?context=va&aid=20958
Set as favorite
Bookmark
Hits: 1086 Comments (3)
![]()
lilis
said:
|
|
... maka kewajiban kita adalah berusaha menjadi manusia yang memenuhi syarat. syarat2 manusia yang layak mendapatkan pertolongan ALloh allohualam |
|
ade
said:
|
.... yang pasti. musuh kita yang nyata adalah setan. setan membawa permusuhan. jika memang mereka yang memprogram The New World Order, apakah kita harus takut. kita berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. jadi tidak perlu takut pada manusia. selama masih memegang amar ma'ruf nahi mungkar. maka kita akan selamat. oleh karena itu, ucapkanlah bismillah dalam setiap kegiatan kita. |
|
lilis
said:
|
... Rosululloh sholallohu 'alaihi wa sallam beserta sahabat tidak memerintahkan atau memberi contoh membentuk organisasi2 islam. lalu kenapa banyak pedakwah yang bangga berada bi bwh organisasi tertentu? membuat hukum dan kultur baru karangan sendiri. semoga nanti kita tidak bangga berada di antara 72 golongan yang tidak terselamatkan? allohu'alam |
|






- Osama bin Laden, seorang bogyman – karakter jahat imajiner Amerika, direkrut oleh CIA pada tahun 1979 pada awal Amerika Serikat mensponsori jihad. Ia berusia 22 tahun dan dilatih di kamp pelatihan gerilya yang disponsori CIA.
Dalam memoar yang dipublikasikan Menteri Pertahanan Robert Gates, yang ketika perang Afghanistan-Sovyet sedang memuncak ia menjabat sebagai deputi Direktur CIA, dinyatakan bahwa intelijen Amerika Serikat terlibat langsung sejak awal, sebelum terjadinya invasi Sovyet dalam menyalurkan bantuannya kepada pasukan Islam.

Ada kesinambungan. Arsitek operasi rahasia dalam mendukung "fundamentalisme Islam" yang dilaksanakan selama kepresidenan Reagan, memainkan peran kunci dalam melancarkan "Perang Global Melawan Terorisme" yang di bangun pasca serangan 9/11.
Sementara itu, Paul Wolfowitz dari Departemen Luar Negeri bertanggung jawab atas tim kebijakan luar negeri yang terdiri dari antara lain, Lewis Libby, Francis Fukuyama dan Zalmay Khalilzad.
Menteri Pertahanan Robert Gates, yang kini menjabat dalam pemerintahan Obama, juga terlibat dalam mendirikan dasar untuk operasi rahasia CIA. Dia diangkat menjadi Wakil Direktur Intelijen oleh Ronald Reagan pada tahun 1982, dan Wakil Direktur CIA pada tahun 1986, posisi yang ia pegang sampai 1989. Gates memainkan peran kunci dalam perumusan NSDD 163, yang menetapkan kerangka kerja yang konsisten untuk mempromosikan fundamentalisme Islam dan menyalurkan dukungan rahasia kepada brigade Islam. Dia juga terlibat dalam skandal Iran Contra. .
Penerus Benazir Bhutto sebagai Perdana Menteri, adalah Mia Muhammad Nawaz Sharif dari Liga Muslim Pakistan (PML), kemudian digulingkan pada tahun 1999 dalam sebuah kudeta yang dipimpin oleh Jenderal Pervez Musharraf dengan dukungan Amerika Serikat.
