larger smaller reset

Abu Vulkanik Mengandung Silika, Warga Diimbau Gunakan Masker

letusan_merapi_terbesar_republika

Jumat, 05/11/2010 - 19:14

PURBALINGGA, (PRLM).- Masyarakat Purbalingga Jawa Tengah diimbau tidak keluar rumah jika tidak ada keperluan mendesak, sebab abu vulkanik yang menyebar di sejumlah daerah di selatan Jawa Tengah, dari Kebumen Wonosobo, Purbalingga, Banyumas hingga perbatasan Jawa Tengah - Jawa Barat mengandung bahan kimia yang merusak kesehatan.

Wakil Bupati Purbalingga, Sukento Ridho Marhaendrianto, Jumat (5/11) mengatakan, mengimbau masyarakat Purbalingga untuk memakai masker atau penutup hidung dan mulut jika bepergian keluar rumah. Wabup berharap, masyarakat tidak menganggap enteng abu vulkanik yang secara medis sangat berbahaya bagi kesehatan. “Saya mengimbau, kalau tidak ada keperluan yang sangat mendesak, tolong tidak usah keluar rumah," tandasnya.

Warga diminta menghindari berada di ruang terbuka. Tutup semua jendela dan pintu. Bagi penjual makanan juga harus menutup dagangannya agar tidak terpapar debu berbahaya ini. Sebab, menurut Kepala Seksi Kesehatan Dasar dan Institusi Dinas Kesehatan Purbalingga dr. Retno Sri Haswati, abu vulkanik memiliki komposisi unsur Si 02 atau silika, yakni mirip bahan industri kaca dan merupakan glass hard yang sangat halus.

“Tapi jika dilihat dengan mikroskop, tepi dan ujungnya runcing. Sehingga jika terhirup akan merobek jaringan paru-paru, dan jika terkena mata bisa merusak mata. Jadi jangan remehkan masker jika berpergian ke luar ruangan,” tegasnya.

Terkait dengan unsur kimia dalam abu vulkanik yang membahayakan kehatan. Pemkab Purbalingga membagikan masker secara gratis kepada warganya. Kepala Bagian Humas Setda Purbalingga Drs. Rusmo Purnomo menambahkan, pihaknya telah membagikan masker sekitar 6.500 lembar ke masyarakat tapi itu tidak mencukupi.

Pemkab akan membeli dalam jumlah besar langsung ke pabriknya di Bandung. ”Hasil Rakor Pasca Bencana, semua stok masker telah dibagikan. Jumlah masih belum mencukupi kebutuhan. Oleh karena Pemkab melalui Dinas Kesehatan saat ini langsung meluncur ke Bandung untuk memborong masker langsung dari pabriknya,” jelas Rusmo Purnomo. (A-99/das)*** http://www.pikiran-rakyat.com/node/126480

Warga Jabar Diminta Waspadai Abu Vulkanik Merapi

Nusantara / Sabtu, 6 November 2010 00:17 WIB

Metrotvnews.com, Bandung: Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf mengimbau warganya tak panik setelah abu vulkanik Gunung Merapi mencapai provinsi tersebut. Meski demikian, ia meminta warga untuk tetap waspada atas rentannya bencana yang terjadi beberapa waktu belakangan ini.

"Adanya sebaran debu vulkanik yang masuk ke wilayah Jabar ini, saya meminta masyarakat agar tidak panik. Namun, kita harus tetap harus waspada," kata Dede Yusuf, usai memimpin rapat antisipasi penanggulangan bencana di Gedung Sate Bandung, Jumat (5/11).

Ia juga membahas keadaan gunung api yang masih aktif di Jawa Barat. Tujuh gunung api itu yakni Ceremai (terletak di Cirebon, Majalengka, dan Kuningan), Tangkuban Perahu (Lembang), Salak (di perbatasan Sukabumi dan Bogor), Galunggung (Tasikmalaya), Gede (Sukabumi), dan Papandayan (Garut).

"Dari hasil pantauan Geologi, ternyata yang menunjukan tanda-tanda aktif hanya gunung Papandayan. Sementara yang lainnya tidak. Namun, gerakan aktivitas Papandayan masih sama dengan tahun 2007, 2008 lalu. Artinya pergerakan tahun sekarang masih sama," katanya.

Wagub menilai penanggulangan bencana lebih penting ketimbang letusan gunung berapi. Lantaran itu, rapat tersebut mencetuskan 10 langkah untuk menanggulangi bencana. Beberapa di antaranya yakni mengamankan dan menginventarisir alat evakuasi bencana, menyiapkan peta resiko beserta skenario penyelamatan, menyiapkan tempat evakuasi dan peta penyelematan.

Selain itu, ujarnya, penanggulangan bencana dapat dilakukan dengan membenahi rambu-rambu yang ada di gunung-gunung api, membangun pusat krisis atau pusat komandan bencana, melakukan latihan evakuasi, dan optimalisasi tanda bencana.

Terakhir, Wagub menjelaskan bagaimana pemerintah bisa bekerja sama menyiapkan gedung-gedung penyelamatan, memasukkan pertimbangan resiko bencana dalam penyusunan tata ruang di dalam APBD. Jurus terakhir dari semua langkah itu yaitu pendidikan mengenai penanganan kebencanaan dimasukkan dalam kurikulum sekolah.(Ant/***) http://www.metrotvnews.com/read/news/2010/11/06/33378/Warga-Jabar-Diminta-Waspadai-Abu-Vulkanik-Merapi/

 

Paru-paru Sobek karena Abu Merapi Risikonya Kecil

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

 

Jakarta, Sejak dilanda hujan abu, warga Yogyakarta dihebohkan pesan berantai yang mengatakan kandungan silika dalam abu vulkanik bisa menyebabkan paru-paru sobek. Warga diimbau tidak panik, sebab risiko tersebut hanya terjadi pada pekerja tambang.

Pesan tersebut beredar lewat berbagai layanan pesan singkat dan jejaring sosial dalam beberapa hari terakhir, terutama di kalangan relawan dan pengungsi Gunung Merapi. Bunyinya kurang lebih sebagai berikut:

"Info penting. Abu vulkanik komposisinya SI o2/ silika, mirip bahan industri kaca dan merupakan glass hard yang sangat halus tetapi jika dilihat dengan mikroskopik tepi dan ujungnya runcing. Jika terhirup akan merobek jaringan paru-2, jika terkena mata bisa merusak mata. Pakailah masker."

Dokter spesialis paru dari RS Persahabatan, Dr Agus Dwisusanto, SpP ketika dihubungi detikHealth, Jumat (5/11/2010), mengatakan istilah paru-paru sobek tidak dikenal dalam ilmu kedokteran. Yang ada adalah silikosis, yakni penumpukan debu silika yang bisa memicu fibrosis atau kekakuan jaringan paru-paru.

"Ada 2 faktor yang memicu terjadinya silikosis. Pertama, konsentrasi debu yang terhirup sangat banyak. Kedua, jangka waktunya harus sangat panjang. Biasanya terjadi pada pekerja tambang yang sudah bekerja 4 sampai 5 tahun," ungkap Dr Agus.

Menurutnya, setiap bebatuan sebenarnya mengandung silika dalam bentuk terikat dan akan terlepas ketika hancur menjadi debu. Partikel-partikel dalam bentuk bebas itu hanya bisa masuk ke dalam jaringan paru-paru jika ukurannya sangat kecil, yakni di bawah 10 mikron.

Bukan saja para pengungsi Gunung Merapi, pekerja tambang, tukang bangunan dan karyawan industri juga rentan menghirup debu silika. Apabila debu yang terhirup menumpuk di paru-paru, maka terjadi kekakuan jaringan yang sangat mengganggu sirkulasi oksigen.

Sementara pada kondisi hujan abu di Yogyakarta, Dr Agus menilai risiko untuk mengalami silikosis sangat kecil karena baru berlangsung beberapa hari. Risiko terbesar justru dampak-dampak yang sifatnya akut, seperti iritasi saluran napas, batuk-batuk dan infeksi.

Gangguan-gangguan yang sifatnya akut juga bisa disertai komplikasi, misalnya pada warga yang sebelumnya sudah menderita Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK). Dengan kondisi hujan abu seperti saat ini, risiko sesak napas sangat tinggi pada pasien-pasien semacam itu.

Untuk mengurangi dampak hujan abu, Dr Agus menyarankan warga Yogyakarta untuk mengenakan masker bila hendak keluar rumah. Meski masker biasa juga bisa digunakan, ia lebih menganjurkan masker respirator seperti yang dikenakan untuk menangkal penyebaran flu burung. http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Health+News&y=cybermed|0|0|5|6396

Tubuh Punya Pertahanan Hadang Abu Vulkanik

KOMPAS.com Warga DI Yogyakarta dan Jawa Tengah sudah beberapa minggu terakhir ini harus berhadapan dengan hujan abu akibat letusan eksplosif Gunung Merapi. Letusan tersebut bukan hanya berisi material, melainkan juga mengeluarkan gas racun dari rekahan gunung. Salah satu konsekuensi yang harus dihadapi warga adalah ancaman gangguan pernapasan.

Debu dari letusan gunung berapi, menurut dr Mukhtar Ihsan, spesialis paru dari RS Persahabatan Jakarta, termasuk ke dalam polusi udara yang sifatnya alamiah. Jenis polusi udara alami lainnya adalah asap akibat kebakaran hutan.

"Letusan gunung berapi menimbulkan polusi karena adanya gas-gas yang berbahaya, biasanya karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), hidrogen klorida (HCL), dan masih banyak lagi yang keluar bersama material," katanya ketika dihubungai Kompas.com.

Beberapa gunung yang mempunyai karakteristik letusan gas beracun antara lain Gunung Tangkuban Perahu di Bandung Utara, Dieng di Jawa Tengah, serta Gunung Papandayan dan Gunung Ciremai di Kuningan, Jawa Barat.

Selain gas, letusan Merapi juga membawa partikel-partikel padat berukuran besar, seperti batu atau kerikil, sampai debu-debu halus yang biasanya mengandung silika. Dengan kata lain, polutan dari letusan gunung ada yang berbentuk gas beracun, suhu panas, hingga partikel.

"Semua polutan itu bisa dihirup oleh pernapasan kita. Bila gas beracun ada dalam konsentrasi tinggi, tentu akibatnya fatal, seperti halnya awan panas," katanya. Sementara itu, debu-debu bisa terhirup sampai masuk ke paru, bahkan ke alveoli (saluran pernapasan terkecil).

Sebenarnya, sistem pernapasan kita memiliki beberapa mekanisme pertahanan yang mencegah benda asing memasuki paru. Namun, beberapa zat beracun, seperti juga asap rokok, bisa mengganggu fungsi pertahanan tersebut.

Akibatnya adalah gangguan pernapasan seperti sesak napas, batuk, hingga infeksi pernapasan akut (ISPA). "Pada umumnya, daya tahan tubuh pengungsi lebih lemah karena kelelahan dan kurang asupan makanan bergizi. Akibatnya, mereka juga rentan terkena infeksi," katanya.

Untuk mengurangi gangguan penyakit pada pernapasan, yang paling penting adalah menjauhi sumber polutan, dalam hal ini menjauh dari Gunung Merapi. "Makin jauh dari sumber polutan, makin kecil konsentrasi zat-zat berbahayanya," paparnya.

Tindakan lain yang bisa dilakukan adalah menggunakan masker untuk menyaring partikel-partikel halus. "Sebenarnya yang paling bagus adalah jenis masker N95. Namun, masker ini tidak nyaman dipakai dan harganya mahal. Untuk sementara, pakai masker bedah itu juga tidak apa-apa daripada tidak sama sekali," katanya.

http://health.kompas.com/index.php/read/2010/11/05/13243263/Tubuh.Punya.Pertahanan.Hadang.Abu.Vulkanik

Puluhan Siswa SMP Pingsan Hirup Abu Vulkanik

merapi-pingsan

Liputan6.com, Magelang: Sedikitnya 21 siswa SMPN Magelang, Jawa Tengah, dibawa ke ruang Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Tentara Dokter Sujono, baru-baru ini. Mereka pingsan setelah menghirup abu vulkanik dari Gunung Merapi.

Umumnya, para korban mengaku pusing setelah menghirup udara yang bercampur debu dan berbau belerang itu. Padahal, para siswa sudah menggunakan masker. Terkait musibah itu, pihak sekolah memulangkan siswa lebih awal.

Abu vulkanik juga membuat aktivitas di Pasar Cangkringan, Klaten, bubar. Para pedagang dan pembeli memilih kembali ke rumah atau mencari tempat yang lebih aman saat Merapi kembali erupsi. Walau jarak puncak Merapi ke Pasar Cangkringan 18 kilometer, warga tak mau mengambil risiko dan lebih memilih meninggalkan pasar.

Sementara itu, abu vulkanik juga makin menyebar ke beberapa daerah, seperti Garut, Jawa Barat. Didin, warga Garut, sempat kaget melihat banyak abu jatuh dari langit. Jika angin cukup kencang, diprediksi abu vulkanik juga bisa sampai ke Jakarta. Sebab, Merapi kini bukan hanya batuk, tapi juga sudah memuntahkan isinya.

Menurut dokter ahli mata Srinagar M. Ardjo, abu vulkanik yang mulai menyebar tidak berbahaya.(ULF)

Jika Terhirup Manusia Abu Vulkanik Dapat Merobek Jaringan Paru

abu-vulkanik-

JAKARTA, KOMPAS.com — Sebagian abu vulkanik yang menyebar di kecamatan Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, mengandung SI 02/silika. Bahan ini, menurut para relawan, mengandung bahan yang mirip dipakai pada industri kaca.

"Bahan ini merupakan glass hard yang sangat halus, tetapi jika dilihat dengan mikroskop, tepi dan ujungnya itu runcing," kata Goro Hendratmo, Koordinator Relawan Posko Van Lith, Muntilan, saat dihubungi Kompas.com via telepon, Jumat (5/11/2010) siang.

Menurut Goro, abu vulkanik itu dapat merobek jaringan paru-paru jika terhirup oleh manusia. Selain itu, jika abu vulkanik berkontak langsung dengan mata dapat merusak kornea mata.

"Kami imbau kepada relawan dan pengungsi di sini agar selalu pakai masker, kalau perlu kacamata karena ini abunya tidak baik untuk badan," ujarnya.

Saat ini kondisi di Muntilan, menurut Goro, sangat memprihatinkan. Ketebalan abu vulkanik di Muntilan mencapai 5 sentimeter. Pohon-pohon pun banyak yang tumbang karena tidak kuat menahan abu yang menghinggapi pohon.

"Ada kemungkinan sampai sebulan ke depan kondisi masih seperti ini. Sekarang semua sekolah sudah diliburkan juga," jelasnya.

Para pengungsi di Muntilan saat ini tersebar di banyak posko pengungsian. Pengungsi terbanyak berada di asrama sekolah Pangudi Luhur Van Lith, Muntilan, berjumlah lebih dari 1.000 jiwa.

"Kami pakai empat barak Van Lith. Selain di Van Lith, pengungsi ada juga di Ponpes Muhammadiyah, SMK Pangudi Luhur,  Dinas Perikanan. Ada juga yang keluar dari Muntilan," ujarnya.http://regional.kompas.com/read/2010/11/05/13511775/Abu.Vulkanik.Dapat.Merobek.Jaringan.Paru-4

 

Foto Jogjakarta Berselimuti Abu Vulkanik Gunung Merapi

Berikut ini foto-foto beberapa sudut kota Yogyakarta yang diselimuti abu tebal Gunung Merapi:

merapi-jogya

merapi-jogya1

merapi-jogya2

Mendadak berbagai wilayah di Yogyakarta mulai dari Sleman, Kota Jogjakarta, Bantul, hingga Kulonprogo berubah warna menjadi putih keabu-abuan disebabkan oleh guyuran abu hasil dari aktivitas erupsi Gunung Merapi yang terjadi pada Sabtu (30/10/2010) dini hari. Wilayah yang paling parah adalah Sleman, tepatnya seputar jalan Kaliurang, suasana menjadi gelap dan penuh dengan debu serta abu. Radius penyebarannnya pun cukup jauh, sehingga bisa dikatakan hampir seluruh wilayah Yogyakarta berselimut abu tebal Gunung Merapi. [http://pojokseo.web.id/foto-jogjakarta-diselimuti-abu-vulkanik-merapi/]

Terkait:

  1. Ayat-ayat Al-Qur'an yang Menjadi Bukti Kekuasaan Allah pada Gempa di Indonesia Pertengahan Tahun 2009
<!--[if gte mso 9]>
Share/Save/Bookmark
Dibaca :1763 kali  


Kode keamanan
Segarkan