larger smaller reset

Siapa SebenarnyaSoeharto?

Bagian Kedua
eramuslim

Selain menguras habis kekayaan alam Aceh, rezim Suharto juga melancarkan genosida atas Muslim Aceh. Yang terkenal adalah masa DOM atau Operasi Jaring Merah (1989-1998). Banyak peneliti DOM sepakat jika kekejaman rezim ini terhadap Muslim Aceh bisa disetarakan dengan kekejaman yang dilakukan Milisi Serbia terhadap Muslim Bosnia di era 1990-an. Wilayah NAD yang sangat luas, sekujur tanahnya dijadikan kuburan massal di sana-sini. Muslim Aceh yang berabad-abad hidup dalam izzah Islam, dihinakan oleh rezim fasis Suharto serendah-rendahnya.

Al-Chaidar, putera Aceh yang menjadi peneliti sejarah tanah kelahirannya, menyatakan, "Jika Kamboja di bawah rezim Pol Pot dikenal memilikiThe Killing Fields atau Ladang pembantaian, maka di Aceh dikenal pula Bukit Tengkorak. Di Aceh, jumlah ladang pembantaian yang besar ada 35 titik, ini jauh lebih banyak ketimbang ladang pembantaian yang ada di Kamboja."

Begitu banyak pameran kekejaman dan kebiadaban yang ditimpakan terhadap Muslim Aceh oleh rezim Suharto, sehingga jika dijadikan buku maka bukan mustahil, riwayat Tragedi Aceh akan menyamai tebalnya jumlah halaman koleksi perpustakaan Iskandariyah sebelum dibakar habis pasukan Mongol.

Dari jutaan kasus kejahatan HAM di Aceh, salah satunya adalah tragedi yang menimpa Tengku Bantaqiah, pemimpin Dayah (Pondok Pesantren) Babul Nurillah di Beutong Ateuh pada 23 Juli 1999. Ironisnya, walau secara resmi DOM sudah dicabut, namun kekejaman dan kebiadaban yang menimpa Muslim Aceh tidaklah surut. Tragedi yang menimpa Tengku Bantaqiah dan santrinya merupakan bukti.

Lengsernya Suharto pada Mei 1998 tidak berarti lengsernya sistem dan tabiat kekuasaan represif ala Orde Baru. Para presiden setelah Suharto seperti Habbie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono, semuanya pada kenyataannya malah melestarikan sistem Orde Baru ini. Salah satu buktinya adalah KKN yang di era reformasi ini bukannya hilang namun malah tetap abadi dan berkembang penuh inovasi.

Sebab itulah, dicabutnya status DOM di Aceh pada 1998 tidak serta-merta tercerabutnya teror dan kebiadaban yang selama ini bergentayangan di Aceh. Feri Kusuma, salah seorang aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Aceh menulis secara khusus tentang Tragedi Tengku Bantaqiah ini. Dalam artikel berjudul ‘Jubah Putih di Beutong Ateuh', Feri mengawali dengan kalimat, "Beutong Ateuh memiliki sejarah yang cukup panjang. Daerah ini dibangun sejak masa kolonial Belanda, begitu orang Beutong bersaksi. Kecamatan Beutong Ateuh terdiri dari empat desa yaitu Blang Meurandeh, Blang Pu'uk, Kuta Teungoh dan Babak Suak. Kondisi geografisnya cocok untuk bersantai sambil menikmati panorama alam yang indah. Di daerah yang terletak di antara dua gunung ini mengalir sungai Beutong yang sejuk dan jernih. Pegunungannya yang mengelilingi Beutong Ateuh termasuk gugusan Bukit Barisan..."

Eramuslim yang pernah mengunjungi hutan belantara ini di tahun 2001, dua tahun setelah tragedi, menjumpai kondisi yang sangat mengenaskan. Bukan saja di Beutong Ateuh, namun juga nyaris di seluruh wilayah NAD. Kemiskinan ada di mana-mana, padahal tanah Aceh adalah tanah yang sangat kaya raya dengan sumber daya alamnya. Jakarta telah menghisap habis kekayaan Aceh!

Beutong Ateuh terletak di perbatasan Aceh Tengah dan Aceh Barat. Dari Ule Jalan ke Beutong Ateuh, kita akan melewati pos kompi Batalyon 113/Jaya Sakti yang terletak di areal kebun kelapa sawit. Di areal kompi ini, tepatnya di gapura, terpasang papan pengumuman berisi tulisan "TEMPAT LATIHAN PERANG TNI". Sekitar 10 kilometer dari kompi itu terpancang sebuah petunjuk jalan yang bertuliskan "SIMPANG CAMAT"; tanda menuju ke sebuah pemukiman. Namun tidak ada sebuah rumah pun di daerah ini. Sejauh mata memandang hanya tampak rerimbunan pohon besar di atas bukit dan jurang yang menganga. Tak heran jika Cut Nyak Dien dan pasukannya memilih hutan ini sebagai pertahanan terakhir.

Walau berjarak lebih kurang 15 kilometer dari hutan ini, namun Kecamatan Beutong Ateuh tidak berbeda dengan hutan Simpang Camat. Di tengah-tengah hutan, kain putih usang terlihat berkibaran di areal Dayah. Kubah mushola, atap beberapa rumah, dan bilik pengajian yang berhadapan langsung dengan sungai Beutong terlihat jelas.

Tengku Bantaqiah mendirikan pesantren di desa Blang Meurandeh pada 1982 dan memberinya nama Babul Al Nurillah. Abu Bantaqiah, begitu para murid memanggilnya, adalah alim ulama yang disegani dan dihormati. Disini, Dayah Babul Al Nurillah mengajarkan ilmu agama, seni bela diri, dan juga berkebun dengan menanam berbagai macam sayuran untuk digunakan sendiri.

Kegiatan di Dayah ini tidak berbeda dengan pesantren lainnya di berbagai daerah di Indonesia. Selain mereka yang menetap di Dayah, ada pula orang-orang yang sengaja datang dan belajar agama untuk mengisi libur kerja atau sekolah. Jumlahnya lebih banyak daripada santri yang tinggal di pesantren.

Di Dayah ini, para santrinya kebanyakan adalah mereka yang pernah melakukan tindakan-tindakan tak terpuji di masyarakat seperti mabuk-mabukan, mencuri atau kejahatan lain yang merugikan dirinya sendiri maupun orang banyak. "Menurut Tengku Bantaqiah, untuk apa mengajak orang yang sudah ada di dalam masjid, justru mereka yang masih di luar masjidlah yang harus kita ajak. Itulah dasar dari penerimaan orang-orang seperti mereka tadi menjadi murid di sini," tulis Feri Kusuma.

Bantaqiah adalah ulama yang teguh pendirian, sederhana, dan tidak goyah dengan godaan dunia. Baginya, dunia ada di dalam genggamannya, bukan di hatinya. Mungkin sebab itu dia pernah menolak bergabung sebagai anggota MUI cabang Aceh. Bantaqiah juga tidak bersedia masuk ke dalam partai politik mana pun. Baginya, Partai Allah sudah lebih dari cukup, tidak untuk yang lain. Sebab itu, Bantaqiah sering difitnah oleh orang yang berseberangan dengan dirinya. Ia dituduh mengajarkan kesesatan dan pada 1985 dicap dengan sebutan Gerombolan Jubah Putih.

Pemerintah Aceh berusaha melunakkan sikap Bantaqiah dengan membangunkan sebuah pesantren untuknya, namun lokasinya di kecamatan Beutong Bawah, jauh dari Babul Al Nurillah. Ini membuatnya menolak "pesantren sogokan" tersebut. Hal ini membuat hubungan Bantaqiah dengan Pemerintah setempat kurang harmonis. Dia dituduh sebagai salah satu petinggi GAM pada 192 dan dijebloskan ke penjara dengan hukuman 20 tahun.(bersambung/rd)

Ketika Habibie menggantikan Suharto dan menyempatkan diri ke Aceh, Bantaqiah dibebaskan. Namun hal ini rupanya tidak berkenan di hati tentara hasil didikan rezim Suharto.

Di mata tentara, Bantaqiah adalah sama saja dengan kelompok-kelompok bersenjata Aceh yang tidak mau menerima Pancasila. Sebab itu keberadaannya harus dienyahkan dari negeri Pancasila ini. Para tentara Suharto itu lupa, berabad-abad sebelum Pancasila lahir, berabad-abad sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia lahir, Nanggroe Aceh Darussalam sudah menjadi sebuah negeri merdeka dan berdaulat lengkap dengan Kanun Meukota Alam, sebuah konstitusi yang sangat lengkap. Bahkan jauh lebih lengkap ketimbang UUD 1945 yang diamandemen di tahun 2002.

Sebab itu, pada Kamis, 22 Juli 1999, pasukan TNI yang terdiri dari berbagai kesatuan seperti angkatan darat dan Brimob mendirikan banyak tenda di sekitar pegunungan Beutong Ateuh. Walau warga setempat curiga, karena pengalaman membuktikan, di mana aparat bersenjata hadir dalam jumlah banyak, maka pasti darah rakyat tumpah, namun warga tidak bisa berbuat apa-apa. Firasat warga sipil terbukti. Tiba-tiba di hari itu juga terjadi insiden penembakan terhadap warga yang tengah mencari udang. Satu luka dan yang satu lagi berhasil menyelamatkan diri masuk hutan. Teror ini meresahkan warga.

Sedari subuh keesokan harinya, Jumat pagi, 23 Juli 1999, TNI dan Brimob sudah bergerak diam-diam mendekati pesantren dengan perlengkapan tempur garis pertama, yang berarti senjata api sudah terisi amunisi siap tembak. Pukul 08.00 tentara dan Bribom sudah berada di seberang sungai dekat pesantren. Dengan alasan mencari GAM, pada pukul 09.00 mereka membakar rumah penduduk yang letaknya hanya 100 meter di timur pesantren. Satu jam kemudian, pasukan tersebut mulai bergerak ke pesantren. Dengan seragam tempur lengkap dengan senjata serbu laras panjang, wajah dipulas dengan cat kamuflase berwarna hijau dan hitam, mereka mengepung pesantren dan berteriak-teriak mencaci-maki Tengku Bantaqiah dan memintanya segera menemui mereka.

Menjelang waktu sholat Jumat, para santri biasa berkumpul dengan Tengku Bantaqiah guna mendengar segala nasehat dan ilmu agama. Mendengar teriakan dari tentara yang menyebut-nyebut namanya, Bantaqiah pun datang bersama seorang muridnya. Aparat bersenjata itu tidak sabaran. Mereka merangsek ke dalam dan memerintahkan semua santri laki-laki untuk berkumpul di lapangan dengan berjongkok menghadap sungai.

Aparat dengan suara keras dan mengancam meminta agar Bantaqiah menyerahkan senjata apinya. Tengku Bantaqiah bingung karena memang tidak punya senjata apa pun, kecuali hanya pacul dan parang yang sehari-hari digunakan untuk berkebun dan membuka hutan. Aparat tidak percaya dengan semua keterangan Bantaqiah. Sebuah antena radio pemancar yang terpasang di atap pesantren dijadikan bukti oleh aparat jika selama ini Bantaqiah menjalin komunikasi dengan GAM. Padahal itu antene radio biasa.

"Komandan pasukan memerintahkan agar antena tersebut dicopot, dengan menyuruh putra Bantaqiah yang bernama Usman untuk menaiki atap pesantren. Usman langsung berjalan menuju rumahnya untuk mengambil peralatan, namun sebelum ia mencapai rumah yang jaraknya hanya tujuh meter dari tempat tentara mengumpulkan para santri, seorang anggota pasukan memukul Usman dengan popor senapan," tulis Feri Kusuma, aktivis Kontras Aceh, berjudul "Jubah Putih di Beutong Ateuh".

Melihat anaknya terjatuh, secara refleks Bantaqiah berlari mendekatnya hendak menolong. Tiba-tiba tentara memberondongnya dengan senjata yang dilengkapi pelontar bom. Bantaqiah dan puteranya syahid. Dengan membabi-buta, aparat murid dari Jenderal Suharto ini mengalihkan tembakan ke arah kumpulan santri. Lima puluh enam santri langsung syahid bertumbangan. Tanah Aceh kembali disiram darah para syuhadanya. Santri yang terluka dinaikkan ke truk dengan alasan akan diberi pengobatan dan yang masih hidup diminta berbaris lalu naik ke truk yang sama. Truk ini bergerak menuju Takengon, Aceh Tengah, yang berada di tengah rimba.

Di tengah perjalanan menuju Takengon, para santri diturunkan di Kilometer Tujuh. Mereka diperintahkan berjongkok di tepi jurang. Tiba-tiba salah seorang santri langsung terjun ke jurang dan menghilang dalam rimbunan hutan lebat di bawah sana. Para tentara mengguyur jurang itu dengan tembakan. Nasib para santri yang tersisa tak diketahui sampai kini. Kuat dugaan, para santri ini dibantai aparat Suharto dan dibuang ke jurang.

Sore hari, tentara memerintahkan warga setempat untuk menguburkan jasad yang ada. Para perempuan digiring menuju mushola yang ada di seberang sungai dan dilarang melihat prosesi penguburan. Aparat bersenjata ini kemudian mengamuk di pesantren. Mereka merusak dan menghancurkan semua yang ada, mereka membakar kitab-kitab agama termasuk kitab suci al-Quran dan surat Yasin yang ada di pesantren. Setelah puas membakar ayat-ayat Allah, aparat bersenjata didikan Suharto ini, kemudian kembali ke barak dengan sejumlah truk, meninggalkan warga yang tersisa yang hanya bisa menangis dan berdoa.

Setelah tragedi tersebut, warga Beutong Ateuh hanya bisa pasrah berdiam diri. Dengan segenap daya dan upaya, para santri yang tersisa-kebanyakan perempuan tua dan anak-anak kecil-membangun kembali pesantren tersebut dan meneruskan pendidikan dengan segala keterbatasan. Sampai kini, pesantren ini belum memiliki cukup dana untuk mengganti seluruh al-Quran, kitab-kitab kuning, dan surat-surat Yassin yang dibakar aparat. Juga barang-barang lain seperti seluruh pakaian, kartu tanda pengenal, dan sebagainya yang musnah terbakar. Sampai detik ini, tidak ada seorang pun pelaku pembantaian terhadap Tengku Bantaqiah dan santri Beutong Ateuh yang diseret ke pengadilan. Tidak ada satu pun komandan tentara yang dimintai pertanggungjawaban atas ulahnya membakar kitab suci Al-Qur'an dan surat Yassin, sampai hari ini. Para pelakunya masih bebas berkeliaran. Mungkin tengah menanti hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala atas ulah mereka. Sama seperti guru mereka: Jenderal Suharto.

Tragedi Beutong Ateuh hanyalah satu di antara jutaan tragedi kekejaman rezim Suharto terhadap Muslim Aceh. Anehnya, sampai detik ini tidak ada satu pun pejabat pemerintah, sipil maupun militer, yang terlibat kejahatan HAM sangat berat atas Muslim Aceh yang diseret ke pengadilan. Mereka masih bebas berkeliaran dan bahkan banyak yang masih bisa hidup mewah dengan menikmati kekayaan hasil jarahan atas kekayaan bumi Aceh. Dalam tulisan berikutnya akan dipaparkan kejahatan-kejahatan HAM Suharto lainnya terhadap umat Islam, seperti Tragedi Tanjung Priok, Lampung, dan lainnya. (bersambung/rd)

Pada awal 1980-an, rezim Suharto menghendaki agar Pancasila dijadikan satu-satunya asas bagi seluruh partai politik dan organisasi kemasyarakatan yang ada di Indonesia. MPR akhirnya mengukuhkan Pancasila sebagai asas tunggal (astung) di Indonesia lewat Tap MPR No.11/1983 yang dituangkan dalam UU No.3/1985 tentang Partai Politik dan Golongan Karya serta UU No.8/1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Penetapan Pancasila sebagai astung menuai badai kontroversi di tengah masyarakat, terutama bagi umat Islam karena hal tersebut telah nyata-nyata mengganggu akidah umat Islam. Walau ada elemen umat Islam yang mau tunduk pada keinginan rezim fasis ini, namun di berbagai tempat aksi unjuk rasa menentang ditetapkannya Pancasila sebagai astung meledak di mana-mana. Para ulama dan dai yang iman dan akidahnya masih lurus dan bersih, dengan tegas mengatakan jika astung bertentangan dengan akidah Islam, sebab itu wajib hukumnya menolak.

Apalagi langkah-langkah Jenderal Suharto ini lama-kelamaan mirip dengan apa yang dilakukan para pemimpin komunis di negaranya. Jika negara komunisme memiliki partai negara yang bertindak sebagai buldoser suara rakyat, maka Golongan Karya di masa Suharto pun demikian. Jika negara komunisme mengkultuskan pemimpinnya dan siapa pun yang berseberangan dengannya dihabisi, demikian pula dengan yang dilakukan Suharto.

Bukan itu saja, di mulut penguasa fasis ini, Indonesia katanya berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, namun kenyataannya rakyat kian banyak yang hidup melarat, umat Islam dipaksa ikut program KB, di bidang ekonomi pengusaha sipit diberi keistimewaan bahkan dengan mematikan pengusaha-pengusaha pribumi sekali pun, KKN di sekitar Suharto gila-gilaan, penembakan misterius yang direstui Suharto pun tengah meraja-lela, dan sebagainya. Apalagi saat itu Jenderal Leonardus Benny Moerdhani yang dikenal sebagai jenderal islamophobia sedang jadi anak emas Suharto, umat Islam terus-menerus ditindas.

Salah satu wilayah yang paling berani menyuarakan kebenaran, menentang sikap represif rezim ini adalah Tanjung Priok di Jakarta Utara. Para ulama dan dai setempat berkotbah dan menyerukan agar umat Islam agar berani untuk kembali ke akidah Islam yang sebenarnya, dan menentang thagut, dan melawan segala bentuk kesewenang-wenangan, seperti halnya Musa a.s. menentang dan melawan kediktatoran Firaun.

Dalam situasi panas seperti inilah, pada Senin, 10 September 1984, Sersan Hermanu yang non-Muslim, Babinsa setempat, tiba-tiba menyiram air got ke dinding Mushola Asy-Syahadah di Gang IV Priok. Hermanu juga masuk mushola tanpa melepas sepatu larsnya dan meninginjak-injak semua yang ada termsuk menginjak-injak Al-Qur'an. Di saat Suharto berkuasa, menginjak-injak Al-Qur'an, bahkan membakarnya sekali pun, adalah hal yang biasa.

Atas kelakuan Hermanu, warga marah. Diseretlah motornya dan dibakar. Babinsa itu kabur. Tak lama kemudian, empat pengurus mushola diciduk aparat. Saat itu tersiar kabar jika penembak misteriusnya Benny Moerdhany akan menghabisi para mubaligh. Ini kian memanaskan situasi.

Ba'da Maghrib, Rabu, 12 September 1984, usai hujan, digelar tabligh akbar di Jalan Sindang guna menuntut Kodim membebaskan empat pengurus mushola yang ditahan. Amir Biki berpesan pada Yayan Hendrayana, salah seorang mubaligh, "Jangan takut-takut ngomong." Akhirnya Yayan yang mendapat kesempatan keempat berteriak lantang, "Man Anshoru ilallah!?" Siapa yang sanggup membela agama Allah!? Dijawab para jamaah, "Nahnu anshorullah!" Kami sanggup!

Jamaahberjubel malam itu memenuhi lorong-lorong dan jalan di Priok. Tak kurang dari delapan puluh buahspeaker dipasang. Puluhan ribu warga Priok memadati jalan. Banyak di antaranya ibu-ibu dan gadis-gadis berjilbab, sesuatu pemandangan yang masih asing di tahun itu. Entah mengapa, malam itu Yayan Hendrayana memiliki firasat jika nanti sesuatu akan terjadi. Sebab itu dia memerintahkan agar para perempuan dan anak-anak segera menyisih dari jamaah dan segera masuk rumah terdekat jika terjadi apa-apa.

"...Sebab nanti tentaranya Benny akan membantai saudara-saudara sekalian!" ujar Yayan saat bercerita pada penulis di tahun 1998. "Padahal saya tidak tahu bila nanti benar-benar terjadi pembantaian. Sayangomong begitu saja," tambahnya.

Usai Yayan, Syarifin Maloko naik podium. Lalu Amir Biki. Tokoh Priok ini berkata lantang, "Saudara-saudara, para ikhwan hamba Allah. Ternyata hingga kini tidak ada jawaban dari Kodim. Ini berarti kita harus konsekuen dengan janji kita. Kepada saudara-saudara, saya titip keluarga saya. Andai saya terbunuh malam ini, tolong mayat saya diarak le seluruh Jakarta!

Jarum jam sudah menunjuk angka sebelas. Puluhan ribu jamaah Priok segera bergerak mendekati Kodim agar mau memberikan jawaban. Namun tiba-tiba, terdengar rentetan tembakan. Jamaah yang berada di barisan depan bertumbangan di aspal. Genangan air hujan yang masih tersisa di aspal seketika berubah warna menjadi merah. Situasi kacau. Tentara masih melepaskan rentetan tembakan dengan laras senjata lurus menghadap jamaah. Ratusan jamaah Priok meregang nyawa. Setelah jalanan sepi, ratusan mayat yang bergelimpangan di jalan segera diangkut truk tentara, entah dibawa kemana. Mobil pemadam kebakaran mondar-mandir menyemprotkan air ke aspal untuk menghilangkan genangan darah yang ada di sana-sini. Aparat berjaga di semua tempat strategis dengan senjata siap tembak.

Pembantaian ratusan jamaah pengajian Priok oleh tentaranya rezim Suharto ini menimbulkan kemarahan umat Islam di Indonesia. Untuk meredakannya, Benny Moerdhani menggandeng Abdurrahman Wahid keliling pesantren di Jawa. Sedang Pangdam Jaya Try Sutrisno mengamankan ibukota dari ekses tragedi besar tersebut. Tidak ada media massa yang berani memuat tragedi tersebut dengan sebenarnya.

Sejumlah tokoh Priok yang berhasil lolos dikejar dan ditangkap. Para ustadz dan aktivis Islam memenuhi penjara. Siksaan bathin dan fisik mereka alami. Ba'da Priok, aktivitas dakwah Islam benar-benar ditindas. Sedang pemurtadan meraja-lela. Inilah salah satu bentuk kekejaman rezim Suharto terhadap dakwah Islam. Sampai detik ini penegakan hukum atas Tragedi Priok masih belum tuntas. Misteri gelap masih menyelubunginya.(bersambung/rd)

Usai tragedi Priok, rezim Suharto sepertinya menemukan momentum untuk kian bertindak represif terhadap dakwah Islam. Intel disebar ke berbagai masjid untuk memata-matai khotib. Jika ceramah sang khotib dianggap sedikit keras maka langsung ditangkap dan dipenjara. Hal inilah yang menimpa Hasan Kiat, khotib dari Priok yang hanya karena ceramahnya tegas dalam akidah Islam ditangkap aparatnya Suharto.

Dalam tahanan rezim Suharto, penyiksaan sudah menjadi santapan keseharian. "Ustadz Zubir dari Kalibaru disiksa terus hingga dia meninggal dunia. Seorang tapol Islam bernama Robby giginya digerus pakai gagang pistol, nyaris rontok semua. Sedang Tasrif Tuasikal, terpidana kasus Priok, dadanya ditusuk bayonet.Alhamdulillah, dia kuat," ujar Hasan Kiat kepada penulis pada tahun 1998.

Oleh aparatnya Suharto, walau tahu jika para tahanannya adalah orang-orang shalih, para ustadz, para aktivis masjid, dan sebagainya, namun untuk memberatkan mereka, aparat berusaha keras mengkaitkan mereka ini dengan PKI. Ini dinyatakan Hasan Kiat yang mengalami sendiri hal seperti itu.

Hijrah ke Lampung

Karena kondisi Jakarta khususnya dan Jawa pada umumnya sangat represif bagi dakwah Islam, sedangkan kemaksiatan tambah lama tambah meraja-lela, hal ini membuat sekelompok aktivis dakwah mengambil keputusan untuk melakukan hijrah. Lampung menjadi tujuannya. Di tanah ini mereka bercita-cita membuka lahan baru, membangun rumah dan perkampungan, lengkap dengan mushola sebagai tempat ibadah dan belajar ilmu agama. Sebuah perkampungan islami, demikian harapan mereka.

Sukardi merupakan salah seorang aktivis dakwah yang memiliki harapan itu. Pemilik optik ‘Nusa Indah' di Priok ini aktif di pengajiannya Nur Hidayat, seorang mantan atlet karateka nasional. Pada tahun 1988, seorang sahabatnya bernama Haryanto menyatakan jika mereka akan hijrah ke Lampung, tepatnya di Dukuh Cihideung, Dusun Talangsari III, Lampung.

"Saya lalu rembukan dengan isteri. Isteri saya hanya berkata, ‘Jika memang itu berada di jalan Allah, saya siap kemana saja berangkat," tutur Sukardi kepada penulis saat bertemu pada 1998. Akhirnya semua kacamata dagangan dilelang murah.

Pada 10 Januari 1989, Sukardi memboyong Ismawati (20 th) sang isteri, dua anaknya yang masih kecil (Eka Triyani, 5 th, dan Ahmad Daulatul Indi, 3 th), serta seorang ipar, Sumarni (19 th).

"Bersama sepuluh keluarga saya berangkat ke Lampung. Yang hijrah tahap pertama ini orang-orang lapangan semua. Kami bukan pendakwah. Jadi kita-kita ini yang membuka lahan," ujar Sukardi.

"Duapuluh hari pertama tak ada kegiatan apa-apa. Kami hanya mengerjakan ibadah rutin dan menanam singkong. Informasi dari Jakarta yang menyatakan Lampung sudah siap huni ternyata belum apa-apa. Gelombang demi gelombang orang-orang Jakarta datang ke Lampung dan bergabung bersama kami," lanjutnya.

Di saat itu, sosok perempuan berjilbab merupakan suatu keanehan. Sebab itu, kedatangan para perempuan berjilbab di Lampung disikapi oleh para warga asli, terlebih aparat pemerintah daerahnya, sebagai sesuatu yang harus diwaspadai. Kepala desa setempat pun melayangkan surat aduan kepada Camat Zulkifli Malik. Tak lama kemudian surat dari Camat Zulkifli datang mengundang Warsidi, pimpinan jamaah, agar datang ke kantor kecamatan.

"Entah apa isi surat aduan dari kepala desa itu. Namun surat undangan dari camat sangat mencurigakan. Apalagi kami sudah mendengar kabar jika Pak Warsidi akan ditangkap," papar Sukardi.

Akhirnya setelah bermusyawarah, jamaah sepakat untuk mencegah Warsidi menghadap Camat. Sebagai gantinya dibuat surat yang ditulis oleh ipar Sukardi, Sumarni, yang berbunyi: "Sebaik-baiknya umaro adalah yang mendatangi ulama. Dan seburuk-buruknya ulama adalah yang mendatangi umaro." Lalu dilanjutkan dengan kalimat, "...mengingat kesibukan kami mengisi pengajian di beberapa tempat, maka kami mohon agar Bapak bisa datang sendiri ke tempat kami untuk melihat sendiri kondisi sebenarnya."

Tak lama kemudian Camat dikawal beberapa aparat datang menemui Warsidi. Lalu Camat itu mengundang kembali Warsidi agar datang ke tempatnya. Jamaah menolak. Situasi memanas. Setelah rombongan camat pulang, Warsidi memerintahkan agar jamaah mempersiapkan diri bila kondisi memburuk.

"Akhirnya saya dan kawan-kawan bikin panah di satu tempat di luar Cihideung. Tiba-tiba datang utusan Pak Warsidi yang bilang jika pada tanggal 15 Februari nanti tentara akan menyerang desa kami. Akhirnya kami balik ke Cihideung. Ada yang bilang kami berlatih bela diri, latihan memanah, itu bohong semua. Kami malah tidak mau ada konfrontasi dengan aparat di sini. Kami hanya ingin membangun satu perkampungan yang islami, jauh dari kemaksiatan," tambah Sukardi.

Pada 3 Febrari 1989, Danramil Kapten Soetiman datang sendirian naik mot kemudian, 7 Februari 1989, sepasukan tentara bersenjata lengkap menyerbu Cihideung. Jamaah Warsidi yang tidak pernah menduga akan hal itu berlarian menyelamatkan diri sambil berteriak, "Allahu Akbar!" Para perempuan dan anak-anak kecil beror ke Cihideung. Jamaah menerimanya dengan baik. Jamaah malah menerangkan cara bercocok tanam lada yang baik. Tak lama kemudian Kapten Soetiman pulang. Situasi tetap berjalan biasa.

Lima harilarian menuju mushola yang dianggapnya aman. Rumah Allah tidak akan mungkin diserang, pikir mereka. Namun perkiraan mereka ternyata salah bear. Tentaranya rezim Suharto ternyata tidak menganggap istimewa rumah Allah. Para tentara segera mengepung mushola tersebut.

Dengan berteriak-teriak, tentara memerintahkan agar semua yang berlindung di mushola segera keluar. Para perempuan dan anak-anak kecil yang berlindung di dalam mushola kian ketakutan. Mereka hanya bisa berdzikir dengan bibir yang gemetar ketakutan. Melihat tidak ada yang mau keluar, para tentara itu langsung menembaki mushola. Belum cukup dengan berondongan tembakan, mushola yang penuh para perempuan berjilbab dan anak-anak kecil itu pun dibakar habis. Tentaranya Suharto mengulangi kekejaman yang pernah dilakukan tentara Zionis-Israel di Shabra-Satila. Semua yang ada di dalam mushola menggapai syahid dengan cara amat memilukan.

Sukardi yang saat kejadian tengah dalam perjalanan ke Jakarta lolos dari pembantaian itu. Hanya saja, isteri, ipar, dan dua anaknya yang masih balita termasuk korban yang terpanggang hidup-hidup di mushola. Walau demikian, Sukardi ditangkap di Jakarta dan ditahan sampai dengan tahun 1994, bersama dengan Nur Hidayat, Maryanto, dan yang lainnya.

Dengan mata merah menahan kesedihan yang sangat, Sukardi menerawang, "Sampai saat ini saya masih suka mendengar isak tangis anak-anak saya. Mereka memanggil-manggil saya, "Bapak.. Bapak..." Ya Allah, saya ingin melihat mereka lagi. Saya ingin tahu di mana kubur mereka. Sampai sekarang, saya tidak tahu di mana mereka dikuburkan. Mudah-mudahan, Allah mengumpulkan kami semua dijannah nanti.Amien." Dalam Tragedi Lampung, aparat rezim Suharto telah membantai lebih dari 250 nyawa anak bangsa, sebagian besar perempuan dan anak-anak kecil yang syahid terpanggang di dalam rumah Allah. Tragedi ini pun sampai sekarang masih menyisakan banyak misteri. Penegakan hukum belum tuntas. (bersambung/rd)

Tragedi Aceh, Tanjung Priok, Lampung, hanyalah sebagian kecil kejahatan kemanusiaan yang dilakukan penguasa rezim Suharto terhadap umat Islam. Belum lagi tragedi lainnya yang tidak kalah mengerikan seperti yang ditimpakan pada rakyat Timor-Timur, Papua, Kedungombo, dan sebagainya.

Seperti kata orang bijak, kehidupan ibarat roda yang berputar. Maka ada saat naik, ada pula saat turun. Demikian juga dengan kekuasaan Jenderal Suharto. Rezim yang lahir dari genangan darah jutaan rakyatnya ini dengan dukungan penuh dari blok imperialis dan kolonialis Barat, mengalami "masa keemasan" di akhir tahun 1960-an hingga semester kedua tahun 1990-an. Selama hampir sepertiga abad, Jenderal Suharto menjadi presiden dengan kekuasaan nyaris absolut bagaikan raja atau pun diktator. Siapa pun yang berani berseberangan keyakinan dan pandapat dengannya, walau ia bekas teman paling setia pun, pasti akan disingkirkan.

Di masa awal kekuasaannya, rezim ini menggadaikan kekayaan alam bangsa yang sedemikian besar kepada jaringan korporasi Yahudi sekaligus merancang cetak biru perundang-undangan penanaman modal asing Indonesia di Swiss (1967). Langkah ini diikuti dengan "stabilisasi" perekonomian dan politik di dalam negeri, dengan campur tangan penuh kekuatan imperialis dan kolonialis dunia seperti Amerika Serikat dan Jepang.

Terhadap dakwah Islam, rezim Jenderal Suharto bersikap sangat keras. Walau di awal naiknya kekuasaan umat Islam sempat digandeng dengan mesra, namun setelah berkuasa, umat Islam ditendang keluar dari pusat kekuasaan. Dakwah Islam menjadi barang haram dan bahkan menjadi sasaran operasi intelijen di bawah komando Jenderal Ali Moertopo hingga Jenderal Leonardus Benny Moerdhani.

Sepanjang tahun 1970-an, rezim Jenderal Suharto menikmati masa kejayaan dan kemakmuran dengan ‘Oil Booming'nya. Di sisi lain, korupsi, kolusi, dan nepotisme juga tumbuh dengan sangat subur. Cendana menjadi pusat dari peredaran keuangan di negeri ini. Dan banyak orang yang haus kekuasaan dan juga kekayaan secara gerilya maupun terang-terangan merapat ke Cendana.

Pada akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an, seiring perubahan kepentingan politis Amerika Serikat, di mana era perang dingin sudah bisa dikatakan berakhir dengan tumbangnya Uni Soviet dan imperium komunis di Eropa Timur, maka berubah pula orientasi politis dari rezim Jenderal Suharto. Walau demikian ‘stabilitas politik dan ekonomi' serta ‘Pancasila' masih menjadi tuhan yang tidak boleh diganggu gugat.

Dakwah Islam yang sudah puluhan tahun ditindas dengan amat represif, perlahan-lahan simpulnya dikendurkan oleh Suharto. Banyak kalangan menyebut Suharto sudah bertobat dan akankhusnul khatimah. Atribut-atribut keislaman seperti peci putih, sorban, dan jubah mulai dikenakan oleh Jenderal yang tangannya berlumuran darah jutaan rakyatnya ini. Jilbab secara perlahan juga mulai berkibaran di seantero negeri. Tokoh-tokoh Islam dengan cepat dan-maaf-sedikit gegabah, menyebut hal ini sebagai kebangkitan Islam di Indonesia, padahal baru sebatas kulit luarnya saja. Sedangkan ‘tradisi' KKN tetap dilestarikan bahkan sekarang sudah mengalami inovasi yang sangat luar biasa. Ke masjid sering namun tetap saja gila memburu proyek-proyek yang sarat denganmark-up anggaran dan sebagainya.

Yoshihara Kunio, yang meneliti hubungan bisnis dan politik kekuasaan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menerbitkan bukunya yang akhirnya dilarang beredar oleh Suharto. Buku tersebut berjudul "Kapitalisme Semu Asia Tenggara". Untuk Indonesia, Kunio menyatakan jika pondasi perekonomian bangsa ini sebenarnya sangat rapuh karena dibangun berdasarkan praktik KKN semata, sedangkan para pengusaha kecil-menengah yang lokal nyaris hidup sendiri tanpa adanya suatu proteksi atau pun perlindungan khusus dari pemerintah. Akibatnya, kian hari kian banyak perusahaan lokal yang dicaplok oleh korporasi asing.

Sebab itu, ketika tepat 100 tahun gerakan Zionisme Internasional merayakan kelahirannya, dan salah seorang pengusaha Yahudi dunia bernama George Soros memborong mata uang dollar AS dari pasar uang dunia, maka meletuslah krisis keuangan yang berawal dari Thailand dan terus merembet ke Indonesia. Harga membubung tinggi dan banyak pengusaha hasil KKN ambruk. Jahatnya, para konglomerat kakap yang amat dekat dengan Cendana malah melarikan diri ke luar negeri dengan membawa uang rakyat Indonesia dengan nilai yang amat sangat banyak. Uang hasil BLBI yang jumlahnya ratusan triliun rupiah dijarah dan tidak pernah dikembalikan hingga detik ini. Indonesia meluncur pasti menuju kebinasaan.

Dari berbagai tekanan yang dilakukan mahasiswa, sejumlah pejabat, dan pastinya juga Washington, Presiden Suharto akhirnyalengser pada Mei 1998.

Euphoria gerakan reformasi meledak. Habibie jadi presiden, diganti Abdurrahman Wahid, lalu Megawati, dan kemudian Susilo Bambang Yudhoyono. Gerakan reformasi sudah berusia sepuluh tahun lebih, namun di lapangan, praktik-praktik peninggalan rezim Suharto, yaitu KKN ternyata bukan berkurang namun malah tambah marak dan inovatif dengan berbagai dalih danhujjah.

Malah sejumlah tokoh yang mengaku reformis, dari yang sekuler sampai yang katanya fundamentalis, kini nyata-nyata mendekati Cendana kembali yang memang masih memiliki kekayaan materil yang luar biasa. Mereka beramai-ramai mengangkat Suharto sebagai orang yang patut diteladani dan bahkan dikatakan sebagai Guru Bangsa. Panglima besar KKN malah dijadikan Guru Bangsa. Ini merupakan sesuatu yang "amat hebat dan sungguh fantastis".

Hal ini membuktikan kepada kita semua betapa gerakan reformasi tenyata telah gagal total. Para Suhartois masih kuat bercokol di negeri ini. Hari-hari menjelang Pemilu 2009 ini kita bisa melihat dengan mudah siapa saja orang-orang Indonesia, baik itu yang sekular maupun yang mengklaim sebagai reformis, yang sesungguhnya Suhartois. Mereka membuka topengnya lewat iklan, lewat manuver politik, dan sebagainya.

Padahal, demi menegakkan keadilan, Suharto selayaknya diadili di muka pengadilan. Suharto adalah Jenderal Augusto Pinochet-nya Chille, Jenderal Lon Nol-nya Kamboja, yang harus tetap mempertanggungjawabkan segala apa yang pernah diperbuatnya selama puluhan tahun di depan pengadilan yang sungguh-sungguh menegakkan keadilan. Bukan malah dijadikan ikon bagi perubahan.

Untuk menutup serial ini, ada baiknya kita mencamkan satu ayat Al-Qur'an surat Al-An'am ayat 70 tentang kaum yang mempermainkan agamanya demi kenikmatan kehidupan dunia. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda-gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan al-Qur'an itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak (pula) pemberi syafa'at selain daripada Allah..." (Tamat/rd)

Siapa Sebenarnya Soeharto: Bagian Pertama

Share/Save/Bookmark
Dibaca :22436 kali  

Komentar-Komentar  

 
afde
0 #24 peliharalah kedamaiyan aceh dgn baikafde 2014-08-06 19:13
Jika peperangan antara tentara aceh GAM dan tentara indonesia,belum tentu tertara indo bisa menang dan aceh pasti merdeka.cuman karna rakyat aceh belum bersatu teguh maka dari itu aceh blm bisa merdeka.contok waktu jaman penjajah belanda lebih ngeri pasukanya dan alat tempurnya.karna bersatu masarakat aceh dari ujung ke ujung.maka sulitlah belanda untuk masuk kewilayah aceh sementara wilayah laen sudah terjajah oleh belanda dan di kuasai.makadari itu,peliharalah kedamaiyan ini dngan baeh kedua belah pihak.kita jgn mencari masalah.tapi di hari yg akan datang jawa dan pemerintah pusat akan membuatvkita sensara lag baik dari otonomi maupun dari pisik.kita harus siap untuk memerangi habis habisan untuk membela aceh lon cinta.mudah mudahan itu tdk akan terjadi lg semoga kita kedua belah pihak saling menghargai dan memelihara kedamaiyan ini.amin amin yarobbal alamiin wassalam . Salam kepada negriku aceh lhon cinta.
Quote
 
 
afde
+1 #23 dom acehafde 2014-08-06 00:45
Bangsaku ya itu bangsa aceh masih terlalu byk mempunyai sifat sombong,dahal dlm alQuran dan hadiz sdh d jelaskan allah sangat membenci kepada hambanya yang mempunyai sifat sombong.maka dari iitu,amal baek org yg mempunyai sifat sombong, maka amal itu tidak di terima oleh allah swt.buatvapa kita sombong. Allah sendiri yg mempunyai dan memilikai buml langit beserta isinya bahkan allah sendiri yg selalu di jolii oleh hambanya.masih allah memaafkan hambanya.tapi kenapa semut aja tidak bisa kita ciptakan.malah sombongvpulak kita.inilah ciri ciri org beriman yg rugi besar.hidup kita di dunia sebentar maka sebentar itulah pelihara yg sebenar benar@
Quote
 
 
afde
0 #22 dom acehafde 2014-08-06 00:27
Saya anak org dari aceh dan ayah sy terbunuh oleh pasukan berimob bko bulan puasa pas 27 hr puasa jam 12 mlm,ayah sy di culik segerombolan pasukan berimob.di daerah buter jln blng mancung takengon kecamatan ketol kab benermeriah.set elah perdamamai aceh di akhir thn sunami.sy sangat sedih melihat otak dan pemikiran org bangsaku sendiri yaitu bangsa acehku.dia hanya mementingkan diri sendiri tidak tahu menahu tentang saudaranya yg sedang kelapar.percuma sariat islam di betlakukan di aceh tapi punsi pungsi sariat islam byk yg di selewengkan dan tidak di pergunakan.seha rusnya otk yg seperti itu jgn di pelihara apakan bangsaku tidak tau malu mereka yg di luar sn mempertawakan kita.aku mohon berubahlah sifat jelek bangsaku yaitu aceh lon cinta.maka dari itu hinga saat ini sya belum mau pulang ke tanah asal kelahiranku yaitu aceh lon cinta.malu aku melihat sifat masyarakatku yg g pernah berubah.daerah kita,yaitu daerah bersariatkan islat tapi tapi byk pulak yg menjadi munafik termaksud yg mendirikan sariat islam sendiri wassalan aceh lhon cinta dan aceh yg lhon rindukan selamatvtingal acehku ku rindu padamu aceh aku kangen padamu aceh.
Quote
 
 
afde
0 #21 dom acehafde 2014-08-05 23:59
Kasus pembunuhan umat islam masa dom di aceh.adalah pasukan TNI dan pasukan BRIMOB yg beragamakan yahudi.tapi sayangya indonesia mayoritas 99%agama islan dan tentara indonesia juga cukup byk yg beragama islam,tapi kenapa mereka bisa di kendalikan oleh tentara indo yg beragama yahudi.kita bisa membaca dlm diri sendiri agama yahudi yg ada di indo ini mcm mn caranya islam bisa habis musnah.tapi heranya ko tentara indo yg beragama islamvjuga membunuh org yg se agama.ini sangat berat pertangung jawabnya di hari kemudian.karna itu dosa yg tidak bs di ampuni oleh allah,dosa memerangi dan membunuh satu agama yaitu islam sesama islam akan tetap kedua belah pihak mati konyol.dan allah akan melemparkan mereka ke dlm nerapa tanpa ada di pertanyakan.bad ahal dlm alQur'an sudah di jelaskan sesama agama tidak boleh membunuh dan bermusuhan yaitu agama islam.walaupun itu perang antar negara kan itu saudara seagama kita.mk dr itu sgat brt pertangung jwbnya kepala negara kl tdk bs memberikan ke adilan ke pada masyarakatnya.k arna masyarakat ini ibarat anak dgn org tua.org tua melahirkan anak setelah itu di sensarakan anak itu,maka org tua itulah yg akan berdosa dan masuk ke dlm neraka walaupun org tua tersebut haji dan beribadah.tapi dia hrs mempertangung jwbkn dulu tentang anaknya tadi yg di sensarakan.begi tu juga dgn kepala negara kl blm bisa membangun masyarakat menjadi makmur,jgnlah kau menjadi pemimpin.karna kamulah ygaan mempertangung jawabkan di hari kemudian.terima kasih
Quote
 
 
Angga Pw
0 #20 alhamdullilahAngga Pw 2014-04-29 15:58
Dah yang berlalu biarlah beralalu walaupun rezim soeharto kejam alhamdullilah kita tetap menjadi satu negara yang kuat
INDONESIA DAMAI96s64
Quote
 
 
deni supriatna
0 #19 finahdeni supriatna 2014-03-02 23:01
dalam cerita ny bnyk yg direka2 tanpa bukti2 dan saksi2 yg jelas..ini bisa jd fitnah.dan fitnah lebih kejam drpd pembunuhan
Quote
 
 
Eyang Subur
0 #18 Yang baik belum tentu benar dan yang benar belum tentu baikEyang Subur 2013-12-21 16:06
Saudaraku Sekalian.. Sekedar mengingatkan:
Yang baik belum tentu benar dan yang benar belum tentu baik. Mari melihat segal sesuatu dari banyak sudut, jangan seperti katak dalam tempurung yang mengepandan prasangka dan ego. Allah Swt memberikan yang terbaik buat bangsa ini sesuai dengan zamannya masing masing. Seluruh Presiden Indonesia adalah putra - putri Terbaik Bangsa atau yang terbaik diantara yang terburuk. Mari bercermin apakah diri kita mempunyai kemampuan memimpin negera besar ini ???, kalau tidak mari pimpin diri kita masing masing untuk memuliakan orang tua kita saudara kita. Ayoo saudara-saudara ku lebih baik berkarya demi Nusa dan Bangsa. Jangan tanya apa yang dapat diberikan bangsa ini kepadamu tapi apa yang bisa kamu berikan pada bangsa ini. Abaikan provokasi seperti ini.
Quote
 
 
Ѩѩ Ѩѩ
0 #17 Siapa SebenarnyaSoeha rto?Ѩѩ Ѩѩ 2013-11-20 14:57
Quoting annisa az-zahra:
jauh dibawah tanah sana dia telah mendapatkan balasan yang setimpal

Quoting annisa az-zahra:
jauh dibawah tanah sana dia telah mendapatkan balasan yang setimpal

amin....
Quote
 
 
Ѩѩ Ѩѩ
+1 #16 Siapa SebenarnyaSoeha rto?Ѩѩ Ѩѩ 2013-11-20 14:55
untuk saudaro wong...apa keluarga kamu bagian dari suharto,is...at au kamu juga penikmat rampookan dari KKN rezim bangsaT SUHARTO ITU...kamu tau aku hanya lulusan SD saya ingin belajar menuntut ilmu yg tinggi..kamu tau jawaban dari orang2 rezim suhartois kala itu..kalo tak cukup uang jangan pernah bermimpi menjadi pintar...kenapa saya benci sekali sama suharto..karena suharto lah yg membuat bodoh rakyat indonesia...kar ena suharto lah yg bertanggung jawab..atas semua kekeja,man di negri ini..sebelum di muat artikel ini..hati saya berkecamuk demikian..di artikel ini..sebagai anak bangsa..sebagai penerus bangsa...kehidu panku..di rampas pengusa serakah suharto...mungk in kamu lebih tinggi pendidikanmu... mungkin juga bapak mu adalah suharto,is..yg tak rela jabatan bapakmu di pensiunkan..sek arang ekonomi keluargamu hancur berantakan..kar ena tak bisa lagi maling...wasala m.
Quote
 
 
Ѩѩ Ѩѩ
0 #15 Siapa SebenarnyaSoeha rto?Ѩѩ Ѩѩ 2013-11-20 14:00
saya sebagai seorang suku jawa asli...juga benci sekali dengan kekejaman pemimpin busuk satu ini ya dia lah SUHARTO pki...suharto bangsat semoga dalam kubur mu mendapatkan siksa,maN YG TERAMAT BERAT
Quote
 
 
syahrul gunawan
0 #14 komentar tambahansyahrul gunawan 2013-11-20 09:49
Maaf buat suadara Wong....kalo memang anda punya informasi yang menurut anda lebih akurat,silahkan posting tapi jangan mendeskreditkan hasil jerih payah orang laen.Karena se lemah apapun keakuratan informasi yang di sampaikan oleh penulis tapi saya yakin itu berdasarkan upaya napak tilas dari kisah yang telah di ceritakan diatas dan tidak ada upaya untuk mengejar popularitas.ter ima kasih...
Quote
 
 
Achun
0 #13 setan soehartoAchun 2013-11-20 00:46
Sayang, si keparat Harto sdh matii,
Seharusnya dia matii dgn cara d gantung d monas, mayatnya diseret sepanjang jalan ibu kota..
Quote
 
 
anonimous
0 #12 bangke lah...anonimous 2013-10-11 15:16
serapih apapun bangkai di tutup tutupi toh akhirnya baunya yg menyengat akan tercium juga... :cry:
Quote
 
 
Wong
+1 #11 WewWong 2013-08-28 04:11
Ini Bukannya Detail,Tapi Emang Sengaja Bikin Cerita Biar Bisa Diterima... Ujung2nya Islam... Islam Lagi... Apalagi Bikinan Eramuslim... Gak Jauh2 Dari PKS Mah Ini... Metode Cuci Otak Lewat Media...
Keakuratan Informasi Bukan Hanya Dari Sumber Yang Akurat, Namun Pembaca Cerdas Akan Mendapat Informasi Akurat.
Quote
 
 
ipay damdam
-1 #10 siapa sebenarnya soehartoipay damdam 2013-07-23 03:40
nama soeharto sudah disimpan lama oleh CIA sebagai barisan sakit hati serdadu soekarno,yang kelak akan menjadi mitra setia. dia (soeharto)meman g teman dekat para pendekar pesisir yang sekarang masih banyak di Indonesia dari konglomerat bankir sampai pemilik toko. anak dari seorang bapak yang belum jelas silsilahnya..
Quote
 
 
dievie
0 #9 asalkandievie 2013-07-10 02:39
Quoting Donald Duck:
Hebat Om Mendetail Banget,. mank om ada di saat semua kjadian. itu. atau cuma denger katanya dari kabar.. ? bener bener tak ada jasa nya para pemimpin pemimpin itu dimata om.., yg hebat itu om ya..


mmg knyataannya seperti itu pada masa orde baru, kalo kau ttg sejarah lebih dalam mgkin kw tw kbnerannya.. kalo mmg posisi pmbuat crta ini ada disaat kjadian itu apa guna nya sjarah. jdi org itu mlihat bru mnilai, jgn tw nya cmn kritik, phami itu. dulu aku sangat mngagum agum kan suharto, stelah aku tahu kbnrannya suharto jauh lebih rendah dri kotoran babi. logika kw brfikir, pda msa pnurunan suharto knpa msa bgtu bnyak dan berantusias ingin mnurunkan suharto smpai bnyak mmkan korban. pkek logika.
Quote
 
 
Suryo
0 #8 lumayanSuryo 2013-07-10 01:13
ya............. tapi ada yang perlu diluruskan. kalo kita mau bicara sebelum RI BERDIRI. ya semua ethnic atau daerahsudah ada aturan. gak cuma aceh. Itulah perlunya ada pemersatu yang bisa diterima semua daerah dan ethnic di tanah air ini, yaitu PANCASILA.tapi yang bener menerapkannya jangan seperti orde baru Pancasila hanya dimanfaatkan sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan. Bukan sebagai DASAR NEGARA yang merupakan kristal dari nilai nilai budaya bangsa.
Quote
 
 
Aktipeace
0 #7 hanya pendapatkuAktipeace 2013-06-19 15:40
Inilah Negara kita....sebagia n rezim Suharto masih ada tapi terbungkus rapi saat ini..mari sama2 belajar untuk menjadi org yg lebih baik.
Quote
 
 
seno
0 #6 yoseno 2013-06-19 15:04
betul, ust Hasan Kiat dimasukan LP Cipinang, tanpa pengadilan. Saya tahu karena dia masih paman saya :-)
Quote
 
 
garuda sakit flu
0 #5 rasakangaruda sakit flu 2013-06-18 01:35
rasakan kau bapak kehancuran..
Quote
 
 
Donald Duck
-10 #4 Ck ck ck ..Donald Duck 2013-03-24 02:35
Hebat Om Mendetail Banget,. mank om ada di saat semua kjadian. itu. atau cuma denger katanya dari kabar.. ? bener bener tak ada jasa nya para pemimpin pemimpin itu dimata om.., yg hebat itu om ya..
Quote
 
 
Donald Duck
-2 #3 Ck ck ck ..Donald Duck 2013-03-24 02:35
Hebat Om Mendetail Banget,. mank om ada di saat semua kjadian. itu. atau cuma denger katanya dari kabar.. ? bener bener tak ada jasa nya para pemimpin pemimpin itu dimata om.., yg hebat itu om ya..
Quote
 
 
pembaca
+3 #2 Merdekapembaca 2013-01-02 09:45
Ngga banyak ulasan seperti ini, bagus dan mempunyai dasar bukti, apabila memang benar faktanya ,,Ngga ada manusia yang bisa menyakiti terlebih menghilangkan nyawa sesama manusia.,
Sejarah diketahui benar nya untuk menuju kebaikan.
Quote
 
 
annisa az-zahra
+5 #1 kekejaman suhartoannisa az-zahra 2012-12-30 13:53
jauh dibawah tanah sana dia telah mendapatkan balasan yang setimpal
Quote
 

Tambah Komentar


Kode keamanan
Segarkan