larger smaller reset

Berakhirnya Era Partai Dakwah

pks-logo

Oleh : Ridwansyah Yusuf Achmad

Seiring dengan berlangsungnya Munas ke-2 Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kedua di salah satu hotel termahal di Nusantara ini, Hotel Ritz-Carlton Jakarta, berakhir pula era partai yang menjadikan dakwah Islam sebagai basis gerakannya. Ini tentu menjadi pukulan telak bagi kalangan yang mengharapkan perubahan dimulai dari gerakan yang berbasis moral dan menjadikan agama sebagai ruh dari gerakan itu.

Ditabuhnya gema reformasi di tahun 1998 memunculkan partai partai bernuansakan Islam baru untuk mendampingi PPP sebagai representatif Islam di masa Orde Baru. Lahirnya PKB, PAN, PBB, dan PKS di era reformasi lalu seakan ingin menjawab kerinduan masa lalu akan romantika kejayaan Partai Masyumi.

Semua partai seakan menggadang-gadang akan menjadi pemersatu partai-partai Islam di Indonesia dengan menjadi idelogi (pure) Islam sebagai basis gerakannya. Akan tetapi seiring waktu satu per satu partai ini berguguran dan mulai menyandingkan istilah nasionalis-religius sebagai citra dari partai tersebut.

Perlahan namun pasti partai Islam ini tidak lagi menjadikan Islam sebagai citra dan ruh pergerakan dari partai tersebut. Tersisalah pada akhir 2004 hanya PKS yang masih cukup berani mencitrakan sebagai partai dakwah Islam.

Pemilu 2009 pun berakhir dengan bisa dikatakan kekalahan dari partai Islam. Semua partai turun dalam peraihan suara kecuali PKS yang hanya naik beberapa poin saja. Hal ini yang mungkin menjadi alasan kenapa pula pada akhirnya PKS menjual semangat dakwahnya menjadi semangat meraih kemenangan suara yang cenderung sangat mengejar popularitas.

Pergeseran pola gerak PKS mulai tampak dengan sangat sejak periode pemerintahan 2009-2014 ini. PKS mulai tampak pragmatis dalam beberapa isu yang ada serta lebih memilih diam atas isu-isu yang memungkinkan PKS terganggu stabilitas koalisi dengan partai pemenang Pemilu 2009. Ini menjadi sebuah pertanyaan bagi kalangan yang berharap banyak pada partai dakwah yang mengklaim dirinya sebaga partai yang bersih peduli dan profesional. PKS seakan saat ini tidak tegas dan keras dalam menegakkan kebenaran.

Jika menilik saat Pemilu 1999 PK (nama sebelum PKS) hanya mengirimkan 7 politisi Islam militan ke Senayan dan seorang Nur Mahmudi Ismail sebagai Menteri Kehutanan. Akan tetapi perubahan yang terasa karena ruh dakwah setiap individu ini berbuah hasil yang signifikan. Sebutlah Menteri Kehutanan Nur Mahmudi Ismail yang dikenal sederhana dan membersihkan koruptor di Kementerian Kehutanan saat itu.

PKS pun tampaknya mulai menggeser beberapa nama kader yang dulu membesarkan partai ini dengan politisi muda yang tampak populis dan pragmatis. Sebutlah nama Hidayat Nur Wahid yang sekarang hilang ditelan bumi. Padahal sebelumnya beliau seorang Ketua MPR. Atau didepaknya nama Saiful Islam yang dikenal sebagai seorang yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari PKS.

Perubahan lain pun terjadi dari pola pergerakan PKS adalah semangat yang ditularkan kepada kadernya. PKS dulu mendoktrin kadernya untuk mengajak masyarakat berislam dengan baik atau berdakwah secara utuh. Akan tetapi kini semangat yang ditularkan adalah untuk mengajak sebanyak-banyaknya orang yang mencoblos PKS. Proses pergerakannya pun hanya sebatas saat pemilu kepala daerah atau pemilu nasional sehingga semakin membenarkan PKS semakin berpikir instan dan pragmatis untuk merebut kemenangan.

Jika dulu semangatnya adalah ilallah (untuk Allah) maka sekarang adalah ilal hizb (untuk partai). Semangat pelayanan dan pengabdian masyarakat yang menjadi jiwa 'peduli' PKS pun juga semakin berkurang dan tergantikan dengan politik pencitraan yang menghabiskan banyak uang dan cenderung populis.

Hingga terakhir saat Munas ke-2 ini PKS akhirnya mengorbankan dana sangat besar untuk untuk mengadakan acara di hotel yang memiliki tarif rata-rata kamarnya sekitar 3 juta rupiah. Turut diundangnya Dubes Amerika Serikat dan memberikan kesempatan baginya untuk berbicara menjadi pertanyaan.

Apakah PKS akan bersahabat dengan Amerika Serikat? Jika iya jawabannya maka jelas sangat pragmatisme partai ini dan semakin tampak bahwa PKS bukan lagi partai dakwah. Akan tetapi hanya sekedar partai politik biasa yang mencoba merangkul semua kalangan untuk meraih kemenangan. (http://al-ikhwany.blogspot.com/2010/06/oleh-ridwansyah-yusuf-achmad-seiring.html)

 Segala Cita-Cita Berakhir di Ritz Carlton

Oleh : Muhammad Fatih

Segala cita-cita PKS berakhir di Hotel The Ritz Calrton. Partai PKS tidak lagi menjadi partai dakwah, yang memiliki jargon 'bersih, peduli, dan profesional', dan kemudian menjadi partai 'terbuka', yang dioreintasikan bagi semua golongan.

Di tempat yang sangat ekslusif, dan hanya dapat dikunjungi oleh kalangan terbatas, di The Ritz Carlton itu, teka-teki tentang kepemimpinan, sasaran, arah, kebijakan, langkah masa depan yang akan dituju Partai PKS, semuanya menjadi 'clear'. Semuanya sudah terekpresikan dalam Munas II itu.

Dari kepemimpinan tidak ada perubahan tetap wajah-wajah lama, termasuk Ketua Majelis Syuro, yaitu tetap Hilmi Aminuddin. Sasaran yang ingin diraih PKS menjadi partai tiga besar di pemilu 2014. Arah yang dituju PKS menjadi partai terbuka, inklusif, dan mewadahi semuanya golongan dan agama di Indonesia. Tidak eksklusif. Artinya PKS akan menjadi wadah semua golongan dan agama, melepaskan diri dari jati dirinya sebagai partai dakwah, yang membawa cita-cita dan prinsip-prinsip yang ingin menegakkan Islam. Adapun kebijakan PKS tetap menjadi 'backbone' (tulang punggung) pemerintahan SBY, dan sekarang mengarah lebih dekat dengan AS. Itulah kesimpulan Munas II PKS, yang baru usai.

PKS yang baru saja selesai melaksanakan Munas II, di Hotel The Ritz Carlton dengan biaya Rp 10 miliar, di mana sebelumnya telah melangsungkan musyawarah Majelis Syura, yang berlangsung medio Mei, di hotel mewah JW Marriott, Kuningan. Pertemuan di JW.Marriot menandai berakhirnya anggota Majelis Syuro, periode 2005-2010, dan sekaligus melantik anggaota Majelis Syuro yang baru, periode 2010-2015.

Dengan disyahkannya anggota Majelis Syuro yang baru itu, selanjutnya dilangsungkan pemilihan Ketua Majelis Syuro, dan pengukuhan presiden partai, pengukuhan ketua MPP (Majelis Pertimbangan Partai), pengukuhan ketua DSP (Dewan Syariah Pusat), dan pengukuhan Ketua Majelis Syuro, Hilmi Aminuddin. Semunya hanya tinggal 'ketok palu'. Berjalan dengan lancar, dan tidak ada 'dissent' (perbedaan), setuju secara aklamasi.

pks

Barangkali inilah sebuah pesta politik luar biasa bagi sebuah partai politik Islam yang selama ini mengusung nilai-nilai da’wah berupa kejujuran, kesederhanaan dan kebersahajaan. Hanya dalam waktu sepuluh tahun, PKS yang awal berdirinya menggunakan prinsip “al-hizbu huwal jama'ah, wal jama'ah hiyal hizb" (partai adalah jama'ah, dan jama'ah adalah partai), di mana PKS yang hakikatnya representasi Jamaah Ikhwan itu, kini telah mengambil jalan baru, yang ingin dicitrakan lebih inklusif, dan tidak eksklusif, kemudian memilih sebagai partai : terbuka.

Ketua Majelis Syuro Hilmi Aminuddin, menegaskan, inklusifitas yang dibangun PKS saat ini sebagai bagian dari konsekuensi pelaksanaan ajaran Islam. Ajaran Islam, kata Hilmi, harus menerima pluralitas sebagai kesadaran positif mendorong dinamika kehidupan. "Inklusif ini bukan taktik atau strategi, tapi pelaksanaan ajaran Islam yang hakiki", tegasnya. Hilmi Aminuddin, menambahkan, bahwa cita-cita untuk menjadikan PKS sebagai partai terbuka, sejatinya sudah sejak Munas di Bali tahun 2008.

Pernyataan yang lebih ambisius, secara ekplisit disampaikan oleh Sekjen PKS Anis Matta, yang menyatakan, "Kami harus mengadakan lompatan besar untuk masuk menjadi tiga besar pada pemilu 2014”, ujar Anis Matta. “Parpol Islam harus tidak lagi menampilkan citra yang kaku, eksklusif dan ideologis, melainkan justru tampil segar, ringan, pluralis", tegasnya.

"Isu 'Negara Islam' dan 'Piagam Jakarta' tak mampu menguatkan identifikasi pemilih muslim kepada parpol Islam. Perubahan substansial harus dilakukan parpol Islam”, tambah Fahri Hamzah, Wakil Sekjen PKS.

pks1

PKS memang bertekad melakukan perubahan mendasar dalam gerakan politiknya ke depan, dengan mulai membuka diri sebagai partai politik yang lebih terbuka dari berbagai kalangan. Hal itu terlihat dari sikap PKS yang ingin merangkul non-muslim, bukan saja sebagai anggota partai atau anggota legislatif, tetapi juga pengurus partai dari DPC hingga DPP. Ini terkait dengan langkah kebijakan yang menginginkan PKS menjadi partai tiga besar.

“Apapun agamanya (Yahudi, Nashara, Hindu, Budha) sepanjang memiliki garis perjuangan yang sama, adalah warga PKS”, kata Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaq menjelang pembukaan Munas. Dia tidak menampik ada rencana perubahan AD/ART PKS terkait dengan pengakomodasian kalangan non-muslim untuk menjadi pengurus dan pimpinan PKS di setiap level struktural partai.

Menanggapi hal itu, pengamat politik dari Universitas Paramadina, Burhanuddin Muhtadi, menilai sikap PKS yang mengakomodasi kalangan non-muslim sebagai strategi meraih suara lebih besar pada pemilu 2014, “Itu bagian dari strategi PKS untuk memperbesar ceruk pemilih,” katanya.

Untuk menunjang pencapaian target tersebut, PKS menginginkan agar koalisinya dengan pemerintah tetap terjaga dan solid hingga Pemilu 2014 mendatang. “Bapak Presiden SBY, bagi kami kebersamaan dalam koalisi ini bukan sekedar agenda program politik kami, tetapi itu merupakan aqidah kami, iman kami,” tegas Ketua Majelis Syura PKS, Hilmi Aminuddin. “Kalimat itu masih tetap berkobar. Dalam dua masa jabatan SBY itu, kami tetap berkomitmen melanjutkan koalisi permanen dengan SBY,” ujarnya.

pks2

Hilmi mengakui banyak pihak yang berusaha mengganggu hubungan PKS dengan SBY. “Banyak yang iri, mengapa utadz Hilmi gampang sekali mondar-mandir ke Cikeas. Tetapi percayalah Pak SBY, bahwa koalisi PKS adalah koalisi dengan Soesilo Bambang Yudhoyono.” kata Hilmi Aminuddin, yang disambut tepuk tangan gemuruh peserta Munas. “Koalisi ini adalah backbone (tulang punggung), apabila patah, maka kaki tidak bisa digerakkan, tangan lunglai, dan kepala terkulai.” tegas Ketua Majelis Syuro.

Dalam pembukaan Munas yang dibuka oleh Presiden SBY dan dihadiri para menteri kabinet, para elit partai politik dan Duta Besar negara sahabat, yaitu Amerika Serikat, Australia dan Jerman, Presiden SBY menasihati Presiden PKS yang mengeluh dengan banyaknya kritikan terhadap PKS sembari mengutip pernyataan Presiden Amerika, Abraham Lincoln, “Apabila besok pagi Presiden Amerika bisa berjalan di atas air, niscaya rakyat Amerika akan berkomentar, “Itu kan karena Presiden tidak bisa berenang”; agar Pak Luthfi sabar dan terus bekerja keras. “Anda belum setahun dikritik. Sedang saya sudah lebih dari lima setengah tahun dikritik”, ujar SBY.

Dalam Sidang Majelis Syura PKS, Rabu (6 Juni), dengan agenda amandemen anggaran dasar/ anggaran rumah tangga (AD/ART) terjadi perdebatan terkait dengan usulan melegal-formalkan keanggotaan dan kepengurusan non-muslim dalam PKS.

Sidang yang berjalan lambat lantaran masih ada anggota Majelis Syura yang keberatan dengan usulan keanggotaan non-muslim. Mereka khawatir pembukaan ruang bagi kalangan non-muslim akan berimbas terhadap basis massa PKS yang berasal dari kalangan Muslim. Namun, pada sidang sesi ke-2 sekitar pukul 23.00, “Semua anggota Majelis Syura akhirnya sepakat melegal-formalkan non-muslim dalam keanggotaan/kepengurusan PKS.” jelas Mahfud Shiddiq, salah seorang panitia Munas II PKS.

pks3

Nampaknya, PKS untuk mencapai ambisi politiknya menjadi partai tiga besar dalam pemilu 2014, melakukan 'double cover' dalam berpolitik. Partai PKS menjadikan Presiden SBY bukan hanya sebagai 'patron'nya, tetapi juga menjadikan SBY sebagai 'midholah' (pelindung) politiknya, agar PKS terus dapat melaksanakan tujuan-tujuan politiknya, mencapai pusat kekuasaan.

Apakah dengan dukungan PKS sebagai 'backbone' pemerintahan SBY, PKS harus mengorbankan kasus Bank Century? Padahal, PKS yang sangat berapi-api, ketika membahas kasus bail out Bank Century, dan menghasilkan keputusan opsi C di dalam Paripurna DPR. Tapi, sesudah Menkeu Sri Mulyani mengundurkan dari jabatannya, dan menjadi Managing Direktur Bank Dunia, kemudian terbentuknya Setgab, yang dipimpin Ketua Umum Golkar, Aburizal Bakrie, PKS menyetujui kasus Century di tutup. Melalui sebuah kesepakatan antara anggota koalisi, akhirnya mereka menandatangi sebuah fakta, yang PKS di wakili Sekjen PKS, Anis Matta menandatangani penutupan kasus Century. Padahal, jutaan rakyat Indonesia mengharapkan adanya penegakkan hukum. Tetapi, segalanya berakhir dengan adanya dukungan PKS kepada Presiden SBY, kasus Century menjadi bagian masa lalu. Ini sebuah ironi.

Pendekatan PKS kepada AS juga termasuk bagian dari langkah politiknya untuk memudahkan menuju ke pusat kekuasaan. PKS masih merasa tidak cukup dengan dukungan politik dari SBY, yang sebenarnya juga pro-Barat (AS), dan lima tahun ke depan SBYakan berakhir, maka partai yang sebelumnya sebagai partai dakwah ini, bukan hanya melakukan komunikasi politik, tetapi juga mungkin negosiasi politik dengan AS.

Dikalangan elite politik PKS masih memiliki paradigma tidak ada kekuasaan baru di negara Dunia Ketiga yang tanpa restu dari Washington. Mungkin ini adalah sebuah 'common sense' dari elite PKS, karena paradigma yang masih melekat dalam 'mindset' mereka, di mana AS masih digambarkan sebagai 'adi daya' (super power). Kehadiran Dubes AS Cameron Hume, di arena Munas, sebagai sinyal akan adanya langkah-langkah ke arah 'mutual trust' antara PKS dengan AS.

Pandangan elite PKS, sebelum mereka mengelola kekuasaan di masa depan, mereka berpendapat harus ada semacam 'guarantee' (jaminan), yang sifatnya dukungan politik dari AS. Dengan dukungan politik dari AS, maka PKS akan mampu mengelola negara secara efektif.

Memang, faktanya banyak rejim di negara-negara Dunia Ketiga, yang tidak sejalan dengan ideologi, kepentingan, dan kebijakan luar negeri AS, nasibnya menjadi malang, di turunkan. Belajar sejarah politik dan kondisi global inilah, PKS mencoba melakukan 'preparing' (persiapan) dalam menapaki jalan menuju kekuasaan. Pendekatan politik dengan AS, sebagai pandangan yang memang keharusan bagi elite PKS, karena AS di mata mereka sebagai kekuatan yang mempunyai pengaruh politik secara global.

pks4

Padahal, segalanya telah berubah, dan AS tidak lagi menjadi kekuatan 'adi daya' (super power), dan sekarang semakin melemah. AS memiliki utang luar negeri 360 persen dari total PDB nya. AS mengalami defisit anggaran (APBN) yang lebh dari $ 1 triliun dolar. AS juga mengalami defisit perdagangan dengan negaranya mitranya. AS dihentakkan oleh resesi ekonomi, yang sampai sekarang belum pulih. AS harus memikul beban biaya militernya di luar negeri, seperti di Irak, Afghanistan, Jepang, dan Uni Eropa. Tanda-tanda kebangkrutan AS sudah sangat nampak.

Tapi, mengapa elite PKS masih mengharapkan dukungan politik, bukan hanya dari Presiden SBY, tetapi juga dari AS, yang notabene sudah mengalami kebangkrutan? AS tidak lagi menjadi 'adi daya' (super power) tunggal, dan sekarang muncul konfigurasi politik baru, atau munculnya regionalisme baru di berbagai kawasan. AS sudah mulai ditinggalkan sekutu-kutunya.

Mengapa pragmatisme politik, yang dilakukan bukan hanya menjadikan SBY sebagai patron politiknya, tetapi juga pelindungnya, dan sekaligus ingin mendapatkan 'guarentee dari AS, yang masih dalam 'mindset' dapat menjadi jaminan untuk mencapai tujuan politik di masa depan? Langkah-langkah yang sekarang diambil oleh elite PKS itu sebenarnya, tidaklah selamanya menguntungkan karena mengabaikan nilai-nilai prinsip. “Walau petinggi PKS membantah partainya pragmatis, selama beberapa tahun terakhir, PKS memang lebih pragmatis dalam berpolitik. Sama seperti semua partai lainnya karena tujuannya sama, yaitu untuk berkuasa”, kata seorang pengamat politik.

Dalam survei Litbang Kompas, 16 Jnui, terungkap bahwa PKS ternyata merupakan partai yang “Paling Tidak Konsisten” dalam sikap politiknya di DPR dibanding partai-partai koalisi pemerintah lainnya. Kalau survei ini benar, berarti pernyataan Ketua Majelis Syura PKS, Hilmi Aminuddin, di depan Presiden SBY dan ribuan peserta Munas, apakah bisa dipertanyakan?

Apakah dengan dukungan politik SBY dan AS, di masa depan PKS akan menjadi patai tiga besar? Sehingga, harus melakukan pragmatisme politik, dan mengubah esensinya partai, seperti sekarang menjadi partai terbuka? Sebuah langkah penuh dengan 'gambling', karena hanya terobsesi dengan kekuasaan, sementara prinsip-prinsip dalam berpolitik, sebagai partai dakwah ditanggalkannya.

Mestinya, para elite PKS tidak harus menjadikan SBY sebagai 'midholah'nya, dan mencari jaminan politik dari Washington. Cukup dengan kerja keras dengan membela seluruh kepentingan rakyat, elite politik hidup dengan jujur, bersih, peduli, bersahaja, tidak bergaya kosmopolitan, yang tidak sesuai dengan kondisi rakyat yang ada. Cara ini lebih masuk akal untuk menapaki jalan menuju kekuasaan.

Tapi, segalanya telah berlalu, dan hanya dapat mengucapkan 'say good bye to PKS'.

Mohammad Fatih.

Wallahu'alam

Terkait: Membaca Aliran Politik PKS Pasca Ritz Carlton

Sumber: http://al-ikhwany.blogspot.com/2010/06/segala-cita-cita-berakhir-di-ritz.html 

Comments (9)add comment

Chahyadi said:

-
to: muslimpaladin
Nabi isa turun bukan sebagai nabi lagi dan gak bawa ajaran baru lagi. Nabi isa mengikuti ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
 
September 04, 2010
Votes: +0

saya->muslimpaladin said:

-
nabi Isa tak bakalan turun lagi bro, itu bukan pokok aqidah lagee, ubek2 dah quran hadits sahih, mana ana nabi lagi setelah Muhammad ? Nabi Isa nanti bakal jadi saksi hari kebangkitan, beliau akan ditanya bener gak mengajarkan dia sebagai Tuhan? pastinya dia akan membantah.
 
August 23, 2010
Votes: +0

admin said:

Emissary of Hell
to: muslimpaladin,

Jika kita membicarakan turunnya nabi Isa as di akhir zaman, maka umumnya dalam persepsi orang istilah tersebut berhubungan erat dengan kejadian kiamat, atau sa’ah al-kubra. Persepsi demikian tidak semuanya benar, sebab antara akhir zaman dan sa’ah al-kubra memiliki konsep dan dimensi yang berbeda, walaupun kadang dalam leksikal literatur agama (Islam) yakni al-hadits senantiasa disebutkan demikian. Kalau kita lebih cermat meneliti nubuwat tentang akhir zaman, kita akan mendapati sebuah pandangan global, bahwa akhir zaman adalah merupakan urutan kejadian dan waktu yang dialami manusia menjelang tibanya sa’ah al-kubra. Kejadian dan waktu yang akan terjadi itu tentu saja tidak diukur dalam tataran kuantitatif. Dalam artian tidak dihitung dari tahun berapa sampai tahun berapa.

Namun dalam literatur hadits, secara implisit, akhir zaman dimulai sejak diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sampai menjelang datangnya sa’ah al-kubra yakni disaat Islam betul-betul musnah dari muka bumi. Dalam arti sederhana akhir zaman adalah urutan waktu dan kejadian yang dialami umat Islam semenjak diutusnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sampai menjelang tibanya sa’ah al-Kubra.

Dari pengertian diatas, maka dianggap keliru, kalau persoalan tibanya akhir zaman hanya bertumpu pada kemunculan oknum-oknum yang menjadi tokoh sentral pada saat itu, yakni yang pertama oknum Ya’juj wa Ma’juj, al-Masih ad-Dajjal dan dajjal, Imam Mahdi, dan turunnya Nabi Isa a.s.

Yang pada realitasnya mengenai kemunculan imam Mahdi dan Nabi Isa a.s, terjadi ikhtilaf (kontroversi) dikalangan umat. Sebagian umat mengimani kedatangannya. Sebagian lagi berpendapat bahwa, nubuwat tentang turunnya imam mahdi dan Nabi Isa a.s merupakan produk politik kalangan tertentu, kelompok ini berpegang pada asumsi bahwa nubuwat imam mahdi dan Nabi Isa a.s bertumpu pada hadits yang memiliki validitas dhan. Kalaulah persolan imam mahdi adalah masalah yang urgent, kenapa tidak tersebut dalam Al-Qur’an barang satu ayat pun. Jadi menurut kelompok ini meskipun telah disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih, namun kebenarnnya berada dalam taraf dhani dilalah. Sedangkan kelompok terahir menyakini bahwa imam mahdi tiada lain Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sendiri.

Dari kompleksnya persoalan menyangkut akhir zaman, ada beberapa persoalan yang luput dari pandangan umumnya orang yakni yang pertama proses takhrif (pengrusakan) umat manusia yang dilakukan oleh oknum Ya’juj wa Ma’juj, dan yang kedua persoalan al-mujadalah (dialektika) kehidupan manusia yaitu pertarungan al-haq dan al-bathil, atau dengan istilah lain, akhir zaman itu adalah pertarungan akbar terakhir antara manusia dengan musuhnya, setan. Setan beserta bala tentaranya dari golongan jin dan manusia mengerahkan segala kekuatan dan upaya untuk dapat menggiring manusia kedalam kesesatan.

Mari kita renungkan bersama ayat al-Qur'an dan hadits berikut ini:

"Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)." (QS Yusuf 12:106)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: “Wahai Adam.“ Nabi Adam ‘Alaihissalam menjawab: “Labbaika, kemuliaan milik-Mu dan segala kebaikan berada di tangan-Mu”. Kemudian Allah berfirman: “Keluarkanlah utusan neraka”. Adam bertanya; “Apa yang dimaksud dengan utusan neraka? (berapa jumlahnya?) “. Allah berfirman: “Dari setiap seribu, sembilan ratus sembilan puluh sembilan dijebloskan ke neraka!, Para shahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, adakah diantara kami seseorang yang selamat?”. Beliau bersabda: “Bergembiralah, karena setiap seribu yang dimasukkan ke neraka, dari kalian cuma satu, sedang sembilan ratus sembilan puluh sembilannya dari Ya’juj dan Ma’juj”. (HR Bukhari 3099)

Wallahu’alam,

Semoga bermanfaat
 
August 09, 2010
Votes: +0

muslimpaladin said:

Isa tidak akan datang ke bumi lagi??
to admin. saya ingin mengklarifikasi pernyataan anda yg mengatakan kalau Isa tidak akan turun ke bumi lagi karena tugas kenabiannya sudah selesai. Bukankah mempercayai Turunnya Isa di akhir zaman merupakan pokok akidah semua Ulama dan Kaum muslimin??
 
August 09, 2010
Votes: +0

admin said:

Dakwah
To: Asep,

Anda khawatir dan kecewa? Itu merupakan konsekuensi logis. Sudah saatnya kita kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dengan menjauhi segala macam bid’ah, bukankah tanda-tanda akan berakhirnya akhir zaman sudah lengkap semua kecuali tegaknya kembali kekhilafan Islam yang kehadirannya akan tergantung kepada syarat-syarat obyektif dan subyektif Allah Azza wa Jalla. Karena Ya’juj wa Ma’juj, al-Masih ad-Dajjal dan Dajjal sudah berada disekeliling kita namun banyak yang tidak menyadari, Nabi Isa as tidak akan datang untuk yang keduakalinya karena tugas kenabiannya sudah rampung dan sudah wafat, sementara mengenai kemunculan imam Mahdi terjadi ikhtilaf (kontroversi) dikalangan umat. Sebagian menyakini kedatangannya, sebagian lagi berpendapat bahwa, perkara imam mahdi merupakan produk politik kalangan tertentu, kelompok ini berpegang pada asumsi bahwa nubuwat imam mahdi bertumpu pada hadits yang memiliki validitas dhan. Kalaulah persolan imam mahdi adalah masalah yang penting, kenapa tidak disebutkan dalam Al-Qur’an barang satu ayat saja. Jadi menurut kelompok ini meskipun telah disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih, namun kebenarnnya berada dalam taraf dhani dilalah. Sedangkan kelompok terahir menyakini bahwa imam mahdi tiada lain Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sendiri.

Hadits di bawah ini menarik utuk bahan muhasabah kita bersama:

"Perhatikanlah dengan siapa kalian bergaul dan dari siapa kalian belajar mengenai agama kalian, sesungguhnya setan akan datang pada akhir zaman menyerupai seorang laki-laki dan mengatakan “telah berkata kepada kami, telah mengabarkan kepada kami”. Jika kalian bergaul dengan laki-laki tersebut, maka tanyalah tentang identitasnya, asal keturunannya dan keluarganya, maka tolaklah jika tidak jelas tentangnya." (H.R Dailami)

Allahu’alam

Semoga bermanfaat
 
July 17, 2010
Votes: +0

Asep said:

Dakwah
Saya merasa khawatir dan kecewa kalau pola dan jalur politik PKS sudah mulai pragmatis lebih mengedepankan partainya daripada dakwahnya,sebab kalau pragmatis sudah menjadi idealisme maka akan menghilangkan prinsip-prinsip dasar dalam islam,sebab sudah jelas kepada siapa umat islam harus wala dan barra,kepada saudara-saudaraku yang ada di PP PKS hati-hatilah dengan syubhat dan fitnah di panggung politik !
 
July 17, 2010
Votes: +0

admin said:

Allahu'alam

to: Yall,

Ungkapan si penulis diakhir tulisannya:

“Tapi, segalanya telah berlalu, dan hanya dapat mengucapkan 'say good bye to PKS'.”

Menurut hemat kami hal tersebut sudah mencerminkan apa yang Anda kuatirkan. Mari kita renungkan bersama hadits-hadits berikut ini sebagai bahan muahasabah:

“Suatu ketika ihwal Dajjal dibicarakan di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kemudian beliau bersabda: ”Sungguh fitnah yang terjadi di antara kalian lebih aku takuti dari fitnah Dajjal, dan tiada seseorang yang dapat selamat dari rangkaian fitnah sebelum fitnah Dajjal melainkan akan selamat pula darinya (Dajjal). Dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini – baik kecil ataupun besar - kecuali dalam rangka menyongsong fitnah Dajjal.” (HR Ahmad)

Laa Ilaaha Ilallah, celaka bangsa Arab dari bahaya yang telah dekat ini, telah terbuka dinding Ya’juj dan Ma’juj sebesar ini sambil melingkarkan jari telunjuk dengan ibu jarinya. Zainab bin Jahsy bertanya: "Ya Rasulullah! Dapatkah kami binasa, padahal masih ramai salihin di antara kami?" Jawab Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam: "Ya,! Jika telah banyak kejahatan.” (Riwayat Muttafaq Alaihi).

“Dari Abu Said Al-Khudri ra bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda. “Allah berkata, ‘Wahai Adam, berdirilah dan keluarkan penghuni neraka.’ Adam berkata, ‘Labbaik, wa sa’daik, segala kebaikan berada dalam kekuasaan-Mu. Ya Tuhan, bagaimana penghuni neraka tersebut? Allah menjawab, “Dari setiap seribu terdapat sembilan ratus sembilan puluh sembilan.” … Abu Said mengatakan bahwa mereka berkata, “Siapakah di antara kita yang termasuk orang tersebut?” Rasulullah menjawab. “Sembilan ratus sembilan puluh sembilan Ya’juj dan Ma’juj, sedangkan dari kalian hanya satu” (HR Bukhari, Muslim dan Ahmad)”

Realitas kehidupan umat manusia di seluruh dunia dewasa ini hampir semuanya berada di bawah sistem atau menjalankan sistem Ya’juj dan Ma’juj (sekuler-atheis), bila Anda perhatikan al-Qur’an 18:94 dan 21:96 dan hadits di atas, mungkin Anda sependapat dengan kami bahwa kita sekarang berada dalam final stage di akhir zaman, karena nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam adalah nabi akhir zaman, Ya’juj wa Ma’juj maupun al-Masih ad-Dajjal beserta balatentara Dajjal sudah berada di sekeliling kita.

Allahu’alam

Semoga bermanfaat
 
July 16, 2010
Votes: +0

Yall said:

...
Apakah itu berarti PKS akan tetap menghalalkan ekonomi Indonesia yang penuh riba, melakukan pajak non Islami, menghalalkan zina, khamr dan sebagainya demi partai yang terbuka dan tidak Islami lagi?..
 
July 16, 2010
Votes: +0

bocahe said:

see?
see? tampaknya arus elite terlalu kuat di pemerintah sampai2 semuanya kena.
 
July 11, 2010
Votes: +0

Write comment

busy