Yahudi Menurut Al-Qur’an
Paling tidak terdapat empat ungkapan di dalam al-Qur'an untuk menyebutkan umat Yahudi, yaitu Bani Israil, Yahud, Hud dan Hadu.
Al-Qur’an menyebutkan kata Yahudi sebanyak delapan kali, satu di antaranya dalam bentuk kata sifat. Kata Yahudi termuat dalam Surat al-Baqarah 02:113 dan 120, Surat al-Ma’idah 05:18, 51, 64 dan 82 dan Surat al-Taubah 09:30. Semua ayat yang menyebutkan kata Yahudi, termasuk kategori ayat madaniyah, yakni ayat yang diwahyukan sesudah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam hijrah ke kota Yastrib (Madinah).
Dengan sebutan Bani Isra’il, ditampilkan 40 kali, baik dalam ayat yang termasuk kategori makkiyah maupun madaniyah. Kata Isra’il disebut hanya sekali dalam Surat Maryam 19:58, yang termasuk kategori ayat Madaniyah. (Baqi, 1981 : 33, 137 dan 775).
Sebutan Hud (an) disebut di dalam surat al-Baqarah 02:111, 135 dan 140 yang termasuk katagori ayat madaniyah. Di sini perlu dibedakan antara kata Hud (an) dalam ayat tersebut di atas yang menunjuk kepada umat atau bangsa, dengan kata yang sama dalam surat al-A'raf 07:65, surat Hud 11:50 dan 58 yang menunjuk nama seorang nabi, yaitu Nabi Hud. Yang kedua ini semuanya termasuk katagori ayat makkiyah.
Sebutan Hadu dimuat sebanyak 10 kali, dua di antaranya termasuk kategori makkiyah. Kata Isra’il dalam bahasa Hebrew (Ibrani) mempunyai arti Prince of God (Penrice, 1971 : 05) dan dipakai untuk sebutan atau laqab bagi Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim (Ismail Ibrahim, 1968 : 38, bandingkan dengan Kejadian 32:28 dan 35:10). Menurut Surat al-Ma’idah 05:12, Bani Isra’il terdiri dari 12 naqib, yaitu duabelas kelompok, yang terdiri dari duabelas anak laki-laki Nabi Ya’qub dan isteri-isterinya. Nama anak-anak tersebut, sebagaimana disebutkan dalam Perjanjian Lama (Taurat) Kitab Kejadian 35 : 22-26 adalah Rubin, Simeon, Levi, Yehuda, Issachar, Zebulon (dari isteri Ya’qub bernama Lea), Yusuf, Benyamin (dari isteri Ya’qub bernama Rachel), Dan, Naftali (dari isteri Ya’qub bernama Bilha), Gad dan Asier (dari isteri Ya’qub bernama Zilpa).
Pada masa kepemimpinan Nabi Musa Alaihissalam, umat Yahudi merupakan suku (qabilah) yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah 02:60, dan Surat al-A’raf 07:160. Dari keterangan tentang duabelas mata air, nampak-nya masing-masing putera Nabi Ya'qub membangun kelompok tersendiri. Di dalam Perjanjian Lama, KitabKejadian 49:28 dan Keluaran 24:04 dijelaskan bahwa Nabi Musa Alaihissalam membangun duabelas tugu di satu mezbah yang berlokasi di kaki bukit Torsina, sebagai lambang eksistensi duabelas naqib tersebut di depan. Nabi Musa Alaihissalam menerima wahyu al-Kitab sebagai petunjuk bagi Bani Isra’il (al-Isra’ 17:02). Di antara isinya adalah larangan menyembah tuhan selain Allah, perintah berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim dan kaum miskin, berbicara yang baik, mendirikan salat dan menunaikan zakat (al-Baqarah 02:82, bedakan dengan Ulangan 05:06-21 ). Selain al-Kitab, mereka dianugerahi pula suksesi para rasul dari kalangan umat Yahudi, kebaikan dan keutamaan di muka bumi (al- Jasiyah 45:16 ). Namun dalam pelaksanaannya, aturan-aturan yang baik itu kurang mendapat perhatian disebabkan hati mereka yang kaku. Al-Qur’an memberikan gambaran tentang sifat dan sikap umat Yahudi yang negatif, yaitu : mempermainkan agama (al-Ma’idah 05:57), menjadikan al-Kitab hanya sebagai lambang dan kebanggaan saja (al-Jumu’ah 62:05 ), lebih berani mendustakan bahkan membunuh nabi (al-Ma’idah 05:70 ), merobah al-Kitab (al-Baqarah 02:75, al-Nisa’ 04:46), memalsukan agama (al-Baqa-rah 02:79), memanipulasikan informasi (al-Baqarah 02:174), suka khianat (-Baqoroh 02:64), suka melanggar aturan (al-Baqarah 02:65), konfrontatif (al-Baqarah 02:44 ), cenderung kepada kemusyrikan (al-Baqarah 02:92 ), sangat takut mati (al-Jumu’ah 62:07), bergelimang riba (al-Nisa’ 04:53 ), paling memusuhi umat beriman (al-Ma’idah 05:82 ) dan lain sebagainya. Di saat mereka berada dalam kondisi lemah, sikap tersebut diselubungi dengan rapi dan mereka membentuk al-jam’iyat al-sirriyah, sebagaimana diistilah kan oleh Le Beaume dalam Le Koran Analyze, terj., 1955:354, yaitu gerakan bawah tanah, organisasi kamuflase, untuk menyebarkan kerusakan dan permusuh an (al-Mujadilah 58:08). Menurut informasi al-Qur’an. genealogi Yahudi berpangkal dari Nabi Ibrahim Alaihissalam melalui puteranya Nabi Ishaq Alaihissalam, yang kemudian menurunkan Nabi Ya’qub Alaihissalam dengan duabelas puteranya. Kekeluargaan Yahudi bersifat patrialchal (Brandon, 1970 : 378 ), dan keyakinan tentang ketuhanan yang dianut, sesuai dengan yang termaktub di dalam al-Kitab adalah keyakinan monotheism. Gerakan Yahudi berkembang dalam dua bentuk sesuai dengan kondisi nyata yang mereka hadapi, yaitu pada saat mereka mempunyai kekuatan yang cukup untuk tampil terbuka, gerakannya dilakukan secara terbuka, tetapi di saat mereka tertindas oleh kekuatan lain, gerakan itu tidak mandeg, tetapi berubah menjadi gerakan bawah tanah, yang dengan penuh kepercayaan mengembangkan kekuatan untuk bangkit sebagai gerakan terbuka. Pada masa Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, di Yasrib (Madinah) gerakan bawah tanah ini diperankan oleh Banu Quraizah, Banu al-Nadir dan Banu Qainuqa’, yang kemudian karena gerakan itu tercium oleh umat Islam, kelompok itu dievakuasi (ijla') dari kota Madinah. Banyak yang beranggapan bahwa evakuasi itu karena agama atau etnis, tetapi kenyataan sejarah menyatakan bahwa evakulasi dari Madinah karena kejahatan konspirasi untuk menjatuhkan Rasulullah, Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, yang bisa saja sanksi seperti itu dijatuhkan kepada kelompok lain. Namun, nampaknya di dalam al-Qur’an informasi tentang sikap dan prilaku umat Yahudi benar-benar disampaikan secara objektif . Di dalam al-Qur'an dinyatakan dengan tegas bahwa umat Yahudi tidak seluruhnya bersikap dan berprilaku negatif. Misalnya pernyataan yang tersebut di dalam Surat al-A’rof 07:162 menggambarkan bahwa yang mengubah perintah al-Kitab itu bukan seluruh umat Yahudi tetapi dinyatakan dengan ungkapan, orang-orang yang zalim di antara mereka... . Demikian pula pernyataan yang tersebut di dalam Surat al-Baqarah 02:75 menggambarkan bahwa yang melakukan perubahan terhadap wahyu yang diturunkan itu bukan seluruh umat Yahudi, tetapi dinyatakan dengan ungkapan, ada sebagian dari mereka yang mendengar kalamullah, kemudian mengubahnya ... Dalam surat al-Nisa' 04:46 dan 160 ; surat al-Maidah 05:41 yang menginformasikan sifat dan perilaku negatif umat Yahudi, terkesan tidak digeneralisasikan, sebab dalam susunan ayat-ayat tersebut selalu dipakai huruf min, yang lazim disebut sebagai min tab'idiyah, yakni huruf min yang menunjuk pada sebagian yang disebut, bukan seluruhnya. Dengan demikian al-Qur’an tidak menggeneralisasikan sikap dan prilaku negatif tersebut terhadap keseluruhan bangsa Yahudi dan tidak secara a priori menyatakan bahwa Yahudi itu negatif. Demikian pula praktik yang dilakukan oleh umat Islam di zaman permulaan, di Yasrib (Madinah) pada saat dibuatnya Misaq Madinah, ummat Yahudi ditempatkan sejajar dengan umat Islam disertai jaminan hak dan beban kewajiban yang sama, dalam masalah yang berkaitan dengan kepentingan umum di kota Madinah ( Pasal 27 Misaq Madinah). Evakuasi (ijla') umat Yahudi dari Madinah, sebagaimana telah disinggung di depan, bukan karena agamanya,juga bukan karena etnisnya, atau karena sentimen Arab-Israel, tetapi semata-mata karena pelanggaran melakukan konspirasi bersama kekuatan Quraisy dari Makkah yang bertujuan menjatuhkan kepemimpin an Rasulullah, Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Jadi masalahnya bukan menyangkut sentimen antar agama, sentimen antar etnik atau sentimen politik, tetapi masalahnya adalah pelanggaran dan kejahatan yang dilakukan satu pihak, yang mungkin bisa terjadi juga pada pihak lain, termasuk kelompok umat Islam sendiri. Dari paparan al-Qur'an dan praktik Rasulullah, Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam di atas, dapat digambarkan bahwa suatu kondisi dan pengaruh moralitas tertentu dapat membuat sekelompok orang dari suatu bangsa berbuat negatif. Dan yang jelas keadaan seperti tersebut bukan hanya merupakan sesuatu yang spesifik umat Yahudi, bukan sesuatu yang merupakan monopoli umat Yahudi, tetapi dapat pula dilakukan oleh umat yang lain. Sumber: Informasi al-Qur'an tentang Yahudi
Set as favorite
Bookmark
Hits: 1175 Comments (0)
![]() Write comment
|









