larger smaller reset

Petrodolar

first-dubai

First Dubai
Gambar: http://www.creativeclass.com

Oleh: David Livingstone

Malthusian

annie_besant1
Annie Besant
in Masonic regalia
Rencana penting Illuminati pada akhir abad kedua puluh adalah dengan meningkatkan kekayaan melalui monopoli minyak berdasarkan kerjasama dengan keluarga Saudi, serta pemiskinan yang terus menerus terhadap Dunia Ketiga, dengan tujuan untuk mengamankan kekuasaannya serta ke arah pembentukan satu tatanan dunia global atau Tata Dunia Baru. Filsafat yang mendasari strategi ini dikenal-sebagai Malthusianisme, dan dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan the Round Table, melalui sponsor dari the Fabian Socialist Society, Inggris.

Fabian adalah sebuah kelompok sosialis yang strateginya berbeda dari Karl Marx. Dalam mendominasi dunia mereka melakukannya melalui apa yang mereka sebut sebagai "doktrin gradualisme yang tak terhindarkan." Ini berarti bahwa tujuan mereka akan tercapai "tanpa melanggar kesinambungan atau dalam perubahan yang terjadi secara tiba-tiba pada seluruh tatanan pokok sosial," melalui infiltrasi lembaga pendidikan, instansi pemerintah, dan partai politik. Fabian terkemuka yang juga seorang penulis, George Bernard Shaw, mengungkapkan bahwa tujuan mereka dicapai dengan cara "samar-samar, intrik, subversi, penipuan dan dengan tidak menyebut sosialisme dengan nama yang sebenarnya."1)

shaw
George Bernard Shaw
Kekasih George Bernard Shaw, Florence Farr, adalah seorang penyihir di The Order of the Golden Dawn, dan perkumpulan Fabian, juga seorang mitra integral dari the Golden Dawn, yang pada dasarnya merupakan perpanjangan tangan dari Theosophical Society.2) Ketika Blavatsky wafat pada tahun 1891, kepemimpinan gerakan Theosophical di seluruh dunia diberikan kepada Annie Besant. Melalui keanggotaannya dalam sosialis Fabian, ia menjadi teman dekat dengan anggota terkemuka, termasuk orang-orang seperti HG Wells, Aldous dan Julian Huxley, serta Bertrand Russell.

Filsafat Malthus ditemukan oleh Thomas Parson Malthus, seorang profesor ekonomi politik pada East India College, milik British East India Company di Haileybury, India Timur. Ayahnya teman akrab David Hume, dan seorang kenalan Jean-Jacques Rousseau. Ayah Malthus adalah seorang murid dari Jean Marie Condorcet, seorang anggota Illuminati Perancis. Ayahnya juga memperkenalkan kepadanya gagasan-gagasan William Godwin, teman anggota Illuminati, dan penginspirasi Hegel, Franz von Baader.

wells
H.G. Wells
malthus
Thomas Malthus
Sebagai tanggapan terhadap tesis "kesempurnaan masyarakat - perfectibility of society" yang kemudian dilanjutkan oleh Godwin dan Condorcet, Malthus kemudian memutuskan untuk menuliskan ide-idenya. Akhirnya karya Malthus diterbitkan pada tahun 1798, berupa sebuah pamflet yang dikenal sebagai Essay on Population. Menurut Malthus, "penduduk, bila tidak dikendalikan, akan meningkat dalam perbandingan geometri. Sedangkan bahan makanan meningkat hanya dalam perbandingan aritmatika." Oleh karena itu, Malthus berkesimpulan bahwa masyarakat harus mengadopsi kebijakan sosial tertentu untuk mencegah jumlah penduduk manusia tumbuh tidak proporsional, lebih besar daripada pasokan makanan. Di antaranya adalah kebijakan genosida yang dipromosikan oleh Malthus:

Daripada menganjurkan kebersihan kepada orang miskin, kita harus mendorong kebiasaan sebaliknya. Di kota-kota kita, kita harus membuat jalan-jalan sempit, rumah-rumah yang penuh-sesak dengan penghuninya, dan mencetuskan kembalinya wabah. Di negeri ini, kita harus membangun desa-desa kita dekat genangan kolam, dan terutama mendorong pemukiman di daeah yang berawa dan di daerah yang keadaannya kurang menyehatkan. Tetapi di atas segalanya, kita harus menolak pengobatan, khususnya untuk penyakit berbahaya; dan mereka yang suka menolong, tapi banyak kelirunya, mengira mereka melakukan pengabdian kepada umat manusia, padahal sedang memproyeksikan rencana untuk pemusnahan total dengan penyakit tertentu.3)

thomas_huxley
Thomas H. Huxley
Lord Bertrand Russell yakin bahwa penduduk kulit putih di dunia akan segera berhenti dalam peningkatan jumlahnya, dan oleh karena itu "harus membela diri dengan metode yang menjijikkan bahkan jika mereka memerlukannya." Bagi Russell, pengendalian jumlah penduduk merupakan prasyarat untuk Pemerintahan Dunia sebagaimana dijelaskannya berikut ini:

Saya telah berbicara mengenai masalah penduduk, tapi beberapa kata menyangkut aspek politiknya harus ditambahkan..... Ini akan menjadi mustahil untuk merasa bahwa dunia berada dalam keadaan yang memuaskan sampai ada kesetaraan derajat tertentu, dan persetujuan tertentu di mana-mana dalam kekuasaan Pemerintahan Dunia, dan ini tidak akan mungkin dicapai, sehingga negara-negara miskin di dunia telah menjadi ... kurang lebih seimbang dalam jumlah penduduknya. Kesimpulan kita didorong oleh fakta-fakta yang telah kita bahas adalah bahwa, sementara perang-perang besar tidak dapat dihindari sampai ada Pemerintahan Dunia, Pemerintahan Dunia tidak dapat stabil hingga setiap negara penting mendekati keseimbangan dalam jumlah penduduknya.4)

Aldous dan Julian Huxley adalah cucu Thomas H. Huxley. Dikenal sebagai " Bulldog Darwin", yang membela teori evolusi, ia juga menciptakan istilah "agnostisisme" untuk menggambarkan keyakinan agamanya. Dia juga merupakan pendiri the Round Table, dan seorang mitra lama dari Arnold Toynbee. Toynbee sendiri duduk di RIIA, mengepalai Divisi Penelitian intelijen Inggris sepanjang Perang Dunia II, dan menjabat sebagai petugas pengarah pada masa perang pemerintahan Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill. Aldous Huxley, memperoleh pendidikannya dari Toynbee di Oxford, penulis buku Brave New World, adalah anggota the Children of the Sun, sebuah pemujaan Dionysian, yang anggotanya terdiri dari anak-anak elite the Round Table Inggris. Antara lain T.S. Eliot, W.H. Auden, Sir Oswald Mosley, dan D. H. Lawrence.5)

HG Wells, kepala intelijen luar negeri Inggris, selama Perang Dunia I, juga merupakan anggota pendiri Rhodes dan Round Table Milner, memberikan bimbingan kepada Julian Huxley Aldous di Oxford. Wells juga yang pertama kali memperkenalkan Huxley bersaudara kepada Aleister Crowley pada akhir tahun 1920-an.6) Dalam The Open Conspiracy, Wells menulis:

... akan muncul untuk pertama kali, saya yakin, sebagai sebuah organisasi yang sungguh-sungguh dari para intelijen dan cukup mungkin dalam beberapa kasus, orang-orang kaya, sebagai suatu gerakan sosial yang berbeda dan memiliki tujuan-tujuan politik, yg sebagian besar mengaku mengabaikan kontrol politik aparat yang ada, atau hanya menggunakannya pada panggung politik, sesekali dalam mengimplementasikannya gerakan dari sejumlah orang dengan arah tertentu yang akan segera diketahui dengan sejenis kejutan dalam tujuan yang sama ke arah mana mereka semua bergerak ... Dalam berbagai cara mereka akan memengaruhi dan mengendalikan aparat pemerintahan yang nyata.7)

mcnamara
Robert McNamara
Sir Julian Huxley, ilmuwan dan intelektual Inggris yang memainkan peran dalam menciptakan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), juga berpandangan sama. Pada dasarnya, Julian Huxley melihat kemajuan ilmu pengetahuan, seperti penisilin, DDT dan penjernihan air, sebagai pedang bermata dua. Dia menulis, "Kita dapat dan harus benar-benar mengabdikan diri dengan pengabdian keagamaan untuk penyebab kepastian pemenuhan yang lebih besar bagi nasib umat manusia di masa depan. Dan hal ini membangkitkan keterpaduan yang diselenggarakan dengan persetujuan bersama terhadap masalah penduduk; untuk mengendalikan jumlah penduduk adalah ... merupakan sebuah prasyarat untuk mengadakan perbaikan radikal nasib manusia."8)
julian_huxley
Julian Huxley
Pendapat yang 'menjijikkan' ini bahkan dipegang oleh beberapa manajer paling penting dari lembaga-lembaga keuangan global. Fritz Lutweiler, ketua Bank for International Settlements (BIS), kantor pusat perbankan dunia, mengatakan, "hal itu berarti pengurangan pendapatan riil di negara-negara di mana mayoritas penduduk sudah berada pada tingkat eksistensi minimum atau bahkan di bawah itu. Yang memang sulit, tetapi orang tidak dapat menyisihkan negara-negara yang sangat banyak hutangnya. Ini tidak dapat dihindari."9)

The BIS kemudian digabung oleh Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF). Bank Dunia dan IMF, keduanya merupakan bank swasta dengan pemegang saham yang sebagian besarnya dimiliki oleh keluarga Rothschild dan Rockefeller, didirikan pada tahun 1944, dalam sebuah konferensi moneter yang disponsori PBB di Bretton Woods, New Hampshire. Para teoritisi yang merancang rencana tersebut adalah anggota dari Sosialis Fabian yang terkenal dari Inggris, seperti John Maynard Keynes, dan Asisten Menteri Keuangan Amerika Serikat, Harry Dexter White. White menjadi Direktur Eksekutif IMF pertama yang berasal dari Amerika Serikat, yang juga seorang anggota CFR, dan kemudian diketahui menjadi bagian dari jaringan spionase Sovyet di Washington. Robert McNamara, yang kemudian menjadi presiden Bank Dunia, dan pelaksana Perang Vietnam, menyatakan:

Hanya ada dua kemungkinan cara untuk mencegah dunia dengan jumlah penduduk 10 milyar. Apakah dengan cara mempercepat penurunan tingkat kelahiran. Atau mempertinggi tingkat kematian dewasa ini. Tidak ada cara lain. Tentu saja ada banyak jalan untuk meningkatkan tingkat kematian. Dalam era termonuklir, perang dapat menyempurnakannya dengan sangat cepat dan jelas. Kelaparan dan penyakit merupakan cara kuno pembatasan pertumbuhan jumlah penduduk, dan keduanya masih dapat dipergunakan .... Singkatnya: pertumbuhan penduduk yang berlebihan merupakan hambatan terbesar bagi kemajuan sosial dan ekonomi sebagian besar masyarakat di negara berkembang.10)

prince_philip
Prince Philip
The World Wildlife Fund diciptakan oleh Pangeran Philip, suami Elizabeth II, Ratu Inggris. Dibaptis dengan nama Philip Battenberg, ia termasuk dari the House of Oldenburg. Dia adalah cicit cucu dari Grand Master of the Asiatic Brethren, Karl Landgrave dari Hesse-Kassel, dan juga keturunan dari George II, Catherine yang Agung dari Rusia, serta Frederick I, Raja Prusia.

Pangeran Philip dalam suatu kesempatan mengatakan bahwa jika nanti ia mengalami reinkarnasi ia ingin kembali sebagai virus pembunuh, untuk membantu memecahkan masalah kelebihan penduduk. Sejak itu, para eksekutif WWF lainnya menyuarakan kekhawatiran yang sama tentang kelebihan penduduk. Dr Arne Schiotz, seorang direktur WWF mengatakan, "Malthus dapat dipertahankan, akhirnya realitas sesuai dengan Malthus. Dunia Ketiga berkelebihan jumlah penduduknya, hal itu mengacaukan ekonomi, dan tidak ada cara untuk mereka bisa keluar dari masalah pertumbuhan yang cepat dari junlah penduduk. Filosofi kami adalah: kembali ke desa."11)

Sir Peter Scott, dari WWF, memperingatkan, "Jika kita melihat sebab akibat, masalah yang lebih besar di dunia adalah jumlah penduduk. Kita harus menetapkan batas tertinggi jumlah manusia. Semua bantuan pembangunan yang diberikan harus tergantung kepada pelaksanaan program keluarga berencana yang dilaksanakan secara ketat."12) Thomas Lovejoy, mantan wakil direktur WWF, mengatakan,"masalah terbesar pada sektor-sektor nasional negara-negara berkembang adalah berlebihnya jumlah penduduk. Negara-negara ini berpikir bahwa mereka memiliki hak untuk mengembangkan sumber daya mereka ketika mereka memutuskannya. Mereka ingin menjadi negara-negara yang kuat."13)

Krisis Minyak (The Oil Crisis)

  Program Pemulihan Eropa, the Marshall Plan, yang namanya diambil dari sang arsitek George C. Marshall, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat merupakan satu-satunya program di Eropa yang mengeluarkan belanja terbesar pasca perang. Program ini diterima oleh negara-negara penerima di Eropa Barat, untuk membeli minyak, terutama yang disediakan oleh perusahaan-perusahaan minyak Amerika, dan yang sebagian besarnya berasal dari Arab Saudi. The Seven Sisters menuai keuntungan yang sangat besar untuk penjualan minyak mereka ke pasar dunia baru di masa itu.

Sebagai konsekuensi dari ekspansi yang luar biasa dari kepentingan utama perusahaan-perusahaan minyak Amerika munculnya kelompok perbankan New York bersamaan yang terikat dengan perusahaan-perusahaan minyak tersebut. Pada awal 1950-an, sebuah gelombang merger bank terus meningkatkan konsolidasi berupa pengaruh politik dan keuangan yang sangat besar dari bank–bank di New York terhadap kebijakan domestik Amerika Serikat. Menurut William Engdahl, dalam A Century of War: Anglo-American Oil Politics and The New World Order:

Pengaruh baik dari kartelisasi perbankan dan kekuatan keuangan Amerika pascaperang ini menjadi kumpulan kecil bank-bank di New York, berorientasi kuat pada kebijakan dan kekayaan pasar minyak internasional, memiliki konsekuensi yang sangat besar selama tiga dekade berikutnya dalam sejarah keuangan Amerika, membayangi semua pengaruh kebijakan lain di Amerika Serikat dan kebijakan internasional, dengan kemungkinan pengecualian defisit keuangan pada Perang Vietnam.14)

standard_oilPada tahun 1955, Chase National Bank milik David Rockefeller, cucu John D. Rockefeller, bergabung dengan Bank of Manhattan dan Bronx County Trust, untuk menciptakan Chase Manhattan Bank. National City Bank of New York, yang berhubungan erat dengan kelompok Standard Oil, seperti Chase, memperoleh First National Bank di New York untuk membentuk First National City Bank, kemudian namanya menjadi Citibank Corp. Para Bankir Trust mengambil alih Public Bank & Trust, Title Guarantee & Trust dan beberapa bank regional lain, untuk membentuk kelompok kuat lainnya, sementara the Chemical Bank & Trust bergabung dengan Com Exchange Bank dengan the New York Trust Co. Untuk membentuk kelompok bank terbesar ketiga New York, Chemical Bank New York Trust, juga terkait kepada Standard Oil.

Bagaimanapun, puncak dari kekuatan industri minyak akan tercapai melalui rekayasa krisis minyak. Seperti yang ditunjukkan oleh William Engdahl, dalam A Century of War: Anglo-American Oil Politics and the New World Order, dengan cara merekayasa krisis minyak ini, bahwa Illuminati, melalui manipulasi The Seven Sisters mereka dengan sengaja memiskinkan negara-negara Dunia Ketiga, sesuai dengan ambisi genosida mereka, kemudian menyalurkan kekayaannya ke negara klien mereka, Arab Saudi.

david_rockefeller
David Rockefeller
Pada bulan Mei 1973, dalam sebuah pertemuan Bilderberg, di Saltsjoebaden, Swedia, sebanyak 84 orang terkemuka dunia dalam bidang keuangan dan wakil-wakil politik membahas bagaimana mengelola arus masuk pendapatan minyak bumi OPEC, sebelum menyajikan rencana mereka pada saat terjadinya krisis minyak. Nama Bilderberg diambil dari nama sebuah Hotel di dekat Arnheim. Pertemuan tahunan sangat rahasia Bilderberg dimulai pada tahun 1954 oleh Pangeran Bernhard dari Belanda.

Bernhard menikah, Ratu Juliana dari Belanda. sebagai Seorang Freemason, Pangeran Bernhard adalah anggota SS. Dia kemudian bekerja untuk I. G. Farben. Tapi selama invasi Jerman ke Belanda, Bernhard membantu mengorganisasi perlawanan. Dia menawarkan diri bekerja untuk intelijen Inggris, tapi tidak dipercaya. Namun, dengan rekomendasi George VI dari Kerajaan Inggris, ia kemudian diijinkan untuk bekerja di dewan perencanaan perang.l6)

Mitra Pangeran Bernhard di Amerika adalah David Rockefeller, Ketua dewan pengurus CFR yang basis ekonominya adalah raksasa Chase Manhattan Bank dan Standard Oi1.17) Anggota Bilderberg lainnya adalah Baron Edmund de Rothschild, Robert McNamara dari Bank Dunia, Sir Eric Roll dari SG Warburg and Co, Ltd dan direktur Bank of England, Pierce Paul Schweitzer dari Dana Moneter Internasional (IMF), serta George Ball dari bank investasi Lehman Brothers, mantan direktur SOCAL, juga anggota CFR.

prince_bernhard
Prince Bernhard
of the Netherlands
Hadir dalam pertemuan tahun 1973 adalah para tokoh pemimpin industri minyak dan perbankan London dan New York, termasuk Sir Eric Roll, George Ball, David Rockefeller. Juga termasuk Robert O. Anderson dari Atlantik Richfiled Oil Co, mantan kepala Arco, perusahaan minyak yang berafiliasi dengan Exxon; Lord Greenhill, ketua British Petroleum; Zbigniew Brzezinski, yang kemudian menjadi Penasihat Keamanan Nasional Presiden Carter; Gianni Agnelli dari Fiat, Italia serta Otto Wolff von Amerongen dari Jerman, direktur Exxon dan Trilateralis.

William Engdahl menegaskan bahwa Perang Yom Kippur tahun 1973, ketika Mesir dan Suriah menyerang Israel, diam-diam dikoordinasikan oleh Washington dan London, dengan menggunakan saluran diplomatik rumit yang dikembangkan oleh Kissinger.19) Henry Kissinger, mengendalikan dengan kuat semua intelijen Amerika Serikat yang diperkirakan sebagai Penasihat Keamanan Nasional Nixon, juga mengamankan kontrol kebijakan luar negeri Amerika Serikat, membujuk Nixon untuk mengangkatnya sebagai Menteri Luar Negeri, sesaat sebelum perang Yom Kippur.

Kissinger mengendalikan respon Israel melalui hubungannya dengan duta besar Israel untuk Washington, Simcha Dinitz. Selain itu, Kissinger mengeksploitasi saluran diplomatik ke Mesir dan Suriah. Metodenya adalah dengan memberikan gambaran yang salah mengenai elemen-elemen kritis masing-masing pihak, memastikan perang dan selanjutnya embargo minyak Arab. Tanggal 16 Oktober 1973, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak atau OPEC, menaikkan harga minyak, dan menyatakan embargo kepada Amerika Serikat dan Belanda, Rotterdam menjadi pelabuhan minyak utama Eropa.

Sebagai bagian dari persekongkolan Kissinger untuk menggunakan kesempatan tersebut untuk mengambil keuntungan, Departemen Keuangan Amerika Serikat mengadakan sebuah perjanjian rahasia dengan Badan Moneter Arab Saudi, SAMA, di mana menurut kesepakatan sebagian besar aliran petrodolar Saudi akibat krisis harus diinvestasikan untuk membiayai defisit pemerintah Amerika Serikat. Dan seorang bankir investasi dari Wall Street, David Mulford, diutus untuk memberikan saran kepada SAMA agar meninvestasikannya ke bank-bank di London dan New York. Sebagaimana Engdahl mengulasnya," ... sementara kejutan minyak Kissinger tahun 1973 berdampak kepada pertumbuhan industri dunia, hal itu memberikan keuntungan yang luar biasa kepada kepentingan-kepentingan tertentu yang sudah mapan –terutama bank-bank di New York dan London, dan the Seven Sisters, perusahaan minyak multinasional Amerika Serikat dan Inggris.''20)

Kemiskinan Negara-negara Dunia Ketiga (Third World Poverty)

Setelah Krisis Minyak, persiapan tepat untuk sebuah dominasi kebijakan Amerika Serikat, di bawah Henry A. Kissinger, menjadi sangat jelas neo-Malthus. Pada tahun 1974, di tengah-tengah Krisis Minyak, Kissinger mengeluarkan National Security Council Study Memorandum 200 (NSSM 200), mengenai persoalan Implications both Worldwide Population Growth for US Security and Overseas Interests, ditujukan kepada semua Menteri, Kepala Staf Gabungan militer, CIA dan badan-badan penting lainnya. NSSM 200 menyatakan bahwa penyebaran penduduk di negara-negara berkembang berpotensi menimbulkan "ancaman keamanan nasional." bagi Amerika Serikat Pada tanggal 16 Oktober 1975, atas desakan Kissinger, Presiden Gerald Ford mengeluarkan sebuah memorandum yang menegaskan perlunya "Kepemimpinan Amerika Serikat dalam masalah kependudukan dunia," berdasarkan pada klasifikasi dokumen NSSM 200.21)

NSSM 200 memperingatkan bahwa, di bawah tekanan penyebaran penduduk, negara-negara yang memiliki sumber daya yang penting dan diperlukan akan cenderung untuk menuntut hal yang lebih baik dalam perdagangan ekspor mereka ke Amerika Serikat. Oleh karena itu, penelitian mengidentifikasi daftar tiga belas negara yang dipilih Amerika Serikat sebagai "sasaran strategis" dalam upaya pengendalian jumlah penduduk.

Dalam sebuah memorandum, Kissinger menyatakan, "berapa banyak lagi pengeluaran yang efisien untuk pengendalian jumlah penduduk yang mungkin daripada [dana untuk] meningkatkan produksi melalui investasi langsung dengan menambah proyek irigasi dan proyek pembangkit listrik serta pabrik."22) Ketiga belas negara tersebut adalah Brazil, Pakistan, India, Bangladesh, Mesir, Nigeria, Meksiko, Indonesia, Filipina, Thailand, Turki, Ethiopia, dan Kolombia. Sayangnya, sebagaimana Engdahl jelaskan, "dengan pernyataan kebijakan rahasia ini, pemerintah Amerika Serikat telah berkomitmen terhadap pada agenda yang akan mendorong kematian sektor ekonominya sendiri, sebagaimana kelaparan yang tak terhitung, penderitaan, dan kematian yang tidak perlu terjadi di seluruh negara-negara berkembang." 23)

Oleh karena itu, negara yang paling banyak dibuat menderita akibat dampak ekonomi terjadinya krisis minyak adalah di negara-negara "Dunia Ketiga". Karena sebagian besar negara-negara dengan ekonomi yang kurang berkembang, tanpa sumber daya minyak dalam negeri yang signifikan, tiba-tiba dihadapkan dengan sebuah peningkatan yang tak terduga dan tak terbayar dalam biaya impor energi (minyak). Bank-bank di New York dan London mengambil keuntungan dari minyak OPEC yang telah disetorkan kepada mereka, dan membuat pinjaman sebagai obligasi atau pinjaman Eurodolar, kepada negara-negara yang kini berputus asa untuk meminjam dolar demi membiayai impor minyak mereka. Henry Kissinger menyebutnya sebagai "daur ulang petrodolar", sebuah strategi yang sudah dibahas dalam pertemuan Bilderberger di Swedia pada tahun 1971.

Kondisi ini memulai terjadinya krisis utang negara-negara Dunia Ketiga yang meningkat terus menerus di luar kendali. Pada tahun 1974, Sudan, India, Pakistan, Filipina, Thailand, dan beberapa negara di Afrika dan Amerika Latin, dihadapkan dengan defisit besar dalam neraca pembayaran mereka. Secara keseluruhan, setelah 1974, menurut IMF negera-negara berkembang mengalami defisit perdagangan total mencapai $ 35 miliar, jumlah yang sangat besar sekali pada waktu itu, defisit yang empat kali lipat lebih besar daripada tahun 1973, dan sebanding dengan kenaikan harga minyak. Setelah beberapa tahun pertumbuhan industri dan perdagangan yang kuat di awal 1970-an, pada tahun 1974-75 terjadi penurunan tajam kegiatan industri seluruh perekonomian dunia yang lebih besar daripada penurunan yang pernah terjadi sejak Perang Dunia II.

Krisis utang dimulai ketika Paul Vo1cker dan Federal Reserve (Bank Sentral) Amerika Serikat secara sepihak meningkatkan suku bunganya di akhir tahun 1979, tampaknya untuk mencoba menyelamatkan turunnya nilai dolar. Setelah tiga tahun tercatat tingkat suku bunga Amerika Serikat yang tinggi, dolar "diselamatkan", akan tetapi sebagian besar negara-negara Dunia Ketiga secara ekonomi hidup dengan susah payah, karena kenaikan besar pembayaran bunga mereka. Pada bulan Agustus 1982, mekanisme daur ulang yang tidak adil akhirnya runtuh, dan Meksiko mengumumkan kemungkinan tidak bisa membayar Eurodolar pinjamannya.

Akhirnya, untuk melaksanakan pembayaran utang, bank-bank London dan New York menyerahkan kepada IMF untuk bertindak sebagai "debt policeman". Pengeluaran publik untuk kesehatan, pendidikan, kesejahteraan dipotong di IMF dalam rangka rekomendasi "penyesuaian struktural", untuk menjamin kemampuan suatu negara dalam membayar kembali pinjaman. Standar hidup anjlok karena kebijakan IMF membuka pasar dalam rangka proses globalisasi, dipimpin oleh perusahaan multinasional yang berbasis di Amerika Serikat yang mencari tenaga kerja dan bahan baku murah.24)

Daur ulang Petrodollar mengalirkan kekayaan dunia kepada negara-negara produsen minyak, tapi terutama ke Saudi Arabia. Dengan demikian, di balik semua tindakannya sebagai pembela Islam ortodoks, tidak hanya rezim Wahhabi Saudi Arabia gagal untuk mewakili prinsip-prinsip kemurahan hati Islam, dan untuk menunjukkan penyebab nyata kemiskinan yang melemahkan Dunia Ketiga, tetapi di sisi lain melakukan hal yang sangat berlawanan. Saudi Arabia telah menjadi kaki tangan langsung dalam salah satu kejahatan yang paling jahat dalam sejarah, pemiskinan yang disengaja terhadap sebagian besar umat manusia, dan bersekongkol dalam pemberdayaan elit perbankan Illuminati.

Referensi:

[1] David Rivera, Final Warning, Chapter 5.1: The Fabians, the Round Table, and the Rhodes Scholars.
[2] ibid.
[3]What the Malthusians Say”, The American Almanac. 1994.
[4] ibid.
[5] LaRouche, Lyndon. “Real History Of Satanism”. LaRouchePub.com. 1-17-5.
[6] ibid.
[7] EIR, Dope Inc, Part IV.
[8] Essays of a Humanist. quoted from Goodgame, Peter. "Globalists and the Islamists".
[9] “What the Malthusians Say”, The American Almanac. 1994.

Diterjemahkan oleh: akhirzaman.info

Sumber: http://www.terrorism-illuminati.com/

Share/Save/Bookmark
Dibaca :5192 kali  

Tambah Komentar


Kode keamanan
Segarkan