Bagaimana Mementaskan Sebuah Perang Dunia
(How To Stage A World War) Oleh: Jan van Helsing Dari buku : Secret Societies And Their Power In The 2oth Century
Bab Duapuluh Tiga

Pembentukkan kekaisaran Jerman di bawah Bismarck mengganggu "balance of powers" ( "keseimbangan kekuatan") yang sudah ada di Eropa lebih dari dua abad. Supremasi Inggris ini telah berulangkali ditentang oleh Spanyol dan Perancis, tapi Inggris selalu unggul. Supremasi kekuasaan Inggris atas benua Eropa berakhir sampai tahun 1871. Sekarang Jerman tumbuh lebih kuat, dengan memperoleh daerah jajahan dan dengan meningkatkan kekuatan militernya sangat mengancam Illuminati, juga mengancam Inggris dan supremasinya atas Eropa, baik secara militer maupun ekonomi.
Untuk menghentikan kemajuan Jerman, para bankir internasional yang pada waktu itu tidak ikut dalam pembangunan ekonomi Jerman, mencari jalan untuk membatasi dan mengontrol Jerman. Antara tahun 1894 dan 1907 sejumlah perjanjian ditandatangani yang melibatkan Rusia, Perancis, Inggris yang bila terjadi perang akan bersatu melawan Jerman. Dan ini merupakan tugas dari the Committee of 300 untuk merancang Perang Dunia I. Dari kelompok the Round Table dimunculkan "Royal institute f or International Affairs " ( RIIA ) sebagai ujung tombak, juga dikenal sebagai "Chatham House" yang pendirinya adalah Lord Albert Grey, Lord Arnold Toynbee - tokoh penting MI6, H.G. Wells, Lord Alfred Milner - ketua the Round Table, and H.J. Mackinder - penemu teori geopolitik.
The RIIA mendapat perintah dari the Committee of 300, untuk mempelajari kemungkinan cara-cara mementaskan Perang Dunia I. Perintah disampaikan kepada Lord Northcliff dan Lord Rothmere - keduanya merupakan anggota the Committee of 300 dan Lord Toynbee dari MI6. Penelitian dilakukan di Wellington House dimana dalam pembahasan "brainstorming" dikembangkan cara dan teknik untuk mengkondisikan rakyat supaya mendukung perang.
Dihadiri oleh "ahli" Amerika Edward Bernays dan Walter Lippmann. Lord Mothmere menggunakan korannya sebagai alat untuk mencoba teknik "mengkondisikan masyarakat" kepada para pembacanya. Setelah masa uji-coba berlangsung selama enam bulan mereka mendapatkan bahwa 87% rakyat telah membentuk opini yang tidak rasional atau tanpa proses berpikir kritis. Itulah yang mereka inginkan. Setelah itu baru kelas pekerja menjadi subjek propaganda metoda yang canggih yang meyakinkan mereka untuk mengirimkan anak-anaknya ke medan perang. Di Amerika, Presidenn Theodore Roosevelt, presiden ke-26, mengatakan sewaktu kampanye kepresidenan dalam tahun 1912:
"Dibalik pemerintahan yang nampak ada sebuah pemerintahan di atas singgasana yang tidak kelihatan, mereka tidak loyal dan tidak betanggungjawab kepada rakyat. Untuk menghancurkan pemerintah bayangan ini, untuk menghentikan kolusi yang tidak bermoral antara pengusaha dan politikus yang korup adalah merupakan tugas negarawan."
(Dieter Ruggeberg: "Geheimpolitik", p. 75)
 |