larger smaller reset

Berbagi Pengalaman Kisah Nyata: Imunisasi

[Judul asli: SHARING PENGALAMAN/KISAH NYATA]

Sungguh, Allah Maha Besar yang telah membukakan rahasia dari IMUNISASI selama ini.

AKHIRNYA TERUNGKAP! ternyata imunisasi sangat berbahaya! LINDUNGI putra-putri anda dari IMUNISASI sebelum hal-hal mengerikan terjadi...

MENGUAK RAHASIA yang terpendam lama..

INFORMASI PENTING INI, siap memberikan warna baru dalamhidup anda.  Segala hal mengenai Niat-niat terselubung pembuat VAKSIN dan BAHAYA IMUNISASI ada disini...bagi teman2 yang membutuhkan data dan fakta nyata akan bahaya imunisasi ini-silahkan hubungi saya di Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya SEGERA akan saya kirimkan sekitar 80 halaman FAKTA NYATA tentang BAHAYA IMUNISASI !

Salam Hormat

Ibu Suryani

 

Subject: SHARING PENGALAMAN/KISAH NYA

idiot1Ini kisah nyata yang saya alami, sebagai informasi / pelajaran bagi Rekan-rekan jika suatu saat ada yang menghadapi cobaan seperti yang saya alami.

Pada pertengahan bulan Juni 2005, Istri saya melahirkan dengan baik (walau dengan operasi caesar), bayi kami sehat tidak kurang suatu apapun, beratnya 3.150 Kg dengan panjang 49 Cm. Sekali lagi Kami sangat bahagia atas peristiwa ini. Kembali Segala saran-saran dokter (Dokter Anak: Prof. "R" di RS "A") kami laksanakan dengan baik, minum vitamin-vitamin, susu ibu menyusui, menjaga kesehatan makanan/perlengkapan makan, makan makanan bergizi, menjaga pantangan-pantangan dalam merawat bayi. Dan rutin melakukan ImunisasDisinilah mulai timbul bencana pada keluarga kami, pada saat anak/bayi kami berusia +/- 7 bulan, untuk kesekian kalinya kami datang untuk imunisasi, pada saat itu kami datang ke dr Anak kami Prof. "R" di RS "A" , namun pada saat itu beliau tidak masuk, diganti oleh dokter pengganti/wanita yang masih muda/mungkin dokter baru (namun saya lupa namanya). Begitu melihat jadwal pada buku RS anak saya, dokter tersebut langsung siap melakukan imunisasi terhadap anak saya, "hari ini imunisasi HIB ya ?!", saya & istri tahu bahwa imunisasi HIB tersebut salah satunya untuk mencegah radang Otak, makanya Istri saya sempat bertanya, "dok, seandainya imunisasi ini tidak dilakukan bagaimana ya ?!", lalu dokter pengganti tersebut menjawab dengan nada agak ketus, "apakah ibu mau, anak ibu jadi Idiot?! (sambil memperagakan tampang muka orang yang idiot dengan lidah dijulurkan keluar)". Karena begitu sayangnya kami dengan anak kami, sudah barang tentu kami tidak mau anakkami idiot, lagi pula saya saat itu berfikir demi kesehatan anak kami tentulah kami menuruti apa kata dokter yang lebih tahu/berpengalaman dengan imunisasi tersebut. Lalu tanpa memeriksa dengan seksama kondisi anak kami dalam keadaan fit/tidak, dan perlu tidaknya imunisasi tersebut kembali diberikan kepada anak saya (karena sebelumnya pada saat berumur +/- 5 bulan anak kami telah pernah diberikan imunisasi HIB I) dokter pengganti tersebut langsung memberikan suntikan imunisasi HIB II kepada anak saya.

Dua hari setelah pemberian imunisasi HIB yang kedua tersebut anak kami mengalami panas, lalu turun, panas lagi lalu turun ( 2 atau 3 hari sekali pasti mengalami panas ) dan anehnya panasnya hanya dikepala dan di pundak/leher serta di ketiak saja, badan/tangan dan kakinya tidak. Hal ini berlangsung +/- selama dua minggu, jika sedang panas, panasnya pernah sampai 40,6 derajat C.

Sewaktu di kantor saya sempat bertanya kepada rekan-rekan yang masih/pernah punya anak kecil mengenai panas anak saya, banyak diantara mereka yang bilang panas setinggi itu berbahaya, malah sebagian teman bilang anaknya panas "cuma" 38 derajat C saja sudah Step/kejang-kejang, namun sampai hari itu anak saya belum pernah Step/kejang-kejang, padahal panasnya beberapa kali sampai 40 derajat C, dan biasanya akan turun dengan sendirinya, paling-paling hanya rewel, susah tidur. Saya mulai Panik dan khawatir, takut jika anak saya tiba-tiba kejang/step di rumah. 

Dan Saya mulai ke dokter, kebetulan di dekat rumah ada dokter Umum di RS. "D" (Berhubung waktu itu hari minggu tidak ada dokter Spesialis anak yang Buka). Dokter tersebut memberikan beberapa macam obat, ada yang syrup, ada yang serbuk. Setelah memakan obat-obatan tersebut selama 3 hari, anak kami masih belum membaik (panasnya masih naik turun), lalu kami ke RS "A" tempat dokter anak saya Prof. "R" dimana selain diberi obat-obatn juga disarankan untuk memeriksakan darah anak saya ke Lab. (waktu itu saya langsung periksakan anak saya ke Lab. "P" yang sudah berpengalaman), Karena setelah kami ketahui hasilnya "negatif/tidak ada penyakit" dan obat dari Prof. "R" di RS "A" juga belum efektif menyembuhkan panas anak saya, akhirnya saya membawa anak saya ke RS "B" Cikini (karena saya tahu di RS "B" ada ruang perawatan anak, jika memang anak saya perlu di rawat).

idiotDi sinilah ketabahan/kesabaran kami di uji. Saya datang pertama kali keRS "B" cikini, Kamis 17 Maret 2005 pagi +/- jam 7.00 Wib, dan setelah bertanya kesana-kemari saya langsung membawa anak saya ke UGD (Unit Gawat Darurat) karena masih pagi, dan disana ada dokter jaga, setelah dilakukan beberapa tindakan lalu +/- jam 08.30 saya bawa anak saya ke dokter Spesialis anak dr. "N", baru kemudian diminta untuk di bawa ke ruang perawatan untuk di rawat.

Pintarnya RS, setiap mereka akan melakukan tindakan medis terhadap anak kami, kami/orang tua harus menyetujui terlebih dahulu tindakan tersebut, dengan catatan apabila orang tua pasien tidak menyetujui suatu tindakan medis, kami juga disodorkan surat penolakan tindakan medis, yang didalamnya tertera apabila terjadi apa-apa terhadap anak saya, maka pihak RS tidak bertanggung jawab karena tindakan medis yang akan mereka lakukan tidak disetujui. Itu artinya kami/pasien bagai memakan buah simalakama, dan tentunya harus mengikuti semua langkah-langkah medis yang dilakukan oleh pihak RS, karena memang tidak ada pilihan lain.

Anak saya langsung di infus dan diambil darahnya untuk pengecekan (karena hasil cek darah yang saya bawa dari Lab "P" sebelumnya menurut pihak RS bisa berubah) walaupun akhirnya hasilnya juga masih "negatif" tidak diketahui penyebab/penyakit panas anak saya. Kemudian atas anjuran dokter anak saya harus puasa dari jam 15.00 (tiga sore) sampai dengan 21.00 (sembilan malam) kerena akan diambil darahnya lagi untuk pemeriksaan. Selama waktu tersebut kami sedih melihat anak saya, walaupun ada infus di kakinya, namun anak saya tampak ingin makan/minum, namun kami tidak berikan walau mulutnya seperti orang yang kehausan. Kami sangat mengkhawatirkan fisik anak saya.

Benar saja apa yang Saya dan Istri saya khawatirkan terjadi, esokan hari/Jum'at subuh begitu panas anak saya kembali tinggi sampai lebih dari 40 derajat C, anak saya langsung kejang/Step (padahal sewaktu di rumah belum pernah sekalipun anak saya kejang/Step seperti saat itu), suster-suster RS mulai memberikan anak saya Oksigen melalui selang ke hidung, dan karena panas/Kejangnya lebih dari 1/2 jam, maka anak saya pagi itu juga langsung di bawa ke ruang ICU/PICU (Pedriatic Intensive Care Unit). Anak saya di diagnosa awal "kemungkinan" terkena Radang Otak yang disebabkan oleh Virus/bakteri, sehingga mengganggu fungsi pengaturan suhu tubuh. Dan dokter bilang kemungkinan sembuhnya hampir tidak ada, kalaupun sembuh akan ada efek sisa, misalnya jadi Idiot, Lumpuh, dsb. (Pihak RS langsung Pesimistis untuk penyembuhan anak saya).

Di ICU anak saya di rawat oleh Tim Dokter, dengan ketua Timnya yaitu dr. "Y" (dokter spesialis anak senior RS "B"), dengan anggota beberapa dokter Spesialis THT, Syaraf, Urologi, Bedah, dsb. Ditambah dengan dr.Konsulen/semacam penasihat, yaitu Prof. "A" dari RS "C", selain dokter tim tersebut dibantu oleh beberapa orang suster yang dalam seharibekerjanya dibagi menjadi 3 shift, suster-suster inilah yang memonitor perkembangan kesehatan anak kami tiap saat. Suster juga sama seperti karyawan di kantor kita, ada yang teliti, ada yang rajin, ada yang baru/belum berpengalaman, ada yang text book, ada yang kurang berani bertindak, dsb.

gambar: efrizalwordpress.com

Sabtu subuh (hari ke dua perawatan) anak saya kembali panas tinggi dan kembali kejang, kali ini suster jaga pada saat itu terlihat kurang tanggap/cekatan dalam memberi tindakan terhadap anak saya, malahan pada saat kejang, karena tenaga medis tidak begitu "care", Istri saya sendiri yang harus mengganjal mulut anak saya dengan alat pengganjal agar lidahnya tidak tergigit, dan karena terlalu lama tidak ditangani dengan baik akibatnya anak saya semakin lemah, terlihat pada mesin yang memonitor Oksigen dan Jantung anak saya saturasinya (istilah mesin tsb) terus menurun. Pada saat tim Dokter datang kondisi anak saya sudah memburuk, bahkan pada layar monitor mesin saturasi sempat terlihat "Flat", artinya paru-paru/oksigen dan jantung anak saya telah berhenti bergerak. Saya dan Istri langsung Shock dan lemas tangis pun tak terbendung. Beberapa tenaga medis terus berusaha memompa secara manual nafas anak saya, lalu mereka segera memasang mesin Ventilator/alat bantu pernafasan (mesin yang sama dengan yang digunakan Almh. Sukma Ayu) dan menyalakannya. Seperti biasa pihak RS menyodorkan surat persetujuan tindakan pemasangan mesin tsb. Pada saat itu saya & istri sangat Shock, sehingga konsentrasi kami hanya kepada anak kami tersebut, oleh karena saya tidak begitu memperdulikan surat persetujuan melakukan tindakan yang disodorkan RS, akibatnya pihak RS langsung mencopot kembali selang-selang yang terpasang dan mematikan mesin/listrik Ventilator tsb. Kami kesal dan marah (walau hanya di dalam hati), lalu segera meraih surat persetujuan tindakan tsb dan menandatanganinya, barulah alat tersebut kembali dipasang/dinyalakan, dan selamatlah nyawa anak saya ketika itu (padahal menurut hemat saya hitungannya hanya detik untuk mengambil keputusan tersebut/terlambat sedikit mungkin akan berbeda ceritanya).

Kurang lebih dua minggu alat Ventilator itu terpasang, dan dua minggu itu pula kami mengalami pengalaman yang sangat pahit dalam kehidupan kami, kami menyaksikan betapa tersiksanya anak yang kami sayangi yang terus menerus dilakukan tindakan medis, diantaranya :

1. Diambil darahnya yang hampir setiap hari (dengan cara disedot dengan alat suntik), walaupun hasil Lab.-nya selalu negatif dengan jumlah pengambilan dalam sehari bisa 3X, dan dalam sekali ambil antara 5 - 10 CC darah, padahal kondisi anak saya ketika itu sangat lemah/terlihat kuning seperti kurang darah. Diambil sampel Urine, sampel cairan dari perut, Bahkan sampai diambil contoh cairan otaknya (melalui penyedotan pada ruas tulang belakang) walaupun hasilnya juga negatif.

2. Berganti-ganti tempat untuk memasukan jarum Infus, dari vena-vena di kepala, tangan, kaki, selangkangan, malah karena Tim medis sudah kesulitan memasukan jarum infus, tim medis melakukan tindakan Vena Sectio (operasi kecil/merobek kulit/daging terluar) untuk dicari pembuluh vena yang berada agak ke dalam agar jarum infus dapat memasukan cairan infus ke tubuh anak saya. Kedua pergelangan tangan dan kaki anak saya telah di-Vena Sectio.

3. Bius Total, dengan alasan takut mesin Ventilator tidak berfungsi dengan baik apabila anak saya dalam keadaan sadar.

4. Diberi obat-obatan/anti biotik berganti-ganti sesuai indikasi/kemungkinan (Baru kemungkinan/seperti coba-coba) penyakitnya yang kadarnya tergolong keras, yang sudah pasti banyak efek sampingnya.

5. Karena sudah tidak ada tempat untuk Infus dan pengambilan darah (semua titik venanya telah habis), beberapa kali tindakan infus/pengambilan darah tidak berhasil dilakukan, lalu dicoba lagi dan di coba lagi sehingga menimbulkan bekas luka lebam/biru/bekas-bekas jarum suntik yang sangat banyak.

6. Dilakukan foto Thorax (Rongent) beberapa kali, Padahal sekali saja dilakukan di yakini dapat membunuh banyak sel tubuh)

7. Timbul efek samping, Paru-paru anak saya meradang/infeksi sehingga di penuhi banyak cairan, dan kepala belakang dan samping kiri memar/luka/lecet/bengkak. Karena terlalu lama dalam posisi tidur/di bius (hal ini seharusnya tidak perlu terjadi kalau tim medis sering merubah posisi tidur anak saya/setelah kami Complain baru hal ini dilakukan).

8. Masalah Biaya. Sering kali pihak RS (dokter/suster), menanyakan masalah biaya, walaupun berkali-kali saya katakan ada surat jaminan pembayaran dari Kantor. (Coba bayangkan seandainya memang kami tidak punya biaya).

9. Diagnosa penyakit yang tidak didukung bukti yang pasti, tim Medis hanya selalu mengatakan "Kemungkinan". Dari +/- satu bulan di rawat, anak saya sudah beberapa kali dikatakan kemungkinan penyakitnya bersumber dari Radang Otak karena penyakit/Virus/bakteri: Herpes, berubah Toxoplasma, berubah Maningitis, berubah Ensevalitis, sampaikesimpulan terakhir/dari sampel darah terakhir anak saya masih belum mengetahui pasti penyebab penyakitnya (bukti lab. adanya virus/bakteri tersebut tidak pernah ada).

vaksinPada masa itu juga kami sempat beberapa kali bersitegang dengan beberapa Tim Medis anak saya, namun kami selalu kalah (mengalah) karena posisi kami sangat lemah, Ketua tim dokternya "dr.Y" sempat berujar bahwa mereka dokter-dokter ahli, " kalau di RS "C" bapak boleh bilang "begitu", karena banyak dokter muda yang sedang belajar disana" (maksudnya menanggapi guman saya dengan istri saya, "kok anak kita seperti kelinci percobaan ya!? dan kata-kata tersebut didengar Suster, yang lalu melaporkannya ke ketua Timdokternya), bahkan dokter itu juga sempat berkata "kalau bapak tidak puas, silahkan angkat anak bapak sekarang !!". Padahal saat itu, hal tersebut tidak mungkin kami lakukan karena seluruh tubuh anak saya terpasang mesin (Ada mesin ventilator, ada mesin saturasi Oksigen/Jantung, ada infus, ada selang Sonde/makanan, dsb)

Pernah seorang anggota Tim dokter yang didatangkan dari RS "C", yaitu dr. "I" ahli syaraf, setelah memeriksa anak saya mengatakan, "Penyakitnya malah dari RS ini semua, ya !!", Setelah masa perawatan 2 minggu tersebut timbul berbagai komplikasi; mata anak saya buta/tidak bisa melihat (menurutnya mungkin bisa sembuh karena anak saya masih bayi), Infeksi paru, memar di kepala, badan kaku/keras, padahal pertama kali masuk RS anak saya "hanya" sakit Panas. Kemudian dr "I" juga bilang " tadi saya coba lepas alat Ventilatornya agak lama, anak bapak bagus kok, dia sudah bisa bernafas sendiri ". Saya bersyukur berarti ada kemajuan pikir saya ketika itu.

Awal minggu ke tiga beberapa orang tim medis (ada beberapa dokter dan beberapa suster), mencoba melepas alat bantu nafas/Ventilator (mungkin setelah diberi masukan oleh dr. "I" dari RS "C"), di coba 1 jam, 2 jam, 3 jam dan seterusnya .... rupanya anak saya sudah bisa kembali bernafas sendiri/normal. Namun karena Sumber penyakitnya belum diketahui maka Tim medis beberapa kali melakukan penggantian Obat/anti biotik, diantaranya Acyclovir, Delantin, Tegatrol, TieNam, Meronem (dua jenis yang tertulis dibelakang katanya merupakan anti Biotik yang paling Ampuh/Mahal/Impor dari Amerika). 

Minggu ketiga dan selanjutnya Panas kepala anak saya relatif stabil (antara 36 - 38 derajat C), dan kondisinya relatif membaik "hanya" tinggal matanya yang Buta dan badannya yang kaku (sendi-sendinya tidak bisa ditekuk), namun pengambilan darah masih dilakukan secara berkala, dan hampir setiap hari dilakukan Terapi Fisioteraphy (Penyinaran dan pemijatan). Sehingga akhir minggu ke tiga semua Infus telah dicopot, oksigen dicopot, hanya tinggal selang Sonde (Selang makanan/di mulut) yang masih terpasang.

vaksinSaya dan Istri (serta keluarga besar kami), terus berdoa setiap hari untuk kesehatan anak kami satu-satunya, sampai pada pertengahan minggu ke empat, dr. "I" (Specialis syaraf dari RS "C") bilang anak kami boleh di bawa pulang, namun minimal harus sehari masuk ke ruang perawatan biasa dahulu (sesuai prosedur RS "B"). Dan menurut dokter "I" juga, anak kami hanya cukup rawat jalan ke RS "C", untuk berobat ke dr. "I" dan dr. "L" (specialis tumbuh kembang/penyembuhan tubuh anak saya yang masih kaku-kaku). Setelah sehari berada di ruang perawatan biasa, dan tidakada masalah kami membawa anak kami pulang dengan membawa dua macam obat (Anti kejang dan anti Virus), dan sebelum pulang, lagi-lagi anak kami diambil kembali darahnya oleh RS untuk pemeriksaan penyebab penyakit anak kami, setelah itu barulah kami diperbolehkan pulang.

Namun tidak sampai 2 hari anak kami di Rumah, kami/keluarga lupa akan luka dibelakang kepalanya (akibat perawatan yang lalai sebelumnya) yang masih belum sembuh total, lukanya terlihat memar/merah/agak bengkak/dan mungkin infeksi, yang mungkin juga membuat anak kami panas lagi/karena infeksinya, Panasnya kembali naik sampai 40 derajat C lebih, bahkan ketika akan kami beri obat (yang kami bawa dari RS), anak kami muntah hingga lemas, lalu tanpa banyak pikir lagi walaupun pada saat itu jam 02 pagi, kami kembali membawa anak kami ke RS "B" Cikini dan kembali kami mengalami kekesalan, anak kami diperlakukan layaknya seperti pasien yang baru masuk RS. Anak kami kembali masuk ICU, kembali harus Infus, puasa, diambil darahnya lagi (meskipun titik venanya sudah habis/tidak ada tempat lagi untuk infus/periksa darah, dan saya juga telah sampaikan mungkin panasnya akibat luka dibelakang kepalanya yang belum sembuh/infeksi), padahal saya sudah protes terhadap dr. jaga pada saat itu bahwa anak saya sebelumnya sudah dirawat hampir sebulan di RS tersebut, dan hasil lab. terakhirnya juga baru kemarin saya ambil dengan hasil "negatif", juga saya kemukakan mengenai luka dibelakang kepalanya yang harus diprioritaskan pengobatannya. Namun karena dr. terus mengemukakan argumennya, akhirnya kami mengalah dan menyerahkan sepenuhnya apapun yang akan dilakukan oleh dr. Dan kembali anak saya dipakaikan selang Oksigen ke hidungnya, lalu dengan alasan "saturasi" nafasnya terus menurun, Tim medis berencana untuk memasang kembali mesin Ventilator pada anak saya, dengan sebelumnya meminta persetujuan saya lagi untuk diambil darahnya sebelum pemasangan mesin tersebut (padahal ketika itu kondisinya terlihat pucat/kuning seperti telah kehabisan darah). Kembali dengan berat hati dan berharap Tim Medis melakukan tindakan yang "benar" untuk anak saya, saya kembali menyetujuinya. Namun belum sempat mesin itu dipasang, belum sempat hasil lab I dan ke II (pengambilan darah pada pada hari itu) ada hasilnya, akhirnya anak saya dipanggil oleh yang Maha Kuasa ...... anak saya mengalami Gagal Nafas dan dinyatakan Meninggal oleh pihak RS, walau saat itu saya pegang denyut Nadi di leher/bawah dagunya masih ada (walau lemah), sewaktu kami minta untuk terus memompa alat bantu nafas manualnya, Dokter/suster yang ada pada saat itu sudah lepas tangan dan tidak melakukan tindakan apapun juga. Akhirnya dengan Ikhlas, didepan mata kepala saya dan istri saya, anak kami melepaskan nyawanya tanpa kami bisa berbuat apapun juga (Selasa 12 April 2005 Jam 23.25 wib). Akhirnya Anak kami meninggal dengan sebab bukan karena penyakitnya (Panas), menurut kami "kemungkinan" karena gagal nafas/Infeksi paru atau malah "mungkin" karena terlalu lemah kehabisan darah.

 

Innalillahi Wa inna illaihi roji'un selamat jalan Permata hatiku, ........ doa kami 'kan selalu menyertaimu...Amin

Dan tidak lupa saya & keluarga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada rekan-rekan yang telah memberikan suport baik moril, materil maupun spirituil kepada saya dan keluarga, semoga segala kebaikan rekan-rekan akan dibalas dengan pahala yang berlipat-lipat oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Amin.

 

Salam, Istriyanto & Keluarga 

Note :

Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Ilmu Kedokteran dan tenaga medis, sesuai dengan pengalaman berharga dan mahal yang telah saya alami, maka kami mencoba mengambil kesimpulan (Setelah kami juga mendengar dari sesama Pasien RS, rekan/sahabat, tetangga, saudara yang sempat bezuk dan mengatakan pada saya, selama dalam perawatan sampai saat Meninggalnya anak saya) sbb:

1. Banyak kasus penyakit bayi/balita yang timbul setelah mereka disuntik imunisasi.

- Pasien lain di RS yang sama mengatakan pada saya, anak saudaranya sampai dengan usia 2 tahun belum pernah suntik Imunisasi Hepatitis namun, setelah ada dokter (spesialis anak) yang tahu, lalu disarankan di imunisasi Hepatitis, kemudian tidak lama setelah itu akhirnya anak saudaranya positif terkena Hepatitis akut, dan harus bolak-balik berobat ke dokter.

- Tetangga saya, sehabis Imunisasi campak, dua hari kemudian malah terkena campak.

- Tetangga kami yang lain, anak pertamanya rutin diimunisasi, namun phisiknya malah lemah sering sakit-sakitan, sedangkan anak keduanya sama sekali tidak pernah imunisasi namun malah sehat, hampir tidak pernah sakit (kalaupun sakit cepat sembuh/ringan)

- Teman sekolah saya anaknya tidak pernah Imunisasi malah sehat, umur 10 bulan sudah lincah berjalan, dan juga boleh dibilang tidak pernah sakit (kalaupun sakit hanya ringan saja).

- dan banyak lagi kasus-kasus serupa yang tidak mungkin saya tulis satu persatu.

2. Menurut saya, Jika bisa Hindari Imunisasi, kalaupun perlu/terpaksa pilihlah imunisasi yang pokok saja (bukan imunisasi lanjutan/yang aneh-aneh) alasannya :

- Kita "Mendzolimi", anak kita sendiri yang memang sedang masa pertumbuhan dan pertahanan tubuhnya masih lemah, malah kita suntikan penyakit (walaupun sudah dilemahkan) ke tubuhnya.

- Kita tidak pernah tahu kondisi anak kita sedang benar-benar sehat atau tidak, karena terutama anak yang masih di bawah 1 tahun biasanya belum bisa bicara mengenai kondisi badannya, sedangkan imunisasi harus dilakukan pada bayi/balita yang sehat (tidak sedang lemah fisiknya/sakit).

- Sesudah kita memasukan penyakit ke tubuh anak kita, biasanya kita juga harus mengeluarkan banyak biaya. (Jasa dokter/RS, harga imunisasi, dsb),

- Tidak ada jaminan (Dokter/RS/puskesmas) apabila setelah imunisasi anak kita bebas dari penyakit yang telah dimasukan ketubuhnya. Contoh nyata yang terjadi pada anak saya, padahal anak saya sudah 2 kali imunisasi HIB ketika berusia +/- 5 dan 7 bulan ), padahal sebelumnya dokter bilang imunisasi HIB untuk menghindari penyakit Radang Otak, namun nyatanya anak saya malah meninggal akibat penyakit Radang Otak.

- Menurut seorang rekan yang pernah membaca Literatur terbitan Prancis, justru Imunisasi sudah tidak populer di Amerika Serikat, dan terus berusaha dihilangkan dan tidak dipergunakan lagi, bahkan di Israel Imunisasi telah di STOP samasekali, padahal kita tahu negara-negara itu merupakan pelopor "industri", imunisasi.

- Menurut pengalaman saya jumlah kadar/isi setiap pipet/tabung imunisasi semua sama, jadi imunisasi tidak melihat berdasarkan berat tubuh/perbedaan Ras/warna kulit, padahal kalau Obat/Imunisasi itu Impor, tentulah kadarnya disesuaikan dengan berat/fisik orang Luar (Barat) yang jelas lebih basar dan kuat fisiknya dibanding orang Asia, namun kita malah sama-sama menggunakan dengan takaran yang sama. (akibatnya overdosis).

3. Jika tidak "urgent" sekali, hindari rawat inap di RS, karena banyak prosedur/step-step pengobatan yang akhirnya akan melemahkan tubuh pasiennya. (Contoh: keharusan berpuasa, pemasangan infus, pengambilan darah yang terus menerus, foto Rontgen, operasi, kemoteraphy, dsb). Jikalau perlu coba dulu dengan cara pengobatan alternatif/tradisional.

4. Jika perlu dengan tegas untuk menolak suatu tindakan medis yang akan dilakukan RS, jika kita yakini manfaatnya tidak benar-benar berpengaruh terhadap kesembuhan pasien.

5. Jika perlu lakukan 2nd opinion pada RS/dokter lain yang setara/lebih baik.

6. Banyak tanya, biarlah kita dibilang "bawel", tanyalah setiap tindakan medis yang akan dilakukan, mengapa akan di lakukan, akibat-akibatnya, ada tidak cara-cara lain/alternatif lain yang lebih baik/tidak terlalu menyakiti pasien.

7. Terus temani pasien (bisa bergantian dengan keluarga yang lain), karena setiap saat bisa ada tindakan medis yang memerlukan persetujuan, dan cermati semua pekerjaan perawatannya, jika ada yang habis/kurang jangan sungkan melaporkan ke tenaga medis yang ada segera.

8. Terus berdoa, karena segala sesuatunya telah ditetapkan oleh "Yang Maha Kuasa", manusia hanya bisa ikhtiar dan berusaha.

Diambil dari Forum Diskusi:
Share/Save/Bookmark
Dibaca :100894 kali  

Komentar-Komentar  

anes
Quote
 
+1
Quoting Nyai:
sy turut berdukacita atas meninggalnya anak bapak. semoga Allah swt memberikan tempat terbaik bagi anak bapak disisi-Nya.

namun sy juga ingin menegaskan bahwa itu bukanlah salah imunisasi. sy sedikit paham masalah kedokteran berhubung banyak dari keluarga sy bekerja sbg dokter. sy juga seorang muslim, jadi marilah kita membicarakan ini secara open minded.

dalam penelitian, selalu ada angka keberhasilan dan angka kegagalan. termasuk imunisasi. suatu intervensi dilakukan dan diwujudkan ke dunia medis tentunya jika pada penelitian tersebut, angka keberhasilannya jauh lebih tinggi dari angka kegagalannnya. dalam imunisasi, angka keberhasilan dan kegagalan itu kira2 7:3. dan dalam agama kita (karena anda menyangkut-pautkan agama), sy tdk pernah menemukan ada ayat Al-Qur'an atau Hadist yang menerangkan bahwa Imunisasi itu haram. justru dari sumber yang saya baca, kita harus memakai smua yg halal (termasuk obat), dan diperbolehkan memakai yg haram APABILA memang yang halal sudah tidak ada. contohnya sj vaksin kangker serviks yg dulu masih memakai sumber dari babi, sekarang sudah ditemukan sumber dari kelinci, jadi yang muslim bisa memakainya.

sy juga membaca komentar diatas yg mengatakan orang2 dulu lbh sehat dari kita. jelas saja! orang dulu tidak mengenal KFC,McD, bebas polusi, pekerja keras, bebas radikal, dan penyakit yg ada pun telah berevolusi. sementara kita yang hidup di jaman sekarang? yakinkah kita balau kita telah bebas dari segala macam racun?

sy dan adik saya juga imunisasi lengkap. semua keluarga sy imunisasi lengkap dan alhamdulillah belum ada diantara kami yg meninggal krn salah imunisasi. sy pernah kena cacar dan cmpak meski sudah diimunisasi. justru itu adalah mekanisme tubuh untuk mengenali virus2 tersebut. sekali lagi, bukan salah imunisasi. dokter juga manusia, mungkin saat anak bapak mau diimunisasi, dokternya lalai dan tidak memeriksa kondisi fisik anak bapak terlebih dahulu, sehingga menerima imunisasi dengan kondisi lemah...

Quoting Nyai:
sy turut berdukacita atas meninggalnya anak bapak. semoga Allah swt memberikan tempat terbaik bagi anak bapak disisi-Nya.

namun sy juga ingin menegaskan bahwa itu bukanlah salah imunisasi. sy sedikit paham masalah kedokteran berhubung banyak dari keluarga sy bekerja sbg dokter. sy juga seorang muslim, jadi marilah kita membicarakan ini secara open minded.

dalam penelitian, selalu ada angka keberhasilan dan angka kegagalan. termasuk imunisasi. suatu intervensi dilakukan dan diwujudkan ke dunia medis tentunya jika pada penelitian tersebut, angka keberhasilannya jauh lebih tinggi dari angka kegagalannnya. dalam imunisasi, angka keberhasilan dan kegagalan itu kira2 7:3. dan dalam agama kita (karena anda menyangkut-pautkan agama), sy tdk pernah menemukan ada ayat Al-Qur'an atau Hadist yang menerangkan bahwa Imunisasi itu haram. justru dari sumber yang saya baca, kita harus memakai smua yg halal (termasuk obat), dan diperbolehkan memakai yg haram APABILA memang yang halal sudah tidak ada. contohnya sj vaksin kangker serviks yg dulu masih memakai sumber dari babi, sekarang sudah ditemukan sumber dari kelinci, jadi yang muslim bisa memakainya.

sy juga membaca komentar diatas yg mengatakan orang2 dulu lbh sehat dari kita. jelas saja! orang dulu tidak mengenal KFC,McD, bebas polusi, pekerja keras, bebas radikal, dan penyakit yg ada pun telah berevolusi. sementara kita yang hidup di jaman sekarang? yakinkah kita balau kita telah bebas dari segala macam racun?

sy dan adik saya juga imunisasi lengkap. semua keluarga sy imunisasi lengkap dan alhamdulillah belum ada diantara kami yg meninggal krn salah imunisasi. sy pernah kena cacar dan cmpak meski sudah diimunisasi. justru itu adalah mekanisme tubuh untuk mengenali virus2 tersebut. sekali lagi, bukan salah imunisasi. dokter juga manusia, mungkin saat anak bapak mau diimunisasi, dokternya lalai dan tidak memeriksa kondisi fisik anak bapak terlebih dahulu, sehingga menerima imunisasi dengan kondisi lemah...


Utk mengetahui ttg bahaya imunisasi lebih dalam, sebaiknya bapak baca dulu penelitianya jerry d gray dalam buku 'deadly mist', buku yg luar biasa, agar bapak tahu bahayanya imunisasi secara ilmiah dan objektif
ratna ummu nisa
Quote
 
0
Iyaa memang benar & terlihat sekali perbedaannya anak prtama saya lgkap imunisasinya & yg ke 2 hanya sekali & perbedaannya anak yg tdk di imunisasi cenderung lbih cerdas dibandingkan yg rutin di imunisasi :cry:
dewi1
Quote
 
0
Mnrt sy, jmn dulu dan skr beda, skr lbh banyak penyakit, udara juga sangat ber polusi. Maka dr itu dianjurkan utk imunisasi. Perlu anda ketahui kalau imunisasi DTP itu ada 2 macam, panas dan dingin, kata dokter anak saya, kalau pakai yg panas, setelah imunisasi, baby langsung diksh obat turun panas.kira2 hanya 2-3x mnm obat, sidah tidak panas lg. Anak2 saya semua imunisasi lengkap dan sampai sekarang msh sehat2 saja. Dan perlu diketahui, sebelum imunisasi, anak harus diperiksa dulu kondisi tubuhnya apakah memungkinkan untuk imunisasi. Kalau anak dalam keadaan tidak sehat maka sebaiknya ditunda sampai benar2 sehat. Sebaiknya sebelum melakukam imunisasi, tanyalah dulu lebih lanjut pada dokter anal anda, dan bila dokter tsb menjawab asal atau ketus, sebaiknya anda mencari dokter lain yg memang lbh memperhatikan kesehatan anak. Di kota saya masih ada dokter spt itu, bila anak kurang sehat tidak akan dilakukan imunisasi.
Ummi Azzam
Quote
 
0
klu yg sdh terlanjur imunisasi,bisa diterapi dg cara bekam dulu,stlh itu terapi akupuntur utk memperbaiki syarafnya dg dokter yg ahli.Byk anak down syndrom yg dari bayi akupuntur sdh bisa normal lg..Sy punya referensi akpntr dg dokter yg sdh sklh 4 thn di china dan ptakteknya di Pekanbaru,bisa contact ke nohp anaknya 082384282384.Sm g bermanfaat.
Ummi Azzam
Quote
 
+1
Bagi yg sdh terlanjur imunisasi,bisa dibekam dulu utk mengeluarkan racunnya,kemudi an terapi akupuntur dg dokter yg ahli agar syarafnya kembali normal
hafidh abdurrohman
Quote
 
-2
Bagi yang ingn tahu Rahasia Besar di Balik Proyek Imunsasi di seluruh dunia ini, bisa baca ukunya Jerry D Grey (Muallaf, mantan pilot tempur AS). Insya ALLOH kita semua akan menemukan inormasi yg sangat berharga.. Judul "Rasululloh is my doctor" dan yg satunya "Deadly Mist"..
Arie
Quote
 
+1
Minta Ijin Share… mengingat info ini sangat penting. Biar kita semakin tau tentang Vaksin dan Imunisasi… Terima kasih dan semoga bermanfaat ...>>>


http://pasarherbaltop.blogspot.com/2012/02/imunisasi-adalah-racun.html?showComment=1407461177273#c6035725549574932710

http://bl0gnya-blogger.blogspot.com/2011/07/heboh-imunisasi-ternyata-tipu-muslihat.html

https://www.facebook.com/notes/didin-rosyidin-full/mengungkap-konspirasi-zionis-yahudi-bahaya-imunisasi-dan-vaksin/259830830708579

http://daulahislam.com/medic/50-alasan-untuk-tidak-memvaksinasi-anak-anak-anda.html
intan pertiwi
Quote
 
0
saya boleh minta alamatnya bunda thief?
sofiyah
Quote
 
-2
sama seperti aku kemarin, bayiku baru berusia 2 bulan kejang2 setelah imunisasi, bidan ngasih obat turun panas tidak untuk di minumkan kepada bayiku, tapi untuk di minum ibunya. hampir saja aku kehilangan nyawa anakku, dengan berlari2 aku kerumah dokter dengan membawa bayiku yang nafasnya tinggal di tenggorokan dengan mata melotot dan badan kaku.AL-hamduli llah masih bisa tertolong setelah sampai di rumah dokter di kasih obat turun panas, dan membungkus seluruh badan bayiku dengan kain basah akhirnya bayiku sadar dan mengangis.
Mukhlasin
Quote
 
+2
Masya alloh.......sun gguh keagunganMU tlah brikan pngetahuan ini......terima kasih semua....
Joe ngota
Quote
 
-2
:sad:
Joe ngota
Quote
 
+1
Innalillahiwainnailaihiroji'un..
Saya turut brduka cita.

Membaca Cerita dan komntar tmn2 di atas , yang tadi nya saya ingin mengimunisasi anak pertama saya, saya berfikir kembali dan menyatakan keputusan untuk tidak mengimunisasi anak saya yg berumur 2 bln.
Semua saya serahkan saja ke pada Allah swt, sebagaimana telah diterangkan di qur'an dan telah dinyatakan oleh nabi Muhammad. amiiiin.. mudah2an anak saya selalu tetap sehat tanpa imunisasi.
iton
Quote
 
-4
Imunisasi mrpkn produk org2 kafir dan yahudi yg tujuan utamanya adlh merusak genetik dan melemahkan imunitas pada bayi kaum muslimin dseluruh dunia serta menekan tingkat kecerdasan pd bayi. Krn bayi yg br lahir sdh d anugrahi imunitas alami oleh ALLOH. Dan tdk perlu tambahan imunitas dr luar, apalagi imunitas dr bahan kimia. Sebaik2 imunisasi bg bayi adalah ASI (air susu ibu). Anak saya tdk saya imunisasi alhamdulillaah sgt sehat, cerdas,blm pernah sakit. Imunisasi kimia itu sendiri jg bahannya jg tdk halal.
uthie
Quote
 
0
apabila sudah terlanjur imunisasi adakah efek buruknya kl tidak melnajutkan imunisasi berikutnya ? bagaimana perkembangan kesehatan anak bapak/ibu sekalian yg anaknya tidak diimunisasi mohon jawabannya untuk pegangan saya
Yusuf Mudadalam
Quote
 
+3
Quoting arman:
sebelum ada imunisasi seperti sekarang, nyatanya anak-anak jaman sebelum kakek nenek kita justru lebih hebat daya tahan tubuhnya. saya juga heran, untuk apa sebenarnya imunisasi itu?


se7........
klo di tny u. apa.....
Dalihnya menyehatkan rakyat.
intinya adalah membuat sarana penghubung u. mengaktifkan remote control.
TX (transmitter) ga berpungsi klo ga ada RF (rectifier, gmn mau masukin setrom klo ga ada kabelnya.
Yusuf Mudadalam
Quote
 
0
se7........
klo di tny u. apa.....
Dalihnya menyehatkan rakyat.
intinya adalah membuat sarana penghubung u. mengaktifkan remote control.
TX (transmitter) ga berpungsi klo ga ada RF (rectifier, gmn mau masukin setrom klo ga ada kabelnya.
Yusuf Mudadalam
Quote
 
-1
>Lalu bagaimana untuk ibu yang sdh dicoba dgn berbagai macam resep/cara tp ASI nya tidak keluar?

Suapi kurma pagi sore..
Yusuf Mudadalam
Quote
 
-1
Quoting ASdi:
keluarga saya dan keluarga sodara2 saya diimuniasasi gak ada sd skr kabar efek buruk nya, tetangga se gang, se rt bahkan se kampung yg diimunisasi juga gak ada kabar buruk efek imunisasi.

intinya semua hal ada saja efeknya, tapi saya blm bisa berkomentar karena blm pakar dalam hal dunia kedokteran.


klo ga di imunisasi, buruknya apa ? ...
Yusuf Mudadalam
Quote
 
0
ASdi > "keluarga saya dan keluarga sodara2 saya diimuniasasi gak ada sd skr kabar efek buruk nya, tetangga se gang, se rt bahkan se kampung yg diimunisasi juga gak ada kabar buruk efek imunisasi"
... jadi efek baik nya apa Mas ASdi ?....
klo ga di imunisasi, buruknya apa ? ...
bunda
Quote
 
0
mungkin kita bisa lebih bijak lagi dalam mengkonsumsi sesuatu
jangan karena di anggap menyehatkan atau demi kesehatan kita tidak peduli kandungan bahan yang ada di dalamnya,
kalo ujungnya sama2 menuju kematian sang kholiq kenapa harus memasukkan benda2 yang tak jelas dalam tubuh kita?
ini gambling namanya , di coba saja dulu dan kita lihat efeknya,
iya kalo yang tetap bugar, lah kalo yang jatuh sakit, tanggung jawab siapa?
toh kita tidak bisa tertawa di atas penderitaan orang,
dengan kata lain kita bersyukur walau memakai ini atau itu tetap sehat, bagaiman dengan yang tidak beruntung?
apa kita tidak ikut sakit merasakannya?
jika ingin sehat ayo kita ajak sehat semuanya, bukan kalo sakit sakit aja sendiri,
bunda athif
Quote
 
-1
sy turut berduka atas kejadian ini
saat ini tgl 5 januari 2014, anak sy hanya bisa berbaring tak bisa apa2 seperti waktu sehat bisa duduk guling2 pukul2 hingga menyuapi mamahnya, setelah suntik dpt/polio2 panas dikepala saja terus menerus hingga usia 11bln yg akhirnya membuat anak sy tiba2 lemas lemas dan lemas, sy sudah melewati tukang pijat, dokter umum, dokter anak hingga opname 2 minggu tak terjadi perubahan apa2 anakku tetap tidak bisa apa2 rs hanya memvonis kena flek paru2, pulang hanya di beri obat paru dan sisanya rawat jalan, namun kami sudah kapok dg medis, akhirnya kami keliling2 mengobati anak sy dg terapi herbal, hingga akhirya kami bertemu dg terapi yg menyarankan untuk tes torch, dari 10 virus hanya 1 yg positif yaitu visur yg biasanya menyerang saraf otak, sekali lagi kami heran dari mana dtgnya virus itu, karena anak ini lahir sehat normal tidak kekurangan apapun, tidak seperti ibu hamil yg terjangkit torch yg bisa kemungkinan anaknya lahir cacat,dll, tp anak sy lahir normal walau operasi, dari situ kami terapi torch dan minum herbal lainnya seperti madu, hingga suatu ketika kami ingin beli herbal di seorang ibu, dia menyarankan kami untuk secepatnya pergi ke terapis yg fenomenal katanya yg bisa mengatasi anak2 sakit akibat imunisasi, keesokkan harinya sy dan suami lgs mendatangi tempat prakteknya walau jauh sekali bagi kami, di sana sy mendapat bnyak cerita, dan percis bgt dg yg anakku alami, akhirnya anakku di bekam untuk di ambil vaksin yg sudah mengendap di darah di bagian punggung, alhamdulillah sampai rumah anakku mulai bisa menggangkat pundaknya walau sedikit, insyaallah pengambilan darah kotor ini akan berlanjut sampai benar2 bersih dan ada perkembangan bagus bagi anakku, semoga pgalaman ini bs dipelajari dan belm terlambat bgai yg anak2 mengalami kejadian yg hampir sama untuk segera bertindak agar tidak seperti anak saya yg menunggu drop selama hapir 7 bulannan hingga tidak bisa apa2, jika ada yg membutuhkan info alamat terapi tersebut bisa hub sy di
xugi
Quote
 
+1
aku sangat sedih....
anakku nasibnya juga hampir sama... dia berumur 7 bulan 8 hari..
selama hidupnya tidak pernah sakit, tidak bisa tertular penyakit apapun.. serumah flu dan batuk dia gapapa....
cuman gara gara istri saya kuatir memasuki 7 bulan dia nafsu makan berkurang... dan sebenarnya sudah mau makan seperti biasa, tapi istri saya mau periksakan ke dokter rekomendasi ibunya...dan dokter itu seperti orang stress (aku bisa tau karena aku pelajari banyak sekali hal termasuk hal psikologi dan hypnoterapy org stress) dan dikasih antibiotik tanpa sepengetahuan kami... label botol biasa ditutup dosis :( dikasih minum anak saya sesak napas, kurangi dosis hasil sama, besoknya matanya keluar kotoran mata terus dan akhirnya pindah dokter dan kotoran mata sembuh cuman sesaknya tidak sembuh... akhirnya masuk rs, dgn harapan bisa ada hasil lab, NAMANYA RSIA tidak ada dokter anak yg standby... perawatnya bahkan tidak tutup lubang tuk masukin obat lewat infus :( kami protes baru ditutup...
anak saya masuk sore.. malam dikasih oxygen.. tidak ada dokter...
dan sesudah malamnya dia baikan dia tarik2 oxygennya (pintar sekali) akhirnya dia makan minum dan buang air lancar dan bobok dengan enak sampai pagi seperti bbiasa, semua lancar.. kami tanyakan hasil lab katanya gapapa, cuman agak panas...paginya dokter baru datang... dan blng gpp, saya coba tunjukin obat yg menyebabkan hal itu di cuekin dgn perkataan jgn diberikan lagi aja.
semua berjalan normal... baby ku bisa makan dan minum serta buang air lancar... dan bobok enak, siangnya dia dibangunkan tanggisan anak tetangga...yg nanggis berjam jam.. akhirnya dia ikut nanggis sampe ikutan sesak napas... :(( ku langusng pindahkan ke kamar super yg cuman 1 orang.
akhirnya sampai disana tidak perlu oxygen aja sesaknya hilang dan sudah normal.. aku happy sekali... uda bisa berinteraksi dengna kami seperti biasa..
aku tidak tahan... aku akan ceritakan kelanjutannya.. maaf
riko
Quote
 
0
saya turut, berduka cita atas meninggalnya anak bapak, semoga kesabaran dan ketabahan bapak sekeluarga menjadi pahala amal sholeh. tapi sedikit saya ingin mengomentari kisah di atas, saya tidak melihat bahwa imunisasi yang diberikan adalah penyebab menurunnya kondisi anak bapak, itu terlihat dari hasil diagnosis yang berubah-ubah bahkan negatif. kita tidak tau, bila penyakit tersebut memang sebelumnya sudah ada di dalam tubuh anak bapak, sehingga kalaupun si anak sebelumnya tidak diimunisasi, penyakit tersebut mungkin juga akan muncul. justru saya mengambil kesimpulan dari cerita di atas adalah penanganan yang kurang tepat dari tenaga medis terhadap kondisi anak bapak yang menurun. mohon maaf.
m
Quote
 
0
assalamu'alayku m. maaf sebelumnya, mungkin tidak semua imunisasi itu berbahaya. memang seharusnya ada pemberitahuan bagaimana cara merawat bayi yang baru di imunisasi. kalau sampai step, itu juga ada penangan yang sederhana. disini, tenakes harus memiliki data persetujuan pasien atau tidak, RS memiliki aturan agar jika ada suatu hal terjadi akan ada barang bukti yang tidak memberatkan satu pihak. dimohon kerja sama antara tenaga kesehatan dengan masyarakat, insyaAllah maksud dari semua adalah untuk melindungi. semoga Allah selalu melindungi kita semua dari fitnah dan marabahaya.moho n maaf atas tindakan yang lalu-lalu dari kami.
sulthon
Quote
 
0
Quoting syahril rumagorong:
dari sekian banyak contoh yg ada, kita semakin yakin bahwa Nabi Muhammad saw adalah pesuruh Allah yg telah menunjukkan kepada ummat bagaimana cara meningkatkan daya tahan (imun) pada bayi, dengan menyuapi kurma dan memberi ASI yang sangat luar bisa. Buankah Qur'an memberikan anjuran kepada semua ibu untuk memberi ASI kepada bayinya hngga berusia 2 tahun? Imunisasi mana lagi yg lebih hebat dari petunjuk Allah dan Rasul Mustafa Shallaahu'alaihi wasaalm????


Lalu bagaimana untuk ibu yang sdh dicoba dgn berbagai macam resep/cara tp ASI nya tidak keluar?
syahril rumagorong
Quote
 
+1
dari sekian banyak contoh yg ada, kita semakin yakin bahwa Nabi Muhammad saw adalah pesuruh Allah yg telah menunjukkan kepada ummat bagaimana cara meningkatkan daya tahan (imun) pada bayi, dengan menyuapi kurma dan memberi ASI yang sangat luar bisa. Buankah Qur'an memberikan anjuran kepada semua ibu untuk memberi ASI kepada bayinya hngga berusia 2 tahun? Imunisasi mana lagi yg lebih hebat dari petunjuk Allah dan Rasul Mustafa Shallaahu'alaih i wasaalm????
wieky
Quote
 
0
anak saya sdh 2 thn...
tdk ada imunisasi...
selama 2 thn ini hanya mengalamai demam 2 kali yang cukup tinggi..sehingg a 2 kali itulah yang dibawa ke dokter...
itupun anak saya hanya sedikit makan obat dokter..karena tidak mau minum obat... dan beberapa hari juga sembh sendiri..cukup ASI, minum air dan istirahat aja.. sampai 2 thn masih ASI...

kesimpulan saya... mekanisme tubuh sdh hebat..tidak perlu dimasukkan obat, vaksin imnisasi(penyak it yg sudah dilemahkan)...
Allah sdh menciptakan manusia dalam sebaik2nya bentuk, termasuk imun.. ASI adalah imunisasi terbaik..

pertanyaannya, imunisasi itu kan memasukkan vaksin, agar imun mencadi cerdas krn sdh mengenali kuman tsb, dan membentuk antibody... apakah org yg sdh diimunisasi tetanus, tidak akan kena tetanus nantinya jika sdh dewasa?
syafii
Quote
 
+1
Astaghfirullah, jatuhnya airmata tiada dapat di bendung melihat kisah nyata yang smga membawa inspirasi bagi yang lain...setiap ilmu yang dimiliki ada tanggung jawabnya begitu halnya tindakan yang terjadi baik dilandasi ilmu maupun tidak nantinya ada tanggung jawabnya.....sm ga kesabaran dan kekuatan selalu diberikan buat anda dan kita semua.
Eko Andrianto
Quote
 
-1
Semoga sabar ya Pak...
Semoga nanti bertemu dengan si kecil di pintu surga...

Aamiin...
Salam
Eko Andrianto
admin http://pembiayaansyariah.info
nesa
Quote
 
0
Innalillahi Wa inna illaihi roji'un
turut berduka cita atas meninggalnya buah hati Bpk.Istriyanto,
sebelumnya saya juga pernah lakukan imunisasi pada anak saya yg sekarang sudah berumur 9bln, tapi saya tidak melanjutkannya lagi karena setelah imunisasi ke2 dilakukan anak saya panas tinggi,tp kami hanya obati dgn tradisional Alhamdullilah anak saya sehat,tp kami tidak mau terulang lagi jadi kata Papa dari anak saya tidak usah lagi diimunisasi karena takut panasnya tidak turun lagi. tp berbeda dgn tetangga saya juga punya anak berumur 7bln yg sering di imunisasi. Terakhir kita dengar kabarnya anak beliau meninggal dunia karena demam panas tinggi, batuk pilek dan penyakit campak, sempat juga dibawa ke RS tp mungkin Allah berkehendak lain, anak tetangga saya di panggil yg Maha Kuasa. Orang tuanya bercerita kepada saya pada saat dirawat di RS bahwa anak tersebut dianjurkan untuk puasa, sering diambil darahnya untuk dicek, sperti yg dilakukan pada anak bapak Istriyanto juga, dia kasihan sekali lihat anaknya yg berumur 7bln lemas tak berdaya dan diharuskan sperti itu.
yg di pertanyakan " apakah tidak ada tindakan medis selain dari itu yg dilihat mata telanjang sperti menyiksa bayi yg daya tahan tubuhnya memang kurang? "
arifin21
Quote
 
-1
Ass wr wb
Turut berduka...anak saya mengalami kejadian hampir serupa dengan anak anda..sekarang umur 14bln, masih memakai selang THT pasca ICU. Terkena radang otak dan skarang masih buta (dokter bilang sementara) panas tubuhnya sebelumnya diatas 38,5 terus dan lebih dari 10 dokter ahli tidak tahu penyebabnya. mulai dari 2 bulan keluar masuk RS terus..sekarang masih disuruh terapi. kronologi hampir serupa, saya terus berdoa untuk anak saya, minimal bisa meliha dan kemudian berdiri dan jalan normal (skrang masih tidur aja, katanya mengalami kemunduran perkembangan) terakhir penanganan ICU seminggu di RS E** bsd tangerang.

wass wr wb
herman99
Quote
 
+1
Imunisasi&Kb programnya zionis amerika yg ingin menghancurkan negara islam seperti mereka menghancurkan irak..libya..me sir..pakistan.s yiria..ga lama lagi Indonesia
Ummu Salamah
Quote
 
0
Sudah terlalu banyak korban Vaksinasi, sebaiknya program ini di hapuskan.


Orang tua pilihlah cara yang telah di Contohkan Rasulullah. Untuk Bayi, berikan ASI halalan Toyiban dan Tahnik, untuk anak anak, remaja, dewasa, orang tua maka laksanakanlah Bekam, minum herbal contoh Rasul, makan halalan toyiban, prilaku taat Syariah di setiap langkah kehidupan.

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=648968695125157&set=p.648968695125157&type=1&theater
Nyai
Quote
 
+1
sy turut berdukacita atas meninggalnya anak bapak. semoga Allah swt memberikan tempat terbaik bagi anak bapak disisi-Nya.

namun sy juga ingin menegaskan bahwa itu bukanlah salah imunisasi. sy sedikit paham masalah kedokteran berhubung banyak dari keluarga sy bekerja sbg dokter. sy juga seorang muslim, jadi marilah kita membicarakan ini secara open minded.

dalam penelitian, selalu ada angka keberhasilan dan angka kegagalan. termasuk imunisasi. suatu intervensi dilakukan dan diwujudkan ke dunia medis tentunya jika pada penelitian tersebut, angka keberhasilannya jauh lebih tinggi dari angka kegagalannnya. dalam imunisasi, angka keberhasilan dan kegagalan itu kira2 7:3. dan dalam agama kita (karena anda menyangkut-paut kan agama), sy tdk pernah menemukan ada ayat Al-Qur'an atau Hadist yang menerangkan bahwa Imunisasi itu haram. justru dari sumber yang saya baca, kita harus memakai smua yg halal (termasuk obat), dan diperbolehkan memakai yg haram APABILA memang yang halal sudah tidak ada. contohnya sj vaksin kangker serviks yg dulu masih memakai sumber dari babi, sekarang sudah ditemukan sumber dari kelinci, jadi yang muslim bisa memakainya.

sy juga membaca komentar diatas yg mengatakan orang2 dulu lbh sehat dari kita. jelas saja! orang dulu tidak mengenal KFC,McD, bebas polusi, pekerja keras, bebas radikal, dan penyakit yg ada pun telah berevolusi. sementara kita yang hidup di jaman sekarang? yakinkah kita balau kita telah bebas dari segala macam racun?

sy dan adik saya juga imunisasi lengkap. semua keluarga sy imunisasi lengkap dan alhamdulillah belum ada diantara kami yg meninggal krn salah imunisasi. sy pernah kena cacar dan cmpak meski sudah diimunisasi. justru itu adalah mekanisme tubuh untuk mengenali virus2 tersebut. sekali lagi, bukan salah imunisasi. dokter juga manusia, mungkin saat anak bapak mau diimunisasi, dokternya lalai dan tidak memeriksa kondisi fisik anak bapak terlebih dahulu, sehingga menerima imunisasi dengan kondisi lemah...
sesni
Quote
 
0
saya turut berduka cita atas musibah ini...terima kasih atas infonya, semoga kita semua bisa menjadi orang tua yang cerdik.....amii n....
wulan
Quote
 
-1
Sy turut berduka. Smg allah memberi ganti yg lbh baik. Dan semoga anak bpk diberi tempat yg terbaik disisi allah. Sy juga punya sepupu usia 7 bulan, dia seringmengalami panas hanya dibagian kepala dan leher saja. Sudah banyak obat kimia yg dia minum untuk memurunkan demamnya tp obt tsb hnya bersifat sementara dan panasnya kembali naik. Kemudian sy beri madu untuk anak usia 0 tahun, rutin walaupun tidak cepat efeknya tapi alhamdulillah setelah beberapa lama trus rutin diberikan madu tsb keadaannya mulai membaik.
Pepi
Quote
 
0
Turut prihatin dan berduka atas musibah yang menimpa ananda tercinta buah hati Istriyanto dan Keluarga......,

Dengan kejadian tersebut saya jadi ingat sebuah literatur yg menyatakan 10 kebiasaan orang Yahudi... dimana salah satunya adalah :

Orang Yahudi menguasai dunia kedokteran, medis dan banyak menciptakan obat2an kimia & vaksin.... Tetapi mereka dan kaumnya sama sekali tidak menggunakan obat2an kimia dan vaksin tersebut (karena mereka tahu efek jangka panjangnya terhadap tubuh)....

Tetapi mereka justru dalam pengobatannya hanya menggunakan HABBATUSSAUDA

Semoga menjadi pelajaran buat kita.... Amin
Jihan Ameera
Quote
 
+3
Jujurr air mata ini tdk bisa terbendung lagi stelah baca tulisan ini.. Robbii... betapa tercabik2nya hati seorang ibu... sy turut prihatin dan jugaberterimksh yg sebsarnya pada ibu..kebetulan sy juga mempunyai seorang putri ygbru berusia 5 bulan dan sdang mncri info ttg imunisasi...beb erapa rekan dan keluarga mngnjurkan agar diabaikan saja imunisasinya... kini sy makin njdi yakin untuk mengikuti saran mereka....skali lagi terimakasih....
dr.yunus
Quote
 
+1
KB,IMUNISASI DAN RACUN2 YG DISISIPKAN PADA MAKANAN2 MINUMAN,OBAT-OB ATAN ATAU PRODUK2 YG BERAFILIASI KEPADA YAHUDI ADALAH AGENDA TERSEMBUNYI YAHUDI UNTUK MENGURANGI JUMLAH PENDUDUK DUNIA,KHUSUSNYA UMAT ISLAM DI INDONESIA,DAN INI SUDAH TERBUKTI.!!!
Amat Hanafi
Quote
 
+2
Anak saya yang no 1 & 2 dilakuka imunisasi. Salah satunya campak, tapi dari mereka tetap saja pernah campak.
Untuk anak saya yang ke-3, saya menolak semua tawaran imunisasi. saya beri anak tersebut disamping ASI, Madu dan Sari Kurma.
Alhamdulillah perkembangannya jauh lebih sehat
dandy trilaksono
Quote
 
0
inalilahi..turu t berduka cita.
terima kasih utk informasi yg berharga ini,,krn menurut sy imunisasi memang tdk perlu krn manusia telah diberikan imun alami dr Sang Pencipta sejak lahir.
hendry
Quote
 
0
Saya turut berduka cita atas meninggalnya anak ibu dan bapak!
Adib Fauzi
Quote
 
+1
Saya turut berduka cita bu,semoga permata hati anda di terima di sisinya.saya tahu betapa sakitnya perasaan ibu,semoga ibu selalu di beri ketabahan..aamiin
dan terima kasih ibu telah berbagi tulisan ini,sangat bermanfaat bagi kami.semoga menjadi amal kebaikan ibu.
wahida
Quote
 
0
Saya bisa merasakan apa yg ibu Suryani dan keluarganya rasakan serta orang tua yang ditinggal pergi oleh anaknya, karena saya sendiri juga sudah merasakannya ditinggal pergi duluan untuk selamanya oleh anak kandung sendiri.

Sekedar mengingatkan saja kalau imunisasi itu adalah hanya bagian dari suatu proses dan bukan karena imunisasi hingga seorang anak meninggal dunia, karena banyak juga anak" yang sudah imunisasi tidak mengalami hal seperti yang ibu Suryani alami.
Seperti halnya juga anak saya yang meninggal saat usianya hampir masuk 6 tahun karena ditabrak sama mobil, itu semua bagian dari proses anak saya menuju yang namanya kematian, karena tidak semua orang yang ditabrak mobil itu meninggal.

Bagi orang tua memang berat rasanya bila ditinggal pergi oleh anak kandung sendiri termasuk saya pribadi.
Habis diimunisasi dan habis ditabrak mobil kemudian meniggal dunia adalah proses yang dilalui oleh anak kita menuju pintu yang namanya mati.
Semua proses itu adalah ujian buat kita keluarga yang ditinggalkannya . Kesabaran dan keikhlasas kita menghadapi semuanya Insya Allah akan membawa hikmah tersendiri bagi kita.
Kita menyayangi anak kandung kita sendiri, tapi Allah SWT lebih menyayanginya dengan memanggilnya kembali disaat belum bisa membedakan mana yang baik dan salah, serta belum mengenal yang namanya dosa. Insya Allah anak kita akan diberikan tempat yang terbaik disisi Allah SWT.

Kelahiran dan Kematian mutlak karena kehendak Allah SWT.
Semuanya sudah ada yang mengaturnya, jika janji sudah sampai, siapapun tidak bisa menolak dan mencegahnya.
zakiya
Quote
 
+2
ya allah segitu parahnya efeknya.imunisa si tu cuma akal-akalan yahudi aja buat ngancurin bangsa lain,udah banyak kok peneliti2nya,ca ri aja di google.buat vaksinnya dari bangkai babi monyet ayam tikus,menjijika n deh.mendingan ga usah diimunisasi deh,kan udah ada ASI,itu yang terbaik.ada obat,ada penyakit,supaya obatnya laku,maka dibuatlah penyakit.
ratna
Quote
 
+2
Sy trut berduka cita ats meninggl'y ank bpk,sy jg sma pak,ank prtma sy bru berusia 6 hri meninggl krn hbs ϑί imunisasi,bdn'' Ώyå lgsng demam,Sy klo inget ank sy Ɣªηğ prtma sy sedih bnget A̶p̶a̶ └åƍi tgl 27 juni ne ank sy ULTAH Ɣªηğ k 2thn n alhmdllh sy skrng Üϑάн hamil └åƍi 3 bln,,
sherly
Quote
 
-2
saya turut prihatin.terima kasih informasinya. memang rata 2 RS sekarang seperti itu. kalau di lihat dari cerita bapak, seharusnya setelah bapak tau bahwa perlakuan ( tindakan medis ) di RS B adalah tidak bagus, dari awal kan sudah terlihat. kinerja suster nya, dll. jangan bawa anak ke RS yang kinerja & atticude dokter / susternya buruk seperti RS A & B. Apalagi setelah sudah pulang dari RS B. Harusnya anak tdk d bawa lagi ke RS B, melainkan ke RS C. Krn saya tarik kesimpulannya bahwa anak Bp. justru meninggal bukan krn demam, tapi krn terlalu sering ambil darah, d rawat malah jadi tambah banyak penyakitnya. kasihan, yg bengkaklah, lebam, memar, gagal nafas, kurang darah. kasihan pak. ( saya setuju dengan opini dokter dari RS C ) Mending anak bp jangan kembali ke RS B, tapi ke RS C saja. apalagi sudah terlihat kuning kurang darah harus di ambil darah lagi, puasa segala macem. karena RS tidak akan mengambil tindakan sebelum pihak orang tua menyetujui. jadi kita sebagai ortu harus cerdas. mohon maaf ini hanya sebagai pendapat saja
vierce vrosnan
Quote
 
+1
Sblm nya trmkasih ya pak/ibu ats imfrmsi ny..saya dr riau,saya mmg awam so'al keada'an bayi,dan saya baru pnya bayi yg sdh brmur -+6bl.stiap imunisasi anak saya demam,dan kata dokter nya gak apa2.tpi saya tkut akan keada'an anak saya.dan saya tdk lnjutin imunisasi lagi.bayi sehat di bikin sakit !! Kan ƍαĸ msuk akal.dan skli lagi terima kasi atas imformsi ny.salam hangat dr riau.
ayhu wahyuni
Quote
 
0
trimakasih tlh mencantumkan artikel ini, sikaranya bisa dijadikan tambahan pengetahuan bgi saya sbagai mahasiswa kebidanan..
roby
Quote
 
0
saya sudah baca semua dan saya benar2 ikut prihatin atas musibah yang bapak alami, mengapa saya bisa mendapatkan artikel ini, itu karena saya sedang mencari apakah infus untuk balita yang terkena muntaber berbahaya? soalnya anak saya sekarang sedang di rawat inap di rs, saya sangat tidak menginginkan apabila cerita bapak istriyanto terjadi kepada anak saya,,,apa yang harus saya lakukan ?
ASdi
Quote
 
-1
keluarga saya dan keluarga sodara2 saya diimuniasasi gak ada sd skr kabar efek buruk nya, tetangga se gang, se rt bahkan se kampung yg diimunisasi juga gak ada kabar buruk efek imunisasi.

intinya semua hal ada saja efeknya, tapi saya blm bisa berkomentar karena blm pakar dalam hal dunia kedokteran.
arman
Quote
 
0
sebelum ada imunisasi seperti sekarang, nyatanya anak-anak jaman sebelum kakek nenek kita justru lebih hebat daya tahan tubuhnya. saya juga heran, untuk apa sebenarnya imunisasi itu?
sujarwo
Quote
 
+3
alhamdulillah… tapi syang saya dapet infonya setelah anak saya meninggal karena imunisasi DPT 3minggu yang lalu


Kode keamanan
Segarkan