larger smaller reset

Islam Tidak Mengenal Dialektika Hegel

 (Tela’ah Dialektika Dalam Al-Qur’an)

 Clip_2

Oleh : Agus Junaedi, M.Ag

Bagian Pertama

Tesis-antitesis-sistesis, tiga kata yang sudah tidak asing dikalangan  pencinta ilmu filsafat, dia adalah inti dari  filsafat dialektika Hegel. Satu model dialektika yang diperkenalkan oleh Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 - 1831). Ia merupakan salah seorang filsuf Jerman yang paling masyhur dan menjadi banyak rujukan dari pemikiran Idealisme pada masa sekarang ini. Idealisme yang dimaksud adalah salah satu jenis pemikiran Newton  yang mengutamakan ide atau gagasan sebagai sumber kebenaran.

hegel11
Georg WF Hegel
Dan siapa sangka dari tiga kata sederhana itu, banyak orang yang  tidak sadar bahwa realita yang ada didalam aspek kehidupan masyarakat yang meliputi politik, ekonomi, budaya, agama, teknologi dll.  adalah proses “rekayasa”  para pengambil keputusan yang didasari oleh teori  dialektikanya Hegel.

Cikal bakal dari dasar filsafat ini adalah teori aksi-reaksinya Newton.  Menurut Newton, seimbangan materi  dialam terjadi karena adanya proses aksi-reaksi antar materi yang terus menerus tiada henti. Besarnya reaksi sebanding dengan besarnya aksi. Dasar teori aksi-reaksi Newton ini kemudian dikembangkan oleh Hegel dalam teori sejarahnya. Dan dalam dunia politik dan ekonomi dikembangkan oleh Karl Max.

Ada empat hal yang perlu dicermati dari  dialektiaka Hegel ini yang dipandang membahayakan bagi kelangsungan hidup manusia dan bertolak belakang dengan ajaran Islam;
  1. Adanya proses “rekayasa” atau “penciptaan” konflik (dialektika) dimasyarakat, dan konflik ini dipandang perlu diciptakan sebagai dasar dinamisasi kehidupan masyarakat. Tesis sengaja diciptakan, antithesis sengaja diciptakan, dan sintesis pun sengaja diciptakan sebagai tesis baru, demikian seterusnya.
  2. Generalisasi sintesis, ada upaya pemaksaan sintetesa terhadap segala sesuatu yang dipandang berdialektis. Padahal tidak semua fenomena dialektis itu selalu ada sintesa, dan dalam islam tidak ada sintesa yang ada adalah tashlih (perbaikan).
  3. Menjadikan hukum kausalitas (sebab-akibat) menjadi dasar adanya kehidupan yang ujung-ujungnya akan meniadakan keberadaan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menciptakan hukum kehidupan.
  4. Ujung dari dialektika Hegel adalah “materialisme” menjadikan seluruh manusia menjadi barang ekonomi.

Dielektika Hegel ini ibarat virus yang telah meracuni pikiran banyak orang hatta yang menyebut dirinya tokoh-tokoh Islam. Maka tak heran bencana yang ditimbulkan dimasyarakat sangat kompleks, karena kerusakan dimasyarakat bukan saja terjadi pada ranah kehidupan sosio-ekonomi-politik-ilmu saja, namun sudah masuk pada ranah keyakinan atau keagamaan seseorang.

isaac-newton1
Isaac Newton
Oleh karenanya jangan heran kalau dinegeri ini, tidak mungkin diharapkan berjalannya hukum-hukum Allah karena setalah ada hukum positif sebagai sintesa antara Islam dan sekuler yang dibuat oleh para petinggi yang berlabel muslim, kebodohan tidak akan pergi karena dia merupakan sebuah antithesis dari orang cerdas, kemiskinan akan abadi karena antitesis dari orang kaya, orang-orang berkepribadian ganda (waria, banci) akan bertambah karena sintesa dari pria-wanita,  etc.  Dalam arti yang sederhana, semua yang ada “dipelihara” karena dianggap sebagai dinamisator roda kehidupan dimasyarakat.

marx-v1
Karl Marx
Dalam perspektif Islam, konflik atau dialektika adalah suatu keniscayaan dalam realitas kehidupan, konflik ada bukan didasari oleh hukum kausalitas, namun keberadaanya atas dasar sunatullah.  Konflik adalah  tercipta sebagaimana adanya elemen-elemen lain untuk membentuk struktur kehidupan dunia. Konflik bukan harus diciptakan  untuk menyeimbangkan satu elemen yang ada. Manusia berkewajiban menjalani konflik dengan mengikuti sunnah-Nya, karena konflik adalah bagian dari watak kehidupan dunia, oleh karenanya manusia tidak luput dari dialektika dalam kehidupannya. Oleh karenanya kemiskinan, kebodohan, korupsi, terorisme, kematian/sakit, etc tidak perlu direkayasa atau diciptakan karena semuanya akan ada sepanjang manusia hidup didunia. Seberapa pun usaha manusia mengadakan upaya mencerdaskan manusia, kebodohan akan senantiasa ada karena dia adalah watak kehidupan dunia, begitu pula sebesar apa pun usaha manusia menumpas kemiskinan, maka kemiskinan tidak akan sirna dari muka bumi, dan begitu pun yang lainnya. Jadi sepatutnya bagi seorang muslim, dalam memahami realitas dielektika wajib bin fardu mengikuti aturan main dialektika menurut Al-Qur’an dan al-Hadits bukan aturan si Hegel bin Newton. Karena tidak ada dielektika Hegel dalam Islam.

Dalam Islam tidak dikenal antitesis sebagai lawan yang harus diciptakan dari tesis. Islam mewajibkan ishlah (perbaikan) atau mengembalikan kepada trek yang benar atau mengembalikan kepada hukum-hukum Allah (al-Haq) jika terjadi kecenderungan manusia menuju al-Batil serta jika terjadi dialektika dikalangan umat, bukan membuat sintesa  yang memungkinkan mengakomudir keduanya  yang jelas dilarang dalam islam.

وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِن فَاءتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِين

Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin konflik maka buatlah perbaikan antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka buatlah perbaikan antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS al-Hujurat 49:9)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berdialektik  tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS al-Nisa 4:59)

Tashlih (perbaikan)  bukanlah sintesa, tashlih adalah upaya mengembalikan sesuatu perkara kepada tempatnya, kepada hukum-hukumnya yang Haq jika sesuatu cenderung kepada al-Batil. Mensintesa ada tiga kemungkinan, memenangkan, mengalahkan, atau mengakomodir keduanya. Maka mensintesa antara dua perkara yang berkonflik adalah perkara yang terlarang;

لاَ تَلْبِسُواْ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُواْ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu sintesakan  yang haq dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui.”  (QS al-Baqarah 2:42)

Melihat dari sejarah perkembangan dialektika Hegel yang lahir pada abad ke-17-18 dibandingkan dengan turunnya al-Qur’an pada abad ke-6. Ada kemungkinan bahwa dialektika Hegel merupakan penyimpangan dari delektika Islam, atau  dealektika Hegel adalah dielektika yang batil yang merupakan versus dari dialektika Islam.

 Dialektika dalam perspektif Al-Qur’an

Dialektika (kontradiktif) dalam Al-Qur’an diistilahkan dengan jadal atau mujadalah. Dalam surat al-Kahfi 18:54 dijelaskan bahwa hukum-hukum dialektika bersumber dari Al-Qur’an.

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِن كُلِّ مَثَلٍ وَكَانَ الْإِنسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلاً

Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Qur'an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak berdialektika. (QS Al-Kahfi 18:54)

 Dalam konsepsi al-Qur’an dialektika terbagi dua macam;

  1. Dialektika internal dalam sesuatu yang satu.

 Dialektika ini yang menyebabkan kehancuran sesuatu. Dialektika ini merupakan  konflik internal antara dua unsur yang berlawanan pada segala sesuatu akan membawa terjadinya perubahan bentuk secara terus menerus. Konflik ini adalah rahasia dari evolusi dan perubahan yang terjadi secara terus-menerus didalam cosmos selama cosmos ini ada. Dalam al-Qur’an, dialektika  seperti ini diistilahkan dengan tasbih, sebagai mana disebut dalam surat-surat berikut;

 
 

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدَهِ وَلَـكِن لاَّ تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيماً غَفُوراً

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.(QS al-Isra’ 17:44) 

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.( QS al-Hadid 22:1, QS al-Hasyr 59:1, QS al-Shaf 61:1) 

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS al-Jumu’ah 62:1, QS al-Taghabun 64:1)

Tasbih berasal dari kata sa-ba-ha yang berarti “bergerak terus menerus layaknya seperti mengapung diatas air”.  Sebagaimana disebut dalam surat al-Anbiya 21:33 tentang gerak segala sesuatu,

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya. (QS al-Anbiya 21:33)

Dalam al-Qur’an, tasbih ditemukan dalam dua bentuk yakni; yang pertama tasbih “eksistensial” yakni hukum  kontradiktif pada sesuatu yang membawa perubahan terus menerus, menuju kehancuran dan ini berlaku bagi seluruh mahluk.  Yang kedua tasbih “kesadaran” yakni pengakuan dari mahluk yang berakal terhadap hukum-hukum perubahan.  Maka ucapan subhanallah adalah bentuk pengakuan atau ikrar seseorang sebagai mahluk yang mempunyai kesadaran terhadap hukum-hukum perubahan, dan Allah  Subhanahu wa Ta'ala terbebas dari hukum ini. Dalam kisah Nabi Yunus disebutkan bahwa Nabi Yunus mengalami tasbih esensial (QS al-Shaffat 37:139-144) dan melakukan tasbih kesadaran (QS al-Anbiya 21:87)

Al-Qur’an telah mengilustrasikan secara simultan konflik internal dari segala yang berlawanan sebagaimana dalam firman-Nya,

إِنَّ اللّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَى يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَيِّ ذَلِكُمُ اللّهُ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ

Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?. (Al-An’am:95)

Kata fa-la-qa adalah kata yang memiliki makna” jarak” atau “keterpisahan” dan juga makna keagungan. Sedangkan  al-khalqu (penciptaan) memiliki makna sesuatu yang terpisah dari yang lainnya sehingga ia muncul dan Nampak. Begitu juga kata kha-ra-ja memiliki dua makna asal yang pertama ‘lepas sesuatu’ dan yang kedua perbedaan dua warna. Kata ikhraj adalah “melepaskan sesuatu dari yang lain”. Proses ini seperti digambarkan dalam ayat diatas terjadi pada proses pertumbuhan pohon dari biji.

Al-Qur’an telah menggambarkan hukum dialektika internal dalam diri sesuatu dengan mengunakan bentuk-bentuk kalimat;

  1. Mukhallaqah wa ghaira mukhallaqah (yang mempunyai rancangan dan yang tidak mempunyai rancangan)
  2. Shinwan wa ghaira shinwan (yang bercabang dan yang tidak bercabang)
  3. Mutasyabih wa ghaira mutasyabih (yang samar dan yang tidak samar)
  4. Ma’rusyat wa ghaira ma’rusyat (menjalar dan tidak menjalar)

Sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat berikut;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاء إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلاً ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّى وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِن بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئاً وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاء اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنبَتَتْ مِن كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (QS al-Hajj 22:5)

وَفِي الأَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِّنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاء وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.(QS al-Ra’du 15:4)

وَهُوَ الَّذِي أَنشَأَ جَنَّاتٍ مَّعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفاً أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهاً وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ كُلُواْ مِن ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُواْ حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang menjalar dan yang tidak menjalar, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama serupa (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS al-An’am 6:141)

Hukum perlawanan secara internal dari hal-hal yang bertentangan dalam satu wujud didasarkan pada hubungan saling mendekati atau saling menjauhi yang kedua unsur tersebut menyebabkan terjadinya gerak dalam dirinya yang kemudian memunculkan bentuk sesuatu secara terus menerus.  Hukum ini bekerja secara internal dalam segala sesuatu  material tanpa kecuali. Gerak saling mendekati atau menjauhi tersebut menggambarkan  dialektika secara terus-menerus yang mengakibatkan gerak dalam diri sesuatu yang demikian itu memunculkan perubahan bentuk secara terus- menerus.  Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan. (QS al-Qashash 28:88)

Jadi dialektika ini menjadi sunnatullah kehidupan yang keberadaanya tidak perlu direkayasa, karena dia akan berjalan menurut hukum-hukum kauniyah-Nya. Sesuatu (sya’i) ada itu disertai dengan penghancurnya dengan sifat-sifat yang telah digambarkan diatas. Oleh karena itu keberadaan sesuatu bersifat sementara yang selanjutnya diganti dengan sesuatu yang lain.

Dalam realitas kehidupan manusia pun demikian, ada seorang muslim yang istiqamah, pasti akan ada muslim yang menyimpang, ada muslim jelas identitasnya dan pasti  ada muslim yang samar identitasnya dan seterusnya . Demikian pula pada perkara lainnya. Jadi tinggal mana yang kita pilih !!!

2. Dialektika Eksternal antar dua sesuatu

Yakni dialektika yang terjadi antara dua hal yang bersifat material dan non material, yang dalam bahasa al-Qur'an disebut zauj (berpasangan). Sebagaimana disebutkan dalam surat al-Dzariyat: 49;

وَمِن كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah. (al-Dzariyat:49)

kho
Syi'ah Itsna Asariyah
Hukum "pasangan" adalah hukum dasar kedua yang segala sesuatu dialam material ini tunduk kepadanya. Al-Qur'an telah menggambarkan hubungan atau relasi dualis antara dua sesuatu, yang sebagian bisa dibedakan dari yang lain dan saling berhadapan dalam masalah tertentu dengan istilah "azwaj). Hubungan ini mencakup segenap wujud yang ada dialam. Dialektika eksternal ini meliputi;
  • Dualitas oposional antara dua hal yang bersifat material yang antara keduanya dipertemukan oleh relasi tertentu. Dualitas ini menyebabkan terjadinya dialektika eksternal antara keduanya yang didasarkan atas perlawanan non-kontradiktif dalam dua arah. Dialektika ini didasarkan atas proses saling pengaruh-mempengaruhi secara timbal balik anatar dua hal yang menyebabkan terjadinya harmoni antara kedua yang berpasangan.

  • Dualitas beriringan antara dua fenomena yang tidak pernah bisa dipertemukan, karena keberadaan yang satu menafikan keberadaan yang lain. Dualitas ini membawa kepada dialektika perlawanan dalam fenomena dunia fisik non-organik sebagai akibat gerak mekanik benda-benda padat, seperti beriringan siang dan malam. Disamping itu juga terjadi pada dunia organik sebagai akibat dari gerak organis mahluk hidup, seperti gerak membuka dan menggenggam tangan, menghirup dan menghembus pada saat bernapas. Dialektika ini didasarkan atas perlawanan kontradiktif secara beriringan antara dua hal yang berlawanan.

Istilah al-zauj (pasangan) banyak ditemukan dalam banyak ayat al-Qur'an diantaranya;

وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنثَى

dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan. (al-Najm:45)

Suami adalah pasangan bagi isterinya, demikian pula seorang isteri adalah pasangan bagi suaminya.

Al-zauj dalam bahasa Arab makna dasarnya menunjukan kepada perbandingan sesuatu dengan sesuatu yang lain dan keterkaitannya melalui hubungan tertentu. Seorang perempuan menjadi jauz ketika ia berada dalam perlindungan seorang laki-laki. Maka dua orang yang memiliki persamaan gender tidak termasuk istilah jauz. Seperti disebutkan dalam ayat;

إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ

ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, (Al-taubah:40)

Pada ayat ini disebut itsnaini (dua orang) dan tidak mengatakan zaujaini (dua orang yang berpasangan) karena keduanya laki-laki.

Untuk menjelaskan bahwa hukum berpasangan-perbandingan sesuatu dengan sesuatu yang lainnya dan konsekuensinya harus diikat dengan relasi tertentu, itu berlaku umum untuk semua wujud. Disebutkan dalam Yasin:36;

سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ

Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. ( Yasin:36)

osama-wahabi
Wahabi
Disini digunakan kata "subhana" untuk mensucikan Allah dari berlakunya hukum "berpasangan" terhadap-Nya. Pasangan bukan merupakan hubungan antar unsur dalam diri sesuatu, melainkan hubungan eksternal antara dua sesuatu yang saling berhadapan baik itu diketahui maupun belum diketahui. Hukum ini menegaskan bahwa segala sesuatu pada kosmos material antara sebagiannya dengan sebagian lain tidak mungkin dipisahkan.

Relasi dari oposisi berpasangan berada dalam tingkatan berbeda-beda, dimana sesuatu berada dalam relasi dialektik oposional dengan sesuatu yang lain pada tingkat tertentu, sesuatu itu sendiri berada dalam relasi oposional dialektik yang lain dengan sesuatu yang ketiga pada tingkatan yang lain, demikian seterusnya.

Dan dua yang berpasangan ada secara sekaligus dalam relasi dualitas-oposional dan dengan ini bisa dibedakan antara dua yang berlawanan. Dua yang berlawanan ini tidak bisa disatukan (sintesa) dalam artian tidak akan pernah bertemu secara bersamaan, akan tetapi antara keduanya terdapat hubungan beriringan. Dan hal tersebut tidak ada dalam segala sesuatu yang bersifat material, akan tetapi berada dalam fenomena-fenomena.

Sebagaimana contoh dalam sejarah, fenomena tauhidullah akan senantiasa beriringan dengan kesyirikan. Keduanya akan ada berbarengan dan terjadi dilektik secara beriringan. Keduanya tidak bisa disatukan. Sintesa antara Tauhid dan syirik pernah ditawarkan pada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam oleh para tokoh-tokoh kaum musyrikin Mekah untuk menjamin keamanan dikedua belah pihak, namun sikap ini jelas dan terang ditentang Al-Qur'an dengan turunnya surat al-Kafirun sebagai jawaban terhadap penolakan sintesa tauhid dan syirik, walaupun pada saat itu menurut sebuah riwayat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ada kecenderungan kearah menerima sintesa. Ketegasan penolakan ini digambarkan tegas dalam surat tersebut;

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ۞ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ۞ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ۞ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ۞ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ۞ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ۞

Katakanlah: "Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku". (al-Kafirun:1-6)

Dalam contoh lain pun kita akan mendapati fenomena-fenomena yang berdialektis dalam hal keyakinan, yang kita bisa kategorisasi berdasarkan jenisnya;

ahmadiyah
Ahmadiyah
1. Fenomena Islam, Yahudi, Nashrani, Syi'ah, Wahabi, Ahmadiyah dan sekte-sekte lain, semuanya termasuk dialektika internal yang terjadi dalam agama samawi yang semuanya bersifat saling menghancurkan. Oleh karenanya Islam bisa hancur dan berganti dengan milah-milah yang telah menyeleweng dari sifat dasar agama samawi. Dengan dasar inilah keberadaan orang yang beragama Yahudi dan dan orang yang beragama Nashrani dan sempalan-sempalan yang menyeleweng dari Islam (pelaku bid'ah), harus dan patut lebih diwaspadai oleh seorang muslim dari pada keberadaan orang-orang kafir. Dan dengan dasar teori dielektika Al-Qur'an ini, maka tidak ada istilah bangsa Yahudi atau bangsa Nashrani sebab secara dialektis tidak ada bangsa Islam. Hal ini jelas sebagaimana ditegaskan dalam surat al-Baqarah 2:120

وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ

Orang-orang yang beragama Yahudi dan orang-orang yang beragama Nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu (orang yang beragama Islam) mengikuti millah mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (Al-Baqarah 2:120)

2. Fenomena iman dan kafir adalah termasuk kedalam dialektika eksternal yang keduanya ada secara dalam relasi dualitas-oposional dan dengan ini bisa dibedakan antara duanya. Dan Islam-kafir tidak bisa disatukan (sintesa) dalam artian tidak akan pernah bertemu secara bersamaan, akan tetapi antara keduanya terdapat hubungan beriringan dan saling mempengaruhi. Sebagaimana salah satunya disebutkan dalam surat Ali Imran 3:177

إِنَّ الَّذِينَ اشْتَرَوُاْ الْكُفْرَ بِالإِيمَانِ لَن يَضُرُّواْ اللّهَ شَيْئاً وَلهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-kali mereka tidak akan dapat memberi mudarat kepada Allah sedikit pun; dan bagi mereka adzab yang pedih.(Al-Imran :177).

Dan banyak fenomena-fenomena yang dapat kita timbang dengan teori dialektika al-Qur'an ini,wallahu'alam bissawab.

Islam Tidak Mengenal Dialektika Hegel - Bagian Kedua

Comments (4)add comment

syalala said:

...
makar konspirator gak akan terjadi tanpa idzin Alloh. allohu'alam
 
September 30, 2010
Votes: +0

Nona said:

...
Jadi peran para konspirator mulai dari tingkat yang kecil sampai besar menciptakan konflik baik yang intralevel/antarlevel, internal/eksternal. Padahal, konflik membuat kita memilih daripada menyelesaikan yang biasanya hanya menguntungkan satu pihak saja. Para konspirator ini juga menjebloskan manusia melawan kehendak Allah SWT (rekayasa genetik, LHC, HAARP, teknologi nano, social engineering). Kalau memang dilakukan secara terpusat dan terkoordinir secara global bukankah hasil akhirnya adalah kehancuran total. Lalu kehancuran total yang dihasilkan masuk ke azab atau qiamat?
 
September 30, 2010
Votes: +0

admin said:

Say No to Hizb

to: bochahe,

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

"Sesungguhnya Allah itu bagus menyukai yang bagus, kesombongan itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia." (HR Muslim 131)
 
June 02, 2010
Votes: +0

bocahe said:

sedang lupa
manusia berakal dan berhawa nafsu,
fitrahnya menyadari bahwa ia diciptakan.

manusia sombong = merasa paling benar dengan akal, mengejar kekuasaan dengan hawa nafsu, mengkhianati hati nurani dengan melupakan tauhid = membela keyakinan hizb / firqah dengan membabi buta hingga melupakan apakah fitrah manusia itu sendiri..

hmm, mungkin manusia sombong sedang lupa kalau dia manusia
 
May 31, 2010
Votes: +0

Write comment

busy