Shalat dalam Islam: Jejak Ibadah Harian Yudaisme dan Kekristenan Awal
Pendahuluan Islam mengenal Rukun Iman yang terdiri dari Sahadat, Shalat, Shaum, Zakat, Jihad sebagaimana dikatakan, “Islam dibangun di atas lima: Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhamad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, haji ke Baitullah dan puasa di bulan Ramadhan “(Diriwayatkan Al Bukhari)[1]. Shalat, dalam Islam menempati kedudukan yang sangat penting yaitu sebagai tiangnya agama sebagaimana dikatakan dalam sebuah Hadits, “Pokok segala sesuatu ialah Islam, tiangnya ialah shalat dan puncaknya ialah jihad di jalan Allah” (Diriwayatkan Muslim)[2]. Hadits yang lain mengatakan, “Bahkan pembeda antara orang kafir dan Muslim adalah Shalat sebagaimana dikatakan, “Jarak antara seseorang dengan kekafiran ialah meninggalkan shalat” (Diriwayatkan Muslim)[3]. Shalat adalah sebuah kewajiban agamawi yang tidak bisa ditawar-tawar sebagaimana dikatakan, “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (Qs 4:103). Perintah Melaksanakan Shalat Dalam Quran Ada banyak ayat dalam Qur’an yang memerintahkan untuk melaksanakan Shalat. Menurut para ahli agama Islam, ada sekitar 30 perintah melaksanakan Shalat[4]. Berikut sebagian dari perintah Shalat al:
Keutamaan Shalat Sebagai kewajiban dalam beribadah maka Shalat memiliki keutamaan dalam ajaran Islam. Beberapa keutamaan yang dimaksudkan adalah sbb: Mencegah berbuat kejahatan
Mendapatkan Pahala
Menghapus Dosa
Tata Cara Shalat Al Qur’an sendiri tidak memberikan pedoman mendetail perihal tata cara Shalat sebagaimana dikatakan seorang Muslim, “Tata cara ritual Shalat lima waktu yang kita kenal sekarang dan merupakan hal yang paling penting wajib dilakukan penganut agama Islam jika tidak ingin masuk neraka, ternyata tidak ditemukan dalam Quran”[6] Tata cara Shalat dalam Islam didasarkan pada petunjuk perilaku ibadah Nabi Muhamad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang memberikan petunjuk dan teladan dalam melaksanakan Shalat. Dalam salah satu Hadits dikatakan, “Kunci shalat adalah bersuci, pengharamannya ialah takbir dan penghalalnya ialah salam” (Diriwayatkan Abu Daud dan At Tirmidzi). Adapun tata cara Shalat berdasarkan catatan Hadits adalah sbb:
Asal Usul Perintah Shalat dan Penetapan Waktu Shalat Tidak ada kejelasan darimana asal usul penetapan lima waktu Shalat. Setidaknya ada beberapa penjelasan yang tidak sinkron satu sama lainnya sbb: [Menurut kami baik al-Qur’an maupun al-Hadits menjelaskan perintah shalat dengan sangat jelas dan sinkron satu dengan yang lainnya, kemungkinan penulis artikel ini bukan seorang muslim sehingga tidak memahami pesan-pesan yang disampaikan Allah Azza wa Jalla di dalam al-Qur’an maupun sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam hadits-hadits shahih yang berkaitan dengan perintah mendirikan shalat dan tata cara pelaksanaannya - AZ] Meniru Perilaku Para Nabi Terdahulu Nabi Adam adalah nabi pertama yang mengajarkan shalat subuh. Saat itu, beliau baru saja diturunkan dari surga ke dunia oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala karena sudah melanggar larangan Allah. Saat itu, bumi masih gelap gulita. Nabi Adam merasa sangat ketakutan karena baru sekali itu menginjakkan kakinya di dunia dan kegelapan yang menyambutnya. Saat Subuh menjelang dan matahari mulai terbit, Nabi Adam pun melaksanakan shalat dua rakaat sebagai tanda syukur karena sudah terbebas dari kegelapan malam dan diberikan cahaya matahari sebagai gantinya. Nabi Ibrahim adalah nabi yang pertama mengerjakan Shalat Dzuhur. Beliau melakukan shalat sebanyak empat rakaat setelah beliau mendapat wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk menyembelih puteranya, Nabi Isma’il dengan seekor domba kurban. Shalat ini didirikan oleh Nabi Ibrahim pada saat matahari sudah tepat di atas ubun-ubun kepala. Nabi Yunus adalah nabi pertama yang mengerjakan Shalat Asar. Saat itu, Nabi Yunus baru saja dimuntahkan oleh ikan paus yang sudah menelannya selama beberapa waktu lamanya. Berdiam lama di dalam perut ikan paus yang penuh dengan kegelapan membuat Nabi Yunus teringat dengan segala dosa-dosa yang sudah dilakukannya. Oleh karena tu, ketika ikan paus memuntahkan dan melemparkannya ke sebuah pantai yang tandus, beliau langsung mendirikan shalat empat rakaat. Shalat ini sebagai rasa syukurnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala karena telah terbebas dari dalam perut ikan paus dan kegelapan yang sudah menutupi mata dan hatinya selama ini. Nabi Yunus mendirikan shalat ini ketika waktu sudah memasuki waktu shalat Asar. Nabi Isa adalah nabi pertama yang mengerjakan Shalat Maghrib. Beliau melaksanakan Shalat Maghrib keika Allah Subhanahu wa Ta'ala menyelamatkannya dari kejahilan dan kebodohan kaumnya sendiri. Shalat itu didirikan tiga rakaat pada saat matahari sudah terbenam. Nabi Isa melakukan shalat ini sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala karena sudah diselamatkan dari kejahilan tersebut. Nabi Musa adalah nabi pertama yang mengerjakan shalat Isya. Saat itu Nabi Musa dan isterinya, Shafura, sedang dalam perjalanan menuju tanah kelahiran Nabi Musa di Mesir setelah sebelumnya tingal bersama Syuaib. Mereka kesulitan mencari jalan keluar yang aman dari Madyan karena tentara Fir’aun sedang mencarinya di seluruh penjuru negeri. Sementara itu, Nabi Musa takut tentara Fir’aun akan menemukannya dan menyerahkannya pada Fir’aun yang zalim. Kegundahan Nabi Musa akhirnya didengar Allah Subhanahu wa Ta'ala yang langsung menghilangkan rasa gundah itu dari hati Nabi Musa. Sebagai rasa syukur, Nabi Musa mendirikan shalat empat rakaat pada saat malam hari. Pada peristiwa Isra dan Mi’raj. Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam melakukan perjalanan menaiki Buraq dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa kemudian diterbangkan ke langit tertinggi yang disebut Sidratul Muntaha oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam peristiwa ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam untuk menyempurnakan kelima shalat ini dalam lima waktu yang harus dilaksanakan satu hari satu malam. Peristiwa Isra Mi’raj ini menjadi tonggak bagi umat Islam karena pada saat itulah kewajiban shalat lima waktu diwajibkan bagi seluruh umat Islam[8]. Perintah Yang Diterima Nabi Muhamad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Saat Mi’raj Menurut Hadits Shahih Bukhari 8.1/336 dikisahkan sbb,
Malaikat Jibril Mengajari Waktu Shalat
Ibadah Shalat Sebelum Islam Menurut Al Qur’an para nabi sebelum Islam diwahyukan pada Nabi Muhamad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, sudah mengenal dan melaksanaka ibadah Shalat. Agak membingungkan juga, bagaimana mungkin jika Shalat Lima Waktu diwahyukan pada Muhamad saat Mikraj ke Sidratul Muntaha, padahal ibadah Shalat sudah dilaksanakan sejak zaman para nabi? [sebenarnya tidak membingungkan, sewaktu Isra’ Mi’raj Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menerima perintah shalat lima waktu sekaligus, sedangkan para Nabi yang mengerjakan sebelumnya hanya melaksanakan shalat pada waktu-waktu tertentu, seperti Nabi Adam as hanya melaksanakan shalat Shubuh dst-AZ] Kita tinggalkan sejenak persoalan di atas dan kita akan menyimak dalil-dalil Qur’an yang mengatakan bahwa ibadah Shalat sudah dilakukan sejak nabi-nabi terdahulu seperti Ibrahim, Musa, Isa sbb:
Jejak Tefilah Yudaisme dan Liturgia Horarum Kristen
Jika Anda seorang Kristen yang dibesarkan dalam tradisi gereja-gereja Reformasi dari Barat baik Protestan, Baptis atau aliran-aliran Pentakosta serta Kharismatik, mungkin terasa asing mendengar istilah Shalat dalam Kekristenan. Namun itulah kenyataan historis bahwa jauh sebelum Islam menjadi agama yang memiliki pengaruh di dunia dan Indonesia khususnya dan memiliki ritual ibadah Shalat, Kekristenan Timur yaitu Gereja Orthodox telah mengenal ibadah harian yang disebut Ashabus Shalawat. Dalam Gereja Orthodox ada dua bentuk Sembahyang Harian yang mengikuti aturan tertentu ini, yaitu yang mengikuti cara Nabi Daniel : Tiga Kali sehari (Dan. 6:11-12, Mzm. 55:18), atau juga mengikuti pola yang dikatakan oleh Nabi Daud: ”Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau…” (Mzm. 119:164). Sembahyang tiga kali itu terdiri dari: Pagi, Tengah-Hari, dan Sore Hari (Mazmur 55:18). Waktu-waktu Sembahyang itu sendiri sudah dimulai sejak zaman Nabi Musa. Tuhan memerintahkan agar Imam Harun mempersembahkan korban binatang dan korban dupa pada “Waktu Pagi” dan “Waktu Senja” (Kel. 29:38-39, 30:7-8). Kata Shalat itu sendiri dalam bahasa Arab, serumpun dengan kata Tselota dalam bahasa Arami (Syria) yaitu bahasa yang digunakan oleh Yesus sewaktu hidup di dunia. Dan bagi ummat Kristen Orthodox Arab yaitu ummat Kristen Orthodox yang berada di Mesir, Palestina, Yordania, Libanon dan daerah Timur-Tengah lainnya menggunakan kataTselota tadi dalam bentuk bahasa Arab Shalat, sehingga doa “Bapa kami” oleh ummat Kristen Orthodox Arab disebut sebagai Shalattul Rabbaniyah. Sebagaimana dikatakan sebelumnya, Gereja Orthodox, seperti Syria dan Mesir, mengenal liturgi doa harian yang disebut, Ashabush Sholawat, [12] yang terdiri dari :
Sementara Gereja Katholik di Abad Pertengahan mengenal yang disebut De Liturgia Horarum [13] yaitu :
Istilah Liturgia Horarum dalam bahasa Inggris disebut “Liturgy of the Hours” (Liturgi Waktu). Nama ini mulai dipakai untuk pertama kali pada tahun 1959 dan menjadi populer selama Konsili Vatikan II, khususnya dalam Konstitusi Liturgi. Nama ini memperlihatkan bahwa ibadat ini dijalankan sesuai dengan jam atau waktu tertentu setiap hari yang pada dasarnya mempunyai arti simbolis sepeti terungkap dalam doa-doa yang dipakai dalam ibadat ini[14]. Disebut Liturgi karena ibadat ini sesungguhnya adalah doa atau kegiatan rohani seluruh umat sebagai Gereja dalam arti sebenarnya. Istilah harian (jam harian) menyatakan bahwa ibadat ini menguduskan waktu, jam siang dan malam. Sebenarnya dalam ibadat ini umat mengalami Tuhan yang tidak kenal waktu, yang abadi dan kudus. Oleh pengalaman berahmat itu manusia dikuduskan dalam waktu, hidup dan karyanya sehari-hari diberkati dan dikuduskan oleh Tuhan, saat atau sejarah hidupnya menjadi saat yang penuh rahmat dan menyelamatkan[15]. Dalam perspektif Roma Katholik yang mengacu pada istilah Latin, ada beberapa istilah yang dipergunakan selain Liturgia Horarum yaitu Ofisi Ilahi (Oficium: Kegiatan, Kewajiban), Brevir (Breviarum: Ringkasan, Singkatan), Opus Dei (Karya Tuhan), Pensum Servitutis (Takaran Pelayanan), Horae Canonicae (Jam-jam wajib), Horologion (Jam-jam doa)[16]. Lebih jauh makna dari Ashabus Shalawat sbb: Shalat Jam Pertama (Sembahyang Singsing Fajar, Orthros, Matinus, Laudes) atau Shalatus Sa’atul Awwal (Shalatus Shakhar), yaitu ibadah pagi sebanding dengan “Shalat Subuh” dalam agama Islam (jam 5-6 pagi). Data ini diambil dari Kitab Keluaran 29:38-41 berkenaan dengan ibadah korban pagi dan petang, yang dalam Gereja dihayati sebagai peringatan lahirnya Sang Sabda Menjelma sebagai Sang Terang Dunia (Yoh.8:12). Shalat Jam Ketiga (Sembahyang Jam Ketiga, Tercia) atau Shalatus Sa’atus Tsalitsu, Shalat ini sebanding dengan “Shalat Dhuha” dalam agama Islam meskipun bukan Shalat wajib (jam 9-11 pagi). Ini terungkap dalam Kitab Kisah Para Rasul 2:1,15 yang mempunyai pengertian penyaliban Yesus dan juga turunnya Sang Roh Kudus (Mrk.15:25; Kis.2:1-12,15). Itu sebabnya dengan Shalat ini, kita teringatkan agar mempunyai tekad dan kerinduan untuk menyalibkan dan memerangi hawa nafsu sendiri, agar rahmat Allah dalam Roh Kudus melimpah dalam hidup. Shalat Jam Keenam (“Sembahyang Jam Keenam”, “Sexta”) atau Shalatus Sa’atus Sadis. Ini nyata terlihat dalam Kisah Para Rasul 10:9 dan Shalat ini sebanding dengan “Shalat Dzuhur” dalam agama Islam (jam 12-1 tengah hari), yang mempunyai makna sebagai peringatan akan penderitaan Kristus di atas salib (Luk.23:44-45), dan pencuri yang disalib bersama-sama Kristus bertobat. Berpijak dari makna ini, kitapun diharapkan seperti pencuri selalu ingat akan hidup pertobatan dan selalu memohon rahmat Ilahi agar mampu mencapai tujuan hidup yaitu masuk dalam kerajaan Tuhan. Shalat Jam Kesembilan (“Sembahyang Jam Kesembilan”, “Nona”) atau Shalatus Sa’atus Tis’ah (Kis.3:1) sebanding dengan “Shalat Asyar” dalam agama Islam (jam 3-4 sore). Shalat ini dilakukan untuk mengingatkan saat Kristus menghembuskan nafas terakhirNya di atas salib (Mrk.15:34-37), sekaligus untuk mengingatkan bahwa kematian Kristus di atas salib adalah untuk menebus dosa-dosa, agar manusia dapat melihat dan merasakan rahmat Ilahi. Shalat Senja (“Sembahyang Senja”, “Esperinos”, “Vesperus”) atau Shalatul Ghurub. Shalat ini sebanding dengan “Shalat Maghrib” dalam agama Islam (kira-kira jam 6 sore), sama seperti Shalat jam pertama, Shalat ini dilatar belakangi oleh ibadah korban pagi dan petang yang terdapat dalam Kitab Keluaran 29:38-41. Makna dan tujuan Shalat ini adalah untuk memperingati ketika Kristus berada dalam kubur dan bangkit pada esok harinya, seperti halnya matahari tenggelam dalam kegelapan untuk terbit pada esok harinya. Shalat Purna Bujana (“Shalat Tidur”, “Completorium”) atau Shalatul Naum (Mzm.4:9). Shalat ini sebanding dengan “Shalat Isya” dalam agama Islam (jam 8-12 malam), yang mempunyai makna untuk mengingatkan bahwa pada saat malam seperti inilah Kristus tergeletak dalam kuburan dan tidur yang akan dilakukan itu adalah gambaran dari kematian itu. Shalat Tengah Malam (“Sembahyang Ratri Madya”, “Prima”) atau Shalatul Lail atau “Shalat Satar” (Kis.16:25). Shalat ini sebanding dengan “Shalat Tahajjud” dalam agama Islam. Shalat tengah malam ini mengandung pengertian bahwa Kristus akan datang seperti pencuri di tengah malam (Mat.24:42; Luk.21:26; Why.16:15), hingga demikian hal itu mengingatkan orang percaya untuk tetap selalu berjaga-jaga dalam menghidupi imannya[17]. Rashid Rahman mengatakan mengenai latar belakang ibadah harian dalam gereja sbb, “Praktek ibadah harian gereja awal dilatarbelakangi oleh praktek ibadah harian Yudaisme hingga abad pertama. Latar belakang tersebut dapat berupa kontinuitas, diskontinuitas atau pengembangan dari ibadah Yudaisme”[18]. Selanjutnya dikatakan, “Gereja awal tidak memiliki pola ibadah tersendiri dan asli. Mereka beribadah bersama dengan umat Yahudi dan kemudian mengambil beberapa ritus Yahudi untuk menjadi pola ibadah harian”[19] Waktu doa harian dalam Yudaisme disebut dengan Tefilah yang terdiri dari Shakharit (pagi) Minha (siang) dan Maariv (malam). Dalam tradisi Yudaisme, waktu-waktu doa dinamakan zemanim. Pola ibadah ini merujuk pada waktu peribadahan di Bait Suci (Kel 29:38-42; Bil 28:1-8). Nabi-nabi dan raja-raja di Israel kuno melaksanakan tefilah harian sbb :
Para nabi dan rasul pun melaksanakan ibadah dengan berbagai sikap atau postur tubuh yang tertentu al :
Shalat Dalam Islam: Pelestarian Atau Peniruan? [Bukan Peniruan, tapi melaksanakan perintah Allah Azza wa Jalla-AZ.] Nampaknya terlalu sarkastis dan over simplicity (terlalu menyederhanakan) apabila beranggapan bahwa ritual Shalat dalam Islam sebagai bentuk peniruan dari ritual Ashabus Sholawat atau Liturgia Horarum dan Tefilah dalam Yudaisme. Saya lebih melihat bahwa eksistensi ritual Shalat dalam Islam sebagai bentuk pelestarian dari tradisi Semitik dalam pemeliharaan ibadah harian yang mulai hilang dalam gereja-gereja Barat khususnya aliran Protestan. Terlepas dari persoalan bahwa Kristen dan Islam tidak menyembah Tuhan yang sama dan memiliki konsep dan pemahaman yang berbeda mengenai fungsi dan kedudukan ibadah harian namun keberadaan ritual Shalat dalam Islam justru mengingatkan Gereja dan Kekristenan bahwa Gereja dan Kekristenan perdana lahir dan tumbuh dari rahim Yudaisme. Gereja dan Kekristenan lahir dan dibesarkan di dunia Timur yang sarat dengan kekayaan spiritualitas dan keshalehan. Yudaisme sebagai ibu kandung Kekristenan perdana telah mewariskan ibadah harian yang disebut Tefilah dan yang kemudian dilestarikan dalam kepercayaan baru kepada Yesus Sang Mesias sehingga melahirkan pola ibadah harian Tselota atau Ashabus Shalawat atau Liturgia Horarum[22]. Akibat Gereja dan Kekristenan tercerabut dari akar Semitik Yudaiknya maka banyak aspek penting dalam peribadatan menjadi hilang dan terlupakan dalam Kekristenan khususnya aliran Reformasi. Dan salah satu aspek yang hilang itu adalah ibadah harian.
Pernyataan bahwa Islam menjadi “alat Tuhan” bukan berarti saya menyetujui doktrin-doktrin Islam khususnya kenabian Muhamad sebagai kelanjutan agama Yahudi dan Kristen dan pelucutan aspek Keilahian Yesus menjadi sekedar nabi serta doktrin-doktrin lain. Pernyataan ini tidak lebih sebagai bentuk refleksi dan introspeksi terhadap beberapa aspek yang hilang dari Kekristenan dan seharusnya ada dan dilakukan oleh Kekristenan. Jika Tuhan YHWH bisa membuka mulut keledai Bileam dan berbicara padanya sehingga mencegah Bileam mengutuki Israel (Bil 22:28). Dan jika Tuhan YHWH bisa memakai Raja kafir Persia bernama Koresh untuk mengalahkan bangsa-bangsa yang menjajah Israel (Yes 45:1), mengapa pula Tuhan tidak bisa memakai orang lain atau komunitas lain untuk menjadi alat-Nya? Kita kerap memperlakukan bidat-bidat dalam Gereja sebagai penyakit menular yang membahayakan namun tidak mau introspeksi dan berefleksi bahwa kemunculan bidat-bidat bisa jadi sebuah peringatan bahwa Gereja telah kehilangan kasih yang mula-mula atau mengabaikan ajaran dasar Yesus dan menjauh dari jalan para rasul Mesias, seperti pernah dikatakan Alm DR. J. Verkuyl dalam bukunya Gereja dan Bidat-bidat, bahwasanya keberadaan bidat adalah “hutang Gereja”. Panggilan Bagi Gereja dan Kekristenan Untuk Kembali Ke Akar Imannya Keberadaan Gereja Orthodox di Indonesia (masuk ke Indonesia sekitar tahun 90-an) dan Messianic Judaism (masuk ke Indonesia sekitar awal tahun 2000-an) merupakan alat Tuhan yang sesungguhnya agar Gereja dan Kekristenan menyadari akar dan tradisi iman yang berasal dari budaya Semitik. Sejak awal kuliah Teologi, saya tidak pernah mendengar apa dan bagaimana perihal Gereja Ortodox. Yang saya tahu hanyalah Katolik dan aliran Reformasi serta pecahan-pecahannya. Literatur Teologi yang saya baca pun tidak pernah memberitahukan keberadaan Ortodox. Kalaupun diinformasikan hanya sambil lalu saja. Informasi mengenai akar Kekristenan yang berasal dari Yudaisme pun sangat minim untuk saya dapatkan. Keberadaan Gereja Orthodox menyadarkan Gereja dan Kekristenan yang mewarisi tradisi Barat (Western) bahwa Gereja Perdana berhasil memelihara rantai dan suksesi rasuliah hingga kini. Bahkan berbagai ritual ibadah al: ibadah harian masih tetap terpelihara hingga hari ini sementara Gereja beraliran Reformasi lebih menekankan doa-doa spontan. Keberadaan Messianic Judaism menyadarkan Gereja dan Kekristenan yang mewarisi tradisi Barat (Western) bahwa umat Yahudi bukan umat yang dibuang dan dilupakan Tuhan serta telah digantikan oleh Gereja. Banyak orang Yahudi dan Yudaisme yang telah menerima Yesus sebagai Mesias dan melestarikan peribadahan yang berakar pada Yudaisme sebagai Mesias dan rasul-rasulnya melakukan. Dan salah satunya adalah ibadah harian yang disebut Tefilah. Dan mereka tidak menyebut diri mereka Kristen namun Messianic Jewish atau Messianic Judaism. Penutup Kiranya kajian singkat yang menelusuri asal usul ritual Shalat dalam Islam yang dapat dilacak sampai Yudaisme dan Kekristenan awal, dapat membuka wawasan bersama baik Islam maupun Kristen mengenai akar tradisi imannya yang berasal dari Timur yaitu tradisi Semitik. Bukan hanya berhenti dalam pembukaan wawasan namun mendorong kedua belah pihak saling menghargai dan menghormati sebagai agama-agama yang datang dari budaya Semitik. Tambahan dari Akhirzaman.info [AZ]: Dengan penjelasan di atas, jelaslah bahwa baik agama Yahudi dan agama Nashrani, keduanya merupakan agama samawi yang ajaran-ajarannya kemudian disempurnakan Allah Azza wa Jalla di dalam agama Islam sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” [QS al-Ma’idah 5:3]. Oleh karena itu, Tuhan yang disembah oleh ketiga agama samawi tersebut adalah sama, yaitu Allah Azza wa Jalla, tidak sebagaimana dijelaskan dalam tulisan di atas. End Notes:
Sumber: Messianic-Indonesia
Set as favorite
Bookmark
Hits: 1505 Comments (0)
![]() Write comment
|







Ketika Khalifah Umar bin Khatab, memasuki Yerusalem pada tahun 636, dia disambut oleh Sophronius I (634-638), Patriarkh dan Uskup Agung Gereja Orthodox Yerusalem dan diantarkan ke tempat ibadah Kristen yang paling suci, Gereja Makam Suci (Holy Sepulchere Church). Ketika ia hendak memasuki tempat suci itu terdengar adzan Shalat Dzuhur. Uskup Sophronius adalah seorang tuan rumah yang penuh hormat, maka ia bertanya kepada Sang Khalifah: “Tidakkah tuan akan menjalankan Shalat? Akan saya ambilkan sehelai sajadah untuk Anda dan Anda akan dapat menjalankan Shalat di sini”. Sang Khalifah berpikir sejenak dan berkata: “Terima kasih, tetapi maaf. Jika saya menjalankan Shalat di tempat suci Anda, para ummat saya akan menirunya dan merebut tempat ini. Saya akan pergi ke tempat yang agak terpisah”. Maka ia pun pergi menjauh dan menjalankan Shalatnya di tempat yang sekarang merupakan sebuah masjid di dekat situ. Dari kisah nyata dalam sejarah ini tahulah kita bahwa Gereja Kristen Perdana sejak awal (sebelum kedatangan pasukan dan kaum Muslim) sudah melakukan Shalat[11].
Rabbi Moshe Maimonides pernah mengatakan bahwa kehadiran Islam adalah untuk meratakan jalan bagi Mesias yang akan datang karena eksistensi Torah diaktualisasikan dalam format yang baru dalam Islam. Namun saya lebih melihat bahwa kehadiran Islam dengan ritual Shalatnya, menjadi alat Tuhan untuk mengingatkan Gereja dan Kekristenan (khususnya Barat) untuk menelusuri akar keimanannya yang berasal dari tradisi Timur yaitu Semitik-Yudaik yang lebih dahulu memelihara ibadah harian.
