|
GERHANA DALAM PERSPEKTIF ILMU SEMIOTIKA (PETANDA) Oleh : Agus Junaedi. M.Ag. (Penggiat Kajian Fiqhul Waqi)
A Total Solar Eclipse over Turkey Gerhana bulan atau matahari (khusuf/ kusuf) bukanlah kejadian yang dianggap aneh oleh manusia jaman sekarang. Namun khusus bagi umat Islam (kaum muslimin) , kejadian gerhana bulan maupun gerhana matahari ada beberapa perkara yang mesti dilakukan yang berhubungan dengan syari'at (ibadah), menurut sebagaian fuqaha (ahli hukum Islam) hukumnya sunah mu'akkad (lebih utama dilakukan), diantaranya ada syari'at shalat gerhana (khususf /kusuf) . Mengenai dasar hukum tentang beberapa syari'at yang mesti dilakukan oleh kaum muslimin pada saat terjadi gerhana itu, tidak disebutkan secara langsung dalam al-Qur'an, namun berdasarkan hadits-hadits yang shahih. Banyak hadits yang menyebutkan tentang hal tersebut , dalam kajian ini, penulis hanya menyebutkan dua hadits yang yang bersumber dari ‘Aisyah r.a dan Abu Musa r.a berikut ini ; إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا ( رواه البجاري : كتاب : الكسوف: الباب : الصدقة في الكسف :991) " Sesungguhnya (gerhana) matahari serta (gerhana) bulan, merupakan dua "tanda" dari berbagai " tanda" dari Allah. Gerhana matahari atau bulan (kejadiannya) bukan diakibatkan meninggalnya seseorang atau kelahiran seseorang, kalaulah kalian mendapatkan gerhana, maka segeralah berdo'a kepada Allah, agungkanlah Dia (takbir), shalat, kemudian bersidekahlah. ( H.R. Bukhari, Kitab kusuf, bab sedekah ketika gerhana ,no. hadist 991) عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ خَسَفَتْ الشَّمْسُ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَزِعًا يَخْشَى أَنْ تَكُونَ السَّاعَةُ فَأَتَى الْمَسْجِدَ فَصَلَّى بِأَطْوَلِ قِيَامٍ وَرُكُوعٍ وَسُجُودٍ رَأَيْتُهُ قَطُّ يَفْعَلُهُ وَقَالَ هَذِهِ الْآيَاتُ الَّتِي يُرْسِلُ اللَّهُ لاَ تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلَكِنْ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ ( رواه البجاري : كتاب : الكسوف : الباب : ذكر في الكسف : 1004) Dari Abu Musa, dia berkata: " Saat terjadi gerhana matahari, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri (terlihat) khawatir terjadi kiamat. Beliau berangkat kemesjid, kemudian shalat gerhana, berdiri lama sekali, begitu juga saat ruku dan sujud yang belum pernah aku saksikan. Setelah selesai shalat gerhana Beliau bersabda, " tanda-tanda ini yang Allah kirim, kejadiannya (gerhana) bukan meninggalnya seseorang, atau lahirnya seseorang. Tetapi kejadian ini merupakan peringatan dari Allah untuk hamba-hamba-Nya. Maka tatkala kalian menyaksikan gerhana walaupun sedikit, bersegeralah, dzikir kepada-Nya, berdo'a, serta minta ampunan. ( H.R. Bukhari, Kitab gerhana, bab Dzikir ketika gerhana ,no. hadist 1004 ) Dari dua hadits tersebut, ada frasa hadits "آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ " penulis memberikan terjemah terhadap frasa itu dengan " dua tanda dari tanda-tanda Allah ". Kata "آيَاة " merupakan lafadz musytarak (memiliki banyak arti) diantaranya ; tanda, petunjuk, bukti, pengajaran, urusan yang besar, mukjizat, kumpulan manusia . Oleh karenanya kata "آيَاة " diberi arti " tanda" (lambang). Gerhana merupakan tanda (kode/lambang) dari Allah buat manusia. Oleh karenanya kejadian gerhana dapat dilihat maksudnya dengan pendekatan ilmu petanda (semiotika). Semiotika adalah disiplin ilmu yang mempelajari tentang tanda serta segala hal yang terkait dengan tanda itu sendiri seperti; kegunaan, hubungan dengan tanda-tanda lain, pengirim tanda serta penerima tanda. Kalau kajian tanda menyangkut penggolongan tanda, ,hubungan dengan tanda-tanda lain, serta dengan cara penggunaanya, dikaji dalam sintaksis semiotik. Sedangkan jika kajian lebih di titik beratkan pada hubungan tanda dengan yang diacunya (petunjuk) serta maksud tanda, dikaji dalam semantic semiotik. Sedangkan jika tanda dikaji secara mendalam mengenai hubungan tanda antara yang mengirim dan yang menerima, dikaji dalam pragmatic semiotik.
Dilihat dari kegunaan tanda, sekurang-kurangnya ada dua guna;
Kalaulah gerhana dikaitkan dengan teori diatas, maka gerhana memiliki dua guna; 1. gerhana merupakan informatif bagi manusia yang meihat dan mengalami gerhana 2. gerhana sebagai alat komunikasi, antara Allah sebagai pengirim tanda disatu sisi dan sisi manusia sebagai penerima tanda. Dari dua teori ini, maka gerhana menjadi sesuatu bahan pemikiran;, 1. Informasi apa yang mesti diketahui oleh manusia dari kejadian gerhana itu ? 2. Pesan apa yang mesti diketahui manusia ketika mengalami gerhana ? Untuk menjawab pertanyaan yang pertama, bisa digali hadits riwayat Abu Musa, pada kalimat " فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَزِعًا يَخْشَى أَنْ تَكُونَ السَّاعَةُ " Nabi berdiri khawatir terjadi kiamat". Dari teks ini, mengisyaratkan bahwa Nabi mengetahui sesungguhnya gerhana adalah merupakan salah satu dari sekian tanda kiamat, atau akan adanya bencana atau huru-hara besar, perkara ini dikuatkan oleh teori fisika moderen mengenai gaya tarik antar planet. Kalau planet-planet atau benda-benda angkasa ada pada posisi sajajar bisa mengakibatkan gaya tarik antar planet labil, yang besar kemungkinan benda-benda angkasa yang ukurannya lebih kecil akan tertarik kepada benda angkasa yang lebih besar, yang bisa jadi akan adanya bencara besar kalau sudah sejalan dengan kehendak Allah, maka inilah yang disebut dengan disebut kiamat kubra, atawa sekurang-kurangnya pada beberapa tempat akan terjadi bencana, kerusuhan, huru-hara atau sejenisnya, misalnya ada angin topan, badai dilaut dan lain-lain,. Hal ini juga terungkap pada teks " لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ, Kedua bisa dilihat pada kaهfiyat shalat husuf yang tidak biasa sebagaimana pada shalat umumnya yakni adanya dua ruku dalam satu yang menjadi tanda segera untuk mempercepat shalat sebelum kiamat datang atau sebagai shalat terahir (salat wada). Pertanyaan kedua, pesan apa yang terdapat dalam gerhana, hal ini pun dapat dikaji dari hadits diatas ;
Tiga hal ditampilkan dalam bentuk kata kerja (verb) " fi'il", namun demikian jika dikaitkan dengan teori diatas, kata kerja itu sesungguhnya menunjukan keterangan waktu, singkatnya ;
Singkatnya tiga perkara inilah yang jarang dimanfaatkan oleh manusia secara umum terkhusus umat islam sehingga setan dengan mudah membuat makar dengan mengajarkan mitos-mitos tentang gerhana, akibatnya dikalangan umat islam banyak yang tidak peduli terhadap kejadian gerhana alih-alih mereka berpegang kepada pendapat para fuqoha bahwa shalat gerhana hukumnya sunat (dikerjakan mendapat pahala, ditinggalkan tidak berdosa) . inilah yang disinyalir oleh Allah dalam satu firman-Nya ; وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ ٍsesungguhnya kebanyakan manusia lalai terhadap tanda-tanda dari Kami.(Yunus :92)
Singkatnya gerhana dilihat dari perspektif ilmu semiotika adalah;
Saatun mustajabun lidu'a ( waktu yang dekat terkabulnya do'a) Saatun khairaun lishodaqah (waktu yang paling baik untuk bersidekah) Saatun aqrabu baina abdun wa rabuhu (waktu yang paling dekat antara seorang hamba dengan Khaliknya) atau waktu yang paling baik dalam bertaubat
Oleh karena wahai kaum muslimin janganlah kita lalai pada peristiwa-peristiwa gerhana.
Wallahu'alam !!!! Hadits riwayat A'isyah ini relatif panjang,, penulis hanya mencatat sebagian dari matannya, sebab tentang kaifiyat gerhana dalam matan hadits tersebut, tidak akan dibahas. Daud al-Aththar, Ilmu Al-Qur'an (Bandung. Pustaka Hidayah, 1994) , kaca 176. Muhammad Amin Summa, Studi Ilmu-Ilmu al-Qur'an (1) ( Jakarta. Pustaka Firdaus, 2000), kaca 68.
Set as favorite
Bookmark
Hits: 1991 Comments (3)
![]()
Azia
said:
|
|
... Ketika Kecil lh 10 tahun , saya budak yg tidak memakai Tudong , tidak menutup aurat ! ! Dan suka berteman dengan budak perempuan yg tidak tau malu dan pandai menjaga mulu yg mulus itu.Dan tidak suka mendengar walaupun takut akan ALLAH ! Tapi ketika umur 11 tahun saya di hajar dan dibawa oleh akak ikut kempen skulh nya. Walau berasa malu saya tetap sabar . Tpi satu kejadian terjadi , kami mkn dalam satu piring yg besar dan makn bersama2 dalam satu pirring yg besar itu kelak kami mengikut sunah Nabi. Ketika umur 12 tahun saya dibawa lagi kempen yg sama iaitu Tunas Taqwa kali ke 13 , disana seperti biasa juga kami merapat kan silaturrahim dan main bersama2 , dan berdikir besama2 . . . Adik2 di Skulh Tadika Alif sungguh hebat ! ! saya kagum apabila mereka membaca surah yasin tampa guru mengikut saya yg berumur 12 tahun masih belum lagi lancar tetapi mereka yg berumur 7 , 8 , 9 dan 10 ! Sangat lancar dan telah habis membaca surah Alquran saya amat cemburu . Ketika umur 13 , sifat malas saya kembali lagi , seperti umur saya 11 tahun , kempen Tunas Taqwa ditiadakan kerana mereka guru2 tunas taqwa lelah dan terlalu banyak kerja yg di buat . Ketika umur saya sekarang iaitu 14 tahun saya sedar , dan menyesali semua yg saya lalaikan du . saya sia2 kan begitu sja . . . tapi semuaberubah ketika saya bertaubat dan minta ampun kepada-NYA iaitu Tuhan yg maha esa ^^ Saya sangat bersyukur mempunyai akak yg peduli dan yg membawa saya ke kempen itu ! ! Jika tidak ada kempen itu tidak lh saya seperti sekarang in ^.^ yg dulunya suka malalaikan perintah-Nya Alhamdullilah , Alhamdullilah , Alhamdullilah Sekarang melihat Gerhana Bulan Ingat akan Allah dan sangat meridui Nabi Muhammad S.A.W .Masyaallah cantik dan indah sungguh.. 12:19 (12/11/11) Terimakasih sudi membaca ^__^ |
|
arief
said:
|
YA ALLAH ENGKAU MAHA PENGAMPUN LAGI MAHA PENYAYANG YA ALLAH ENGKAU MAHA PENGAMPUN LAGI MAHA PENYAYANG, SUCIKANLAH HAMBAMU INI DENGAN RAHMAT DAN KARUNIAMU YANG TULUS, HAPUSKANLA SEMUA DOSA-DOSA HAMBAMU INI, DAN KEMBALIKANLAH HAMBAMU INI KEFITRHANYA YANG ENGKAU REDHOI AMIN.... SUBHANAULLAH.. SUBHANAULLAH, ALLAHUAKBAR.. AMIN ALHAMDULLILAHHIROBBIL ALLAMIN... AMIN......... TERIMALAH SEMUA AMAL BAIK HAMBAMU INI, JAUHKANLAH HAMBA DARI SIKSAAN API NERAKA AMIN |
|
satria
said:
|
... mudah - mudahan manusia lebih sensitif dengan adanya tanda - tanda dari ALLAH stw ,, tidak melupakan dan juga tidak membiarkan nya hilang dari ingatan mereka |
|








