larger smaller reset

basmalah

Sejarah Lahirnya Tahlilan dalam Upacara Kematian

laa-illaha-illallah1

Oleh: Suhadi

Perintis, pelopor dan pembuka pertama penyiaran serta pengembangan Islam di Pulau Jawa adalah para ulama/mubaligh yang berjumlah sembilan, yang populer dengan sebuatan Wali Songo. Atas perjuangan mereka, berhasil mendirikan sebuah kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang berpusat di Demak, Jawa Tengah.

Para ulama yang sembilan dalam menyiarkan dan mengembangkan Islam di tanah Jawa yang mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Budha mendapat kesulitan dalam membuang adat istiadat upacara keagamaan lama bagi mereka yang telah masuk Islam.

Para ulama yang sembilan (Wali Songo) dalam menangguangi masalah adat istiadat lama bagi mereka yang telah masuk Islam terbagi menjadi dua aliran yaitu ALIRAN GIRI dan ALIRAN TUBAN.

ALIRAN GIRI adalah suatu aliran yang dipimpin oleh Raden Paku (Sunan Giri) dengan para pendukung Raden Rahmat (Sunan Ampel), Syarifuddin (Sunan Drajat) dan lain-lain.

Aliran ini dalam masalah ibadah sama sekali tidak mengenal kompromi dengan ajaran Budha, Hindu, keyakinan animisme dan dinamisme. Orang yang dengan suka rela masuk Islam lewat aliran ini, harus mau membuang jauh-jauh segala adat istiadat lama yang bertentangan dengan syari'at Islam tanpa reserve. Karena murninya aliran dalam menyiarkan dan mengembangkan Islam, maka aliran ini disebut ISLAM PUTIH.

Adapun ALIRAN TUBAN adalah suatu aliran yang dipimpin oleh R.M. Syahid (Sunan Kalijaga) yang didukung oleh Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Djati.

Aliran ini sangat moderat, mereka membiarkan dahulu terhadap pengikutnya yang mengerjakan adat istiadat upacara keagamaan lama yang sudah mendarah daging sulit dibuang, yang penting mereka mau memeluk Islam. Agar mereka jangan terlalu jauh menyimpang dari syari'at Islam. Maka para wali aliran Tuban berusaha agar adat istiadat Budha, Hindu, animisme dan dinamisme diwarnai keislaman. Karena moderatnya aliran ini maka pengikutnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan pengikut aliran Giri yang "radikal". aliran ini sangat disorot oleh aliran Giri karena dituduh mencampur adukan syari'at Islam dengan agama lain. Maka aliran ini dicap sebagai aliran Islam abangan.

Dengan ajarah agama Hindu yang terdapat dalam Kitab Brahmana. Sebuah kitab yang isinya mengatur tata cara pelaksanaan kurban, sajian-sajian untuk menyembah dewa-dewa dan upacara menghormati roh-roh untuk menghormati orang yang telah mati (nenek moyang) ada aturan yang disebut Yajna Besar dan Yajna Kecil.

Yajna Besar dibagi menjadi dua bagian yaitu Hafiryayajna dan Somayjna. Somayjna adalah upacara khusus untuk orang-orang tertentu. Adapun Hafiryayajna untuk semua orang.
Somayajna adalah upacara khusus untuk orang-orang tertentu. Adapun Hafiryayajna untuk semua orang.

Hafiryayajna terbagi menjadi empat bagian yaitu : Aghnidheya, Pinda Pitre Yajna, Catur masya, dan Aghrain. Dari empat macam tersebut ada satu yang sangat berat dibuang sampai sekarang bagi orang yang sudah masuk Islam adalah upacara Pinda Pitre Yajna yaitu suatu upacara menghormati roh-roh orang yang sudah mati.

Dalam upacara Pinda Pitre Yajna, ada suatu keyakinan bahwa manusia setelah mati, sebelum memasuki karman, yakni menjelma lahir kembali kedunia ada yang menjadi dewa, manusia, binatang dan bahkan menjelma menjadi batu, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain sesuai dengan amal perbuatannya selama hidup, dari 1-7 hari roh tersebut masih berada dilingkungan rumah keluarganya. Pada hari ke 40, 100, 1000 dari kematiannya, roh tersebut datang lagi ke rumah keluarganya. Maka dari itu, pada hari-hari tersebut harus diadakan upacara saji-sajian dan bacaan mantera-mantera serta nyanyian suci untuk memohon kepada dewa-dewa agar rohnya si fulan menjalani karma menjadi manusia yang baik, jangan menjadi yang lainnya.

Pelaksanaan upacara tersebut diawali dengan aghnideya, yaitu menyalakan api suci (membakar kemenyan) untuk kontak dengan para dewa dan roh si fulan yang dituju. Selanjutnya diteruskan dengan menghidangkan saji-sajian berupa makanan, minuman dan lain-lain untuk dipersembahkan ke para dewa, kemudian dilanjutkan dengan bacaan mantra-mantra dan nyanyian-nyanyian suci oleh para pendeta agar permohonannya dikabulkan.*1

Musyawarah Para Wali*2

Pada masa para wali dibawah pimpinan Sunan Ampel, pernah diadakan musyawarah antara para wali untuk memecahkan adat istiadat lama bagi orang yang telah masuk Islam. Dalam musyawarah tersebut Sunan Kali Jaga selaku Ketua aliran Tuban mengusulkan kepada majlis musyawarah agar adat istiadat lama yang sulit dibuang, termasuk didalamnya upacara Pinda Pitre Yajna dimasuki unsur keislaman.

Usulan tersebut menjadi masalah yang serius pada waktu itu sebab para ulama (wali) tahu benar bahwa upacara kematian adat lama dan lain-lainnya sangat menyimpang dengan ajaran Islam yang sebenarnya.

Mendengar usulan Sunan Kali Jaga yang penuh diplomatis itu, Sunan Ampel selaku penghulu para wali pada waktu itu dan sekaligus menjadi ketua sidang/musyawarah mengajukan pertanyaan sebagai berikut :

"Apakah tidak dikhawatirkan dikemudian hari?, bahwa adat istiadat lama itu nanti akan dianggap sebagai ajaran Islam, sehingga kalau demikian nanti apakah hal ini tidak akan menjadikan bid'ah"?.
Pertanyaan Sunan Ampel tersebut kemudian dijawab oleh Sunan Kudus sebagai berikut :

"Saya sangat setuju dengan pendapat Sunan Kali Jaga"

Sekalipun Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Sunan Drajat sangat tidak menyetujui, akan tetapi mayoritas anggota musyawarah menyetujui usulan Sunan Kali Jaga, maka hal tersebut berjalan sesuai dengan keinginannya. Mulai saat itulah secara resmi berdasarkan hasil musyawarah, upacara dalam agama Hindu yang bernama Pinda Pitre Yajna dilestarikan oleh orang-orang Islam aliran Tuban yang kemudian dikenal dengan nama nelung dino, mitung dina, matang puluh, nyatus, dan nyewu.

Dari akibat lunaknya aliran Tuban, maka bukan saja upacara seperti itu yang berkembang subur, akan tetapi keyakinan animisme dan dinamisme serta upacara-upacara adat lain ikut berkembang subur. Maka dari itu tidaklah heran muridnya Sunan Kali Jaga sendiri yang bernama Syekh Siti Jenar merasa mendapat peluang yang sangat leluasa untuk mensinkritismekan ajaran Hindu dalam Islam. Dari hasil olahannya, maka lahir suatu ajaran klenik/aliran kepercayaan yang berbau Islam. Dan tumbuhlah apa yang disebut "Manunggaling Kaula Gusti" yang artinya Tuhan menyatu dengan tubuhku. Maka tatacara untuk mendekatkan diri kepada Allah lewat shalat, puasa, zakat, haji dan lain sebagainya tidak usah dilakukan.

Sekalipun Syekh Siti Jenar berhasil dibunuh, akan tetapi murid-muridnya yang cukup banyak sudah menyebar dimana-mana. Dari itu maka kepercayaan seperti itu hidup subur sampai sekarang.

Keadaan umat Islam setelah para wali meninggal dunia semakin jauh dari ajaran Islam yang sebenarnya. para Ulama aliran Giri yang terus mempengaruhi para raja Islam pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk menegakkan syari'at Islam yang murni mendapat kecaman dan ancaman dari para raja Islam pada waktu itu, karena raja-raja Islam mayoritas menganut aliran Tuban. Sehingga pusat pemerintahan kerajaan di Demak berusaha dipindahkan ke Pajang agar terlepas dari pengaruh para ulama aliran Giri.

Pada masa kerajaan Islam di Jawa, dibawah pimpinan raja Amangkurat I, para ulama yang berusaha mempengaruhi keraton dan masyarakat, mereka ditangkapi dan dibunuh/dibrondong di lapangan Surakarta sebanyak 7.000 orang ulama. Melihat tindakan yang sewenang-wenang terhadap ulama aliran Giri itu, maka Trunojoyo, Santri Giri berusaha menyusun kekuatan untuk menyerang Amangkurat I yang keparat itu.

Pada masa kerajaan dipegang oleh Amangkurat II sebagai pengganti ayahnya, ia membela, dendam terhadap Truno Joyo yang menyerang pemerintahan ayahnya. Ia bekerja sama dengan VOC menyerang Giri Kedaton dan semua upala serta santri aliran Giri dibunuh habis-habisan, bahkan semua keturunan Sunan Giri dihabisi pula. Dengan demikian lenyaplah sudah ulama-ulama penegak Islam yang konsekwen. Ulama-ulama yang boleh hidup dimasa itu adalah ulama-ulama yang lunak (moderat) yang mau menyesuaikan diri dengan keadaan masyarakat yang ada. maka bertambah suburlah adat-istiadat lama yang melekat pada orang-orang Islam, terutama upacara adat Pinde Pitre Yajna dalam upacara kematian.

Keadaan yang demikian terus berjalan berabad-abad tanpa ada seorang ulamapun yang muncul untuk mengikis habis adat-istiadat lama yang melekat pada Islam terutama Pinda Pitre Yajna. Baru pada tahun 1912 M, muncul seorang ulama di Yogyakarta bernama K.H. Ahmad Dahlan yang berusaha sekuat kemampuannya untuk mengembalikan Islam dari sumbernya yaitu Al Qur'an dan As Sunnah, karena beliau telah memandang bahwa Islam dalam masyrakat Indonesia telah banyak dicampuri berbagai ajaran yang tidak berasal dari Al Qur'an dan Al Hadits, dimana-mana merajalela perbuatan khurafat dan bid'ah sehingga umat Islam hidup dalam keadaan konservatif dan tradisional.

Munculnya K.H. Ahmad Dahlan bukan saja berusaha mengikis habis segala adat istiadat Budha, Hindu, animisme, dinamisme yang melekat pada Islam, akan tetapi juga menyebarkan fikiran-fikiran pembaharuan dalam Islam, agar umat Islam menjadi umat yang maju seperti umat-umat lain. Akan tetapi aneh bin ajaib, kemunculan beliau tersebut disambut negatif oleh sebagian ulama itu sendiri, yang ternyata ulama-ulama tersebut adalah ulama-ulama yang tidak setuju untuk membuang beberapa adat istiadat Budha dan Hindu yang telah diwarnai keislaman yang telah dilestarikan oleh ulama-ulama aliran Tuban dahulu, yang antara lain upacara Pinda Pitre Yajna yang diisi nafas Islam, yang terkenal dengan nama upacara nelung dina, mitung dina, matang dina, nyatus, dan nyewu.

Pada tahun 1926 para ulama Indonesia bangkit dengan didirikannya organisasi yang diberi nama "Nahdhatul Ulama" yang disingkat NU. Pada muktamarnya di Makasar NU mengeluarkan suatu keputusan yang antara lain :

"Setiap acara yang bersifat keagamaan harus diawali dengan bacaan tahlil yang sistimatikanya seperti yang kita kenal sekarang di masyarakat".

Keputusan ini nampaknya benar-benar dilaksanakan oleh orang NU. Sehingga semua acara yang bersifat keagamaan diawali dengan bacaan tahlil, termasuk acara kematian. Mulai saat itulah secara lambat laun upacara Pinda Pitre Yajna yang diwarnai keislaman berubah nama menjadi tahlilan sampai sekarang.

Sesuai dengan sejarah lahirnya tahlilan dalam upacara kematian, maka istilah tahlilan dalam upacara kematian hanya dikenal di Jawa saja. Di pulau-pulau lain seluruh Indonesia tidak ada acara ini. Seandainya ada pun hanya sebagai rembesan dari pulau Jawa saja. Apalagi di negara-negara lain seperti Arab, Mesir, dan negara-negara lainnnya diseluruh dunia sama sekali tidak mengenal upacara tahlilan dalam kematian ini.

Dengan sudah mengetahui sejarah lahirnya tahlilan dalam upacara kematian yang terurai diatas, maka kita tidak akan lagi mengatakan bahwa upacara kematian adalah ajaran Islam, bahkan kita akan bisa mengatakan bahwa orang yang tidak mau membuang upacara tersebut berarti melestarikan salah satu ajaran agama Hindu. Orang-orang Hindu sama sekali tidak mau melestarikan ajaran Islam, bahkan tidak mau kepercikan ajaran Islam sedikitpun. Tetapi kenapa kita orang Islam justru melestarikan keyakinan dan ajaran mereka.

Tak cukupkah bagi kita Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yg sudah jelas terang benderang saja yang kita kerjakan. Kenapa harus ditambah-tambahin/mengada-ada. Mereka beranggapan ajaran Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam masih kurang sempurna.

Mudah-mudahan setelah kita tahu sejarah lahirnya tahlilan dalam upacara kematian, kita mau membuka hati untuk menerima kebenaran yang hakiki dan kita mudah-mudahan akan menjadi orang Islam yang konsekwen terhadap ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Ada satu hal yang perlu kita jaga baik-baik, jangan sekali-kali kita berani mengatakan bahwa orang yang matinya tidak ditahlil adalah kerbau. Menurut penulis, perkataan seperti ini termasuk dosa besar, karena berarti Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya serta kaum muslimin seluruh dunia selain orang pulau Jawa yang matinya tidak ditahlili adalah kerbau semua.

Na'udzu billahi mindzalik

Daftar Literatur

1. K.H. Saifuddin Zuhn, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, Al Ma'arif Bandung 1979
2. Umar Hasyim, Sunan Giri, Menara Kudus 1979
3. Solihin Salam, Sekitar Wali Sanga, Menara Kudus 1974
4. Drs. Abu Ahmadi, Perbandingan Agama, Ab.Siti Syamsiyah Solo 1977
5. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Tri Karya, Jakarta 1961
6. Hasil wawancara dengan tokoh Agama Hindu.
7. A. Hasan, Soal Jawab, Diponegoro Bandung 1975

kilroywink

MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI'UTS TSAANI
1345 H/21 OKTOBER 1926
TENTANG
KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA
PENTAKZIAH

TANYA :

Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta'ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

JAWAB :

Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

KETERANGAN :

Dalam kitab I'anatut Thalibin Kitabul Janaiz:

"MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta'ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: "kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN (YANG DILARANG)."

Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :

"Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita.

Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan TENTANG YANG DILAKUKAN PADA HARI KETIGA KEMATIAN DALAM BENTUK PENYEDIAAN MAKANAN UNTUK PARA FAKIR DAN YANG LAIN, DAN DEMIKIAN HALNYA YANG DILAKUKAN PADA HARI KETUJUH, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta'ziyah jenazah.

Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuaan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak?

Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti "wajib", bagaimana hukumnya."

Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID'AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk "meratapi" atau memuji secara berlebihan (rastsa').

Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal "OCEHAN" ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah)

Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat. Tirkah tidak boleh diambil/dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

SELESAI , KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI'UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

REFERENSI

  1. Lihat : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais 'Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta'lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.
  2. Masalah Keagamaan Jilid 1 - Hasil Muktamar dan Munas Ulama Nahdlatul Ulama Kesatu/1926 s/d/ Ketigapuluh/2000, KH. A.Aziz Masyhuri, Penerbit PPRMI dan Qultum Media
Sumber: Suhadi
Share/Save/Bookmark
Dibaca :11664 kali  

Komentar-Komentar  

Quote
 
0
• Allah berfirman :
“Al Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini “.(Al-Jatsiyah: 20).

• Allah berfirman :
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa naf-su orang-orang yang tidak mengetahui “.(Al-Jatsiyah: 18).

• Allah berfirman :
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu..( QS. Al-Maaidah ayat 3.)

• Allah berfirman :
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.( Al-Hasyr(59):7)

• “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”. [QS. Al-Ahzaab: 21]


APA AYAT AYAT DIATAS BELUM JELAS ..KALAU BELUM JELAS MAKA BERSIAP SIAPLAH ANDA DENGAN ANCAMAN AYAT INI,....

• Barangsiapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. (An-Nisa':143).
Quote
 
0
Masih membit'ahkan tahlilan? Masih mengagungkan tahlilan? Dah ga jamanya saling menyalahkan. Buat yang membit'ahkan tahlilan, klo jum'atan masih ada kotak amal ? Bit'ah ga? Berdalih hanya fasilitas shodaqoh. Klo tahlilan dijadikan fasilitas menyadarkan masyarakat untuk mau ibadah bit,ah nggak? Bagi yang mengagungkan tahlilan,jadika nlh tahlilan sebagai fasilitas penyadaran masyarakat agar mau baribadah,janga n hanya dijadikan sebagai adat kebiasaan saja. Sekarang jamanya mempersatukan umat islam, klo saya baca komentar2ny,ban yak unsur2 perpecahan.miki r dong,siapa yang akan tertawa dibelakang kita? Bersatu dong. Hari gini masih membahas tahlilan. Hua..ha..ha...!
Quote
 
0
Bagi penulis yang terhormat dan tercinta
Terlebih dahulu sya mengucapkan terima kasih artikelnya
Sya sebagai orang muslim malu jika perbedaan pendapat di tulis secara vulgar pada forum yang sangat baik ini, sesama muslim adalah satu tubuh jika tangan kita sakit seluruh tubuh ikut merasakan . . . Kebenaran mutlak milik allah kebenaran pendapat tergantung kemampuan input serta pola pikir person per person jika pernyataan nu kurang berkenan mari kita cari persamaan serta hikmah yang tergantung di balik itu jika referensi dan pola ppikir kita hitam putih maka tidak ada satu pendapatpun yang benar
Sauadara mungkin masih ingat cerita luqman dan keledai
Semoga bermanfaat artikel ini dan pertentangan secara vulgar hendakalah jangan di tayangkan, jika dua saudara bertengkar maka orang luar akan bertepuk tangan.
Quote
 
0
Quoting bilqis:
ya begitulah. kalo belajar tidak komperehensif. Marilah kita kaji dulu Al Qur'an. Sudah bisa belum baca Qur'annya? Dah bener belum tajwid dan mahrajnya? Saya sering nemui orang bahkan temen saya sendiri yang nulis kayak gini e.... ternyata fatihahnya aja belum pas sama sekali. maklum ngajinya sama buku, TV, radio dsb.
Bagi yg tak setuju dg tulisan di atas ya jangan marah. Kita maklum aja masalahnya mereka kan belum nyampe. Kalo belum nyampe' ilmunya mau dipaksakan paham juga percuma aja. apalagi suruh menelaah lewat nahwu shorofnya. boro-boro bro. Kalo masih dluhur yang jangan dipaksakan maghrib. gitu lho
Kita pakai perumpamaan aja.
Jika ada tiga orang buta dihadapkan pada seekor gajah. kemudian disuruh menggambarkan secara menyeluruh ttg gajah.
1. Orang buta pertama dg bangganya menyampaikan bahwa bentuk gajah itu seperti ular dan dia memaksakan diri kepada orang lain agar bentuk gajah itu harus seperti ular. Maklum yang dia pegang hanya pada belalalinya saja
2. Orang buta ke-2 menyampaikan bahwa bentuk gajah adalah seperti tembikar ( jawa : tampah ). Dia bersikukuh bahwa gajah ya spt tembikar. Jika ada orang lain bilang tdk spt itu maka dia memvonis orang lain itu sesat. kenapa? karena yg dia pegang adalah kupingnya.
3. Orang buta ke-3 bersikeras meyatakan bahwa bentuk gajah itu seperti pohon bambu. Dia dengan bangganya berpendapat seperti itu. Tidak boleh ada yang ngomong selain bambu. E.. ternyata yang dia pegang kakinya.
Bagaimana jika ada orang yang melek melihat pernyataan-pernyataan mereka dan kerasnya pendapat mereka ? Tentunya orang yang melek tadi paling tersenyum. Masalahnya bentuk gajah yang sebenarnya tidaklah seperti ketiga orang buta itu bayangkan.
Oleh karena itu sekali lagi yang melek tidak perlu marah. Biar mereka belajar. Nanti kalo matanya sudah diobati dan bisa melek kan pendapatnya tidak seperti sebelumnya.
Seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Di tempat saya dulu banyak orang yang begitu gagahnya ngomong seperti ketiga orang buta tadi. Alhamdulillah sekarang setelah matanya diobati dan sudah melek mereka menjadi mengerti dan memahami bentuk gajah yang sebenarnya. bahkan mereka tidak sungkan-sungkan lagi mengerjakan ibadah yang dulu mereka bid'ah-bid'ahkan.
Mereka sekarang ya ziarah kubur, tahlilan, bahkan manaqiban juga.
Ya ... mungkin kitabnya dulu masing hilang dan belum ketemu dan baru sekarang ketahuan. He.....he...
Demikian kalo hidayah Alloh sudah turun.

Ya Jelas orang buta dikasih tau ma orang melihat... diboongin pun gk tau mereka... kasean mereka.
Quote
 
0
Quoting Kira:
saya Tantang anda semua yang merasa faham tentang bid'ah ,
Tolong jelaskan maksud hadis
"wa kullu bid'atin dholalah" menurut nahwu dan shorof,

Siapa dari sekian banyak yang merasa pintar saya tantang .

O... Pintar Nahwu Shorof ya... Waw huruf Athaf... Kullu Isim, bid'atin isim mufrad muannas gabung ma kullu jadi mudhof ilaih... Dholalah Khabar.... Terus????
Quote
 
0
Quoting azu:
CUIHHH

beginilahh kalo orang terlanjur Sok Pinter
Membid'ah - bid'ah kan segal hal yang dilakukan oleh orang lain
padahal belum tentu ibadahnya itu juga betul

CUIHHH

Preet... beginilah kalo orang takabur kalo diingatkan... Preet.
Quote
 
0
Quoting @idhm:
bagi yang mengharamkan bahkan mengkafirkan suatu bid'ah,maka sebaiknya kroscek dlu,klo perlu diajak duduk bersama,dengan membawa dasar dari pendapat mereka, seperti: kitabbussalaf(kitab kuning)...

Itu I'Anatut Thalibin di atas kitab Kuning...
Quote
 
-1
Quoting Abdul karim:
Nymbung dkit sodara . . .
Bgne sodara2: maslh2 spt ini 2h sbnere jg sdh muncl dr dlu dan i2 smw sdh mjd hal yg maklum bg para ulama dan mreka ttp menghargai perbdaan pndpt d antara mreka masng2 tnp ada yg membid"ah2kn, mensyirikkan dan bhkn mengkafirkan. Aplg stelh munculy ulama smisl syekh ibnul qoyyim al jauziyah, syekh ibnu thaimiyah dan yg palng kentara lg yaitu syekh muhammad bin abdul waha an najdi. Dr mreka2 ini muncullah gnerasi2 yg tak puny sopan santun dlm brbda pendapt. Cman yg palng jd maslh adlh stiap kali mreka menudh amaln se2orng sbg perbuatn syirik sest dsb mreka slalu menghndar ktk d ajak brdskusi atau debt trbuka, kalaupn ad yg mau brdbat sdh pasti mreka2 ini ska gk fokus pd permaslhn yg sdang dperdbtkn alias mbulet. Dan akhry i2 smua malh membktkn klo sbnary mreka adlh orng2 bodoh yg mngaku pintar!.

Sebenarnya sama sekali gak da kaitannya dengan Wahabi... Debat dah sering diadakan tapi jawabnnya nyeleneh...
Quote
 
0
Quoting ahli syurga:
intinya tidak menyekutukan tuhan, hapus istilah bi,dah dari dunia islam.

berarti kau harus menghapus salah satu hadist shahih Nabi.... Makanya komentar pikir2..
Quote
 
+2
Nabi memiliki beberapa anak, yang anak laki2 semua

meninggal sewaktu masih kecil. Anak-anak perempuan

beliau ada 4 termasuk Fatimah, hidup sampai

dewasa.
Ketika Nabi masih hidup, putra-putri beliau yg

meninggal tidak satupun di TAHLIL i, kl di do'akan

sudah pasti, karena mendo'akan orang tua,

mendo'akan anak, mendo'akan sesama muslim amalan

yg sangat mulia.

Ketika NABI wafat, tdk satu sahabatpun yg TAHLILAN

untuk NABI,
Fatimah tdk mengadakan TAHLIL an, padahal Fatimah

putrinya yg paling dicintai Nabi..
Apakah Fatimah durhaka..???
Apakah Nabi dianggap HEWAN..???? (kata sdr sebelah)

Para sahabat Utama masih lengkap.., masih hidup..
ABU BAKAR adalah mertua NABI,
UMAR bin KHOTOB mertua NABI,
UTSMAN bin AFFAN menantu NABI 2 kali malahan,
ALI bin ABI THOLIB menantu NABI.
Apakah para sahabat BODOH....,
Apakah para sahabat menganggap NABI hewan....

(menurut kalimat sdr sebelah)
Apakah Utsman menantu yg durhaka.., mertua

meninggal gk di TAHLIL kan...
Apakah Ali bin Abi Tholib durhaka.., mertua

meninggal gk di TAHLIL kan....
Apakah mereka LUPA ada amalan yg sangat baik,

yaitu TAHLIL an koq NABI wafat tdk di TAHLIL i..

Saudaraku semua..., sesama MUSLIM...
saya dulu suka TAHLIL an, tetapi sekarang tdk

pernah sy lakukan. Tetapi sy tdk pernah mengatakan

mereka yg tahlilan berati begini.. begitu dll.

Para tetangga awalnya kaget, beberapa dr mereka

berkata:" sak niki koq mboten nate ngrawuhi

TAHLILAN Gus.."
sy jawab dengan baik:"Kanjeng Nabi soho putro

putrinipun sedo nggih mboten di TAHLILI, tapi di

dongak ne, pas bar sholat, pas nganggur leyeh2,

lan sakben wedal sak saget e...? Jenengan Tahlilan

monggo..., sing penting ikhlas.., pun ngarep2

daharan e..."
mereka menjawab: "nggih Gus...".

sy pernah bincang-bincang dg kyai di kampung saya,

sy tanya, apa sebenarnya hukum TAHLIL an..?
Dia jawab Sunnah.., tdk wajib.
sy tanya lagi, apakah sdh pernah disampaikan

kepada msyarakat, bahwa TAHLILAN sunnah, tdk

wajib...??
dia jawab gk berani menyampaikan... , takut timbul

masalah...
setelah bincang2 lama, sy katakan.., Jenengan

tetap TAHLIl an silahkan, tp cobak saja

disampaikan hukum asli TAHLIL an..., sehingga

nanti kita di akhirat tdk dianggap menyembunyikan

ILMU, karena takut kehilangan anggota.., wibawa

dll.

Untuk para Kyai..., sy yg miskin ilmu ini,

berharap besar pada Jenengan semua...., TAHLIL an

silahkan kl menurut Jenengan itu baik, tp sholat

santri harus dinomor satukan..
sy sering kunjung2 ke MASJID yg ada pondoknya.

tentu sebagai musafir saja, rata2 sholat jama'ah

nya menyedihkan.
shaf nya gk rapat, antar jama'ah berjauhan, dan

Imam rata2 gk peduli.
selama sy kunjung2 ke Masjid2 yg ada pondoknya,

Imam datang langsung Takbir, gk peduli tentang

shaf...

Untuk saudara2 salafi..., jangan terlalu keras

dalam berpendapat...
dari kenyataan yg sy liat, saudara2 salfi memang

lebih konsisten.., terutama dalam sholat.., wabil

khusus sholat jama'ah...
tapi bukan berati kita meremehkan yg lain.., kita

do'akan saja yg baik...
siapa tau Alloh SWT memahamkan sudara2 kita kepada

sunnah shahihah dengan lantaran Do'a kita....

demikian uneg2 saya, mohon maaf kl ada yg tdk

berkenan...
semoga Alloh membawa Ummat Islam ini kembali ke

jaman kejayaan Islam di jaman Nabi..., jaman

Sahabat.., Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in
Amin ya Robbal Alamin
Quote
 
0
kalo baca Tahlil sih Wajib Kalo Tahlilan....:( ..?
kacian kan yang di tinggalin apalagi kalo gak mampu
tapi jadi seorang muslim semuanya pasti masuk sorga cuman ada yang mampir dulu kali ya....?
Quote
 
0
Wah, artikel saudara Suhadi kayaknya dapat tanggapan ramai. Walaupun kadang emosional. Saya mencoba untuk tidak terjebak pada kondisi emosional ini. Sekedar catatan kepada sdr Suhadi terkait ajaran syeh siti jenar. Sebetulnya ajaran wihdatul wujud tidak serta merta hrs dihubungkan dg ajaran hindu. Dalam sejarah islam juga ada itu. Saya lebih cenderung syekh siti jenar terpengaruh pemikiran Al-hallaj yg dikenal sebagai pengembang ajaran wihdatul wujud.
Untuk teman2 semua. Sekedar masukan dr saya.
Diskusi masalah keagamaan di masa2 sekarang sungguh teramat menggembirakan. Tapi kita harus ingat pedoman Alqur'an : وجادلهم باللتي هي احسان
Dan klau kita cermati kejadian di sekitar فتاح المكت insya Alloh kita bs mendapatkan gambaran lebih lengkap ttg pribadi rosul. Dalam sebuah perdebatan, adalah wajar bila masing2 merasa benar. Tetapi juga tidak wajar bila merasa pendapatnya sendiri yg paling benar, ingatlah. Kebenaran itu mutlak hak Alloh SWT. Teladani sikap para ulama terdahulu yg senantiasa bersikap tawadlu' dan rendah hati. Semoga masukan ini bs dipahami dg kepala dingin.
Quote
 
+2
1, Kalau anda non muslin, gk masalah
2. Kalau anda muslim, sungguh.., anda mengatakan,

Tahlilan untuk mebedakan manusia dan hewan.
sy suka membaca sejarah apa saja, termasuk sejarah

kehidupan Rosululloh SAW. Beliau memiliki 6 anak.

Pertama laki2 bernama Qosim (meninggal sewaktu

masih kecil), yang empat orang perempuan, termasuk

Fatimah dan yg terakhir Ibramim (meninggal sewaktu

masih kecil).
Ketika Nabi masih hidup, putra-putri beliau yg

meninggal tidak satupun di TAHLILI, kl di do'akan

sudah pasti, karena mendo'akan orang tua,

mendo'akan anak, mendo'akan sesama muslim amalan

yg sangat mulia.
Kalau sdr sebelah mengatakan Tahlilan untuk

menbedakan hewan dan manusia, sungguh..., secara

tdk langsung, sadar atau tdk sadar.., anda

mengatakan anak2 Nabi SAW yg meninggal semua

hewan. Padahal ketika putra beliau QOSIM, IBRAHIM

dan beberapa putri beliau meninggal, beliau masih

hidup, kecuali FATIMAH. FATIMAH meninggal tdk

berapa lama setalah NABI SAW wafat.

Ketika NABI wafat, tdk satu sahabatpun yg TAHLILAN

untuk NABI,
padahal ABU BAKAR adalah mertua NABI,
UMAR bin KHOTOB mertua NABI,
UTSMAN bin AFFAN menantu NABI 2 kali malahan,
ALI bin ABI THOLIB menantu NABI.
Apakah para sahabat BODOH....,
Apakah para sahabat menganggap NABI hewan....

(menurut kalimat sdr sebelah)
Apakah Utsman menantu yg durhaka.., mertua

meninggal gk di TAHLIL kan...
Apakah Ali bin Abi Tholib durhaka.., mertua

meninggal gk di TAHLIL kan....
Apakah mereka LUPA ada amalan yg sangat baik,

yaitu TAHLIL an koq NABI wafat tdk di TAHLIL i..

Saudaraku semua..., sesama MUSLIM...
saya dulu suka TAHLIL an, tetapi sekarang tdk

pernah sy lakukan. Tetapi sy tdk pernah mengatakan

mereka yg tahlilan berati begini.. begitu dll.

Para tetangga awalnya kaget, beberapa dr mereka

berkata:" sak niki koq mboten nate ngrawuhi

TAHLILAN Gus.."
sy jawab dengan baik:"Kanjeng Nabi soho putro

putrinipun sedo nggih mboten di TAHLILI, tapi di

dongak ne, pas bar sholat, pas nganggur leyeh2,

lan sakben wedal sak saget e.... Jenengan Tahlilan

monggo..., sing penting ikhlas.., pun ngarep2

daharan e..."
mereka menjawab: "nggih Gus...".

sy pernah bincang-bincang dg kyai di kampung saya,

sy tanya, apa sebenarnya hukum TAHLIL an..?
Dia jawab Sunnah.., tdk wajib.
sy tanya lagi, apakah sdh pernah disampaikan

kepada msyarakat, bahwa TAHLILAN sunnah, tdk

wajib...??
dia jawab gk berani menyampaikan... , takut timbul

masalah...
setelah bincang2 lama, sy katakan.., Jenengan

tetap TAHLIl an silahkan, tp cobak saja

disampaikan hukum asli TAHLIL an..., sehingga

nanti kita di akhirat tdk dianggap menyembunyikan

ILMU, karena takut kehilangan anggota.., wibawa

dll.

Untuk para Kyai..., sy yg miskin ilmu ini,

berharap besar pada Jenengan semua...., TAHLIL an

silahkan kl menurut Jenengan itu baik, tp sholat

santri harus dinomor satukan..
sy sering kunjung2 ke MASJID yg ada pondoknya.

tentu sebagai musafir saja, rata2 sholat jama'ah

nya menyedihkan.
shaf nya gk rapat, antar jama'ah berjauhan, dan

Imam rata2 gk peduli.
selama sy kunjung2 ke Masjid2 yg ada pondoknya,

Imam datang langsung Takbir, gk peduli tentang

shaf...

Untuk saudara2 salafi..., jangan terlalu keras

dalam berpendapat...
dari kenyataan yg sy liat, saudara2 salfi memang

lebih konsisten.., terutama dalam sholat.., wabil

khusus sholat jama'ah...
tapi bukan berati kita meremehkan yg lain.., kita

do'akan saja yg baik...
siapa tau Alloh SWT memahamkan sudara2 kita kepada

sunnah shahihah dengan lantaran Do'a kita....

demikian uneg2 saya, mohon maaf kl ada yg tdk

berkenan...
semoga Alloh membawa Ummat Islam ini kembali ke

jaman kejayaan Islam di jaman Nabi..., jaman

Sahabat.., Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in
Amin ya Robbal Alamin...
Quote
 
0
bagi yang mengharamkan bahkan mengkafirkan suatu bid'ah,maka sebaiknya kroscek dlu,klo perlu diajak duduk bersama,dengan membawa dasar dari pendapat mereka, seperti: kitabbussalaf(k itab kuning)...
Quote
 
+1
Saudara2ku muslim semua,

Artikel diatas yang ditulis oleh penulis, sebaiknya kita cermati dan pahami dulu. Karena pada dasarnya artikel tsb menambah wawasan kita juga sebagai umat muslim. Wajar jika ada yg pro dan kontra, karena setiap muslim pasti berbeda dalam penafsiran begitupun ayat-ayat dalam Al-Qur'an masih banyak yg berbeda dalam penafsirannya.

Bagi yang kontra dgn artikel tersebut, jangan langsung membuat pernyataan bahwa itu bid'ah, pemecah belah atau apalah. Tapi kita pelajari dulu dengan bersumber pada Al-Qur'an dan Hadist, tetapi hati2 juga dalam membaca hadist, karena banyak hadist palsu. Yang tidak bisa dipalsukan sampai akhir jaman adalah Al-Qur'an.

Jika artikel tersebut sudah dipelajari dengan mencari dalil2 dalam ayat2 di Al-Qur'an, maka sekarang terserah kepada masing2 kamu muslim dalam menafsirkannya (karena ayat-ayat dalam Qur'an tdk hanya tersurat tapi juga tersirat). Jika ada yg tidak setuju dgn tulisan diatas, ya sudah tidak perlu berkomentar kasar atau pedas yang akhirnya memicu pertengkaran. Cukup memberikan argumen dgn halus dgn menyertakan dalil2 nya.

Karena saya yakin bahwa tidak ada maksud penulis untuk memecah belah Islam tapi untuk memberikan sedikit pengetahuan dalam Ilmu Islam. Ini yang harus kita hargai.

Terima kasih. Assalammualaiku m
Quote
 
0
Quoting kholid :
artikel di atas merupakan artikel tentang propaganda supaya sesama umat islam pecah, dan itu merupakan rencana kaum yahudi,maka kita sebaiknya berdoa aja semoga aja yang nulis artikel ini di bukakan pintu hatinya (amin)

"ente totlol tu memang benar banyak ajaran islam di indonesia yang tak pada koridornya..... . lebih baik tau dari pada tidak mau menjari tau......."
wassalam
Quote
 
0
Quoting azu:
CUIHHH

beginilahh kalo orang terlanjur Sok Pinter
Membid'ah - bid'ah kan segal hal yang dilakukan oleh orang lain
padahal belum tentu ibadahnya itu juga betul

CUIHHH

mau di kasih tau yang bener malah ngeyel "hukum memberitahu kebenaran wajib..... adalah musuh setan "
wassalam
Quote
 
-2
yahudi juga bilang gak menyekutukan tuhan, kristen juga bilang 3in1 itu hanya esensi dari 1 tuhan.

kalo intinya cuma mengacu kpd deklarasi thdp tidak menyekutukan tuhan, tanpa memperdulikan tata-aturan yg di ajarkan masing-masing nabi pembawanya dalam mengekspresikan deklarasi tsb -- kenapa gak jadi yahudi aja yg jelas2 lebih duluan adanya???.

yahudi itu menjadi salah justru karena ajaran tsb mengkhianati ajaran Musa as.; sekalipun yahudi tetap mengklaim tidak menyekutukan tuhan.

nasrani/kristen itu menjadi salah justru karena ajaran tsb mengkhianati ajaran Isa as.; sekalipun nasrani/kristen tetap mengklaim tidak menyekutukan tuhan.

gimana seh??!!
Quote
 
0
intinya tidak menyekutukan tuhan, hapus istilah bi,dah dari dunia islam.
Quote
 
0
"Assalaamu'alai kum Warahmatullaahi wabarakaatuh"

Wahai saudaraku umat Muslim, apa sesungguhnya makna dari lafaz "Lailahaillalla h Muhammadarrasul ullah" ???

Tiada Aturan dan Ketetapan selain daripada Wahyu Allah Subhanahuwata'a la dan Tiada pula Perbuatan selain daripada Sunnah Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam.

Allah telah berfirman:
"Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq (Kebenaran) dengan yang bathil (Kebatilan)" [Q.S. Al Baqarah: 42]

"Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir." [Q.S. Al Maa-idah: 44]

"Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." [Q.S. An Nisaa': 115]

"Apa yang diberikan/diper intahkan Rasul kepada-mu maka terimalah/laksa nkanlah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." [Q.S. Al Hasyr: 7]

Rasulullah telah bersabda:
"Barang siapa melakukan suatu amalan dan tidak didasarkan amalan itu dengan perintah kami, maka amalan itu menjadi tertolak." [H.R. Muslim]

"Barang siapa saja yang mengada-adakan dalam urusan (Agama) kami ini sesuatu yang tidak berasal darinya, maka hal itu tertolak." [H.R. Bukhari]

"Wahai manusia, jauhilah oleh kamu sekalian sikap berlebihan dalam beragama, karena sesungguhnya sikap berlebihan dalam beragama itulah yang telah menghancurkan umat-umat sebelum kamu." [H.R. Ibnu Majah]

"Aku tinggalkan padamu dua hal, yang tidak akan sesat kamu selama berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya." [H.R. Ibnu 'Abdilbarri]

Mungkin itu saja yg bisa saya sampaikan dan Semoga kita semua masih diberikan hidayah-Nya... Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin.

"Sekiranya ada perbedaan pendapat di antara-mu tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul-Nya (Sunnah)." [Q.S. An Nisaa': 59]

"Wassalaamu'alaikum Warahmatullaahi wabarakaatuh"
Quote
 
-1
sesama muslim hendak nyaQuoting RJT:
Sangat membuka wawasan. Referensi sangat tepat dan jelas. Ternyata tidak berbeda sama-sekali dengan keadaan Kristen yang telah dipelesetkan, di sesuaikan dengan agama paganisme: penyemQuote:
tinggalkan perpecahan
quotebahan dewa-dewa, hari minggu, natal, paskah, berhala-berhala, jauh dari kekristenan versi Alkitab. Agama ini disalut dalam suatu agama "kristen" yang kemudian merajalela sejak tahun 300'an masehi disebut kemudian: Roman Katholik, yang subur sampai hari ini.
"LANA A'MALUNA LAKUM A'MALUKUM" bagiku amalanku, bagimu amalanmu. selain muslim "LAKUM DINUKUM WALIYADIIN" bagiku agamaku bagimu agamu. Mari kita tingkat kan persatuan, buang jauh2 WAHABISME di IndonesiaQuote:
mantri
:D
  • mantri
Quote
 
0
orang yg suka menambah nambah ato mengurang dalam urusan ibadah dalam islam itu seakan akan mereka lebih pintar lebih pandai dari Rasulullah SAW yg langsung mendapat petunjuk dari Allah SWT melalui perantaraan jibril AS dan mereka juga seolah olah lebih pintar dan lebih pandai dari para sahabat Rasulullah SAW yg mendapat pendidikan langsung dari RAsulullah SAW...semoga Allah SWT memberikan hidayah kepada mereka yg suka menambah ato mengurang dalam hal agama menjadi orang orang yg paham seperti pemahaman para sahabat RAsulullah SAW.
Quote
 
0
Orang hindu saja enggan ajarannya kecipratan ajaran islam, eh ini banyak orang diingetkan malah pada marah-marah.
Quote
 
-2
Nymbung dkit sodara . . .
Bgne sodara2: maslh2 spt ini 2h sbnere jg sdh muncl dr dlu dan i2 smw sdh mjd hal yg maklum bg para ulama dan mreka ttp menghargai perbdaan pndpt d antara mreka masng2 tnp ada yg membid"ah2kn, mensyirikkan dan bhkn mengkafirkan. Aplg stelh munculy ulama smisl syekh ibnul qoyyim al jauziyah, syekh ibnu thaimiyah dan yg palng kentara lg yaitu syekh muhammad bin abdul waha an najdi. Dr mreka2 ini muncullah gnerasi2 yg tak puny sopan santun dlm brbda pendapt. Cman yg palng jd maslh adlh stiap kali mreka menudh amaln se2orng sbg perbuatn syirik sest dsb mreka slalu menghndar ktk d ajak brdskusi atau debt trbuka, kalaupn ad yg mau brdbat sdh pasti mreka2 ini ska gk fokus pd permaslhn yg sdang dperdbtkn alias mbulet. Dan akhry i2 smua malh membktkn klo sbnary mreka adlh orng2 bodoh yg mngaku pintar!.
Quote
 
+1
Tahlilan, maulid nabi, dan lain lain itu semua jelas2 bid'ah dan bukan berasal dari ajaran syariat islam yang dibawa oleh Rasul kita Muhammad SAW,
Apa Rasulullah dan para sahabatnya setelah meninggal merka ditahlilkan?
Apa Rasulullah menyuruh kita memperingati hari kelahirannya? Apa para sahabat Rasulullah memperingatinya ? Di saudi juga gak ada peringatan seperti itu, apa bedanya maulid nabi dan natal? Agama kita Islam haruslah beda dengan agama para ahlul kitab....!!!!
Kuburan dijadikan tempat ibadah...untuk ngaji bahkan sholat....
Bukannya itu seperti gereja??? Orang nasrani mereka mendirikan tempat ibadah diatas kuburan para pemuka agamanya....
Sadar sadar...kita harus kembali pada syariat islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW....!!!
Mungkin sebagai muslim ibadah saya kurang, tp saya tahu jelas mana yang syirik mana yang tidak.... Dan perlu diketahui hanyadosa syirik saja yang tidak akan diampuni Allah SWT
Quote
 
-5
CUIHHH

beginilahh kalo orang terlanjur Sok Pinter
Membid'ah - bid'ah kan segal hal yang dilakukan oleh orang lain
padahal belum tentu ibadahnya itu juga betul

CUIHHH
Quote
 
-6
artikel di atas merupakan artikel tentang propaganda supaya sesama umat islam pecah, dan itu merupakan rencana kaum yahudi,maka kita sebaiknya berdoa aja semoga aja yang nulis artikel ini di bukakan pintu hatinya (amin)
Quote
 
0
buat bilqis > Yang jadi rasulullah itu guru anda atau Muhammad SAW?? Jangan berlagak pintar dalam membaca AL Qur'an dan hadist. Jika anda merasa pintar membaca ALQur;an Surat Apa yang anda jadikan dalil untuk perkataan anda untuk membenarkan tahlillan, dan tolong sampaikan hadist Rasulullah berkaitan dengan tahlilan.. Islam ditegakkan dengan Sunah , Sunatullah dan Sunnah Rasulullah, bukan fatwa ulama NU. Anda berkata orang buta, tapi mantan pemimpin NU adalah orang buta yang dibaptis oleh Pastur didepan ribuat jemaat nasrani.. Adakah Rasulullah melakukan hal yang sama?? Adakah prilaku sahabat melakukan hal yang sama..?? Anda lah pengikut orang buta, taklid..
Quote
 
-4
ya begitulah. kalo belajar tidak komperehensif. Marilah kita kaji dulu Al Qur'an. Sudah bisa belum baca Qur'annya? Dah bener belum tajwid dan mahrajnya? Saya sering nemui orang bahkan temen saya sendiri yang nulis kayak gini e.... ternyata fatihahnya aja belum pas sama sekali. maklum ngajinya sama buku, TV, radio dsb.
Bagi yg tak setuju dg tulisan di atas ya jangan marah. Kita maklum aja masalahnya mereka kan belum nyampe. Kalo belum nyampe' ilmunya mau dipaksakan paham juga percuma aja. apalagi suruh menelaah lewat nahwu shorofnya. boro-boro bro. Kalo masih dluhur yang jangan dipaksakan maghrib. gitu lho
Kita pakai perumpamaan aja.
Jika ada tiga orang buta dihadapkan pada seekor gajah. kemudian disuruh menggambarkan secara menyeluruh ttg gajah.
1. Orang buta pertama dg bangganya menyampaikan bahwa bentuk gajah itu seperti ular dan dia memaksakan diri kepada orang lain agar bentuk gajah itu harus seperti ular. Maklum yang dia pegang hanya pada belalalinya saja
2. Orang buta ke-2 menyampaikan bahwa bentuk gajah adalah seperti tembikar ( jawa : tampah ). Dia bersikukuh bahwa gajah ya spt tembikar. Jika ada orang lain bilang tdk spt itu maka dia memvonis orang lain itu sesat. kenapa? karena yg dia pegang adalah kupingnya.
3. Orang buta ke-3 bersikeras meyatakan bahwa bentuk gajah itu seperti pohon bambu. Dia dengan bangganya berpendapat seperti itu. Tidak boleh ada yang ngomong selain bambu. E.. ternyata yang dia pegang kakinya.
Bagaimana jika ada orang yang melek melihat pernyataan-pern yataan mereka dan kerasnya pendapat mereka ? Tentunya orang yang melek tadi paling tersenyum. Masalahnya bentuk gajah yang sebenarnya tidaklah seperti ketiga orang buta itu bayangkan.
Oleh karena itu sekali lagi yang melek tidak perlu marah. Biar mereka belajar. Nanti kalo matanya sudah diobati dan bisa melek kan pendapatnya tidak seperti sebelumnya.
Seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Di tempat saya dulu banyak orang yang begitu gagahnya ngomong seperti ketiga orang buta tadi. Alhamdulillah sekarang setelah matanya diobati dan sudah melek mereka menjadi mengerti dan memahami bentuk gajah yang sebenarnya. bahkan mereka tidak sungkan-sungkan lagi mengerjakan ibadah yang dulu mereka bid'ah-bid'ahka n.
Mereka sekarang ya ziarah kubur, tahlilan, bahkan manaqiban juga.
Ya ... mungkin kitabnya dulu masing hilang dan belum ketemu dan baru sekarang ketahuan. He.....he...
Demikian kalo hidayah Alloh sudah turun.
Quote
 
-5
saya Tantang anda semua yang merasa faham tentang bid'ah ,
Tolong jelaskan maksud hadis
"wa kullu bid'atin dholalah" menurut nahwu dan shorof,

Siapa dari sekian banyak yang merasa pintar saya tantang .
Quote
 
+4
alhamdulillah, mudah-mudahan Allah SWT memberikan rahmat kepada kita semua, sehingga yang haq terlihat begitu jelasnya dan yang bathil serta remang-remang itu nyata pula kebathilannya. mudah-mudahan Allah SWT memberikan taufiq kepada kita semua untuk kuat memegang sunnah dan kuat menyingkirkan bid'ah di lingkungan keluarga kita dan masyarakat kita.
Quote
 
+1
ini dia ... ini yang bisa menjadi pembedah bid'ah yang telah mengakar budaya di Islam Indonesia ...
adakah artikel sejenis yang lainnya pak , selain tentang ritual tahlilan , ritual maulid nabi misalnya ... ^_^
Quote
 
0
ente orang mana neh, ajib beud neh gan info-info nya;-)
Quote
 
+3
ijin copy utk.. memusnakan bid'ah
Quote
 
0
@Aaron Vrizko,

Mudah-mudahan maksud pertanyaan Anda adalah “apa yang kita perbuat untuk orang yang meninggal” ? jika demikian pertanyaan anda, jawabannya tentu ikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam pemeliharaan jenazah, kurang lebih sebagai berikut;

A.Jika kita dapati keluarga kita meniggal dunia, yakinkan bahwa ruhnya telah berpisah dari jasadnya dengan melakukan langkah-langkah berikut;

1)Periksa detak jantungnya dengan meraba urat nadi daerah tangan atau leher.
2)Periksa nafasnya dengan didengarkan langsung pada hidung dan mulutnya, atau ambil cermin kemudian dekatkan pada hidung atau mulutnya untuk mendeteksi ada dan tidaknya uap air yang keluar dari keduanya.
3)Bila nadinya berhenti dan nafasnya sudah tidak terdeteksi menandakan secara klinis telah mati.
4)Untuk lebih meyakinkan periksa oleh petugas kesehatan untuk meyakinkan kematian secara medis.

B.Jika yakin sudah meninggal maka kewajiban kita sebagai muslim adalah melakukan Pengurusan atau pemeliharaan jenazahnya (mayatnya).

Pengurusan jenazah dalam bahasa arab disebut tajhiz al-janazah تجهيز الجنازة)) . Jenazah berasal dari kata arab, "janazah" yang berarti; 1) usungan (keranda), 2) mayat, 3) upacara yang diadakan oleh keluarga orang mati sejak kematiannya sampai penguburannya. Arti ketiga inilah yang dimaksud dengan tajhiz al-janazah karena menyangkut perkara ritual. Yang termasuk pengurusan jenazah yang paling pokok adalah sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Ibnu Majah dan Ahmad dari 'Aisyah, meliputi;

1)memandikan jenazah,
2)mengkafani jenazah,
3)mensholati jenazah,
4)dan menguburkannya jenazah.

Berikut hadits yang menyatakan hal tersebut:

"Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pulang dari baqi kemudian menemuiku sedangkan aku sedang sakin kepala, dan aku mengatakan padanya dan mengangkatkanny a (menyandarkan)d an dia berkata :" hai 'Aisyah dan mengangkatnya: dan berkata lagi: " Apa yang menimpamu ? kalau kau meninggal sebelumku maka aku yang akan memelihara mayatmu, aku yang akan memandikanmu, mengkafanimu,me nyalatkanmu dan aku yang akan menguburmu". ( H.R. Ibnu Majah dan Ahmad).

Keempat kegiatan tersebut merupakan suatu prosesi ibadah yang cara pelaksanaanya telah dituntun dan ditetapkan oleh Rasulullah saw. berdasarkan sabda-sabdanya (hadits) sehingga kewajiban bagi seorang muslim untuk mengikutinya apa-apa yang telah ditetapkan dan meninggalkan segala perkara yang tidak ditetapkan sebagaimana firman Allah SWT. dalam surat al-Hasr ayat 7;

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya".(A l-Hasr :7)

Dan dalam sabda Nabi riwayat muslim ditegaskan;

" Apa-apa yang dilarang oleh Nabi atas kalian maka jauhilah dan apa-apa yang Nabi perintahkan untuk dilakukan maka kerjakanlah semampu kalian, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian celaka karena mereka banyak bertanya dan berselisih dengan nabi-nabi mereka ". ( H.R Muslim)

Adapun Urgensi atau maksud dan tujuan dari prosesi penyelenggaraan jenazah adalah;

1)Proses ta'abbudi yakni suatu kewajiban seorang hamba kepada Khaliknya (Allah Subhanahu wa Ta'ala ) sebagaimana ibadah-ibadah lainnya sebagai bukti ketaatan kepadanya.
2)Ittibaa'i 'an al-Rasul, yakni mengikuti sunnah Rasullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sebagai bentuk ketaatan kepada sunnahnya.
3)Takrimul muslimin yaitu penghormatan terhadap eksistensi seorang muslim yang mulia meskipun telah menjadi mayat.
4)Tazkiyatun an-nafsi yaitu prosesi pembersihan diri dari dosa baik bagi yang masih hidup yakni yang melakukan pemeliharaan jenazah dengan mendapat pahala dan diampuni dosa maupun bagi si mati yakni mendapat ampunan dosa karena dido'akan oleh yang hidup.
5)Tazakiratul maut yakni menjadi media pengingat kematian bagi orang yang masih hidup yang umumnya sering lupa bahwa dirinya akan mati.

Untuk lebih jelasnya dari keempat kewajiban tersebut, anda harus baca dari sumber buku fiqih islam yang sahih. !!!! Semoga bermanfaat.

Wallahu’alam
Quote
 
+1
Lalu apakah yang harus kita lakukan ketika keluarga kita meninggal, agar tidak terjadi Bid'ah??
Quote
 
0
Itulah alasan kenapa membaca menjadi ayat pertama yang diturunkan kepada baginda nabi besar Muhammad S.a.w. Dengan pengetahuan, kita tidak akan melakukan sesuatu tanpa ada pengetahuan dan tuntunannya. Ilmu dapat menjaga kita dari kesesatan. Wallahu a'lam.
Quote
 
+2
kalo dikasih tau ke masyarakat pasti banyak yg protes heheh, kalo salah sudah jadi kebiasaan gitu deh
Quote
 
+1
Sangat membuka wawasan. Referensi sangat tepat dan jelas. Ternyata tidak berbeda sama-sekali dengan keadaan Kristen yang telah dipelesetkan, di sesuaikan dengan agama paganisme: penyembahan dewa-dewa, hari minggu, natal, paskah, berhala-berhala , jauh dari kekristenan versi Alkitab. Agama ini disalut dalam suatu agama "kristen" yang kemudian merajalela sejak tahun 300'an masehi disebut kemudian: Roman Katholik, yang subur sampai hari ini.


Kode keamanan
Segarkan