Islam Tidak Mengenal Dialektika Hegel
Tela’ah Dialektika Dalam Al-Qur’an
Bagian Kedua

Oleh : Agus Junaedi,M.Ag
Dialektika Internal Manusia
Pada pembahasan sebelumnya telah disebutkan bahwa dialektika akan berlaku untuk segala sesuatu yang bersifat material, dan dialektika ini juga berlaku untuk manusia dengan keberadaanya sebagai entitas yang hidup dan berdimensi material. Al-Qur’an menyebutkan bahwa ada dialektika yang khusus yang terjadi pada manusia. Sebagaimana disebut dalam surat al-Kahfi 18:54;
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِن كُلِّ مَثَلٍ وَكَانَ الْإِنسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلاً
“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Qur'an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak berdialektika.” (QS Al-Kahfi 18:54).
Ayat diatas menegaskan bahwa ada dialektika khusus bagi manusia yang tidak terdapat pada sesuatu yang lainnya. Dialektika ini adalah dialektika pikiran, dimana manusia dibedakan dari segala sesuatu yang lainnya karena keberadaanya sebagai entitas yang berakal dan berpikir. Dialektika pikiran yang terjadi pada diri manusia adalah dialektika antara al-haq (yang riil) dan al-batil (yang ilusi) yang senantiasa berbaur dengan pola hubungan yang bersifat dialektis, tanpa pernah berhenti.
Terjadinya dialektika pikiran pada diri manusia, karena manusia memiliki kedua potensi untuk dekat dengan al-haq juga dekat dengan al-batil, sebagaimana disebutkan dalam surat al-syam :8;
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
“ ... maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (potensi) kefasikan dan ketakwaannya, (QS asy-Syams 91:8)
Ketakwaan (al-Haq, yang riil) terpisah dari kefasikah (al-Batil, yang ilusi) untuk jangka waktu tertentu, lalu segera akan berbaur dengan pola-pola baru sehingga perlu dipisahkan kembali, demikian seterusnya sehingga Allah Subhanahu wa Ta'ala menghancurkan kosmos ini. Allah mengumpamakan percampuran antara al-Haq dan al-Batil dengan air yang bercampur lumpur. Air perlu disaring dan disterilkan kembali agar menjadi jernih. Begitu juga diumpamakan dengan besi yang masih bercampur demngan kotoran-kotoran yang perlu dipanaskan dalam tanur tinggi untuk proses pemisahan unsur besi dari kotorannya, sebagaimana disebutkan dalam surat ar-Rad 13:17:
أَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَداً رَّابِياً وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاء حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاء وَأَمَّا مَا يَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللّهُ الأَمْثَالَ
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. (QS ar-Rad 13:17)
Pemisahan antara al-Haq dan al-Batil hanya dapat dilakukan dengan pengetahuan manusia. Manusia yang berpengetahuan akan mampu untuk memisahkan pencampuran al-Haq dan al-Batil, walaupun dalam kenyataanya manusia yang berilmu itu berpihak kepada kebatilan. Allah Subhanahu wa Ta'ala mencela Bani isra’il yang memiliki sikap seperti ini sebagaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah 2:42
وَآمِنُواْ بِمَا أَنزَلْتُ مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَكُمْ وَلاَ تَكُونُواْ أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَناً قَلِيلاً وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ وَلاَ تَلْبِسُواْ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُواْ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan berimanlah kamu (Bani Isra’il) kepada apa yang telah Aku turunkan (Al-Qur'an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Aku-lah kamu harus bertakwa, dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (QS Al-Baqarah 2:41-42)
Sikap menutupi al-Haq tentu saat ini bukan saja merupakan watak Bani Israil semata, namun menjadi watak umum kebanyakan orang yang berilmu termasuk kelompok agamawan dari islam yang nota benenya berpredikat ulama, hal ini pun persis sebagaimana dilakukan oleh ulama-ulama Bani Isra’il. Dalam riwayat Imam Ahmad hal ini disebutkan;
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا وَقَعَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ فِي الْمَعَاصِي نَهَتْهُمْ عُلَمَاؤُهُمْ فَلَمْ يَنْتَهُوا فَجَالَسُوهُمْ فِي مَجَالِسِهِمْ قَالَ يَزِيدُ أَحْسِبُهُ قَالَ وَأَسْوَاقِهِمْ وَوَاكَلُوهُمْ وَشَارَبُوهُمْ فَضَرَبَ اللَّهُ قُلُوبَ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ وَلَعَنَهُمْ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ) ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى تَأْطُرُوهُمْ عَلَى الْحَقِّ أَطْرًا
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ketika Bani Isra`il tenggelam dalam kemaksiatan, para ulama mereka melarang mereka namun mereka tidak berhenti, lalu para ulama itu berbaur dengan mereka di majlis-majlis mereka." Yazid berkata; Aku mengira beliau bersabda: "Di pasar-pasar, mereka makan dan minum bersama mereka. Lalu Allah mematikan hati sebagian mereka seperti sebagian yang lain dan melaknat mereka melalui lisan Daud dan Isa bin Maryam: (Hal itu karena perbuatan maksiat mereka dan karena mereka melampaui batas)." Ketika itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersandar lalu beliau duduk seraya bersabda: "Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, hingga kalian mengembalikan mereka kepada kebenaran." (H.R Ahmad)
Dialektika yang terjadi pada pikiran manusia didasarkan atas dialektika berlawanan pada fenomenanya dan dialektika kontradiktif dalam substansinya dan bukan dialektika berpasangan. Oleh karenanya al-Qur’an mengambarkan keadaan orang lafir yang menutupi al-Haq disebut berdialektika dengan cara batil, sebagaimana dilukiskan dalam surat al-Kahfi 18:56:
وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَيُجَادِلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَمَا أُنذِرُوا هُزُواً
Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir berdialektika dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang haq, dan mereka menganggap ayat-ayat Kami dan peringatan-peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokkan. (QS al-Kahfi 18:56)
Maka sikap-sikap yang menunjuk penolakan terhadap kebenaran (ayat-ayat Allah) atau menutupi kebenaran setelah sampai padanya pengetahuan tentang kebenaran itu, adalah upaya yang sia-sia yang tidak akan sampai padanya kemenangan dan pelakunya berhak menyandang gelar kafir, Al-Qur’an secara tegas menggambarkan hal tersebut dalam ayat-ayat berikut;
إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِن فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَّا هُم بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Sesungguhnya orang-orang yang berdialektika tentang ayat-ayat Allah tanpa pengetahuan kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Al-Mu’min 40:56)
وَيَعْلَمَ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِنَا مَا لَهُم مِّن مَّحِيصٍ
“Dan supaya orang-orang yang berdialktika dengan ayat-ayat Kami mengetahui bahwa mereka sekali-kali tidak akan memperoleh jalan ke luar (dari siksaan). (QS Asy—Syuura 42:35)
مِنْهُم مَّن يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْراً وَإِن يَرَوْاْ كُلَّ آيَةٍ لاَّ يُؤْمِنُواْ بِهَا حَتَّى إِذَا جَآؤُوكَ يُجَادِلُونَكَ يَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُواْ إِنْ هَذَا إِلاَّ أَسَاطِيرُ الأَوَّلِينَ
“Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan) mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jika pun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk berdialektika denganmu, orang-orang kafir itu berkata: "Al Qur'an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu". (QS Al-An’am 6:25)
مَا يُجَادِلُ فِي آيَاتِ اللَّهِ إِلَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَا يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلَادِ
“Tidak ada yang berdialektika tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir. Karena itu janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu.” (QS Al-Mukmin 40:4)
Oleh karenanya siapa pun orangnya, dia akan mengadapi dialektika internal didalam dirinya yakni pertempuran antara al-Haq dan al-Batil didalam pikirannya hatta dia seorang Rasulullah. Namun jika dia berhasil memisahkan perbauran antara al-Haq atas al-Batil, maka dia mendapati kemenangan dan dia berjalan diatas fitrah kemanusiaan. Namun jika dia membiarkan perbauran antara al-Haq dan al-Batil maka dia akan senantiasa terperosok kedalam kebatilan dan celaka olehnya. Sifat Rahmaniyah dan syaitoniyah selamanya akan menyertai manusia sepanjang manusia menjalani kehidupannya dan senantiasa berdialektika dalam pikiran manusia.
Dialektika Eksternal Manusia
Yakni dialektika yang terjadi antar sesama manusia lainnya pada hubungan sosial, ekonomi, politik dan pemikiran manusia. Dialeketika model ini terbagi dua bentuk;
-
Dialektika yang saling membenahi dan tidak saling bermusuhan, artinya terjadi posisi dialektis antara dua kelompok manusia, akan tetapi posisi ini bukan posisi yang saling bermusuhan. Al-Qur’an menyebutnya dengan al-jadal bil-lati hiya ahsan (berdialektika dengan cara yang baik), sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Ankabut 29 :46
وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنزِلَ إِلَيْنَا وَأُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
“Dan janganlah kamu berdialektika dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang dzalim di antara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri". (QS al-Ankabut 29:46)
Ayat ini menjelaskan posisi yang jelas hubungan kaum muslimin dengan posisi Ahli Kitab (non Muslim) yakni hubungan ideologis hubungan yang saling membenahi. Artinya ada posisi dialektis namun tidak bermusuhan. Namun demikian pada apa yang masih ada terkait keadilan dan kedzaliman, maka dimungkinkan ada dialektika yang saling bermusuhan antara kaum muslimin dengan Ahlul Kitab, sebagaimana disinyalir dengan frasa “kecuali dengan orang-orang dzalim di antara mereka”. Dialektika ini juga berlaku untuk sesama muslim sepanjang telah nampak kedzaliman dan ketidakadilan sesama mereka.
-
Dialketika yang saling menyerang, yakni dialektika saling bermusuhan. Dialektika yang dalam substansinya kontradiktif dan penampaknnya berlawanan. Dialektika ini dibenarkan dalam kondisi sebagai berikut;
- a. pada kondisi didzalimi
لاَّ يُحِبُّ اللّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوَءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلاَّ مَن ظُلِمَ وَكَانَ اللّهُ سَمِيعاً عَلِيماً
“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS an-Nisa 4:148)
ا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS Al-Mumtahanah 60:8)
-
b. Ketika dalam kondisi pertarungan secara ideologis dan politis bagi sekelompok orang yang berniat dan nyata-nyata menyakiti orang-orang Islam. Sebagaimana hubungan Rasuluyllah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersama kaum muslimin dengan orang-orang musyrik Arab, seperti dijelaskan dalam ayat Az-Zuhruf 43:57-58)
لَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلاً إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ وَقَالُوا أَآلِهَتُنَا خَيْرٌ أَمْ هُوَ مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلاً بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ
“Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. Dan mereka berkata: "Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)? Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud berdialektika, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. (QS az-Zuhruf 43:57-58)
Jika kita mencermati surat al-mumtahanah ayat 8, tidak mengatakan “dari kalangan Ahlul Kitab” akan tetapi mengunakan bentuk umum untuk semua manusia. Artinya adalah suatu kewajiban bagi umat Islam untuk tetap dalam hubungan dialektis yang tidak menyerang dengan semua manusia yang mempunyai posisi-posisi sebaliknya. Kecuali mereka yang mengambil posisi dialektis yang saling menyerang dengan posisi umat Islam dan mereka yang mencoba menguasai tanah air orang Islam, dan juga dengan orang-orang dzalim dari kalangan Muslim atau pun diluar mereka.
Dialektika Bahasa Al-Qur’an
Dialektika bahasa Al-Qur’an yang dimaksud adalah berupa perlawanan bahasa bukan kontradiksi ataupun pasangan. Konsep perlawanan sama sekali berbeda dengan konsep kontradiksi. Perlawanan hanya dapat ditemukan dalam ”fenomena-fenomena” sesuatu yang dapat dipelajari oleh manusia. Misalnya fenomena kematian dan kehidupan atau adanya siang dan malam adalah fenomena natural, dan ini terikat oleh hukum dialektika pertama pada sesuatu. Juga terikat oleh kesatuan perlawanan, dimana hal-hal yang saling berlawanan saling menafikan antara satu dengan yang lain, yang keduanya tidak saling bertemu melainkan saling mengikuti dan menggantikan. Dan kesatuan keduanya terdapat pada fase peralihan. Jadi penafian ini tidaklah terjadi dalam dunia fisik melainkan hanya pada fenomena-fenomena segala sesuatu. Sebab kita mafhum bahwa “negasi dan afirmasi” muncul sebagai akibat dari gerak mekanik, panas atau gerak organik lainnya.
Pikiran manusia adalah “fenomena” dan bukan sesuatu, sedangkan bahasa adalah salah satu representasi dari pikiran manusia. Antara pikiran dan bahasa tidak dapat dipisahkan, sehingga ungkapan pikiran manusia berupa bahasa didalamnya terdapat fenomena perlawanan yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karenannya dengan hukum dialektika ini memungkinkan adanya premis-premis berikut;
- Hukum dialektika pertama yakni konflik kontradiktif pada sesuatu akan menyebabkan evolusi-evolusi bahasa, seperti munculnya kosakata-kosakata baru dan hukum perubahan kata atau morfologi.
- Hukum dialektika kedua yaitu hukum pengaruh mempengaruhi secara timbal balik antara dua hal menyebabkan terjadinya hubungan logis antara kata-kata dalam penyusunan kalimat, dan untuk mengeluarkan makna yang beragam oleh hukum-hukum gramatikal.
- Gambaran fenomena dunia pisik muncul dalam bentuk perlawanan-perlawanan, maka perlawanan juga muncul dalam ungkapan-ungkapan kebahasaan dan juga pada makna-makna kalimat yang merupakan ilustrasi pikiran manusia.
Dan fenomena-fenomena perlawanan ini terdapat dalam struktur bahasa manapun termasuk bahasa Arab, dan diantaranya dalam bahasa al-Qur’an yang bukan buah “pikiran” (kalam ilahi) pun, namun termasuk dalam fenomena kebahasaan. Maka fenomena dialektika bahasa al-Qur’an pun muncul dalam bentuk- bentuk berikut ini;
1. Adanya kata kerja (fi’il) dalam bahasa Arab yang mempunyai struktur suara yang jika susunan suaranya dibalik maknanya juga akan menjadi sebaliknya, atau memberikan makna yang saling berlawanan. Tabel berikut adalah contoh kata-kata yang memiliki karakter tersebut;
|
No
|
Kata dengan Lawannya
|
|
Bentuk
|
makna
|
Bentuk
|
makna
|
|
1
|
kataba
|
Mengumpulkan segala sesuatu dengan sebagian yang lain
|
bataka
|
memisahkan segala sesuatu dari yang lainnya
|
|
2
|
Darra
|
memberi
|
radda
|
mengembalikan sesuatu
|
|
3
|
fadha
|
mengalir
|
dhafa
|
tertahan
|
|
4
|
nahara
|
mengalirkan air
|
rahana
|
menahan
|
|
5
|
syarafa
|
tinggi
|
farasya
|
rendah
|
|
6
|
habasa
|
menahan
|
sabaha
|
bergerak
|
|
7
|
jabba
|
pertemuan
|
bajj
|
melimpah
|
|
8
|
rakhasha
|
lemas/lentur
|
shakhara
|
kaku
|
|
9
|
saraha
|
generialisasi
|
harasa
|
lokalisasi
|
|
10
|
hazama
|
ketat
|
mazaha
|
longgar
|
|
11
|
‘alaqa
|
mengikat sesuatu
|
qala’a
|
melepaskan
|
|
12
|
qasya’a
|
menceraikan
|
‘asyaqa
|
melekatkan
|
2. Dalam bahasa Arab terdapat juga beberapa kata kerja yang memungkinkan memiliki makna lebih dari satu yang berlawanan secara inheren pada kata kerja tersebut. Terkadang maknanya datang bergantian atau muncul keduanya bersama-sama sekaligus, diantara kata-kata kerja yang termasuk bentuk ini adalah;
-
Zhanna , kata ini memiliki dua makna yaitu yang pertama “ragu” seperti dalam surat Yunus 10:36 (Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja (keraguan). Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.) dan yang kedua “yakin” seperti dalam surat al-Kahfi 18:53 (Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling daripadanya.)
-
Abada kata ini memiliki dua makna, yang pertama “tunduk” dan “rendah” dan yang kedua bermakna “sombong”, ”mendominasi”. Contoh yang pertama seperti terdapat dalam surat al-Fatihah 1:5 (Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan) dan contoh yang kedua seperti dalam surat az-Zukhruf 43:81 (Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula mendominasi (anak itu).)
-
Khafiya, makna pertama “ketertutupan” seperti surat Ibrahim 14:38 (Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.) Sedangkan yang kedua bermakna “Nampak” atau “nyata” seperti pada surat Thaha 20:15 (Sesungguhnya kejadian sa’ah itu akan datang Aku menampakannya agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.)
-
Talla , makna pertama “rendah” (ash-Shafat 37:103) dan yang kedua “tinggi”.
-
Maula , makna pertama “tuan” makna kedua “hamba”.
-
Adala, bermakna “adil” (asy-Syuura 26:15) dan bermakna “zalim” (an-Naml 27:60)
-
Qasath, bermakna “kebajikan” (al-Ma’idah 5:42) dan bermakna “angkaramurka” (al-Jin 72:15)
3. Dalam bahasa Arab ada beberapa kata yang mengikuti wazan fa’lan yang merupakan timbangan kata yang bersifat dualis-kontradiktif, berpasangan serta berlawanan. Berikut ini contoh kata-kata yang termasuk bentuk tersebut;
- Rahmân (belas kasih) >< Syaithân (kasar)
- Kis-yân (berpakaian) >< ‘Uryân (telanjang)
- Ju’ân (lapar) >< Sya’bân (kenyang)
- Farqân (berpisah) >< Jam’ân (berkumpul)
- Ta’bân (lelah) >< Raihân (santai)
- Utsân (perempuan) >< Duzkrân (laki-laki)
- Mautân (mati) >< Hayawân (hidup)
- Dzam’ân (haus) >< Rauyân (tidak haus)
Oleh karenanya, jika seseorang menemukan sesuatu kontradiktif dalam al-Qur’an misalnya pada dialektika makna antar ayat, maka itu hanya terjadi pada fenomenanya bukan pada substansi al-Qur’an, artinya ketidakmampuan manusia dalam memahami maksud dari al-Qur’an, maka sering al-Qur’an dianggap yang keliru , kuno, ketinggalan jaman, dst, pada hal manusia tidak berhak meng”eksekusi” barang satu ayat apalagi satu surat yang tidak sejalan dengan pikirannya, namun sebaliknya pikiran manusia yang harus tunduk dan dipaksa sejalan dengan al-Qur’an.
Namun hal itu tidak berlaku bagi manusia-manusia sombong, takabur, merasa paling pintar sehingga seolah-oleh dia memiliki legalisasi untuk “merevisi” al-Qur’an. Contohnya sudah banyak ayat yang mereka “berangus” dan masuk tong sampah seperti ayat poligami, ayat waris, ayat hudud (hukuman), imamah (kepemimpinan), dst dipandang tidak sejalan dengan jaman dan perlu direvisi menyesuaikan pikiran dan hawa nafsunya. Inilah potret-potret manusia yang salah berdialektika, alih-alih malah mengikuti dan teracuni dialektika Hegel yang sudah terbukti kesesatan dan kesetanannya.
Tamat
Wallahu ‘alam bisawwab !
Disarikan dari buku Al-Kitab wal Qur’an :Qira’atul Mu’ashirah (Al-Ahali lil Tiba’ah wal-Nashru wal tauzi) karya Muhammad Syahrur.
Islam Tidak Mengenal Dialektika Hegel - Bagian Pertama
 |