larger smaller reset

Dajjal Dan Anak Manusia Menurut Injil

Oleh: Kyai Arkanuddin Masruri
("Bapaknya orang Yahudi adalah Setan, seorang pembohong besar " - John 8:44)

Bagian Keenam
Munculnya Anak Manusia Sebagai Nabi Besar

Ayat Matius 24:27 menginjak masalah munculnya anak manusia yang cepat geraknya, sebagaimana pasal selanjutnya.

Al-Masih telah mengurutkan tanda-tanda Kristus Palsu (Dajjal) hingga dapat kita jumlahkan 13 tanda, ialah:

Tingkat Satu : 1. Muncul pertama pada zaman sebaya murid-murid Al-Masih sebelum hancurnya bait Allah Yerusalem (h. 20);

2. Nama Kristus sebagai dalih. (h. 20);

3. Berasal dari rumpun bani Israil/Yahudi (h. 22);

4. Ajarannya bukan dari para murid Al-Masih (h. 22)

5. Suka bergerak dakwah di luar bani Israil/Yahudi. (h. 22)

Tingkat Dua : 6. Banyaknya sekte-sekte yang masing-masing berbeda prinsip doktrinnya (h. 42);

7. Memperlihatkan tanda-tanda kebesarannya (h. 48);

8. Mengemukakan keramat, mukjizat dan keajaiban-kejaiban (h. 48),

9. Barisannya yang khusyu` dan patuh (h. 48).

Tingkat Tiga: 1 0. Pertapaan di hutan belantara (h. 49);

11.Beroperasi di hutan belantara (h. 49);

12.Kristus dalam bilik ruangan (h. 50);

13.Kristus dalam wadah (h. 51).

Lalu kitab Injil Matius 24:27 meneruskan tulisannya sampai dengan kedatangan Nabi Besar, yang disebut Anak Manusia, demikian:

"Karena seperti kilat memancar dari Timur dan bercahaya sampai ke Barat, demikian juga kedatangan anak manusia."

Ayat ini jelas menyatakan cahaya dari Timur yang menerangi Barat. Memang di Eropa sudah terkenal istilah Latin: EX ORIENTELUX = (dari Timur datanglah cahaya), oleh sebab kitab Injil telah meratai seluruh daerahnya. Hanya saja selama ini penafsirannya selalu tampak berat sebelah atau kurang objektif, akibatnya antara Ortodoks dan Rasionalis timbul pertentangan yang tak ada habis-habisnya. Maka perlu sekali ada pihak ketiga, seperti orang Islam, ikut membantu pemecahannya yang dapat disaksikan bersama oleh khalayak ramai.

Pernyataan Injil kebetulan sekali akhir-akhir ini dikembari oleh pernyataan KONFERENSI DUNIA HAL AGAMA UNTUK PERDAMAIAN (World Conference of Religion for Peace - M. C. R. P) di Singapura tertanggal 25-11-1976 demikian: " Asia adalah rahim kelahiran banyak agama dan budaya. Meskipun bertahun-tahun dikuasai dan diperas oleh kekuatan Barat, namun Asia dengan kewaskitaan naluri dan nurani kini mampu bangkit kembali untuk meraih kembali peranannya." (Kompas, 25-11-1976)

Mungkin buku ini dapat pula ikut meraih peranannya dalam membuat ungkapan-ungkapan, meskipun belum mendapatkan tanggapan dari pihak ilmuwan Barat, tetapi kenyataan dapat memberi sajian yang merupakan jawaban atas tantangan dari problem ramalan kitab-kitab suci dari para nabi utusan Allah Subhanau wa Ta'ala, sedang keadaan umat Islam rata-rata asing terhadap kitab Bibel, kitabnya umat Yahudi dan Kristen. Semoga saja mulai mendapatkan tanggapan positif. Apalagi mengingat arti perdamaian antar umat manusia yang macam-macam corak berpikirnya apabila mulai dikenalkan jalan lurus yang jelas dapat dibuktikan dasar objektivitasnya.

Sekarang siapakah sesungguhnya yang boleh disebut Anak Manusia. Nama ini telah lama sejak kira-kira abad ke-2 SM ditanggapi dan dipelajari oleh kaum pendeta Yahudi. Mereka mengira-ngirakan munculnya akan terjadi pada saat mereka sedang menderita aneka macam penindasan, untuk memberi pertolongan dan pembebasan dari belenggu penjajahan. Pada abad pertama Nabi Isa bin Maryam menyatakan sebagai Al-Masih, tetapi tampaknya kaum Yahudi kurang tertarik kepadanya. Mereka tidak menginginkan diajar oleh Al-Masih tentang etika dan perbaikan akhlak, pula kesabaran dan tuntunan mengalah. Mereka menginginkan datangnya Al-Masih membawa kemenangan atas musuh-musuh Yahudi dan mengembalikan tahta kerajaan Sulaiman, tetapi tampaknya kurang teliti membaca sumber-sumber dalil ayat tentang ramalan akan kedatangan Al-Masih dan anak manusia yang diberikan oleh Nabi Daniel. Dikiranya satu orang yang bernama Al-Masih alias anak manusia. Sampai juga segenap pendeta Kristen pun rata-rata beranggapan demikian pula. Dalam kitab Injil Matius tampak sekali campur baurnya pandangan tentang sifat-sifat antara Al-Masih dan anak manusia, ada kalanya seolah-olah Nabi Isa menggambarkan diri sebagai anak manusia, tapi adakalanya bukan dirinya yang dimaksud dengan anak manusia. Sebab riwayat hidup yang penuh penderitaan dan ancaman sama-sama dialami oleh Nabi Isa bin Maryam dan Nabi Besar Muhammad Sallahu "Alaihi wa Sallam. Tetapi kemenangan dan kejayaan yang dapat dicapai kejadiannya berbeda. Nabi Isa dihapus ajarannya ketika usia kira-kira 30 tahun dan mesjid Yerusalem hancur, sedang Nabi Muhammad Sallahu "Alaihi wa Sallam berhasil membawa kemenangan dan seterusnya umatnya mencapai kejayaan serta wibawa ajaran agama Islam benar-benar dalam tempo 1000 tahun meratai dunia.

Dalam al-Qur'an pun sudah dinyatakan bahwa janji Allah bagi Nabi Muhammad Sallahu "Alaihi wa Sallam yang selalu difitnah dan diperdaya oleh orang-orang kafir adalah bila sudah terjadi suatu masa yang panjangnya seribu tahun menurut hitungan manusia, itulah masa kejayaan umatnya di seluruh dunia, demikian ayatnya:

"Dan mereka mengharapkan kepadamu kedatangan siksa selekasnya, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya dan yang sesungguhnya masa dari Tuhanmu terjadi seperti seribu tahun dari hitunganmu."

Ayat-ayat sebelumnya menyinggung bangsa-bangsa yang telah roboh maka ayat ini adalah masa kejayaan umatnya, hanya saja selanjutnya mengalami kemunduran dan bukan kemusnahan seperti bani Israil/Yahudi.

Di sini tidak perlu diuraikan bagaimana Matius menulisnya, akan tetapi cukuplah dikembalikan pada sumber yang semula, ialah dari Nabi Daniel mengenai Al-Masih atau Messias (bahasa Ibrani/Arami) demikian: (Daniel 9: 25., 26)

(25). "Bahwa daripada firman keluar firman akan balik kembali dan membangunkan pula Yerusalem sampai kepada Al-Masih, penghulu (imam) itu, akan ada tujuh sabat dan enam puluh dua sabat bahwa negeri itu akan diperbaiki dan dibangunkan pula dengan halaman dan kota bentengnya, jikalau pada masa kepicikan sekalipun.

(26). Maka kemudian daripada enam puluh dua sabat Al-Masih itu akan dihapuskan, tetapi bukan karena dirinya sendiri maka bangsa seorang, raja yang datang itu akan membinasakan negeri dan tempat suci itu dan kesudahannya akan dengan air bah yang meliputi; maka dahulu daripada kesudahan itu akan ada perang dan kerusakan yang tiada terbaiki lagi."

Kebanyakan kaum pendeta Kristen berpendapat bahwa tujuh sabat itu diartikannya dengan tujuh tahun untuk dipertemukan dengan masa abad ke-19 yang katanya akan turunlah Kristus dari langit di atas awan-awan. Berkali-kali hitungannya gagal dan Kristus selama ini tidak kunjung turun dan sampai sekarang pun mereka masih menunggu-nunggu, kalau-kalau sewaktu-waktu bisa turun. Banjir, gempa bumi dan peperangan dianggapnya sebagai alamat-alamat sebelumnya. Padahal arti 7 sabat cukuplah diberi arti 7 x 7 hari, alias kira-kira 49 hari; 62 sabat berarti 62 x 7 hari, jadi sama sekali kira-kira 1,5 tahun. Jadi ayat 25 itu menerangkan bahwa Al-Masih hidup ketika Yerusalem dibangun, sebagaimana pernyataan Matius 24: 1. Sedangkan ayat 26 menyatakan bahwa Al-Masih sesudah 62 sabat itu terus dihapus yang disusul oleh banyak bencana dan perang yang pada akhirnya mesjid Yerusalem dihancurkan yang sampai sekarang masih meninggalkan puing-puing sejak dihancurkan oleh panglima Romawi, Titus pada tahun 70. Bencana itu bahkan diperhebat oleh Matius dengan banyaknya muncul Dajjal yang susul menyusul dan bertahap-tahap sampai pada masa kedatangan nabi besar yang dilukiskan dengan anak manusia.

Anak Manusia ini berasal dari ramalan Nabi Daniel yang bunyinya demikian: (Daniel 7: 13 , 14)

(13). "Maka kulihat dalam khayal pada malam bahwasanya adalah Satu yang seperti anak manusia, datang dengan awan-awan yang di iangit, lalu ia datang kepada Yang tiada berkesudahan harinya, dan ia pun dihampirkan kepada hadirat-Nya.

(14). Maka dikaruniakan kepadanya pemerintahan dan kemuliaan dan kerajaan itu maka segala bangsa dan kaum dan orang yang berbagai: bahasanya pun berkhidmat kepadanya; maka pemerintahannya kekal dan kerajaannya pun tiada terbinasakan."

Ayat 13 menyatakan bahwa penerimaan wahyu bagi Daniel adalah dalam khayal, jadi serba berupa lambang-lambang kiasan, seperti awan-awan, tidaklah perlu kita nyatakan sebagai awan-awan di langit, melainkan sebagai tempat suci dan masih murni bebas dari penjajahan dan penodaan kebudayaan asing, sebagaimana bangsa Quraisy yang rata-rata masih ummi, artinya: primitif, tak mementingkan baca tulis.

Agar lebih jelas baiklah disimpulkan maksud dari masing-masing pengertian ayat tersebut, demikian:

Terus terang saja dalam sejarah tidak ada negara lain yang demikian amannya, melainkan di Mekah sampai sekarang Insya Allah untuk selanjutnya. Ternyata untuk memenuhi syarat-syarat Daniel itu Nabi Muhammad Sallahu "Alaihi wa Sallam juga bermi'raj menghadap ke hadirat Allah, sedang pemerintahannya pun sampai ke keturunan-keturunan bangsa Arab tak akan berubah atau lepas dari tangannya. Meskipun penduduk bangsanya kurang maju dalam pendidikan umumnya, tetapi sumber minyaknya cukup membuat pusing kaum imperialis di dunia.

Adapun mengenai cepatnya gerak langkah Anak Manusia dapat pula dibaca dalam karangannya orang Yahudi tersebut (Wondere Waarheid) dengan ilustrasi demikian:

De Zegetocht van het Mohammedanisme Het is een verbijsterende en soms ongeloofelijke geschiedenis. Vijf en twintig jaren na den dood van Mohammed waren zijn woeste Arabische volgelingen meesters van Egypte, Palestina, Syrie, Babylonie en Perzie. Wedarom na een halve eeuw en de Noordkust van Afrika en bijna geheel Spanye waren aan hun gezag onderworpen. Tien jaren daanra frokken zij Frankrijk binnen. De gansche Christenwereld sidderde, toen de gevreesde Arabieren kwamen aanstormen. Dit was de aanvang van een nieuw hoofdstuk in de geschiedenis van de Joden.

Terjemahannya:

"Gerak Kemenangan Ajaran Muhammad."

Adalah suatu sejarah yang mengejutkan kadang-kadang tak terbayangkan. 25 tahun setelah wafat Nabi Muhammad bangsa Arab pengikut-pengikut Muhammad, telah menguasai Mesir, Palestina, Suria, Babilon dan Persi. Sesudah setengah abad pantai Utara Afrika dan hampir seluruh Spanyol telah ditaklukan. Sepuluh tahun lagi mereka memasuki Perancis. Seluruh dunia kekristenan gentar ketika orang-orang Arab yang ditakuti itu menyerbu. Ini adalah permulaan dari pasal baru sejarah banga Yahudi.

Jadi tidak keliru apabila membuat pernyataan bahwa kedatangan Nabi Besar Muhammad Sallallahu "Alaihi wa Sallam di dunia memenuhi ramalan Taurat dan Injil untuk membebaskan umat beragama (Yahudi) dari belenggu penjajahan asing, terutama di daerah-daerah bekas tempat perjuangan para nabi ssejak semula, ialah mulai Mesopotamia (Persi), Siria, Mesir dan Arabia. Demikian ayat al-Qur'an, al-'Araf 57:

\u201cMereka yang mengikuti Rasul (Muhammad), Nabi yang ummi yang dapat mereka temukan tertulis di kalangan mereka dalam Taurat dan Injil, memerintahkan mereka perihal kebaikan dan melarang kemunkaran dan menghalalkan makanan yang baik-baik dan mengharamkan makanan buruk dan menghilangkan kesulitan-kesulitan bagi mereka dan belenggu-belenggu yang telah menimpa mereka.'

Dalam al-Qur'an surah al-Isra' ayat pertama, Nabi Muhammad Sallallahu \u2018Alaihi wa Sallam dinyatakan sebagai pembawa berkah bagi daerah-daerah sekitar Palestina. Demikian ayatnya:

\u201cMahasucilah (Allah) yang menjalankan hambanya pada waktu malam dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsha yang sekitarnya Aku berkahi untuk menunjukkan tanda-tanda-Ku. Sesungguhnya Allah itu Maha mendengar dan Mahaperiksa.\u201d

Ada baiknya lagi dikutipkan dari pengakuan Yahudi, ialah dalam buku: Wondere Waarheid, h. 194:

"Dari abad kelima sampai ketujuh hidup orang Yahudi di tiap-tiap negara di dunia dalam keadaan sangat tidak menentu. Dimana orang Kristen memegang kekuasaan dan terutama di Spanyol mereka diusir dari satu kota ke lain kota , kecuali bila mereka yang disingkirkan ketempat-tempat terbelakang yang gelap sebagai penderita kusta.

Raja-raja Kristen dan kaum bangsawan menyerobot mereka, uskup-uskup Kristen menyerang lewat tulisan-tulisan mereka dan penjahat-penjahat yang beragama Kristen (de Christelijke misdadigers) membunuh mereka.

Di Babilo dan Persi keadaannya tidak terlalu menyenangkan bagi mereka. Disana mereka dipukuli dan dianiaya. Sejarah menyebutkan "Raja Pengasingan" yang digantung dan lainnya disalib.

Akan tetapi pada permulaan abad ke-8 datanglah masa-masa yang lebih baik. Ketika kaum Muslimin mengusir tentara Persi dan orang-orang Kristen, mulailah orang-orang Yahudi bangun sedikit demi sedikit dari debu kehinaan. Selagi itu orang-orang Muslim telah bersikap sabar terhadap orang-orang Yahudi.

Muhammad sudah bertahun-tahun lama meninggal dunia dan tidak ada orang yang menyalahkan orang Yahudi bahwa apa yang disebut Ahli Kitab tidak tahu soal al-Qur'an. Dalam pandangan para pengikut Muhammad orang-orang Yahudi adalah kaum yang mempunyai persamaan tentang kesukuan dan agama."

Pada halaman 266 buku Wondere Waarheid tersebut menerangkan penderitaan Yahudi yang memuncak di Rusia yang pada waktu masih dikuasai raja-raja feodal Kristen, ialah pada awal abad ke-20, demikian:

"Akan tetapi raja Czar dan juru-juru penasihatnya tidak menghiraukan itu semua (teguran-teguran para negarawan-negarawan dari negeri-negeri lain dan berita-berita pers). Mereka malahan berniat dengan cara mereka untuk mengakhiri masalah Yahudi selama-lamanya. Mereka bebas bersengaja dengan mengejar-ngejar untuk memurtadkan sepertiga kaum Yahudi untuk dijadikan Kristen, sepertiga diusir dan bagian terakhir dibunuh.

Demikianlah penganiayaan diteruskan tanpa rintangan. Pada tahun 1903 dan 1906 pembunuhan Yahudi memuncak yang menggetarkan. Di jalan-jalan dari Kisynef, dari Odessa dan kota-kota lainnya di daerah kediaman kaum Yahudi dibunuh sampai berjumlah ribuan."

Hoe het in hel tand van de Vestiging toeging.

Zoo werd de vervolging ongestoord voortgezet. In de jaren van 1903 tot 1906 nam de Jodenmoord huiveringwekkende afmetingen aan. In de straten van kisjineff van Odessa en andere steden van het gebied van vestiging werden de Joden bij duizendtallen omgebracht.

Di bawah ilustrasi ada tulisan yang terjemahannya: bagaimana nasib daerah mereka menetap," ialah di tengah-tengah jantung hati negeri Rusia. Padahal di dunia Barat sudah timbul gerakan emansipasi terhadap nasib Yahudi dan pula telah berdiri gerakan Zionisme.

Dari buku Wondere Waarheid ada lagi yang baik untuk diungkapkan, ialah bahwa kaum Yahudi yang sudah lama sekali menjadi perantau dengan nasib yang tak keruan untuk dibayangkan berat dan kepedihannya. Oleh penulisnya, itu diakui bahwa sejak hidup di bawah naungan pemerintahan Islam, mereka mulai menjadi hartawan, pedagang-pedagang besar dan pesiar mengarungi dunia luas, demikian:

"Onder de verdraagzame heerschappij van de Mohammedanen begon het den Joden voorspoedig naar de wereld te gaan. Dezelfde menschen die eeuwen lang havelooze markskramers waren geweest, werden nu rijke en machtige kooplieden. Zij werden overal aangetroffen en reisden van Engeland naar Indie, van Bohemen naar Egypte.

In die dagen waren slaven het veelvuldigstvoorkomende handelsatikel. Op iederen heirweg en op elken belangrijken wereldstroom ontmoette men deze Joodsche kooplieden met hun kudden van geboeide gevangenen. "

Artinya:

"Di bawah pemerintahan orang-orang Islam yang sabar, mulailah kaum Yahudi hidup di dunia dengan bahagia. Orang-orang yang sama ini berabad-abad lamanya menjadi tukang-tukang jual kelontong yang melarat, sekarang menjadi orang-orang kaya dan pedagang-pedagang yang kuat. Mereka menyebar ke mana-mana dan bepergian dari Inggris ke India. Dari Bohemen ke Mesir. Pada waktu itu budakĀ­-budak merupakan barang dagangan yang paling ramai. Di tiap-tiap jalan besar dan lalu lintas dunia yang penting dapat dilihat pedagang-pedagang Yahudi ini dengan tawanan-tawanan yang diborgol." (h. 154 dan 155)

Demikian jasa Nabi Besar Muhammad Sallallahu "Alaihi wa Sallam kepada kaum Yahudi, sama-sama umat beragama dari Nabi Ibrahim, sesuai ayat Qur'an al-'Araf 157, yang menegaskan tugasnya untuk menghilangkan kepedihan dan belenggu-belenggu yang dialami oleh umat agama Allah.

Tidak ada jeleknya ungkapan karangan Yahudi Lewis Brouwne ini diberitahukan kepada segala pihak, terutama kaum Yahudi sendiri dan juga bangsa-bangsa Eropa dan Amerika yang sekarang ini semua lupa daratan dalam membuat strategi untuk memusuhi atau membuat konsep-konsep yang selalu gagal terhadap dunia Arab. Padahal pada hakikatnya cukuplah mereka tinggal bersedia untuk menyadari jasa Islam dalam sejarah sejak abad ke-7 dan ke-8 yang bisa digali dalam sejarah hidupnya kaum Yahudi di Babilon yang serba sejahtera dan maju dalam segi ekonomi, pula dalam pendidikan agama. Mungkin masalahnya hanya soal belum tahu atau tidak mau bersedia untuk tahu. Apabila mereka tetap bertahan, berilah peringatan tentang jasa kaum Yahudi yang membuat pergolakan-pergolakan di dunia yang serba merusak yang tak lain dan tak bukan adalah juga sumbernya pertama kali dari Yahudi; kami kira sudah cukup parah dunia ini selalu digoncangkan dengan pertarungan politik dan militer yang tak ada habis-habisnya tanpa melihat segi teologis yang mengenal hubungan harmonis antara Bibel dan al-Qur'an.

Kami kira ada baiknya karangan Lewis Brouwne itu diterbitkan lagi dengan terjemahan berbagai bahasa dan ditambah dari konsepsi penulis buku ini.

Kejayaan anak manusia dalam kitab Wahyu dari Perjanjian Baru disebutkan dengan istilah: sang Anak Domba yang pengikut-pengikutnya menjadi penerus ajaran Al-Masih, berhasil mencapai kejayaan 1000 tahun dengan meratakan ajaran agamanya ke seluruh dunia (bacalah Wahyu 20: 4 - 10), jadi dari tahun 600 sampai 1600 benar-benar Islam mengarungi seluruh dunia, juga sampai ke Indonesia. Akan tetapi sesudah tahun 1600 bangkitlah aneka penantang, ialah iblis keluar dari belenggunya 1000 tahun, yang berupa: Ya'juj dan Ma'juj (Rusia dan komunis), binatang (Dajjal) dan nabi palsu (klenik-klenik). Perebutan antara tantangan-tantangan itu penulis mempunyai pendapat bahwa pada akhirnya perdamaian di dunia akan dirintis dengan terbentuknya integrasi dalam segala bidang yang benar-benar diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Asalkan tidak melanggar ajaran Allah.

Kembali masalah pendapat Matius yang sebagian menuju tampaknya kepada Yesus yang sebagian menunjukkan bukan pada Yesus sendiri seperti ayat Matius 16: 13:

(13). "Setelah sampai Yesus ke jajahan Kaisaria Pilipi, bertanyalah ia kepada murid-muridnya; katanya: `Menurut kata orang: siapakah anak manusia?'

(14). Maka berkatalah mereka itu: Ada yang mengatakan: Yahya Pembaptis, dan ada yang mengatakan: Elia; ada pula yang mengatakan: Yermia atau seorang dari antara segala nabi'

(15). Maka kata Yesus kepada mereka itu: `Tetapi kamu ini, siapakah aku?'

(16). Maka sahut Simon (Petrus), katanya: Tuhanlah Kristus, Anak Allah yang hidup'

(17). Lalu jawab Yesus, serta berkata kepadanya: `Bahagialah engkau, hai Simon.'

Ayat tersebut menegaskan bahwa yang diakui oleh Yesus hanya sebagai Al-Masih alias Kristus. Apalagi ada tambahan istilah: Anak Allah hingga lebih menegaskan bukan Anak Manusia. Sesungguhnya banyak kaum teolog Eropa menyatakan bahwa istilah keputraan Allah atau kebapaan Allah merupakan penerus dari kebudayaan Yunani maka penulisan Injil pada abad-abad sesuda3ELagi tanggapan Matius tentanh masa Masehi mengalami tekanan kebudayaan dari para penjajah Romawi yang berturut-turut tidak dapat melepaskan diri daripada langkah-langkah penetrasi dari kaisar-kaisar Romawi.

Sallallahu "Alaihi wa Sallam menurut Hadits Bukhari: ba'da tsalatsa layalin, yang artinya setelah 3 malam dalam gua Tsur, Injil itu menyebutkan demikian: (Matius 12: 40 )

"Karena sama seperti Yunus di dalarn perut ikan 3 hari 3 malam lamanya, demikian juga anak manusia akan ada di dalam bumi kelak 3 hari 3 malam lamanya."

Sekali lagi pendapat Matius yang semestinya harus diarahkan kepada Nabi Besar Muhammad Sallallahu "Alaihi wa Sallam , ialah ayat Matius 19: 28 demikian:

"Maka kata Yesus kepada mereka itu: "bahwa pada masa kejadian alam yang baru, apabila anak manusia kelak duduk diatas tahta kemuliaannya maka kamu ini pun yang sudah mengikuti aku, akan duduk juga di atas dua belas tahta serta menghakimkan dua belas suku bangsa bani Israil"

Ayat tersebut menegaskan.

a. Anak manusia bisa rnencapai kejayaannya yang nyata, tidaklah seperti Al-Masih yang mengatakan bahwa ia akan pergi (Yahya 16: 7)

b. Alam baru menunjukkan masa yang akan terjadi lebih jauh lagi daripada zaman Al-Masih sendiri

c. Yang mengikut Yesus akan juga mengambil peranannya ternyata ajaran Islam yang membenarkan ajaran Nabi Isa Almasih dan bahkan meneruskannya secara prinsipil akan mampu memanfaatkan ajaran Almasih dari Injil yang ada untuk memberi pemecahan-pemecahan secara adil dan benar terhadap kaum Yahudi di dunia, terutama pada saat-saat yang sekarang ini semakin kritis situasinya. Sebagai rintisan penulis buku ini telah mengajukan ajakan kepada Sri Paus Paulus untuk mengadakan dialog segi tiga, dimana penulis sanggup menyediakan prasaran-prasaran hingga seolah-olah Almasih datang lagi, meskipun berupa ungkapan-ungkapan ilmiah dari ajarannya dan bukan orangnya karena tidak ada nabi lagi.

Matius menyebutkan nabi besar dengan anak manusia, sedang Yohanes alias Yahya, murid Almasih dalam kitab Wahyunya rnenyebutkan: anak domba (Wahyu 5: 7; 6: 3; 14: 1; dan lain-lain). Hal ini pun hadits Nabi tidak ketinggalan dalam membuat sebutan itu. Ada hadits Bukhari menerangkan bahwa musuh nabi ketika menjumpai raja Heraklius, kaisar Romawi Timur (Byzantium) menyampaikan kepadanya tentang munculnya seorang nabi yang disebutnya: Ibnu Abi Kabsyah. yang artinya menurut maksudnya, ialah: anaknya Abi Kabsyah. Kabsyah itu bearti: kambing. Jadi secara kebetulan: anak domba dalam Injil Wahyu dan Hadits Bukhari ada saling pendekatan dalam membuat gelar nabi. Raja Heraklius tampaknya grogi dan tertarik hampir percaya, meskipun Abu Sufyan sesungguhnya memusuhi nabi. Akan tetapi justru sikap memusuhi itu bagi orang yang mampu berpikir malah bisa menimbulkan tanggapan yang lebih serius. Demikianlah haditsnya:

"Abu Sufyan menceritakan (tentang pertemuannya dengan Heraklius): "Setelah ia (Heraklius) berbicara dan membaca surat (dari Nabi kepadanya), timbullah suara hiruk-pikuk (antara barisannya) dan aku disuruh keluar. Kata saya kepada kawan-kawan; ketika itu aku disuruh keluar: "Sungguh Anak Domba (Ibnu Abi Kabsyah) itu menjadi peranan hanya saja raja bangsa kuning itu khawatir. Maka aku sendiri yakin bahwa ia (Anak Domba) akan menang sehingga Allah memasukkan Islam dalam diriku.

Perlu sedikit ada pemecahan ilmiah, ialah bahwa dalam Injil Yahya dan Wahyu ada perbedaan penggunaan istilah Anak Domba. Injil Yahya menggunakan istilah itu menuju kepada Al-Masih, sedang Wahyu mengarah kepada Nabi Besar yang bukan dari rumpun bani Israil. Maka menurut sejarah kitab Wahyu ini lama sekali belum mendapatkan pengesahan, barulah pada abad ke-7 dapat diterima oleh gereja sebagai kanonik, mengingat dianggap masih berbau keyahudian. Injil Yahya dapat diterima karena penonjolan mistik panteisrne antara Tuhan dan Kristus sangat kuat yang sesungguhnya kaum teolog sudah menilainya sebagai karangan yang banyak berbau Neo-Plantonisme. Penulis mempunyai pendapat lain sedikit, ialah: materi sejarah nampaknya nyata, hanya iramna orientasi pengarangnya bersifat mistik Neo-Platonisme.

Mungkin penulis bisa mengatakan manusia masih beruntung bahwa gereja sampai sekarang masih memelihara Injil-Injil itu, meskipun isinya banyak mengandung aneka fakta sejarah yang berselingan, daripada tidak ada sama sekali. Hanya saja penulis buku ini harus selalu bersedia membantu.

Semoga saja saling pendekatan antara Arab dan Israel semakin menjadi kenyataan dan pula mudah-mudahan nantinya dapat diratakan dengan pengintegrasian kepahaman dalam Taurat, Injil dan al-Qur'an/hadits.

Sebagai penutup tulisan buku ini baiklah dikutipkan dari hadits sabda Nabi Muhammad Sallallahu "Alaihi wa Sallam ;

"Makanan orang mukmin pada zaman Dajjal adalah makanannya malaikat, ialah bacaan tasbih dan taqdis "

Hadits ini menganjurkan bacaan tasbih dan taqdis yang maknanya sama ialah: memurnikan nama Allah; memurnikan atau menyucikan adalah; jangan sampai musyrik dan munafik dalam mengabdi kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala .

Bila kita menengok kembali kepada asal mula sebab timbulnya pergolakan di dunia, tidak lain adalah kecongkakan bani Israil yang banyak disinggung dalam Taurat dan Injil, baik berupa Dajjal, Ya'juj wa Ma'juj, Nabi Palsu, kapitalisme, komunisme dan kelestarian antagonisme di dunia sampai sekarang. Maka surat penulis kepada Sri Paus Paulus adalah justru ingin membicarakan peranan Yahudi lewat ayat-ayat kitab Bibel dan sejarah dunia.

Semoga saja segenap pembaca buku ini timbul keinginan untuk menciptakan langkah integrasi secara nyata.

Sepanjang masa dunia ini berproses ada suatu periode yang banyak disebut dalam hadits-hadits sabda Nabi Muhammad Sallallahu "Alaihi wa Sallam di mana para ulama mengalami kemunduran, umat Islam mengalami nasib yang serba menyedihkan ialah masa itu disebut: Sa'ah. Orang sekarang memberi arti pada kata sa'ah atau saat itu: titik waktu atau bahasa asingnya: moment. Malahan dalam bahasa Arabnya kata itu hanya bermakna; jam. Akan tetapi bila dipelajari dalam hadits-hadits ternyata merupakan sebuah kata sinyalemen kegawatan bencana. Bencana yang akan menimpa umat manusia sebelum Kiamat datang hingga al-Qur'an juga menyinggungnya sebagai kiamat juga. Pada masa Sa'ah itu ada suatu kejadian yang lebih besar lagi kegawatannya. Kejadian itu menurut sabda nabi adalah: munculnya Dajjal, diterangkan dengan hadits yang artinya:

Muslim berceritera dari 'Imran bin Husain dan berkata: "Saya mendengar Rasulullah Sallallahu "Alaihi wa Sallam" bersabda:

"Tidak adalah sejak terjadinya Adam sampai kedatangan masa Sa'ah lebih besar (gawat) daripada Dajjal".

Selayaknya segala bangsa diberitahu sinyalemen ini dan tidaklah hanya dipahami oleh umat Islam saja, sebab sudah sejak Nabi Isa Al-Masih Dajjal itu diumumkan kepada murid-muridnya dan lagi disusul oleh ajaran Nabi Muhammad Sallallahu "Alaihi wa Sallam sebagaimana para malaikat selalu mengucapkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Demikian arti haditsnya:

"Makanan bagi orang mukmin pada zaman Dajjal adalah makanan bagi malaikat, ialah: tasbih dan taqdis."

Dengan sendirinya kata tasbih itu untuk zaman kemajuan ini tidak hanya dibaca saja, tetapi juga perlu dipahami maknanya dan maksudnya. Makna yang aslinya adalah: membaca: subhanallah, yang artinya: mahasucilah Allah!. Arti menyucikan atau memurnikan nama Allah ialah di antaranya:

a. jangan memperkosa nama Allah dengan kebudayaan asing seperti istiiah sang Bapa dari Hellenisme (Yunani kuno);

b. jangan membayangkan-Nya secara acak-acakan, hingga ada orang merasa bisa menunggal dengan Allah seperti dari hasil renungan semedi atau luyut (kasyaf);

c. jangan menambah makhluk lain untuk menjadi perantara doa atau pertobatan.

Oleh karena ramalan kedatangan Dajjal itu dimuat dalam Bibel dan hadis-hadis Nabi, apalagi Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menganjurkan dalam ayat al-Qur'an yang artinya demikian:

Katakanlah (Muhammad) "Wahai Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen), marilah kearah satu paham (kalimat), antara kita dan kamu agar kita tidak menyembah kecuali pada Allah!"

Jelaslah bahwa umat Islam harus dapat memelopori dialog. Akan tetapi dialog itu faktornya banyak, terutama harus lebih dahulu menguasai isi Taurat, Injil dan al-Qur'an dengan melihat hubungan masing-masing yang harmonis dengan menghilangkan sifat-sifat konfrontatif dan akhirnya dapat menemukan satu kalimat yang sama.

Di samping itu, zaman yang disebut Sa'ah sesungguhnya perlu ditanggapi. Bahwa sesudah zaman Sa'ah itu perlu diusahakan timbulnya zaman integrasi antarumat manusia, sebagaimana yang terlukis dalam gambar bagan sejarah (terlampir). Barulah nantinya boleh timbul Kiamat karena kemampuan semua benda makhluk sangat terbatas hingga akhirnya juga akan mengalami hari kemusnahannya, ialah Kiamat Besar.

Kami kira sangat baik untuk dlitambahkan hasil dialog antara kami dan dua orang tamu dari golongan Advent. Hasil ini kami harapkan agar menjadi cambuk bagi Umat Islam dan Umat Kristen untuk selanjutnya saling mendekat untuk musyawarah dan saling mempelajari hubungan harmonis antarmasing-masing kitab suci.

Kami memang sering didatangi guru-guru Injil dari golongan Advent dan saksi Yehuwah yang semuanya rata-rata menonjol dalam penggunaan ayat-ayat Bibel. Diskusi dengan dua orang teman tersebut sengaja kami usahakan agar berjalan dalam tempo singkat tetapi berhasil mantap yang mengandung 3 masalah:

1. perbedaan sistem penyembuhan penyakit jasmani karena tamu tersebut menawarkan sebuah buku kesehatan yang dikatakan bagus dan bermutu;

2. Masalah dua orang nabi yang menjadi penutup segala nabi dalam Taurat dan Injil;

3. Masalah Dajjal yang merusak agama Allah menurut Injil.

Tamu itu minta agar kawannya yang beragama Kristen diberi jamu oleh kami. Dua minggu kemudian kami mengunjungi rumahnya dan mengatakan bahwa sakit asmanya sudah 10 tahun, lalu kami beri jamu. Sebulan kemudian kami berkunjung ke rumahnya dan ia mengatakan bahwa sakit asmanya telah sembuh karena minum jamu itu.

Soal dua orang nabi kami katakan bahwa seluruh pendeta Kristen sedunia serba membebek kepada pendirian orang Yahudi. Semua orang Yahudi beranggapan bahwa Messias alias Al-Masih dan Anak Manusia yang disebut dalam kitab Daniel dan Kitab Perjanjian Lama adalah seorang yang akan muncul membawakan pembebasan umatnya dari segala penjajahan dan pembangunan mesjid Yerusalem.

Demikian pula semua pendeta Kristen memberi arti bahwa Almasih dan Anak Manusia sama orangnya yang muncul pada abad pertama dan akan turun lagi pada hari kemudian. Lalu kami tegaskan bahwa Nabi Daniel tidaklah meramalkan seorang saja, tetapi dua orang yang masing-masing membawakan hasil yang bertolak belakang. Ditulis dalam kitab Daniel 9: 25, 26 bahwa Al-masih mengalami zaman Pembangunan mesjid Yerusalem, i Laut Mati Palestina, sedang anak manusia tidak lain adalah Nabi Besar Muhammad Sallallahu "Alaihi wa Sallam yang nyata-nyata murid-muridnya telah berhasil membebaskan negeri Palestina yang telah berabad-abad lamanya dijajah olelalu sesudah dakwahnya dihapus, mesjid itu dihancurkan oleh tentara Romawi.

Sebagai jawaban atas ramalan itu kami kemukakan bahwa tepatlah ajaran Islam membawakan pengertian bahwa Al-masih adalah Nabi Isa bin Maryam yang nyata-nyata sesudah beliau terpisah dari murid-muridnya mungkin untuk bergerak ilegal sesuai dengan ungkapan-ungkapan dari manuskrip al-Qur'an yang telah ditemukan pada tahun 1947 di lembah pegunungan teph Romawi dan mesjidnya Yerusalem dihinanistakan sebagai tempat penimbunan sampah kota, membersihkan segala penodaan dan membangun lagi mesjid itu yang kini terkenal disebut Mesjid Umar. Pemerintahan yang dibavvakan oleh Nabi itu pun terus berlangsung dan dalam tempo 1000 tahun antara tahun 600 sampai tahun 1600 berhasil meratakan ajaran agama Islam ke seluruh pelosok dunia. Hanya saja umat Islam sesudah 1000 tahun itu mulai mengalami zaman kemunduran, tetapi tidaklah akan dihapus sebegaimana nasib ajaran Al-masih menurut Daniel.

Untuk selanjutnya kami pikirkan bahwa sebagai kelanjutan sesudah mengalami kemunduran adalah menuju integrasi yang konsepnya melewati ajaran hadits sabda Nabi Besar Muhammad Sallallahu "Alaihi wa Sallam ialah pertama menghancurkan salib yang menjadi lambang Dajjal. Kedua memunuh Khinzir (babi/celeng). Ketiga, menghlngkan pajak asing. Keempat, melipatgandakan bidang ekonomi dunia dan kelima, mengutamakan ibadah syariat agama daripada kepuasan keduniaan karena bosan.

Mengenai apakah sesunggguhnya Dajjal itu te!ah kami kemukakan bahwa seumpama bukan gereja lalu siapa karena semuanya bergerak atas nama Kristus, sedang Kristus sendiri telah bersabda dalam Matius 24: 25

"Ingatlah baik-baik jangan barang seorang menyesatkan kamu. Karena banyak orang akan datang dengan namaku, katanya: Aku inilah Kristus!. Maka mereka itu menyesatkan banyak orang.

Demikianlah diskusi yang berjalan kira-kira dalam tempo satu jam dengan saling bergilir bicara dan penunjukkan ayat-ayat. Yang amat kami hargai adalah kata sambutan terakhir dari tamu-tamu demikian:

"Kula matur nuwun sangat. Ing ngriki kula malah belajar (artinya: Kami sangat barterimakasih. Di sini kami malahan belajar).

Setelah tamu-tamu itu kami beri buku kecil Dajjal dan beberapa eksemplar lain lalu minta diri.

Di negana kita Indonesia yang berdasarkan Pancasila sudah selayaknya peningkatan pendidikan agama secara ilmiah sangat perlu mendapatkan perhatian yang serius. Yang disayangkan oleh penulis adalah belum ada perhatian kaum cendekiawan Islam terhadap ilmu yang biasanya dipelajari kaum Kristen dan Yahudi di perguruan tinggi mereka untuk mempelajari isi dan sejarah kitab-kitab suci, terutama untuk mempelajari ajaran-ajaran para nabi dalam Taurat dan Injil secara objektif. Ilmu itu adalah teologia, yang artinya: bukan teologi, yang bermakna: mempelajari paham-paham kaum Mu'tazilah, ilmu Tasawuf dan Sifat 20, akan tetapi proses kenabian sejak Adam sampai Nabi Besar Muhammad Sallallahu \u2018Alaihi wa Sallam hingga memahami arah ke mana kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Selanjutnya yang menghendaki terlaksananya perdamaian di dunia, demikian panggilan Allah:

"Dan Allah memanggil ke rumah perdamaian dan memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya ke jalan yang benar " (Q. S. Yunus: 25)

Share/Save/Bookmark
Dibaca :6022 kali  


Kode keamanan
Segarkan