Islam Tidak Mengenal Dialektika Hegel(Tela’ah Dialektika Dalam Al-Qur’an) Oleh : Agus Junaedi, M.Ag Bagian Pertama Tesis-antitesis-sistesis, tiga kata yang sudah tidak asing dikalangan pencinta ilmu filsafat, dia adalah inti dari filsafat dialektika Hegel. Satu model dialektika yang diperkenalkan oleh Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 - 1831). Ia merupakan salah seorang filsuf Jerman yang paling masyhur dan menjadi banyak rujukan dari pemikiran Idealisme pada masa sekarang ini. Idealisme yang dimaksud adalah salah satu jenis pemikiran Newton yang mengutamakan ide atau gagasan sebagai sumber kebenaran.
Cikal bakal dari dasar filsafat ini adalah teori aksi-reaksinya Newton. Menurut Newton, seimbangan materi dialam terjadi karena adanya proses aksi-reaksi antar materi yang terus menerus tiada henti. Besarnya reaksi sebanding dengan besarnya aksi. Dasar teori aksi-reaksi Newton ini kemudian dikembangkan oleh Hegel dalam teori sejarahnya. Dan dalam dunia politik dan ekonomi dikembangkan oleh Karl Max. Ada empat hal yang perlu dicermati dari dialektiaka Hegel ini yang dipandang membahayakan bagi kelangsungan hidup manusia dan bertolak belakang dengan ajaran Islam;
Dielektika Hegel ini ibarat virus yang telah meracuni pikiran banyak orang hatta yang menyebut dirinya tokoh-tokoh Islam. Maka tak heran bencana yang ditimbulkan dimasyarakat sangat kompleks, karena kerusakan dimasyarakat bukan saja terjadi pada ranah kehidupan sosio-ekonomi-politik-ilmu saja, namun sudah masuk pada ranah keyakinan atau keagamaan seseorang.
Isaac Newton
Oleh karenanya jangan heran kalau dinegeri ini, tidak mungkin diharapkan berjalannya hukum-hukum Allah karena setalah ada hukum positif sebagai sintesa antara Islam dan sekuler yang dibuat oleh para petinggi yang berlabel muslim, kebodohan tidak akan pergi karena dia merupakan sebuah antithesis dari orang cerdas, kemiskinan akan abadi karena antitesis dari orang kaya, orang-orang berkepribadian ganda (waria, banci) akan bertambah karena sintesa dari pria-wanita, etc. Dalam arti yang sederhana, semua yang ada “dipelihara” karena dianggap sebagai dinamisator roda kehidupan dimasyarakat.
Karl Marx
Dalam perspektif Islam, konflik atau dialektika adalah suatu keniscayaan dalam realitas kehidupan, konflik ada bukan didasari oleh hukum kausalitas, namun keberadaanya atas dasar sunatullah. Konflik adalah tercipta sebagaimana adanya elemen-elemen lain untuk membentuk struktur kehidupan dunia. Konflik bukan harus diciptakan untuk menyeimbangkan satu elemen yang ada. Manusia berkewajiban menjalani konflik dengan mengikuti sunnah-Nya, karena konflik adalah bagian dari watak kehidupan dunia, oleh karenanya manusia tidak luput dari dialektika dalam kehidupannya. Oleh karenanya kemiskinan, kebodohan, korupsi, terorisme, kematian/sakit, etc tidak perlu direkayasa atau diciptakan karena semuanya akan ada sepanjang manusia hidup didunia. Seberapa pun usaha manusia mengadakan upaya mencerdaskan manusia, kebodohan akan senantiasa ada karena dia adalah watak kehidupan dunia, begitu pula sebesar apa pun usaha manusia menumpas kemiskinan, maka kemiskinan tidak akan sirna dari muka bumi, dan begitu pun yang lainnya. Jadi sepatutnya bagi seorang muslim, dalam memahami realitas dielektika wajib bin fardu mengikuti aturan main dialektika menurut Al-Qur’an dan al-Hadits bukan aturan si Hegel bin Newton. Karena tidak ada dielektika Hegel dalam Islam.
Dalam Islam tidak dikenal antitesis sebagai lawan yang harus diciptakan dari tesis. Islam mewajibkan ishlah (perbaikan) atau mengembalikan kepada trek yang benar atau mengembalikan kepada hukum-hukum Allah (al-Haq) jika terjadi kecenderungan manusia menuju al-Batil serta jika terjadi dialektika dikalangan umat, bukan membuat sintesa yang memungkinkan mengakomudir keduanya yang jelas dilarang dalam islam.
Tashlih (perbaikan) bukanlah sintesa, tashlih adalah upaya mengembalikan sesuatu perkara kepada tempatnya, kepada hukum-hukumnya yang Haq jika sesuatu cenderung kepada al-Batil. Mensintesa ada tiga kemungkinan, memenangkan, mengalahkan, atau mengakomodir keduanya. Maka mensintesa antara dua perkara yang berkonflik adalah perkara yang terlarang;
Melihat dari sejarah perkembangan dialektika Hegel yang lahir pada abad ke-17-18 dibandingkan dengan turunnya al-Qur’an pada abad ke-6. Ada kemungkinan bahwa dialektika Hegel merupakan penyimpangan dari delektika Islam, atau dealektika Hegel adalah dielektika yang batil yang merupakan versus dari dialektika Islam. Dialektika dalam perspektif Al-Qur’an
Dialektika (kontradiktif) dalam Al-Qur’an diistilahkan dengan jadal atau mujadalah. Dalam surat al-Kahfi 18:54 dijelaskan bahwa hukum-hukum dialektika bersumber dari Al-Qur’an.
Dalam konsepsi al-Qur’an dialektika terbagi dua macam;
Dialektika ini yang menyebabkan kehancuran sesuatu. Dialektika ini merupakan konflik internal antara dua unsur yang berlawanan pada segala sesuatu akan membawa terjadinya perubahan bentuk secara terus menerus. Konflik ini adalah rahasia dari evolusi dan perubahan yang terjadi secara terus-menerus didalam cosmos selama cosmos ini ada. Dalam al-Qur’an, dialektika seperti ini diistilahkan dengan tasbih, sebagai mana disebut dalam surat-surat berikut;
Tasbih berasal dari kata sa-ba-ha yang berarti “bergerak terus menerus layaknya seperti mengapung diatas air”. Sebagaimana disebut dalam surat al-Anbiya 21:33 tentang gerak segala sesuatu,
Dalam al-Qur’an, tasbih ditemukan dalam dua bentuk yakni; yang pertama tasbih “eksistensial” yakni hukum kontradiktif pada sesuatu yang membawa perubahan terus menerus, menuju kehancuran dan ini berlaku bagi seluruh mahluk. Yang kedua tasbih “kesadaran” yakni pengakuan dari mahluk yang berakal terhadap hukum-hukum perubahan. Maka ucapan subhanallah adalah bentuk pengakuan atau ikrar seseorang sebagai mahluk yang mempunyai kesadaran terhadap hukum-hukum perubahan, dan Allah Subhanahu wa Ta'ala terbebas dari hukum ini. Dalam kisah Nabi Yunus disebutkan bahwa Nabi Yunus mengalami tasbih esensial (QS al-Shaffat 37:139-144) dan melakukan tasbih kesadaran (QS al-Anbiya 21:87) Al-Qur’an telah mengilustrasikan secara simultan konflik internal dari segala yang berlawanan sebagaimana dalam firman-Nya,
Kata fa-la-qa adalah kata yang memiliki makna” jarak” atau “keterpisahan” dan juga makna keagungan. Sedangkan al-khalqu (penciptaan) memiliki makna sesuatu yang terpisah dari yang lainnya sehingga ia muncul dan Nampak. Begitu juga kata kha-ra-ja memiliki dua makna asal yang pertama ‘lepas sesuatu’ dan yang kedua perbedaan dua warna. Kata ikhraj adalah “melepaskan sesuatu dari yang lain”. Proses ini seperti digambarkan dalam ayat diatas terjadi pada proses pertumbuhan pohon dari biji. Al-Qur’an telah menggambarkan hukum dialektika internal dalam diri sesuatu dengan mengunakan bentuk-bentuk kalimat;
Sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat berikut;
وَفِي الأَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِّنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاء وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
Hukum perlawanan secara internal dari hal-hal yang bertentangan dalam satu wujud didasarkan pada hubungan saling mendekati atau saling menjauhi yang kedua unsur tersebut menyebabkan terjadinya gerak dalam dirinya yang kemudian memunculkan bentuk sesuatu secara terus menerus. Hukum ini bekerja secara internal dalam segala sesuatu material tanpa kecuali. Gerak saling mendekati atau menjauhi tersebut menggambarkan dialektika secara terus-menerus yang mengakibatkan gerak dalam diri sesuatu yang demikian itu memunculkan perubahan bentuk secara terus- menerus. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,
Jadi dialektika ini menjadi sunnatullah kehidupan yang keberadaanya tidak perlu direkayasa, karena dia akan berjalan menurut hukum-hukum kauniyah-Nya. Sesuatu (sya’i) ada itu disertai dengan penghancurnya dengan sifat-sifat yang telah digambarkan diatas. Oleh karena itu keberadaan sesuatu bersifat sementara yang selanjutnya diganti dengan sesuatu yang lain. Dalam realitas kehidupan manusia pun demikian, ada seorang muslim yang istiqamah, pasti akan ada muslim yang menyimpang, ada muslim jelas identitasnya dan pasti ada muslim yang samar identitasnya dan seterusnya . Demikian pula pada perkara lainnya. Jadi tinggal mana yang kita pilih !!! 2. Dialektika Eksternal antar dua sesuatu Yakni dialektika yang terjadi antara dua hal yang bersifat material dan non material, yang dalam bahasa al-Qur'an disebut zauj (berpasangan). Sebagaimana disebutkan dalam surat al-Dzariyat: 49;
Syi'ah Itsna Asariyah
Hukum "pasangan" adalah hukum dasar kedua yang segala sesuatu dialam material ini tunduk kepadanya. Al-Qur'an telah menggambarkan hubungan atau relasi dualis antara dua sesuatu, yang sebagian bisa dibedakan dari yang lain dan saling berhadapan dalam masalah tertentu dengan istilah "azwaj). Hubungan ini mencakup segenap wujud yang ada dialam. Dialektika eksternal ini meliputi;
Istilah al-zauj (pasangan) banyak ditemukan dalam banyak ayat al-Qur'an diantaranya;
Suami adalah pasangan bagi isterinya, demikian pula seorang isteri adalah pasangan bagi suaminya. Al-zauj dalam bahasa Arab makna dasarnya menunjukan kepada perbandingan sesuatu dengan sesuatu yang lain dan keterkaitannya melalui hubungan tertentu. Seorang perempuan menjadi jauz ketika ia berada dalam perlindungan seorang laki-laki. Maka dua orang yang memiliki persamaan gender tidak termasuk istilah jauz. Seperti disebutkan dalam ayat;
Pada ayat ini disebut itsnaini (dua orang) dan tidak mengatakan zaujaini (dua orang yang berpasangan) karena keduanya laki-laki. Untuk menjelaskan bahwa hukum berpasangan-perbandingan sesuatu dengan sesuatu yang lainnya dan konsekuensinya harus diikat dengan relasi tertentu, itu berlaku umum untuk semua wujud. Disebutkan dalam Yasin:36;
Wahabi
Disini digunakan kata "subhana" untuk mensucikan Allah dari berlakunya hukum "berpasangan" terhadap-Nya. Pasangan bukan merupakan hubungan antar unsur dalam diri sesuatu, melainkan hubungan eksternal antara dua sesuatu yang saling berhadapan baik itu diketahui maupun belum diketahui. Hukum ini menegaskan bahwa segala sesuatu pada kosmos material antara sebagiannya dengan sebagian lain tidak mungkin dipisahkan.
Relasi dari oposisi berpasangan berada dalam tingkatan berbeda-beda, dimana sesuatu berada dalam relasi dialektik oposional dengan sesuatu yang lain pada tingkat tertentu, sesuatu itu sendiri berada dalam relasi oposional dialektik yang lain dengan sesuatu yang ketiga pada tingkatan yang lain, demikian seterusnya. Dan dua yang berpasangan ada secara sekaligus dalam relasi dualitas-oposional dan dengan ini bisa dibedakan antara dua yang berlawanan. Dua yang berlawanan ini tidak bisa disatukan (sintesa) dalam artian tidak akan pernah bertemu secara bersamaan, akan tetapi antara keduanya terdapat hubungan beriringan. Dan hal tersebut tidak ada dalam segala sesuatu yang bersifat material, akan tetapi berada dalam fenomena-fenomena. Sebagaimana contoh dalam sejarah, fenomena tauhidullah akan senantiasa beriringan dengan kesyirikan. Keduanya akan ada berbarengan dan terjadi dilektik secara beriringan. Keduanya tidak bisa disatukan. Sintesa antara Tauhid dan syirik pernah ditawarkan pada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam oleh para tokoh-tokoh kaum musyrikin Mekah untuk menjamin keamanan dikedua belah pihak, namun sikap ini jelas dan terang ditentang Al-Qur'an dengan turunnya surat al-Kafirun sebagai jawaban terhadap penolakan sintesa tauhid dan syirik, walaupun pada saat itu menurut sebuah riwayat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ada kecenderungan kearah menerima sintesa. Ketegasan penolakan ini digambarkan tegas dalam surat tersebut;
Dalam contoh lain pun kita akan mendapati fenomena-fenomena yang berdialektis dalam hal keyakinan, yang kita bisa kategorisasi berdasarkan jenisnya;
Ahmadiyah
1. Fenomena Islam, Yahudi, Nashrani, Syi'ah, Wahabi, Ahmadiyah dan sekte-sekte lain, semuanya termasuk dialektika internal yang terjadi dalam agama samawi yang semuanya bersifat saling menghancurkan. Oleh karenanya Islam bisa hancur dan berganti dengan milah-milah yang telah menyeleweng dari sifat dasar agama samawi. Dengan dasar inilah keberadaan orang yang beragama Yahudi dan dan orang yang beragama Nashrani dan sempalan-sempalan yang menyeleweng dari Islam (pelaku bid'ah), harus dan patut lebih diwaspadai oleh seorang muslim dari pada keberadaan orang-orang kafir. Dan dengan dasar teori dielektika Al-Qur'an ini, maka tidak ada istilah bangsa Yahudi atau bangsa Nashrani sebab secara dialektis tidak ada bangsa Islam. Hal ini jelas sebagaimana ditegaskan dalam surat al-Baqarah 2:120
2. Fenomena iman dan kafir adalah termasuk kedalam dialektika eksternal yang keduanya ada secara dalam relasi dualitas-oposional dan dengan ini bisa dibedakan antara duanya. Dan Islam-kafir tidak bisa disatukan (sintesa) dalam artian tidak akan pernah bertemu secara bersamaan, akan tetapi antara keduanya terdapat hubungan beriringan dan saling mempengaruhi. Sebagaimana salah satunya disebutkan dalam surat Ali Imran 3:177
Dan banyak fenomena-fenomena yang dapat kita timbang dengan teori dialektika al-Qur'an ini,wallahu'alam bissawab. Islam Tidak Mengenal Dialektika Hegel - Bagian Kedua
Set as favorite
Bookmark
Hits: 1798 Comments (4)
![]()
Nona
said:
|
|
... Jadi peran para konspirator mulai dari tingkat yang kecil sampai besar menciptakan konflik baik yang intralevel/antarlevel, internal/eksternal. Padahal, konflik membuat kita memilih daripada menyelesaikan yang biasanya hanya menguntungkan satu pihak saja. Para konspirator ini juga menjebloskan manusia melawan kehendak Allah SWT (rekayasa genetik, LHC, HAARP, teknologi nano, social engineering). Kalau memang dilakukan secara terpusat dan terkoordinir secara global bukankah hasil akhirnya adalah kehancuran total. Lalu kehancuran total yang dihasilkan masuk ke azab atau qiamat? |
|
bocahe
said:
|
sedang lupa manusia berakal dan berhawa nafsu, fitrahnya menyadari bahwa ia diciptakan. manusia sombong = merasa paling benar dengan akal, mengejar kekuasaan dengan hawa nafsu, mengkhianati hati nurani dengan melupakan tauhid = membela keyakinan hizb / firqah dengan membabi buta hingga melupakan apakah fitrah manusia itu sendiri.. hmm, mungkin manusia sombong sedang lupa kalau dia manusia |
|







