Kesesatan LDII dan Ahmadiyah
A. Bukti-bukti Kesesatan LDII Bukti-bukti kesesatan LDII, Fatwa-fatwa tentang sesatnya, dan pelarangan Islam Jama'ah dan apapun namanya yang bersifat/ berajaran serupa
Sistem Manqul LDII memiliki sistem manqul. Sistem manqul menurut Nurhasan Ubaidah Lubis adalah : "Waktu belajar harus tahu gerak lisan/badan guru; telinga langsung mendengar, dapat menirukan amalannya dengan tepat. Terhalang dinding atau lewat buku tidak sah. Sedang murid tidak dibenarkan mengajarkan apa saja yang tidak manqul sekalipun ia menguasai ilmu tersebut, kecuali murid tersebut telah mendapat Ijazah dari guru maka ia dibolehkan mengajarkan seluruh isi buku yang telah diijazahkan kepadanya itu". (Drs. Imran AM. Selintas Mengenai Islam Jama'ah dan Ajarannya, Dwi Dinar, Bangil, 1993, hal.24). Kemudian di Indonesia ini satu-satunya ulama yang ilmu agamanya manqul hanyalah Nurhasan Ubaidah Lubis. Ajaran ini bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. yang memerintahkan agar siapa saja yang mendengarkan ucapannya hendaklah memelihara apa yang didengarnya itu, kemudian disampaikan kepada orang lain, dan Nabi tidak pernah mem berikan Ijazah kepada para sahabat. Dalam sebuah hadits beliau bersabda: نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا، ثُمَّ أَدَّاهَا كَمَا سَمِعَهَا . Artinya:"Semoga Allah mengelokkan orang yang mendengar ucapan lalu menyampaikannya (kepada orang lain) sebagaimana apa yang ia dengar". (Syafi'i dan Baihaqi) Dalam hadits ini Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mendoakan kepada orang yang mau mempelajari hadits-haditsnya lalu menyampaikan kepada orang lain seperti yang ia dengar. Adapun cara bagaiman atau alat apa dalam mempelajari dan menyampaikan hadits-haditsnya itu tidak ditentukan. Jadi bisa disampaikan dengan lisan, dengan tulisan, dengan radio, tv dan lain-lainnya. Maka ajaran manqulnya Nurhasan Ubaidah Lubis terlihat mengada-ada. Tujuannya membuat pengikutnya fanatik, tidak dipengaruhi oleh pikiran orang lain, sehingga sangat tergantung dan terikat denga apa yang digariskan Amirnya (Nurhasan Ubaidah). Padahal Allah SWT menghargai hamba-hambanya yang mau mendengarkan ucapan, lalu menseleksinya mana yang lebih baik untuk diikutinya. Firman-Nya: وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْ عِبَادِ(17) الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ (18) Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS Az-Zumar : 17-18). Dalam ayat tersebut tidak ada sama sekali keterangan harus manqul dalam mempelajari agama. Bahkan kita diberi kebebasan untuk mendengarkan perkataan, hanya saja hrus mengikuti yang paling baik. Itulah ciri-ciri orang yang mempunyai akal. Dan bukan harus mengikuti manqul dari Nur Hasan Ubaidah yang kini digantikan oleh anaknya, Abdul Aziz, setelah matinya kakaknya yakni Abdu Dhahir. Maka orang yang menetapkan harus/ wajib manqul dari Nur Hasan atau amir itulah ciri-ciri orang yang tidak punya akal. (Lihat Buku Bahaya Islam Jama'ah Lemkari LDII, LPPI, Jakarta, cetakan 10, 2001, halaman 258- 260). Intinya, berbagai kesesatan LDII telah nyata di antaranya:
Bagaimanapun LDII tidak bisa mengelak dengan dalih apapun, misalnya mengaku bahwa mereka sudah memakai paradigma baru, bukan model Nur Hasan Ubaidah. Itu tidak bisa. Sebab di akhir buku Kitabussholah yang ada Nur Hasan Ubaidah dengan nama 'Ubaidah bin Abdul Aziz di halaman 124 itu di akhir buku ditulis: KHUSUS UNTUK INTERN WARGA LDII. Jadi pengakuan LDII bahwa sekarang sudah memakai paradigma baru, lain dengan yang lama, itu dusta alias bohong. Deskrispi tentang LDII: LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) Pendiri dan pemimpin tertinggi pertamanya adalah Madigol Nurhasan Ubaidah Lubis bin Abdul bin Thahir bin Irsyad. Lahir di Desa Bangi, Kec. Purwoasri,. Kediri Jawa Timur, Indonesia, tahun 1915 M (Tahun 1908 menurut versi Mundzir Thahir, keponakannya). Faham yang dianut oleh LDII tidak berbeda dengan aliran Islam Jama'ah/Darul Hadits yang telah dilarang oleh Jaksa Agung Republik Indonesia pada tahun 1971 (SK Jaksa Agung RI No. Kep-089/D.A/10/1971 tanggal 29 Oktober 1971). Keberadaan LDII mempunyai akar kesejarahan dengan Darul Hadits/Islam Jama'ah yang didirikan pada tahun 1951 oleh Nurhasan Al Ubaidah Lubis (Madigol). Setelah aliran tersebut dilarang tahun 1971, kemudian berganti nama dengan Lembaga Karyawan Islam (LEMKARI) pada tahun 1972 (tanggal 13 Januari 1972, tanggal ini dalam Anggaran Dasar LDII sebagai tanggal berdirinya LDII. Maka perlu dipertanyakan bila mereka bilang bahwa mereka tidak ada kaitannya dengan LEMKARI atau nama sebelumnya Islam Jama'ah dan sebelumnya lagi Darul Hadits.). Pengikut tersebut pada pemilu 1971 mendukung GOLKAR. Nurhasan Ubaidah Lubis Amir (Madigol) bertemu dan mendapat konsep asal doktrin imamah dan jama'ah (yaitu : Bai'at, Amir, Jama'ah, Taat) dari seorang Jama'atul Muslimin Hizbullah, yaitu Wali al-Fatah, yang dibai'at pada tahun 1953 di Jakarta oleh para jama'ah termasuk sang Madigol sendiri. Pada waktu itu Wali al-Fatah adalah Kepala Biro Politik Kementrian Dalam Negeri RI (jaman Bung Karno). Aliran sesat yang telah dilarang Jaksa Agung 1971 ini kemudian dibina oleh mendiang Soedjono Hoermardani dan Jenderal Ali Moertopo. LEMKARI dibekukan di seluruh Jawa Timur oleh pihak penguasa di Jawa Timur atas desakan keras MUI (Majelis Ulama Indonesia) Jatim di bawah pimpinan KH. Misbach. LEMKARI diganti nama atas anjuran Jenderal Rudini (Mendagri) dalam Mubes ke-4 Lemkari di Wisma Haji Pondok Gede, Jakarta, 21 November 1990 menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia). (Lihat Jawa Pos, 22 November 1990, Berita Buana, 22 November 1990, Bahaya Islam Jama'ah Lemkari LDII, LPPI Jakarta, cetakan 10, 2001, halaman 265, 266, 267). Semua itu digerakkan dengan disiplin dan mobilitas komando "Sistem Struktur Kerajaan 354″ menjadi kekuatan manqul, berupa: "Bai'at, Jama'ah, Ta'at" yang selalu ditutup rapat-rapat dengan system: Penyelewengan utamanya: Menganggap Al-Qur'an dan As-Sunnah baru sah diamalkan kalau manqul (yang keluar dari mulut imam atau amirnya), maka anggapan itu sesat. Sebab membuat syarat baru tentang sahnya keislaman orang. Akibatnya, orang yang tidak masuk golongan mereka dianggap kafir dan najis (Lihat surat 21 orang dari Bandung yang mencabut bai'atnya terhadap LDII alias keluar ramai-ramai dari LDII, surat ditujukan kepada DPP LDII, Imam Amirul Mu'minin Pusat , dan pimpinan cabang LDII Cimahi Bandung, Oktober 1999, Bahaya Islam Jama'ah Lemkari LDII, LPPI Jakarta, cetakan 10, 2001, halaman 276- 280). Itulah kelompok LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yang dulunya bernama Lemkari, Islam Jama'ah, Darul Hadits pimpinan Nur Hasan Ubaidah Madigol Lubis (Luar Biasa) Sakeh (Sawahe Akeh/ sawahnya banyak) dari Kediri Jawa Timur yang kini digantikan anaknya, Abdu Dhohir. Penampilan orang sesat model ini: kaku –kasar tidak lemah lembut, ada yang bedigasan, ngotot karena mewarisi sifat kaum khawarij, kadang nyolongan (suka mencuri) karena ada doktrin bahwa mencuri barang selain kelompok mereka itu boleh, dan bohong pun biasa; karena ayat saja oleh amirnya diplintir-plintir untuk kepentingan dirinya. (Lihat buku Bahaya Islam Jama'ah Lemkari LDII, LPPI Jakarta, cetakan 10, 2001). Modus operandinya: Mengajak siapa saja ikut ke pengajian mereka sacara rutin, agar Islamnya benar (menurut mereka). Kalau sudah masuk maka diberi ajaran tentang shalat dan sebagainya berdasarkan hadits, lalu disuntikkan doktrin-doktrin bahwa hanya Islam model manqul itulah yang sah, benar. Hanya jama'ah mereka lah yang benar. Kalau menyelisihi maka masuk neraka, tidak taat amir pun masuk neraka dan sebagainya. Pelanggaran-pelanggaran semacam itu harus ditebus dengan duit. Daripada masuk neraka maka para korban lebih baik menebusnya dengan duit. Dalam hal duit, bekas murid Nurhasan Ubaidah menceritakan bahwa dulu Nurhasan Ubaidah menarik duit dari jama'ahnya, katanya untuk saham pendirian pabrik tenun. Para jama'ahnya dari Madura sampai Jawa Timur banyak yang menjual sawah, kebun, hewan ternak, perhiasan dan sebagainya untuk disetorkan kepada Nurhasan sebagai saham. Namun ditunggu-tunggu ternyata pabrik tenunnya tidak ada, sedang duit yang telah mereka setorkan pun amblas. Kalau sampai ada yang menanyakannya maka dituduh "tidak taat amir", resikonya diancam masuk neraka, maka untuk membebaskannya harus membayar pakai duit lagi. Kasus tahun 2002/2003 ramai di Jawa Timur tentang banyaknya korban apa yang disebut investasi yang dikelola dan dikampanyekan oleh para tokoh LDII dengan iming-iming bunga 5% perbulan. Ternyata investasi itu ada tanda-tanda duit yang telah disetor sangat sulit diambil, apalagi bunga yang dijanjikan. Padahal dalam perjanjian, duit yang disetor bisa diambil kapan saja. Jumlah duit yang disetor para korban mencapai hampir 11 triliun rupiah. (Sumber Radar Minggu, Jombang, dari 21 Februari sampai Agustus 2003, dan akar Kesesatan LDII dan Penipuan Triliunan Rupiah karya H.M.C. Shodiq, LPPI Jakarta, 2004. ). B. Penodaan Agama Aliran Ahmadiyah dengan Nabi Palsunya Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908M) 1. Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908M) mengaku diutus Allah (sesudah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam): اِنَّا اَرْسَلْنَا اَحْمَدَ اِلَى قَوْمِهِ فَاَعْرَضُوْا وَقَالُوْا كَذَّابٌ اَشِرٌ Sesungguhnya Kami mengutus Ahmad kepada kaumnya, akan tetapi mereka berpaling dan mereka berkata: seorang yang amat pendusta lagi sombong. (Tadzkirah, halaman 385).
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): "Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih". (QS Nuh: 1). Dalam Tadzkirah itu, Mirza Ghulam Ahmad telah berdusta, mengatas namakan Allah telah mengutus Ahmad (yaitu Mirza Ghulam Ahmad) kepada kaumnya. Mirza Ghulam Ahmad telah berdusta, mengangkat dirinya sebagai Rasul utusan Allah, disejajarkan dengan Nabi Nuh as yang telah Allah utus. Hingga di ayat-ayat bikinan Mirza Ghulam Ahmad dibuat juga seruan dusta atas nama Allah agar Mirza Ghulam Ahmad membuat perahu. 2. Mirza Ghulam Ahmad mengaku diutus Allah untuk seluruh manusia (sesuadah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam):
3. Ghulam Ahmad membajak ayat-ayat Al-Qur'an tentang Nabi Isa as namun dimaksudkan untuk diri Mirza. وَ لِنَجْعَلَهُ اَيَةً لِّلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِّنَّا وَكَانَ اَمْرًامَقْضِيًّا – يَاعِيْسَى اِنِّى مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ اِلَىَّ وَ مُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَجَاعِلُ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْكَ فَوْقَ الَّذِيُنَ كَفَرُوْا اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ – ثُلَّةٌ مِنَ اْلاَوَّ لِيْنَ وَثُلَّةٌ مِنَ اْلآَخِرِيْنَ (396) Artinya:"Dan agar Kami dapat menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami, dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan - Wahai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku dan mensucikanmu dari orang-orang yang kafir dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu diatas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat - Yaitu Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan besar (pula) dari orang yang kemudian". (Tadzkirah hal : 396) Catatan dari LPPI : Ayat-ayat ini adalah rangkaian dari beberapa ayat suci Al-Qur'an, yaitu : - Surat Maryam ayat 21 Semua ayat ini dibajak dengan perubahan, penambahan, dan pengurangan, lalu dirangkaikan menjadi ayat-ayat dalam Kitab Suci Ahmadiyah "TADZKIRAH". 4. Ahmadiyah Memiliki Kitab Suci sendiri namanya Tadzkirah, yaitu kumpulan wahyu suci (wahyu muqoddas). Mirza Ghulam Ahmad mengaku diberi wahyu Allah: اِنَّ السَّمَوَاتِ وَالاَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا- قُلْ اِنَّمَا اَناَ بَشَرٌ يُّوْحَى اِلَيَّ َانَّمَآ اِلَهُكُمْ اِلَهٌ وَاحِدٌ (245) Artinya: "Bahwasannya langit dan bumi itu keduanya adalah sesuatu yang padu,kemudian Kami pisahkan antara keduanya – katakanlah sesungguhnya aku (Ahmad) ini manusia, yang diwahyukan kepadaku bahwasannya Tuhan kalian adalah Tuhan yang Maha Esa". (Tadzkirah halaman : 245) Ayat-ayat bikinan Mirza Ghulam Ahmad itu dicomot dari sana-sini dengan mengadakan pengurangan dari ayat-ayat suci Al-Qur'an, dan penyambungan yang semau-maunya yaitu : - Surat Al-Anbiya' ayat 30
Semua ayat ini dibajak dengan perubahan maksud, pengurangan, lalu dirangkaikan menjadi ayat-ayat dalam Kitab Suci Ahmadiyah "TADZKIRAH". Ketika ayat Al-Qur'an bicara qul (katakanlah) di situ maksudnya adalah Nabi Muhammad saw. Sehingga manusia yang diberi wahyu dalam ayat Al-Qur'an itu adalah Nabi Muhammad saw. Namun secara licik, Mirza Ghulam Ahmad telah memlintir maksud ayat Al-Qur'an itu ketika dia masukkan ke dalam apa yang dia klaim sebagai wahyu untuk dirinya, maka manusia yang diberi wahyu itu adalah Mirza Ghulam Ahmad. Ini jelas-jelas Mirza Ghulam Ahmad telah berdusta atas nama Allah swt, sekaligus menyelewengkan dan menodai kitab suci umat Islam, Al-Qur'anul Karim, dengan cara keji. 5. Merusak Aqidah/ keyakinan Islam: a. Mirza Ghulam Ahmad mengaku bahwa Allah itu berasal dari Mirza Ghulam Ahmad اَنْتَ مِنِّىْ وَاَناَ مِنْكَ Kamu berasal dari-Ku dan Aku darimu. (Tadzkirah, halaman 436). b. Mirza Ghulam Ahmad, mengaku berkedudukan sebagai anak Allah. Ini Allah dianggap punya anak: اَ نْتَ مِنِّى بِمَنْزِلَةِ وَلَدِىْ Kamu di di sisi-Ku pada ke-dudukan anak-Ku. (Tadzkirah halaman 636). 6. Menganggap semua orang Islam yang tidak mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai Rasul adalah musuh. Kitab Tadzkirah halaman 402: سَيَقُوْلُ الْعَدُوُّ لَسْتَ مُرْسَلاً Musuh akan berkata: kamu (Mirza Ghulam Ahmad) bukanlah orang yang diutus (Rasul). (Tadzkirah halaman 402) 7. Selain golongannya maka dianggap kafir dan dilaknat. Tadzkirah, halaman 748-749: لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الَّذِىْ كَفَرَ Laknat Allah ditimpakan atas orang yang kufur انْتَ اِمَامٌ مُّبَارَكٌ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى مَنْ كَفَرَ Kamu adalah Imam yang di-berkahi, Laknat Allah ditimpakan atas orang yang kufur انْتَ اِمَامٌ مُّبَارَكٌ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى مَنْ كَفَرَ Kamu adalah Imam yang di-berkahi, Laknat Allah ditimpa-kan atas orang yang kufur انْتَ اِمَامٌ مُّبَارَكٌ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى مَنْ كَفَرَ Kamu adalah Imam yang di-berkahi, Laknat Allah ditimpa-kan atas orang yang kufur بُوْرِكَ مَنْ مَّعَكَ وَمَنْ حَوْلَكَ. Orang yang bersamamu dan orang yang disekitarmu di-berkahi. 8. Memutar balikkan ayat-ayat Al-Qur'an. Contohnya: تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّ مَاكَانَ لَهُ اَنْ يَّدْخُلَ فِيْهَا اِلاَّ خَائِفًا Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa - Dia itu tidak masuk ke dalamnya (neraka), kecuali dengan rasa takut. Di dalam Al-Qur'an, bunyi ayatnya: تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ(1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (2) Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. (QS Al-Masad: 1, 2). (haji/ data ada di LPPI). Terkait: Pengertian Manqul dalam Ajaran LDII link KESESATAN LDII lainnya:
Sumber: http://www.nahimunkar.com/ |
Dibaca :4730 kali

Komentar-Komentar
sbenarnya tuduhan admin ini sudah trbantahkan dengan dalil-dalil yang dibuat adminnya sendiri
bukankah dalil-dalil diatas tsb. yg ditunjukan admin jelas-jelas menyuruh kita manqul
sperti snjata makan tuan
surat tanda sudah manqul dari pimpinan itu hanya masalah duniawi supaya lbih meyakinkan kbenarannya
ini sperti KTP, warga Indonesia akan diakui syah bila punya KTP wni..bukan brarti bila blom punya ktp brarti bukan warga Indonesia..
Slama masih brsandar pada Akidah(6 rukun iman) yang benar tidak bisa seseorang dikatakan sesat, ini beda dgn kasus ahmadiah yg jelas-jelas punya nabi lain
LDII menganggap anda kafir karna beda , kmudian anda menganggap LDII sesat karna beda dgn anda..itu brarti Anda(admin) sama aja
berita MUI yg mnganggap LDII sesat, itu brita yg sudah ngak valid dan akurat lagi..COBA ANDA CEK MUI LAGI YANG RESMI
kelompok diluar LDII juga benar asal berpedoman Q dan H
kalau ada individu atau kelompok lembaga yang menganggap kelompok lain sesat dan mengakibatkan korban nyawa itulah yang sesat untuk itu yang saya anggap sesat adalah:
1. kelompok MUI
karena belum teruji ke ilmuan Ulama'nya....ma ka saya himbau Ulama' MUI berbesar hati untuk uji sertifikasi tingkat ke Ulamaannya...ya ng berwenang menguji nya adalah Pemerintah...na nti ulama' yang tidak lulus uji kompetensi di larang mengeluarkan fatwa...biar negara Indonesia tidak kacau atas ulah mereka
Karena itulah dalam psikis orang-orang jokam 354 ada ada khayali fantasi dan perasan superiority diantara kaum muslimin umumnya. Sangat halus dan samar sekali bahwasannya mereka sedang tenggelam dalam sebuah perasaan tipuan yang menjerumuskan dalam keujuban, megalomania dan kesombongan yang pada hakikatnya justru sebenarnya perasaan itu sedang membawa mereka dalam kehinaan dan kebinasaan.
Petinggi-petinggi mereka terus menghembuskan mimpi dan pseudo self-concept ini di impuls-impuls saraf pengikutnya. Sehingga pengikutnya larut dalam kebanggaan semu dan keyakinan delusive yang pada buntutnya adalah itu adalah cara petinggi-peting gi jokam 354 mengikat semua pengikutnya agar tetap dibawah ikatan golongannya. Kebangaan semu dan ilusi2 ini sangat efektif menghasilkan sebuah fanatisme (taklid buta) yang membuat pengikutnya akan berbuat apa saja buat sang imam dengan bungkus dalil2 agama. Yang paling pragmatis adalah pengikutnya akan rutin setor uang ke ibu kota republic nurhasaniyyun di burengan Kediri secara Imam2 jokam 354 dan anak turunnya sampe ke menantu-menantu nya tidak ada yang mempunyai profesi formal maupun non formal sehingga kehidupan mereka sangat bergantung dari donasi pengikutnya. Jangan dipandang remeh…income dari pengikutnya ini bisa menggalang dana hingga miliran rupiah. Mungkin sebagian dari uang-uang itu benar dibelanjakan untuk kebutuhan operasional mereka, namun sebagian lainnya …buat menopang kebutuhan hidup ‘orang-orang pusat’, buat diinvestasikan dan diputar (money laundering) dan mungkin sebagian dari uang-uang ini diternakkan lewat bisnis khayal ponzi schemes kasus maryoso (kendati bisnis maryoso pada akhirnya hancur dan memakan korban public mereka sendiri)
Salah satu alasan kenapa mereka begitu membutakan diri dan lebih memilih bertaklid pada imam dan pakubumi2 mereka dari pada mendengarkan nasihat kaum muslimin ahlu sunnah wa ahlu tauhid….itu karena ada perasaan takut dalam hati orang-orang jokam 354. karena mereka sudah terbiasa mengkonsep bahwa mereka adalah satu-satunya golongan yang masuk surga sedangkan kaum muslimin lainnya yang berada diluar golongannya adlaah kafir dan diyakini sebagai ahl neraka tiba-tiba kebenaran ini digugat. Digugatnya pun tidak tanggung-tanggu ng yanitu dengan kitabullah dan hadits shahih dengan pemahaman yang sahabat salafusalih. Orang jamaah jokam 354 jelas menjadi goncang ketika keyakinannya diberitahukan ternyata menyimpang dari pemahaman yang sahih., dan kesombongan mereka berontak terhadap al haq.
Mereka juga menolak terhadap kebenaran karena mereka takut kehilangan perasaan istimewanya di hadapan Allah. Karena mereka begitu yakin bahwa mereka adalah kekasih Allah dan penghuni surga. Karena memang di pengajian jokam 354, brainwash dan doktrin ini begitu kental disampaikan dan intesif di ulang-ulang sehingga pengikutnya benar-benar yakin dengan ilusi ini. Mereka terbiasa berpisah dan terpisah dengan jamaah muslimin yang sesungguhnya sehingga mereka terlalu sombong untuk menyamakan statusnya dengan kaum muslimin lainnya di mata Allah. Mereka merasa terlalu mulia dibanding kaum muslimin lainnya.
njenengan2 itu ngomong bener salah bener salah
maksudnya yang mana? dan dasarnya apa?
*geje*
mati deh
Setelah Anda memahami bagaimana seharusnya mengimplementas ikan al-Qur'an dan as-Sunnah secara kaffah, bagaimana Anda membedakan antara sebuah realitas dan sebuah rekayasa mengenai sesuatu?