larger smaller reset

Penggunaan Istilah “Ahli Kitab” Tidak Menunjukkan Keimanan

Penamaan Al-Qur'an terhadap kaum Yahudi dan Nasrani sebagai “Ahli Kitab” tidak bermakna bahwa mereka adalah kaum mukminun. Namun, maknanya adalah bahwa sebelumnya mereka merupakan penganut agama langit dan mereka memiliki keistimewaan dibandingkan yang lain. Kita mengetahui bahwa Al-Qur'an menggunakan beberapa macam redaksi untuk mengungkapkan kaum Yahudi dan Nasrani. Ada redaksi yang memuji, ada redaksi yang mencela, dan ada yang dipergunakan untuk keduanya. Hal mi dapat diketahui melalui pengamatan dan penelusuran ayat-ayat dalam Al-Quran.

Model redaksi pertama adalah redaksi ‘orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya'. ini adalah redaksi Al-Qur'an yang digunakan untuk memuji mereka.

Model redaksi kedua adalah redaksi … yang artinya orang-orang yang telah diberi bagian, yaitu Al-Kitab (Taurat). Ini adalah redaksi Al-Quran yang digunakan untuk mencela mereka.

Model redaksi ketiga adalah redaksi … artinya Ahli Kitab'. Atau … yang artinya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil); redaksi ini kadang dipergunakan di tempat memuji dan kadang di tempat mencela.

Berikut mi, kami kutipkan ayat-ayat Al-Qur'an yang menunjukkan hal itu.

Dalam model redaksi yang pertama, kita dapati firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

“Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya ...“ (Al-Baqarah: 121)

Yang dimaksud dengan mereka adalah orang-orang yang diberikan hidayah oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , risalahnya, dan kitab sucinya.

Contohnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala ,

“Orang-orang yang telab Kami datangkan kepada mereka Al-Kitab sebelum Al-Qur an, mereka beriman (pula) dengan Al-Quran itu. Dan, apabila dibacakan (Al-Quran itu) kepada mereka, mereka berkata, ‘Kami beriman kepadanya; sesungguhnya, Al-Quran itu adalah suatu kebenaran dan Tuhan kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan-(nya). “(Al-Qashash: 52-53)

“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkcn kitab (Al-Qur an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al-Quran itu diturunkan dan Tuhanmu dengan sebenarnya.... “(Al-An'aam: 114)

“Dan demikian (pulalah) Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) maka orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka Al-Kitab (Taurat) mereka beriman kepadanya (Al-Quran).,,. “ (Al-'Ankabuut: 47)

Dan ayat-ayat yang lain.

Pada redaksi yang kedua, kita mendapati firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surah Ali-Imran,

“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian, yaitu Alkitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum di antara mereka; kemudian sebagian dan mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran) Hal itu adalah karena mereka mengaku, ‘Kami tidak akan disentuh oleb api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung. ‘Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada—adakan. “(Ali Imran: 23-24)

Tampak jelas bahwa yang dimaksud dengan mereka itu adalah kaum Yahudi. Merekalah yang mengutarakan perkataan ini.

Dalam surah an-Nisaa',

“Apakab kamu tidak memperhatikan orang-orang yang dibeni bagian dan Al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafin (musyrik Mekah) bahwa mereka itu lebib benar jalannya daripada orang-orang yang beniman, Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barang siapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya. “(an-Nisaa': 51- 52)

Tampak jelas, yang dimaksud itu adalah kaum Yahudi. Seperti yang ditunjukkan oleh konteks kalimat dan asbabun-nuzul. Yaitu, diturunkan saat kalangan musyrik Mekah yang memeluk agama paganisme bertanya kepada kaum Yahudi: apakah kami lebih memiliki petunjuk ataukah Muhammad? Mereka menjawab, kalianlah yang memiliki petunjuk lebih baik.

Model redaksi ketiga, yang dipergunakan untuk konteks memuji adalah seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala ,

“... di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam bari , sedang mereka juga bersujud (sembahyang). Mereka beriman kepoda Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh,” (Al- Imran: 113-114)

Namun pujian itu, seperti tampak dengan jelas, adalah ditujukan kepada sekelompok orang dari mereka.

“Dan sesungguhnya, di antara Abli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya... “ (Al-Imran: 199)

Pujian dalam ayat mi juga ditujukan kepada sekelompok orang dan mereka, yaitu mereka yang beriman kepada dua kitab suci. 
Adapun dalam konteks mencela, kita dapati firman Allah Subhanahu wa Ta'ala ,

“Orang-orang kafir dan Abli Kitab dan orang-orang musynik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dan Tuhanmu.... “(Al-Baqarah: 
105)

“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafi ran setelah kamu beriman karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran....” (Al-Baqarah: 109)

“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya). Hai Abli Kitab, mengapa kamu mencampur-adukkan yang hak dengan yang batil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?” 
(Al-Imran: 70-71)

“... ‘Hai Abli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan? 'Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telab beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padabal kamu menyaksikan? 'Allah sekali-kali tidak lalai dan apa yang kamu kerjakan.” (Ali-Imran: 98-99)

Bagian pertama surah Ali-Imran, berisi dalil-dalil yang mendebat Ahli Kitab, terutama kaum Nasrani, yaitu diturunkan setelah datangnya utusan Nasrani Najran kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam . Beliau menyambut mereka dengan baik dan memberikan penghormatan kepada mereka. Hingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menggelar selendang beliau sebagai tempat duduk mereka. Beliau juga memasukkan mereka ke masjid beliau dan mengizinkan mereka untuk beribadah di dalamnya. Namun, beliau tidak mengklaim mereka sebagai bagian dan kaum mukminin. Bahkan, turun ayat-ayat Al-Qur'an yang membongkar kerancuan akidah mereka, memberikan dalil-dalil yang menyerang mereka, dan menampakkan kebatilan klaim mereka tentang ketuhanan Al-Masih atau statusnya sebagai anak Tuhan. Tentang hal itu terdapat dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala ,

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, jadilah, ‘(seorang manusia) maka jadilah dia. (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dan Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlab (kepadanya), Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istni-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknatAllah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta, “(Ali-Imran: 59-61)

“Kemudian, jika mereka berpaling (dari kebenaran) maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan. Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalirnat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka, ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). ‘Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?” (Al-Imran: 63-65)

Dalam surah yang sama juga terdapat ayat,

“Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikem balikannya kepadarnu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya padamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan, ‘Tidak ada dosa bagi karni terhadap orang-orang ummi (Ali-Imran: 75)

Surah Ali-Imran adalah surah yang paling banyak menyebut ungkapan “Ahli Kitab”.

Anak-anak kecil kaum muslimin hafal surah-surah pendek dalam Al-Qur'an. Di antaranya adalah surah Al-Bayyinah. Di dalamnya terdapat firman Allah Subhanahu wa Ta'ala Sebagai berikut.

“Orang-orang kafir, yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al-Qur ‘an).” (al-Bayyinah: 1-2)

Juga,

“Sesungguhnya, orang-orang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. “(al-Bayyinah: 6)

Dua ayat mi dan ayat sejenis memperingatkan bahwa ada kalangan kafir dan kelompok Ahli Kitab dan kalangan kafir dan kaum musyrikin. Keduanya adalah kelompok kafir.

Kita dapati model yang sama dalam redaksional, “orang-orang yang diberikan Al-Kitab”.

Sebagian redaksi mi dipergunakan dalam konteks memuji, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut ini.

“... Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya. “(Al-Baqarah: 144)

Sebagian lagi datang dalam konteks mencela, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

‘Dan sesungguhnya, jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dtn Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu.... “(Al-Baqarah: 145)

Dan di dalamnya terdapat redaksi,

“Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim. “ (Al-Baqarah: 145)

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dan orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. “(Ali-Imran: 100)

‘Dan (ingatiah), ketika Allah mengambil janji dan orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu), ‘Hendaklab kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya. ‘Lalu, mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima.” (Ali=Imran: 187)

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka. (at-Taubah: 29)

Comments (2)add comment

Andri73 said:

January 23, 2012
Votes: +0

Andri73 said:

Nanya
Jadi intinya apakah Yahudi dan Nasrani itu disebut Ahli Kitab? atau apakah kita orang muslim juga bisa disebut Ahli Kitab?
 
January 17, 2012
Votes: +1

Write comment

busy